EXO PLANET “Chapter 03” (REPACKAGED)

EXO PLANET NEW TEASERUNTUK KE SEKIAN KALI, CHO MERASAKAN TUBUHNYA seolah terhisap ke dalam lubang angin hingga memaksa setiap partikel-partikel dalam tubuhnya terpecah-belah oleh kekuatan tersebut. Baginya, teleportasi bukanlah heroin─yang membuat Cho ketergantungan untuk mengkonsumsinya tanpa henti.

Detik berikutnya, sepasang kaki Cho menapak perlahan di atas lapisan marmer. Bola matanya bergerak mengamati sekelilingnya. Selama berada di planet asing itu, ia hanya mengenali dua tempat saja; markas Castè Krypth dan tempat tinggal Sehun. Entah mengapa dengan begitu mudahnya ia mengikuti ajakan si pria jangkung untuk berteleportasi.

Cho kini berada di dalam sebuah ruangan bergaya kontemporer. Atapnya menjulang tinggi, tiang-tiang besar mengapit lorong panjang yang berada tak jauh dari pandangannya. Sentuhan modern yang menghias bentuk jendela membuat ruangan itu semakin mewah diterpa cahaya dari alat penerangan di sana. Baginya, ruangan besar yang ia anggap sebagai istana kerajaan itu sama megahnya dengan Istana Buckingham yang menjadi kediaman Ratu Inggris. Bahkan ia menemukan karpet merah menjulur panjang sejauh lorong.

Pria jangkung dengan jubah merah menyala itu pun melepas genggamannya. Kedua tangannya terbuka lebar, mempersilahkan Cho untuk berjalan mendahuluinya.

“Selamat datang—” ucapnya, menciptakan langkah-langkah menuju tempat yang lebih jauh ke dalam ruangan. “—di Istana EXO Planet,” imbuh si pria. Tak lupa beberapa pengawal membentuk formasi di kedua sisinya.

Cho tak banyak berpikir. Langkahnya kini setara dengan pria berkumis lebat tersebut. Saat melewati belokan ketiga, ia sempat takjub mendapati taman seluas lapangan baseball yang dihiasi kolam segi enam tepat di pusatnya. Air keperakan yang muncul dari lambang EXO di kedua tangan patung perempuan berambut panjang pun menarik perhatian gadis itu selama sepersekian detik.

Ketakjuban Cho lantas berbalik menjadi kekaguman.

Pintu besar berukiran sepasang pria dan wanita di seberang taman berkelip indah seperti dikelilingi lampu hias pohon natal. Enam pasang bendera dengan lambang EXO berdasar warna hitam terpajang rapi di tiap tepian pintu. Kumis lebat si pria jangkung menyipitkan mata besarnya. Cho yang terperangah melihat segala keunikan itu bukanlah sesuatu hal yang baru dialaminya.

“Maaf. Kenapa anda membawaku ke tempat ini?” tanya Cho. Matanya menyelidiki wajah si pria lebih detail. “Lalu, siapa anda?”

Hampir saja Cho melupakan pertanyaan tersebut. Sungguh tak lucu jika pria itu adalah penculik keji yang akan menjadikan tubuhnya sebagai hidangan lezat bagi penyihir jahat seperti di dalam Snow White & The Huntsman.

“Zaque, panglima perang yang akan segera digantikan oleh Kai,” jawab seseorang dari balik tubuh Cho.

Sontak si pria jangkung, Cho, dan para pengawal memutar tubuh mencari sumber suara. Pria bernama Zaque itu membungkuk, meletakkan satu tangan di dada seraya berucap ‘diu enim rex Parleemos King’.

Cho mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat. Pria yang berbicara itu tak setinggi Zaque namun memiliki kharisma yang terpancar dari tubuh tegapnya. Rambut blonde dengan perm di lapisan terluar terlihat sinkron dengan kulit putihnya. Jubah putih tulangnya yang menyeret-nyeret lantai sama sekali tak menutupi otot-otot bicep yang menyembul dari balik celana dan pakaian ketatnya.

Pria itu menyuruh Zaque untuk pergi. Diiringi pengawal yang lain, Zaque mengikuti perintah tersebut tanpa banyak basa-basi. Si jubah putih itu juga sempat mengucap terima kasih karena Zaque telah membawa Cho ke sana. Tentu saja, hal tersebut meninggalkan sebuah tanda tanya besar.

Apakah Zaque menjualnya pada pria yang─meski memiliki sedikit kerutan di wajahnya─menyilaukan pesona dan ketampanan yang luar biasa?

“Senang bisa bertemu denganmu, Cho Ikha-ssi.”

Pria dengan mahkota perak yang melingkar manis di kepalanya tersebut berjalan dengan langkah pasti ke arah pintu berukir. Sesampainya di sana, kenop dari rosewoods tersebut kemudian disentuhnya, menampakkan deretan cahaya yang membentuk sosok sepasang ukiran pada lapisan kayu.

