EXO PLANET “CHAPTER 05” (REPACKAGED)

EXO PLANET NEW TEASER

BERHARAP GADIS ITU AKAN TERJAGA, KAI MENYEBUT nama Cho Ikha berulang-ulang. Sadar bahwa cara itu hanya berakhir sia-sia, pria itu kemudian  meninggalkan ruangan bersama partikel nomenós birunya. Selang beberapa detik, ia muncul bersama dentuman keras dari tubuh Omorfos yang dibawanya.

Pria tinggi yang terbalut kaus biru tipis di dadanya itu mengaduh panjang disertai makian kasar pada Kai. Jelas saja, pria itu membawanya berteleportasi tanpa surat izin yang diterima sebelumnya.

“Kau mengganggu tidurku, brengsek!” rutuk Omorfos disela kantuk yang melandanya.

Mencari pembelaan, Kai lantas menarik kasar tubuh pria tinggi itu mendekat ke tepian ranjang. Omorfos memekik saat mendapati tubuh Cho Ikha terbujur kaku bersama senyum ketir yang ditunjukkannya. Pria itu menjulurkan tangan, meletakkan ujung telunjuknya sejenak seraya menyebut kata makian saat merasakan tubuh itu sedingin hawa pegunungan Lochtor.

“Ada apa dengannya?” tanyanya, seolah menginterogasi.

“Aku tak tahu. Bisakah kau hangatkan tubuhnya? Aku harus membawa Sehun dan Baekhyun. Mereka mengetahui lebih jauh mengenai huglooms,” suruh Kai.

Chanyeol, atau Omorfos, membuka mulut untuk menolak permintaannya. Sayang, Kai lebih dulu menghilang menyisakan partikel noménos bersama caci-maki yang ditujukan Chanyeol padanya. Ia paling tidak suka dititah oleh siapa pun yang lebih muda darinya—dan Kai adalah yang termuda setelah Sehun di castè Krypth.

Ia lantas terduduk di tepi ranjang. Sembari menggenggam jemari gadis yang kian membeku disampingnya, Chanyeol menghirup udara hampa diiringi bisikan-bisikan aneh yang mengiang di sekelilingnya. Melalui genggaman tangannya, api sharon seketika menjalar di sekujur tubuh Cho Ikha. Dilindungi oleh mantra andalannya, api hanya melahap tubuh gadis itu tanpa merusak apa pun. Api kian memanas seiring tatapan Chanyeol yang ikut membara.

Chanyeol melepas tautan jemarinya begitu dingin di tubuh Cho tak mampu terbenam oleh kekuatannya. Hanya uap panas yang muncul dari perpaduan es dan api—membuat ruangan Kai berembun dipenuhi tetesan air.

Kesal.

Pria itu melayangkan kata-kata makian pada dirinya sendiri. Kaus tipisnya terbakar hingga menyisakan serpihan abu hitam di sekeliling kakinya. Ia beranjak, memeluk gadis itu di sana sembari menatap marah di kedua mata Cho Ikha yang tertutup sempurna oleh kelopak matanya.

Diiringi amarah, Chanyeol mengucapkan mantra yang lebih kuat dari sebelumnya. Ia membenci kekalahan dan gadis itu telah mematahkan api sharon-nya hanya karena bongkah es abadi yang muncul di dalam tubuhnya.

Saat Chanyeol membuat uap-uap menghalangi jarak pandang di dalam ruangan, kemunculan Kai bersama dua makhluk lain membuat ketiganya berderit keheranan. Terbatuk-batuk, Baekhyun menyuruh Sehun untuk mengusir zat tersebut yang kian melalap penglihatannya. Hanya sekali kibasan ringan, Sehun mampu menghilangkan uap melalui sela-sela jendela dan pintu.

Detik berikutnya, Baekhyun menyerang Chanyeol saat mendapati tubuh pria itu bersentuhan dengan huglooms, sang idolanya. Belum siap menerima pukulan Baekhyun, pria bertelinga fairy itu memberikan ciuman hebat dari genggamannya tepat di pipi kiri Chanyeol. Pria itu hampir memberikan ciuman yang sama hingga Sehun lebih dulu melerai keduanya.

“Aku hanya membantunya, bodoh!” ringkih Chanyeol, membela diri.

“Tapi tidak dengan bersentuhan dengannya!” ucap Baekhyun risih. Ia masih belum sepenuhnya mentolerir tindakan Chanyeol.

Sakit di pipi pria berapi itu membuat Omorfos membakar beberapa helai rambut Baekhyun. Ia menahan tawa karena pria itu tak menyadarinya.

“Bisakah kalian berhenti? Kalian sama sekali tak membantuku!” Kai melolong menghentikan aksi mereka. Ia menghampiri tubuh Cho, menatapnya miris ketika dingin itu membuat kedua lengan gadis itu membeku sempurna.

“Mungkin Suho bisa membantu,” saran Sehun. Ia menatap tubuh sang huglooms tak kalah cemas.

“Tak perlu. Dia sama sekali tak tahu-menahu mengenai seluk-beluk huglooms,” tolak Kai.

Sehun bergumam. Jika Suho mengetahui keadaan Cho, ia tak akan membayangkan hukuman apa yang akan diterima Kai setelah itu. Pria yang baru saja mengisi pikirannya itu menatapnya cukup lama. Ia malah mendengus seraya terkekeh pelan. Pria berparas imut itu mengetahui arti tatapan Kai.

“Buku sejarah tidak menerangkan bagian ini—dimana huglooms dapat membeku atau semacamnya. Satu-satunya cara untuk menyelamatkannya adalah dengan memanggil Parleemos King,” jelas Sehun. Sambil menempatkan diri di tepian ranjang, Sehun mengenggam jemari Cho dengan lembut. Jemari itu semakin mengeras dan kulitnya memucat.

Kai mendengus. “Kenapa harus dia?”

“Kai, keadaannya semakin memburuk.” Chanyeol menyela perdebatan keduanya mengetahui es tersebut menjalar hingga ke pangkal paha. Kai mendekat, mengamati uap yang jatuh di atas tubuh Cho yang lantas berubah menjadi butiran es.

“Jika Leeteuk mengetahui keberadaan Cho—sebagai seorang huglooms, kemungkinan besar gugus kita akan didiskualifikasi saat pertandingan nanti. Bukankah kalian sangat menginginkan tahta itu?” tanya Kai, meyakinkan.

