STEP FORWARD (Chapter 04)

KEDUA INSAN itu melangkahkan kaki dengan tempo yang perlahan, menapaki jalan setapak dekat trotoar yang sengaja dibuat khusus untuk pejalan kaki. Mereka saling beradu tawa acap kali salah satu di antara keduanya menceritakan hal-hal konyol, entah tentang perilaku aneh para mentor atau tentang pengalaman lucu yang pernah mereka alami.

“Apa kau sudah mendengar desas-desusnya, Oppa?” tanya Hyoyeon, sedikit melenceng dari topik yang mereka bicarakan.

S T E P F O R W A R D

“Tentang apa?” Eunhyuk balik bertanya. Ia hanya menoleh sekilas pada Hyoyeon tanpa mengurangi pergerakan langkahnya.

“Cho Ikha,” ucap Hyoyeon, pelan namun tegas.

Sambil memeluk mantel yang sedari tadi Eunhyuk sampirkan pada lengannya, namja itu menundukkan kepala sejenak untuk menyembunyikan senyum yang ia kembangkan. Ia cukup terbiasa mendengar Hyun Joong, Nickhun atau Hongki membicarakan yeoja itu setiap kali berada di kelas. Mungkin Hyoyeon juga sama, ingin mengganti topik pembicaraan mereka dengan satu nama, yakni Cho Ikha—dari perspektif para yeoja tentunya.

Nan molla (aku tidak tahu),” jawab Eunhyuk, pura-pura tak tahu.

Hyoyeon meraih sejumput rambut blonde miliknya kemudian menyelipkannya di belakang telinga. Agak ragu ia berkata, “Beberapa hari lalu ia menghadap Lee Sajangnim. Kudengar dia akan di diskualifikasi dari musikal ini,” jelasnya.

Tanpa menunjukan keterkejutan yang kentara, Eunhyuk tetap melangkah pelan seperti sebelumnya. Untunglah kegelapan malam membantunya menyembunyikan ekspresi wajah yang sesungguhnya. “Jeongmal? (Benarkah?)”

Yeoja itu mengangguk sambil berdeham. “Katanya Lee Sajangnim tidak suka dengan sikapnya. Semua mentor mengadukannya pada Sajangnim. Kau tahu sendiri ‘kan bagaimana kelakuan yeoja itu setiap kali di kelas Leeteuk, Yesung dan juga Sungmin Kamdognim? Dia selalu membuat ulah,”

Keterangan yang Hyoyeon sebutkan di atas membuat pikiran Eunhyuk melayang-layang seketika. Ia kembali mengingat pertemuan singkatnya dengan Ikha di halte dekat gedung Sound beberapa hari lalu. Yeoja itu bilang jika ia akan berusaha untuk tidak mengganggunya lagi atau sekedar mencari perhatiannya. Apakah ia mengatakan hal tersebut karena rumor yang Hyoyeon bilang—bahwa ia akan segera di diskualifikasi?

“Kenapa Oppa tidak tanyakan langsung saja padanya?”

Suara khas Hyoyeon tiba-tiba membuyarkan pikiran Eunhyuk, membuat namja itu mengerjapkan mata untuk mengembalikan kesadarannya. Namja itu menggedikan bahu seolah tak dapat menjawab dengan pasti perihal pertanyaan terakhir dari Hyoyeon. Setelahnya, percakapan mereka sempat terhenti beberapa saat. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak dalam diam.

“Eunhyuk Oppa,” sahut Hyoyeon, berusaha menghilangan kekakuan yang timbul diantara mereka.

Ne, (Ya)”

“Benarkah sudah tidak ada lagi hubungan antara kau dengan yeoja itu?” Untuk ke sekian kalinya Hyoyeon melontarkan pertanyaan yang sama terkait hubungan Eunhyuk dengan Ikha.

Bola mata Eunhyuk berputar diselingi decakan kesal yang ditimbulkan oleh bibir tipisnya. Ia tidak suka siapa pun mengungkit-ungkit hal tersebut di depannya. “Kenapa kau terus menanyakan hal itu, Hyoyeon-ah? Haruskan kuulangi lagi apa yang sudah kita bicarakan beberapa waktu lalu?”

Ani. Aku tidak bermaksud untuk mengorek masa lalumu, Oppa. Hanya saja… Cho Ikha sepertinya masih mengharapkanmu,” Hyoyeon segera mengklarifikasi perkataannya alih-alih membuat Eunhyuk semakin nampak kesal.

“Kalau begitu kau bisa tanyakan padanya langsung untuk mendapatkan jawaban pasti. Setiap kali kami bertatap muka, kami hanya sekedar menyapa dan menanyakan beberapa hal yang tidak penting.” akunya. Kali ini Eunhyuk menghembuskan nafas, mencoba bersikap lebih tenang. “Waeyo? (Ada apa memangnya?)” imbuh namja yang mengecat rambutnya menjadi putih tersebut.

Hyoyeon menggelengkan kepala. Bibirnya mengerecut sambil menundukkan kepala.

“Tidak apa. Jujur saja padaku, Hyoyeon-ah.” desak Eunhyuk.

Yeoja itu menegakan kepala. Ia sempat berdeham beberapa detik, menimang-nimang apakah ia harus mengajukan pertanyaan bodoh selanjutnya atau tidak. Hingga akhirnya, “Mmm, menurut Oppa, siapa yang lebih menarik antara kami berdua? Cho Ikha atau aku?”

