STEP FORWARD (Chapter 05)

CHEERS!”

Bunyi dentingan kaleng Cola yang beradu menjadi periuh suasana malam itu. Meski hanya ada tiga manusia saja di kabin canteen Sound Ent, rasanya tempat itu seperti berisi tujuh orang.

“Suara kita memang yang terbaik,” ucap Taemin sembari membusungkan dada. Bangga karena ia dan Ikha baru saja di daulat sebagai Best Trainee of the Week di kelas Yesung Seonsaeng.

S T E P F O R W A R D

Ikha hanya tersenyum simpul menanggapi perkataan Taemin. “Sayangnya, namja angkuh disampingku ini lebih memilih untuk mengundurkan diri daripada ikut berpartisipasi di kelas menyanyi,” sindirnya pada Kai.

“Aku tidak mengundurkan diri. Sudah kubilang aku tidak begitu suka menyanyi. Aku ini seorang Rapper sejati,” ucapnya membela diri.

Taemin mencibir. “Kualitas suaramu memang tidak sebagus suaraku,” ejeknya.

Kai mengerucutkan bibir. Ia ingin menepis kata-kata Taemin namun pada kenyataannya suara kembarannya itu memang jauh lebih baik darinya.

Annyeong,”

Seketika itu juga Ikha, Kai dan Taemin langsung tertuju pada sahutan seseorang di ambang pintu kaca yang membatasi kabin dengan ruangan di dalam kantin. Disana, Hyoyeon tengah memberikan senyum terbaiknya pada mereka saat ketiganya menatap yeoja itu keheranan. Maklum, biasanya tak ada yang berani bergabung jika mereka tengah berkumpul.

Taemin balas menyapa Hyoyeon sementara Kai dan Ikha hanya melambaikan tangan sebagai pengganti sapaan. Ikha menggerakan tangan, mempersilahkan Hyoyeon untuk duduk pada satu bangku kosong yang ada di antara mereka.

“Ada yang bisa kubantu, Eonni-ya?” tanya Ikha sesopan mungkin.

Ini kali pertama Hyoyeon menyapanya setelah hampir satu bulan mereka sering berpapasan di setiap pertemuan kelas atau saat senggang selama di gedung Sound. Agak aneh memang. Tapi Ikha tak ambil pusing.

Sebelum menjawab pertanyaan Ikha, Hyoyeon menggerakan bola matanya ke arah Kai dan Taemin. Mengerti bahwa yeoja yang terpaut satu tahun dengannya itu hanya ingin bicara empat mata saja, Ikha menyuruh si kembar untuk pergi saat itu juga. Kai sempat mengaduh karena tak paham dengan situasi yang ada hingga akhirnya Taemin memaksa namja itu pergi dengan menyeret lengan Kai.

“Kedua tikus itu sudah pergi. So?”

Ikha menggeser beberapa piring cemilan yang diambil Taemin dan Kai beberapa menit lalu—mendekatkannya pada Hyoyeon—seraya menawarkan makanan tersebut padanya. Hyoyeon hanya menggeleng sambil terus menyunggingkan senyum yang bagi Ikha masih terbilang kaku.

“Aku ingin mengucapkan selamat karena kau terpilih lagi menjadi The Best Trainee selama tiga minggu berturut-turut,” ucap Hyoyeon pelan.

Senyum Ikha melebar. Jujur saja, ia tidak begitu akrab dengan para trainee yang lain karena mereka seolah menjauhinya lantaran ia begitu dekat dengan Taemin, Kai dan Donghae—orang-orang penting yang terkait dengan Sound Ent. Hyoyeon pasti memiliki tujuan lain. Sekali pun Ikha dekat dengan Jia dan Yoona, keduanya tak pernah dengan sengaja mendatanginya hanya untuk mengucapkan selamat seperti yang Hyoyeon lakukan sekarang.

Eosseo, Eonni-ya (Ayolah, Eonni). Pasti kau ingin bertanya seputar Lee Hyuk Jae padaku ‘kan? Tanyakan saja. Gwenchana (Tidak apa-apa),” tutur Ikha lalu memasukkan sepotong ttuk ke dalam mulutnya.

Hyoyeon tersenyum tipis. Ia hanya mendengar dari trainee lain jika Ikha adalah seorang yeoja yang memiliki karakter kuat dan penuh percaya diri. Sepertinya ia harus mengakui akan hal itu. Saat bicara dengannya, ia dapat merasakan aura yang berbeda. Kekuatan mental yang tak tergoyahkan.

“Eunhyuk itu salah satu senior-ku saat kami masih sekolah di Inha. Kami pernah mewakili sekolah untuk mengikuti ajang Dance Competition. Kebetulan sekali kami bertemu di tempat ini. Well, agak terkejut memang. Ia sempat menghilang selama tiga tahun dan muncul tiba-tiba di hadapanku. Tapi tenang saja. Kami tidak ada hubungan apapun—untuk saat ini. Hanya sebatas… teman?”

Ikha memulai ceritanya saat Hyoyeon tak kunjung bicara. Hyoyeon lagi-lagi tersenyum. Dipandanginya Ikha yang sedang asyik mengunyah ttuk dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Sekarang ia paham dengan ucapan Eunhyuk. Ikha memang tidak cantik namun yeoja itu dapat membuat orang lain merasa terpesona dan takjub jika berada di dekatnya.

“Bukan itu yang ingin kudengar darimu, Ikha-ssi. Aku hanya ingin mengajukan satu permintaan,” ucap Hyoyeon pada akhirnya.

