JACK THE RIPPER (i)

Jack The RipperGADIS INI ADALAH KORBAN KE SEPULUH,” jelas Key seraya meletakan sebuah file berisi data korban pembunuhan yang ditemukan polisi di daerah Daejeon tadi malam.

Ikha membenahi letak kacamatanya terlebih dulu sebelum mengecek file yang diberikan Key. Raut wajahnya begitu serius. Ia tidak melewatkan sedikitpun kata-kata yang berderet pada lembaran-lembaran kertas putih tersebut.

“Jack meninggalkan sebuah pesan lagi,” ucap namja berambut blonde tersebut dengan hati-hati.

Sontak Ikha langsung mendongak menatap Key yang tengah berdiri disamping mejanya. Tangannya terulur, meminta namja yang telah menjadi asistennya selama tiga bulan terakhir ini untuk memberikan pesan yang sengaja ditujukan padanya. Ia membaca pesan singkat tersebut dengan seksama kemudian meremas kertas berwarna kuning keemasan itu sembarangan.

Gomawo, Kibum-ah. Kau bisa kembali bekerja,” tutur Ikha, melayangkan sebilah senyum pada Key sebelum namja itu meninggalkan ruangan.

“Oh, Key!” Ikha menyahut nama namja itu lagi saat mengingat sesuatu yang terlupakan. Key memutar tubuhnya sambil menutup daun pintu yang sempat ia buka. “Usahakan tidak boleh ada yang tahu tentang isi pesan ini selain kita berdua,” sambungnya.

Key tersenyum seraya menyatukan ujung telunjuk dan ibu jarinya untuk membentuk huruf O. “Nal mideoya haeyo (Kau bisa mempercayaiku),” ucapnya, menenangkan kekalutan yang dirasakan Ikha.

Sepeninggalan Key, yeoja itu mejatuhkan tubuhnya pada punggung kursi seraya menghembuskan nafas yang sarat akan lelah yang tiada tara. Ditatapnya langit-langit ruangan yang telah menjadi bagian dari kesehariannya tersebut lamat-lamat. Kursi kebanggaannya ia putar perlahan agar tangannya dapat mencapai laci meja kerja.

Pesan dari Jack—seperti apa yang dikatakan Key padanya—ia satukan bersama dengan kertas-kertas lain yang ada di dalam laci. Pesan tersebut isinya masih sama dengan sembilan pesan sebelumnya, yakni namja bernama Jack itu sangat menginginkannya. Sepenuhnya.

Jack The Ripper. Begitulah para penyidik dan Polisi Dalam Negeri menjuluki namja tersebut. Ia adalah penjahat nomor satu yang paling dicari di seantero Korea Selatan. Dalam tiga minggu belakangan ini, ia telah membunuh sepuluh yeoja dari berbagai kota-kota besar dengan motif yang sama, melakukan hubungan intim kemudian membunuhnya dengan mencabik isi perut si korban.

Sebagai Kepala Polisi Wilayah Cheongju, sudah pasti Ikha harus mampu menguak misteri ini karena pemberitaan media telah berhasil membuat seluruh penduduk Korea Selatan menjadi cemas dan khawatir. Hanya saja ada satu hal yang menghambat Ikha untuk melakukan penyidikan. Jack sangat rapih memainkan perannya sebagai pembunuh. Tidak ada jejak, tidak ada bukti, tidak ada saksi mata.

Bagaimana ia bisa mengungkap pembunuhan ini jika tak ada satu pun petunjuk yang dapat mengarahkannya pada Jack?

***

JAM SATU DINI HARI. Ikha masih berkutat dengan berkas-berkas kepolisian yang sengaja ia bawa untuk memahami kasus tersebut lebih dalam. Ia mencoba mengaitkan antara korban yang satu dengan yang lain meski hasilnya nihil total.

“Kebiasaan jelekmu masih belum hilang juga, eo?”

