ACCIDENT (Chapter 09)

 

SIAPA YANG MENGIRA jika pada akhirnya Ikha memutuskan untuk bertemu Key—namja yang baginya telah membuat luka mendalam atas apa yang diperbuatnya selama ini. Muak. Hanya kata itulah yang selalu berkumandang di benaknya setiap kali ia melihat Commercial Etude House terpampang di berbagai sudut Kota Seoul. Bukan karena ia iri dengan wajah mulus yang dimiliki Sandara Park. Melainkan muak melihat wajah Key. Muak melihat kelakuan Key.

Kali ini Ikha berada di dalam sebuah private room salah satu Cafe di daerah Yeouido. Tentu saja yang memilih tempat ini adalah Key. Namja itu memang selalu membutuhkan privasi. Privasi yang menurut Ikha sangatlah berlebihan.

ACCIDENT

Saat ia masih termenung memperhatikan Americano yang dipesannya beberapa menit lalu, perhatian Ikha teralihkan pada sesosok namja yang duduk di hadapannya serta muncul bersama bayangannya sendiri.

Key sempat mengembangkan senyum padanya—meski Ikha dapat menangkap keraguan dan kehati-hatian dari senyum tersebut. Seolah namja itu tengah berhadapan dengan ribuan reporter yang bisa saja membuat berita apapun jika ia salah berucap.

“Bagaimana kabarmu?” ucap Key, memutuskan untuk mulai bicara karena Ikha terus saja membungkam diri.

Yeoja itu mendelik sesaat pada Key, membubuhi  Americano -nya yang mulai mendingin dengan brown sugar yang telah disediakan kemudian mengaduknya perlahan.

“Kau sendiri?” Ia balik bertanya. Nadanya begitu datar dan terkesan menggertak.

“Aku sangat mengkhawatirkanmu, Noona. Berhentilah menghindariku karena bagaimana pun juga aku sepenuhnya bertanggung-jawab atas dirimu dan juga bayiku,”

Alih-alih menjawab pertanyaan Ikha, Key malah mengoceh tentang kekhawatirannya terhadap Ikha. Yeoja itu hanya mendengus seraya menampakan smirk-nya yang tak begitu kentara. Ia sedang tidak ingin mendengar rasa simpati dari Key. Sedikitpun.

“Jujur saja, aku sedikit heran, Kim Kibum. Kau sudah tahu jika aku kehilangan janinku dari Taerin tapi kau terus saja mengejarku. Kau masih merasa perlu untuk bertanggung-jawab?” selorohnya.

“Tentu saja. Bagaimana pun juga kau telah terlibat dalam masalah ini dan—“

“Lalu kau kemana saja saat tahu bahwa janinku sudah tiada? Kau sama sekali tidak ada usaha untuk sekedar menjengukku,” serang Ikha, masih dengan nada semula. Dingin dan ketus.

“Bagaimana aku bisa menjengukmu jika kau selalu saja menghindar dan me-reject panggilanku? Temanmu sama sekali tidak membantuku sedangkan aku tak tahu harus mencarimu kemana,” ucap Key, membela diri.

“Kau bisa tanya Manager Choi. Apakah dia tidak bilang tentang kunjungannya ke rumahku dulu?” tutur Ikha seraya meneguk Americano-nya.

Key tercenung, mencoba memahami kembali apa yang Ikha ucapkan. Kepalanya kini seolah berputar-putar mengingat yeoja ini sempat menyelipkan nama manager-nya di tengah perbincangan mereka.

“Aku sengaja menghubungimu lebih dulu karena ada sesuatu yang harus kita bahas—dan sangat penting,”

Ikha merogoh tas kecil seukuran notebook yang ada di pangkuannya untuk mengambil sebuah amplop putih. Ia mengeluarkan isi amplop tersebut seraya menyodorkan benda itu pada Key. “Taerin mencocokkan DNA dari rambutmu dan DNA janinku,” ungkapnya.

Belum selesai berpusing-pusing ria oleh ucapan Ikha perihal manager-nya, Key kembali mematung saat yeoja itu menunjukkan beberapa lembar kertas berisi tabel dan deretan angka yang sulit dipahami. Ia sempat menatap Ikha sesaat untuk mencari penjelasan lebih tapi yeoja itu lebih memilih untuk diam. Sepertinya ia sedang mengamatinya—mengamati reaksinya lebih tepatnya.

“Aku tidak ingat apakah kita benar-benar melakukannya atau tidak, Key. Namun hasil itu… hasil tes itu membuktikan bahwa kau adalah ayah dari bayi yang sempat kukandung,” imbuh Ikha.

Sambil mengingat apa yang telah ia pelajari semasa sekolah, Key berusaha mencerna isi dari kertas-kertas tersebut sembari menghubungkan apa yang Ikha jelaskan padanya barusan. Setahunya, Ikha tidak pernah mencabut sehelaipun rambut yang selalu ia agungkan itu. Kecuali teman baiknya, Taerin, yang berani menjambak rambutnya sekuat tenaga. Sekarang ia tahu alasan Taerin menjambaknya minggu lalu, yakni untuk mencocokkan DNA.