Hanya berjarak tak lebih dari lima meter, alis Cho mengerut sempurna ketika ukiran tersebut membentuk wajah pria bermahkota. Seharusnya ia menyadarinya dengan cepat. Mahkota perak di kepalanya jelas merupakan simbol keagungan.

“Kau hanya cukup menyebutku Leeteuk. Gelar itu tak lebih dari sebutan makhluk-makhluk planet atas kepemimpinanku,” pria itu berucap sebelum akhirnya mengajak gadis itu untuk bergabung bersama langkahnya.

Cho mendengus.

Ia baru saja mengumandangkan beberapa hal di dalam pikirannya─tentang teka-teki mengenai siapa kah pria macho itu serta spekulasi-spekulasi lain yang nyaris tak masuk akal. Pria bernama Leeteuk tersebut seolah mampu membaca isi otaknya.

“Kuijinkan kau menyebutku Leeteuk Oppa, Ahjussi, Haraboji, atau Oraboni. Terserah kau saja.”

Lagi.

Gadis itu terperangah tatkala pria itu berhasil menghimpit kepala kecilnya dengan jawaban-jawaban telak yang ia butuhkan. Ia berani bertaruh jika Baekhyun maupun Sehun tak akan memahami imbuhan –ssi yang Leeteuk ucapkan sebelumnya.

Leeteuk menoleh lalu melemparkan senyum sederhana. Cho lantas merutuki diri. Jika memang pria itu dapat mengetahui pikirannya, ia harus segera menenggelamkan diri ke dalam kolam perak tersebut karena telah menyebutnya tampan dan mempesona. Bahkan ia sempat berteriak di dalam hatinya untuk menawarkan diri menjadi pendamping Leeteuk di masa depan.

Sungguh konyol!

Tak banyak menuntut, Cho memutuskan untuk mengekori Leeteuk. Sepatu berhak tinggi yang diperolehnya dari Sehun cukup menyulitkannya untuk berjalan. Hati-hati, gadis itu melangkah seperti balita. Ia yakin Leeteuk sedang menertawakannya saat ini. Kutukan yang Cho lantunkan pada heels setinggi dua kali ibu jarinya itu terhenti saat ia mengamati ruangan di balik pintu berukir tersebut─tepat setelah Leeteuk membukanya lebar.

“Makan malam kali ini sengaja disediakan khusus untukmu. Selanjutnya, kau tak perlu menyuruh Kai untuk melakukan hal bodoh tersebut.” Leeteuk berucap seraya menghampiri ruang makan megah dengan meja panjang besar sebagai pusat ruangan.

Jika bukan karena kehormatan yang dijaganya, Cho pasti segera menerkam hidangan-hidangan yang membuat isi perutnya meloncat kegirangan. Selain itu, jika saat ini ia berada di dalam dunia kartun, ia yakin bahwa perut ratanya itu berubah menjadi mulut monster yang dipenuhi gigi-gigi taring yang menarik serta tubuhnya untuk menjamah penggugah selera di sana.

“Kai sama sekali tak mengetahui ajakan makan malam ini jadi kau tak perlu mendumal seperti ibuku,” Leeteuk berucap diiringi suara alas kursi yang bergesekan dengan lantai marmer.

Dengan menyalin setiap gerak-gerik Leeteuk, Cho memposisikan diri duduk tepat di sayap kirinya. Gadis itu agak gelisah. Hal itu nampak jelas dari kelima pasang jemarinya yang bergerak tak karuan di atas pangkuannya.

“Sekali pun aku berusaha untuk tak berpikir, bagaimana mungkin aku bisa menyembunyikan semua kegelisahan ini darimu?” Cho berujar. Seringaiannya berjalan mesra bersama senyum ketirnya.

“Apa yang sedang kau khawatirkan?”

Cho mengangkat kepalanya. “Kau dapat mengetahui apa yang ada di dalam kepala ini, Leeteuk-ssi. Aku pun mengira kau telah mengetahui latar belakangku tepat sebelum pria berkumis lebat itu membawaku kemari.”

Sepasang ibu jari Cho saling beradu di ujung kuku panjangnya. Ia kembali menunduk. Rasa lapar yang dirasakannya ternyata jauh lebih kuat dari kegelisahannya. Hal itu terbukti saat ia mencium wangi chicken stew yang menyeruak dari sela penutup mangkuk.

Leeteuk terkekeh. “Kau jauh lebih pintar dari yang kuduga.”

Kemudian sepasang pelayan dengan apron hitam menghampiri keduanya. Cho meyakini bahwa steak sapi yang di panggang medium disertai lada hitam tersebut merupakan hidangan utama. Cho tak kuasa menahan liur di mulutnya yang terasa sulit untuk meluncur ke tenggorokan.

“Sehun menyuruhku untuk tidak memberitahu siapa pun mengenai keberadaanku. Lalu bagaimana aku menjelaskan pada mereka mengenai semua ini?” tanya Cho, tepat setelah pelayan wanita meletakkan segelas cairan bening berembun di sampingnya.

