ACCIDENT (Chapter 08)

02.34 AM KST

Mungkin bagi para pekerja kantoran atau murid-murid sekolah menengah, jam di atas menunjukkan batas kemampuan mereka untuk beraktivitas. Penghuni Korea Selatan, tak terkecuali kota besar seperti Seoul, hampir sepenuhnya senyap. Hanya sesekali terdengar bunyi deru taksi di jalanan.

ACCIDENT

Key menyeret kakinya yang terasa berat ke dalam dorm setelah membuka pintu dengan pelan dan hati-hati—tak ingin mengganggu member lain atau manager mereka yang mungkin sedang bermimpi indah. Beruntunglah ia tak berpapasan dengan orang-orang selama perjalanan kembali ke dorm karena peralatan menyamarnya sempat dirampas Taerin saat ia berkunjung ke apartemen mini milik Ikha.

Waseo (kau datang),”

Sambutan Jonghyun dari ruang tamu membuat Key membuka kedua matanya lebar-lebar. Jantungnya cukup berdebar mendengar sahutan namja yang telah lama dikenalnya itu. Ia mengaduh seraya melempar ransel pink Oakley-nya sembarangan.

“Dimana yang lain?” tanya Key sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa, tepat disamping Jonghyun yang sedang asik menekan-nekan remote control—mencari channel yang cocok untuk ditonton.

“Minho masih dalam perjalanan pulang ke dorm—Jaejin dan Seunghyun mengajaknya ke club. Manager masih di Gedung SM sedangkan Taemin dan Onew ada di ruangan mereka masing-masing,” papar namja bertubuh atletis tersebut, masih mengotak-atik channel tv.

“Apa mereka sudah tidur?” gumam Key, sengaja tak ingin membuat gaduh.

Jonghyun merenguskan bibir. “Sepertinya,”

Key meluruskan kedua kaki sambil menengadahkan kepala pada punggung sofa. Desah nafasnya terdengar berat. Bahkan ia sempat meringis sambil mengusap-usap permukaan kulit kepalanya. Tangan Key bergerak memutar di sekitar kepala untuk mengurangi perih yang dirasakannya.

“Kau kenapa? Ikha melukaimu?” selidik Jonghyun, melirik ke arah Key sekilas saat namja itu masih mengusap-usap kepalanya.

“Bukan. Ikha sudah tidak tinggal disana lagi, Hyung. Aku bertemu dengan salah satu chingu-nya disana. Dia tiba-tiba menyerangku saat tahu bahwa aku ini namja yang menghamili Ikha. Lalu, argh…” Perkataan Key terhenti kala perih di kepalanya berubah menjadi denyut-denyut kesakitan.

“Ada apa dengan kepalamu?” Jonghyun meletakkan remote yang sedari tadi dipegangnya kemudian beralih memperhatikan kepala Key—meski sesungguhnya ia tak menemukan sesuatu yang aneh pada Key.

“Dia memukul kepala dan menjambak rambutku sekuat tenaga,” ringis Key.

Namja itu meraih sebuah kaca mini berbentuk kotak bergambar Angry Bird yang tergeletak di atas meja kecil disampingnya. Ia mulai mengamati refleksi wajahnya sendiri, memperhatikan helai demi helai rambut yang begitu ia banggakan dengan sangat teliti.

“Siapa yang menjambak rambutmu? Chingu-nya Ikha? Yeoja? ”

Key hanya ber-oh ria menjawab pertanyaan Jonghyun. Ia masih sibuk mengusap kepalanya yang semakin terasa ngilu. Bagaimana tidak sakit, Taerin melayangkan tube poster Super Junior milik Ikha ke arah kepalanya tepat setelah yeoja itu tahu identitasnya—yang sesungguhnya.

Well, pantas saja Ikha keras kepala. Ia berteman dengan yeoja tangguh seperti Taerin. Buktinya, saat ia beradu mulut dengannya, Taerin mampu mematahkan segala perkataan Key dan selalu menyudutkannya. Key bisa saja menyerang Taerin kembali, tapi ia lupa dengan predikat yang disandangnya sebagai public figure. Maka ia selalu menelan ludah bulat-bulat acap kali Taerin menyerangnya.

“Lalu dimana Ikha sekarang?”

Pertanyaan demi pertanyaan dilayangkan Jonghyun dengan penuh tuntutan. Meski begitu, Jonghyun tetap berusaha mengontrol nada suaranya. Tidak ada yang mengetahui fakta sebenarnya antara Key dan Ikha kecuali dirinya. Ia harus bisa mempertahankan posisinya mengingat Key sempat memohon tiada henti untuk tidak membocorkan rahasia itu pada siapapun, termasuk Onew.

Noona sekarang tinggal bersama kedua orang-tuanya. Aku tak tahu alamat rumahnya sedangkan ia selalu me-reject panggilanku,” jelas Key. Ia menghentikan kalimat selanjutnya saat Jonghyun memberi tanda untuk menghentikan pembicaraan.

Jonghyun berjalan menuju dapur, mengambil cool pack yang biasa ia gunakan saat pusing melandanya, mengisi benda itu dengan sedikit batu es dan air dingin kemudian memberikannya pada Key. Key mengucapkan terima kasih sebelum meletakan cool pack pada kepalanya.

“Lalu?” tanya Jonghyun, menyiratkan Key untuk melanjutkan obrolannya yang sempat terhenti barusan.