“Apakah kau akan mempercayainya setelah melihat hasil tes tersebut?” tanya Ikha.

Key masih terdiam. Meski Ikha tidak menunjukkan hasil tes tersebut, ia sudah tahu jawaban sesungguhnya. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah sedikit waktu untuk merangkai kata. Salah bercerita sedikit saja, maka Ikha akan semakin membencinya.

“Aku tidak akan meminta pertanggung-jawabanmu mengingat bayi itu sudah tiada—dan tidak membebaniku lagi tentunya. Aku hanya ingin kau tahu bahwa bayi itu memang benar bayimu. Anak kandungmu,” celoteh Ikha untuk ke sekian kalinya.

Kertas yang berisi hasil tes DNA tersebut Key letakan begitu saja di atas meja. Ia sempat menghembuskan nafas beratnya sesekali untuk menghilangkan beban yang menumpuk di pundaknya. Ia bisa saja mengelak tapi ia sudah bertekad untuk mengakuinya sekarang.

“Kau tahu kenapa aku ingin sekali bertemu denganmu?” Key memberi jeda sejenak untuk meminum Macchiato. Cara itu ternyata cukup berhasil untuk mengurangi gugup yang tiba-tiba menyerangnya. “Karena aku juga ingin membahas hal ini dan mengakui beberapa hal,” imbuhnya.

Urat-urat pada wajah Ikha menegang. Bola matanya membulat sempurna, bibirnya terkatup rapat dan rahangnya semakin mengeras.

“Mengakui beberapa hal?”

Key mengangguk. Sengaja ia mendongakan kepala agar dapat menatap Ikha lebih mudah. Hatinya sedikit mencelos begitu kedua mata mereka saling beradu. Hanya saja, ia harus mengatakannya. Bagaimana pun caranya. Ia sudah bosan menjadi pecundang.

“Kau harus berjanji untuk mendengarkan ceritaku hingga selesai. Setelah itu terserah kau akan mencecarku atau melakukan apapun sesuka hatimu,”

Ikha meneguk kembali Americano-nya tanpa menolak ataupun mengiyakan perkataan Key. Rasanya seolah ia menjadi sasaran bidikan busur panah di arena pertandingan olimpiade. Key belum bercerita tapi rasa tegang sudah menjalarinya. Selain itu, entah kenapa Americano yang semula tak begitu pahit malah rasanya semakin menusuk lidah.

Sama pahitnya dengan kenyataan yang ia alami akhir-akhir ini…

***

GEUMAN, GEUMANHAE! (hentikan!)”

Jonghyun berkacak pinggang sambil memperhatikan bayangan Key dari balik cermin besar yang menjadi bagian dari ruang latihan gedung SMent. Ini sudah kelima kalinya Key salah melakukan gerakan sedangkan besok pagi mereka harus bersiap-siap untuk shooting Music Video terbaru mereka─Sherlock, red.

Ya! Kenapa kau terus melakukan kesalahan, eo?” hardik Jonghyun untuk ke sekian kalinya. Ia menangkap handuk yang Onew lempar ke arahnya dengan tepat seraya mengusap keringat yang bercucuran di sekujur tubuh.

“Sebaiknya kita ulangi sekali lagi,” Minho menenangkan suasana kemudian menepuk-nepuk pundak Key. Namja yang seumuran dengannya itu nampak tidak berselera hari ini. Wajahnya mengusut dan tidak ceria seperti biasa.

“Tidak perlu. Key akan terus mengulangi kesalahannya lagi selama ia belum fokus,” Giliran Onew yang menyindir Key.

Namja yang dikenal sebagai Leader dari SHINee itu mendekati Key yang tengah memperbaiki sampul tali sepatu kets-nya. “Ada apa denganmu, eo? Besok kita akan shooting untuk MV terbaru kita, Key. Ingat, focus!” ucap Onew, pelan namun tegas.

Key menunduk. Jemarinya yang semula dengan lihai membentuk simpul pada tali sepatunya kini membeku setelah mendengar hardikan Onew. Ia sempat mengacak poni yang telah di cat berwarna cream cokelat tersebut perlahan. Gontai, ia berdiri dari posisinya untuk berhadapan dengan Sang Leader.

“Lima menit. Setelah itu aku tidak akan mengacau lagi,” gumam Key, meminta Onew untuk memberinya sedikit waktu.

Tanpa persetujuan Onew atau member lain terlebih dahulu, Key melenggang keluar dari ruang latihan menuju anak-anak tangga tak jauh dari ruangan tersebut—tangga yang biasa ia gunakan saat lift utama terlalu lama beroperasi dan saat ia terlambat latihan. Ia duduk pada salah satu anak tangga. Membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangan sembari mendesah berat.