Ikha mengangguk, menyuruh Hyoyeon untuk menyebutkan permintaan tersebut. Mulutnya masih dipenuhi makanan yang belum ditelan dengan sempurna. Sedangkan Hyeoyon? Yeoja itu terdiam beberapa saat. Rasa iri semakin membuncah di hatinya setiap kali melihat gerak-gerik Ikha.

“Bisakah kau menjauh dari Hyuk Jae?”

***

IKHA MENEROBOS MASUK ke dalam ruangan Donghae tanpa permisi atau mengetuk pintu terlebih dahulu. Ketika akan menutupnya, pintu tersebut ia banting cukup kencang. Donghae—yang sedang mengobrol dengan seseorang di seberang telepon—meletakkan telunjuknya di bibir menyuruh Ikha untuk memelankan suara.

Yeoja itu mengaduh seraya menjatuhkan tubuhnya pada sofa yang ada di tengah ruangan. Rasanya ia ingin membentur kepalanya ke tembok saat itu juga. Penat. Percakapannya dengan Hyoyeon tadi siang membuat kepalanya penat. Menyuruhnya untuk menjauh dari Eunhyuk? Hah! Jangan harap!

“Ada urusan apa, Ikha-ssi? Tumben sekali,” tanya Donghae tepat setelah ia mengakhiri perbincangannya.

Ikha mendengus seraya meniup poni rambutnya. “Sejak Sungmin Seonsaeng pergi ke Jepang, kelas acting berubah jadi sangat membosankan.” rutuknya.

Donghae hanya menggelengkan kepala. Ia sama sekali tidak marah setiap kali Ikha bersikap seenaknya di gedung itu.

Sajangnim (Bos), kau sempat menemuiku saat di kantin minggu lalu. Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?” tanya Ikha saat mengingat pertemuan terakhirnya dengan Donghae yang begitu singkat tersebut.

Namja itu mengambil secarik kertas kemudian menulis sesuatu di atasnya. “Kau masih ingat perbincangan kita mengenai Eunhyuk beberapa minggu lalu?”

Ikha hanya berdeham. Ia nampak seperti manusia yang tak punya semangat hidup.

“Aku ingin kau membantuku,”

Donghae menjulurkan kertas tersebut pada Ikha yang telah ia tulis dengan sebuah alamat. Ikha menyipitkan mata, ia terlalu malas menghampiri meja kebanggaan Donghae yang berjarak dua meter dari sofa yang didudukinya.

Mwoya igeo? (Apa itu?)” tanya Ikha ketika kedua matanya tak mampu membaca tulisan Donghae dari kejauhan.

“Alamat tempat tinggal Eunhyuk,” jawabnya. “Seminggu ini ia tidak hadir di setiap kelas. Aku sudah membujuknya untuk datang tapi dia tetap bersikeras,” imbuh Donghae, menjelaskan.

Sambil meluruskan kedua kakinya, Ikha tertawa ringan mendengar penuturan Donghae. Ia sudah bisa menebak apa yang akan Donghae katakan. Namja itu pasti akan menyuruhnya untuk menghampiri Eunhyuk di apartemen mini-nya.

“Yang membuat Eunhyuk dan juga dirimu begitu jauh dan tak pernah akur hanyalah komunikasi. Masalah kalian itu akan selesai jika kau yang bicara padanya lebih dulu,” jelas Ikha, setengah mengelak.

“Aku sudah mencobanya tapi dia tetap menghindar dan tak ingin mendengarkanku barang sedetik pun,” ungkap Donghae. Suaranya terdengar seperti rengekan anak kecil.

“Itu karena kau sudah takut lebih dulu. Bagaimana kau akan menebus dosamu jika sikapmu mudah goyah seperti ini?” rajuk Ikha. Ia beranjak dari sofa kemudian menghampiri Donghae, merampas kertas tersebut dari tangan si Pemilik Sound Ent lalu memasukkannya ke dalam kantung setelah mengecek alamat itu lebih dulu.

Aiissh! Harusnya aku membencimu karena kau yang telah membuat Hyuk Jae menjauh dariku!” rutuk Ikha.

Donghae terkekeh. “Mian (Maaf), setidaknya aku bisa membawamu ke apartemennya. Kau bisa melakukan apapun disana,” ejeknya kemudian disambut oleh sebuah pukulan kecil di lengannya dari Ikha.

“Kau berhutang banyak padaku, Lee Donghae.”

***

KEESOKAN HARINYA Ikha memutuskan untuk mendatangi alamat yang diberikan Donghae. Malam menjadi pilihannya karena Donghae bilang bahwa Eunhyuk harus mengajar tari di sebuah tempat di daerah Sokcho siang harinya. Setelah memastikan dirinya sudah cukup rapih, pintu yang tertera angka 23D tersebut ia ketuk selama tiga kali.

Saat pintu terbuka, yeoja yang sengaja menggerai rambut panjangnya itu menahan tawa begitu melihat Eunhyuk menguap sambil menggaruk kepala. Namja yang telah mengecat rambut blonde-nya menjadi hitam pekat itu sempat terlonjak ketika mendapati Ikha tengah tersenyum padanya. Eunhyuk menghembuskan napas kemudian menggerakan pintu agar menutup kembali. Sayang, kaki Ikha dengan cepat menahan pintu tersebut dan membuat namja itu mendelik malas padanya.

“Pasti Donghae yang menyuruhmu kesini bukan?” dengusnya.

