STEP FORWARD (Chapter 03)

HENING. Satu kata yang memenuhi pikiran Ikha sekarang. Lantai enam gedung Sound ent. sepertinya tempat khusus bagi para petinggi agency. Tidak ada yang berhilir-mudik, tidak ada musik yang mengalun dari speaker seperti yang ada di lantai dua dan tiga, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Bahkan sebelum memasuki wilayah lantai enam, ahjussi yang mengantarnya mengakses pintu penghalang menggunakan kode dan sidik jari.

Sambil berjalan, Ikha memperhatikan setiap pintu yang dilewatinya. Ahjussi bertubuh gemuk yang telah mengganggu kelas acting tidak mengantarnya sampai tujuan. Ia hanya memberi petunjuk dimana letak ruangan CEO. Alasannya karena ia harus pergi mengurusi beberapa hal.

S T E P F O R W A R D

Setelah menemukan pintu dengan label ‘HEAD OF SOUND ENT’, serta-merta yeoja itu memutar kenop pintu sehingga terpampanglah ruangan berdekorasi ekstemporer di dalamnya. Ia sempat kaget saat menangkap sesosok namja dengan kaus panjang motif belang putih-hitam—lengkap dengan syal hijau pekat yang melilit leher dan kacamata lensa lebar berbingkai hitamnya yang ditopang oleh hidung mancung bak mainan plesetan di Taman Kanak-kanak—tengah duduk pada sofa sambil membaca beberapa helai kertas di tangan.

Tanpa ragu sedikitpun, Ikha berjalan menuju sofa setelah merapatkan pintu terlebih dahulu. Diliriknya meja dengan papan kecil bertuliskan ‘Lee Donghae – Head of Sound Ent’ yang menganga tak ditempati si pemilik kursi. Hanya ada dirinya dan namja itu saja di dalam ruangan yang di dominasi cat putih tersebut, membuat keadaan menjadi semakin kaku.

“Jadi, kaukah yeoja yang bernama Cho Ikha itu?” sahut si namja setelah melirik pada Ikha dari sudut matanya.

Sejenak yeoja itu memperhatikan si namja yang masih membolak-balik kertas. Bosan berdiri, ia memilih untuk duduk pada sofa, tepat berhadapan dengan namja berkacamata itu.

“Jika ‘iya’ lalu apa pedulimu?” jawabnya acuh.

Senyum tipis namja kacamata itu nampak jelas tatkala mendengar jawaban Ikha. Lalu ia berkata, “Namamu sangat terkenal di kalangan para trainee,”

Ikha berdecak. Ia mengambil majalah W Korea yang tergeletak di atas meja kecil yang menjadi pembatas antara dirinya dengan namja itu seraya mulai memperhatikan halaman demi halaman.

Geuraeyo? (Oh, ya?)” ucapnya, lagi-lagi dengan nada acuh. Ia sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan namja yang terlihat memasuki usia dua puluhan. Namanya memang cukup terkenal di kalangan trainee, tak ada yang dapat menyangkal fakta yang satu ini.

Namja berkacamata itu kembali menyunggingkan senyum. Setelahnya, ia hanya berdiam diri tanpa sedikit pun melakukan kontak mata. Selama beberapa menit, ruangan itu begitu hening dan senyap. Hanya terdengar bunyi keretan kertas setiap kali Ikha membalikan halaman majalah.

Ikha sangat tidak suka jika suasana berubah canggung dan kaku, maka ia pun memberanikan diri untuk bertanya lebih dulu. “Well, aku tidak pernah melihatmu di kelas. Apa kau trainee baru?”

Bola mata si namja berputar, melirik semampunya ke arah Ikha. Telunjuknya bergerak menaikkan letak kacamata yang agak merosot di hidungnya. Bibirnya merengus serta bahunya bergerak naik-turun.

“Terserah kau saja,” dengus Ikha, malas mengartikan komunikasi non-verbal yang namja itu berikan padanya. Meski dalam hati Ikha berpikir bahwa sepertinya namja ini juga bagian dari agency ini. Mungkin saja dia sudah debut di drama musikal sebelumnya. Lihat saja penampilan dan proporsi tubuhnya, hampir mirip seperti artis sungguhan.

Aish, Lee Donghae! Apa yang kau lakukan sampai-sampai membuatku menunggu?” dumal Ikha sambil sesekali melirik jam dinding yang ada di dalam ruangan tersebut.

Majalah yang semula ia baca dilempar sembarangan ke atas meja, meletakkan satu kaki di atas kaki lainnya kemudian melipat kedua tangan di dada. Ia paling bosan menunggu. Ditambah lagi tak ada apapun yang menarik untuk dipandang di ruangan ini—selain namja itu tentunya.