“Bukan kami, tapi Suho.” Baekhyun mengoreksi. “Yang terpenting saat ini adalah bagaimana menyelamatkan nyawa seseorang. Jika Cho Ikha tak selamat, sama saja kita telah membunuh dua orang sekaligus—tubuh aslinya dan nyawanya,” ocehnya. Ia mengusap pelipis Cho seraya menggumamkan namanya.

Kai menimang-nimang.

“Ada kalanya otakmu berpikir waras, Senèca18.” Kai berdecak. Ia berjalan menuju beranda kemudian menghilang pada detik berikutnya.

Mereka menunggu.

Sehun hanya mampu berdiri terpaku di sisi ranjang sementara Baekhyun menapaki seluruh ruangan dengan langkah-langkahnya yang gusar.

Selang beberapa menit setelahnya, nomènos yang mereka kenal membentuk sosok Kai. Sehun menatapnya heran karena debu kehitaman itu berakhir tepat setelah pria itu memijak lantai.

“Dimana Parleemos?” tanya Sehun.

Kai menoleh dan tepat setelah itu partikel putih terang menyoroti seisi ruangan. Sebelum partikel tersebut benar-benar membentuk tubuh sang parleemos, ketiga castè menunduk sujud bersama gerakan tanda kehormatan.

Tentu saja, terkecuali Kai.

Tergesa, pria dengan jubah putih yang melambai menyeret-nyeret lantai serta-merta menghampiri tubuh beku di atas ranjang. Ia menyampirkan jubahnya sebelum duduk di tepian. Ia berbisik seraya mengusap lembut permukaan wajah Cho Ikha yang kini membeku. Kai mengetahui bisikan itu sebagai bisikan ELF yang hanya dikaruniai oleh prajurit Super Junior.

“Mana tanganmu?” tanya Leeteuk.

Uluran tangan pria itu pada Baekhyun membuatnya tertegun. Ia menatap tangan tua itu sekali lagi dan tatapan Leeteuk yang tertuju membuatnya tak lagi ragu. Baekhyun merasakan sentuhan hangat yang dipancarkan Leeteuk di dalam genggamannya. Kulit pria itu nampak menua dari biasanya, seolah umur yang bersembunyi di balik wajah tampannya mulai merengsak menembus keabadian yang dimilikinya.

“Keluarkan cahaya dari telapak tanganmu. Cobalah agar cahaya itu menembus ke seluruh bagian tubuhnya. Apa kau bisa melakukannya?” titahnya.

Bingung, Baekhyun hanya mengecap-ngecap bibir tipisnya saat Leeteuk menuntun seluruh jemarinya untuk membungkus salah satu tangan si gadis.

“Lakukan segera atau kau akan membunuhnya,” ucap pria dengan gelar parleemos yang disandangnya.

Kaget dengan ucapannya, Baekhyun lantas memfokuskan seluruh pikiran dan sendi-sendi di tubuhnya. Tak butuh waktu lama, pria itu menyilaukan seberkas corion hingga sinar tersebut menembus dinding-dinding kulit Cho. Dingin di sekujur tubuhnya meleleh sempurna. Sesaat, tubuh gadis itu mengejang hingga corion memadam. Tarikan napas gadis itu pun terdengar kuat menyorotkan sebongkah harapan yang digaungkan Kai untuknya.

Cho mengerjapkan mata. Kehadiran makhluk-makhluk di sekelilingnya merupakan hal pertama yang dilihatnya. Kai tertangkap jauh di sudut ruangan sementara Baekhyun menyergapnya dengan sebuah pelukan.

“Mengapa Parleemos di sini?” Hati-hati Cho bertanya. Dibantu Baekhyun, gadis itu bangkit dari posisinya.

Yang lain saling beradu-pandang. Parleemos merupakan sosok makhluk yang sangat terasing di seluruh planet. Hanya anggota kerajaan saja yang mengetahui rupanya. Agak sulit menebak bagaimana Cho Ikha mampu menyebut gelar tersebut tepat saat keduanya saling memandang.

“Kau tidak merawat tubuhmu dengan baik,” ucap Leeteuk seraya menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya.

“Entahlah. Tubuhku melemah seketika dan—” gadis itu tak meneruskan ucapannya saat denyut nyeri masih menusuk kepalanya. Ia hanya mendengar suara Baekhyun menenangkannya. Selebihnya hanya suara sayup-sayup Sehun yang tengah sibuk memberikan penjelasan perihal identitasnya.

Leeteuk tersenyum seraya menepuk pundak Baekhyun. “Kau harus selalu berada di sampingnya. Cho Ikha akan sangat membutuhkan corion-mu,” ucapnya.

Baekhyun hanya membungkuk seraya tersenyum riang.

“Terima kasih, Oppa.” Cho berucap lemah.

“Berterimakasihlah pada Kai. Aku belum pernah melihatnya memohon padaku,” ungkap Leeteuk. Bola matanya bergerak pada pria berambut hitam yang masih mematung di ambang pintu.

Cho mengikuti arah bola mata Leeteuk. Sepasang matanya bertemu dengan milik Kai namun pria itu malah menghindarinya. Kedua tangan pria itu terselubung hangat di dalam saku celana. Ia masih nampak arogan seperti biasa. Leeteuk tak banyak bicara. Setelah berpamitan, ketiga castè membungkuk hormat seiring partikel putih membawa petinggi planet itu berteleportasi.

Perhatian gadis itu masih tertuju pada Kai. Sebelum Leeteuk benar-benar pergi, ia melihat pria itu membisikkan sesuatu pada Kai. Teleport-man itu menoleh sejenak lantas menautkan tiap langkahnya meninggalkan ruangan yang kini dipenuhi embun dan teriakan Baekhyun.

Cho tersenyum tipis.

Dibalik sikap arogan dan angkuhnya, Kai ternyata masih peduli.

-o-

PANGGIL SISA CASTÈ TERKECUALI SEHUN.” ucap Suho setibanya pria itu di markas Krypth.

Si pemimpin menempatkan diri di kursi utama. Perintahnya didengar baik oleh D.O dan Baekhyun. Tak berselang lama, terjadi perdebatan hebat antara Baekhyun dan dirinya perihal kehadiran Parleemos serta terbongkarnya kehadiran huglooms di antara mereka. Kini keadaan sedikit lebih damai saat Chanyeol berbaur bersama mereka untuk menyantap makan siang.

“Kenapa kau baru datang?” tanya Suho di sela kunyahannya.