Ikha menoleh ke arah pintu apartemen saat mendengar bunyi ‘beep’ dari kunci otomatis diiringi suara seseorang yang sangat familiar di telinga. Yeoja itu tersenyum seraya melepas kacamata bingkai merah miliknya saat menemukan Leeteuk masuk ke dalam rumah tanpa permisi.

“Aku sengaja tidak menguncinya agar kau tidak perlu masuk dari jendela,” kekehnya.

Leeteuk menghampiri Ikha sambil melempar tas sport-nya sembarangan, duduk disamping sofa yang tengah diduduki yeoja itu seraya memberinya sebuah ciuman kilat.

“Dari gym lagi?” tanya Ikha saat merasakan lengket dan lembab pada lengan kekar Leeteuk. Belum lagi bau keringat yang cukup menusuk hidung, membuat yeoja itu mendengus seperti poodle.

Eum. Aku tidak ingin kau berpindah ke hati Nichkhun hanya karena namja itu lebih berotot dariku,”goda Leeteuk.

Namja itu merampas berkas-berkas yang ada di pangkuan Ikha dengan cepat. Yeoja itu tidak banyak bicara. Ia sengaja membiarkan Leeteuk membaca data-data yang ada di dalam file dan menunggu reaksinya.

“Jack The Ripper?” gumam Leeteuk. Alisnya yang bertautan membuatnya semakin nampak tua. “Si pembunuh berdarah dingin itu?” sambungnya kemudian menyerahkan kembali berkas itu ke tangan Ikha.

“Dia berulah lagi,” ucap Ikha. Meletakan kertas-kertas tersebut ke atas meja lalu beranjak menuju dapur, mengambilkan minuman untuk namjachingu-nya.

“Kau masih belum menemukan pelakunya?” tanya Leeteuk sambil memutar tubuhnya mengikuti pergerakan Ikha.

“Dia sama sekali tidak meninggalkan jejak. Permainannya cukup rapih,”

“Tapi kenapa dia harus membunuh yeoja-yeoja itu? Apa pelayanan mereka kurang memuaskan?” cecar Leeteuk.

Ikha hanya terkekeh mendengar ocehan namja yang umurnya terpaut delapan tahun dengannya. Leeteuk memang suka bercanda dan kata-katanya kadang terdengar sarkatis serta retoris.

“Untuk menarik perhatian. Mungkin. Aku belum tahu modus sebenarnya. Karena setelah diselidiki, semua korban dari Jack tidak saling berkaitan satu sama lain. Beda latar belakang, beda agama, beda usia.” Ikha menjelaskan sambil menyodorkan segelas juice tomat kesukaan Leeteuk.

“Gara-gara namja ini, Eomma tidak berani keluar malam-malam.” aku Leeteuk kemudian meminum juice secara one-shot.

Seketika itu juga Ikha menahan tawa. “Eomonim?” tanyanya meyakinkan. “Kenapa dia harus takut?”

Leeteuk menggedikan bahu. “Molla. Aku sudah bilang pada Eomma bahwa Jack The Ripper tidak akan mengincarnya untuk dijadikan korban selanjutnya. Selera Jack terlalu tinggi jika dibandingkan dengan Eomma-ku yang sudah berkepala lima,” ejeknya dan berhasil membuat tawa Ikha menggelegar di dalam ruangan.

“Kalau begitu sebaiknya kau segera pulang. Eomonim butuh seseorang yang kuat untuk menjaga dirinya dan juga Inyoung Eonni,” suruh Ikha, mendorong tubuh Leeteuk agar namja itu beranjak dari sofa dan bergegas pulang ke rumahnya.

Ya! Kau pikir untuk apa aku datang jauh-jauh kesini dari tempat gym, eo?” elak Leeteuk, memasang wajah kekanak-kanakan yang sangat disukai Ikha.

Come on, Honey. Kau sudah mendapatkan bagianmu kemarin lusa. Jadi biarkan aku sendiri agar aku bisa fokus memecahkan masalah ini. Okay?” pintanya, sengaja melembut agar Leeteuk luluh. Cara itu biasanya cukup jitu untuk melemahkan hati Leeteuk jika mereka bertengkar karena masalah kecil.

