STEP FORWARD (Chapter 02)

Alunan instrumental piano yang dimainkan oleh Seal bertajuk Kiss From A Rose menjadi pilihan Ikha kali ini. Seharian ia cukup lelah untuk berfikir. Presentasinya di kelas Human Resource Management cukup menguras otak. Mata kuliah itu sama sekali tak menarik. Maka dari itu, ia butuh ekstra tenaga untuk memahami teori Phillips Kotler dan James Stoner atau presentasinya gagal total.

S T E P F O R W A R D

Saat angin semilir menerbangkan beberapa helai rambut yeoja yang tengah duduk di pinggir lapangan basket tersebut, ia merasakan tangan seseorang menepuk pundaknya. Ikha menoleh, menemukan Luna tengah tersenyum tipis padanya. Serta-merta ia melepas handsfree ketika sahabatnya itu memutuskan untuk duduk disampingnya.

“Kudengar kau membuat masalah di kelas tari,” kata Luna, membuka topik pembicaraan.

Ikha menggedikan bahu. Desah nafas beratnya berhembus seolah menyiratkan rasa lelah yang tiada tara. “Aku tahu kau pasti akan bertanya mengapa aku tetap mengikuti prosedur musikal itu—meski pada kenyataannya aku lulus tanpa audisi. Dan kau datang kemari untuk menginterogasiku. Iya ‘kan?” tanyanya, masih dengan nada yang tenang tanpa emosi.

Luna melayangkan pukulan kecil pada bahu Ikha. “Kenapa kau jadi tegang begini?”

Bola mata Ikha berputar. Agak enggan untuk menatap Luna yang sedang terkekeh pelan disampingnya, tapi ia memilih untuk diam dan menikmati hamparan rumput hijau yang mengelilingi lapangan basket.

Shock mungkin iya. Aku tak pernah menyangka jika namamu menjadi kandidat pertama musikal itu dan aku menyesalinya,” aku Luna.

Ikha tersenyum tipis. “Mian,” sesalnya.

Esseo, Kha-ya (Ayolah, Kha-ya). Ini sama sekali tidak ada hubungannya denganmu,” bujuk Luna.

Yeoja yang menguncir rambutnya seperti ekor kuda itu melanjutkan, “Pihak Sound Entertainment menghubungiku bahwa aku lolos audisi tahap pertama. Entah kenapa tiba-tiba aku menolaknya. Mungkin karena aku mengetahui Victoria eonni lolos audisi. Jika aku tahu bahwa kau sudah diincar mereka dari dulu, mungkin aku tak akan menolaknya.”

Seketika Ikha menoyol kepala Luna. “Paboya! Kau menolak agency sebesar mereka? Kau itu jauh lebih berbakat dariku, Na-ya. Kau lupa jika kau begitu menginginkan peran itu?” ocehnya tanpa jeda.

Luna kembali terkekeh. Ekspresi yang sulit ditebak oleh Ikha. “Bakatmu itu jauh lebih baik dariku. Justru yang kuherankan, kenapa mantan mahasiswi terbaik di fakultas Acts & Arts Inha University berubah haluan menjadi mahasiswi pendiam di fakultas Management Communications Seoul International University?”

Ikha berdecak. Bola matanya berputar. “Jangan bahas itu lagi!” elaknya.

“Kuharap namja di urutan kedua itu bukanlah alasan utama kenapa kau mengikuti musikal itu,” goda Luna sembari menyenggol bahu Ikha beberapa kali. Handsfree yang semula bertengger di pangkuan Ikha pun ia pakai kembali. Rasanya malas untuk menanggapi ocehan Luna.

“Apa benar?” tanya Luna setengah menuntut. Tangannya menarik handsfree dari kedua telinga Ikha, membuat yeoja itu mendelik ke arahnya.

Mwo? (Apa?)”

“Dia itu namja yang dulu sempat kau ceritakan ‘kan? Yang meninggalkanmu ke New York?” ejek Luna untuk ke sekian kali.

“Sayang sekali jawabannya YA!” tandas Ikha, agak berteriak di telinga Luna saat menyebut kata terakhir. Tawa Luna melengking sempurna, puas karena berhasil menggoda teman baiknya itu.

“Semoga kau berhasil membawa namja itu kembali ke pangkuanmu. Dan, oh! Kau harus berhati-hati. Ada Victoria disana,” ucap Luna, mengingatkan Ikha.