Sejak terakhir bertemu Ikha, kepalanya selalu berdenyut nyeri mengingat semua yang diucapkan yeoja itu padanya. Key meletakan kedua ujung ibu jari pada masing-masing sisi pelipis. Entah kenapa ia merasa diserang migrain yang luar biasa. Hingga akhirnya tepukan seseorang pada pundaknya berhasil membuat kedua matanya kembali terjaga.

Wae? Terjadi sesuatu?”

Key semakin merapatkan kedua telapak tangannya saat sahutan suara Jonghyun yang begitu familiar di telinga membuat suasana hatinya semakin kacau. Ia hanya ingin sendirian tanpa ditemani oleh siapapun. Termasuk hyung-nya yang satu ini.

Jonghyun duduk setara dengan anak tangga yang Key duduki. Wajahnya tak lagi geram seperti yang ia tunjukkan beberapa menit lalu di dalam ruang latihan. Kali ini ia mengerti kondisi Key mengingat dongsaeng-nya ini memang sedang butuh seseorang untuk membimbingnya menyelesaikan permasalahan pelik yang di alami.

“Tentang Cho Ikha?” tanya Jonghyun.

Meski Key tak menjawab pertanyaannya, Jonghyun bisa menerka bahwa apa yang membuat salah satu main dancer SHINee tersebut membuat kekacauan selama latihan hari ini adalah berkat nama yeoja itu.

Kedua tangan Key terlipat di atas paha sementara ia menunduk menyembunyikan wajahnya dari Jonghyun. “Baru kali ini aku menjadi seorang pecundang dalam menghadapi masalahku sendiri, Hyung.” gumamnya.

Matanya terpejam erat. Perdebatannya dengan Ikha beberapa hari lalu masih terngiang-ngiang di benaknya hingga sekarang…

“Aku memang melakukannya…” aku Key.

Hampir setengah jam ia habiskan hanya untuk menerangkan pada Ikha tentang apa-apa saja yang ia ingat setelah ‘kecelakaan’ itu terjadi. Tentang pengakuannya pula bahwa sesungguhnya ia lah ayah dari bayi yang sempat dikandung Ikha.

“Sudah lama aku ingin mengakui hal ini tapi rasanya begitu sulit. Aku tak tahu apakah aku harus berada di pihakmu atau di pihak group-ku. Saat melihatmu menanggung semua ini sendirian, aku merasa seperti seorang pecundang. Tapi aku juga tidak ingin menghancurkan segala yang telah kubangun dengan susah payah. Onew Hyung, Jonghyun Hyung, Minho dan juga Taemin telah bekerja keras demi SHINee dan aku—“

“Popularitas,” potong Ikha.

“Mworago? (Apa yang kau katakan?)”

Ikha mengibas poninya sejenak seraya menatap Key lurus dan tak berkedip. Jemarinya begitu erat memegang gagang cangkir Americano yang ada di atas meja. “Kau hanya mencemaskan popularitasmu dan juga teman-teman satu group-mu. Tsk, ternyata benar. Kau memang tak lebih dari seorang pecundang,” dengusnya.

Yeoja itu kemudian beranjak dari tempatnya saat itu juga. Kini ia tahu alasan mengapa Key, yang semula menolak kejadian tersebut, berubah lembut dan perlahan mengakui kehadiran bayi itu. Semua sudah jelas dan hal itu justru membuat Ikha semakin muak pada Key. Ia tak perlu repot-repot menanyai kronologis ‘kecelakaan’ tersebut karena Key telah menceritakannya dengan begitu gamblang.

Tahu bahwa Ikha akan kembali menghindarinya, Key segera menyusul Ikha lalu menghalanginya agar tidak keluar dari private room tersebut sebelum yeoja yang lebih tua satu tahun darinya itu menghilang. Ia menggenggam pergelangan tangan Ikha, membuat yeoja itu mau tak mau berhadapan kembali dengannya.

“Aku tak ingin mengecewakan mereka, Noona. Kumohon, mengertilah.” Lirih Key, menelisik kedua mata Ikha dengan ucapannya yang terkesan seperti seseorang yang pasrah.

Genggaman Key ditepis kasar olehnya. Predikatnya sebagai Kpop Star tak berlaku lagi di mata Ikha. Baginya, Key tetaplah seorang namja pengecut yang berusaha lari dari kenyataan. Ia menggenggam tas tangannya dengan erat kemudian memberi sedikit jarak antara mereka berdua.

“Dengarkan aku baik-baik, Kim Kibum. Choi Jin, manager yang sangat kau banggakan itu, datang ke rumah tepat setelah ia mengetahui perbincangan kita di stadium. Dia menghadap Appa dan Eomma dengan membawa sejumlah uang—dengan harapan bahwa aku akan meninggalkan Seoul bersama uang tersebut. Tentunya hal itu ia lakukan untuk melenyapkan kehadiranku agar skandal ini bisa hilang ditelan waktu.