Bibir Leeteuk mengerucut. “Okay. Okay. Just a kiss. Setelah itu aku akan pulang,” Ia memberikan penawaran lain.

“Kau sudah mendapatkannya barusan,” tolak Ikha mengingat mereka memang sempat berciuman sesaat setelah Leeteuk tiba.

Encore?” pinta Leeteuk, kembali memasang wajah innocent agar Ikha mau mengabulkan permintaannya.

Yeoja itu memutar bola mata. Tadinya ia sudah siap untuk memberikan penolakan lagi. Sayang, ekspresi Leeteuk berhasil mengalahkan imannya. “Okay, Baby Teuk. Only a kiss,” ucapnya menekankan.

Ikha menggerakkan telunjuknya menyuruh Leeteuk untuk mendekat. Namun namja itu malah menarik kedua tangannya dan menuntun Ikha untuk duduk di pangkuan sekaligus menghadapnya. Yeoja itu tertawa pelan. Leeteuk memang selalu menyukai posisi seperti ini. Entah karena alasan apa.

“Bukankah begini lebih baik?” goda Leeteuk, agak mendesis di telinga Ikha.

Tanpa banyak basa-basi, yeoja itu segera menyatukan bibir mereka sambil menahan tubuhnya dengan cara mengalungkan kedua tangan pada leher Leeteuk. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, kedua tangan Leeteuk pun mulai bergerilya mengusap kedua paha Ikha yang hanya terbalut hotpants.

Ciuman mereka semakin memanas. Baik Leeteuk dan juga Ikha begitu menikmati permainan masing-masing. Meski yeoja itu hanya meremas rambut blonde atau mencakar kulit punggungnya, libido Leeteuk langsung meningkat tiga kali lipat. Kedua tangan namja itu kini bergerak meremas pinggang Ikha, sedikit maju ke depan untuk meraih blouse hijau pastel yang dikenakannya kemudian mulai mengabsen kancing blouse tersebut satu per satu.

Okay. Geumanhae, Oppa,” Ikha melepas ciuman mereka untuk menghentikan aksi Leeteuk saat namja itu mulai nakal melepas kancing pakaiannya.

Wae? Bukankah kita sudah sering melakukannya?” tukas Leeteuk. Ia menekan punggung Ikha, mendekatkan tubuh yeoja itu padanya agar ia lebih mudah menjangkau area leher dan pundaknya.

Ikha mengaduh seraya mendorong tubuh namjachingu-nya yang memang agak kesulitan mengontrol napsunya setiap kali mereka berduaan. “Kau akan mendapatkan jatahmu lagi besok. Aku janji. Jadi sekarang hentikan.”

Leeteuk, yang semula bersiap untuk menyerang Ikha lagi, mengerucutkan bibir. Agak kecewa karena baru kali pertama ini Ikha menolaknya dengan tegas. “Baiklah. Aku menyerah. Tunggu sampai kita menikah, kau harus melayaniku setiap saat!”

Lagi-lagi tawa Ikha menggema. Cara Leeteuk mengucapkan kalimat di atas benar-benar seperti anak berusia delapan tahun yang merengek meminta mainan. Setelah mengecupnya sesaat, yeoja itu turun dari pangkuan Leeteuk kemudian mengantarnya menuju pintu keluar.

“Jangan lupa mengunci pintu dan jendela. Siapa tahu Jack The Ripper sedang mengincar calon istriku,” ucap Leeteuk setibanya mereka di ambang pintu. Tak lupa ia merapihkan rambut Ikha yang agak berantakan akibat perbuatannya barusan.

“Tidak akan. Jika dia berani menyentuhku, akan kupastikan ia tak akan bisa menggunakan kedua tangannya lagi. Kau lupa kalau aku pemegang sabuk hitam taekwondo?” ucap Ikha, bangga.

“Tetap saja kau tidak bisa mengalahkanku,” cibir Leeteuk.

“Aku hanya tidak ingin membuat wajah calon suamiku lebam-lebam saat di pesta pernikahan nanti. Sampai bertemu besok,” Ikha mengecup pipi Leeteuk untuk mengakhiri pertemuan singkat mereka hari ini.

