ACCIDENT (Chapter 07)

KAU YAKIN akan tetap pergi?”

Taerin sedari tadi terus memperhatikan Ikha yang—sejak satu jam lalu—sibuk membenahi barang-barang ke dalam ransel Auction biru miliknya. Lightstick Sapphire Blue, towel, bando bertuliskan ‘ELF’, balloon Sapphire Blue, hand banner, dan yang terakhir—yang paling penting pula—adalah tiket konser Super Show 4. Ke semua benda-benda itu ia tata dengan rapih ke dalam tas.

ACCIDENT

“Tentu saja. Kapan lagi aku bisa melihat perform mereka?” jawab Ikha sumringah. Kali ini ia memasukan botol air mineral dan sepotong sandwich buatan Nyonya Cho. Konser Super Junior akan berlangsung selama empat jam nonstop. Perbekalan juga harus disiapkan dengan matang.

Taerin merebahkan diri di atas tempat tidur Ikha sambil tetap memperhatikan yeoja berambut sebahu tersebut yang masih sibuk menata bawaannya di atas lantai. “Kondisimu akhir-akhir ini begitu buruk, Cho Ikha. Lagipula aku tidak bisa menemanimu,”

Gwenchana (tak apa). Teman-teman sesama ELF yang lain sudah menungguku disana,” jelasnya. Sejak awal, Taerin memang tidak berniat datang ke konser karena kepergian Heechul dalam rangka melaksanakan wajib militer tahun ini. Tapi ia tidak begitu mengkhawatirkan hal itu karena ia dapat dengan mudah berbaur dengan ELF lain.

“Baiklah. Hubungi aku jika terjadi apa-apa,” tawar Taerin, masih ragu untuk meninggalkan Ikha pergi ke Gymnastic Stadium sendirian.

“Ini hanya sebuah konser, Han Taerin. Jangan terlalu dibesar-besarkan,”

“Bagaimana aku tidak membesar-besarkan hal ini? Dia—“ Taerin menghentikan ucapannya kala mengarahkan telunjuk lentiknya ke arah perut Ikha yang masih terlihat normal.

Ikha tersenyum kecut seraya mendengus pelan. Sebenarnya ia senang saat orang-orang yang dikasihinya begitu memperhatikannya akhir-akhir ini. Oke, hanya beberapa memang—tidak semua orang. Namun sekarang ia harus berfikir ulang. Eomma dan Taerin—termasuk Key dan juga Jonghyun—sebenarnya bukan memperhatikan kondisi tubuhnya, melainkan memperhatikan janin yang ada di dalam rahimnya.

“Dia tidak akan menggangguku selama konser berlangsung,” jawab Ikha datar. Meski beberapa hari lalu ia bersikukuh untuk menganggap keberadaan janin itu, kali ini ia memilih menyebut bayi itu dengan kata ‘dia’ seperti yang Taerin sebut barusan.

Lama kelamaan ia mulai jengah dengan sosok lain yang bersemayam di dalam tubuhnya. Apalagi jika kondisinya seperti ini, mungkin ia akan mengalami kesulitan saat menonton aksi idolanya nanti. Well, pada akhirnya Ikha hanya berbisik di dalam hati. Jika ‘benda’ itu mengganggunya nanti malam, maka ia tidak akan segan-segan menggugurkannya. Demi Super Junior, ia rela melakukan apapun—termasuk mencelakai beberapa orang yang berusaha mengambil tempat terbaiknya saat berdiri di Festival Place.

***

PANDANGAN IKHA beredar ke segala arah. Sejauh matanya memandang, ia hanya menemukan lautan manusia di sekelilingnya. Antrian panjang di belakangnya membuat ia harus tetap berdiri di tempat. Ia sudah bertahan sejauh ini—berdiri selama hampir dua jam menunggu pintu masuk terbuka agar dapat menempatkan diri di dekat pagar pembatas antara tempatnya nanti dengan panggung Super Show.

Kedua kakinya mulai bergetar karena lelah menopang tubuhnya. Namun lagi-lagi Ikha berbisik pada diri sendiri untuk tetap bertahan. Ia sudah menghabiskan setengah tabungannya hanya untuk selembar kertas yang akan membawanya bertemu dengan sang Idola. Jangan sampai semua pengorbanannya berakhir sia-sia hanya karena ia mulai merasakan kekuatannya melemah.

Satu tangan Ikha berpegangan pada besi pembatas antrian. Ia menangkap pantulan tubuhnya dari pagar besi berlapis alumunium putih tersebut. Bibirnya mengerucut saat mendapati wajahnya kian memucat—nampak seperti mayat hidup. Sebelumnya ia sudah mengisi perut dan mengkonsumsi beberapa obat-obatan untuk daya tahan tubuh. Namun sepertinya tubuhnya itu berkehendak lain.