“Aku yakin kau akan tercengang saat aku mengatakan hal ini—“ Key memberi jeda beberapa detik sebelum melanjutkan kata-katanya. Setelah detik ketiga ia berkata,“—Ikha…. Noona kehilangan bayinya,” imbuhnya.

Sontak Jonghyun menatap Key intens tanpa berkedip. Mulutnya agak terbuka dibuatnya. “Mwo?” ucapnya, lirih. Matanya sempat menyipit saking tidak percaya akan pernyataan Key.

“Ia keguguran, Hyung. Aku kehilangan bayiku,” ulang Key, meyakinkan Jonghyun kembali.

Jonghyun memutar tubuhnya agar dapat lebih mudah berhadapan dengan Key. “Tapi, bagaimana bisa?”

Kedua bahu Key bergerak naik-turun. Sambil memegangi cool pack, ia menyandarkan kepala pada punggung sofa dan lagi-lagi mendesah berat. “Aku tidak tahu. Dan yang lebih parah lagi adalah… Taerin—chingu Ikha yang kutemui di apartemennya—mengetahui siapa aku sebenarnya,”

Jonghyun semakin membulatkan kedua mata saat Key kembali mengucapkan kata-kata yang mampu membuatnya terkena serangan jantung. “Kukira yeoja itu hanya tahu kalau kau namja yang tidak bertanggung-jawab itu tanpa mengetahui identitasmu yang sebenarnya—maaf jika aku menyinggungmu Key, tapi memang benar seperti itu keadaannya. Lalu? Maksudmu?”

“Dia tahu bahwa aku adalah Key. Key SHINee,” jelasnya.

“MWORAGO?”

Teriakan Jonghyun saat mengucapkan kata di atas kini tak dapat terelakkan lagi. Ia tak peduli dengan Onew atau Taemin yang bisa saja terbangun dan mengetahui perbincangan mereka. Apa yang diucapkan Key benar-benar dalam keadaan ‘kartu merah’. Masalahnya adalah… bagaimana jika Taerin memberitahu media perihal perbuatan Key yang telah membuat sahabatnya dirugikan?

***

HARI INI KHUSUS Ikha dedikasikan untuk membereskan barang-barang di kamarnya. Ya. Ia telah kembali menghuni Keluarga Cho yang begitu ia idamkan selama beberapa bulan terakhir. Tuan Cho telah mengerti situasinya dan ia sangat mensyukuri akan hal itu. Sayang, Oppa tercintanya, Cho Kyuhyun, tidak ada di antara mereka saat ini—meski ia tidak yakin jika Kyuhyun mengetahui permasalahannya dengan Tuan Cho mengingat namja itu telah merubah kewarganegaraan semenjak tinggal di LA empat tahun lalu.

Setelah yakin semua barang-barangnya telah diletakan di tempat yang semestinya, Ikha merebahkan tubuh di atas tempat tidur kesayangannya sambil mengerang. Kedua tangannya sengaja ia rentangkan lebar-lebar. Ia sangat suka menghirup wangi kamarnya. Tempat ini memang begitu berbeda dengan apartemen mini yang sempat ia tinggali beberapa bulan terakhir.

Getar ponsel Ikha yang beradu dengan permukaan meja kayu yang ada di samping tempat tidur membuat yeoja itu tertegun dari segala pikirannya. Ia meraba-raba meja untuk meraih alat komunikasinya tersebut. Wajah Ikha merengut kala membuka sebuah pesan masuk. Tadinya ia ingin menghapus tanpa membacanya terlebih dahulu namun rasa penasaran lebih menguasainya kali ini.

Wae nae jeonhwa reul delileo an haesseo?

(Kenapa kau tidak mengangkat panggilanku?)

From: Mr. Asshole

To: SK Telecom

22/12/11 04:45PM

Ikha mendengus. Segera ia tekan tombol merah untuk menyingkirkan pesan tersebut dari layar ponselnya. Key tidak pernah seserius ini mengetahui keadaannya. Namun sejak beberapa hari lalu, namja ini begitu gentar menghubunginya. Bahkan ia pernah melihat dua belas missed call hanya dari nomor Key.

Ponsel Ikha kembali bergetar, ia pun segera membuka pesan yang sampai tersebut.

Kau tidak ada di apartemen. Kau dimana? Bisakah kita bertemu sebentar? Aku mengkhawatirkanmu.

From: Mr. Asshole

To: SK Telecom

22/12/11 04:47PM

Lagi, Ikha mendengus seraya mencibir ke arah layar ponselnya. Ingin rasanya ia berteriak tepat di depan wajah Key bahwa janin itu sudah tak lagi di dalam rahimnya. Namun percuma saja. Saat ini ia lebih tidak ingin bertemu dengan member SHINee yang begitu terkenal dengan kecerewetannya. Apa peduli namja itu? Mungkin ia akan mengucapkan terima kasih karena ia tak perlu menanggung beban apa-apa lagi. Benar bukan?

Ponsel Ikha lagi-lagi bergetar pelan.

Jangan menghindar dariku, Noona. Aku ingin bertemu denganmu. Kutunggu kau di Moghul Resto daerah Itaewon nanti malam. Ada yang ingin kubicarakan.