Anio. Aku sedikit khawatir karena kau tidak latihan seminggu ini. Boleh masuk?” tanya Ikha santai. Belum sempat Eunhyuk memberi izin, yeoja itu telah menerobos pintu lebih dulu sambil menenteng dua bungkus plastik besar berisi makanan kecil yang sengaja ia beli untuk Eunhyuk.

Ikha mengedarkan pandangan ke dalam ruangan yang menurutnya cukup sempit untuk ukuran sebuah apartemen mini. Rumah susun yang ditingali Eunhyuk memang terlihat sedikit kumuh dari luar. Namun ia memandang takjub ruangan tersebut karena Eunhyuk berhasil menata tempat sempit itu menjadi hunian yang nyaman untuk ditinggali.

Yeoja itu bergerak menuju sebuah pendingin kecil setinggi lutut yang terletak tepat di bawah TV. Ia hanya menemukan beberapa botol minuman isotonik di dalamnya, jadi ia dapat memasukkan semua snack dan buah-buahan yang ia beli tanpa harus membuang isi pendingin.

Waeyo? (Kenapa?)” tanya Ikha saat melihat Eunhyuk tengah berkacak pinggang di ambang pintu.

Namja itu memutar bola mata. “Hanya lima menit dan setelah itu kau harus segera pergi,” tandasnya kemudian menutup pintu ruangan dengan asal.

“Seharusnya kau menyambut seorang tamu dengan baik,” seloroh Ikha.

Ia melihat Eunhyuk berjalan menuju dapur kecil yang ada di sisi ruangan dan hanya dibatasi oleh sebuah sekat. Sambil menunggu Eunhyuk, Ikha memutuskan untuk mengobrak-abrik tempat mungil itu. Buffet mini yang ada disamping TV menjadi sasarannya. Ia langsung terkekeh begitu menemukan koleksi DVD Eunhyuk disana.

“Kau masih mengoleksi benda ini?” tanya Ikha setengah berteriak pada Eunhyuk sambil memamerkan salah satu DVD dengan gambar yeoja Jepang half-naked yang terselip di antara film-film horror.

“Letakkan benda itu atau aku akan menyeretmu keluar!” gerutu Eunhyuk di tengah kegiatannya membuat minuman ‘selamat datang’ untuk Ikha.

Tawa Ikha menggema di dalam ruangan sempit tersebut. Ternyata kebiasaan Eunhyuk yang satu ini belum sembuh juga. Kemudian yeoja itu beranjak menuju tempat tidur yang letaknya tak jauh dari sofa yang ada di depan TV. Detik berikutnya ia kembali terkekeh saat menemukan sebuah ‘pengaman’ terselip di antara bantal dan bed cover.

“Kau menata ruangan ini dengan baik,” aku Ikha. Puas dengan tempat mungil yang telah disulap menjadi kamar hotel luxurious oleh Eunhyuk.

Ikha menempatkan diri pada sofa satu-satunya yang ada di ruangan itu. Tak lama kemudian, Eunhyuk datang membawa secangkir Latte buatan tangan sendiri seraya duduk pada sisi lain dari sofa. Mereka duduk berjauhan. Nampak seperti sepasang suami-istri yang sedang bermusuhan.

“Hyoyeon mendatangiku tadi siang. Tak disangka dia menyuruhku untuk menjauhimu,” ungkap Ikha, memulai pembicaraan diantara mereka.

Sambil menarikan jemarinya pada remote TV, Eunhyuk bergumam. “Bukankah lebih baik seperti itu?”

Ikha mendengus mendengar kata-kata Eunhyuk yang terdengar seperti sebuah ejekan baginya—lagipula kata itu sempat ia utarakan ketika mereka bertemu di kabin canteen gedung Sound. “Sekuat apapun Hyoyeon atau bahkan orang lain berusaha untuk menjauhiku darimu, hasilnya tetap sama. Usaha mereka akan berakhir sia-sia,”

Eunhyuk berdecak. “Kau akan membahas hal itu lagi?”

Bahu Ikha bergerak ke atas dan ke bawah. Sambil menatap layar televisi, ia menggeser pantatnya beberapa senti mendekati Eunhyuk.

“Kau tahu kenapa Donghae meloloskan kita audisi drama musikal itu?” tanya Ikha setengah bergumam. Eunhyuk hanya menoleh beberapa detik saja dan kembali memfokuskan diri pada film yang sedang ditontonnya. “Karena dia ingin membayar apa yang telah dilakukan Appa-nya terhadap kita berdua,” imbuhnya.

Tangan Eunhyuk yang sedang memegang remote tiba-tiba mengeras. Setiap mendengar Ikha menyebut nama Donghae, amarahnya selalu memuncak hingga ke ubun-ubun.

Ikha melanjutkan, “Aku sudah mengetahui semuanya, Lee Hyuk Jae. Aku sudah tahu alasan dibalik sikapmu yang berubah seperti ini. Jadi, kumohon. Berhentilah menyiksa dirimu sendiri dengan terus mengisolasi diri dari lingkungan di sekitarmu,”

Eunhyuk terdiam. Meski matanya terfokus pada layar, pikirannya kini sedang melayang-layang menjauhi otaknya. “Kau tidak mengerti apapun,” desisnya.

“Aku mengerti. Sangat mengerti. Karena aku mengerti, maka aku tak akan mempermasalahkan hal itu dan tak lagi menuntut.”