Appa mengusirku dari rumah setelah Choi Jin mengarang cerita bahwa akulah yang menyebabkan ‘kecelakaan’ ini. Tak lama setelah itu, Eomonim datang ke apartemen—aku juga tak tahu bagaimana beliau mengetahui tempat tinggalku saat itu—sambil mencecarku seolah aku ini wanita jalang yang mengemis uang padamu,” tutur Ikha panjang-lebar.

“Eomonim?” Key mengerut alis.

“Ya. Neo eomonim (Ibu-mu),” tandas Ikha, memberi penekanan saat mengulang kata ‘ibu’.

Ia kembali berkata, “Tak masalah jika Eomonim hanya mencecarku. Tapi justru omongannya membuat Eomma-ku terpukul. Saat itu aku bersikap sabar. Karena apa? Karena bayi itu. Aku selalu mempertahankan bayi itu hingga lahir nanti karena aku ingin membuktikan padanya bahwa kau benar-benar ayah dari bayi itu.”

Key langsung mengatupkan mulut rapat-rapat. Ia merasa tertohok saat mendengar fakta-fakta lain yang tak diketahuinya. Rasanya seperti dihunus oleh pedang The Arthur King, sangat menyakitkan karena ibunya sendiri menjadi bagian dari konspirasi Choi Jin.

“Aku tak tahu jika Eomma—“

“Selain itu, aku juga harus menunda kelulusanku karena semua tugasku terbengkalai akibat kondisiku yang kian menurun sejak bayi itu bersemayam di rahimku,” sambung Ikha, tak memberi jeda sedikitpun bagi Key untuk mengelak.

“Setelah mendengar semua hal yang tak kau ketahui selama ini, apa kau tetap akan membela SHINee yang sangat kau banggakan itu?” tanya Ikha, sarat dengan kebencian yang berkobar-kobar.

Dengan sendu, Key menatap Ikha tak percaya. “Kenapa kau menyembunyikannya dariku?”

Bola mata Ikha berputar. Sungguh pertanyaan bodoh dan tak bekualitas. “Untuk apa kuceritakan semua ini padamu, Key? Berharap mendapatkan simpatimu? Oh, tidak. Aku bukan tipe yeoja seperti itu,”

“Jika aku tahu kebenarannya, aku tidak akan membiarkanmu seperti ini.” gumam Key.

Wajahnya menunduk, menatap kedua kakinya sendiri karena ia tak pernah membayangkan bahwa yeoja yang ada di hadapannya ini telah mengalami masa-masa sulit. Ia tahu, SM pasti akan melakukan berbagai cara untuk menghilangkan skandal ini. Tapi ia tak pernah menyangka jika Choi Jin akan memperlakukan Ikha dengan tidak manusiawi seperti itu.

“Sayangnya nasi telah menjadi bubur, Key.”

Ikha bergumam kemudian memunggungi Key—bergerak menuju pintu karena ia benar-benar butuh oksigen sekarang. Mendengar pengakuan Key sungguh menyesakkan dada. Jika ia berada di tepi jurang, ia akan memilih untuk terjun ke dalamnya.

Lagi-lagi Key menahan kepergian Ikha dengan merengkuh salah satu lengannya. Dengan tatapan yang lebih kuat dari sebelumnya ia berucap, “Kalau begitu aku akan membelikanmu semangkuk nasi yang baru.”

Ikha tertawa. Tawa yang bagi Key lebih terdengar seperti tawa meremehkan. “Aku sudah mendengar pengakuanmu jadi biarkan aku pergi. Akan kuanggap pertemuan ini adalah pertemuan terakhir kita. Tenang saja, kau tidak akan mendengar rumor apapun karena aku akan tetap menutup mulut sesuai keinginan Choi Jin.”

Ikha mencoba menepis cengkeraman Key. Sayang, Key tidak memperkenankan yeoja itu pergi karena justru jemarinya semakin kuat menahannya. Ikha menggeram. Perlakuan Key telah berhasil membuatnya naik pitam.

“APALAGI YANG KAU INGINKAN DARIKU, KIM KIBUM? BELUM PUASKAH KAU MEMBUATKU TERTEKAN?” sentak Ikha. Benteng pertahanannya tak mampu lagi menahan amarahnya yang semula terus ia sembunyikan.

“Aku ingin memperbaiki semuanya, Noona. Mianhae… Mianhaeyo,” ucap Key getir. Cengkeramannya mengendur. Tatapan sendu kini lebih mendominasi raut wajahnya.

“Maafmu tidak berlaku untukku. Sekalipun kau menangis dan memohon, aku tetap tak akan tersentuh.”

Key mengeratkan kembali cengkeramannya saat Ikha berusaha menghindar. “Lalu apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku?”

“Datanglah bersama eomonim dan bertekuk lutut memohon belas kasihan pada Eomma dan Appa,” jawab Ikha tepat setelah Key menghentikan pita suaranya. Kalimat tersebut mengalir begitu saja dari mulutnya.