Kerut alis yeoja itu melengkung membentuk gelombang. Entah ada hubungan apa antara Luna dan Victoria—yang ia ketahui sebagai yeoja menarik dan attractive di antara para trainee. Yang jelas, nada serta tatapan Luna begitu dalam dan serius.

***

Bunyi gemerutuk jemari Ikha yang menari-nari indah di atas keyboard berhasil mengalahkan kesabaran Kyuhyun. Sedari tadi namja itu sengaja tak mengganggu adiknya karena yeoja itu sudah mewanti-wanti terlebih dahulu untuk menjaga jarak. Tapi rasa penasaran lebih menguasainya saat ini. Selain Ikha, tak ada lagi yang bisa diajaknya bicara di rumah ini—kedua orang tuanya terlalu sibuk mengurusi urusan mereka sedangkan ia sendiri tak bisa keluar rumah karena masih dalam masa penyembuhan.

Kyuhyun menghampiri Ikha pada akhirnya kemudian menempatkan diri disamping yeoja tersebut. Ikha tengah mengenakan headset. Wajahnya nampak serius mengamati layar laptop. Well, tepat sesuai dugaannya. Dongsaeng satu-satunya itu tengah mencoba mengaransemen ulang sebuah lagu lewat software musik yang baru saja didapatnya dari Amerika.

“Jadi kau membuat Mentor Dance-mu marah-marah?” tanya Kyuhyun setengah bergumam.

Ikha masih bergeming seolah tak mendengar pertanyaan yang dilontarkan Kyuhyun. Namja berparas evil itu menyenggol bahu Ikha hingga yeoja itu menoleh padanya. Ia hanya mengangkat satu alis, tak mengerti apa yang dibicarakan Kyuhyun. Sang Oppa melepas headset yang dipakai Ikha lalu menyebut kalimat di atas sekali lagi.

“Oh, kau bicara padaku?” tanya Ikha balik yang sukses membuat salah satu bantal sofa mendarat mulus di kepalanya. Ia hanya terkekeh pelan. Untuk kali pertamanya ia merasa senang Kyuhyun memperlakukannya seperti ini.

“Kurang lebih seperti itu. Orang itu seolah meremehkan kemampuanku, Oppa. Hah! Dia belum tahu sedang berhadapan dengan siapa,” jawabnya sedikit menyombongkan diri. Ikha kemudian menutup layar laptop dan berfokus pada  Kyuhyun. Benar juga, hari ini ia belum berbincang dengan Sang Oppa. Mungkin namja disampingnya ini butuh teman untuk bicara.

“Apa kau sudah bertemu dengan si Tuan Rumah?”

Kepala Ikha menggeleng. “Belum. Tapi kurasa sebentar lagi dia akan memanggilku. Aku sengaja sedikit membuat onar disana,” ucapnya, lagi-lagi membanggakan diri.

Kyuhyun mengangkat kepala, tergelak mendengar ucapan Ikha. “Sedikit katamu?” ejeknya.

Yeoja yang kini menguncir rambutnya menjadi satu itu menanggapi ejekan Kyuhyun dengan sebuah tawa. “Oppa, memang seperti apa rupa orang itu?”

Tawa Kyuhyun langsung terhenti. Bola matanya berputar seolah sedang berfikir. “Well, yang jelas kau tidak akan terpesona melihat keriput di keningnya,” jawabnya asal.

Ikha menganggukan kepala. Kesimpulan yang ia dapat dari jawaban Kyuhyun adalah namja yang tidak bertanggung-jawab itu bukan seseorang yang memiliki wajah tampan. Kedengarannya sangat bagus. Jadi ia tidak perlu termakan alur drama televisi—dimana pemain utama tiba-tiba jatuh cinta pada pemeran antagonis.

“Kau sudah yakin seratus persen?” selidik Kyuhyun. Sedari kemarin ia terus saja melontarkan pertanyaan yang sama pada Ikha perihal keputusannya mengikuti drama musikal tersebut.

“Setidaknya aku bisa membuktikan pada mereka bahwa aku mampu. Pastikan saja Eomma dan Appa tidak mengetahui perihal audisi ini,” tutur Ikha, meyakinkan Kyuhyun.

Benar. Apa jadinya jika Tuan dan Nyonya Cho mengetahui bahwa anak perempuannya kembali menggeluti dunia seni? Dulu, Ikha begitu bersikeras mendaftar ke Inha University agar bisa bergabung dengan manusia berbakat lainnya di Fakultas Arts and Acts yang notabene begitu terkenal di Seoul. Dan karena suatu hal, ia harus menghentikan apa yang telah dilakoninya dan beralih ke fakultas yang sangat tak disukainya di Seoul International University.