Ya. Apa kau juga sedang menunggu ahjussi itu?” tanya Ikha, bergumam pada si namja.

Aniyo, (Tidak)”

Geurigo? (lalu?)”

Namja itu memutar pulpen bentuk tulang di antara jemarinya sambil menaikkan kedua alis. “Menunggumu,” jawabnya.

Na? (Aku?)” Ikha menunjuk telunjuknya sendiri pada wajahnya. “Dasar namja aneh,” imbuhnya, sedikit berbisik—meski namja itu dapat dengan jelas mendengar apa yang ia sebut barusan.

“Sebelumnya, apa kau pernah bertemu ahjussi bermarga Lee itu?” Ikha melayangkan satu pertanyaan lain pada namja yang masih tenang membaca deretan tulisan pada lembaran kertas putih yang ada di pangkuannya. Dagunya bergerak menunjuk ke arah meja utama.

“Memangnya kenapa?” Si namja balik bertanya.

“Hanya penasaran. Aku bingung kenapa namja itu meloloskanku tanpa audisi. Lagipula banyak yang ingin kutanyakan padanya,”

Ikha mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Rapih. Satu kata yang dapat mendeskripsikan tempat itu. Semua miniatur dan furniture ruangan di dominasi oleh warna hitam. Sedangkan cat dindingnya berwarna putih bersih. Kaca besar yang membatasi ruangan dengan keadaan di luar berhasil membuat cahaya yang masuk bertabrakan dengan keramik di lantai. Kilauan-kilauan yang terpancar membuat ruangan itu menjadi semakin indah.

Akhirnya Ikha memilih untuk mengelilingi ruangan. Agak malas juga berhadapan dengan namja bisu yang lebih senang mengajak  kertas-kertasnya bicara ketimbang dirinya. Tampan sih iya. Sayang, pembawaannya terlalu tenang. Ikha sempat menemukan beberapa foto di atas buffet kayu yang ada di sayap kiri ruangan. Well, dari sekian banyak foto, ia hanya mengenal foto Kai dan Taemin. Sisanya masa bodoh.

Saat sampai di depan meja si pemilik agency, Ikha memberanikan diri untuk mengitari meja tersebut. Seperti halnya meja-meja pengusaha lain, terdapat silinder yang berisi beberapa bolpoint di atas meja, tumpukan dokumen, telepon, replika Spiderman dan Batman setinggi sepuluh sentimeter serta beberapa bingkai foto. Alis yeoja itu mengerut tatkala melihat satu foto yang membuatnya harus menyipitkan mata—takut-takut ia salah lihat.

Ya. Kau tidak sedang mempermainkanku ‘kan?” tuduh Ikha pada si namja yang masih duduk tenang pada sofa.

Namja itu mendongak, memutar kepala untuk menatap Ikha yang tengah berdiri di dekat meja utama. “Maksudmu?”

Ige… (ini…)” Ikha mengarahkan satu foto namja yang sama persis dengan namja yang ada di hadapannya. Pada foto itu, si namja mengenakan jas hitam dan juga dasi yang membuatnya terlihat begitu formal.

“HYUNG!”

Teriakan seseorang dari arah pintu berhasil mengalihkan perhatian Ikha dan juga namja berkacamata tersebut. Kai, dengan langkah tergesa dan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, menatap Ikha sekilas seraya mendekati si namja.

“Aku harus latihan dance dengannya. Jangan menahan Cho Ikha dulu sebelum urusanku selesai,” pinta Kai.

Ikha menganga saat Kai menarik-narik lengan kaus panjang yang dikenakan namja tersebut. Sekali lagi ia memperhatikan foto di tangannya dan detik berikutnya ia beralih pada namja yang dipanggil ‘hyung’ oleh Kai. Hal itu terus saja berulang selama beberapa kali. Masih jelas di ingatannya saat Kyuhyun mendeksripsikan bagaimana rupa si pemilik agency yang diceritakannya beberapa hari lalu. Keriput bukankah sama artinya dengan raut wajah namja tua bangka? Tapi ini…?

Jamkkan! Aku tidak salah orang ‘kan?”

***

SULIT DIPERCAYA. Apa yang diterangkan Kyuhyun benar-benar di luar ekspektasinya. Hampir lima belas menit Ikha habiskan hanya untuk memandangi wajah Donghae. Ya. Lee Donghae, Head of Sound Ent yang sejak awal dibencinya. Ia masih (sangat) tidak percaya jika CEO tempat ini masih terbilang cukup muda. Sangat muda malah—dan tampan tentunya.