Peluh dingin yang mengalir di sela pelipisnya ia usap perlahan. Tubuhnya membungkuk sejenak untuk menghilangkan mual yang mulai melandanya. Perutnya seperti bergejolak, berputar-putar dan memaksanya untuk mengeluarkan seluruh makanan yang telah ia telan. Yeoja itu memejamkan mata sejenak seraya menarik dan menghembuskan nafas secara teratur dan bertahap.

Saat yeoja itu masih mencoba ritual ‘penenang mual’-nya, sesuatu di dalam kantung mantelnya bergetar tanpa suara. Ia merogoh, mengambil ponsel kebanggaannya seraya memperhatikan layar. Tanpa banyak berfikir, tombol bergambar gagang telfon warna hijau segera ditekan, menempelkan benda tersebut dekat telinga mungilnya lalu menyapa seseorang di seberang sana dengan kata ‘mwoya?’.

Eodindae? (Kau dimana?) Kenapa bising sekali?” ucap seseorang di balik line telefon.

Bagaimana tidak berisik? Beberapa yeoja di balik punggung Ikha terus saja mengoceh tak karuan perihal apa yang akan mereka lakukan jika bias masing-masing melewati tempat mereka. Menyerahkan kamera polaroid? Melempar boneka? Foto? Underwear? Entahlah, Ikha tak begitu jelas menangkap pembicaraan mereka.

Ikha memberi jeda sejenak untuk menghembuskan nafas. Perutnya benar-benar tidak bisa di ajak kompromi. “Aku ada di Seoul Gymnastic Stadium,” jawabnya, singkat.

Telefon genggamnya sempat ia jauhkan sejenak ketika menangkap suara lengkingan dari orang yang menghubunginya saat ini. Orang itu seperti sedang berteriak. “Kau benar-benar akan menonton Super Show?

“Tentu saja,” jawab Ikha, bersikukuh dengan niatnya yang tak akan dipatahkan oleh siapapun.

Ya! Kondisimu bukannya begitu buruk akhir-akhir ini?” dumal orang itu lagi.

Ikha menutup lubang telinganya yang lain untuk meredam bising dari beberapa penonton lain yang sedari tadi terus saja mengoceh tidak jelas. Ia melangkah beberapa tapak saat antrian di depannya mulai bergerak.

Tsk, berhentilah menceramahiku, Key.”

Key—namja yang menjadi lawan bicaranya di telefon—menghembuskan nafas beratnya yang begitu jelas terdengar oleh Ikha. “Bukannya apa-apa. Tapi bagaimana jika nanti kau pingsan disana? Kau beli tiket kategori apa? Seat Place ‘kan?

Ikha memejamkan kedua matanya dengan erat saat perut bagian bawahnya berdenyut. Ia menunduk, tangannya yang tidak memegang ponsel ia letakkan pada lutut, menopang tubuhnya agar tidak jatuh. Sejenak ia kembali mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Sayang, ia tak menemukan teman-temannya yang lain. Mereka sempat terpisah saat mengantri di pintu pertama. Tak ada yang dapat menolong Ikha saat ini selain dirinya sendiri. Yeah, selain bertahan dengan posisinya sekarang.

Anio (bukan). Standing,” kata Ikha lirih. Ia hampir saja lupa menjawab pertanyaan Key.

MWO?

Suara lengkingan Key kembali terdengar dari sela-sela lubang speaker ponsel Ikha. Yeoja itu tak banyak bergerak sekarang. Yang ia butuhkan hanyalah istirahat sejenak untuk mengatur nafas. Mungkin dengan begitu sakit di perutnya bisa hilang. Tubuhnya ia sandarkan sejenak pada besi pembatas. Posisi tersebut lebih nyaman ketimbang ia harus berdiri tegak menunggu antrian.

Ya! Noona! Sekarang ada satu nyawa lagi di dalam tubuhmu! Jangan sampai anakku dalam bahaya! Cepat pergi dari sana!” oceh Key, berteriak lebih tepatnya.

“Sejak kapan aku mengandung anakmu? Bukankah dari awal kau sama sekali tidak mengakui apa yang telah terjadi di antara kita?” balas Ikha, sengit.

Kondisinya sekarang justru membuatnya tidak dapat berfikir jernih. Peluhnya ia usap sekali lagi saat bergerak mengalir ke ujung hidungnya. Tinggal satu meter lagi dan ia bisa melewati pintu penjaga ke dua. Setelah itu, ia bisa duduk sejenak sambil menunggu antrian menuju pintu penjaga ke tiga.

Ikha memicingkan telinga lebih dalam ketika ia tak mendengar suara ocehan Key pada line telefon. Ia sempat menyebut nama namja itu dua kali. Saat panggilan ketiga, barulah Key menjawab sapaannya dengan berdeham pelan.

Aku dan Minho akan datang sebagai tamu hari ini. Sekarang aku masih dalam perjalanan menuju stadium. Lebih baik kau tukar tempat daripada harus berdiri selama empat jam,”

Yeoja itu mendengus. Bukan karena perhatian yang Key berikan padanya. Namun lebih kepada nada suara namja yang terpaut satu tahun lebih muda darinya. Sejak ia menyebut kalimat sindiran di atas, suara Key terdengar lebih pelan dan tidak terkesan menuntut. Apakah ia memang benar-benar sudah menyinggungnya?