Tapi setidaknya Ikha memiliki alasan mengapa ia ingin kembali ke dunia-nya yang telah ditinggalkan selama ini. Dunia yang begitu dicintainya dan juga Kyuhyun. Jika ia bisa menjadi pemeran utama musikal itu seperti apa yang direncanakan si pemilik Sound Entertainment, mungkin ia bisa membuktikan pada kedua orang-tuanya bahwa ia masih sama seperti dulu, manusia berbakat yang telah menolak beberapa agency yang mengorbitkan artis sekelas Rain, Boa dan Se7en. Well, kedengarannya tidak buruk juga…

***

Ikha memperhatikan jam tangan Sapphire Blue miliknya sesekali. Di tengah langkahnya yang begitu ringan dan juga santai, sudut bibirnya tertarik luwes membentuk senyum tipis. Ia sedang membayangkan ekspresi apa yang akan diperlihatkan oleh Kai saat mengetahui keterlambatannya.

Meski ia tak begitu akrab dengan trainee lain, desas-desus diantara mereka menyebutkan bahwa ia akan celaka jika satu tim dengan Kai. Remaja belasan tahun itu begitu semena-mena dan selalu seenaknya dalam bersikap. Mungkin karena fakta yang mengekorinya dari belakang—yang menyebutkan bahwa ia adalah adik kandung dari CEO agency ini.

Langkah Ikha terhenti saat menemukan Kai tengah asik menari di ruang latihan tempat mereka bertemu. Lagu Drake bertitel Best I Ever had menggema di seluruh ruangan. Ikha memutuskan untuk memperhatikan Kai sambil menyenderkan tubuhnya pada dinding.

“Kau telat sepuluh menit,” sahut Kai datar. Alunan musik masih terdengar namun namja itu sepertinya mengetahui kehadiran Ikha. Ia memutar tubuh ke belakang agar berhadapan dengannya. Peluh di sekitar pelipis mengalir mulus hingga ke dagu. Oke, ada satu point plus yang ia lihat dari Kai. Ia cukup manly untuk ukuran remaja seumurannya.

Ikha melangkahkan kaki ke arah Kai. Kedua tangan ia masukan ke dalam saku celana baggy selututnya. “Kalau begitu dengarkan dulu lagu yang telah ku aransemen ulang. Jika kau tidak suka, kau boleh menghukumku karena keterlambatanku ini,”

Ia mengambil keping CD yang ada pada salah satu kantung celananya kemudian menyerahkan benda itu pada Kai. Namja itu sempat mendelik sebal sebelum merampas keping CD tersebut dari tangan Ikha. Kemudian ia duduk bersila di atas lantai berlapis kayu, memasang CD pada player dan mendengarkan dengan seksama.

Ikha memilih untuk mengelilingi ruang tari yang luasnya hampir sama dengan luas halaman belakang rumahnya. Fokus pandangannya kini tertuju pada Kai. Ada satu keuntungan yang di perolehnya saat ini. Ya. Kekuasaan yang dimiliki Kai-lah yang patut diacungi jempol. Buktinya? Ia bisa menggunakan ruang tari yang ada di gedung Sound Ent. dengan cuma-cuma tanpa proses ini-itu.

“Lagu siapa ini?” tanya Kai sambil melepas headset di kedua telinganya.

“John Powell. Tango de las Assesinos,” jawab Ikha seraya berjalan menghampiri Kai, duduk disampingnya.

Kepala Kai mengangguk sekali sambil menggedikan bahu. “Tidak buruk juga,” ungkapnya, jujur.

Sekali lagi, perhatian Ikha kembali pada Kai. Gerak-gerik namja yang terpaut empat tahun lebih muda darinya itu diamati dengan jelas. Apalagi ketika Kai menyeka keringat menggunakan handuk putihnya. Terselip rasa kagum serta kasihan secara bersamaan. Kagum, saat melihat tarian Kai yang begitu jjang beberapa menit lalu. Kasihan, karena namja ini sepertinya tidak memiliki masa kecil yang indah. Lihat saja. Ekspresinya kelewat serius. Berbeda dengan ekspresi wajah Taemin—kembarannya—yang selalu sumringah dan tersenyum pada setiap orang.