Sebelum Kai diusir dari ruangan oleh Donghae, Ikha masih memutar-mutar statement Kai di dalam benaknya perihal kebenaran bahwa namja yang kini duduk di singgasana itu memang benar adanya—pemilik agency. Statement Kai yang mengatakan bahwa Donghae adalah Hyung-nya sekaligus pemilik agency ini ternyata cukup mematahkan keraguannya.

“Kau benar-benar CEO dari tempat ini?” selidik Ikha yang kini duduk pada kursi yang telah disediakan di depan meja utama, tepat berhadapan dengan Donghae.

Donghae hanya tersenyum simpul dan berdeham pelan. Jemarinya bergerak menyentuh touch screen ponsel-nya seperti sedang mengetik sesuatu. Kesempatan itu Ikha gunakan untuk memperhatikan kembali wajah Donghae. Benar. Wajahnya sangat jauh dibandingkan dengan deskripsi Kyuhyun.

“Kau yakin? Benarkah kau Lee Donghae? Lee Donghae yang asli?” tuntut Ikha, ragu masih nampak jelas di wajahnya.

Wae? Ingin meminta maaf karena sudah mengataiku barusan?” seloroh Donghae seraya melepas kacamata lensa lebar berbingkai hitamnya.

Anio (Tidak),” tandas Ikha dengan cepat.

“Cara bicaramu terdengar seperti warga asing, Cho Ikha-ssi. Tidak ada sopan santun dan berani bicara ketus pada orang yang lebih tua darimu—misalnya padaku,” ucap Donghae, penuh dengan ejekan.

“Berarti kau harus membiasakan diri,” Hanya itu jawaban Ikha.

Donghae meletakan ponsel kebanggaannya, menyatukan ke sepuluh jari seraya menatap lurus pada Ikha. Perhatian namja itu kini sepenuhnya terpusat padanya. “Kau tidak takut jika aku mencoret namamu dari daftar?”

Ikha mencibir. “Tidak masalah. Lagipula aku tidak begitu tertarik dengan drama musikal,”

“Lalu kenapa kau tetap menjalani proses ini?” Kembali Donghae mengajukan pertanyaan pada Ikha, menyerangnya.

“Kukira kau tahu apa motifku berada disini,” sindirnya. Ikha menyandarkan punggung pada tubuh kursi. Bagian tubuhnya itu terasa tegang dan kaku saat berhadapan dengan Donghae.

Kemudian Ikha membalas tatapan Donghae tak kalah lurusnya. Ia sedang mencoba menerka apa yang ada di dalam pikiran namja itu. “Sayangnya aku belum bisa menebak motifmu meloloskanku audisi, Lee Donghae-ssi.” Tuturnya. Menyerah karena ia tak dapat menemukan apa yang dicarinya lewat manik mata hitam Donghae.

Sejenak Donghae menyisir poni hitamnya menggunakan jemari kemudian kembali menatap Ikha yang kini sudah mengalihkan lagi pandangannya pada replika Spiderman di atas meja. “Seberapa besar kebencianmu pada ayahku—Lee Sooman, Cho Ikha-ssi?”

Abeoji? (Ayahmu?)” ulang Ikha.

Namja yang memiliki senyum mematikan itu mendengus. “Perlukah kujelaskan padamu lebih rinci? Saat kau melihatku, sepertinya yang ada di bayanganmu tentang siapa yang duduk di tempat ini bukanlah namja tampan sepertiku, melainkan namja tua dengan kacamata plus yang menjadi alat bantu penglihatannya. Bukan begitu?”

Tawa mencemooh Ikha menggema di seluruh penjuru ruangan. Ternyata Donghae memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi juga. “Lalu?”

“Aku hanya tinggal menutup mulut dan mendengarkan kelanjutannya darimu,” kilahnya. Donghae menyandarkan tubuh pada kursinya hingga terdengar bunyi derit dari besi penyangga.

“Ternyata kau cukup pintar juga,” aku Ikha.

“Kau juga tipe yeoja yang tangguh,” puji Donghae, yang bagi Ikha malah terdengar seperti ejekan halus.

“Aku menggantikan posisi Appa bulan lalu karena beliau baru saja meninggalkan dunia ini. Sebelum ia meninggal, ia menitipkan pesan singkat padaku. Kau ingin tahu apa yang diinginkan Appa?”

“Aku sama sekali tidak tertarik dengan ceritamu,” acuh Ikha. Kini ia tak lagi tertarik pada replika Spiderman, deretan bandul besi setinggi tujuh sentimeter disamping replika itulah yang menjadi mainannya kali ini. Bandul itu berayun ke kiri dan ke kanan acap kali ia memantulkan bandul paling ujung.

“Mau tak mau kau harus mendengarkanku, Ikha-ssi. Atau selamanya akan ada jarak antara kita berdua,” ucap Donghae, bersikukuh.