“Penduduk di distrik tujuh diserang kawanan pettalouda19. Setiap pergantian musim, hewan-hewan itu selalu turun dari gunung dan beterbangan di sekitar perkampungan,” jawab Chanyeol seraya merentangkan serbet di atas paha.

D.O hanya mengamati. Suasana di ruangan tersebut masih belum mereda sejak ia mendengar teriakan Baekhyun dan Suho. Chanyeol bahkan tak menyebut kata lain sejak ia tiba beberapa menit lalu. Garis tegas di wajah Suho membungkam mulut para castè.

“Dimana Kai?” tanya Suho—sadar bahwa bangku di sayap kirinya tak berpemilik. Ia sengaja tak menyuruh Sehun karena pria itu sedang mengadakan pertemuan dengan beberapa ketua distrik.

“Hari ini ia bertugas menjaga Perisai Scutuss bersama Uro,” D.O angkat bicara.

Pria itu sangat pendiam, sungguh berbanding terbalik dengan Baekhyun. Chanyeol kemudian memuji potongan daging yang dilumuri cairan biru pekat di tengah meja. Pujian itu jelas ditujukan pada D.O—pria yang memiliki kemampuan memasak sebaik pelayan markas.

“Pencarian afftheurcaly akan segera dilakukan. Aku sudah mengatur jadwal patroli kalian,” Suho mengalihkan topik pembicaraan mereka.

“Bukankah Parleemos mengetahui kehadirannya? Lalu mengapa kita harus mencari pedang itu? Sia-sia saja karena huglooms dan pedangnya merupakan pengecualian, Suho!” Jelas Baekhyun. Ia sudah mengira bahwa perdebatan sebelumnya akan kembali menjadi bahasan utama.

“Kai telah membawanya dengan susah payah. Apa kau menginginkan gadis itu kembali ke tempatnya saat ini juga? Kukira kau sangat tertarik padanya,” timpalnya kemudian menemukan gerakan bahu Baekhyun serta gelengan lemah yang diciptakannya.

“Kita hanya akan membuang waktu saja. Biarlah kita bertarung sesuai kemampuan kita, Fratheer.”

“Aku sedang tak ingin mendengar penolakan saat ini,” ucap Suho membungkam bujukan Chanyeol.

“Lalu siapa yang akan pergi?”

Suho menyeka sudut bibirnya. Ia baru menyadari saat ia menyantap hidangannya seperti harimau lapar. “Kita berenam. Aku tak tahu dengan Kai. Kudengar ia sedang disibukkan dengan pertemuannya bersama Sulli. Sepertinya rumor itu membuat Parleemos jengah.”

“Sulli?”

Seruan singkat dari arah lain menggoda mereka untuk menoleh. Baekhyun berjingkrak mendapati kehadiran Cho Ikha di sana. Gadis itu berjalan kasar diiringi ketukan sepatunya. Ia menatap Suho tajam, sarat akan kebencian dan kemunafikan.

“Ya, Sulli. Cucu dari Parleemos,” ungkap Suho. Sepasang matanya menatap lurus pada Cho Ikha, bahkan ketika gadis itu memutuskan untuk duduk disampingnya, tepat di kursi tak berpemilik tersebut.

“Ada hubungan apa antara Kai dengannya?” selidik Cho. Ia mencoba menekan antusiasmenya dengan memberikan sapaan ramah pada D.O, pria yang sangat jarang ditemuinya.

“Castè bukan hanya sekedar penjaga gugus. Kami adalah bintang yang menjadi buah bibir penghuni planet. Para jurnalis selalu menelisik kehidupan kami sedangkan rumor mengenai Kai dan Sulli bukanlah hal baru di antara sejumlah rumor yang ada.”

“Setidaknya Kai memperoleh rumor sebaik dirimu,” Chanyeol menggigit sepotong daging dengan kasar. Ia tak ingin membahas berita bodoh yang ditulis para jurnalis lepas—terutama mengenai telinga peri yang dimilikinya.

“Seharusnya kuajak Kai untuk mengembalikanku. Aku sudah tak berguna lagi, bukan?”

“TIDAK!” sergahan Baekhyun membuat para penghuni ruang makan menatapnya seketika. “Tinggallah di sini untuk beberapa putaran hari. Aku masih tak rela jika kau harus kembali,” imbuhnya memelas.

Cho menunduk, mengamati mangkuk sup yang diulurkan D.O untuknya. Ia memberikan senyum terbaiknya. Namun senyum itu tak bertahan lama.

Sulli.

Nama itu berhasil menciptakan buih-buih gelap di dalam pikirannya. Ia tak menyukainya. Terlebih karena gadis itu bersangkutan dengan Kai. Sungguh menyesal ketika ia memutuskan untuk bergabung bersama para castè. Tak seharusnya ia mendengar omong-kosong Suho hingga perasaannya kini serasa ditiup angin.

Tak menentu.

-o-

BOSAN. HANYA KATA ITU YANG MENAUNGI CHO MALAM INI. Tak ada siapa pun di dalam gedung besar bergaya klasik dengan batu-batu yang sengaja dibiarkan menonjol sebagai bagian dari kontur ruangan. Hanya semilir angin dari jendela saja yang mampu ia dengar.

Cho duduk pada salah satu anak tangga. Kepalanya menyentuh besi pembatas. Ia berharap Tuhan mendengar permintaan bodohnya saat ini. Memiliki kekuatan Kai adalah jawaban atas segala teka-teki yang melingkupi planet yang selalu diselubungi kegelapan tersebut. Ia merindukan rumah, terutama televisi dan ice cream.

“Kudengar seseorang menginginkanku menjadi bagian dari pencarian afftheurcaly.”

Mendadak gadis itu menoleh hingga tubuhnya ikut berputar.

Di sana, di lantai kedua, pria yang tak ditemukannya seharian ini berdiri kokoh seperti biasa. Sepenglihatannya Kai baru saja tiba. Pakaian castè masih melekat pada tubuh atletisnya. Perlahan, pria itu menuruni tangga kemudian duduk pada anak tangga yang sama. Kai menyodorkan setangkai tulip kuning kecokelatan. Cho menerimanya tanpa banyak bertanya.

“Baekhyun mengatakan padaku bahwa seharian ini kau terus mengaduh. Benar begitu?” tanya Kai. Terselip ketenangan dalam ekspresi wajahnya saat ini.