Namja itu terdiam cukup lama.

“Wae? Terlalu sulit? Aku tahu kau pasti tidak akan melakukannya. Kau terlalu menjaga gengsi-mu.” Sindir Ikha.

Ia berbalik memunggungi Key. Sendi-sendi tubuhnya menegang menahan amarah. Dan ketika Ikha mencoba mengendalikan emosinya, ia merasakan kedua tangan Key menyentuhnya—bergerak cepat untuk memeluknya.

Tenggorokan Ikha tercekat saat merasakan tubuh Key merangkulnya dengan erat dari balik punggungnya. Yeoja itu memejamkan mata. Tidak, ia tidak akan luluh lagi hanya karena perhatian atau sentuhan Key.

“Jangan menyentuhku!” ketusnya, masih mematung di tempat semula.

Kata-kata Ikha tak digubris oleh Key. Justru namja itu semakin mempererat pelukan dan membenamkan wajahnya pada bahu Ikha. Yeoja itu mengatupkan mulut rapat-rapat. Ia tahu jika Key benar-benar tulus meminta pengampunannya. Tapi tidak, ia tidak boleh terlihat lemah.

“Lepaskan aku, atau aku akan teriak.”

Key mengusap permukaan wajahnya sembari mengerang panjang. Kepalanya menengadah menatap langit-langit di atasnya. Jonghyun meremas pundak Key, mencoba memberi sedikit ketenangan padanya. Setidaknya hal itu lebih baik jika dibandingkan membiarkan Key sendirian.

“Dia membenciku,” gumam Key, masih dengam posisi kepala menghadap langit-langit. “Aku tahu dia akan membenciku setelah aku mengakuinya,” imbuhnya tak kalah berbisik.

Jonghyun kembali menepuk pundak Key seolah mengartikan bahwa ia membenarkan tindakan Key—mengakui kesalahannya pada Ikha. “Kau sudah melakukan hal yang benar,” ucapnya.

“Seharusnya aku mengatakannya sejak awal. Demi Tuhan, Hyung. Kenapa semuanya jadi semakin rumit?” rintih Key. Ia menunduk sambil mengerang melampiaskan rasa kesal terhadap dirinya sendiri.

Hyung?

Sahutan seseorang dari balik tubuh Key sontak membuat keduanya menoleh. Disana, di depan pintu ruang latihan, Taemin dan juga Minho menatap Key dengan tatapan tak percaya. Key hanya menelan ludah. Mungkin memang takdir berpihak pada Ikha kali ini. Key merasa terpojok. Ia hanya berharap hanya Onew dan Jonghyun saja yang mengetahui kebenarannya. Tapi Taemin dan Minho….

“Katakan bahwa sebenarnya pendengaranku yang salah, Key.” Minho mendesis seraya menatap Key garang. Jelas Minho merasa bersalah pada Ikha karena bagaimana pun juga ia sempat memandang yeoja itu sebelah mata saja. Sedangkan pada kenyataannya Key lah yang bersalah.

“Jadi Hyung… Ikha Noona… Kalian berdua….” Taemin tergagap mengucapkan kalimatnya karena takut seseorang—entah itu trainee atau staff SM—masih berkeliaran di dalam gedung dan memahami pembicaraan mereka.

Key diam seribu bahasa. Kini ia tak akan mengelak lagi. Mungkin sudah saatnya mereka tahu apa yang terjadi. Ia kemudian merogoh kantung celana baggie yang dipakainya untuk mengambil ponsel. Setelah menekan speed dial, telepon tersebut tersambung menuju line yang ia tuju.

Eomma,” sapanya saat seseorang di seberang sana mengangkat telepon Key.

“Bisakah kau terbang ke Seoul besok malam? Ada yang harus kubicarakan,”

***

SATU MALAM lagi berhasil Ikha lewati dengan berbagai kesibukan. Sejak ia menjadi Asisten Public Relations di tempat kerja Appa-nya, ia jadi lebih banyak mendedikasikan waktunya untuk mengerjakan apapun yang dibebankan Sang Manager.

Yeoja itu melepas heels-nya dengan susah payah. Tujuh puluh persen tenaganya seolah sudah terserap habis untuk bekerja seharian. Ia berjalan sambil menyeret kedua kakinya sendiri. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah tempat tidur empuknya. Tidak yang lain.

“Kha-ya!” sahut Nyonya Cho dari arah ruang keluarga. Ikha hanya berdeham sebisanya seraya menghampiri Eomma-nya dan memberi sebuah kecupan manis di pipi.

“Kiriman bunga lagi,” ucap Nyonya Cho, mengarahkan bola matanya pada sebuket bunga mawar putih yang datang sore ini ke rumah mereka dan ditujukan untuknya, Cho Ikha.

Ikha meraih buket tersebut. Menautkan kedua alisnya kebingungan. “Baekjang midan? (Mawar putih?)”