From: Mr. Asshole

To: SK Telecom

22/12/11 04:50PM

Tepat setelah Ikha membaca pesan terakhir dari Key, ia segera menghapusnya kemudian langsung mengarah pada phonelist. Nama Key yang berubah menjadi Mr. Asshole itu pun ia delete tanpa pikir panjang. Tak ada yang perlu dibicarakan, tak ada yang perlu diperbincangkan dan tak ada yang perlu dibahas. Jika ia bertemu namja itu, ia takut amarahnya tak dapat dibendung.

Ikha memposisikan diri duduk pada tempat tidur. Sebuah file biru di atas meja rias membuatnya semakin dilanda frustasi. File itu ia dapat dari Taerin yang berisi pemberitahuan dari Ketua Fakultas. Tugas penelitian yang diwajibkan oleh Hwang Saboo tidak diselesaikan dengan baik. Walhasil, ia harus menunda kelulusannya tahun ini. Jika bukan karena janin itu, Ikha pasti sudah menyelesaikan tugasnya dan lulus bersama Taerin.

Saat yeoja itu tengah bergumul dengan segala pikirannya, tiba-tiba ponselnya berdering mengumandangkan lagu Oppa-Oppa yang dipopulerkan Duo Eunhae Super Junior. Ikha menggenggam ponselnya dengan erat. Meski ia tak begitu hafal dengan nomor Key, jelas yang menghubunginya kali ini pasti namja itu.

Kesal, Ikha membanting ponselnya pada dinding dekat pintu kamarnya kemudian mejatuhkan diri pada tempat tidur. Ia tak sadar jika seseorang masuk ke dalam ruangannya tepat ketika ia membanting ponsel cukup keras pada dinding.

Ya! Cho Ikha! Kenapa kau jadi sentimen begini sejak keluar dari rumah sakit, eo?” sungut Taerin, orang yang berkunjung ke rumah Ikha.

Ikha sedikit membuka kelopak matanya untuk mengintip si pemilik suara. “Oh, kau rupanya,”

Eomonim bilang kalau kau sedang menata ulang kamarmu. Mungkin kau butuh seseorang untuk membantu jadi aku sengaja berkunjung kemari,” ucap Taerin seraya memungut ponsel Ikha yang—meski masih terlihat bagus—nampak mengalami kerusakan.

“Bolos kuliah?” tanya Ikha, mengubah posisi tidurnya menjadi telengkup seperti kura-kura.

Eum. Terlalu malas mendengar ocehan Kim Saboo,”

Taerin menghampiri Ikha, duduk pada sisi tempat tidur sambil mengecek ponsel Ikha yang sempat dibantingnya. Dengan sembunyi-sembunyi, ia melirik pada Ikha yang sedang tengkurap dan menutup mata—dimana lengannya sendiri ia jadikan bantal untuk menahan kepala. Sepertinya yeoja itu kelelahan menata kamarnya yang sudah rapih. Wajar jika Ikha tidak antusias menyambut kedatangannya.

Mulut Taerin sempat bergerak ingin mengucapkan sesuatu tentang pertemuannya dengan Key kemarin lusa pada Ikha. Namun Taerin mengatupkan bibir, ia tidak ingin membuat Ikha memukulinya karena telah menghajar Key dengan memberinya beberapa pukulan kecil. Ia akan tetap membungkam mulut hingga apa yang ia butuhkan akan membawa kebenaran bagi Ikha.

“Kha-ya,”

Eum,”

“Apa rencanamu selanjutnya?” tanya Taerin setengah bergumam. Ia masih berusaha menyalakan ponsel Ikha yang tak kunjung hidup.

Ikha memutar tubuh hingga terlentang. Ia mengerti dan paham dengan jelas makna yang terkandung dari kata-kata Taerin. Yeoja itu hanya menggedikkan bahu. Ia masih belum merancang life-plan-nya dengan gamblang.

“Apa kau akan melepaskan namja itu begitu saja?” lanjut Taerin.

“Aku sudah tidak peduli lagi, Taerin-ie. Lagipula bayi itu sudah mati. Tak ada yang mengikatnya lagi untuk datang padaku,” Ikha pada akhirnya angkat bicara. Sebenarnya ia tidak suka siapa pun mengungkit masalah ini—termasuk Eomma-nya sendiri.

“Tapi kau tahu sendiri dampak yang kau alami gara-gara mengandung bayi itu, ‘kan?” Taerin bersikukuh.

“Aku sudah kembali ke rumah, mendapatkan kepercayaan Appa dan beraktivitas seperti sedia kala. Lagipula kami (aku dan namja itu) juga tak tahu apakah bayi sialan itu benar-benar hasil dari perbuatannya atau bukan—karena dia tidak mengaku telah melakukannya dan aku pun tidak ingat sama sekali tentang apa yang terjadi malam itu. Tak ada saksi kuat,” papar Ikha panjang-lebar.

Taerin menyentuh touch screen ponsel Ikha saat benda itu kembali menyala. Sambil mengecek ponsel itu ia kembali berkata, “Jika kau benar-benar melepasnya, berarti kau ini yeoja bodoh, Cho Ikha. Pabwa, aku ingin menghubunginya,”

Ikha memperhatikan jemari Taerin yang bergerak ke atas dan ke bawah seperti sedang mengecek phonelist. “Nomor ponselnya sudah kuhapus. Biarkan saja,” ucapnya enteng.

“Cho Ikha!” rutuk Taerin.