Tawa renyah Eunhyuk seketika menggema di tengah hiruk-pikuk suara-suara di sekelilingnya. Hyoyeon menatap Eunhyuk keheranan, sepertinya ia salah memilih pertanyaan. Meski tak lagi tertawa, namja itu kini tersenyum sambil menampakkan pink-gummy yang selalu menjadi ciri khas-nya.

“Kalian memiliki kharisma dan aura tersendiri. Kau sangat attractive dan periang sedangkan Ikha, meskipun ia begitu dingin dan ketus pada orang-orang, ia memiliki sisi lain yang membuatnya menjadi pusat perhatian. Dia tidak cantik tapi menarik. Dia tidak seksi tapi cukup mampu menggugah hasrat para namja untuk mendekatinya. Sisi misterius-nya itulah yang membuat orang-orang semakin ingin mengetahui kepribadiannya lebih jauh.” Tutur Eunhyuk.

Hyoyeon terdiam. Kali ini ia tak lagi mengomentari atau sekedar memberi tanggapan pada kata-kata Eunhyuk. Penjelasan namja itu cukup memberinya jawaban pasti. Jelas, Ikha lebih menarik ketimbang dirinya. Eunhyuk hanya memberi dua kata saja saat menyebut sisi menarik dari dirinya, sedangkan ia menjelaskan panjang-lebar tentang Ikha—si penyandang gelar ‘mantan kekasih’-nya.

“Tenang saja, kau tetaplah teman sekaligus dongsaeng-ku yang terbaik,” ucap Eunhyuk, memberi imbuhan pada pernyataannya saat menyadari perubahan raut wajah Hyoyeon.

Salah satu tangan Eunhyuk meraih puncak kepala Hyoyeon kemudian mengusapnya perlahan. Yeoja itu tersenyum seraya memamerkan gigi kelincinya. Meskipun agak kecewa, ia tetap bersyukur karena Eunhyuk masih mau menerima kehadirannya—sebagai teman.

***

JAM TANGAN ROLEX yang melingkar manis pada salah satu pergelangan tangan Kai tak luput dari perhatiannya sedari tadi. Kelas menari sudah dimulai satu jam yang lalu sedangkan pasangan duetnya masih belum menampakan batang hidungnya.

Hari ini adalah hari yang cukup penting karena Leeteuk Kamdognim, Yunho Kamdognim, dan Lee Juno Sunbaenim datang ke kelas tari untuk melihat hasil kerja mereka—sekaligus memberi penilaian—selama membentuk dan menciptakan strong-step dance yang Leeteuk suruh dua minggu lalu.

Kai sempat tenang saat melihat lawan mereka tidak melakukan tarian dengan begitu baik. Yoona begitu bergairah menari salsa tapi Hyun Joong seperti pria tua berumur lima puluhan yang tidak semangat melakukan gerakan. Gerakan ballet yang dilakukan Lee Joon juga tidak seimbang dengan keseksian Hyorin. Hongki dan Min? Aigoo, tarian mereka lebih tepat untuk menghibur penonton di acara Gag Concert. Hip-hop dance yang Hyunseung lakukan tidak sinkron dengan kekakuan Nana.

Semua kacau. Tidak ada team work. Hanya performance Taemin-Suzy dan Khuntoria saja yang bagi Kai patut diacungi jempol. Sisanya berantakan.

Kai menggerakan kedua tangannya membentuk tanda T pada Leeteuk saat Mentor-nya itu menyuruhnya untuk show-up. Karena Ikha masih tak kunjung datang, akhirnya Eunhyuk-Hyoyeon maju lebih awal. Kai terus menggerutu dalam hati, Ikha tidak bisa dihubungi dan pesannya tak kunjung terkirim.

Selang beberapa detik, pintu ruang latihan terbuka dan sosok Ikha muncul dari balik daun pintu. Yeoja itu tidak langsung menghampiri Kai, ia malah berjalan menuju deretan mentor yang tengah mengarahkan pandangan padanya.

Neujgettkkaji? (Terlambat lagi?)” sindir Leeteuk.

Jweosonghamnida, Kamdognim. Ada kuliah pengganti dan aku tidak bisa meninggalkan kelas,” ucap Ikha dengan nada santai. Ia sempat membungkuk pada ketiga mentor untuk sekedar memberi hormat.

Leeteuk, yang semula sudah siap dengan segala makian, segera mengurungkan niatnya saat Ikha mengucapkan kata maaf. Entah kenapa dengan kata maaf dan cara Ikha membungkuk tersebut justru membuat amarahnya melumer. Ia mencuri pandang pada Yunho dan Lee Juno Sunbaenim yang tidak begitu kentara menganggukan kepala. Mengisyaratkan Leeteuk untuk memberi Ikha kesempatan.

“Bersiap-siaplah. Setelah ini kau dan Kai harus tampil,”

Tubuh Ikha kembali membungkuk 90˚ pada Leeteuk saat namja itu menyuruhnya untuk bersiap-siap. Segera saja ia menghampiri Kai yang tengah duduk di lantai dan bersandar pada dinding dengan tatapan mata yang begitu tajam padanya.

“Kau berhasil membuatku khawatir,” dengus Kai kemudian mulai merutuki Ikha tentang betapa sulitnya menghubungi yeoja tersebut melalui ponselnya.

Mian. Aku tidak tahu jika ada kelas tambahan di kampus. Setidaknya kita masih diberi kesempatan untuk tampil,” bela Ikha disela kegiatannya mengenakan heels tujuh centimeter—mengingat mereka akan menari tango pada penampilan berikutnya.