Eum. Beberapa hari belakangan ini kau selalu mendapatkan sebuket mawar itu. Apa kau mendadak jadi primadona di tempat kerja Appa?” ejek Nyonya Cho kemudian mendapat cibiran dari Ikha.

Waeyo? Kalau mau, Eomma bisa menyimpannya.” Ucapnya sembari menyodorkan buket tersebut pada Nyonya Cho.

Yeoja itu berjalan menuju dapur, mengambil segelas air putih dan meminumnya dalam sekali teguk. Setelahnya ia kembali tertuju pada tempat semula, kamar kesayangannya yang hanya terpaut beberapa meter saja dari dapur. Tak lupa, buket bunga yang dipegangnya ia masukan ke dalam keranjang sampah yang berisi beberapa buket bunga lain yang ia terima beberapa hari lalu.

Tanpa membaca kartu yang terselip di antara bunga-bunga tersebut, Ikha sudah dapat menebaknya jika yang mengirim benda itu tak lain dan tak bukan adalah Kim Kibum. Key, yang selama beberapa hari belakangan ini pula selalu berusaha menghubunginya dan mengganggu pikirannya.

Gusar, akhirnya Ikha memutuskan untuk keluar dari areal rumah sejenak untuk menghirup udara malam. Biasanya hal itu cukup jitu untuk menghilangkan penat yang selalu menyelubungi otaknya. Jalanan di sekitar rumah cukup sepi. Mungkin karena jam telah menunjukkan pukul dua pagi.

Ikha memeluk tubuhnya sendiri saat merasakan angin malam menusuk kulitnya. Ia terus berjalan mengikuti trotoar sambil menunduk memperhatikan kedua kakinya yang hanya terbalut slipper yang biasa ia gunakan sebagai alas kaki di dalam rumah.

“Tidak baik jika seorang yeoja berjalan sendirian pagi-pagi buta begini,”

Langkah Ikha seketika itu juga terhenti saat mendengar sahutan suara seorang namja yang begitu khas di telinga. Tak ada orang lain yang memiliki suara seperti itu selain Key. Tanpa menoleh, yeoja itu mendengus kemudian kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.

“Sampai kapan kau akan terus menghindariku, eo?” ucap Key gusar.

Yeoja yang telah memanjangkan rambutnya tersebut sama sekali tidak bergeming. Ia tetap meneruskan langkah pelannya menyusuri trotoar sekitar rumah. Kesal, Key setengah berlari kemudian mencengkeram lengan Ikha dan membuatnya mau tak mau berhadapan dengannya.

Naega malhaneun geoya, Cho Ikha. (Aku bicara padamu, Cho Ikha).” gumam Key. Ia berusaha menahan emosi yang sedari tadi ditahannya karena yeoja bernama Cho Ikha itu terus saja menolak kehadirannya.

Ikha memasukkan kedua tangan ke dalam saku sweeter yang dikenakannya. Ia menatap Key seolah menantangnya. “Apa kau datang kemari hanya untuk memastikan kirimanmu? Tenang saja. Buket bunga darimu sudah sampai dengan baik ke dalam tong sampahku.” desisnya. “Sandiwaramu itu tidak cukup bagus, Kim Kibum. Kau harus belajar acting dari Minho jika ingin mendapatkan simpati dariku,” Ikha melanjutkan perkataannya.

Kemudian ia berusaha menepis cengkeraman Key namun namja itu lebih tangguh darinya.

Na jom bwa! (Lihat aku!)” titah Key. Kedua matanya menelisik mata Ikha seolah memancarkan kobaran api kesungguhannya. “Apa yang kau lihat ini menurutmu hanya acting belaka?”

Lagi-lagi Ikha mendengus. Kepalanya menggeleng sesekali dalam artian menganggap kata-kata Key hanya sebuah omong-kosong belaka.

Geram dengan segala penolakan yang diberikan Ikha padanya, Key sontak menarik paksa tubuh Ikha mendekat padanya seraya menyatukan bibir mereka dengan paksa. Yeoja itu mendorong tubuh Key sebisanya meski namja itu tetap bersikeras mengunci tubuh mereka satu sama lain. Agak kasar, Key melumat bibir Ikha dan menggigit bibir bawah yeoja itu cukup kencang. Ikha menggeram, mendorong tubuh Key sekuat tenaga dan berhasil menciptakan sedikit jarak antara mereka berdua.

“Kau pikir ciuman ini juga termasuk bagian dari acting-ku?” desis Key, napas-nya sedikit terengah-engah akibat ciuman tiba-tiba yang dilakukannya.

Ikha menatap Key dengan tatapan penuh kebencian. Ia mengusap bibir bawahnya menggunakan ujung ibu jari saat merasakan sedikit perih disana. Mulutnya masih bungkam meski gigi-giginya bergemeretak menahan amarah.

“Apakah kita harus melakukan lagi sesuatu yang telah kita perbuat malam itu agar kau dapat menerimaku kembali?” serang Key bertubi-tubi.