“Memang harusnya seperti itu, bukan?” ucap Ikha, masih dengan sengaja tidak melakukan kontak dengan Donghae.

Kembali Donghae mendesah berat. Bahunya yang semula tegak kini turun terkulai. “Selain tangguh, kau juga cukup keras kepala. Sama seperti Kai,” gumamnya.

“Adikmu itu angkuh. Bukan keras kepala. Jangan samakan aku dengannya,” Ikha berkilah. Ia lebih senang disebut yeoja berkepala batu dibandingkan harus disamakan dengan Kai.

Donghae terkekeh pelan saat mendengar kata-kata yang dilontarkan Ikha. Kepalanya menggeleng-geleng pelan. Seumur hidup, ia hanya mengenal dua orang yang keras kepala dan berhati baja. Kai dan Ikha pastinya.

Appa membuat sebuah pengakuan padaku,” tutur Donghae, memulai ceritanya. Ikha hanya melirik sekilas pada namja itu kemudian kembali bermain dengan bandul besi.

“Ada seorang namja bermarga Cho. Ia adalah orang yang sangat bertalenta. Suara emas, acting yang mumpuni, pintar, tampan… Namja itu menjadi incaran hampir seluruh agency di Seoul berkat kemampuannya. Sayangnya, ia memutuskan untuk menjadi bagian dari X-One Ent—menurut Appa-ku tempat itu hanyalah sebuah agency bobrok yang hampir bangkrut. Appa memberinya sebuah tawaran besar agar ia mau bergabung dengannya. Sayang, namja itu tetap bersikukuh dengan keputusannya. Sama denganmu, sangat keras kepala.”

Ikha berdecak setelah berhasil mencerna kata-kata Donghae. Masih jelas dalam ingatannya ketika ia melihat dengan kedua matanya sendiri begitu Kyuhyun tidak dapat mengendalikan mobilnya. Malam di saat kejadian itu berlangsung, Ikha dan Kyuhyun memutuskan untuk pergi berdua merayakan keputusan Kyuhyun untuk bergabung dengan X-One.

Oppa-nya itu pergi lebih dulu karena harus bertemu beberapa orang penting untuk drama musikalnya nanti. Hingga kejadian naas itu tak dapat terelakan. Dari jarak beberapa puluh meter dari tempatnya berdiri, Ikha dapat melihat dengan jelas saat mobil Kyuhyun oleng kesana kemari kemudian terguling menabrak pembatas jalan.

Ikha menyelipkan rambutnya ke balik telinga. Yeoja itu juga sempat menelan ludah sesaat. Ia sangat membenci pemilik Sound Ent yang telah membuat Kyuhyun menjadi namja yang begitu terpuruk. Suaranya emasnya mungkin tidak hilang, tapi ia harus memulihkan kakinya beberapa bulan lagi agar ia bisa menari dengan baik.

“Apakah pengakuannya itu sama dengan apa yang ada di benakku sekarang?” bisik Ikha.

“Sejujurnya ia tidak pernah dengan sengaja mencelakai Kyuhyun. Ia hanya berniat untuk memberinya sedikit peringatan. Tak disangka jika yang dilakukan Appa ternyata—“

“Jadi memang dia yang melakukannya—dengan menyuruh seseorang merusak rem mobil Kyuhyun? Benar begitu?” sungut Ikha, menginterupsi kalimat Donghae.

Namja itu sempat diam selama beberapa detik kemudian menjawab dengan berat hati, “Yeah,”

Ikha menjatuhkan tubuhnya kembali pada punggung kursi. Satu tangannya sedikit mengepal. Kuku-kuku jarinya yang cukup panjang menembus kuat ke dalam permukaan telapak tangannya. “Aku jadi semakin muak berada di tempat ini,”

“Justru itu, Ikha-ssi. Sebelum beliau benar-benar pergi, ia memintaku untuk menebus apa yang telah diperbuatnya. Ia hanya tidak menyangka jika perbuatannya akan berdampak besar pada Kyuhyun,”

“Dengan cara apa ayahmu akan menebus semua yang telah terjadi pada Oppa-ku, Lee Donghae-ssi? Menjadikanku bintang besar?” ucap Ikha. Nadanya tidak terdengar dipenuhi amarah, hanya terkesan mencemooh.

“Setidaknya hanya itu bisa kuperbuat,” kata Donghae, wajahnya begitu pasrah seolah ia tak dapat berpikir lebih jauh lagi untuk menjawab semua pertanyaan Ikha yang begitu retoris.

“Kenapa pikiranmu begitu picik, Donghae-ssi?”