Ikha hanya ber-mehrong ria pada chinan chingu-nya itu. “Satu hal yang bisa kujadikan sebuah pelajaran berharga dari semua ini, Taerin-ie…. aku harus berhati-hati pada secangkir soju,” ledeknya.

Taerin mengerucutkan bibir, serasa tertohok saat Ikha menyebut ‘secangkir soju’ dengan penuh penekanan. Melihat ekspresi bersalah dari wajah Taerin, tawa Ikha melengking sempurna menggema di dalam kamar. Setidaknya ia masih bisa tertawa hari ini berkat Taerin.

***

YA! JONGHYUN-AH! Key-ga eodiseoyo? (Dimana Key?)”

Onew melihat Jonghyun masuk ke dalam ruang rias dari sudut mata dan pantulan cermin di depannya dengan susah payah. Ia tak bisa bergerak karena hairstylist-nya pasti akan mematahkan tulang lehernya jika ia merusak make-up hanya dengan membuat sedikit gerakan.

Jonghyun menutup pintu sebelum akhirnya duduk pada sofa di belakang Onew. “Kenapa Hyung mencarinya?”

“Pakaianku dan pakaiannya tertukar untuk pemotretan selanjutnya,” ucap Onew. Ia memutar kursinya agar bisa berhadapan dengan Jonghyun setelah yakin make-up-nya sudah selesai.

Saat ini mereka sedang berada di daerah Gyeonggi-do melakukan pemotretan untuk Vogue Magazines. Minho sedang melakukan take bersama kru lain, sedangkan sisanya entah kemana.

“Entahlah. Dia sedang keluar bersama Taemin,” jawab Jonghyun dan dibalas oleh anggukan kecil dari sang leader.

Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa yang menghuni ruang rias selain mereka berdua, Onew menghampiri Jonghyun dan mulai berbisik, “Bagaimana keadaan yeoja itu?”

Jonghyun—yang masih memusatkan seluruh inderanya pada ponsel—hanya merengut tanpa sedikit pun peduli. “Nugu? (Siapa?)” Ia balik bertanya.

Yeoja bermarga Cho itu,” Onew menambahi sedikit keterangan. Ia lupa sedang bicara dengan Jonghyun. Ia memang sedang menanyai kabar Ikha tapi mungkin namja itu akan salah mengartikan dengan menjawab keadaan ‘yeoja‘ lain yang tengah dekat dengannya.

“Ia kehilangan bayinya beberapa hari lalu,” tutur Jonghyun, sama sekali tidak menatap Onew yang sedang membuka baju dan menggantinya dengan kostum lain yang akan ia gunakan untuk pemotretan selanjutnya.

“Kau tidak sedang bercanda ‘kan?” tanya Onew, masih menganggap bahwa Jonghyun sedang mempermainkannya.

Jonghyun menggeleng kemudian menatap Onew dengan lebih serius. “Apa Hyung masih memandangnya sebelah mata?” tanyanya, agak sedikit melenceng dengan pertanyaan di atas.

“Jadi kau benar-benar serius mengatakannya?” Onew kembali meyakinkan dan Jonghyun hanya mengangguk, mengiyakan. “Aku turut prihatin mendengarnya,” imbuhnya.

Jonghyun meletakan ponselnya di pangkuannya. Cukup gemas dengan ekspresi Onew yang masih dibilang biasa saja. “Bilang saja terus-terang padaku, Hyung. Kenapa kau tidak menyukai Cho Ikha?”

“Aku tidak pernah bilang kalau aku tidak menyukainya. Hanya saja, yeoja itu bisa jadi boomerang bagi kita. Aku tidak tahu apakah mereka benar-benar melakukannya. Yang jelas, jika berita ini tercium media, kita semua akan hancur.”

Untuk kali pertamanya sejak peristiwa itu terjadi, Onew berterus-terang pada Jonghyun perihal kasus yang melanda Key dan Ikha. Ia masih berkutat dengan lengan kemeja kotak-kotak yang ia kenakan saat ini, menggulungnya dengan rapih seolah tidak tertarik membahas hal itu lebih lanjut.

“Onew Hyung,” sahut Jonghyun, mencoba mencari perhatian Onew agar ia mendengarkan perkataannya. Caranya cukup jitu, namja berambut blonde itu kini menatapnya—tak lagi terpaku pada kemeja.

“Harusnya aku memegang janjiku pada Key untuk tidak menceritakan hal ini padamu, tapi aku harus menjadi seorang gentleman dan tidak memihak pada salah satu diantara mereka,” aku Jonghyun pada akhirnya. Ia sudah tidak tahan melihat ketidakadilan yang ada selama ini.

“Apa yang akan kau katakan? Sepertinya terdengar begitu serius,” Onew mengerutkan kedua alisnya. Ia agak takut mendengar pengakuan Jonghyun. Takut jika hal itu justru berita buruk menyangkut SHINee dan karir yang telah dirintisnya selama ini.

Jonghyun menelan ludah dengan susah payah sebelum berucap. “Cho Ikha…”

***

SETELAH ANGEL DAN DEVIL yang ada di kedua sisi tubuhnya berdebat cukup panjang, akhirnya Key memutuskan untuk menghubungi Ikha untuk ke sekian kalinya. Ia sudah yakin jika Ikha pasti tetap tak akan mengangkat telepon atau sekedar membalas pesannya. Namun ia harus mencoba.