***

IKHA SEDIKIT TERJAGA dari tidurnya saat merasakan bibir seseorang menyentuh permukaan lehernya dengan intens. Ia mengeratkan pelukannya pada guling yang sedari ia peluk. Leeteuk memang selalu pintar membuatnya terbangun dari mimpi. Lebih pintar dari alarm ataupun jam weker yang terpajang di kamarnya.

Mmm, Honey. Ini masih pagi. Jangan menggangguku. Aku masih butuh tidur,” rengek Ikha, suaranya agak parau karena masih belum sepenuhnya sadar.

Leeteuk sama sekali tidak berucap. Ia malah mengeratkan pelukannya sambil menciumi rambut dan juga leher Ikha dari balik punggung yeoja tersebut. Ikha meraih tangan Leeteuk yang bertengger manis di pinggangnya kemudian menggenggamnya erat. Namun saat jemari mereka bersatu, Ikha merasakan ada sedikit keganjalan.

Jemari Leeteuk nampak lebih kurus dan panjang. Kulitnya pun lebih halus dari biasa. Ikha perlahan membuka mata. Baru sadar jika semalam ia mengunci jendela dan pintu dengan rapat. Leeteuk memang mengetahui kode apartemen ini tapi ia tidak memegang kunci cadangan kamar pribadinya.

Seketika Ikha mengibaskan bed-cover yang menutupi tubuhnya lalu beringsut dari tempat tidur. Dugaannya tepat. Namja itu bukan Leeteuk, tapi seseorang bertopeng phantom yang menutupi sebagian wajahnya. Lengkap dengan topi sirkus serta jubah bertudung yang menyembunyikan tubuh namja tersebut.

N-nuguseyo?” tanyanya. Ikha memperhatikan jendela kamar yang telah terbuka lebar. Tirai tipis yang menutupi jendela tersebut juga berkibar diterpa angin malam. Ia menebak jika namja bertopeng ini masuk melalui jendela.

“Sepertinya kau dan Leeteuk sering melakukannya di tempat ini. Benar begitu?” seloroh namja tersebut sambil mengusap permukaan seprai tempat tidur king size milik Ikha.

“Bagaimana kau tahu—“

Ikha menghentikan kalimatnya saat sadar akan penampakan namja yang masih saja terbaring nyaman di singgasananya. “Jack The Ripper?”

Namja bertopeng itu membenahi posisinya dengan duduk di tepian tempat tidur. “Kau tak pernah mengabulkan permintaanku. Jadi malam ini kuputuskan untuk mengunjungimu,”

“Kau pikir aku akan dengan mudah mengiyakan permintaan konyolmu itu? Untuk apa kau begitu bersikeras menginginkanku untuk tidur denganmu jika kau bisa melakukannya dengan yeoja lain? Kau sama sekali tidak mengenalku,” oceh Ikha, tetap bersikap tenang dan tidak menampakan ekspresi ketakutan.

“Sebenarnya semua begitu mudah, Cho Ikha. Jika kau datang padaku, maka aku tidak akan membunuh lagi. Tapi karena kau tetap bersikukuh dengan pendirianmu, kau akan melihat korban berjatuhan setiap harinya. Reputasimu sebagai kepala polisi Cheongju akan hancur hanya dalam hitungan hari,” jelas Jack sembari memperhatikan kuku-kuku tangannya.

“Katakan saja apa maumu, Jack!” geram Ikha. Ia berjalan mundur ke belakang untuk menciptakan jarak antara mereka berdua.

Masih dengan sikap tenang, Jack berjalan perlahan ke arah Ikha. “Sangat mudah. Aku hanya ingin kita menghabiskan satu malam saja, Cho Ikha. Hanya kita berdua. Bukankah hal itu terdengar sangat bagus, eum?” tawarnya.

Merasa bahwa keadaan semakin gawat—karena Jack semakin memperkecil jarak, tangan Ikha bergerak menyusuri permukaan meja rias yang ada di balik punggungnya mencari sesuatu yang bisa dijadikan alat untuk membela diri.