Tepat setelah Ikha menyelesaikan kalimatnya, ia bergegas dari tempat duduk dan berjalan gontai ke arah pintu. Pengakuan Donghae cukup menjelaskan motif namja itu meloloskannya audisi. Meminta maaf atas perlakuan ayahnya pada Kyuhyun? Entahlah Ikha tak peduli sekarang.

“Kau tidak akan pergi sebelum aku selesai bicara, Ikha-ssi.” Sergah Donghae seiring pergerakan Ikha yang kian menjauh darinya.

Yeoja itu menghentikan langkah kakinya sejenak. Tetap berdiri disana tanpa memutar tubuh sedikitpun untuk menatap Donghae. “Tak ada yang perlu dibicarakan lagi bukan?” ucapnya kemudian kembali bergerak, bersiap membuka kenop pintu.

“Lee Hyuk Jae,” sahut Donghae, agak kencang menyebut nama namja yang sangat familiar di telinga Ikha.

Serta merta yeoja dengan rambut panjang hitam legamnya mematung, memegang kenop pintu seolah meremas benda tersebut hingga urat-urat di punggung tangannya kian tampak. Dari balik punggungnya, Donghae tengah tersenyum tipis memperhatikan Ikha. Ia berhasil menahan kepergian yeoja itu dengan menyebut nama Eunhyuk.

“Kurasa kau akan menutup pintu dan kembali duduk disini karena kau pasti tertarik mendengar ceritaku nanti,”

***

MALAM TELAH BERGANTI larut. Tak disangka jika perbincangannya dengan Donghae begitu panjang hingga ia tak menyadari angin malam begitu kuat menerpa tubuhnya. Ikha berjalan perlahan menuju halte bus terdekat. Hanya beberapa orang saja yang melintas di sepanjang jalan, meski kendaraan tampak padat pada traffic-line. Ia mengeratkan sweater yang membungkus tubuh bagian atasnya semakin erat. Musim semi sebentar lagi akan berakhir, tapi kenapa cuaca masih begitu dingin?

Saat jarak antara dirinya dengan halte terpaut beberapa meter saja, Ikha menyipitkan kedua mata mendapati sosok namja tengah duduk manis disana. Sepertinya ia sedang menunggu kedatangan bus selanjutnya. Bibir Ikha bergerak membentuk senyum tipis. Eunhyuk tengah mengamati jalan raya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam coat hitam sebatas lutut yang dikenakannya.

Agak ragu, Ikha berjalan menghampiri Eunhyuk. Rasa penolakan sempat menghampiri benak Ikha selama beberapa detik—mengingat bahwa Eunhyuk selalu saja menghindarinya setiap kali mereka beradu kontak mata. Tapi ia harus mencoba. Semoga namja berambut blonde tersebut tak lagi menolak kehadirannya.

“Bolehkah aku duduk disini?” tanyanya, sedikit hati-hati.

Seketika Eunhyuk menoleh pada Ikha yang masih berdiri tegak. Namja itu sedikit mendongak dibuatnya. Untuk kali pertamanya senyum Eunhyuk mengembang meskipun tak begitu kentara. Senyum tulus yang baru ditemukan Ikha selama ini.

“Tentu saja,” jawabnya kemudian menggeser sedikit tubuhnya agar Ikha bisa duduk disampingnya.

Ikha tersenyum puas. Senang rasanya saat namja ini tak lagi menghindarinya. Tak apa jika ia akan pergi setelah beberapa menit. Yang penting Ikha bisa menghabiskan waktunya sejenak bersama Eunhyuk, meski hanya dalam diam saja.

“Kau baru pulang?” Kembali Ikha bertanya pada Eunhyuk yang masih menatap jalanan di depannya.

Eum, latihan bersama Hyoyeon. Kau sendiri?”

Lagi-lagi Ikha tersenyum puas mendengar jawaban Eunhyuk. Setelah sekian lama bertemu, baru kali ini Eunhyuk mengajukan pertanyaan normal padanya. “Well, CEO agency ini cukup menyita waktuku saat beradu argumen dengannya,” jawabnya sumringah.

Eunhyuk menundukkan kepala sejenak, mengeratkan coat-nya kemudian membenahi letak kacamata dimana lensa beningnya hampir menutupi seluruh matanya. “Acting-mu sangat bagus,” ucapnya, hampir tak terdengar oleh Ikha.

Thanks,” Hanya itu jawaban Ikha. Ia tak tahu harus berkata apa jika sedang berhadapan dengan Eunhyuk. Apalagi jika namja ini memujinya.

Saat Ikha masih asyik bergumul dalam hati perihal perubahan sikap Eunhyuk yang lebih manis ketimbang beberapa waktu lalu, bus yang akan membawanya ke daerah Gwangju datang dari arah selatan. Ikha sempat berdecak saat pintu bus yang berjarak ± 3 meter darinya terbuka lebar, seolah mengajaknya untuk pergi.