Pasca pengakuan Taerin tentang bayinya yang telah tiada, ia harus bertemu dengan yeoja yang tadinya akan menjadi ibu dari anaknya kelak. Ikha sama sekali tidak mengabarinya sejak hari dimana ia kehilangan bayinya. Jika bukan karena Taerin, mungkin selamanya ia tak akan pernah tahu.

“Yeoboseyo,” Suara yeoja dari seberang telepon terdengar begitu tergesa. Key menduga bahwa Ikha sedang terburu-buru.

Namja itu sempat diam sejenak saat mendengar suara Ikha. Entah mengapa nyalinya seolah menciut. “Eodindae? (dimana?)” tanyanya to-the-point.

“Nuguseyo?” Ikha justru malah balik bertanya dan membuat nyali Key semakin mengerucut.

Na.. Key ieyo. Apa kau menghapus nomor ponselku?” tanya Key, nadanya terdengar begitu ragu dan lemah. Seperti orang yang takut untuk bicara.

“Ada urusan apa? Aku sedang sibuk,” jawab Ikha ketus.

Key menelan ludah. Dari nada suara Ikha, ia sudah yakin 100% bahwa yeoja itu tidak suka berbicara dengannya. Namun ia harus bisa menemui yeoja itu. Bagaimana pun caranya. “Jangan lupa, Noona. Kita bertemu di Moghul nanti malam,”

Terdengar suara orang-orang berteriak dari balik telepon. Key tak bisa menebak dimana Ikha sekarang. Yang jelas, yeoja itu sedang berada di tempat yang ramai.

“Sudah kubilang aku sibuk,”

Dan, tut… tut… tut…

Ikha memutuskan line telepon sebelum Key menyebutkan kalimat selanjutnya. Desah nafas Key terdengar begitu berat. Ponselnya ia genggam dengan lemah. Entah kenapa saat Ikha menolaknya untuk bicara rasanya jauh lebih menyakitkan ketika ia ditolak oleh IU yang lebih memilih Eunhyuk ketimbang dirinya.

Key berjalan menuju ruang rias dengan gontai. Pemotretan ini serasa begitu lama dan tak kunjung selesai. Ia sangat ingin bertemu Ikha saat ini. Jauh dari dalam lubuk hatinya, ia begitu mengkhawatirkan yeoja itu. Ikha terlalu banyak menanggung beban selama kasus ini berlangsung. Membuatnya semakin merasa bersalah setiap kali mengingat nama Ikha.

Hyung mencariku?” Key bertanya pada Onew yang sengaja menunggunya sambil memainkan sebuah rubik. Leader SHINee itu mengirimnya pesan untuk segera ke ruang rias dengan alasan pakaian mereka tertukar untuk pemotretan selanjutnya.

Onew menepuk nepuk sofa disampingnya, menyuruh Key untuk duduk disana. Namja penyuka warna pink itu menurut.

“Ada apa, Hyung?” tanya Key.

Onew memperhatikan gerak-gerik Key yang tengah membenahi rambutnya sambil bercermin pada kaca besar di dalam ruang rias. Perasaannya begitu tak menentu sekarang. Pengakuan Jonghyun tentang apa yang terjadi sebenarnya di balik skandal yang dibuat Key benar-benar menusuknya hingga ke hulu hati.

“Aku sudah mengajarimu untuk menjadi namja yang bertanggung-jawab, Key. Entah kenapa aku merasa bahwa kali ini kau menjadi seorang pengecut yang tidak bisa memecahkan masalahnya sendiri. Kemana seorang Key yang katanya selalu berusaha mencari jalan keluar setiap kali dilanda masalah?” oceh Onew. Nadanya nampak tenang meski dalam hati ia sangat ingin berteriak pada Key.

Key mengerutkan alis. “Aku tidak mengerti, Hyung.”

“Bagaimana kabar Cho Ikha? Apa kau menghindarinya sekarang?” Onew kembali melontarkan pertanyaan pada Key tanpa jeda setelah Key berkata barusan.

“Jadi yang Hyung maksud itu—“

“Jika kau pikir aku bertanya perihal hubunganmu dengan Ikha, maka jawabannya ‘ya’.” Onew kembali menginterupsi kalimat Key.

“Aku—“

“Kau tidak perlu bicara karena aku tidak ingin mendengar ocehanmu kali ini, Kim Kibum.”

Onew, yang terkenal dengan pembawaannya yang begitu tenang, kini berubah menjadi namja yang penuh dengan aura kepemimpinan. Pertanyaan demi pertanyaan ia lontarkan dengan penuh retoris serta penekanan pada Key. Namja yang terpaut dua tahun lebih muda darinya itu terdiam. Jika Onew sudah seperti ini, berarti ia sedang bicara serius.

“Dengar. Diantara kalian bertiga, kau adalah dongsaeng-ku yang paling berani dalam berpendapat, tidak suka berbohong dan selalu menjadi kebanggaanku dan juga SHINee berkat sikapmu yang gentle. Kenapa hanya karena Cho Ikha kau berhasil meruntuhkan semua kepercayaanku, Key?

Selama ini aku selalu mempercayai kata-katamu dan juga Manager bahwa kau sama sekali tidak terlibat dalam masalah ini. Bahwa ada yang menjebak Ikha sehingga kaulah yang menjadi korban. Aku selalu memandang bahwa yeoja itu adalah mesin hama yang akan merusak bunga-bunga yang telah kita tanam dengan susah payah. Bagiku yeoja itu hanya benalu bagimu. Bagaimana mungkin aku bisa betindak sejahat itu padanya sedangkan kenyataan berkata lain?”