“Ini hanya rahasia antara kita berdua─dan Zaque, pria berkumis lebat yang kau maksud itu. Jika kau tak ingin menimbulkan kepanikan di antara mereka, sebaiknya kita simpan pertemuan ini baik-baik di dalam ingatan kita.”

Setelah Leeteuk berucap, tak ada percakapan lain di antara mereka selama beberapa detik. Cho meraih pisau dan garpu. Ia mengiris potongan kecil tanpa melahapnya seperti yang dilakukan Leeteuk. Wangi bawang putih dan lada yang menyeruak membuatnya malah bermain-main dengan lelehan bumbu di atas daging merah tersebut.

“Jika kau mengetahui siapa diriku, kau pasti mengetahui pula tujuan Castè Krypth membawaku kemari. Kau akan mendiskualifikasi mereka dari pertandingan dan keesokan harinya kau pasti akan membuat pengumuman bahwa pemilihan ini dimenangkan telak oleh Kris.”

Cho meracau.

Itulah yang diyakini Leeteuk saat ini.

“Mengapa kau terus mengulang kata ‘pasti’, Cho Ikha? Apakah hal-hal yang kau sebutkan sebelumnya akan terjadi esok hari?” jeda sesaat bagi Leeteuk untuk menelan potongan daging. “Tidak ada yang pasti di dunia ini. Bahkan prediksi ahli geologis pun belum tentu mencapai angka sembilan puluh sembilan persen mengenai prakiraan cuaca esok hari.”

“Aku─ugh,” kunyahan pertama Cho membuatnya tersedak. Sambil berucap maaf, gadis itu meraih selembar tisu cokelat muda dan berharap Leeteuk tak merasa tersinggung saat ia memuntahkan potongan steak pertamanya.

Leeteuk tak merasa risih. Ia masih menikmati hidangannya dengan baik.

“Kau tak ingin gugus yang dinaungi oleh Kai tereliminasi dan kau sama sekali tak menyukai Kris. Beritahu aku jika kedua pernyataan itu adalah salah,” ucap Leeteuk seraya menatap lurus pada Cho.

“Aku tak bisa berbohong padamu. Itulah satu-satunya hal yang pasti di sini,” akunya.

Puas dengan jawaban Cho, Leeteuk kembali menyantap hidangannya. Senyum itu masih tak dapat disembunyikan dari wajah tampannya.

Disampingnya, Cho mengerut seperti kain lusuh. Ia masih menimang-nimang kembali untuk melahap santapannya atau kejadian itu akan terulang kembali─tersedak.

“Tahun ini usiaku genap seratus tahun dan aku harus segera menentukan siapa yang akan menggantikan tahtaku,” ucap Leeteuk, menyambung kalimat sebelumnya. “Dulu, aku adalah pemimpin dari prajurit Super Junior. Saat terjadi peperangan besar antara kaum kami dengan SHINee World, para prajurit satu per satu gugur di medan perang. Kami kalah jumlah. Pasukan bayangan mereka terlalu mengerikan dan kejam.”

Cho mendengarkan dengan baik. Ia sama sekali tak menyela meski Leeteuk membuat jeda yang cukup lama setelahnya.

“Sebelum tubuh prajurit lain melebur, kekuatan mereka dikirimkan padaku. Maka aku menjadi makhluk yang mampu melakukan apapun; membangkitkan mayat; menghisap nyawa seseorang; mengetahui segala rutinitas di dalam planet; membaca pikiran; serta usia yang tak berujung.”

“Karena itu kau diangkat menjadi Parleemos berkat kekuatan hebatmu?” tanya Cho polos.

Pria itu tersenyum, membuat lesung di pipinya semakin tampak. “Kata-katamu terdengar seperti anak berusia tujuh tahun,” ejeknya.

Cho hanya mencibir menanggapi kata-kata Leeteuk.

“Kau sadar bahwa evolusi setiap planet berbeda-beda, bukan? Sepertinya nilaimu di kelas Ilmu Alam tak lebih dari tujuh puluh.”

Cho menghentak ujung pisau dan garpunya hingga terdengar bunyi keras pada meja kayu tersebut. “Ini bukanlah saat yang tepat untuk mengungkap seluruh aibku, Leeteuk-ssi.”

Leeteuk lagi-lagi terkekeh. “Bukan mengungkap aib, Cho Ikha. Namun mengingatkanmu akan keberadaan planet ini di tata surya.”

Bola mata Cho berputar. Ia sedang tak ingin mendengar ocehan Leeteuk mengenai tata surya. Penghuni kelasnya tahu benar bahwa pelajaran yang amat dikuasainya hanyalah Bahasa Inggris dan Pengetahuan Umum. Sisanya, ia hanya perlu menghitung kancing saat ujian akhir semester menjelang.

“Kenapa kau terburu-buru untuk turun tahta? Bukankah usiamu masih panjang?”