Eunhyuk memalingkan wajah pada Ikha. Yeoja itu masih menatap layar televisi sembari melipat kedua tangan di dada. Bahkan ia sempat tersenyum saat melihat adegan yang menurutnya cukup lucu untuk ditertawakan.

Sejenak namja berambut hitam itu termangu, memutar kembali memori lamanya saat ia memutuskan untuk meninggalkan Ikha tanpa kabar.

Tepat sehari setelah pengumuman pemenang ajang Dance Competition, Eunhyuk terbang ke Amerika bersama Nyonya Lee yang notabene adalah orang-tua tunggalnya. Padahal, ia sudah berjanji pada Ikha akan memakai beasiswa dari hasil juara tersebut untuk pindah ke Princeton University.

Nyonya Lee memutuskan untuk pindah karena beliau diajak oleh Lee Sooman untuk berbisnis disana, yakni membangun sebuah management artist atas nama mereka berdua. Dan kebetulan sekali, Donghae—anak pertama dari Sooman—adalah teman dekatnya. Eunhyuk sengaja menghilang dari Ikha karena ia ingin memberi sebuah kejutan padanya. Karena baik Sooman ataupun Nyonya Lee sepakat akan mengorbitkan Donghae dan Eunhyuk sebagai artis pertama yang ada dibawah naungan mereka.

Sialnya, sebelum semua urusan perizinan dan tek tek bengek lainnya beres, Sooman mengambil alih semua saham dan sponsor yang telah terkumpul dengan sempurna kemudian menggunakan Nyonya Lee sebagai kambing hitam. Akibat perbuatan Sooman, Eunhyuk harus menjadi yatim-piatu karena Nyonya Lee meninggal disebabkan oleh serangan jantung.

Tidak ada yang tersisa saat itu karena Nyonya Lee menginvestasikan seluruh kekayaannya untuk bisnis tersebut. Walhasil Eunhyuk bertahan sebisanya di Amerika dengan mengikuti kontes Street Dance atau menjadi pengantar Pizza. Hingga akhirnya tak lama saat ia kembali ke kampung halaman, Sound Ent—yang ia tahu sebagai agency musikal terbesar di Seoul dan dipimpin oleh Sooman—meloloskannya audisi pada proyek drama musikal terbaru mereka.

Seharusnya agency itu adalah miliknya juga.

Tak hanya itu, entah kenapa Tuhan sepertinya sudah merencanakan semuanya. Ia kembali bertemu Ikha di Gedung Sound untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Rasanya saat itu ia ingin berteriak dan memeluk yeoja itu untuk melampiaskan rasa rindunya. Sayang, ia masih menyimpan rasa malu dan enggan. Ia sudah menghilang dari hadapannya dan kembali sebagai seorang gelandangan. Ia tak punya keberanian untuk bertemu ikha, makanya ia terus menghindar.

“Lalu kenapa kau masih bersikeras untuk mendekatiku? Kau sudah tahu jika aku tidak akan bisa memberikan kehidupan yang layak lagi padamu,” ucap Eunhyuk.

Well, memang agak mengecewakan saat tahu bahwa kau tak lagi membawa Audi-mu. Tapi tak apa, selama kau berhasil memuaskanku, itu tak jadi masalah.”

Eunhyuk membulatkan kedua mata ketika Ikha mengucapkan kata-kata di atas. Ikha yang begitu membenci skinship tiba-tiba berubah menjadi manusia frontal dan blak-blakan. Melihat ekspresi kaget yang Eunhyuk tampakkan, yeoja itu langsung tergelak memegangi perut. Ekspresi polos Eunhyuk ternyata berhasil menyembunyikan sifat yadong-nya yang sudah di tingkat ‘akut’.

“Kau tidak perlu menyembunyikan apapun lagi dariku. Lagipula jika kita berhasil dengan proyek musikal FAME ini, nama kita akan melambung tinggi dan kau akan mendapatkan kehidupan yang dulu pernah direnggut Sooman darimu,” oceh Ikha, sekedar memberi saran.

Eunhyuk kembali memutar mata. Ia masih kesulitan untuk membuka hati tentang masalah tersebut.

“Awalnya aku juga membenci Donghae. Tapi karena aku menangkap niat yang begitu tulus darinya, aku rasa tidak ada salahnya jika memaafkan.” tutur Ikha. Ia kemudian menceritakan pada Eunhyuk bagaimana Sooman mencelakai Kyuhyun hanya karena persaingan antar agency.

“Apa kau tidak lelah terus menerus seperti ini, eum?” tanya Ikha, sengaja melembut untuk membujuk Eunhyuk.

Namja itu tetap diam. Kedua matanya menerawang. Sambil menunggu reaksi Eunhyuk, Ikha meminum Latte yang mulai mendingin buatan mantan kekasihnya. Ia berdeham, cukup puas dengan rasanya.

“Sebelum aku pergi, aku ingin mengajukan satu pertanyaan terakhir.”

Ikha meletakkan cangkir kopi ke atas meja dan berhasil membuat Eunhyuk kembali terjaga. Eunhyuk menggerakkan kepala ke sampingnya agar lebih mudah menatap Ikha yang juga tengah menatapnya.

“Apakah perasaanmu padaku masih sama seperti dulu?” tanyanya tanpa basa-basi. Baginya, waktu tiga tahun itu cukup lama bagi seseorang untuk menemukan pengganti baru.