Arasseo,”

Hanya itu jawaban Ikha kemudian yeoja itu segera memutuskan perbincangan mereka tanpa mengucapkan kata-kata lain. Ia tidak peduli dengan reaksi Key nantinya. Yang ia butuhkan hanya lah sedikit waktu—yang meskipun hanya dua menit saja—untuk duduk, mengumpulkan tenaganya untuk menikmati empat jam performance Super Junior di dalam sana…

***

KEY DAN MINHO masuk tepat setelah para ELF berkumpul di dalam stadium. Mereka duduk pada bangku sesuai yang tertera pada tiket. Minho bahkan sempat mengucapkan terima kasih pada seorang ahjussi berpakaian lengkap bak petugas keamanan yang mengiringi mereka hingga ke tempat eksklusif tersebut. Setidaknya ia tidak perlu susah payah mencari tempat duduknya di tengah ribuan ELF.

Namja dengan piercing di telinga yang lebih banyak jika dibandingkan dengan semua member SHINee itu sempat menyapa beberapa tamu lain yang duduk di depan dan di belakang bangkunya. Sebut saja, Kim Jang Hoon Sunbaenim, Simon D, Lee Juno Sunbaenim, Seohyun U-Kiss, Sunggyu Infinite, dan masih banyak lagi.

“Apa Ikha-ssi ada di antara mereka?” bisik Minho sambil mengarahkan pandangannya pada seluruh ELF yang ada di dalam stadium.

Key membenahi duduknya sejenak. Ia memperhatikan empat box di tengah panggung yang terisi penuh oleh para fans Super Junior. Kepalanya tiba-tiba ling-lung. Terlalu banyak manusia, ia tidak bisa mendeteksi dimana keberadaan Ikha sekarang.

Molla (Aku tidak tahu),” jawab Key, sejujur-jujurnya. Dalam hati, ia hanya berharap Ikha mau mendengar sarannya—untuk berganti tempat.

“Kau nampak gelisah,” selidik Minho.

Mata Key yang semula masih memancarkan sensor infra merah untuk menemukan sosok Ikha di tengah ribuan ELF tersebut kini berpaling pada Minho. Sepertinya teman satu dorm-nya itu bisa membaca mimik wajahnya.

Anindae,” kilahnya. Bersikap biasa saja—mencoba bertindak senormal mungkin.

“Dia akan baik-baik saja. Lagipula usia kandungannya masih tiga bulan. Kecuali jika ia berdiri selama empat jam disana,” terang Minho kemudian mengarahkan telunjuknya ke arah standing box yang ada di sayap kiri. Ia tak sadar jika Key tengah menatapnya was-was.

Wae?” ucap Minho, seolah tak melakukan dosa sekecil apapun pada Key.

Suara Key terdengar di antara riuh kasak-kusuk seisi stadium yang masih menunggu kemunculan Super Junior. Ia menyikut rusuk Minho sambil membulatkan kedua mata. Mulutnya komat-kamit seperti mengucap sesuatu yang tidak boleh dilakukan Minho.

“Tidak akan ada yang mendengarkan kita, Key. Disini terlalu berisik,” kilah namja bertubuh atletis tersebut, menenangkan kekalutan Key.

Well, memang disana begitu berisik dan gaduh. Namun tidak menutup kemungkinan ‘kan jika seseorang mendengarkan perbincangan mereka? Minho dengan gamblang menyebut kata ‘kandungan’ di tengah umum. Tidak masalah jika orang yang mendengarkan itu tidak peduli. Tapi bagaimana jika mereka justru semakin bertanya-tanya?

KEDUA MEMBER SHINee mungkin puas dengan posisi mereka yang notabene duduk di tempat yang telah disediakan oleh staff, tapi tidak dengan Ikha. Yeoja itu memang berhasil berdiri di posisi yang ia inginkan. Namun apa yang ia dapatkan tidak sebanding yang ia rasakan. Keringat dingin mengalir membasahi kening dan pelipisnya. Belum lagi perih yang amat sangat di sekitar perut yang membuatnya harus menopang tubuh pada pagar pembatas.

Ia memperhatikan sekeliling. Hall sudah terisi penuh oleh ELF. Ikha semakin mengeratkan pegangan jemarinya pada besi. Ia terus berbisik untuk menguatkan tubuhnya sendiri dengan menyebut nama Tuhan, Eomma, Appa-nya, dan semua member Super Junior. Lightstick Sapphire Blue masih digenggam dengan erat, tak ingin melewatkan moment saat ELF meneriaki kata ‘THE BEST’ bersama-sama.

Suara gema dari sound system mendendangkan instrumen lagu Superman. Ikha mengerjapkan mata sesekali untuk mengumpulkan kesadarannya. Pandangannya terarah pada panggung utama. Kilatan cahaya lampu LED orange membutakan mata. Semuanya terlihat buram dan kabur. Ikha kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling. Namun suara dentuman Opening Song konser tersebut semakin tidak jelas dan berdengung-dengung di telinga.