Ia menemukan sebilah cutter yang biasa ia pakai untuk memperuncing eye-brow. Dengan teknik yang telah ia pelajari selama belajar taekwondo, yeoja itu menyerang Jack membabi-buta. Jack sempat berkilah beberapa kali namun tetap saja namja itu tak dapat mengelak saat cutter itu menyayat rahang dan punggung tangannya.

Kesal, Jack pun balik menyerang. Ia berhasil mengunci tangan Ikha yang tengah memegang cutter kemudian melepaskan benda itu dan membuangnya ke arah jendela. Ikha bergerak mundur. Ia berlari menuju laci yang ada di samping ranjang untuk mengambil pistol Calliber-nya. Saat pistol tersebut sudah di tangan, yeoja itu tidak menemukan siapa-siapa di dalam kamar.

Ia memberanikan diri berjalan menuju jendela. Jendela dengan kaca setinggi dua meter itu ia buka lebar-lebar sambil terus mengarahkan pistol di depannya. Ikha berjalan menuju beranda, melongok ke bawah dan tak menemukan siapa-siapa disana. Yeoja itu terdiam. Bagaimana mungkin Jack bisa kabur dengan mudah sedangkan apartemennya berada di lantai dua belas?

“SHIT!”

***

SATU KORBAN LAGI?” dengus Ikha saat Key datang ke ruangannya membawa kabar terbaru dari Jack The Ripper.

“Tadi malam. Di daerah Yeonji-dong,” lanjut Key, menjelaskan.

Tangan Ikha memijit pelipisnya yang tiba-tiba diserang migrain. Pagi tadi, lebih tepatnya jam empat dini hari, Jack melakukan kunjungan singkat ke apartemennya. Itu berarti namja itu melakukan pembunuhan sebelum kunjungan tersebut dilakukan.

“Kepala Polisi Park barusan menelpon. Dia bilang jika kau tidak bisa mengatasi masalah ini dalam tempo satu minggu, jabatanmu akan diturunkan.” ucap Key seraya menyodorkan file hitam yang berisi pemberitahuan resmi dari Park Sebyung, Kepala Polisi Seoul.

Geram, Ikha melempar berkas-berkas Jack The Ripper yang bertumpuk di mejanya dengan asal. Kertas-kertas itu bertebaran di atas lantai. Key hanya diam. Membiarkan atasannya tersebut melampiaskan amarahnya.

“Dia harus bertanggung-jawab atas semua ini,” dengus Ikha, beranjak dari tempatnya sambil menginjak karikatur wajah Jack The Ripper lengkap dengan gambar topengnya.

***

IKHA BERJALAN GONTAI menuju mini market terdekat. Kepalanya mendadak terserang migrain karena terlalu banyak memikirkan Jack The Ripper. Sambil tetap mencoba membuka mata, ia berjalan menuju kasir untuk membayar aspirin yang akan dibelinya.

Mini market itu sangat sepi. Hanya ada beberapa pengunjung dan dua pelayan kasir. Saat Ikha hendak membayar, ia memperhatikan seorang namja yang tengah berdiri di sampingnya menyerahkan beberapa Won untuk membayar soft drink yang baru saja dibelinya. Punggung tangan namja itu terbalut plester. Tak lupa, terdapat luka goretan sepanjang lima sentimeter di rahangnya.

Ikha teringat akan kunjungan Jack The Ripper ke apartemennya kemarin malam. Curiga, akhirnya ia mengikuti kemana namja itu pergi. Ia agak kesulitan melihat wajah namja itu karena hoodie jaket serta masker menutupi wajahnya dengan sempurna.

Saat namja itu masuk ke dalam subway, Ikha kembali mengikutinya dengan jarak empat sampai lima langkah saja. Sialnya, karena terlalu banyak orang di dalam subway, yeoja itu akhirnya kehilangan jejak namja tersebut.

“Mencariku bukan?” bisik seseorang yang berdiri tepat dibelakang tubuhnya.