Cho berdeham, melirik diam-diam pada pria dengan rambut hitamnya yang agak berantakan. Meski nampak bugar, gurat lelah di wajahnya tak mampu disembunyikan dengan baik. Namun ada satu hal yang disyukuri Cho: di saat lelah, sikap pria itu justru lebih baik ketimbang saat ia dalam keadaan normal.

“Apa kau akan ikut bersamaku besok?” tanya Cho. Serbuk keemasan muncul dari sela-sela kelopak tulip saat bunga tersebut berayun mengikuti gerakan tangannya.

Kai menggedikan bahu. “Mungkin. Aku masih tak habis pikir dengan Suho. Kehadiranmu di sini akan memberikan dampak besar pada seluruh negeri. Terlebih jika afftheurcaly berhasil kita temukan. Pria tua itu juga sama sekali tak menunjukkan penolakan atas dirimu. Bukankah itu aneh?”

Keadaan berubah hening. Cho hendak mengoreksi kata-kata Kai yang merujuk pada Leeteuk, si pria tua, bahwa ia mempercayai makna dari segala pertemuan ini. Sayangnya logika Kai membuatnya malah berpikir terbalik.

Kai menginginkannya untuk pergi. Itulah kesimpulan yang diperoleh dari penuturannya.

“Terima kasih,” ucap Cho pada akhirnya.

“Untuk apa?” Kai menoleh.

“Karena telah memanggil Parleemos untuk menolongku.”

Pria itu menopang dagu menggunakan tumitnya. “Seharusnya kau katakan padaku perihal pertemuan kalian sebelumnya. Kau hampir membuatku mati kebingungan.”

“Kau tak menyukainya. Jika kukatakan padamu mengenai Zaque dan Parleemos, kau pasti akan membuangku ke dalam genangan air tempat Bauw’ berkeliaran.” Cho membela diri.

Gadis itu melirik hati-hati. Hal kecil yang akan membawa mereka ke dalam perdebatan panjang itu telah membuatnya mempersiapkan diri. Ditemukan seringaian pendek di wajah Kai. Mata sendunya semakin jelas saat ia mengibaskan poni hitamnya.

“Sejujurnya aku cukup lega saat Leeteuk mengetahui keberadaanmu. Alasan Suho untuk membawamu kemari sebenarnya masih sulit diterima akalku,” kemudian Kai meletakkan ujung telunjuknya di kening Cho. “Kau harus mengerti bahwa afftheurcaly merupakan mukjizat bagi sang huglooms. Ketika kau tak mampu mengendalikannya, akan terjadi bencana besar yang tak akan bisa kau bayangkan.”

Cho menepis Kai. Cara pria itu menekan-nekan keningnya seolah merendahkan martabatnya. Kekehan singkat pria itu menggaung disampingnya. Cho mengamati dan menemukan sekelebat pesona yang memancar dari tawanya.

“Apa kau sudah mengetahui kemampuanmu?” tanya Kai menghentikan fantasi yang timbul di benak Cho.

Ia menggeleng. “Aku hanya belum tahu cara yang tepat untuk menggunakannya.”

“Leeteuk yang memberimu petunjuk?”

Cho mengangguk mantap. “Ia tidak menjelaskan secara gamblang. Hanya satu petunjuk saja sedangkan kau tahu otakku kadang tak mampu berpikir lurus.”

Jawabannya kembali mengundang tawa Kai. Pria itu meluruskan kedua kaki panjangnya setelah menguras isi kepalanya dalam sepersekian detik saja.

“Ingin pergi ke suatu tempat?” ajaknya tiba-tiba.

-o-

BUKIT TAASH?!” GADIS ITU MENJERIT TEPAT SETELAH telapak kakinya memijak rerumputan. Ia mengekor di balik punggung Kai. Bongkah kayu yang berada tak jauh darinya membuat gadis itu mengenal baik tempat tersebut.

“Bukit ini adalah bukit tertinggi di gugus Krypth. Waktu itu kau mampu melihat detil bangunan istana dan sepasang mata Leeteuk. Kurasa kemampuanmu ada di sini,” tutur Kai seraya menunjuk bola mata Cho seolah ingin menusuknya dengan ujung telunjuk.

Cho berjalan ke tepian bukit. Ia membenarkan teori Kai dengan anggukan malas. Sepasang matanya bergerak liar menelusuri sekitarnya. Tempat ini masih sama saat minggu lalu ia berkunjung. Daun yang berkelap-kelip terkena cahaya rembulan; danau hijau pekat; serta suara-suara penghuni hutan yang saling bersahutan.

Tanpa mengamati gerak-gerik Kai, gadis itu menyatukan seluruh jemarinya dan menutup mata. Tulip kuning pemberian Kai terselip di pusat genggaman. Ia hanya perlu memusatkan pikiran. Selebihnya ia serahkan pada kemampuan matanya.

Pusat retinanya mengitari setiap sudut penglihatannya. Kai bahkan mengira gadis itu tersengat racun pettalouda dan membuatnya berputar-putar seperti orang ling-lung. Gadis itu bergerak dari satu titik ke titik lain. Hutan piness yang selalu dikunjungi Kai di gugus Myrath pun sempat tertangkap inderanya di sudut sembilan puluh.

Cho kembali mengulang hal yang sama. Matanya menyipit tatkala tubuhnya seolah terhisap kembali setelah melanglang buana mengitari planet. Ia mencoba untuk tak melewati setiap layar yang melintas dari bola matanya. Di ujung batas wilayah Krypth, tepat di balik hamparan pepohonan yang tertimbun debu dan pasir, nyawanya tak mampu menembus daerah gelap yang tak berwarna tersebut.

Gadis itu mengedipkan mata beberapa kali. Tubuhnya oleng, merasakan pusing yang membuat keseimbangannya goyah.

“Hitam.”

Kai terjaga dari pengawasannya saat gadis itu berucap lirih. Ia menghampiri kemudian mengikuti arah telunjuk Cho Ikha saat si lawan jenisnya tersebut menunjuk ke satu titik.

“Tertutup oleh pasir dan debu. Aku tak mampu melihat apa pun kecuali angin besar yang meniupkan bebatuan di sekitarnya. Tak ada kehidupan di sana dan—ugh,” kalimatnya terhenti saat kegelapan mengisi ruang di sekitarnya.

Sigap, Kai meraihnya. Dituntunnya Cho menuju kayu mati di balik punggungnya sementara gadis itu meraba-raba langkahnya.