Onew mengucapkan semua kalimat di atas hanya dalam sekali nafas. Namja itu terlihat garang menatap Key, membuatnya menunduk sambil memainkan kuku jarinya.

“Apa Jonghyun Hyung yang memberitahumu?” tanya Key, memberanikan diri.

“Aku yang memaksanya bicara. Kau tidak patut menyalahkannya. Berpikir dewasa lah, Key. Jika kau pikir aku akan menyuruhmu untuk keluar dari SHINee atau hiatus selama beberapa tahun hanya karena skandal ini, maka kau sudah berpikir seperti anak kecil. Pada awalnya aku memang begitu mengkhawatirkan group kita, tapi karena keadaannya seperti ini, pikiranku jadi berubah. Yang sangat kusayangkan adalah sikapmu. Sikapmu, Key!”

Onew agak menaikkan nada bicaranya setengah oktav setiap kali menyebut nama Key. Amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun tapi ia sama sekali tidak dapat meluapkannya sekarang—berhubung mereka masih di tempat pemotretan, bukan di dorm atau di tempat yang lebih privasi bagi mereka.

Mianhae, Hyung.” Hanya itu yang mampu Key ucapkan. Ia tak tahu lagi harus berkata apa.

“Kau tidak patut meminta maaf padaku. Katakan hal itu pada Cho Ikha,” kilah Onew, hampir berbisik.

Key mencoba menggerakan bibir. Setidaknya ia harus memberi respon pada semua kata-kata Onew. “Aku tahu bahwa aku sudah salah bertindak. Mentalku cukup terganggu hanya karena masalah ini, Hyung. Di satu sisi aku tidak ingin menyulitkan Ikha. Tapi di sisi lain, aku juga tidak ingin mengecewakanmu dan juga manager hanya karena keteledoranku,” akunya.

Onew meletakkan satu tangannya pada bahu Key kemudian meremasnya cukup kuat. “Aku tidak akan menuntut apa-apa darimu, Key. Semua sudah terjadi. Lagipula Jin Hyung sepertinya sudah membereskan masalah ini sampai ke akar-akarnya. Skandal ini akan muncul ke media jika Ikha dan orang-orang yang mengetahui masalah ini saja yang berani bicara di depan khalayak,”

Key mencondongkan tubuhnya ke depan. Kedua siku tangannya berada di atas kedua paha. Ia menutup wajahnya hingga tak ada celah bagi kedua matanya untuk melihat. Mendengar seluruh perkataan Onew berhasil membuat dadanya sesak. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku tidak tahu, Hyung. Aku benar-benar tidak tahu,” ucap Key lirih. Suaranya sangat pelan dan bergetar.

Onew menepuk pundak Key perlahan kemudian mengambil ponsel namja itu yang tergeletak di sampingnya. “Aku akan menghubunginya,” ucap Onew.

Masih menutup wajah menggunakan kedua tangannya, Key berkata, “Dia tidak akan mengangkat teleponku, Hyung. Dia sudah terlanjur membenciku,” tuturnya.

“Biar kucoba. Aku ingin bicara dengannya,” Onew bersikukuh. Ia menyimpan nomor ponsel Ikha sebelum mencoba menghubungi yeoja itu menggunakan ponselnya sendiri. Tidak sulit mencari nama Cho Ikha di antara ratusan nomor teman-teman Key.

“Apa kau akan mengatakan hal yang sebenarnya—perihal bahwa akulah yang sebenarnya melakukan hal ‘itu’ padanya?” gumam Key.

“Tidak. Hanya kau yang pantas menjelaskan semuanya, Key. Aku hanya ingin menemuinya,” elak Onew.

Sambil menunggu sambungan teleponnya, Onew mengusap punggung Key perlahan. Namja itu sepertinya sedang mencoba menahan tangis.

Yeoboseyo? Cho Ikha-ssi?” sapa Onew ketika seseorang berhasil mengangkat teleponnya. Key bahkan mengusap kedua matanya yang digenangi air mata terlebih dahulu saat sadar bahwa Onew berhasil menghubungi Ikha.

“Aku Onew. Leader dari SHINee. Apakah kau ada waktu luang?”

***

BIASANYA AKU tidak pernah menunggu seseorang jika bukan karena urusan penting. Khusus untuk bertemu denganmu, aku harus menunggu sampai lima belas menit.” Onew melengkingkan suaranya saat yeoja yang ditunggunya sedang berjalan menuju mejanya.

Ikha menggeser kursi yang ada di hadapan Onew setelah namja itu mempersilahkannya duduk. “Kukira kau tidak sudi melihatku lagi pasca kunjunganmu ke apartemenku bulan lalu,” sindirnya.

Onew terkekeh. Ternyata Ikha menyadari sikap acuhnya saat berkunjung ke apartemennya beberapa waktu lalu. “Apakah Key yang telah membuatmu menjadi yeoja galak seperti ini?”

“Dan apakah Key juga yang telah membuat namja dingin sepertimu berubah manis seperti ini?” Ikha balik menyerang Onew.

Onew menggerakkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan. “Ddang (salah). Jonghyun yang mengubahku,” kilahnya.