Sambil menyandarkan kepalanya pada punggung kursi, namja itu bergumam, “Aku sudah mencium ratusan yeoja disana,”

Ikha langsung memukul Eunhyuk menggunakan bantal sofa yang semula ia pakai untuk menutupi area perutnya. “Aku begitu gelisah menunggumu selama tiga tahun tapi kau malah mencium ratusan yeoja di Amerika? Apa jangan-jangan kau juga sering ber-one night stand dengan yeoja-yeoja itu, eo?” rutuknya penuh amarah.

“Kau berciuman dengan Kai minggu lalu. Itu termasuk hitungan bukan?”

Ikha berdecak. “Geurae. Geurae. Bicaralah sesuka hatimu. Kau sudah tertangkap basah menyimpan pengaman di tempat tidurmu tapi masih mengelak saja!”

Sejenak Eunhyuk memutar tubuhnya untuk melihat tempat tidur berlapis bed-cover putih yang masih nampak rapih. “Itu bukan punyaku. Mungkin itu milik Siwon—teman lama. Dia sempat meminjam kamarku semalam,” elaknya santai.

Namja itu memperhatikan Ikha yang kini lebih memilih memperhatikan layar televisi. Meski ia dijuluki seorang cassanova oleh teman-temannya, tetap saja hatinya yang murni itu hanya tertuju pada satu orang.

“Dulu kau selalu saja menganggap serius hal-hal sekecil apapun. Kenapa sekarang kau begitu mudah memaafkanku?” Eunhyuk akhirnya mengajukan pertanyaan.

Senyum Ikha timbul di tengah ekspresi wajah yang tadinya nampak kesal. Senang karena Eunhyuk memulai perbincangan terlebih dahulu terkait masalah yang menyangkut kehidupan mereka.

“Kau masih belum mengerti juga? Setelah dua kali kita berciuman, apa kau masih belum menangkap apa yang aku rasakan, eum?” Ikha balik bertanya tanpa menoleh sedikitpun pada Eunhyuk.

Namja itu menunduk, memainkan kuku jarinya sesaat. “Mianhae,” bisiknya.

Ikha memutar kepala, tersenyum pada Eunhyuk yang masih memperhatikan kuku-kukunya. “Tanpa menyebutkan kata itu pun aku sudah memaafkanmu, Lee Hyuk Jae.” ucapnya sambil menggenggam tangan Eunhyuk kemudian mengusap permukaan punggung tangannya menggunakan ibu jari.

“Jadi, kau akan datang ke kelas Leeteuk Seonsaeng besok?” tanya Ikha sembari menelisik kedua mata Eunhyuk mencari jawaban.

Eunhyuk menggedikkan bahu. “Tentang Hyoyeon—“

“Kalau kau menyukainya katakan saja. Aku akan mendukung apapun keputusanmu,” potong Ikha, menginterupsi kalimat Eunhyuk.

Namja itu lagi-lagi dibuat termangu oleh kata-kata Ikha. Setelah menyampirkan tas Channel pada salah satu tangannya, yeoja itu mengusap pipi Eunhyuk disertai tatapan lembut yang tak pernah ia tunjukkan pada semua orang.

“Aku pulang. Lain kali aku akan berkunjung kemari,”

Begitu Ikha bersiap untuk pergi, Eunhyuk terlebih dulu mencengkeram pergelangan tangan Ikha dan menahan yeoja itu pergi. Ikha berbalik, melihat Eunhyuk yang memegang tangannya sementara perhatian namja itu masih tertuju pada layar televisi.

“Sebentar saja,” cegahnya sambil menarik Ikha agar kembali duduk disampingnya. “Tunggulah sebentar lagi,” imbuhnya.

Senyum Ikha mengembang. Rasanya seperti berjuta-juta bunga bermekaran di dalam hatinya setiap kali Eunhyuk menyentuhnya. Tentu saja yeoja itu tidak menolak. Ia bahagia meski hanya menghabiskan beberapa detik lebih lama lagi untuk bersama Eunhyuk

“Aku mencium yeoja-yeoja itu bukan karena aku menyukai mereka,” celetuk Eunhyuk. Ikha hanya tersenyum simpul menanggapinya. “Saat mencium mereka, aku selalu berharap bahwa mereka akan berubah menjadi dirimu.” akunya.

Tangan Ikha yang semula digenggampun semakin ia eratkan. Malam itu rasanya ia tak ingin melepas tangan Ikha dan membiarkan jari mereka saling bertautan.

“Seharusnya aku bersikap jujur dari awal. Aku takut kau tak akan menerimaku karena sekarang aku tak lagi hidup bergelimpangan harta. Tadinya aku ingin mengejutkanmu saat aku berencana untuk debut bersama Donghae di drama musikal yang Eomma buat. Ternyata semua di luar rencana dan—“

Ikha, yang semula mendengarkan Eunhyuk dengan baik, bergerak mendekat pada namja itu secepat yang ia bisa. Setelah merengkuh wajah Eunhyuk dengan tangannya yang bebas, yeoja itu seraya menyatukan bibir mereka dan sengaja melumatnya untuk memberi sedikit penekanan.

Ia menatap kedua manik mata Eunhyuk dengan jarak yang begitu dekat. “Kau memang selalu banyak bicara,” tutur Ikha, sengaja menduplikat kata-kata Eunhyuk saat namja itu pernah menciumnya paksa di kabin canteen Sound Ent.