Awalnya Ikha masih mentolerir kata-kata Key karena yeoja itu memang sedang tidak ingin berdebat dengannya. Namun kalimat terakhir yang dikumandangkan namja itu benar-benar membuatnya naik pitam.

Meski setengah wajah Key terbalut syal tebal berwarna cream chocolate, Ikha masih dapat mendengar bunyi ‘plak’ yang cukup nyaring saat tangannya mendaratkan sebuat tamparan kecil pada pipi Key.

Geuman, Key.” gumamnya seraya melenggang pergi meninggalkan namja itu sendirian disana.

***

KAU YAKIN tidak ingin ikut pesta perayaan kelulusanku?” tanya Taerin di seberang line-telephone.

Ani. Pasti membosankan,” ejeknya diselingi tawa kecil.

“Mianhae. Kau pasti kecewa karena tidak berhasil lulus bersama dengan teman-teman yang lain,” ucap Taerin. Meski mereka tidak saling berhadapan, Ikha dapat menangkap perubahan nada dari suaranya.

Aniyo (Tidak juga). Aku masih bisa melanjutkan hidupku meski aku tidak lulus denganmu,” bela Ikha dan disambut oleh suara ‘wooo’ panjang dari Taerin.

“Salam untuk Eomonim. Aku akan berkunjung ke rumahmu secepatnya,” ucap Taerin.

Ikha hanya ber-oh ria kemudian menutup perbincangan mereka karena ia sudah sampai di depan rumah. Saat membuka pintu, ia disambut oleh rasa penasaran melihat sepasang sepatu James Scoot keluaran terbaru dan sepasang wedges mahal teronggok bersama dengan sendal slippery miliknya di lantai.

Ada tamu. Begitulah yang ada di pikiran Ikha.

Tanpa berpikir yang macam-macam, yeoja itu melenggang masuk ke dalam rumah dengan santai. Namun keadaan itu tidak berlangsung lama saat ia menemukan kedua orang-tuanya dan dua tamu yang hadir menatap ke arahnya dengan was-was.

Disana. Di depan Appa dan Eomma-nya. Key serta seorang yeoja yang dikenal Ikha sebagai Eomma dari Superstar tersebut berdiri dari tempat duduk saat melihat kedatangannya. Wajah mereka nampak tegang—kecuali Appa-nya yang lebih memilih untuk menunduk seperti sedang memikirkan sesuatu.

Ikha berdecak seraya memutar bola mata. Tak disangka jika Key akan mendengarkan permintaannya tersebut.

Mwohaneun geoya jigeum? (Apa yang kau lakukan?)” tanya Ikha, ketus.

“Mereka datang untuk meminta maaf,” jawab Nyonya Cho. Ia juga ikut berdiri dari tempatnya saat melihat ekspresi wajah Ikha yang sarat kebencian.

“Aku bertanya pada mereka, Eomma. Bukan padamu,” hardik Ikha, membuat Nyonya Cho semakin dilanda kecemasan. Cemas jika akan terjadi perdebatan hebat antara Ikha dan Eomma-nya Key.

Mian, Ikha-ssi. Aku mewakili Keluarga Kim meminta maaf atas perlakuanku yang buruk dan juga anakku. Aku—“

“Kukira kau datang kemari untuk memberiku sejumlah uang lagi,” potong Ikha, telak membuat tenggorokan Nyonya Kim tercekat.

“Kha-ya,”

Seketika Ikha menatap Eomma-nya saat yeoja tua itu menyahuti namanya. “Mwoya? Apa Eomma akan membela mereka? Apa Eomma lupa apa yang telah ia katakan pada kita saat kita masih berada di apartemen rongsokan itu?”

“Mereka sudah minta maaf, Cho.” Giliran Appa-nya yang mengeluarkan pendapat—meski namja tua itu masih menunduk menatap kakinya tanpa sedikitpun memandang ke arah Ikha.

Appa tidak mengerti apa yang kurasakan selama ini. Kenapa kalian begitu mudah terpengaruh hanya karena sebuah kata maaf, eo?” dengus Ikha.

Tuan Cho menegakkan kepala menatap Ikha yang matanya telah membulat sempurna menahan kesal. “Kha-ya,”

Malhae, Appa. Apa mereka memberimu cek lagi? Berapa jumlahnya? Dua kali lipat seperti yang pernah Choi Jin tawarkan dulu?” Ikha kembali menyerang Appa-nya dengan kata-kata yang sengaja menyinggung Nyonya Kim.

“Kha-ya,”

“TUTUP MULUTMU, KIM KIBUM! AKU TIDAK INGIN MENDENGAR OCEHANMU!” maki Ikha seraya mengarahkan telunjuknya pada Key, menyuruh namja itu untuk tidak mengeluarkan suaranya barang sedetik pun.