“Jangan memaksakan dirimu, Cho Ikha.”

Kai menunduk, menelisik wajah gadis itu saat dirinya tertunduk mengeryit perih.

“Tempat itu terlalu jauh,” gumam Cho. Ia menggosok permukaan kelopak matanya sebelum pria berkulit gelap tersebut menghentikannya. “Mataku lelah, Kai.”

“Mari kita pulang. Kau telah melakukan sebisamu,” ajak Kai lembut.

Pria itu melepas tulip di genggaman Cho. Ia menuntun gadis itu untuk memeluknya, membawanya kembali ke markas hanya dalam sepersekian detik.

Tubuh Cho Ikha hampir ambruk jika saja Kai tak menangkap beban tubuhnya. Cho tak sadarkan diri, membuat pria itu menegang seketika. Kai mengecek tubuhnya. Rasa syukur itu melantun di sela bibir saat mengetahui bahwa gadis itu tak menunjukkan tanda-tanda kebekuan.

Dengan sisa tenaganya, pria itu membopong tubuh Cho, membaringkannya di atas lapisan bulu ovess dengan perlahan. Cho sama sekali tak terusik oleh kekikukkannya. Ia terlihat begitu damai dalam lelap tidurnya.

Duduk di tepian ranjang, pria itu mengamati Cho Ikha lebih lama. Ragu, ia memberanikan diri menyapukan ibu jarinya pada bibir gadis itu. Senyum simpulnya terbentuk manis mengingat kembali ciuman kecil yang diciptakannya beberapa waktu lalu.

Sebelum meninggalkannya, Kai mencium kening gadis itu selembut kapas kemudian meletakkan tulip di atas meja. Warna kuning itu berubah perlahan menjadi merah muda—warna yang menunjukkan perasaannya saat ini.

-o-

BLOUSE VINTAGE PUTIH LENGAN PANJANG; celana panjang nylon; jubah bertudung setinggi bokong dengan lambang EXO PLANET yang menyatukan kedua sisinya; dan sepasang boots hitam menjadi pilihan Cho kali ini. Pelayan muda yang ditugaskan Baekhyun sedang menata rambutnya sementara hiruk-pikuk di dalam markas menjadi musik yang mengalun mengiringinya.

“Kau sudah siap?” sahut Kai memasuki ruangan Cho. Sepasang matanya masih tertuju pada aksesori bergerigi di pergelangan tangannya.

“Apa mereka sudah lama menunggu?” Cho beranjak dari kursi rias setelah gadis muda dengan apron biru langit di pinggangnya telah mengakhiri tatanan rambut.

“Mereka tiba di sana lebih dulu,” ucap Kai, masih belum menoleh pada Cho karena salah satu aksesoris yang dikenakannya tak mau menyatu.

“Apa kau yakin bahwa penglihatan itu benar-benar merujuk pada tempat yang kau sebutkan? Bagaimana jika aku salah—atau kau salah?”

Cho menghampiri Kai. Dengan paksa gadis itu menarik tangannya. Kai sempat mengaduh sebelum akhirnya pria itu membungkam diri saat Cho menautkan aksesorinya.

“Tak ada tempat yang dikelilingi kegelapan selain wilayah di dataran maritimo. Percayalah padaku.”

Cho melayangkan pukulan ringan di pundak Kai. “Bagaimana mungkin aku percaya padamu? Kudengar tempat itu adalah tempat tergelap di planet ini dan sama sekali tak terjamah. Bagaimana jika ada monster menyeramkan di sana?” Bola matanya membulat sempurna diiringi kekalutan yang melandanya.

“Kau melupakan satu hal, Cho Ikha—enam castè akan melindungimu di sana.”

“Dan kau melupakan satu hal, Kai—kalian hanya sekumpulan anak muda dengan kekuatan yang tak setangguh Leeteuk.”

Tatapan gadis itu menunjukkan bahwa ia bersungguh-sungguh. Senyum yang ia terima dari Kai bukanlah jawaban yang diinginkannya. Mereka sadar bahwa pencarian itu merupakan  sebuah judi. Nyawa menjadi taruhan, bukan koin emas atau pun voucher belanja.

“Aku tak ingin Suho mencincangku. Sebaiknya cepat kau peluk aku atau kutinggalkan kau bersama naga lain di kandang jeruji.” Ucap Kai setelah meyakinkan diri bahwa ia telah cukup keren untuk berpetualang hari ini.

Cho berdecak. “Kenapa kita harus berpelukan setiap kali berteleportasi? Baekhyun menjelaskan padaku bahwa kau hanya menyentuh ujung pakaiannya saja saat berteleportasi dengannya,” ia mencari penjelasan.

Kai memutar bola mata. Ia berkacak pinggang bersama dengan hembusan napasnya yang memberat. “Dasar cerewet!”

Kemudian menarik gadis itu ke dalam dekapannya sebelum partikel nomènosnya melahap tubuh mereka.

-o-

MEREKA TIBA DI ATAS PADANG PASIR DENGAN kabut hitam yang hanya menaungi sekeliling. Cho tak tahu pasti apakah ia masih memiliki jantungnya secara utuh; karena ketika angin berhembus menerbangkan rambut panjangnya tak menentu, hanya kedua matanya saja yang terkena tusukan butiran pasir yang mengikuti alunan angin tersebut.

Gadis itu menggenggam jemari Kai lebih erat. Hembusan itu sama sekali tak terusik oleh kehadiran mereka, seolah angin besar berusaha untuk menghentikan niat baik mereka untuk berkunjung ke sana. Cho menengadah. Ia tak mampu menemukan apa pun selain kabut hitam yang bergerak melingkupi tubuhnya.

Kai menyebutkan sesuatu yang tak tertangkap oleh inderanya, hingga pria itu mengulang kembali dengan mengeratkan otot-otot lehernya.

“Partikelku melindungimu dengan baik. Kau tak perlu takut.”

Begitulah yang dikatakan Kai saat suara maskulinnya saling berlomba mengisi sepasang telinganya yang tertutup oleh desir angin. Cho mendongak kemudian sadar bahwa pusaran kabut hitam yang mengelilinginya berbeda dengan kabut di sepanjang padang tersebut.

Nomènos melindunginya dan ia bersyukur karena Kai telah menepati janjinya.