Leeteuk meletakkan cangkir sebelum menjawab pertanyaan Cho. Tatapannya meredup dan senyum manisnya terasa kosong. “Tidak semua yang kuperoleh saat ini berdampak baik padaku, Cho-ssi. Kekuatan Ryeowook yang dapat melihat masa depan membuatku harus berhati-hati dalam mengambil keputusan.”

Pria itu kemudian mengiris steaknya. Keterangan mengenai Ryeowook pada Cho membuatnya harus bercerita lebih panjang atas prajurit Super Junior dengan kekuatan unik tersebut. Bahkan pula ia harus menyebutkan tiga belas nama lain agar gadis itu mengerti. Pertemuan ini nyatanya bukanlah sesuatu hal yang mudah.

“Jika aku menyantap daging hewan bumi ini maka aku akan terserang diare yang berkepanjangan. Namun jika aku memilih untuk tidak melahapnya, pelayanku di belakang sana akan menyantapnya diam-diam─atau mungkin anjing penjaga─dan mereka akan mengalami hal serupa.”

“Aku tak mengerti,” Cho menggeleng pelan.

Dilahapnya potongan daging sebelum Leeteuk melanjutkan, “Setiap keputusan yang kuambil memiliki konsekuensi, Cho Ikha. Karena kekuatan Ryeowook menaungiku selama ini.”

Bibir Cho membulat tanda mengerti. Selebihnya ia tak menggubris lagi. Saat ini Cho terlalu malas untuk berpikir. Terlebih lagi steak sapinya masih terasa aneh di mulut. Bagaimana mungkin ia dapat memfokuskan diri pada setiap pernyataan Leeteuk jika sebagian besar saraf otaknya hanya dipenuhi oleh hidangan untuk memuaskan nafsunya?

“Visualisasi apa yang kau lihat jika Kai tak membawaku kemari?” tanya Cho sekenanya, membuat pria berotot penuh di kedua lengannya terhenti sesaat ketika mengiris potongan daging terakhir.

“Keingintahuanmu itu seharusnya kau gunakan di kelas sejarah,” ucap Leeteuk, Cho paham pria itu sedang mengejeknya.

“Sedetail itukah kekuatan yang kau miliki?”

Meski agak berbelok dari topik semula, gadis itu kembali bertanya dan dijawab dengan anggukan kecil dari Leeteuk.

“Sejak dulu aku menginginkannya─turun tahta. Sayangnya, jika aku melakukan hal itu lebih awal, keputusan itu akan berdampak lebih buruk dari yang kukira,” jelasnya.

Cho mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Ia mulai menangkap hal-hal penting yang sedang pria itu sampaikan padanya. Sang penguasa planet pun sempat menyebutkan dua belas nama bergelar castè di dua gugus besar planet EXO. Termasuk Kai, Baekhyun, Sehun dan Chanyeol; pria-pria yang ia temui setelah kesadarannya yang diperolehnya hari lalu.

Kedua mata Leeteuk semakin dikelilingi kesenduan. Senyumnya tak lagi setulus semula. Dari sepenglihatan Cho, pria yang jiwanya hampir sama dengan kakek buyutnya itu tengah menanggung berbagai macam hal yang sulit ia bagi dengan orang-orang di sekitarnya.

“Sejujurnya, agak sulit bagiku untuk menghadapi sikap keras kepala Kai. Apa kau memiliki resepnya?”

Tawa Leeteuk berkumandang. Ia mengakhiri santapannya sebelum pria berapron hitam mengganti piring tersebut dengan mangkuk patbingsoo. “Dia sangat mirip dengan ayahnya. Keras kepala,” ujarnya.

Senyum Cho mengembang. Gadis itu meneguk teh lanvender di sampingnya. Hasilnya masih sama, minuman tersebut seperti seteguk pasir. Sama halnya saat ia melahap potongan daging sapi─yang rasanya seperti karet mentah.

“Tentang dirimu,” Leeteuk memberi jeda. “Apa kau sadar bahwa kau hanyalah segenggam  roh yang memadat membentuk tubuh manusia?” tanyanya.

Cangkirnya ia letakkan di atas meja. Cho berdeham, tak banyak bicara.

“Tubuhmu masih terbaring di bumi. Di rumah sakit lebih tepatnya,” jelas Leeteuk.

“Bagaimana keadaan orang-tuaku? Apa mereka baik-baik saja?” Cho menyelipkan rambutnya ke balik telinga saat bagian tubuhnya itu sempat menghalangi kedua matanya. Ada rasa keingintahuan yang luar biasa dari cara gadis itu bicara.

“Mereka baik-baik saja.”

“Bisakah kau kembalikan aku ke bumi, Leeteuk-ssi? Aku tak ingin menjadi bagian dari urusan kalian,” Cho meminta dengan agak memelas.

“Semua sudah digariskan. Lagipula hanya Kai yang mampu membawamu ke sana.”

“Tapi kau bisa melakukan apapun!”

“Kau masih tak mengerti dengan apa yang telah kukatakan sebelumnya.” Kedua mata Leeteuk tertuju lurus pada Cho, membuat gadis itu menunduk.