Ikha hendak memutar namun karena terlalu banyak orang, ia bahkan tidak bisa bergerak sama sekali. Jadi ia hanya memperhatikan namja itu dari pantulan kaca jendela di depannya.

“Instingmu memang patut kuacungi jempol,” gumam namja bermasker tersebut sambil terus berusaha menempelkan tubuhnya dengan tubuh Ikha.

Yeoja itu menggeram. Ingin rasanya ia menyikut Jack saat itu juga. Namun jika ia melakukannya, maka seorang halmoni dan ibu-ibu hamil yang mengapitnya akan terkena dampak dari perbuatannya.

“Apa kau mengikutiku karena ingin bercinta denganku hari ini, eum?” bisik Jack, sengaja menggoda Ikha.

Ikha menggoyangkan tubuhnya agar tidak bersentuhan dengan tubuh Jack yang menghimpitnya dari belakang. Mungkin hari ini memang bukan hari keberuntungannya. Saat subway itu berhenti pada stasiun terdekat, ia harus memegangi tali di atas kepalanya menggunakan kedua tangannya sendiri karena nenek-nenek tua dan ibu-ibu hamil itu bersandar pada tubuhnya.

“Dengar. Jika aku tidak dalam keadaan seperti ini. Saat ini juga aku sudah merobek mulutmu, Jack.” ucap Ikha tak kalah bergumam.

Kekehan Jack terdengar menembus masker hitam yang dikenakannya. Dagunya ia letakan pada bahu Ikha. Yeoja itu tak dapat mengelak karena jika ia melepas salah satu tangannya, maka nenek-nenek atau ibu-ibu hamil itu akan terjatuh.

“Coba saja kalau berani,” tantang Jack.

Tangannya bergerak meremas bokong Ikha dan berhasil membuat yeoja itu mengaduh. Saat yeoja itu memutar tubuh hendak menendang apa-itu-yang-sangat-berharga bagi Jack, ia tidak menemukan sosok Jack disampingnya. Namja itu menghilang bagai angin.

Sial. Aku dipermainkan oleh seorang penjahat,” batin Ikha.

***

UNTUNGLAH HARI INI Leeteuk memahaminya. Setelah berdebat kecil melalui sambungan telepon, akhirnya namja itu tidak jadi datang ke apartemennya karena saat ini Ikha hanya ingin sendirian. Ia memang hanya ingin sendirian. Tidak ingin diganggu siapapun termasuk Leeteuk sendiri.

Dengan gontai, Ikha berjalan menuju kamar sambil sesekali memijat lehernya yang terasa pegal dan tegang. Tas kerjanya ia lempar sembarangan ke atas tempat tidur. Rambutnya yang semula diikat rapih pun ia gerai kemudian mengacaknya asal. Yeoja itu mengaduh saat melihat jendelanya lagi-lagi terbuka. Pasti kerjaan Leeteuk.

“Kau nampak seksi saat mengenakan seragam itu,” sahut seseorang di balik tubuhnya saat Ikha sedang berusaha menutup kedua daun jendela.

Serta merta Ikha memutar tubuhnya dan menemukan Jack tengah duduk manis pada sofa yang menjadi hiasan kamarnya. Yeoja itu merogoh kantung pistolnya namun ia tidak menemukan benda yang ia cari disana.

“Mencari benda ini?” tanya Jack sembari mengayunkan pistol yang tadinya bertengger di pinggang Ikha. Harus diakui, Jack memang pintar dalam hal curi-mencuri. Lihat saja, Ikha bahkan tak merasakan apapun saat namja bertopeng itu berhasil mengambil pistolnya.

Ikha mematung di tempat melihat Jack mempreteli peluru yang ada di dalam pistol satu per satu. Yeoja itu tetap berusaha tenang. Ia masih memiliki pistol cadangan di dalam laci kamar.

“Maaf. Tapi aku sudah mengambil benda kesayanganmu sejak tadi,” ucap Jack seolah dapat membaca pikiran Ikha. Ia menunjukkan pistol Calliber hitam milik Ikha dan kembali mempreteli peluru tersebut.