Masih mengeratkan jemari masing-masing, Kai beranjak menuju satu arah yang sama sekali tak terdeteksi oleh penunjuk arah. Boot hitamnya menyeret pasir abu-abu yang mencoba menghentikan langkahnya. Cho mengerat disampingnya. Meski angin tersebut mengacak-acak tatanan rambut Kai, keteguhan hati pria itu sama sekali tak tergoyahkan.

Keduanya terhenti di ambang bayangan yang lebih gelap. Sayup-sayup gadis itu mendengar ringkihan hewan. Tak lama, ia kemudian mengetahuinya; suara penolakan sepasang naga yang berada di batas bayangan. Tanpa meninggalkan dirinya, pria itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Sepasang naga tersebut kemudian melolong lama. Setelah sepasang kaki mereka bergerak-gerak tak menentu, keduanya lantas mengepakkan sayap duri mereka dan meninggalkan padang berkabut.

Gadis itu mengamati kepergian sang naga.

Seberkas cahaya di dalam bandul yang melilit leher mereka mengilat-ngilat di udara. Kabut hitam bergerak liar berusaha menusuk-nusuk para naga—seolah tangan-tangan yang telah mati mencoba mencabik-cabik kulit mereka. Perlindungan sebongkah cahaya itulah yang melindungi keduanya.

Perhatian Cho lantas terpusat pada kilatan cahaya di ujung matanya. Keberaniannya tak lagi menciut karena cahaya tersebut datang bersama sosok Baekhyun. Lelah itu melilit tubuh si pria hingga gurat hitam di kantung matanya mengembang.

“Aku sama sekali tak menyukai perjalanan kita kali ini,” pria yang selalu menyebar kebahagiaan di sekelilingnya itu kini mulai meredup.

Tubuh Baekhyun diselubungi nomènos Kai. Tak ayal, Cho tak lagi mendengar gaung di tiap kata-katanya.

“Jika Suho tak mampu meraba pergerakan apa pun yang ada di dalam kegelapan, aku bersumpah tak akan mengikuti perintahnya kali ini,” tutur Baekhyun di sela gerakan jemarinya di dada Kai.

“Maksudmu?” pria pemilik nomènos itu menuntut penjelasan lebih. Ia menusuk-nusuk bola mata Baekhyun dengan keingin-tahuan yang dipancarkan sepasang matanya. Hingga pria itu telah membentuk bola cahaya di dadanya dan beralih pada Cho Ikha, Kai masih mencari-cari letak perhatian Baekhyun padanya.

“Kukira saat Suho menyuruhku  untuk tidak menyinari mereka di tengah kegelapan maritimo, pria itu hanya sedang mengecohku dengan candaan basinya. Hebatnya, Suho dapat mengetahui gerakan pasukan kematian yang hidup di dalam sana. Kami mengikuti setiap penuturan Suho dan anehnya apa yang ia sebutkan membuat kami dapat menangkis setiap serangan tengkorak hidup tersebut!”

Baekhyun mengakhiri penuturan panjangnya setelah menyalurkan cahaya melalui genggaman Cho. Gadis itu memilih untuk mengamati. Kali ini bukan waktu yang tepat untuk menimbrungi percakapan sepasang castè tersebut.

“Seingatku, Suho tak begitu menyukai kegelapan.”

“Dan pria itu memberikan setiap instruksi sedangkan tak ada satu pun di antara kami yang mampu melihat dalam kegelapan—kecuali secercah cahaya yang kubuat di dada mereka. Bukankah itu sangat aneh?” imbuh Baekhyun.

“Kita akan baik-baik saja. Jangan menceritakan hal-hal bodoh di samping si penakut ini,” Kai mendelik singkat pada satu-satunya gadis di antara mereka.

“Entah mengapa aku merasa tersinggung dengan ucapanmu itu,” dengus Cho seraya melempar tatapan mautnya.

“Kau tahu bahwa aku akan selalu melindungimu ‘kan?” ucap Baekhyun seraya menepuk pundak halusnya.

Senyum ketir Cho membentuk paksa. Garis lelah di wajah Baekhyun membuatnya ragu dengan perkataannya. Setelah meyakinkan diri, kedua pria kece itu mengapit tubuh Cho Ikha seiring langkah mereka yang kian memasuki bayangan tergelap di sana.

Sepasang mata Cho berputar mengelilingi apa pun yang mampu dilihatnya. Gadis itu menggumam seorang diri. Kegelapan inilah yang dilihatnya dalam sekelebat visi sebelumnya. Dugaan para castè mungkin tidak meleset tapi ketidakyakinan Cho Ikha membuatnya berniat untuk mengurungkan diri.

-o-

SUHO MENYAMBUT KEDATANGAN MEREKA dengan semburat pucat di wajahnya. Corion Baekhyun kini bersinar lebih luas, menciptakan bola cahaya besar yang menerangi kegelapan kuat di padang maritimo.

Setelah melewati pepohonan yang terselimut pasir dan debu tebal, diiringi Baekhyun, Cho Ikha dan Kai menembus ambang penglihatan mereka bersama satu-satunya cahaya yang melindunginya.

Kini, angin besar tak lagi merusak pandangan mereka; karang dan bebatuan tajam menggantikan pasir abu-abu di bawah kaki mereka. Cho Ikha bergidik ngeri saat tumpukan tulang-tulang kering bercampur pakaian usang dan berkarat tergeletak di sepanjang penglihatannya.

Di sana, tak jauh darinya, kobaran sharon Chanyeol mengilatkan pedang peraknya. Sementara Sehun sibuk menceritakan sambutan armada yang-telah-mati di atas pantai hitam tersebut, D.O masih menyibukkan diri dengan mengubur tulang-belulang bersama kekuatan tanah yang dimilikinya.

“Tempat ini dijaga oleh sihir yang kuat,” seru Suho.

Kai meneliti sekelilingnya. Dari hamparan air hitam di pinggir bebatuan, ia meyakini bahwa mereka telah mencapai pusat wilayah maritimo. Corion yang diciptakan Baekhyun tak mampu meraih batas penglihatannya, seolah laut hitam tersebut tak berujung.

“Apa kau yakin? Kita tak pernah tahu makhluk apa yang akan menyerang kita nanti,” ucap Cho sementara Baekhyun membenahi jubah bertudungnya.

Boot gadis itu bergerak mundur saat ujung sepatunya menyentuh tulang pipih besar dengan cekung yang menyerupai wajah manusia. Makhluk halus yang ditemuinya jauh lebih buruk dari apa yang ia lihat saat ini. Hanya saja, ia belum siap untuk mengikuti petualangan maut yang bisa saja membuatnya tak lagi menikmati masa-masanya sebagai seorang manusia.