Bibir Eunhyuk bergerak membentuk seulas senyum. Sambil menggenggam tangan Ikha yang masih bertengger di pipinya, ia berbisik manis. “Mianhae,”

Ikha memberi sebuah ciuman kilat kemudian kembali menatapnya. Gummy-smile Eunhyuk semakin nampak begitu ia paham dengan arti dari ciuman singkat tersebut. Ikha memaafkannya, dan itu berarti bahwa hubungan mereka yang sempat renggang tersebut dapat kembali utuh seperti tiga tahun lalu.

Sambil berbisik menyebutkan kata Mianhae, Eunhyuk menuntun yeoja itu agar duduk di pangkuannya dan kembali menautkan bibir mereka. Di sela ciuman mereka, Eunhyuk juga mengucapkan kata ‘gomawo’ beberapa kali pada Ikha. Sebelumnya ia selalu merasa bosan setiap kali malam tiba. Namun sekarang, malam ini serasa begitu indah.

Ya. Karena Ikha ada disampingnya…

***

IKHA LANGSUNG TERJAGA begitu mendengar suara Ringtone ponsel Eunhyuk menggema di tengah rasa kantuknya yang tiada tara. Ia menggerakkan bahu Eunhyuk agar namja itu mengangkat teleponnya, tapi Eunhyuk seperti orang yang mati rasa—bergeming seperti tak sadarkan diri.

Dengan susah payah, Ikha beranjak mengambil ponsel Eunhyuk yang tergeletak sembarangan di lantai setelah menyingkirkan lengan namja itu yang melilit pinggangnya. Sambil menahan bed cover agar tetap menutupi tubuh, yeoja itu memperhatikan layar ponsel sejenak seraya mengangkat panggilan tersebut.

Eunhyuk Oppa~ cepat bangun! Bukankah kau harus pergi mengajar di tempat Myeongsu-ssi?”

Belum sempat ia mengucapkan ‘yeoboseyo’, seseorang di seberang sana langsung menyerangnya dengan kata-kata tanpa jeda. Ia melihat layar ponsel lagi dan tertulis kata Unnamed pada benda tersebut.

“Eunhyuk masih tidur. Sepertinya dia masih lelah. Akan kubangunkan dia beberapa menit lagi,” ucap Ikha, menjawab ocehan dari suara yeoja tersebut.

Selama beberapa detik, Ikha tak mendengar suara ocehan itu dan mengira bahwa si penelpon telah mengakhiri panggilannya. Hingga akhirnya si penelpon bertanya, “Nuguseyo? (Siapa kau?)”

Ikha mengibaskan rambut panjangnya sejenak kemudian menaikkan sedikit bed cover untuk menutupi area dadanya. “Na? (Aku?) Aku temannya,” balasnya.

Kenapa kau bisa bersama Eunhyuk Oppa?”. Yeoja itu kembali bertanya dengan nada sinis.

“Oh, aku tidur dengannya semalam. Waeyo? Nugusijjyo? (Siapa ini?)” Lagi-lagi Ikha menjawab pertanyaan si penelpon dengan sejujur-jujurnya. Tak peduli apakah yang menelpon itu saudara atau teman Eunhyuk. Yang jelas ia hanya mengatakan yang sebenarnya.

“Apakah ada pesan lain? Nanti akan kusampaikan,” ucap Ikha. Suaranya terdengar bergetar karena bagaimanapun juga ia masih setengah sadar.

Cho Ikha? Apa benar itu kau?

Ikha mendengus seraya menguap selama beberapa detik. “Wow, kau bisa mengenal suaraku? Apa kau fans-ku?” jawabnya asal.

Tepat setelah Ikha mengucapkan kata itu, ia mendengar sambungan telepon tersebut terputus. Ia hanya mendengus lalu meletakan kembali ponsel itu di atas lantai—karena Eunhyuk tidak meletakan meja atau laci kecil disamping tempat tidurnya.

Nugu?” tanya Eunhyuk parau seraya menarik tubuh Ikha agar ia dapat memeluknya.

Ikha memposisikan tubuhnya dengan berbaring di dalam pelukan Eunhyuk. “Entah. Dia menyuruhmu untuk segera bangun,” gumamnya.

“Itu pasti Hyoyeon,” bisik Eunhyuk lalu mengeratkan pelukannya sambil sesekali menciumi rambut panjang Ikha.

Sontak Ikha terbangun dari posisinya dan menahan tubuhnya yang setengah duduk dengan salah satu tangannya yang menyiku. “Kau bertukar nomor ponsel dengannya? Aku bahkan tak tahu nomor ponselmu yang baru!” gerutunya, tak  terima dengan pernyataan yang satu itu.

Ssstt. Ini masih pagi. Jangan membuat tetanggaku melemparkan panci ke jendela karena mendengar suaramu,” ucap Eunhyuk, masih dengan nada yang malas-malasan.

Yeoja tadi bilang kau harus segera mengajar tari. Sebaiknya kau bangun dan bergegas mandi,” suruh Ikha.

Malas mendengar ocehan yeoja yang sempat ia tiduri tadi malam tersebut, Eunhyuk segera memeluk Ikha dan berguling di atas tempat tidur hingga yeoja itu mengaduh.  “Itu masalah kecil. Biarkan aku tidur beberapa menit lagi,” pintanya.

Seperti sebuah mantra penyihir, Ikha hanya mendesah kecil begitu Eunhyuk menyuruhnya seperti itu. Dari dulu, ia memang selalu kalah jika harus melawan skinship yang namja itu berikan padanya. Jadi ia membiarkan Eunhyuk tertidur di pundaknya sambil terus mengeratkan tubuh naked mereka.