“Jangan main-main denganku, Jack.” desis Ikha, bersikap hati-hati.

Yeoja itu memperhatikan Jack yang sedang memasukan sepotong apel ke dalam mulutnya. Dari sana, mata namja itu bergerak liar memperhatikan tubuh Ikha dari ujung kaki hingga ujung kepala. Jack menganggukkan kepala. Puas dengan hasil scanning yang ia lakukan. Seragam yang Ikha pakai begitu ketat sehingga mampu membuat Jack membayangkan dengan jelas lekuk tubuhnya.

“Sampai kapan kau akan berdiri terus disitu, eum?” tanya Jack saat mendapati Ikha masih berdiam diri dan tidak melakukan gerakan sedikitpun.

“Kau masih menimang-nimang? Baiklah. Aku pergi. Seminggu lagi kita akan merayakan hari dimana kau dipecat dari jabatanmu,” ucap Jack. Ia berdiri dari sofa kemudian berjalan menuju jendela melewati Ikha yang masih diam mematung di tempatnya.

Geurae,” tukas Ikha, pelan namun tegas.

Jack menghentikan langkah seraya memutar tubuhnya. “Mworago?”

Tubuh Ikha diputar 180˚ agar dapat berhadapan dengan Jack. Dengan lemah ia berkata, “Geurae. Ayo kita lakukan,”

Sambil mendengus, Jack menggaruk telinganya takut jika ia salah dengar. Terlalu mudah bagi Ikha untuk mengiyakan permintaannya. Ia mencium sesuatu yang mencurigakan. “Aku masih meragukannya, Cho Ikha.” tuturnya.

“Aku tidak akan menawarkan kesempatan ini lagi padamu. Bukankah hal ini yang sangat kau inginkan?” gertak Ikha, sedikit menantangnya.

Senyum Jack mengembang kala itu juga. Ikha memang yeoja tangguh yang tidak mudah ditaklukan. Namja itu mendekat pada Ikha, mengusap bibir tipis yeoja itu dengan tatapan seolah-olah ia siap menyerangnya kapan saja.

“Ternyata kau memang sangat mencintai pekerjaanmu,” gumam Jack.

Perlahan, Ikha melangkah mundur saat Jack menuntunnya menuju meja rias. Ia meletakan kedua tangannya pada lengan Jack, setidaknya cara itu ia lakukan agar tubuhnya tidak terlalu dekat dengan namja bertopeng tersebut.

Jack mulai melancarkan aksinya begitu tubuh Ikha menabrak tepian meja rias. Ia segera meyambar bibir Ikha, melumatnya seolah bibir yeoja itu terbuat dari permen gula sementara kedua tangannya bergerak liar menelusuri tubuhnya. Ikha diam seperti patung. Sama sekali tak bereaksi atas perlakuan Jack.

“Aku tidak bisa melakukannya,” gumam Ikha di sela-sela ciuman yang diciptakan Jack.

Namja bertopeng itu menatap Ikha seolah mencari jawaban.

“Aku tidak bisa melakukannya jika kau masih mengenakan topeng itu,” imbuh Ikha, membuat senyum Jack lagi-lagi mengembang dibuatnya.

“Kau pikir aku ini namja bodoh, eo? Biar kutebak, setelah kau mengetahui wajahku, kau akan menendang milikku yang paling berharga lalu berlari menuju sofa mengambil pisau yang tadi kupakai untuk membelah apel. Setelah itu kau akan menusuk bahuku saat aku berusaha untuk berdiri. Ketika aku masih merintih kesakitan, kau akan menelpon Key—asistenmu—dan menyuruh batalion polisi untuk datang kemari. Benar begitu?”

Ikha tercengang. Penjelasan Jack sangat sesuai dengan apa yang ia rencanakan sejak beberapa menit lalu. Ia memang sedang memancing Jack, tapi sepertinya namja itu bisa membaca pikirannya—dan tidak mudah ditipu tentunya.