“Jangan tunjukan ketakutanmu di sini atau penghuni maritimo akan meruntuhkan keyakinanmu,” gumam Kai.

Seketika gadis itu menegang. Instruksi Kai sama sekali tak membantunya.

Tanpa memberi nasehat, Suho memilih untuk memusatkan diri pada laut hitam. Pria itu merentangkan kedua tangan. Alunan mantra mengiringi gerakan khusus yang ditimbulkan tubuhnya.

Gerakan pria itu berakhir dengan gelombang laut hitam yang berpusat membelah daratan. D.O  menghentak kakinya pada tanah sehingga muncul sederet tangga bersama dinding kokoh sepanjang tembok Cina. Bunyi gemuruh datang seiring terbentuknya tembok besar tersebut. Chanyeol bergerak mundur ketika cipratan air hitam mengenai sepatunya. Meskipun tetesan tersebut tidak memberikan efek lain, baginya wilayah maritimo merupakan tempat terkutuk.

“Ikuti aku,” begitulah yang dikumandangkan Suho tepat setelah gemuruh itu tak lagi terdengar.

Mereka saling bertukar pandang.

Suho telah menapaki anak tangga ke tujuhnya namun tak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan pergerakan. Anak tangga tersebut terhenti tepat di pusat tembok. Tentu saja jawaban di benak mereka sangat sederhana mengingat Suho akan menyuruh D.O untuk menghantam benda tersebut setelah ia tiba di ujung tangga.

Dengan membentuk bola-bola cahaya, Baekhyun membuat jejak-jejak yang akan membawanya kembali ke pantai berabu. Ia merapat ke sisi Cho Ikha. Bersama Kai, ketiganya melangkah diikuti tiga castè lain yang masih menyoroti kebingungan.

Tak ada yang mengucapkan sepatah kata pun termasuk Cho Ikha. Keheningan itu tercipta untuk melindungi mereka. Cho tak tahu pengertian apa yang tersebunyi di balik wajah tegang Sehun. Seperti apa yang telah Kai ucapkan, ketakutannya saat ini merupakan alat untuk menjatuhkannya. Begitu pula dengan para castè.

Setelah mencapai anak tangga terakhir, gadis itu sama sekali tak mendengarkan perbincangan Suho dan D.O. Dua buah patung kerdil bermata besar dan bergigi jarang di sisi anak tangga membuatnya bergidik ngeri. Ekor kerdil berujung mata panah itu seolah bergerak di matanya; melambai-lambai seperti hiasan jam dinding tua.

“Sudah kukatakan hal ini akan berakhir sia-sia, Suho. Jika kau pemimpin yang baik, kau akan memilih untuk mundur. Siapa yang tahu makhluk apa yang tengah menanti kita di balik dinding ini,”

Ketegangan Kai membuat gadis itu menoleh. Baekhyun, dengan wajah yang kian memucat, masih berada di sampingnya sementara pria keras kepala itu bertengger manis di sisi D.O. Perdebatan mereka dilerai oleh nasehat Chanyeol—mengenai keributan yang diciptakan oleh mulut mereka sendiri.

Tak sabar, gadis itu menghampiri. Jemarinya menyentuh halus lapisan tembok, mengamati sekaligus menelisik tiap detil yang ada.

“Benda itu tak akan berubah menjadi pintu raksasa sekalipun kau menyentuhnya.”

Cho Ikha melirik tajam pada Kai.

Kata-kata pria itu selalu saja membuatnya merasa direndahkan.

“Berpikirlah lebih sederhana. Simbol-simbol di bawah kakimu mungkin saja membantu,” kemudian gadis itu melipat tangan di dada saat keenam castè menyadari akrilik di bawah kaki mereka.

“Bagaimana mungkin—“ jeritan Sehun tertahan saat itu juga.

“Kau hanya memfokuskan diri pada apa yang ada di hadapanmu, bukan di sekelilingmu.” Ucapan gadis itu terhenti di sepasang mata hitam Kai.

Sehun menunduk. Salah satu lututnya mencium lapisan tanah. Deretan tulisan kuno tersebut membentuk sebuah lingkaran. Pria itu mengetahuinya saat telapak tangannya menyapu lembut permukaan lantai. Lantas ia menengadah dan sempat bertukar-pandang dengan Kai dan juga pemimpinnya.

Kai menerima tatapan tersebut seraya menggerakkan kedua alisnya. Tentu saja, hal tersebut menimbulkan tanya.

“Kau mengetahui sesuatu,” suara Suho menggema di sana. Seolah hanya udara hampa saja yang menaungi sekelilingnya. “Katakanlah—maka kita akan segera meninggalkan tempat ini setelah kau menjelaskan makna dari simbol-simbol tua itu.”

Berdiri dari tempatnya, Sehun mengamati wajah kusut Chanyeol yang ternoda oleh besi kotor dan debu. “Darah suci sang penjaga,” lirihnya.

Kemudian mereka seketika tertuju pada Cho Ikha.

Terbesit rasa menyesal dalam ucapan Sehun saat pria itu mengartikan deretan huruf bangsa elf kuno yang pernah ia pelajari dari petinggi istana. Bibir tipisnya terkatup rapat, lebih rapat dari tirai besi yang melindungi gudang viinum mahalnya dari hawa dingin planet.

“Kau lupa bahwa Cho Ikha hanyalah sebongkah roh yang memadat,” Baekhyun menyela dan memberikan anggukan mantap pada Kai.

Tatapan was-was mereka mulai mereda. Setidaknya tak ada yang perlu terluka untuk memperoleh pedang melegenda—yang keberadaannya masih belum memiliki kepastian tinggi.

Suho mengamati tiap akrilik. Setelah menyingkirkan D.O yang menghalanginya, pria itu menarik tubuh Cho ke pusat lingkaran. Baekhyun hendak menyela hingga dorongan kuat Suho di tubuhnya pun mendepak mundur Sehun dari tempatnya.

“Berusaha untuk menipuku, Oh Sehun?” Gertakan Suho menjerit-jerit di udara.

Pria dengan pakaian castè berduri tajam di kedua bahunya itu mengumandangkan sederet kata yang tak dimengerti mereka. Kai dan Baekhyun hendak meraih Cho Ikha hingga dorongan kuat mendesak tubuh mereka terpental jauh dari lingkaran elf kuno.