Yeoja itu kemudian berlalu menuju kamarnya. Menutup pintu cukup keras hingga terdengar bunyi debam. Nyonya Cho mencoba menyusul Ikha dan memohon pada anaknya itu untuk keluar dari kamar serta membicarakan masalah ini dengan kepala dingin. Sayangnya bukan sambutan ramah dari Ikha yang ia dapat, melainkan bunyi pecahan kaca dari dalam kamar Ikha.

***

PERLAHAN IKHA membuka kelopak matanya saat merasakan sinar matahari menembus tirai Sapphire Blue yang menutupi jendela. Diliriknya jam weker Mickey Mouse yang ada di atas meja lalu ia mengaduh tak karuan. Terlambat. Ia terlambat masuk kerja. Jarum jam terpendek menunjuk pada angka sepuluh. Kenapa ia bisa sebodoh ini?

Sambil menguap, yeoja itu keluar dari kamar menuju dapur. Saat membuka isi pendingin, ia melihat sebuah notes tertempel diantara magnet-magnet penghias pintu pendingin. Ia mencomot notes tersebut yang sengaja Eomma-nya tulis.

Ia tidak begitu terkejut saat membaca beberapa baris pertama isi pesan tersebut—yang menyebutkan bahwa Tuan Cho telah meminta izin agar ia tidak masuk kerja hari ini sedangkan Nyonya Cho pergi pagi-pagi untuk mengunjungi imonim-nya yang masuk rumah sakit karena serangan jantung.

Sayangnya baris terakhir isi pesan eomma-nya itu berhasil membuatnya tersedak. Yeoja itu meremas notes pink tersebut seraya berjalan menuju ruang tamu.

Benar seperti yang apa yang disebutkan di dalam notes. Key, berada di ruang tamu, tertidur dengan posisi duduk serta melipat kedua tangan di dada. Semalaman namja itu memutuskan untuk tidak pulang sebelum bertemu dengannya. Ikha menghembuskan napas berat seraya masuk ke dalam kamar lalu keluar dengan sebuah selimut di tangan.

Hati-hati, ia menutup sebagian tubuh Key dengan selimut tersebut. Kedua mata namja itu nampak bengkak, sepertinya ia habis menangis. Sama seperti kedua matanya saat ini—yang sama bengkaknya seperti mata Key karena semalaman ia terus mengurung diri sambil menangis melampiaskan kekesalannya.

Ikha memposisikan diri duduk disamping Key. Menyisir beberapa helai rambut namja itu dengan lembut sambil memperhatikan wajah Key yang mengusut. Key benar. Ia memang sangat bersungguh-sungguh untuk meminta maaf padanya. Dibutuhkan keberanian yang luar biasa untuk menghadap kedua orang-tuanya dan meminta belas kasihan bukan?

Saat yeoja itu sedang melamun membayangkan apa-apa saja yang dilakukan Key untuk mendapatkan perhatiannya beberapa waktu belakangan ini, tangan namja itu bergerak menggenggam jemari Ikha dengan lembut.

Ikha memutar kepala ke samping untuk menoleh padanya. Kedua mata Key masih menutup sempurna tapi organ tubuh lainnya seperti bisa bergerak sendiri. Detik berikutnya, Key menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada bahu yeoja itu. Membenamkannya sebisa mungkin untuk mencari kehangatan.

Kali ini Ikha tidak menolak. Ia terdiam membiarkan Key seperti itu.

“Mianhae,” ucap Key lirih.

Dapat ia rasakan genggaman tangan Key menguat saat namja itu mengucapkan satu kata di atas.

Ikha kembali menghembuskan napas. Melihat keadaan Key yang begitu mengenaskan ini membuatnya terkesan seperti yeoja yang tidak punya hati dan berkepala batu. Jemarinya bergerak membalas genggaman Key—meski tidak seerat yang dilakukan Key.

“Jangan membuatku berubah pikiran lagi, Key.” bisiknya.

…bersambung…

Header 01 (Cut)

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

71 thoughts on “ACCIDENT (Chapter 09)”

  1. ceritanya bagus juga rumit. Aku udh bca part 1 sampe part 9. Maksud key nyium ikha itu apa? Key cinta ma ikha? Ditunggu kelanjutannya..

  2. Woooww,,kerenn,, hehehe,, baru baca yang ini sih tapi udh mengerti samar2 kok,, akhirnya kebenaran terungkap,, penasaran sama part selanjutnnya,,,

  3. daebak onn ^^
    terharu zma perjuangannya key yg sebesar itu buat dapat maaf dari ikha…
    sampe segitunya 🙂

    nih cerita perasaan rumit ama dah…

    cepetan di lanjut yah 🙂

  4. Woooaaahhh, sepertinya kali ini bakalan minta PW lagi deh ke eonnie. ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ”̮ aigooooo key and eunhyuk itu bener bener dua namja yg bisa memikatku eonnieee …. (˘̩̩̩⌣˘̩̩̩) kenapa kita menyukai namja yg sama.
    ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ”̮ .

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s