“Lee Seuseungnim (Mentor Lee) hampir saja mendiskualifikasi kita,” oceh namja yang lebih muda empat tahun darinya tersebut.

“Tidak akan. Trust me,” ucapnya, menenangkan Kai.

Sambil melakukan pemanasan, Ikha memperhatikan penampilan Eunhyuk bersama dengan Hyoyeon. Tepat sesuai dugaannya, pasangan duet itu memadukan popping, shuffle dance dan juga hip-hop untuk tema kali ini—dan ia sangat bersyukur karena tidak ada skinship antara keduanya.

Kini tiba giliran Ikha dan juga Kai untuk tampil. Keduanya menghembuskan nafas bersama-sama seolah ada beban berat yang menumpuk di bahu mereka. Kai dan juga Ikha telah siap pada posisi masing-masing. Ketika alunan musik mulai terdengar, perlahan mereka mulai bergerak mengikuti musik tersebut.

Semua memperhatikan tanpa berkedip saat Ikha dan Kai sedikit demi sedikit mempercepat tempo mereka melakukan tarian tango. Permainan kaki serta tubuh mereka begitu sinkron hingga membuat para trainee berbisik menyebut kata ‘wah’.

Berbeda dengan yang lain, Eunhyuk dan Hyoyeon lebih memilih diam tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Yeoja itu melirik pada namja yang ada di sebelahnya dengan hati-hati. Benar, Eunhyuk nampak tegang. Apalagi ketika Kai mengangkat tubuh Ikha dan berputar 360˚ sambil mempererat tubuh mereka, namja berambut putih tersebut memutar bola matanya ke arah lain selama beberapa detik sebelum kembali melihat aksi Ikha.

Riuh tepuk tangan kembali terdengar kala Kai dan Ikha mengakhiri tarian mereka dengan gerakan dimana namja itu menahan tubuh Ikha yang terbujur lurus agar tidak jatuh ke lantai sementara wajah mereka hanya terpaut beberapa centimeter saja. Untuk sentuhan terakhir, Kai mendekatkan wajahnya dan memberi sebuah kecupan singkat pada bibir Ikha, membuat kelas menjadi semakin berisik seperti di pasar tradisional.

Ketiga mentor bahkan tercengang dengan penampilan pasangan duet tersebut yang benar-benar di luar ekspektasi mereka. Kai dan juga Ikha berhasil memperkenalkan gerakan tango yang lain dari biasanya.

Oppa,” bisik Hyoyeon pada Eunhyuk yang masih tak berkedip menatap Kai dan Ikha yang tengah dikelilingi para trainee yang memuji penampilan mereka.

“Penampilan yang menarik,” ucap Eunhyuk, tersenyum hambar.

***

HARI SUDAH BERGANTI malam. Langit kini berubah gelap dan dihiasi oleh gemerlap bintang-bintang serta cahaya rembulan. Eunhyuk sengaja tidak langsung pulang saat kelas tari berakhir. Ia butuh waktu untuk menyendiri.

Namja itu berjalan menuju kantin yang ada di lantai dua gedung Sound. Tempat itu tidak begitu ramai seperti biasanya. Mungkin karena Donghae sedang mengerjakan proyek musikal Jack The Ripper bulan ini, jadi beberapa aktor dan aktris musikal tengah berkumpul di tempat pementasan.

Saat Eunhyuk masuk ke dalam kantin mewah tersebut, ia sempat mengamati sosok seseorang tengah duduk sendirian di balkon kantin. Setelah meletakan sepiring kecil Dak Galbi, Toppokki dan salad buah pada nampan, namja itu memutuskan untuk menghampiri sosok tersebut.

Cho Ikha, yeoja yang telah begitu lama dikenalnya, duduk dengan santai dimana kedua kakinya ia letakkan pada kepala kursi lain hingga sejajar dengan tubuhnya. Yeoja itu sedang mengamati langit hitam sambil sesekali menghisap sebatang rokok yang terselip diantara jemarinya.

Ia menoleh saat Eunhyuk meletakan nampan di atas meja. Namja itu menyeret salah satu kursi dan meletakannya tepat disamping Ikha, membuat kedua alis yeoja dengan rambut ikal tersebut membentuk gelombang.

“Kau ingin mengucapkan selamat?” sahut Ikha, menyambut kedatangan Eunhyuk yang sangat tiba-tiba dan di luar dugaannya.

“Tidak,”

Ikha menepuk-nepuk batang rokok pada asbak kotak yang tersedia di atas meja saat abu pada ujung batang semakin memanjang. Ia hampir menghisap sebagian benda tersebut.

“Lalu?”

“Aku tidak suka melihatmu bersama Kai,” ujar Eunhyuk kemudian meneguk strawberry juice yang diambilnya dari deretan minuman pada tempat yang telah disediakan oleh koki.

Ikha mendengus seraya tersenyum tipis. Kepalanya ia sandarkan pada punggung kursi untuk merilekskan tubuh yang berubah tegang saat Eunhyuk menghampirinya.

“Kami hanya rekan duet. Sama seperti kau dengan Hyoyeon,” balas Ikha, bersikap sedatar mungkin.

Gelas juice yang Eunhyuk pegang ia letakan di atas meja. Ia sama sekali tak berekspresi. Disampingnya, Ikha masih tetap memfokuskan diri pada langit hitam tersebut. Sialnya, saat mengamati Ikha, Dak galbi dan juga toppoki yang ada di hadapannya kini tak lagi menggugah selera makannya.