“Hampir semua orang disini membicarakan kemampuan menarimu. Apa kau benar-benar sehebat yang diceritakan mereka?” Ikha berucap dengan nada sedikit mencemooh.

Poni rambut Kai sebatas alis dikibaskan perlahan. Ia tersenyum. Senyum penuh kebanggaan. Bukan senyum kecut yang biasa ia lontarkan. “Pertanyaan sama yang ingin kulontarkan padamu. Apa kau sehebat yang kukira? Aku masih heran mengapa Donghae Hyung memilihmu menjadi kandidat utama,” balasnya sengit.

Suara dengus pelan dikeluarkan Ikha melalui hidung mini-nya. Tak disangka jika remaja berperangai jutek ini akan balas meremehkannya. Ia sempat tersenyum saat pertama kali melihat senyum Kai yang berbeda dari biasanya. Namun hal itu tak berlangsung lama. Ia baru menyadari sesuatu…

Nugu? (Siapa) Donghae?” Alis Ikha bertautan.

“Jangan bilang kau tidak tahu siapa itu Donghae?” tanya Kai, setengah mendesis.

Kepala Ikha menggeleng disertai kedua alisnya yang terangkat sempurna.

“Jangan bilang kalau kau juga tidak tahu siapa aku?”

Untuk pertanyaan yang satu ini, Ikha pura-pura tak tahu dan tak mengerti. Kepalanya menggeleng beberapa kali. Sengaja ingin menggoda Kai. Sejauh mana namja bertemperamen buruk ini dapat menahan emosinya. Dan benar saja, ia langsung memutar bola mata sambil mengaduh tak karuan.

“Kau benar-benar tidak tahu siapa aku?” tanyanya sekali lagi dan disambut sebuah cibiran manis dari Ikha.

“Ergh! Ijeobeoryeo! (Lupakan!)” sungut Kai seraya membenahi sepatu kets yang dikenakan lalu meraih tas Adidas miliknya, bersiap untuk pergi.

Ikha hanya terkekeh pelan kemudian berkata, “Kau akan ke kelas menyanyi?”

Anio. Aku malas. Lebih baik kugunakan waktuku untuk membuat koreografi dari lagu ini. By the way, jenis tarian apa yang akan kita pakai?” ucap Kai tanpa jeda. Sepertinya ia lupa jika barusan namja ini kesal pada Ikha dan memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan.

“Apa kau mahir berdansa tango?”

“Aku bisa melakukan jenis tarian apapun,”

“Kalau begitu buat gerakan tango yang terkesan kuat dan bertenaga. Menurutku sebagian besar trainee lain pasti menggunakan gerakan popping atau shuffle dance,” tutur Ikha, mengucapkan kemungkinan terkuat perihal tarian yang akan dipakai trainee lain.

Yeah. Tidak menarik,” Kai membenarkan.

Ikha menoleh pada namja itu dengan cara melirik dari sudut matanya. “Tumben kita sependapat?”

“Untuk urusan tari, aku tidak ingin main-main.”

“Terserah kau saja. Kita bertemu lagi besok. Aku penasaran ingin menyapa Mentor-ku,”

Ikha melenggangkan kaki mendahului Kai. Ia sempat bersenandung menyanyikan sebait lirik yang tak dikuasai Kai. Dari balik punggungnya, namja berambut hitam pekat itu memperhatikan Ikha dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sebenarnya yeoja—atau lebih tepatnya noona—itu cukup menarik jika dibandingkan dengan trainee lain yang selalu bersikap manis padanya. Well, setidaknya hanya Ikha yang tidak nampak seperti seorang penjilat.

***

05.50 p.m.

Masih ada waktu sepuluh menit bagi Ikha untuk bertemu mentor-nya di kelas menyanyi. Yeoja itu menghentikan langkahnya ketika sampai di persimpangan lorong gedung. Tubuhnya ia arahkan ke belokan di sebelah kiri—bukan ke ruang latihan yang ada di sebelah kanan—menuju kantin. Seorang trainee yang ia kenal dengan nama Yoona mengatakan bahwa kantin agency ini begitu mewah dan besar. Jadi ia memutuskan untuk mengacak-acak seluruh makanan di kantin sebelum latihan dimulai.

Saat Ikha mendorong salah satu pintu kaca berkenop besi berlapis tembaga abu-abu, wangi roti panggang serta asparagus bercampur tenderloin menyambut kedatangannya di dalam kantin. Yeoja itu berdecak pelan. Ia baru tahu jika kantin agency ini begitu mewah seperti kantin milik Sekolah SHINHWA di drama Boys Before Flower. Kenapa tidak dari kemarin saja ia datang ke tempat ini? Sungguh hari yang sia-sia.