“Kau cukup berani juga tidak memakai penutup wajah, Onew-ssi. Tidak takut paparazzi menguntitmu?” ledek Ikha saat sadar bahwa Onew sama sekali tidak memakai apapun untuk menutupi wajahnya. Berbeda dengan Key yang terlihat ruwet dengan segala tek-tek-bengek yang ia pakai.

“Mereka tahu jika aku sangat sulit berdekatan dengan yeoja. Sekalipun mereka menemukan kita, mereka pasti mengira bahwa kau hanyalah temanku,” tutur Onew, santai.

“Jadi… ada perihal apa?” tanya Ikha langsung pada intinya. Ia sempat mengucapkan terima kasih pada pelayan Cafe yang menyodorkan segelas Latte padanya.

“Hanya ingin mengetahui kabarmu. Kudengar kau selalu berusaha menghindar dari Key akhir-akhir ini. Kalau boleh tahu, alasan apa yang membuatmu menghindarinya?” tanya Onew sembari meniup-niup kepulan uap Americano yang dipesannya.

“Aku lelah berurusan dengannya—dan juga dengan kalian tentunya,” jawab Ikha terus terang.

“Maaf jika sikapku begitu buruk padamu, Ikha-ssi. Seharusnya aku tidak begitu,”

“Aku tidak pernah menganggap hal itu sebagai sesuatu yang perlu untuk dikhawatirkan, Onew-ssi.” Ikha mengucapkan kalimat tersebut tanpa melakukan kontak mata dengan Onew. Pandangannya tertuju pada pantulan bayangan wajahnya yang bergoyang di atas permukaan Latte pekatnya.

Onew mendengus. Saluut dengan sikap Ikha yang lain dengan yeoja yang selama ini mengelilinginya. Tidak ada aegyeo, tidak ada kata ‘sok manis’ dan juga tidak ‘sok imut’.

Ya. Apa kau sama sekali tidak terpesona padaku? Aku leader SHINee, Ikha-ssi. Orang yang mengajakmu bertemu malam ini,” rutuknya ketika menyadari bahwa Ikha sama sekali tidak menatapnya setiap kali ia bicara.

Yeoja itu tersenyum kemudian menatap Onew sesuai yang diinginkan namja itu. “Sama sekali tidak, Onew-ssi. Aku hanya menghormatimu sebagai namja yang lebih tua dariku dua tahun. Kecuali jika kau adalah Leeteuk Oppa.”

Untuk kali pertamanya tawa Onew terdengar di telinga Ikha secara live. Tak disangka jika dibalik sikap Onew yang misterius itu, ia memiliki senyum yang attractive dan cukup menawan.

“Bagaimana keadaan bayimu? Sepertinya perutmu masih datar-datar saja. Bukankah bulan ini kandunganmu sudah berusia lima bulan?” tanya Onew, sengaja memancing Ikha.

Tepat sesuai dugaannya, yeoja itu terlihat mendesah berat. Sendok Latte-nya bergerak memutar di dalam cangkir, mengaduk minumannya dengan malas. “Beberapa hari lalu aku kehilangan janinku,” akunya.

Onew memagutkan dagu kemudian menyesap Americano-nya tanpa berkata apa pun.

Ikha berdecak. Seharusnya ia tidak mengucapkan hal itu jika reaksi Onew seperti orang yang tidak peduli. “Sepertinya kau tidak tertarik dengan kisahku,” sindirnya.

“Aku sudah tahu,”

Mwo?

“Aku bilang kalau aku sudah tahu,” ulang Onew, pelan tapi tegas.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

Bola mata Onew berputar. “Apakah temanmu tidak memberitahumu? Saat Key mengunjungi apartemenmu, ia sempat bertemu dengan temanmu yang sengaja membawa beberapa barang-barangmu disana,”

Ikha menyipitkan kedua mata. Kerutan di keningnya semakin nyata. “Maksudmu Han Taerin?”

Onew menjentikan jari. “Ya. Taerin,”

Ikha terdiam selama beberapa saat. Berpikir keras. Taerin bertemu dengan Key dan yeoja itu sama sekali tidak memberitahunya?

“Aku harus pergi,” ucap Ikha, terkesan buru-buru seraya menyambar tas tangannya yang semula ia letakan pada kursi disampingnya.

“Kau akan menelantarkan seorang artis sepertiku begitu saja?” ejek Onew. Matanya bergerak mengamati Ikha yang tengah menghabiskan Latte-nya dalam sekali tegukan.

“Terima kasih untuk Latte-nya, Oppa. Aku akan mentraktirmu lain kali,” ujar Ikha kemudian beranjak pergi setelah memberikan sebuah senyum manis pada Onew.

Namja itu terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala. Bukan karena senyum yang Ikha berikan padanya, melainkan karena Ikha sudah menyebutnya dengan kata ‘Oppa’ barusan. Dipanggil Oppa oleh yeoja seperti Ikha—yang cukup menarik dan unik—ternyata memberi kesan tersendiri baginya.

***

KENAPA KAU tidak bilang padaku bahwa kau pernah bertemu namja itu, Han Taerin?”

Ikha langsung menyembur Taerin dengan berbagai pertanyaan setibanya ia di rumah Taerin malam itu juga. Ia tahu, Taerin tidak pernah bisa tidur di bawah jam 12 malam sedangkan sekarang masih menunjukkan pukul 11.55pm.