“Ternyata kau sangat serius dengan kata-katamu,” ucap Eunhyuk sambil mencomot toppoki terkecil lalu memasukannya ke dalam mulut dengan malas.

Eunhyuk kembali mengingat statement Ikha saat yeoja itu bilang bahwa ia tidak akan mengganggunya lagi. Dan memang benar, beberapa hari ini Ikha sama sekali tak mengganggu atau sekedar muncul di depan matanya.

“Bukankah itu lebih baik?” Ikha kembali menghisap batang rokok, yeoja itu sengaja memainkan lidah dan juga bibirnya hingga kepulan asap rokok yang keluar dari mulutnya terbentuk seperti donat.

Gemas melihat kelakuan Ikha yang sedari tadi terus saja mengepulkan asap rokok yang tak disukainya, Eunhyuk secara paksa merampas batang rokok dari tangan Ikha kemudian menekan ujungnya pada asbak untuk mematikan sulut api.

“Sejak kapan kau merokok?” ketus Eunhyuk.

“Sejak kau meninggalkanku,” jawab Ikha, terselip nada ejekan pada kata-katanya.

“Aku serius,” rutuk Eunhyuk.

“Aku juga,” Ikha tak mau kalah.

Eunhyuk kembali memasukan sepotong toppokki ke dalam mulutnya kemudian menelan bulat-bulat. Melihat bahwa Eunhyuk tak lagi bertanya, yeoja itu akhirnya mengambil cardigan yang semula ia sampirkan pada punggung kursi dan meraih tas ransel kebanggaannya.

“Jika tak ada yang ingin kau bicarakan, aku pergi.”

Baru saja Ikha menurunkan kakinya dari kursi dan belum sempat beranjak dari tempatnya, Eunhyuk menahan Ikha dengan menggenggam pergelangan tangan yeoja itu sebisanya.

“Aku belum selesai bicara,” tahan Eunhyuk. Matanya menelisik kedua manik mata Ikha, seolah-olah ia berbicara pada yeoja itu untuk tidak pergi—setidaknya untuk saat ini.

“Kau tidak mengucapkan selamat karena aku dan Kai terpilih menjadi trainee terbaik. Jadi sekarang apa maumu?”

Skinship-mu itu terlalu berlebihan. Untuk apa namja ingusan itu menciummu saat perform di kelas tari? Di depan para trainee, di depan sunbaenim dan di depan para mentor. Apa kau tak punya malu?”

Bola mata Ikha berputar seraya berdecak pelan. Ingin rasanya ia menepis tangan Eunhyuk yang terus mengunci pergelangan tangannya agar ia tidak kemana-mana, tapi yeoja itu tetap membiarkan Eunhyuk melakukan hal tersebut dan lebih memilih mengeluarkan desah nafas gusarnya.

I’m free and single, you know? Aku bisa mencium lelaki mana pun sesuka hatiku. Bukankah kau juga selalu melakukannya dengan yeoja lain? Sepertinya Hyoyeon tertarik padamu. Kulihat kalian berdua cukup akrab. Apa saja yang sudah kalian berdua lakukan tanpa sepengetahuan orang lain? Pergi berkencan?”

“Cukup, Cho Ikha!”

Tanpa rasa takut atau canggung, Eunhyuk membentak Ikha saat yeoja itu mulai mengucapkan kata-kata ngawur seolah-olah ia adalah bad-boy kelas kakap. Namun bentakan Eunhyuk sepertinya tak berpengaruh sedikit pun. Ikha justru menepis genggaman Eunhyuk seraya beranjak dari tempatnya hingga menciptakan jarak ± satu meter dari tempat namja tersebut.

“Kau sudah cukup lama tinggal di New York. Kota besar seperti itu pasti membuatmu semakin bebas disana. Aku masih ingat ketika dulu kau terus saja melakukan skinship untuk membuatku luluh. Apa kau juga melakukan hal yang sama pada yeoja-yeoja lain? Tsk, tak kusangka jika kau—“

Kalimat Ikha terhenti begitu saja ketika Eunhyuk beranjak dari tempatnya dan bergerak menghampiri Ikha hingga kursi yang didudukinya terjungkal ke belakang. Detik berikutnya, Eunhyuk segera melingkarkan satu tangannya pada pinggang Ikha sementara tangannya yang lain bergerak mengarahkan wajah yeoja itu pada wajahnya.

Hanya sepersekian detik saja, akhirnya Eunhyuk berhasil menyatukan bibir mereka. Namja itu melumat bibir Ikha beberapa kali sambil meremas pinggang yeoja itu seolah sedang menyalurkan kekesalannya.

Ikha menahan nafas seketika itu juga. Ia mencoba berpikir jernih dan mengontrol libido-nya agar tidak membalas ciuman Eunhyuk meski kecupan serta lumatan yang namja itu berikan justru membuatnya semakin menggila saat ini.

Setelah cukup puas mencumbunya, Eunhyuk melepaskan tautan bibir mereka sambil menatap bibir Ikha yang memerah akibat perlakuannya.

“Kau memang selalu banyak bicara,” bisik Eunhyuk.

Ikha menelan ludahnya sesaat ketika merasakan tenggorokannya begitu tercekat sehingga tak mampu membuatnya mengucapkan satu patah kata pun. Ia tak berani beradu kontak mata dengan namja yang telah menciumnya barusan, jadi arah matanya hanya tertuju pada bibir tipis Eunhyuk yang entah kenapa terlihat begitu menggoda malam ini.