Kedua bahunya terkulai setelah tegak sempurna karena ketegangan yang melingkupinya. Leeteuk mengetahuinya, bahwa gadis itu masih belum mempercayai sepenuhnya dengan keberadaannya di planet EXO.

“Kau harus belajar beberapa hal. Kemarilah.”

Leeteuk mengulurkan tangan pada Cho, mengajak gadis itu mendekat padanya. Cho menurut tanpa menuntut. Dibawanya ia menuju jendela besar dengan tinggi yang hampir setara dengan dinding kokoh istana, meninggalkan sisa hidangan yang belum terjamah oleh keduanya.

Jendela kaca tersebut terbuka lebar, menyingkap beranda luas yang dibatasi oleh pagar semen berbentuk garis-garis lurus. Keduanya berjalan menuju pusat beranda. Disampingnya, Cho, hanya mampu mengamati. Kegelapan malam di sekelilingnya hanya mampu membuatnya menangkap titik-titik cahaya di bawah istana─tempat para penghuni planet di sepanjang lapisan tanah.

“Disana adalah Bukit Taash yang sempat kau kunjungi beberapa jam lalu bersama Kai.”

Pandangan Cho bergerak mengikuti arah telunjuk Leeteuk. Kedua matanya menyipit saat mengamati sebuah perbukitan yang hampir tertutup kabut tipis.

“Jadi,”

“Kau sempat melihatku saat matamu menembus mengamati titik terang itu,” pria itu menginterupsi kalimat Cho begitu gadis itu mulai menerka-nerka di dalam pikirannya.

Cho tertegun. Ia mengingatnya, peristiwa aneh yang ia alami saat ‘kedua mata’ itu menghisapnya jauh melewati hutan lebat dan danau pekat.

“Bagaimana mungkin─“

“Huglooms,” potong Leeteuk.

Mendengus, gadis itu memutar bola mata seolah candaan Leeteuk hanyalah bualan semata. Kedua mata Cho bertemu dengan mata Leeteuk setelah itu. Kemudian ia melempar pandangannya ke tempat lain. Sulit baginya untuk menolak kenyataan tersebut─bahwa sepasang mata hitam Leeteuk sangat mirip dengan yang ditemuinya di bukit sana.

“Jangan menyebut kata itu seolah-olah aku adalah makhluk yang kalian cari. Ini tidak masuk akal. Aku hanya seorang murid sekolah menengah atas yang selalu menakuti teman-temanku dengan hantu-hantu yang dapat kulihat. Bukan hoogloms, hoooklams, atau apalah itu yang kau sebut barusan,” oceh Cho.

“Justru itu, aku membawamu kemari karena kau perlu belajar untuk mengenal dirimu, makhluk-makhluk di sekitarmu, dan juga planet ini.”

Jawaban Leeteuk membuat Cho mendengus. Entah mengapa Cho menangkap sinyal bahwa ia akan tinggal di planet ini jauh lebih lama dari yang ia prediksikan.

“Apa kau tahu kekuatanmu hingga kau dapat menggiring mereka ke pedang tersebut?”

Cho menjawab ‘tidak’ dengan lantang. Matanya tersorot pada bangunan-bangunan tinggi di tengah kota.

“Matamu,” jawab Leeteuk singkat.

Alis Cho mengerut membentuk sebuah gelombang saat pria bermahkota itu menjelaskan perihal indera keenam yang dimilikinya. Serta alasan kuat mengapa gadis itu dapat mengamati istana dari Bukit Taash dengan jarak sejauh itu. Cho lantas mendongak. Langit di atas kepalanya agak menerang sejak dua hari lalu diselubungi oleh awan gelap yang menutupi permukaan atmosfer. Penuturan demi penuturan yang Leeteuk sampaikan seolah-olah merupakan karangan bebas yang ia temui di kelas sastra hangeul.

“Jangan heran jika kau selalu melihat awan-awan gelap itu menyelubungi seisi planet. Planet ini hampir sejajar dengan Neptunus. Cahaya matahari begitu sulit menembus ke dalam planet,” tutur Leeteuk.

Ia berjalan perlahan ke sisi beranda, menopang diri pada pagar pembatas seraya menatap lurus ke langit yang ditutupi awan hitam.

“Kau adalah roh manusia. Saat tubuhmu mulai melemah, kau akan merasakan lapar. Bahkan kau tak akan terluka kecuali saat kekuatanmu mulai menghilang,” paparnya.

“Hentikan,” gadis itu berkata nyaris berbisik. “Kau membuatku gila, Oppa. Aku hanya ingin segera terbangun dari mimpi ini!”

Disertai sunggingan senyum di bibirnya, Leeteuk menghampiri gadis itu dengan langkah gontai. Tangannya mengusap halus puncak kepala si gadis. Ada rasa menggelitik saat Cho menyebut panggilan ‘oppa’ yang sebelumnya tak pernah didengarnya. Kata itu jauh lebih baik dari gelar parleemos yang disandangnya, lebih menyejukkan dan menentramkan.