“Sepertinya bus-ku datang lebih dulu. Aku pergi,”

Ikha berdiri dari tempatnya kemudian membenahi sweater yang dipakai sebelum mulai melangkah. Saat itu pula, ia merasakan hangat yang terpancar dari tangan seseorang tengah menggenggam kuat pergelangan tangannya. Ia berbalik dan menemukan Eunhyuk yang kini menatap lurus padanya.

“Tunggulah beberapa menit lagi,” pinta namja itu.

Senyum Ikha kembali mekar. Meski Eunhyuk tidak begitu menuntutnya, ia tak dapat menolak permintaan namja itu sedikitpun. “Jika itu maumu,”

Kemudian ia menghadap ke arah pintu bus, membungkuk beberapa derajat pada si supir yang dijawab oleh anggukan pelan dari namja paruh baya tersebut—mengerti bahwa Ikha tak akan ikut bersama bus itu. Mungkin nanti, bus selanjutnya.

Yeoja itu kembali duduk di tempat semula setelah Eunhyuk melepas genggamannya. Namja itu melarangnya pergi, kesempatan ini harus ia manfaatkan dengan baik.

“Aku tidak tahu bagaimana harus memulainya tapi—” Eunhyuk sedikit menggantungkan kalimatnya sejenak untuk menelan ludah yang terasa cukup sulit dilakukannya. “—maaf, Kha-ya.” imbuhnya.

“Tak apa. Aku sudah melupakan semuanya,” aku Ikha.

Ia menatap Eunhyuk yang masih menunduk menatap kedua kakinya sendiri. Ia begitu gembira saat namja itu menyebut namanya sama seperti dulu. Tidak lagi dengan embel-embel –ssi yang membuatnya seolah dikelilingi tembok besar yang menghalangi mereka berdua.

“Aku tidak akan menuntut apa-apa lagi padamu, Oppa. Aku hanya ingin lebih dekat denganmu. Itu saja. Aku juga minta maaf jika selama ini sikapku membuatmu risih,” ungkap Ikha. Sebagai rasa terima kasih karena Eunhyuk telah menyebut namanya secara informal, Ikha membalasnya dengan mengganti nama namja itu menjadi Oppa. Hal yang begitu jarang ia lakukan pada semua pria.

“Kau harus tahu bahwa—“

“Aku tidak ingin mendengar kata-kata penolakan lagi darimu, Oppa. Aku akan menjauh darimu jika itu yang kau mau. Namun selama hal itu berlangsung, aku akan tetap menunggu kedatanganmu dan menceritakan apa yang terjadi selama ini padamu—pada kita. Sesuatu yang tak kuketahui,” ungkap Ikha, menyela pembicaraan Eunhyuk.

Saat Eunhyuk memberanikan diri menatapnya, yeoja itu balas menatap Eunhyuk lekat-lekat hingga ke dalam pupilnya. Rasa bersalah semakin menaungi Eunhyuk tatkala Ikha mengungkapkan apa yang ia sebut barusan. Seharusnya ia yang mengatakan hal itu pada Ikha, bukan sebaliknya.

Tangan Ikha yang semula bersembunyi di dalam saku sweater hangatnya kini bergerak meraih wajah Eunhyuk. Ibu jarinya mengusap permukaan wajah namja itu dengan pelan, mulai dari pipi, hidung, hingga bibir tipisnya. Penjelasan Donghae perihal Eunhyuk di sela perbincangannya di ruangan namja itu cukup masuk akal jika dikaitkan dengan kepergian Eunhyuk ke Amerika tiga tahun lalu. Kini ia mengetahui semuanya…

“Ternyata kau masih sama seperti dulu,” bisik Ikha, mengagumi wajah Eunhyuk yang sama sekali tidak berubah saat terakhir kali mereka bertemu tiga tahun lalu.

Tepat setelah itu, sebuah bus menuju Gwangju kembali datang menghampiri halte. Tanpa mengucapkan kata perpisahan, Ikha beranjak meninggalkan Eunhyuk dan berlalu memasuki bus. Eunhyuk memperhatikan kepergian Ikha dalam diam. Namja itu mendesah hebat. Kedua tangannya menutupi wajah, mengusapnya perlahan setelah melepas kacamatanya terlebih dahulu.

“Aku ini benar-benar seorang pengecut,” bisik Eunhyuk pada diri sendiri.

***

LEE DONGHAE?” pekik Kyuhyun saat Ikha menjelaskan pertemuan singkatnya dengan Donghae kemarin malam.

“Jadi Lee Sooman sudah digantikan oleh anak tertuanya?” tanya Kyuhyun sekali lagi dan dijawab oleh anggukan kecil dari Ikha.