“Memangnya kenapa? Takut jika aku akan menyebarkan ke publik bahwa namja yang telah menjebakmu itu adalah Key SHINee?” ejek Taerin.

“Tidak. Aku tidak peduli dengan image-nya sekarang. Maksudku, jika kau bertemu dengannya, seharusnya kau mengatakannya padaku,” rengek Ikha, terdengar seperti anak kecil yang sedang membela diri.

Taerin terkekeh melihat kelakuan Ikha. “Untuk apa, Kha-ya? Agar kau bisa membelanya?”

“Maksudmu?” Ia masih tidak mengerti dengan segala sindiran Taerin.

“Sebetulnya aku sempat bertanya-tanya kenapa kau begitu melindungi identitas namja yang telah menghamilimu itu, Kha-ya. Katakan padaku dengan jujur, apa kau menyukainya? Atau mencintainya?”

“Aku sama sekali tidak tertarik dengan namja ingusan itu,” jawab Ikha secepat kilat.

“Lalu kenapa kau selalu bungkam selama ini, Cho Ikha? Lihatlah apa yang telah ia perbuat selama ini padamu!” tuntut Taerin, gemas dengan segala persoalan yang meyangkut Key tersebut.

“Kenapa kau jadi ngotot seperti ini, Taerin-ah?”

Taerin, yang semula duduk, kemudian berdiri dan berjalan ke arah balkon kamarnya. Puas memandangi langit yang hanya sedikit dihiasi bintang-bintang tersebut, ia berjalan menuju rak buku yang ada disamping jendela kamar.

“Selama ini kau selalu berpikir bahwa ayah bayi itu belum tentu Key. Iya ‘kan? Bagaimana jika fakta berkata lain?” tanya Taerin. Ia mengeluarkan secarik kertas di antara beberapa kertas lain yang terselip di dalam file merahnya.

“Jelaskan padaku apa yang ingin kau utarakan,” Ikha mulai dilanda penasaran, dan juga takut.

“Kebetulan kau mengunjungiku malam ini, Kha-ya. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu,”

Taerin menyodorkan kertas yang ia ambil tersebut pada Ikha.

“Apa ini?” Yeoja itu balik bertanya.

“Saat aku bertemu dengan Key, aku sempat menjambak rambutnya dan berhasil memperoleh beberapa helai rambutnya. Apa kau sadar? Saat kau pingsan di Gymnastic Stadium, aku menyuruh dokter untuk mengambil sampel darah dari janinmu yang hampir hilang itu,”

Taerin memberi jeda beberapa detik sebelum melanjutkan untuk bicara. Ia kini memperhatikan Ikha yang sedang mencoba memahami isi dari kertas tersebut.

“Setelah mendapat rambut Key, aku mencoba mencocokan DNA darah janin itu dengan rambutnya dan hasilnya ada pada kertas itu,” tunjuk Taerin. Kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri. Entah mengapa malam itu terasa begitu dingin dari biasanya.

Gigi Ikha bergemeretak saat membaca deretan-deretan huruf dan juga angka yang ada pada kertas tersebut. Agak sulit untuk mempercayai hal tersebut.

“Kenapa kau lakukan ini, Taerin-ah?” tanya Ikha, lirih.

Taerin menghampiri Ikha. Ia agak berjongkok di depan yeoja yang tengah duduk di sofa kamarnya kemudian kedua tangannya ia letakan pada lutut Ikha. “Karena aku masih merasa bersalah atas apa yang menimpamu, Kha-ya. Seharusnya aku tidak membawamu pergi malam itu jika akhirnya seperti ini,”

Ikha menatap Taerin yangg sedang menatapnya sendu. “Kau tidak perlu menyalahkan dirimu, Taerin-ah. Sudah berapa kali kukatakan padamu, eo?” ucapnya, meyakinkan kembali.

Yeoja itu kemudian membaca kembali isi dari kertas yang menyebutkan hasil tes DNA tersebut. Ikha menggeleng lemah ketika melihat angka 98,77% di pojok kanan bawah kertas tersebut yang menyatakan bahwa DNA darah para janinnya itu hampir sama dengan DNA rambut Key.

“Ini.. tidak mungkin,”

…bersambung…

Header 01 (Cut)

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

71 thoughts on “ACCIDENT (Chapter 08)”

  1. daebak ^^
    akhirnya onew sadar jg, and dah baik zma ikha 🙂

    aigoo…
    akhirnya ikha tau juga kebenarannya, trus key bakalan gimana yah ???…

    lanjut baca dlu deh 🙂

  2. HUUUWWWOOO. . . akhirnya kebongkar jga semua kedokmu key!!! ho ho ho *ketawa evil*
    msh esmosi gra2 key yg gag gentle ngadepin masalah. . kesannya koq kurang peduli ma ikha. . n . . knp hrus bhas IU lg -___-
    next za dech. .

  3. *tepokTanganBuatHanTaerin
    sekali dayung dua pulau terlampaui..
    menghajar Key plus cari bukti..
    Ikha-ya..
    Ikha di sini lagi naik turun emosi.n, ia.?
    bisa murka, bisa cengengesan..

    1. kkk~ yaudah yuk kita silaturahmi ke rumah han taerin karna udah bantuin si ikha. kkkk
      (>ˆ▽ˆ)> ωªªκªªκªª <(ˆ▽ˆ =D˘•˘=)) нªª˘°˘нªª˘°˘нªª˘°˘ =))˘•˘=D

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s