Senyumnya mengembang setiap kali mengingat kejadian tadi malam saat Eunhyuk memintanya untuk menginap. Walhasil kejadian itu berakhir seperti pagi ini. Beruntunglah ‘pengaman’ Siwon masih berfungsi. Jadi Eunhyuk tak perlu menikahinya dengan segera jika ia tiba-tiba hamil.

***

KAI, KAU TIDAK ingin mengucapkan selamat?” selidik Ikha setengah meledek pada namja yang terus saja memagutkan dahi dan mengerucutkan bibir setelah mendengar pengumuman main cast untuk musikal FAME yang akan di adakan dua bulan lagi.

“Untuk apa? Toh aku tidak terpilih memerankan tokoh Scholomo!” gerutunya kesal. Tadinya ia ingin mencecar Donghae, tapi berhubung pemilihan cast ini atas keputusan seluruh Mentor, niat itu segera diurungkan.

Yup. Semua peran di dalam Musikal FAME sudah diumumkan tadi siang. Semua sudah mengira jika Ikha dan Eunhyuk pasti mendapat peran utama karena keduanya selalu bersinar di setiap kelas—meski Eunhyuk sempat absen beberapa hari untuk tidak latihan. Dan bukan hanya Kai yang menyesali keputusan tersebut. Ada beberapa tatapan mata berbeda yang Ikha tangkap saat ia berpapasan dengan beberapa trainee.

“Berharap bisa berpasangan dengan Ikha Noona, eo?” goda Taemin kemudian ia mendapat pukulan kecil dari Kai di lengannya.

Ikha, yang diapit oleh dua namja kembar berkepribadian aneh, hanya menggeleng pelan. “Peran yang kau dapatkan itu sangat cocok denganmu, Kai. You’re as Tyrone. The King of Hip-hop dancer,” ucapnya, membanggakan Kai.

Namja dengan proporsi tubuh yang lebih atletis dibanding Taemin tersebut masih mengerucutkan bibir. Hingga ia tak lagi kesal begitu seseorang menerobos benteng yang sengaja mereka buat—karena mereka berjalan beriringan agar orang-orang tak bisa melewati mereka—dan membuat Ikha hampir tersungkur karenanya.

Kai dan Taemin bereaksi cepat saat seorang yeoja dengan rambut kepangnya masuk ke dalam lift terburu-buru. Ikha mengenalnya. Dia adalah Victoria, trainee yeoja yang ada di posisi ketiga setelahnya dan juga Hyoyeon.

“Biarkan saja,” sergah Ikha, menahan masing-masing lengan Kai dan juga Taemin agar tidak merutuki Victoria.

Keduanya menyingsingkan baju dan mengibas poni secara bersamaan, membuat Ikha tergelak melihat kelakuan mereka yang hampir mirip dengan anak kembar lainnya.

“Kami harus menemui Hyung di lantai atas. Tak apa ‘kan jika kami tidak mengantarmu ke halte bus?” tanya Taemin, sedikit khawatir karena sekarang sudah menunjukkan jam dua belas lewat. Beberapa lampu ruangan gedung sudah mati dan keadaan jalanan nampak sepi.

Gwenchana. Kita akan bertemu lagi besok,” ucap Ikha seraya melambaikan tangan berpamitan pada kedua manusia kembar tersebut.

***

SETIBANYA DI HALTE bus yang nampak sepi tanpa orang yang berlalu-lalang tersebut, Ikha dikejutkan oleh penampakan tiga orang manusia yang tiba-tiba berhenti tepat di depannya. Ia mendongak, mendapati Victoria yang tengah melipat kedua tangan di dada serta diapit oleh dua yeoja lain yang tak di kenalnya.

Ikha tersenyum sembari melambaikan tangan.

“Harusnya kau membungkuk pada yang lebih tua,” rutuk Victoria sembari memilin ujung rambut blonde-nya.

Senyum Ikha berubah jadi tawa rendah. “Ada yang ingin Eonni bicarakan?” tanyanya to-the-point.

Victoria berdecak. Kedua yeoja yang bagi Ikha merupakan kaki tangan Victoria ikut mengeluarkan smirk yang menyeramkan. “Berhentilah bersikap sok baik di hadapanku, Cho Ikha.”

Tepat setelah itu, kedua yeoja bertubuh kurus  mengapit kedua tangan Ikha dan menyeretnya menuju pinggiran trotoar. Ikha hanya tersenyum tipis. Ia sengaja tidak melawan karena baginya hal itu terlalu mudah. Dengan meniupkan angin pada yeoja kurus itu, sudah dipastikan keduanya akan terbang bersama angin tersebut.

Wow, calm down!” Ikha berusaha menenangkan yeoja itu saat salah satu di antara mereka—yang mengikat rambutnya seperti ekor kuda—berusaha merampas tas ransel Genic miliknya.

“Aku sudah muak melihat tingkahmu yang seakan-akan seperti ratu di gedung itu. Aku heran, kenapa Sajangnim begitu baik padamu? Apa yang telah kau perbuat agar beliau mau menerimamu di tempat itu tanpa audisi? Apa kau menidurinya?” ucap Victoria, sengaja menghina Ikha.

Yeoja yang mencepol rambutnya itu hanya terkekeh mendengar kata-kata Victoria. Jadi inikah alasan yeoja yang lebih tua darinya tiga tahun itu mencegatnya malam ini? Hanya karena rasa iri?

“Jika aku menjawab ‘ya’, apa kau juga akan melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan?” jawab Ikha, sengaja menantang Victoria.