Ikha tahu bahwa saat ini pasti akan tiba—ketika ia harus menyerah dengan kondisinya. Maka yeoja itu menarik lengan baju seorang kameramen yang ada di pojokan lalu membentuk huruf T dengan kedua tangannya sendiri. Ia sudah tidak peduli lagi dengan suara fanchant yang mengaung-ngaung di telinga, yang ia butuhkan hanyalah keluar dari tempat itu secepatnya.

Seorang gyeongbi (petugas keamanan) datang sambil menyorotkan senter-nya ke arah Ikha. Yeoja itu bergumam, menyuruh si gyeongbi untuk membawanya keluar dari hall. Namja paruh baya itu membuka pagar lalu menggiring Ikha keluar melalui celah-celah sempit. Sebelum benar-benar keluar dari sana, ia sempat melihat idolanya muncul dari bawah. Senyum Ikha mengembang. Setidaknya ia masih bisa melihat Eunhyuk barang sedetik pun…

***

TAERIN BERJALAN tergesa-gesa menuju pintu exit stadium sambil tetap berusaha melakukan kontak dengan orang yang sempat menghubunginya setengah jam lalu. Setibanya disana, ia tak menemukan siapapun. Hanya terdengar alunan suara denting piano Leeteuk yang tengah menyanyikan lagu SHE-nya Stevie Wonder saja. Itupun hanya samar-samar. Ia sempat bertanya pada beberapa orang yang mengenakan pakaian staff konser Super Junior, tapi jawaban mereka tetap sama: ‘tidak tahu’.

“Cho Ikha, dimana kau?” bisik Taerin pada diri sendiri.

Sekali lagi, Taerin mencoba menghubungi Ikha lewat ponselnya. Panggilannya memang tersambung, namun tak ada jawaban dari yeoja yang telah menjadi temannya selama empat tahun terakhir ini. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru angin. Wajahnya sarat akan kegelisahan. Ikha sempat menghubunginya bahwa ia membutuhkan pertolongannya saat ini dan berjanji untuk menemuinya di pintu exit. Sayangnya tidak ada siapa-siapa disana.

Akhirnya Taerin memutuskan untuk berjalan ke tempat lain. Mungkin Ikha tidak jauh dari sini. Begitulah yang ada dalam fikirannya sekarang.

Sambil menghubungi ponsel Ikha, yeoja itu berjalan menyusuri jalanan terdekat. Tak jauh dari sana, ia mendengar alunan lagu Super Junior ber-tittle Memories. Seingatnya, lagu tersebut digunakan Ikha sebagai ringtone ponselnya. Taerin semakin memicingkan telinga saat mendengar suara itu mendekat. Hingga ketika ia berbelok ke sebelah gedung stadium, ia menemukan sosok yeoja tergeletak tak sadarkan diri di atas tanah.

“Astaga,” ucap Taerin setengah bergumam.

Segera saja Taerin menghampiri yeoja itu tanpa berfikir dua kali. Si yeoja mengenakan tas Auction yang sama persis dengan milik Ikha dan pakaiannya pun serupa dengan yang dipakai Ikha. Lightstick Sapphire Blue masih ada digenggamannya dan satu tangan yeoja itu seolah sedang menahan kesakitan pada perutnya.

“CHO IKHA!” pekik Taerin saat mengetahui bahwa yeoja itu adalah benar-benar temannya.

Ia menepuk-nepuk pipi Ikha, berusaha agar yeoja itu sadarkan diri meski hasilnya sangat nihil. Dari cahaya remang-remang dari lampu luar stadium, wajah Ikha nampak begitu tak hidup. Pucat dan tidak berwarna. Taerin merebahkan tubuh Ikha pada pangkuannya sampai akhirnya indera penciumannya menangkap aroma amis yang menyengat.

Taerin memandang jeans abu-abu yang dipakai Ikha saat menemukan bercak-bercak merah pekat di antara kedua pahanya. Ia memberanikan diri menyentuh bagian yang terkena bercak tersebut kemudian mendekatkannya pada hidung, mendekteksi bau tersebut. Taerin seketika meringis. Pandangannya ia tujukan pada wajah Ikha yang kian memucat.

Andwae,” gumamnya.

Ponsel Taerin yang masih digenggam kuat dalam salah satu telapak tangannya kini bergerak cepat menekan beberapa tombol, mencari nama ‘Cho Sugmonim’ kemudian membuat sebuah panggilan pada nama tersebut. Saat seseorang di seberang sana menyahut panggilannya, serta-merta Taerin menjawab tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu.

Eomoni, Cho Ikha…”

***

IKHA MENGERJAPKAN matanya dengan perlahan saat kesadarannya berangsur-angsur pulih. Kedua matanya sempat menyipit, menyesuaikan lensa matanya dengan dinding bercat putih yang bersinar terkena cahaya matahari. Alisnya mengeryit saat mencium aroma obat-obatan khas rumah sakit. Sekarang ia sadar, ia memang berada di rumah sakit.