“Ketika kau melemah─” Leeteuk meraih tangan baik Cho, menelungkupkan kedua telapak tangannya untuk mengapit jemari gadis itu hingga terbungkus sempurna.

Tubuh Cho hanya sebatas bahu tegapnya. Gadis itu ternyata jauh lebih kecil saat berdiri sejajar dengannya. Leeteuk memejamkan mata, sementara Cho Ikha hanya terpaku mengamati pria tegap di hadapannya. Seiring nyala sapphire blue dari mahkota perak di kepala Leeteuk, Cho merasakan hangat yang muncul dari sela-sela jemari si pria.

Itu cahaya.

Cahaya putih nan terang muncul bersama kehangatan yang menjalar di dalamnya. Cho hanya mampu terpana. Perasaan itu begitu aneh diciptakan oleh Leeteuk, sang pemilik kekuatan adidaya.

“─kau hanya memerlukan segenggam cahaya untuk menyinarimu.”

Leeteuk mengakhiri kalimatnya setelah memberikan jeda cukup panjang akibat atraksi yang ditunjukkannya. Kedua matanya terbuka lebar setelah dipenuhi cahaya biru yang mengilat-ngilat. Dilepasnya genggaman tangan Cho lantas menciptakan jarak antara keduanya.

“Apa itu?” tanya Cho retoris.

“Hanya pertunjukan kecil─untuk memberimu pelajaran baru,” jawab Leeteuk singkat.

Cho memijat halus kedua bahunya. Perasaan aneh itu kembali menjalar di sekitar tubuhnya. Sesuatu yang kuat telah memusnahkan rasa lapar yang merenggut akal dan napsunya. Ia tak lagi merasa lunglai di kedua lututnya. Keajaiban itu seolah datang dari cahaya yang diberikan Leeteuk.

Ya.

Cahaya itu.

“Hidangan malam ini hanyalah benda fana untukmu. Ketika kau mencoba untuk menyantap bulgogi maupun jeon, rasa aneh di lidahmu akan tetap menguasaimu selama bukan tubuh aslimu yang merasakannya. Kau paham?”

“Bagaimana dengan─”

“Maaf, Cho-ssi. Perbincangan kita cukup sampai di sini saja.” Leeteuk menginterupsi. Tatapannya melemah dan wajahnya kian memucat. “Aku sudah terlalu tua untuk melakukan sihir kuno.”

“Tapi,”

Leeteuk kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Mulutnya berbisik menyebut sederet kata yang tak dimengerti Cho. Tak lama, tubuh gadis itu seketika terhisap puing-puing waktu yang diciptakan Leeteuk, menyisakan jeritan pendek yang ikut menghilang bersama tubuh gadis mungil tersebut.

Sebelum Cho benar-benar pergi, Leeteuk sempat berbisik memenuhi pikirannya. Bisikan terakhir untuk mengakhiri pertemuan singkat mereka malam ini.

Saat kau menemukan pedang itu, gunakan kebijaksanaanmu untuk memutuskan.

-o-

JERITAN CHO BERAKHIR SETELAH UJUNG HEELSNYA mendarat kasar di atas tanah. Sempoyongan, gadis itu mencari-cari sesuatu yang dapat menopang tubuhnya. Rasanya seperti duduk di dalam bus selama berjam-jam. Punggung dan bokongnya terasa ngilu dan panas.

“Syukurlah!”

Cho terkejut mendengar seruan pria tak jauh darinya. Ia membuka mata lebar-lebar dan barulah sadar saat pria dengan tinggi badan yang menyerupainya tengah mengusap lembut keningnya.

“Baekhyun?” Cho menyipit tatkala sosok pria itu kembali meracau. Ia menatap sekelilingnya dan menemukan empat pria lain tengah berdiri dengan tatapan cemas.

“Kemana saja kau? Kami sibuk mencarimu sejak tadi! Bagaimana jika razour menikammu, atau helot mencabik-cabik isi perutmu?”

Baekhyun mendeteksi setiap inchi tubuh Cho. Gadis itu tentu saja risih. Beruntunglah Sehun mengerti lantas menjauhkan pria hidung belang tersebut darinya.

“Aku,” Tangan Cho menekan belakang kepalanya yang berdenyut pelan. “hanya sekedar berjalan-jalan. Tak ada yang menemaniku di sini. Aku bosan,” ia berkilah.

Kesadaran Cho seketika pulih saat Sehun menuntunnya menuju ruang utama. Cho sempat mengutuk Leeteuk saat pria itu mengirimkan tubuhnya sembarangan hingga ke halaman markas. Beruntung saja ia telah terbiasa. Jika tidak, bisa jadi tubuhnya telah terpecah-belah termakan lorong waktu.

“Dimana Kai?” tanya Cho penuh spontanitas. Sadar bahwa kehadiran pria itu telah absen dari pandangannya. Pria di samping si telinga fairy jelas bukan Kai. Kulitnya jauh lebih mulus dan bentuk tubuhnya tak seatletis Kai.

“Di ruangannya.” aku Sehun.