“Kau menantangku, eo?” hardik Victoria sembari menekan-nekan bahu Ikha menggunakan ujung telunjuknya.

Eonni, apa kau menginginkan peran yang kudapat? Jika kau sangat menginginkannya, aku akan mengundurkan diri dan menyuruh Sajangnim untuk memposisikanmu sebagai Carmen.”

Merasa bahwa Ikha sedang merendahkannya, Victoria langsung naik pitam. Jika keadaan mereka sekarang seperti salah satu adegan di film kartun Kobochan, pasti ada kepulan asap yang keluar dari kedua telinganya.

“Aku tidak butuh belas kasihanmu!” gertak Victoria lalu mendorong tubuh Ikha sekuat tenaga hingga yeoja itu mundur dan jatuh tepat di tengah jalan.

Ikha hanya mendelik sambil tersenyum simpul. Baginya, sikap Victoria itu sangat kekanak-kanakan. Seharusnya ia lebih sportif dan kompetitif. Para mentor memilihnya bukan karena tampang, melainkan karena kemampuan.

Saat Ikha berusaha untuk bangun dari posisinya, tiba-tiba sebuah mobil muncul dari arah kanan dengan laju yang cukup kencang. Ikha menyilangkan kedua tangannya di depan wajah begitu sorot lampu mobil itu begitu menyilaukan mata. Sejenak, ia mengira bahwa mobil itu akan menabraknya, tapi kendaraan roda empat itu sedikit oleng ke kanan untuk menghindari Ikha hingga akhirnya terdengar bunyi ‘krekk’ seiring menghilangnya mobil itu menembus malam.

Victoria dan kedua temannya sempat berteriak begitu mobil itu hampir saja menabrak tubuh Ikha. Ia sempat mengelus dada begitu melihat Ikha masih baik-baik saja. Namun ketenangan Victoria tidak berlangsung lama. Temannya yang berambut pendek menunjuk ke arah Ikha yang tengah merintih di tengah jalan sambil memegangi salah satu kakinya.

Alih-alih melihat plat mobil yang telah melindas salah satu kaki Ikha, Victoria lebih memilih menutup mulut menahan teriakannya begitu melihat tulang kaki kanan yeoja itu terbelah dan mengeluarkan darah yang berceceran di jalanan berlapis aspal.

“Vic, apa yang kau lakukan?” ucap si yeoja berambut pendek, suaranya terputus-putus karena kaget setengah mati melihat kaki Ikha yang sulit untuk dideskripsikan.

“Apa yang terjadi padanya?” tanya yeoja yang lain, membuat Victoria semakin kalut dan cemas.

Jika ia tidak mendorong Ikha hingga yeoja itu jatuh ke tengah jalan, mungkin mobil itu tak akan membuat kakinya patah. Sungguh, ia tidak bermaksud membuat Ikha seperti ini. Ia hanya sekedar ingin menggertak Ikha karena rasa iri yang begitu kuat dirasakannya.

Seketika itu juga Victoria menarik kedua temannya dan berlari meninggalkan Ikha sendirian. Suara erangan kesakitan yang Victoria dengar pun tak digubrisnya. Ia harus menjauh dari Ikha sebelum orang-orang mengetahui perbuatannya.

Sementara itu, Ikha yang masih terkapar di jalan hanya dapat berteriak mengeluarkan sakit yang ia rasakan pada salah satu kakinya. Setengah takut, ia melihat kakinya dan yeoja itu langsung merintih begitu kaki yang begitu ia banggakan hampir hancur akibat lindasan ban mobil tersebut.

Sambil menahan sakit, Ikha mencoba mencari ponsel yang semula ia selipkan di dalam kantung jeans-nya. Tangannya bergetar ketika mengetik sebuah pesan pada Kyuhyun. Yeoja itu kembali merintih. Sakitnya benar-benar luar biasa hebat.

Kini ia hanya berdoa, berharap seseorang menemukannya dan membawa dirinya ke rumah sakit terdekat. Kyuhyun mungkin tak akan datang dengan cepat hanya dalam waktu lima menit.

Ikha menangis menahan sakit di kakinya.

Ia butuh obat bius.

Segera.

…bersambung…

copy-header.jpg

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

107 thoughts on “STEP FORWARD (Chapter 05)”

  1. Part ini sukses bikin gw ngilu…

    ngilu kaki gw pas baca yang bagian kaki ika kelindes… *pas ngetiknya aja gw ngilu

    ngilu pas Ikha di apartemen Eunhyuk… hehe… *yang ini abaikan (warning: adik2 jangan dibaca ya komen gw, gak mendidik… hehe…)

      1. hehe… sering2 bikin ff yang bikin ngilu2 ya kha…

        muahahahaha….

        btw kha, lu bikin buku juga? baru gw pgen ngasih tau, klo lu dah bisa bikin buku. coz dah pny karakternulis sendiri. (ngerti ga?)

        Gw tunggu ya bukunya, klo udah gw harus jadi salah satu yang pertama2 lu kasih gratisannya ya… hehe… 😀

      2. belum li. gue gak sempet send-send stories ke penerbit. Masih banyak yg harus gue urus soalnya 😀
        Tar gampang deh kalo udah lolos gue kasih buku perdana gue, hahaha~

  2. Omoooo sepertinya ikha tdk bs menari lgi

    Otthokee? Ahhh author jahat *ditabok author*

    N knp cb adegan itunya d skip? Yahhh author :p
    Kkkkk

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s