“Dia sudah meninggal beberapa bulan lalu. Seperti itulah yang dikatakan Donghae padaku,” imbuhnya. Ikha sedang mengaransemen ulang lagu Because I’m in Love yang dipopulerkan Yoo Jae Ha. Lagu yang dipilihnya untuk berduet dengan Taemin di kelas menyanyi.

Kyuhyun duduk tenang disamping Ikha. Sengaja tak ingin mengusiknya. “Lalu sekarang apa tindakanmu selanjutnya? Tetap bertahan di musikal itu?”

“Tentu saja. Aku sudah bilang jika masih ada alasan lain yang membuatku bertahan disana,” jelas yeoja yang kini menguncit rambutnya menjadi satu. Ia jadi terlihat seperti Panglima Zhou di film The Mummy sequel The Last Emperor.

“Lee Hyuk Jae bukan?” goda Kyuhyun sambil mencolek genit bahu Ikha.

Ikha menautkan alis. “Bagaimana kau tahu?”

“Namanya itu tepat di bawah namamu dalam list audisi. Lagipula siapa lagi yang memiliki nama jelek selain namja yang kau sukai itu?”

“YA!” Ikha berteriak sambil memasang wajah tak sukanya pada Kyuhyun. Sepertinya ke-evil-an namja itu mulai kumat.

“Aku heran kenapa kau sama sekali tidak melepas namja itu pergi? Bukankah dia sudah menelantarkanmu begitu saja?” tanya Kyuhyun, penuh dengan rasa keingin-tahuan.

“Aku mencintainya,” jawabnya singkat.

Kkotjimal! (Bohong!)” tuntut Kyuhyun sengit. “Sulit mencari seseorang yang setia hingga tiga tahun menunggu orang yang dicintainya kecuali terjadi sesuatu di antara mereka,” sambungnya, mengucapkan kalimat itu tanpa jeda sedikitpun.

“Apa maksudmu?”

Kyuhyun mencoba membaringkan tubuhnya agar sejajar dengan Ikha yang tengah asik tengkurap di tempat tidurnya. Wajahnya sengaja ia dekatkan pada wajah Ikha, membisikan sesuatu di telinga chin-dongsaeng-nya. “Kalian sudah melakukan ‘itu’ ‘kan? Dimana? Kapan?”

Sontak Ikha menghajar Kyuhyun dengan mendorong tubuh namja itu menjauh darinya. Guling yang semula menjadi penahan tubuhnya kini mendarat mulus di kepala Kyuhyun. Namja itu tertawa girang. Mengejek dan menggoda Ikha memang satu dari sekian banyak hal yang disukainya di dunia ini.

“JANGAN BICARA SEMBARANG, CHO KYUHYUN! AKU MASIH PERAWAN!”

***

SUDAH KUBILANG untuk menungguku setelah urusanmu selesai, Noona! Aku menunggumu semalaman di ruang latihan!” rutuk Kai setelah akhirnya menemui Ikha keesokan harinya di Handle and Gretel Coffee Shop.

Mian, mian… Aku sedang buru-buru jadi lupa jika kita ada janji.” Jawab Ikha membela diri.

Ya! Gampang sekali kau berdalih? Lalu bagaimana dengan dance kita? Kita sama sekali belum latihan sedangkan waktu tinggal tiga hari lagi!” Kai kembali menyemprot Ikha dengan segala kekesalannya.

Ikha menyesap Latte hangatnya sebelum berucap, “Daya ingatku masih baik, Kai. Tenang saja,”

“Baik katamu? Kalau baik kenapa kau bisa lupa dengan jadwal latihan kita?” elak Kai.

“Setidaknya hari ini akan kudedikasikan penuh untukmu ‘kan? Aku sudah meng-cancel semua janji dan jadwal kuliahku khusus untuk latihan. Eotthe?” Ikha memberikan penawaran khusus pada Kai sambil melirik penuh aegyeo padanya.

Kai mendengus seraya menyisir rambut hitam pekatnya agak kasar. “Kau ini memang pintar merajuk, Cho Ikha-ssi.”

Ikha terkekeh mendengar jawaban Kai. Namja itu ternyata berhasil luluh juga—meski pada awalnya ia terus merutukinya dengan kata-kata makian. Mereka memutuskan untuk duduk di cafe beberapa menit lagi sebelum pergi ke gedung Sound untuk latihan. Ikha tengah mencoba memahami lawan mainnya atau ia akan kesulitan melakukan kontak fisik dengannya saat menari tango untuk kelas tari nanti.

Ya. Bukankah itu Hyoyeon Noona?” Kai menyikut siku tangan Ikha yang terlipat di atas meja.