Tak jauh dari tempatnya terbaring, ia menemukan sosok yang begitu ia rindukan. Eomma-nya. Wanita itu berjalan ke arahnya, berdiri tepat di samping bangsal sembari mengusap puncak kepalanya dengan lembut.

Ikha tersenyum kecut saat tubuhnya terasa sakit di beberapa titik. Ia juga baru sadar jika ada selang infus melekat di hidung dan juga punggung tangannya. Sungguh mengenaskan dirinya bisa terbaring tak berdaya disana. Padahal terakhir yang ia ingat, ia masih ada di stadium menjadi bagian para ELF di konser Super Junior.

Dahaenghido, neon gwenchana. (Syukurlah, kau baik-baik saja)” ucap Nyonya Cho lirih.

“Bagaimana aku bisa disini?”

“Taerin menemukanmu tak sadarkan diri di stadium. Dan…”

Nyonya Cho menghentikan kalimatnya seolah ia tak sanggup untuk bicara. Wanita itu menggenggam tangan Ikha yang tersambung dengan selang infus. Mengusap punggung tangannya dengan lembut sambil sesekali menelan ludah.

“Dan?” tuntut Ikha, masih belum puas dengan keterangan Nyonya Cho.

Wanita tua itu kembali menelan ludah kemudian menatap Ikha dengan hati-hati. “Kandunganmu…” bisiknya.

Sejenak Ikha mengusap permukaan perutnya yang terbalut pakaian dan selimut khas rumah sakit. Ia memang merasakan sesuatu yang lain disana. Rasa perih yang ia rasakan saat di stadium malam itu masih membekas hingga sekarang.

“Dia sudah tiada?” tanya Ikha, menebak apa yang ingin Nyonya Cho ungkapkan.

Wanita itu mengangguk lemah. Sulit untuk membayangkan ekspresi apa yang akan Ikha tunjukan ketika mengetahui kabar tersebut.

“Baguslah,” ucap Ikha, datar dan tak berirama.

Ia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan kasar. Sambil membenamkan kepalanya pada bantal, ia memejamkan mata dengan erat—merilekskan tubuhnya lebih dalam.

“Bagus katamu?” Kerutan di kening Nyonya Cho semakin nampak kala mendengar jawaban Ikha yang di luar perkiraannya.

Ikha menatap manik mata eomma-nya. Menyiratkan sesuatu yang membuat Nyonya Cho yakin bahwa ia tidak sedang bercanda dengan kata-katanya. “Aku sudah muak dengan bayi itu. Dia cukup merepotkanku, Eomma.”

“Teganya kau mengatakan hal itu, Kha-ya. Bukankah kau begitu kuat mempertahankan bayi itu agar kau bisa membuktikan bahwa namja ingusan itulah yang telah membuatmu begini?” sungut Nyonya Cho. Ia masih berbisik, tak ingin memberi tekanan lebih pada Ikha.

“Aku sudah tidak memikirkan hal itu lagi, Eomma. Setidaknya aku masih bisa melakukan kegiatanku seperti biasa setelah bayi ini tiada. Meskipun aku agak kesulitan mendapatkan kepercayaan dari Appa lagi,” terang Ikha, masih bersikap tenang seolah tak terjadi apapun padanya.

Desah nafas berat Nyonya Cho terdengar di antara keheningan ruangan VIP yang ditempati Ikha saat ini. Wanita tua itu menatap Ikha dengan penuh kekhawatiran. Ikha kini tak lagi seperti yang dikenalnya selama ini. Wajahnya sarat kebencian. Tatapannya begitu dingin.

“Kau mulai membencinya?” tanya Nyonya Cho.

“Sangat. Karena benda itu, hidupku jadi berantakan. Lihatlah, Eomma. Hidupku begitu miris bukan?” jawab Ikha, disertai tawa mengejeknya. Mengejek diri sendiri lebih tepatnya.

Benar. Sejak ‘kecelakaan’ itu, semua yang ia jalani berubah 180˚. Sesuai yang diucapkannya barusan, hidupnya kian berantakan. Perlukah ia sebutkan lagi apa saja yang ia alami sejak peristiwa itu terjadi? Sepertinya hal itu tidak perlu disinggung lagi. Mengingat begitu nelangsa-nya kehidupan yang ia jalani, ia tak ingin menyebut apapun menyangkut keterpurukannya.

“Aku sudah muak dengan semua ketidakadilan ini, Eomma. Memang sudah saatnya aku bersikap tegas. Aku tidak akan menjadi yeoja lemah yang tunduk dengan kekuasaan Choi Jin lagi,” gumam Ikha.

Genggaman Nyonya Cho semakin kuat dirasakannya. Namun Ikha sudah memutuskan. Tak ada yang mampu mencegahnya.