Baekhyun menjerit saat punggungnya menabrak dinding tangga. Pun ia mendengar Chanyeol mengerang terbentur patung kerdil. Simbol-simbol tersebut perlahan menimbulkan diri; menciptakan asap tebal yang muncul dari sela-sela pahatan.

Kai merangsek maju; menodongkan ujung belatinya di leher Suho. Sang pemimpin hanya mendengus remeh. Menurutnya, Kai menggertak tanpa melakukan tindakan.

“Dengar, Suho. Hentikanlah atau kupaksa belati ini agar menggores wajah mulusmu.” Pria berambut hitam itu menajamkan mata, sama sekali tak terusik oleh cemoohan Suho dari kilatan senyumnya.

“Terlambat,” ucap Suho kemudian mendengungkan kembali sesuatu yang tak dimengertinya.

Fokus Kai terbilah ketika Cho Ikha menyebutkan bahwa tubuhnya membeku paksa. Hanya Suho yang menjadi tumpu jawaban, pria itu menyerang si pemimpin saat lingkaran kuno tersebut tak mampu tertembus pedang Sehun—saat dirinya mencoba untuk menolong.

Gemuruh panjang terdengar nyaring dari balik tubuhnya. Lantas kedua pria yang masih bersitegang tersebut menoleh cepat. Dinding raksasa yang sama ratanya dengan permukaan tangga perlahan berubah membentuk sepasang daun pintu dengan pahatan kasar nan abstrak.

Bunyi debam mengiringi suara gemuruh saat pintu mulai terbuka.

Suho tersenyum puas meski hal itu tak berlangsung lama. Detik berikutnya, tubuh keenam castè terpental jauh hingga ke langit. Mereka jatuh berdebam di atas tanah. Suho mendarat lebih jauh, nyaris tak terdeteksi.

Tepat ketika panik itu melanda mereka, teriakan nyaring dari gadis yang hanya mendekam pasrah di pusat lingkaran menghenyak benak masing-masing.

“CHO IKHA!”

Suara Kai menyatu bersama bunyi menyeramkan yang menghisap tubuh gadis itu ke dalam kegelapan.

Dengan meringankan beban tubuhnya, pria itu berlari secepat angin. Sepasang daun pintu tersebut tertutup rapat sebelum Kai mencapai dua patung kerdil. Keadaan itu semakin buruk saat ekor-ekor tajam patung tersebut saling menyatu dan membentuk pusaran angin hitam.

Kai mundur seketika. Kehadiran makhluk-makhluk aneh yang muncul dari balik pusaran tersebut membuatnya mematung sejenak. Ia akan kesulitan menelusuri jejak gadis si pembawa kunci jika makhluk-makhluk sihir semakin berbaris membentuk pasukan kematian.

“Oh, tidak.” Baekhyun berkata lirih.

Keadaan ini sama sekali tak baik.

…bersambung…

Thank For Your Visit Huglooms

—————————-

18senèca: nama asli Byun Baekhyun. Sama halnya seperti Omorfos untuk Park Chanyeol atau Charitomenos untuk Oh Sehun.

19 pettalouda: semut raksasa bersayap empat, memiliki racun berbisa di ujung tubuhnya, sepasang sayap depan dapat berubah menjadi jarum tajam untuk melindunginya dari serbuan lalat penyengat.

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

93 thoughts on “EXO PLANET “CHAPTER 05” (REPACKAGED)”

  1. Kya~~ Kenapa harus TBC disaat yang sangat menegangkan??
    Kakak emang suka bikin readers penasaran nih…

    *Iklan* mau dibawa kemanakah Ikha??
    Bertemu dengan penghuni gua tersebut?
    Atau akan dibawa bertemu dengan Sang Pencipta (pergi selamanya)?
    Lalu bagaimana dengan warrior yang terluka ditempat?
    Apa mereka akan meneruskan perjalanannya tanpa Ikha?
    Tunggu saja kelanjutannya….

    Cepat dipublish ya kak…
    Annyeong

    1. Hehe, maap ya, aku emang hobinya bikin penasaran orang saeng /loh?
      Tunggu aja next chapternya. Dengan seizin Allah, chapter itu bakal publish secepetnya^^
      Makasih yaa udah komen^^

  2. Lagi seru dan tiba2 TBC aaaaaaa…
    Keren2 menegangkan banget
    Unsur2 fantasinya aq bener2 suka.
    Wahh skripsian.
    Saya atu ribetnya itu.
    Nyari judul aja puyeng -_____-
    Smngttttt yaa..
    Ditunggu part lanjutannya ^^
    aaaa nyesel deh baru ngubek2 google sekarang jdnya bru nemu blog ini dehh
    Sakam kenal chingu ^^

    1. Eh, ada reader baru.. salam kenal yaaa~ kkk~ iya nih lagi banyak kesibukan jadi belum bisa lanjutin. Insya allah secepetnya ko. Makasih ya udah visit kesini… \(´▽`)/ \(´▽`)/ \(´▽`)/

  3. SERUUUUUUUUUUU!
    ciyee Kai mencari kesempatan dalam kesempitan wkwk XD 🙂

    Ikha mau dibawa kemanaaaaaaa?
    Kai gimanaaaa?
    Sehun lagi apaaa?
    #kepo ;-P
    lanjut thorrr :-*
    lanjutannya jangan lama lama yaaa hihi 😉 udah lebih dari sebulan tuh ga dilanjutin(?)
    wkwk XD
    hwaiting~^^ 😀

      1. lalalayeyeyeye *ikutan anak alay*
        tetap sama bg yes kok kha, tp gue siap” cari pacar sementara aja biar gk galau gara” bg yes wamil hihi *lirik hyuk jae*

      2. udh gue bilg ka pesona hyukjae gk bisa diabaikan..
        ni gue bilgin ya gue smpat labil antara sungmin & hyukjae..
        krn sungmin gk bisa ngalahin dancenya hyukjae yg uwoo itu jadi pilihan terakhir jatuh ke Lee Hyuk Jae *prok prok prok* *kasi bunga ke hyukjae* >,<
        jadi salahin laki lo ka knp dia sekseh bgt kkk~

      3. akhirnya lo ngalah juga ka kkk
        hmm gak boleh skinship?? gue gka janji kha lo aja yg gak tau gue udh grepe” hyuk jae muahahah *kabur*

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s