“Jika kau berani melakukannya lagi dengan anak ingusan itu, kau akan menyesal.” Eunhyuk bergumam seraya menjauh dari tubuh Ikha dan beranjak pergi meninggalkan yeoja itu sendirian di balkon kantin.

Sepeninggalan Eunhyuk, Ikha masih mematung sambil menggigit bibir bawahnya sendiri. Kemudian ia memperhatikan punggung Eunhyuk yang semakin menghilang dari pandangan. Yeoja itu menyeringai. Ujung telunjuknya bergerak mengusap permukaan bibirnya yang masih terasa seperti menit sebelumnya—berciuman dengan namja gummy-smile tersebut.

Sambil berjalan menuju meja, senyum yeoja itu mengembang tatkala mengingat kejadian yang cukup membuat jantungnya berdebar hebat. Ia menusukkan garpu yang ada di atas nampan—yang Eunhyuk tinggalkan—pada sepotong strawberry di dalam salad. Buah itu agak asam di lidahnya namun yeoja itu tetap bergumam menikmatinya.

Mmm, it’s sweet,” bisiknya sambil menjilat bibirnya sendiri.

***

AKU BARU TAHU kalau kau pintar menari,” puji Kai di tengah kegiatannya memainkan PSP yang baru saja dibelikan hyung-nya, Lee Donghae.

Na ddo (aku juga). Tak disangka kau bisa membuat gerakan sebagus itu,” Ikha balik memuji. Harus ia akui bahwa kemampuan Kai dalam merancang sebuah tarian benar-benar seperti seorang genious.

Yeoja itu menatap Kai sebentar kemudian kembali berkutat dengan notebook-nya. Karena bosan dengan suasana rumah—belum lagi kelakuan Kyuhyun yang selalu saja mengganggu ketenangannya, Ikha memutuskan untuk pergi ke gedung Sound. Sengaja untuk mencari ketenangan dalam mengerjakan tugas kampus.

Tak disangka jika kedatangannya ke gedung Sound justru membuatnya bertemu Kai di kantin lantai enam. Walhasil, yeoja itu akhirnya duduk satu meja setelah Kai memintanya dengan setengah memaksa.

Noona,” sahut Kai, agak bergumam karena lehernya tertekuk saat bermain PSP.

“Hmm,”

Kai menghentikan permainannya sejenak kemudian melipat kedua tangannya di atas meja. “Tentang kejadian kemarin lusa…”

Namja berambut hitam tersebut sengaja menggantungkan kalimatnya karena takut jika topik yang akan ia bahas membuat Ikha sedikit sensitif. Namun ia salah terka. Yeoja yang selalu dipanggilnya ‘noona’ itu malah menyeringai tak jelas. Bahkan Ikha menjulurkan satu tangannya untuk meraih puncak kepala Kai kemudian mengacak rambutnya gemas.

Gomawo,” tuturnya.

Kai menggaruk tengkuk—yang sama sekali tak terasa gatal—setelah Ikha memperlakukannya seperti anak kecil. Untunglah kulit namja itu lebih gelap jika dibandingkan dengan kembarannya. Jadi Ikha tidak mudah mendeteksi rona merah yang kini terpancar di kedua pipinya.

“Kau tidak marah sama sekali?” selidik Kai.

Sambil memainkan jemarinya di atas keyboard, Ikha berkata, “Bukankah aku yang memintamu untuk menciumku?”

Nde (ya). Tapi… kau melakukan hal itu untuk membuat seseorang cemburu. Benar ‘kan?”

Ikha menghentikan aktivitasnya sejenak untuk menatap Kai yang kini tengah menopang dagu. Image Kai yang selalu angkuh tersebut seketika menghilang saat ia melihat ekspresi kekanak-kanakan yang namja itu tunjukkan.

“Kau sudah menyetujui hal itu sebelumnya. Jadi jangan tanyakan hal-hal semacam itu lagi padaku. Wae? Menyesal karena telah menciumku, eum?” gumam Ikha, sengaja menurunkan nada suaranya untuk menggoda Kai.

Kai kembali salah tingkah. Kali ini ia memilih untuk menutup mulut dan tak lagi menanyai perihal ciuman yang telah mereka perbuat beberapa hari lalu di kelas tari. Kai sama sekali tidak mempermasalahkan apa yang menjadi alasan Ikha menyuruh untuk menciumnya dan menjadikan adegan itu bagian dari tarian mereka. Hanya saja, ciuman itu adalah ciuman pertamanya dengan lawan jenis selama ia hidup delapan belas tahun di dunia. Ya, Ikha yang telah merenggut ciuman pertamanya.

“Kuharap kekasihmu tidak akan mengancamku karena telah merenggut ciumanmu,” ejek Ikha, matanya masih terfokus pada layar notebook.

Eobseoyo (Aku tidak punya kekasih),” ucap Kai, berbisik lebih tepatnya.

Meski berbisik, ternyata kata-kata Kai masih terdengar jelas oleh indera pendengaran Ikha. Yeoja itu tersenyum jahil kemudian kembali menggodanya. “Oh, aku lupa kalau kau seorang namja angkuh. Tidak ada seorang yeoja pun yang berani mendekatimu,”

Kai mencibir. Ia berpura-pura melempar PSP ke arah Ikha meski dalam hati ia begitu berterima kasih pada yeoja itu. Ia masih normal seperti namja lain. Terbukti ketika ia mengecup bibir Ikha, jantungnya sempat berdetak tak karuan.

“NOONA!”