Perhatian yeoja itu yang semula terfokus pada ponsel layar sentuhnya kini beralih pada dua insan yang tengah berjalan melintasi cafe yang mereka kunjungi. Sangat akrab hingga Ikha berspekulasi bahwa mereka sedang berkencan. Ketika tangan si namja mengusap puncak kepala si yeoja dan yeoja itu melemparkan senyum padanya—yang bagi Ikha senyum itu sama sekali tidak manis, Ikha hanya bisa menggigit jari menahan kesal.

“Kai,”

Eum,”

“Aku ingin kau membantuku,”

…bersambung…

copy-header.jpg

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

98 thoughts on “STEP FORWARD (Chapter 03)”

  1. pokoknya yang panjanggggg yah kak, terus konfliknya ditambah or diperjelas. Hehehe disini eunhyuk aman kok kak, berhubung puasa jadi kita gak berani beryadong or nonton yadong. Kita insyaff :))). Secepatnya FF ini dilanjutkan :PPPP

    1. hahahaha, oke nissa, aku usahain bikin next part yang gak ngecewain kalian lagi… semoga aja migrain gk menyerang, akhir” ini sering banget migrain soalnya, aeeeeeh`~
      makasih yaaa buat komennya~

  2. annyeong oenni,. aku reader bru skaligus istrinya kyuhyun oppa,. hehehe
    oen ffmu krang pnjang kekeke,.
    di tnggu ff slanjutnya.,
    annyeong!!

    1. anyyeong haseyo evil takyu (kkk~ abis bingung mau nyebut apa..)
      Ahahaha, boleh boleh.. Apa? istri kyuhyun? ih, males banget aku punya kakak ipar kek kamu. tidaaaaaaak, hahaha~
      Sip sippp, next partnya tar aku panjangin. makasih ya udah komen disini,, salam kenal~ >,<

  3. waaaahh telat bangeet! Gara gara pulsa cekak jadi ga pernah browsing lagi-..- kayanya yg namanya TBC harus dihapus dari bumi, bikin gregetan doang unn.. 😀

      1. ternyata bukan hae yang nyelakain kyu .
        aduhh penasaran apa yang di bicarakan hae pada ikha tentang eunhyuk ><

  4. cari komenanku kok gak ketemu?????
    ternyataaaaaa…saya belum baca ini sodara sodara …
    maklum efek tua kali ya?????? huaaaaa………

    sek sek sek … itu yg diobrolin tentang hyukjae apa ya? penasaran…

    tiba2 hyukjae jadi manis gitu … udah gak kuat jauh2 an ya bang???? hahahaha

    ah gak mau panjang2 mau baca next chapt langsung aja

    1. Huuuu~ yaudah gapapa onn.. sebagai gantinya, jauh jauh dari eunhyuk. titik~ /tetep maksa
      masa komennya begini doang, ahh onn gak asik~
      /lempar kolor eunhyuk\

  5. huahhaha orangtua disamain sama anak brondong (?) kaya donghae xD ikha, ikha… *geleng2*
    kebayang ga wajah eunhyuk pas di halte bus itu ? aigoo.. aku aja langsung butuh bantuan oksigen !! *oke, lebay*
    oh iya eonn, itu yg kata2 pertama ditiap awal paragraf keren, di caps + di bold. jadi serasa baca novel >,<
    hhuhu.. lanjutkan eonn !! ;D

  6. itu itu donghae ngomong apan tuh ke ikha masalah eunhyuk ><
    maennya rahasia rahasiaan nih authornya kan makin penasaran ini jadinya
    *di lempar eunhyuk ama author*

  7. tuh kan,, tuh kan,, warning deh kha,, inget itu sih Kai masih di bawah umur,, jgn2 blom pny KTP tuh,, jgn dimanfaatin sembarangan dong,, kakaknya aja noh yg manfaatin,, kkkk #diinjek xp
    bagus, jgn ngemis2 lg ma hyuk,, buat dia menyesal sudah meninggalkanmu kha,, huehehehe *evil laugh*
    btw skinshipnya mana nih?? jarang bgt yak.. wkwkwk

      1. sediiiihhhh T.T kasian banget si kkamjong dimanfaatin doang. Yaudah sih fix gue bungkus si kai. gue bawa pulang aja biar dia gak sakit hati. *ngaco*

      1. udah baca semua gw…. tapi baru komennya segitu doang, ntar dah nyusul yak… hehe… *aneh ya gw… 😦

        gw tau kok, gw juga jadi tau klo karakter ikha disini tuh sisi lain elu dalam dunia nyata kan??? *sotoy lagi…

        bener gak gw??? ngaku aja deh… hehe… 😛

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s