“Choi Jin… Karena dia, Appa mengusirku. Karena dia, Taerin tidak bisa mencari informasi tentang namja yang telah membuatku begini—mengingat motel yang menjadi saksi bisu kejadian tersebut kini telah ditutup dan seolah menghilang tanpa jejak. Siapa lagi yang melakukan semua itu selain dia?”

Sejenak Ikha menelan ludah. Matanya kembali terpejam mengingat betapa buruknya perlakuan Nyonya Kim saat datang ke apartemennya beberapa bulan lalu. Berteriak seolah anaknya yang paling benar dan membuat Eomma-nya tersakiti.

“Oh, tidak. Sepertinya aku salah,” gumamnya lagi. Kedua matanya seketika terbuka, membulat kemudian menatap Nyonya Cho lekat-lekat.

“Yang patut disalahkan itu bukan Choi Jin. Tapi Key,” imbuhnya.

“Dia yang harus bertanggung-jawab atas semua ini, Eomma. Dia!”

***

PEMOTRETAN CF, latihan vocal, meeting dengan Jin Hyung perihal perilisan mini album baru… Omona, kapan aku memiliki sejuta waktu luang?” keluh Jonghyun seraya menjatuhkan tubuhnya sendiri ke atas sofa.

Perhatian Jonghyun beralih pada Key yang tengah duduk disampingnya. Ia terlihat lebih murung dari biasanya. Namja itu tidak pernah mengeluh meski jadwalnya lebih padat dari jadwal miliknya sendiri. Tapi ini…?

Wae oo’oolhanga? (Kenapa kau murung?)” Jonghyun menyikut perut Key. Namja yang diajaknya bicara hanya berdeham kemudian menyandarkan tubuhnya pada dinding sofa.

“Aku baru tahu kalau IU sedang dekat dengan Eunhyuk Hyung,” gumamnya sambil menggerak-gerakkan jemarinya pada layar tablet mini yang baru saja ia beli.

Geurigo? (Lalu?)”

“Media bahkan mengira bahwa mereka menjalin hubungan special,” imbuh Key.

Jonghyun berdecak. Smirk-nya terlihat mengembang di wajahnya. “Itu hanya perkiraan mereka saja. Kau bisa tanya langsung padanya jika kau masih penasaran. Lagipula kau ‘kan masih dekat dengan Nicole. Bagaimana dengan Suzy?”

“Nicole hanya teman. Sedangkan Suzy? Dia sangat jauh dari jangkauanku,”

Kekehan Jonghyun terdengar menggema di dalam ruangan Choi Jin. Well, agak sulit dipercaya jika Key ternyata tidak begitu akrab dengan Suzy, salah satu member Miss A yang begitu menyita perhatian media akhir-akhir ini.

By the way, ini sudah lewat dua bulan sejak terakhir kali kita berkunjung ke apartemen Ikha. Apa dia baik-baik saja?” tanya Jonghyun, mengalihkan perhatian.

“Aku belum tahu kabarnya,” jawab Key, acuh tak acuh.

Ya!” Jonghyun menepuk belakang kepala Key cukup kencang, membuat namja itu mengaduh seraya memukul balik padanya. Jonghyun memang selalu begitu. Mengingatkan Key akan keadaan Ikha yang notabene menjadi korban kebodohannya.

“Dia seolah menghilang setelah konser Super Junior beberapa hari lalu,” jawab Key, memberi keterangan. Tangannya mengusap kepala yang tadi dipukul Jonghyun. Pukulan Hyung-nya itu ternyata cukup membuatnya migrain mendadak.

“Setidaknya kau harus tetap berusaha mengetahui keadaannya, Kibum-ah. Bagaimanapun juga—“ Jonghyun menghentikan perkataannya sejenak untuk memastikan bahwa tak ada seorangpun yang akan mendengar ucapannya nanti.

“—bayi di dalam kandungannya itu adalah anakmu,” Namja itu mendekat pada telinga Key seraya berbisik.

Key menggedikan bahu. “Dia tidak membalas pesan ataupun mengangkat ponselku. Sama seperti dulu,”

“Datang saja ke apartemennya malam ini. Itu pun jika kau tidak ada jadwal. Sekedar menjenguknya tidak masalah ‘kan?” dumal Jonghyun.

Jujur saja. Sejak Key mengatakan sebuah pengakuan besar padanya, ia begitu kasihan dengan Ikha yang jelas-jelas menjadi pihak yang mendapatkan perlakuan tak adil disini. Belum lagi sikap Key yang setengah peduli dan setengah tak peduli pada Ikha. Seharusnya dongsaeng-nya itu diajari bagaimana menjadi pria yang bertanggung-jawab dalam hal apapun. Bukan bisanya hanya menghabiskan uang untuk membeli benda-benda berbau fashion.

***

IKHA TERJAGA dari tidurnya saat mimpi aneh kembali mengganggunya malam ini. Sambil membenahi posisinya, ia tidak menemukan siapa-siapa disana. Mungkin eomma-nya sedang mengisi perut karena seharian menjaganya. Sedangkan Taerin? Entahlah. Setelah menjenguknya sebentar, ia langsung menghilang entah kemana.