“Kau sudah tahu rencanaku, jadi sebaiknya buka topengmu sekarang juga. Aku tidak bisa melakukan apapun karena tidak ada yang dapat kujadikan tameng. Kau tahu itu,” ucap Ikha, pasrah dengan keadaannya yang tak menguntungkan.

Jack menampakan smirk-nya sambil mengusap punggung Ikha seduktif. “Kau tahu kenapa yeoja-yeoja itu berhasil kubunuh?” tanyanya, memberi jeda sejenak untuk mencium wangi rambut Ikha yang sangat menggodanya. “Karena mereka mengetahui wajahku,” imbuhnya.

Ikha menelan ludah. Agak merinding saat Jack mengucapkan kata-kata tersebut. Bagaimanapun juga yang ada di hadapannya ini adalah seorang pembunuh berantai. Satu-satunya jalan untuk bertahan hidup hanyalah dengan memenuhi keinginannya.

“Aku tidak akan melawan. Posisiku tidak begitu menguntungkan saat ini,” ucap Ikha, berusaha meyakinkan Jack bahwa ia memang akan menurutinya.

Punggung tangan Jack mengusap wajah Ikha dengan lembut. Ia menatap Ikha begitu intens seolah yeoja itu adalah santapan terakhirnya malam ini. “Kau pasti akan terkejut saat melihatnya,” ucap Jack.

Dengan menggunakan satu tangan, ia melepas topeng yang selalu menyembunyikan wajahnya.

Mata Ikha terbelalak saat mengetahui siapakah yang menjadi Jack The Ripper selama ini.

“K-k-kau?”

…bersambung…

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

105 thoughts on “JACK THE RIPPER (i)”

  1. annyeong…
    salam kenal
    aku reader br disini
    aku panggil kk ok ya? biar sopan secara umurku di bawah kk
    terdampar disini karna baca2 dr rekomendasi reader2 baik hati
    begitu sampe langsung tertarik sama judul yg satu ini
    br bngt nemu ff cerita’a kaya gini
    asli keren bngt
    pasti pecinta detective conan ga akan asing bngt ama nama jack the ripper
    tokoh yg satu ini tuh jahat’a ga ketulungan sadis’a minta ampun
    entah hrs dibilang keren atau sikopat
    tp di ff ini kejahatan’a diceritain secara ringkas aja ya
    blh aku ngeluarin komen? *jls ini buat komen, #ditimpuk kk
    knp ga diceritain aja ka sedikit gimana kejam’a dya waktu ngabisin nyawa korban’a tanpa ninggalin jejak sedikitpun
    kaya’a bakalan lbh euh gitu
    *okeh ini cuma komen ka
    penasaran siapa yg jd jack the ripper’a
    lanjut part 2 ya..

    1. hihihi halu faufau. Sebelumnya makasih ya udah visit plus komen disini. Sampein juga salamku buat orang yang udah rekomenin blog ini ke kamu 😀
      Well, aku emang sengaja gak ceritain lebih gamblang tentang gimana si jack gadungan ini ngelakuin kriminal. Tapi makasih ya buat komennya. Next, aku bikin yang lebih detail lagi seperti apa yang kamu bilang 😀
      sip siiip~ kalo gitu enjoy reading yaaa~

  2. pasti jack the rippernya itu hyukjae, soalnya ikha ga bakal jauh2 sama yg namanya lee hyukjae wkwk ffnya keren, bikin penasaran ekekeke 😀 ini ff kedua yg aku baca abis ff my name is lee hyukjae yang super duper keren itu wkwkwk ;_; aku nyari2 blogmu tapi ga nemu2 baru deh bbrp hari belakangan ini nemu, untung masih inget nama authornya hahaha xD ini masi blm ad lanjutannya ya? O.o

    1. Halo Nova, aduh maaf banget aku baru balas pesan kamu. Satu per satu password nya aku kirim via Direct Message di Twitter ya. Makasih loh udah berkunjung dan sempetin baca di sini. Salam kenal loh 🙂

      ps: kalau ada yang kelewat kamu tinggal tweet aku aja ya 🙂

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s