Cho menyisir rambut panjangnya ke belakang. “Apa dia baik-baik saja?”

“Ia terlibat pertengkaran hebat dengan Yasaka15. Hanya butuh istirahat. Setelah itu dia akan kembali normal,” Baekhyun berujar. Senyum pria itu mengembang saat Cho memperhatikannya.

“Maaf, aku belum memperkenalkan diri.” Makhluk yang terselip di antara tubuh si telinga fairy dan Sehun itu membungkukkan diri. “Suho, pemimpin Castè Krypth.”

Pria bermata besar serta berambut pirang kecokelatan di samping Suho pun kemudian menunduk. “Ómorfos Ántras Intrepida. Singkatnya, kau bisa memanggilku Chanyeol,” sapanya.

Cho mengingatnya. Pria bertelinga fairy itu adalah makhluk aneh dengan tubuh yang menjulang tinggi bak tiang bendera, dan juga sedikit idiot. Kelakuannya seperti pelawak jalanan. Pria itu juga tak pernah berhenti tersenyum memperlihatkan deretan gigi-gigi putihnya.

Makhluk lain disamping Chanyeol dengan rambut hitam legamnya hanya sekedar melambai ringan. Senyumnya kaku dan agak terpaksa. Tingginya serupa dengan Baekhyun namun kepribadiannya lebih misterius dan tertutup.

“Kukira para castè telah menjelaskan dengan detail mengenai kehadiranmu di planet ini. Kuharap kita dapat bekerja sama. Selama kau menurut, kami akan membawamu kembali secara utuh ke tempat asalmu sebelumnya.” Ucapan Suho terdengar penuh makna dan mengintimidasi. Sehun bahkan melakukan gerakan di tubuhnya seolah sang pemimpin castè mengidap penyakit kutu air berbahaya.

Cho melepas udara panjang dari dalam tubuhnya dengan serakah. Ia tak menyukai cara Suho berkata. Seolah-olah pria bangsawan itu tak diajari cukup tatakrama oleh orang-tuanya.

“Tak apa, Suho-ssi. Aku sudah terbiasa menerima gertakan Kai jadi akan kuanggap ucapanmu itu sebagai kata-kata penyambutan,” ucapnya tak kalah menantang.

Suho menyeringai. “Baiklah. Jika kau membutuhkan apapun, katakan saja pada kami.”

Cho menggerakan tubuhnya lalu menggantungkan kedua kaki pada sisi kursi panjang di ruang utama. Kepalanya agak mendongak mengamati tubuh tegap Suho yang memancarkan aura kepemimpinan serta ajakan tunduk pada siapa pun yang berhadapan dengannya.

“Apa disini ada kamar mandi?”

-o-

SEPASANG BOLA MATANYA BERGERAK PERLAHAN memberikan reaksi pada kelopak mata hingga bulu-bulu di sekitarnya bergerak liar saat ia mengerjap-ngerjap. Sambil menggeliat, pria itu mengamati tirai tipis yang menutupi jendelanya berayun ringan tertiup angin. Hari telah melewati siang namun di luar sana masih dirundung kegelapan.

Lunglai, pria itu memaksa setiap sendi dan tulangnya untuk mematuhi perintah otaknya. Ia menyingkap selimut sambil mengerang. Kemudian pria itu menggeliat untuk kedua kalinya lantas menyambar kaus hitam ketat yang tersampir di punggung kursi.

“Apa semalam mimpimu indah?” sahut seseorang di balik tubuhnya.

Pria berambut hitam pekat seketika berbalik. Hampir saja ia menyerang sosok tersebut jika saja si pemilik suara lembut itu bukanlah gadis yang dikenalnya.

Ia berpaling. Meski gaun coctail hijau muda yang dikenakan gadis itu menyatu sempurna dengan tubuhnya, pria itu jelas harus menahan diri untuk tidak menelisik detail-detail tersebut secara gamblang. Sosok di ambang pintunya bukanlah gadis-gadis aneh yang ia temui di sepanjang planet.

Hal itu merupakan ide yang buruk. Fantasinya jelas masih berkelakar mengingat ia masih belum mampu memulihkan kesadarannya dari tidur panjang semalam.

“Benar-benar tidak tahu diri,” bisiknya kemudian melangkahkan kaki menuju tangga utama. Jemarinya menyisir rambut hitamnya tanpa menanggapi kehadiran sang gadis.

Cho Ikha tahu benar bahwa pria itu tak menyukai kehadirannya. Tergesa-gesa ia menyusul setiap langkah yang diciptakan makhluk berhati dingin di hadapannya. Ia mulai mengoceh mengenai ketidakhadiran si pria dan tuntutan-tuntutan lain padanya. Pria itu sama sekali tak menggubris. Langkahnya semakin cepat menapaki setiap anak tangga.

“Baiklah. Aku minta maaf. Semalam aku pergi ke luar markas karena suntuk menunggumu datang,” Cho berusaha membuat karangan singkat.