Terdengar bunyi ‘kreet’ dari pintu kamar yang terbuka. Yeoja itu seketika memusatkan perhatian pada pintu tersebut. Mungkin itu adalah perawat yang akan mengecek kondisi tubuhnya. Sebenarnya sedari kemarin Ikha terus merutuki Nyonya Cho, memintanya untuk segera keluar dari gedung ini. Namun dokter masih bersikeras agar Ikha dirawat beberapa hari lagi mengingat kondisi tubuhnya yang masih menurun dan ia memang butuh pemulihan diri.

Eomma,” sahut Ikha saat mendapati Nyonya Cho lah yang membuka pintu.

Wanita itu kemudian menengok ke sebelahnya. Ia seperti sedang bicara dengan seseorang di balik pintu. Detik berikutnya, orang yang di ajak bicara perlahan mulai tampak di hadapan Ikha. Sontak yeoja itu terhenyak. Orang tersebut bukanlah orang yang begitu ia harapkan saat ini.

Tamu itu kemudian berjalan ke arah Ikha. Ikha mengangkat tubuhnya agar terduduk di atas bangsal. Agak canggung memang, tapi justru kedatangan orang itu memberi makna tersendiri baginya.

Gwenchanseumnika? (Apa kau baik-baik saja?)” tanya orang tersebut dengan kata-kata yang begitu baku dan formal.

Ikha mengangguk lemah. Emosinya bercampur aduk sekarang. Sedih? Bahagia? Ia bahkan tak dapat mendeskripsikannya lebih detail. Orang itu semakin memperkecil jarak antara mereka berdua. Sedikit ragu, ia meraih puncak kepala Ikha, mengusapnya perlahan dan membuat yeoja itu tak mampu membendung air mata yang sejak tadi ia tahan.

Mianhae. Seharusnya aku sadar bahwa kau mengalami masa-masa sulit akhir-akhir ini,” ucap Tuan Cho—sang Appa yang begitu sulit ditembus hatinya—seraya mengusap pipi Ikha dengan lembut.

Yeoja itu menarik tubuhnya mendekat pada Appa-nya kemudian memeluknya erat. “Appa, bogoshipeo. (Ayah, aku merindukanmu)”

Tuan Cho membalas pelukan Ikha sambil mengusap punggung Ikha lembut. “Uljimara, Nae ttal. (Jangan menangis, Anakku). Semua akan baik-baik saja,” ucapnya, berusaha menenangkan Ikha.

Tangis yeoja berambut sebahu itu semakin menjadi saat mendengar pengakuan Appa-nya. Dalam hati, ia begitu bersyukur pada Tuhan dan juga Eomma-nya yang selalu berusaha meyakinkan Tuan Cho bahwa ia memang tidak sepenuhnya bersalah akan ‘kecelakaan’ tersebut.

“Pulanglah. Sudah saatnya kau menata kembali kehidupanmu,”

***

KEESOKAN HARINYA Key memutuskan untuk menjenguk Ikha setelah mendapat tekanan dan paksaan dari Jonghyun. Bukannya ia tidak mau menjenguk yeoja itu, hanya saja ia masih belum sanggup untuk menatap mata sendu Ikha yang terlihat kelelahan. Ia begitu pengecut untuk tidak mengakui apa yang telah ia perbuat padanya, karena itu ia tak pernah mampu untuk berhadapan dengan Ikha. Rasa bersalah selalu menggerogoti jiwanya.

Seperti biasa, masker, hoodie dan topi melekat sempurna menutupi wajah superstar yang begitu Key banggakan. Ia baru saja menunggu lima menit di samping pintu apartemen Ikha tapi ia sudah mulai merasa bosan. Namja itu sempat tersenyum sendirian. Ia berencana untuk mengagetkan Ikha saat yeoja itu keluar dari apartemen—Key baru saja mengiriminya pesan bahwa ia sedang menunggunya di luar.

Pintu apartemen Ikha terbuka lalu keluarlah sesosok yeoja dari dalam sana sambil membawa kardus kecil yang berisi beberapa benda. Key mengurungkan niatnya saat mengetahui bahwa yeoja itu bukanlah Ikha. Ia tak mengenalnya karena rambut yeoja itu menjuntai panjang. Namun Key dapat mengenali benda-benda yang yeoja itu bawa saat ini, yakni beberapa koleksi Ikha yang berhubungan dengan Sunbae-nya, Super Junior.

Jamkkan! (Tunggu!)” sahut Key, memberanikan diri untuk menghentikan yeoja itu sebelum pergi terlalu jauh. Ia harus bertanya atau selamanya ia akan berdiri disana tanpa kepastian mengingat Ikha sama sekali tidak membalas pesannya.

Yeoja itu membalikan tubuh menghadap Key. “Anda bicara pada saya?” tanyanya sopan.