Teriakan seseorang dari arah pintu kantin membuat perhatian Ikha dan Kai tertuju pada si sumber suara. Ternyata pemilik suara itu tak lain dan tak bukan adalah Lee Taemin. Kembaran Kai sekaligus teman duetnya di kelas menyanyi.

Ya! Untuk apa kau datang kemari, eo? Mengganggu saja!” rutuk Kai saat Taemin dengan sumringahnya menghampiri Ikha dan duduk disamping yeoja tersebut.

“Kau harus jauh-jauh darinya, Noona. Dia itu berbahaya,” cibir Taemin.

“Kau iri karena aku telah menciumnya ‘kan?”

Anio. Aku bisa melakukannya jika aku mau,”

Ikha menatap Taemin dan Kai satu per satu saat sepasang manusia kembar itu saling beradu argumen.

“Ada apa, Taemin-ie? Bukankah jadwal kita latihan menyanyi itu baru besok lusa?” tanya Ikha dan berhasil membuat keduanya menghentikan perdebatan mereka.

Taemin melirik penuh hinaan pada Kai yang tepat duduk di hadapannya. “Aku hanya merasa bahwa aku harus melindungimu dari namja ini, Noona.”

“Hei, kalian itu saudara kembar. Harusnya kalian lebih kompak dan akur satu sama lain,” ucap Ikha disertai tawa ringannya.

“Boleh aku ikut bergabung?”

Suara lain kini kembali mengalihkan perhatian Ikha.

Hyung!” sahut Kai dan Taemin bersamaan ketika melihat Donghae tengah berdiri di belakang punggung Ikha sambil memegang secangkir macchiato di tangan.

Saat mendengar sahutan Kai dan Taemin itulah, Ikha baru menyadari bahwa dua namja kembar itu begitu kompak menyahuti Donghae, hyung mereka. Donghae menarik kursi kosong di hadapan Ikha kemudian duduk di atasnya setelah menepuk pundak Taemin dan Kai.

“Kudengar kau membuat ulah lagi di kelas tari,” ucap Donghae seraya meneguk macchiato-nya.

“Bukan ‘ulah’, Hyung. Tapi skandal!” Taemin mengoreksi kata-katanya.

Donghae tersenyum memamerkan gigi-giginya kemudian mengacak rambut Kai. Namja itu mengaduh sambil menepis tangan Donghae, Hyung-nya itu berhasil membuatnya  tidak bisa konsentrasi memainkan Starcraft pada PSP.

Great Job. Kau berhasil membuktikan pada para mentor-mu bahwa aku tidak salah memilih kandidat,” puji Donghae pada Ikha.

Yeoja itu meng-hibernate notebook-nya terlebih dahulu sebelum menanggapi pujian dari CEO agency tersebut. “Aku melakukan hal ini atas dasar keinginanku sendiri. Tak ada sangkut-pautnya denganmu,” elaknya. “Tapi, terima kasih. Kau telah mempercayaiku,” imbuh Ikha dan disambut oleh senyum tipis dari namja yang memang memiliki senyum mematikan tersebut.

“Oh, Kai. Akhirnya kau berhasil mencium seorang yeoja. Bagaimana ciuman pertamamu?” Giliran Kai yang menjadi target Donghae kali ini.

Namja itu kembali mengaduh karena Donghae malah membuka kartu AS yang ia simpan dengan baik tersebut. “Aissh, kau ini menyebalkan sekali!” gerutunya.

Taemin dan Ikha—tak lupa dengan Donghae—tergelak mendengar gerutuan Kai yang terdengar seperti ocehan anak berumur tujuh tahun tersebut. Mereka tak sadar jika seseorang tengah memperhatikan keakraban mereka tak jauh dari sana.

Sebelum orang tersebut benar-benar pergi, Ikha sempat menangkap sosok tersebut kemudian memohon diri pada Donghae dan kedua adiknya itu untuk pergi sejenak—dengan alasan pergi ke toilet tentunya. Ikha merasa bahwa ia harus mengejar sosok tersebut. Jika tidak, mungkin akan terjadi kesalahpahaman yang membuat hubungannya dengan sosok itu semakin renggang.

***

AWALNYA IKHA sempat kewalahan mencari sosok Eunhyuk yang ditangkapnya tengah memperhatikan perbincangan mereka di kantin. Namun saat ia mendengar dentuman lagu Chris Brown bertajuk Because of You di dalam ruang tari di lantai yang sama, ia sudah menerkanya jika akan ada Eunhyuk di dalam sana.

Ikha meraih kenop pintu tersebut lalu membukanya lebar-lebar. Ia mendapati Eunhyuk tengah menari dengan lihai-nya mengikuti irama lagu tersebut. Namja itu sama sekali tidak menghentikan gerakannya kecuali saat Ikha mendekati seperangkat home theater yang ada di dalam ruangan lalu menekan salah satu tombol hingga membuat musik seketika terhenti.

Eunhyuk memperhatikan Ikha dari balik cermin besar yang ada di hadapannya sambil berkacak pinggang. Nafasnya sedikit terengah-engah.

“Kenapa kau tidak melanjutkan santapan sore-mu dengan para namja dari Keluarga Lee itu?” sengit Eunhyuk kemudian meraih handuk yang tersampir pada tiang besi untuk menyeka peluhnya.

“Aku lebih tertarik dengan Dokter Lee yang ada di depanku saat ini,” ujar Ikha sambil menyandarkan tubuh pada dinding dekat home theater. Matanya masih dengan liar memperhatikan Eunhyuk yang nampak mempesona meski hanya dengan T-Shirt hitam ketat dan celana linen selutut yang dikenakannya.