Suara decakan pria itu terdengar di antara bunyi heels-boot yang dikenakan Cho. Ia tak bersuara dan hal itu membuat Cho makin merasa direndahkan.

“Kau mau kemana?” tanya Cho, penuh dengan tuntutan.

“Kemana saja yang penting tidak disini. Melihatmu saja membuatku mual!” sungutnya, lagi-lagi mendumal.

Cho menggigit bibir bawah, menahan kesal. “Kapan kau akan memberikan sedikit rasa hormatmu pada seorang wanita, Kai?”

“Sejak kapan kau berubah menjadi seorang wanita?” rutuk Kai. Ia membenahi ikat pinggang hitam bermata kepala ular saat mendapati celana panjangnya agak mengendur. Hampir saja ia lupa mengancingkan celananya.

Beberapa kali, Cho melayangkan tinjunya di udara. Andai saja ia diberi kesempatan untuk menghajar Kai, ia akan memukul keras tepat mengenai kepala batunya.

“Kau mau kemana? Bolehkah aku ikut?” pinta Cho.

“Tidak!”

“Ayolah!”

“Tidak!” tolak Kai, tetap bersikeras.

Tanpa memperhatikan, Kai kemudian menggerakan jemarinya─tak kuasa menghadapi segala tuntutan yang diajukan Cho terhadapnya. Paham betul dengan arti gerakan tersebut, Cho lantas menggamit lengan pria itu dengan kencang. Tepat setelahnya, Kai menghilang bersama debu noménos yang kian memudar di udara.

-o-

KEDUA MAKHLUK ITU MENDARAT KASAR DI ATAS permukaan tanah landai. Cho terjatuh karena tak mampu menyeimbangkan tubuhnya dengan heel-boot yang ia pilih sebagai alas kakinya kali ini. Cho melepaskan gamitan tangannya saat Kai menatap tajam.

“Kenapa kau mengikutiku?!” rutuk Kai, agak berteriak.

Cho mencibir. Ia mulai mengoceh mengenai ketidaksiapannya untuk berteleportasi hingga membuatnya jatuh terpuruk seperti gedung World Trade Center.

“Kai?”

Sahutan seseorang lantas menghentikan ocehan Cho. Sapaan itu jelas bukan yang diucapkannya karena suara tersebut jauh lebih maskulin. Di hadapannya, Kai menoleh dan selang beberapa detik pria yang sangat dikenalnya itu berjalan mendekatinya.

“Fratheer!” sahutnya.

Pria dengan panggilan istimewa itu kemudian tersenyum. Ia sempat mencuri pandang pada Cho lalu meletakkan satu tangannya di dada seraya membungkuk memberinya sebuah penghormatan.

Cho, yang semula siap untuk beradu mulut dengan Kai, seketika terpaku di tempat. Sosok pria berpakaian serba putih dengan boots berwarna senada itu begitu indah di matanya. Awalnya ia mengira bahwa hal yang paling indah di dunia ini hanyalah sosok Kim Heechul, sunbae di sekolahnya.

Teorinya salah besar.

“Jangan menatapnya seperti itu!” Kai membuyarkan fokus mata Cho.

“Jangan terlalu kasar pada wanita, Kai.”

Pria yang diiringi seekor unicorn bertanduk lengkung itu bergerak mendekatinya. Ia memeluk Kai dan lagi-lagi melayangkan senyum manisnya pada Cho.

“Namaku Luhan,” ucapnya seraya menjulurkan tangan pada Cho. “Namamu?”

…bersambung…

Thank For Your Visit Huglooms

————————————————–

15yasaka : si pembawa kabar dari istana.

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

62 thoughts on “EXO PLANET “Chapter 03” (REPACKAGED)”

      1. hahahaha baru liat ada orang mau ditendang aja pake nawar (¬_¬)–o(✗_✗)
        eh bangyes botak cakep kali ka, liat aja bangheechul ma bangteuk cakep banget makin manly. Uwooo~
        yang aneh justru eunhyuk. Coba aja bayangin tuh myeolchi botak? Kerenan yesung kemana-mana, hahaha /sesat

      2. tp gue pasti ngakak klo liat doi botak gak jadi jadi sedih kkk~
        aneh bgt laki gue botak, pokoknya bg yes mau botak, cepak, pitak gue tetap cinta :*
        hyukjae botak wkkwk malah udh gue bayangin, aduuh mukanya pasti kalah jauh dr heechul,leeteuk,yesung kk~

      3. Hahahhaa jelas ka, gue aja gak bisa bayangin kalo hyukjae botak. Yesung mah emang dasar cakep mau botak atau mohak gak masalah. Lah hyukjae? Doi kan mukanya kek yoo jae sook Running Man. Pasti aneh. hahaha *mengkhianati sang kekasih*

  1. ooookay…jadi yg mengawasi Kai sama Cho itu Leeteuk ya, awalnya aku kira Leeteuk itu jahat kak di awal cerita gitu, ternyata di sini dia ga jauh dr kesan pemimpin yang berhati lembut 😀

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s