Key mengangguk. Ia berdeham sejenak untuk mengatur suaranya. “Yeoja bernama Cho Ikha… sebelumnya ia sempat menempati ruangan itu…”

“Oh, kau temannya Ikha?” potong Taerin, si yeoja.

Key kembali berdeham untuk ke dua kali, agar suaranya terdengar lain dari suara aslinya. “Ne,”

“Dia sudah pindah ke tempat orang-tuanya,” jawab Taerin cepat.

“Kalau boleh tahu, dimana tempatnya?” selidik Key.

Taerin mengerutkan kedua alisnya seraya menatap Key intens. Namja di hadapannya berpakaian aneh dan sengaja dibuat agar wajahnya tak dikenali oleh orang-orang di sekitarnya. Lihat saja, terlalu mencolok bukan? Ia lebih nampak seperti seorang teroris dengan topi, hoodie dan masker yang menutupi hampir seluruh wajahnya.

Nuguseyo? (Siapa kau?)” tanya Taerin, nadanya terdengar begitu menantang.

“Seperti yang kau tahu, aku salah satu temannya.” Jawab Key, berbohong.

“Aku hanya memberitahumu satu hal. Ia baru saja keluar dari rumah sakit dan kedua orang-tuanya memutuskan untuk membawanya pulang bersama mereka. Jika tidak ada keperluan lagi, aku mohon undur diri,” oceh Taerin, bersikap masa bodo.

Baru saja Taerin melangkahkan kakinya dua kali, otaknya seketika berteriak menyuruhnya untuk berhenti. Yeoja berambut panjang itu membalikan tubuhnya lalu kembali menatap Key yang masih mematung disana. Alisnya semakin mengerut dan matany kian menyipit seolah sedang berpikir keras.

“Tunggu. Sebenarnya siapa kau?” tanya Taerin sekali lagi. Masih tak yakin dengan pengakuan Key.

Namja itu membenahi maskernya seraya berdeham. “Bukan siapa-siapa,” akunya.

Taerin mendekatkan tubuhnya pada Key. Kotak kardus di tangannya masih ia peluk dengan erat. “Yang tahu tempat ini hanya aku dan Eomma-nya. Kecuali…”

Ia menghentikan bicaranya sejenak. Sorot matanya menyiratkan tanda-tanda kebencian pada Key. Ia sedang menduga-duga sekarang. Dan semoga saja dugaannya tepat.

“Kecuali jika kau adalah namja pengecut yang telah membuat Ikha menderita,” seloroh Taerin, tepat menohok ke hulu hati Key.

Key hanya diam. Haruskah ia mengakuinya di depan yeoja yang tak dikenalnya ini atau tidak? Sepertinya Taerin adalah orang yang begitu dekat dengan Ikha. Ia begitu paham dengan semua yang menimpanya.

“Apa kau adalah namja yang kumaksud?” serang Taerin.

Desah nafas berat dari mulut Key bertubrukan dengan masker yang dipakainya. Kedua bahunya terkulai lemah. “Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?”

Taerin mendengus mendengar pertanyaan Key. Meski namja itu tidak mengakuinya, ia sudah bisa menebak jika yang ada di hadapannya kini memang benar namja yang telah ‘mencelakai’ Ikha.

“Kondisinya sangat buruk mengingat ia baru saja kehilangan janinnya,” jelas Taerin.

Mwo?” Key mengucapkan satu syllabel itu dengan setengah mendesis. Tidak. Semoga ia tidak salah dengar. Janin? Ikha kehilangan janinnya? Itu berarti…

“Diamlah. Aku hanya ingin memastikan satu hal,”

Ucapan Taerin barusan berhasil menghentikan berbagai spekulasi yang berkeliaran di dalam pikiran Key. Yeoja itu mendekat, memposisikan dirinya tepat di depan Key dengan hanya menyisakan setengah meter saja.

Dengan sekali hentakan, Taerin melepas masker yang melekat pada wajah Key hanya dalam hitungan detik. Sontak Key menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan. Ia tak menyangka jika Taerin akan melakukan hal tersebut—melepas maskernya. Meski Key menutup wajahnya, Taerin masih dapat mengenali wajah Key. Ia sempat tak percaya saat mendapati wajah Key lah yang ada dibalik masker tersebut. Namun mengingat penderitaan yang Ikha alami, rasa kesalnya kini lebih mendominasi.

“Kenapa Ikha begitu merahasiakan namja tersebut padaku—bahkan pada keluarganya sendiri?” sungut Taerin, amarahnya semakin menggebu-gebu.

“Jadi… inikah namja yang telah membuat temanku begitu terpuruk?”

 

…bersambung…

Header 01 (Cut)

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

66 thoughts on “ACCIDENT (Chapter 07)”

  1. Ikha-ya..
    saya mbaca.ny sampe lupa bernapas.. -__-‘)
    hah~.. demi si Evil Magnae..
    part ini penuh intrik..
    Ikha berhasil mbuat saya nelan ludah terus selama baca..

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s