“Kenapa kau datang ke sini, Oppa? Bukankah hari ini hari Sabtu?” Ikha kembali bertanya.

Eunhyuk mendengus seraya melempar handuknya sembarangan. “Wae? Tak disangka jika aku berhasil memergoki kalian sedang berbagi tawa?”

“Jika aku tahu kau kemari hari ini, aku lebih memilih untuk berduaan saja denganmu ketimbang dengan mereka.”

Lagi-lagi Eunhyuk mendengus. Tas sport Adidas -nya ia sampirkan pada satu bahu, bersiap untuk pergi. “Kalau kau pikir aku akan tersanjung dengan kata-katamu, jawabannya adalah ‘tidak’.” ketusnya.

Sebelum Eunhyuk benar-benar keluar dari ruangan tersebut, Ikha telah terlebih dulu mencapainya kemudian menutup daun pintu dengan kasar, menghalangi Eunhyuk untuk tidak pergi dari sana.

“Aku sangat suka dengan ciumanmu kemarin lusa,” ucap Ikha, sedikit memuji dengan apa yang Eunhyuk lakukan padanya.

Namja yang tengah berdiri satu meter dari Ikha itu memutar bola mata seraya mendengus pelan. “Apa kau sedang menggodaku, Cho Ikha?”

Ikha tersenyum sambil mengangkat sebelah alisnya. “Mmm, sedikit.” jawabnya, mengucapkan kata itu dengan penuh aegyeo.

Ia kembali melanjutkan, “Kau selalu menggodaku saat kita masih bersekolah di Inha. Jadi kuanggap apa yang sedang kulakukan saat ini sebagai balas budi atas perbuatanmu padaku dulu,”

“Dengar, Cho Ikha. Aku bukanlah Lee Hyuk Jae yang pernah kau kenal dulu. Menyingkirlah,” Eunhyuk bergerak mendekat padanya seraya meraih kenop pintu.

Ikha menekan pintu yang hampir terbuka menggunakan punggungnya saat Eunhyuk berusaha menarik kenop tersebut. Jarak antara keduanya sekarang begitu dekat. Eunhyuk bahkan harus menunduk saat menatap kedua bola mata yeoja itu—berhubung tubuh Ikha tidak begitu tinggi.

“Apa kau selalu bertindak kasar setelah mencium seorang wanita?” gumam Ikha. Kedua tangannya yang semula ia sembunyikan di balik punggungnya kini bergerak meraih kedua lengan kekar Eunhyuk, menarik tubuh namja itu agar mendekat padanya.

“Sejak kapan kau menjadi yeoja genit seperti ini?” tanya Eunhyuk, masih berusaha untuk tetap menjaga jarak meski nalurinya berkata lain.

“Sejak kau mengambil ciuman pertamaku,” bisik Ikha seraya menggerakkan jemarinya menyusuri tulang belikat namja bertubuh skinny tersebut.

Eunhyuk hanya terdiam, memonitor apa yang akan Ikha lakukan selanjutnya. Buah jakun yang ada pada lehernya sempat bergerak naik-turun ketika namja itu menelan ludah menahan hasrat untuk tidak memeluk Ikha, yeoja yang sebenarnya telah membuatnya tidak bisa terlelap setiap malam.

“Aku senang karena kau cemburu,” Ikha bergumam sambil tetap memainkan jemarinya pada dada bidang Eunhyuk. Senang rasanya bisa mencium wangi maskulin khas tubuh namja itu setelah sekian lama. “Aku tidak tahu apa permasalahanmu dengan namja-namja bermarga Lee itu, yang jelas aku begitu menyukai kecemburuanmu ini.” ucapnya, menyambung kalimat sebelumnya.

“Cho Ikha,” ucap Eunhyuk, tak kalah bergumam.

Ikha berdeham pelan menjawab sahutan Eunhyuk.

“Izinkan aku pergi,”

Ikha sengaja mendongakkan kepala agar dapat bertatapan dengan Eunhyuk yang notabene lebih tinggi darinya. Senyumnya mengembang. Senang karena bisa sedekat ini dengan namja yang tak pernah ia lupakan selama ini.

“Kenapa kau jadi lemah begini, Lee Hyuk Jae? Kau selalu menolakku dengan tegas sebelumnya,” tutur Ikha.

Eunhyuk menggenggam kedua tangan Ikha lalu menuntunnya agar tak lagi menggerayangi tubuhnya. “Sepertinya aku terlalu termakan gossip yang beredar di antara para trainee—yang menyebutkan bahwa kau akan segera didepak dari agency ini. Tapi melihat kedekatan kalian malah membuatku salah mengira,”

“Jadi… karena rumor itu makanya kau sedikit lunak padaku?” ulang  Ikha, membuat kesimpulan dari pernyataan Eunhyuk.

Namja itu tak menanggapi kata-kata Ikha. Ia kembali menarik kenop pintu meski lagi-lagi yeoja itu menahan tubuhnya agar pintu itu tetap menutup.

“Apa yang kau inginkan dariku, Cho Ikha?” dumal Eunhyuk pada akhirnya.

Yeoja itu menyeringai. Bola matanya bergerak menatap bibir tipis Eunhyuk yang begitu ia sukai kemudian beralih kembali pada kedua mata namja itu. “Kau tahu apa yang kuinginkan,”

“Aku tidak sedang main-main, Cho Ikha.”

“Kau pikir aku sedang main-main, eum?” godanya. Satu tangan Ikha kembali mengalung pada lengan Eunhyuk. Sengaja agar namja itu tidak menjauh. “Kalau kau bisa melakukannya kemarin, kenapa kau tidak bisa melakukannya sekarang?”

Eunhyuk memundurkan tubuhnya beberapa langkah ke belakang, memberi jarak agar Ikha tidak menyerangnya lebih dulu. Kemarin ia memang menciumnya karena geram melihat yeoja itu berciuman dengan Kai di depan khalayak. Oke, apa yang terjadi antara Ikha dan Kai memang hanya bisa disebut sebuah kecupan singkat. Namun tetap saja, bibir mereka bersentuhan.

Ikha mungkin tak tahu apa yang Eunhyuk alami saat ini. Namja itu begitu menginginkan Ikha sejak pertama kali mereka bertemu di kelas Leeteuk. Sama seperti yang Ikha rasakan, Eunhyuk juga merindukan sosok Ikha yang sengaja ia hindari selama tiga tahun tersebut. Sialnya, Ikha selalu saja membuat benteng pertahanannya runtuh. Apalagi dengan keadaan seperti ini.

“Hanya satu ciuman. Setelah ini aku tidak akan menuntut apa-apa lagi. Okay?” pinta Ikha.

Eunhyuk menghembuskan nafas beratnya sesaat. Tas yang semula ia sampirkan pun jatuh ke lantai begitu bahunya yang menegang menjadi terkulai lemah. Ia mengibaskan poni rambut sejenak sebelum akhirnya menggerakan tangan, menyuruh yeoja itu mendekat padanya.

Ikha menyambut ajakan Eunhyuk dengan semangat. Seiring tubuh Ikha yang kian mendekat, Eunhyuk segera mencium bibir yeoja itu tanpa ragu. Berbeda dengan beberapa hari kemarin, kali ini Ikha membalas ciuman namja itu dan menyeimbangi gerakan bibir Eunhyuk yang begitu lihai mencumbunya.

Di sela-sela ciuman mereka, Ikha tersenyum sambil mengeratkan tubuhnya dengan tubuh Eunhyuk. Meski namja itu tidak berucap, ia tahu bahwa Eunhyuk juga merasakan hal yang sama. Eunhyuk merindukannya, begitu pula dengannya yang juga merindukan sosok namja tengil tersebut. Ciuman Eunhyuk menyiratkan segalanya. Segala yang tak diketahuinya…

Cukup lama kedua insan tersebut berbagi kecupan dan sentuhan, Ikha mengira bahwa Eunhyuk akan segera mengakhirinya. Namun namja itu hanya memberi jeda beberapa detik untuk mengambil napas, setelahnya mereka kembali berciuman.

Saking terbawa suasana, mereka tidak menyadari jika seseorang dari balik pintu ruangan tersebut tengah mendengarkan dengan seksama apa yang mereka perbuat sejak tadi. Mulai dari perbincangan mereka, hingga suara decakan yang mereka timbulkan saat berciuman.

Orang tersebut mengintip sebisanya dari celah pintu. Dadanya semakin sesak kala mendapati Eunhyuk tengah mencium Ikha dengan penuh gairah. Yeoja itu juga sama, terlihat begitu menikmati apa yang dilakukan Eunhyuk padanya. Sambil menahan genangan air yang kian membendung kedua matanya, orang itu segera beranjak dari tempat tersebut. Semakin lama ia berada disana, maka semakin perih pula lubang di hatinya kecilnya. 

…bersambung…

copy-header.jpg

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

104 thoughts on “STEP FORWARD (Chapter 04)”

  1. Ya Tuhan aku tidak mnyangka tidak menyangka ff beginian di post pas bulan ramadhan. gak ngebayangin da gmna jadinya puasa aku kalo baca ff beginian. ini aja geter2 akunya gegara bayangin bibirnya hyukjae *yadong detected*

    oke oenni part ini KEREN!!!! Hyukjae nya keren banget :D.

    buat kai : aku bilangin mamah lo ya kamu masih kecil kok udah maen cium2an segala. aduh dedek jongin. mau jadi apa kmu ntar? mau jadi pacar noona? haaa? #modus

  2. lu bikin ini pas bulan puasa kha???

    Astaghfirullah… *mendadak alim

    Tapi berhubung dah terlanjur jadi gpp lah, yang banyak ya bikin adegan skinshipnya…
    wkwkwkwk… 😀

    Gw suka karakter Ikha disini, american style banget… sedangkan Eunhyuk, kucing garong mah klo dikasih ikan asin mah pasti langsung nyerbu lah… haha…

    pokoknya keren lah…

    1. Yohi, gue juga bingung li. Keknya bulan puasa kemaren kemaksiatan gue lagi gak bisa dikontrol. Setan di neraka lolos satu dan bikin gue berubah. hahaha~ ah tapi banyak yang suka ko skinship-nya. Malah pada minta lebih /loh?
      Termasuk yang satu ini niiih~ *nunjuk orang yang komen di atas gue*

      1. Wah dah yadong mah yadong aja deh, make’ nyalahin makhluk laen lagi… hehe…

        maksud lu gw???

        klo gw mah, kaga bisa ma yang kaya gituan…

        kaga bisa nolak maksudnya… haha… 😛

  3. Untung bacanya bru skrg
    Hhahahahha

    Eon knp nd d jelasin lbh rinci apa yg d lakukan tangan mereka *eehhhh* hhahahahah

    Setuju bgt eon senyuman donghae itu senyuman mematikan, aishhhhh

    Hhahahahah

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s