Langsung saja ia menghampiri meja tempat para koki menghidangkan berbagai macam jenis makanan bergizi. Instingnya dengan cekatan mengambil satu piring kecil Yang Guifeidessert khas Hongkong. Kemarin lusa, ia begitu menginginkan dessert itu lantaran menonton salah satu acara televisi ber-tema-kan makanan luar negeri. Tak disangka, agency ini menyediakannya secara cuma-cuma. Ia sempat merenung, sekaya apakah Sound Ent. jika dibandingkan dengan YG atau SM?

Bola mata Ikha beredar ke sekeliling ruangan untuk mencari tempat yang tepat untuk menghabiskan dessert-nya. Ia memicingkan mata saat menemukan seorang namja tengah menyantap hidangannya di bangku dekat jendela. Ikha menghampiri namja tersebut karena rambut putih-nya begitu ia kenali. Benar saja. Tebakannya tidak meleset.

“Annyeong,” sapanya seraya menarik kursi yang ada di depan Eunhyuk lalu duduk disana tanpa izin.

Eunhyuk mendongakan kepala. Matanya bergerak mengikuti pergerakan Ikha. Bibirnya bergerak membentuk seulas senyum dan ia kembali berkutat dengan buku yang sedari tadi berada di pangkuannya.

Kedua tangan Ikha dilipat lalu diletakan di atas meja. Matanya tak berkedip saat menatap Eunhyuk yang sepertinya sengaja mengalihkan perhatian pada buku. Lagi, jantung Ikha selalu bergejolak tak karuan setiap kali ia bisa sedekat ini dengan Eunhyuk. Meski begitu, ia sangat bersyukur. Perasaannya selama ini ternyata belum berubah sama sekali.

“Masih tidak ingin bicara denganku?” tanyanya sehalus mungkin.

Anio. Aku sedang menyantap makananku,” jawab Eunhyuk tanpa sedikitpun melakukan kontak mata.

Satu tangan Ikha bergerak untuk menopang dagu. Kepalanya agak miring ke kanan, sengaja agar ia lebih mudah menatap Eunhyuk yang tengah menunduk—yang terus saja menyembunyikan seluruh wajahnya.“Kau terlihat lebih kurus jika dibandingkan saat terakhir kali kita bertemu—tiga tahun lalu,”

“Banyak yang telah berubah selama tiga tahun terakhir ini, bukan? Kau juga sama. Terlihat lebih anggun dengan rambut panjangmu itu,” Seiring dengan berahirnya kalimat Eunhyuk, namja itu mengangkat kepala untuk menatap Ikha sesaat. Hanya sesaat, lalu ia kembali menunduk. Diam seribu bahasa dan bicara seperlunya saja.

Ikha mengerucutkan bibir. Kecewa. “Akan kuanggap itu sebagai sebuah pujian,” Mengalah pada akhirnya.

Selama beberapa menit, Ikha sengaja untuk tidak bertanya atau sekedar mengucapkan sepatah katapun—berharap Eunhyuk akan balik bertanya atau semacamnya. Namun namja dengan rahang tegas itu sama sekali tak berucap. Bahkan Ikha harus menelan  Yang Guifei bulat-bulat untuk meredam kekecewaannya.

“Sebenarnya aku ingin lebih banyak berbincang denganmu. Tapi sepertinya kau tidak tertarik sama sekali,” sindir Ikha sambil memasukan sesendok penuh desssert-nya ke dalam mulut.

Masih menunduk, Eunhyuk menyunggingkan senyum tipisnya untuk kedua kali. “Kita bisa bicara disini. Saat ini,” ucapnya, singkat dan padat.

Ikha berdecak. Tak lupa, bola matanya berputar perlahan seraya meniup poninya gusar. “Ternyata sifat menyebalkanmu itu masih sama seperti dulu,”

Eunhyuk lagi-lagi hanya tersenyum tipis. Sindiran demi sindiran yang dilontarkan Ikha ia hadapi dengan santai. Ia sempat memandangi Ikha saat pandangan yeoja itu mengarah ke tempat lain. Namun buru-buru menunduk ketika Ikha lagi-lagi mengarahkan kedua pupil mata padanya.

“Kau tidak tahu bagaimana rasanya ketika aku melihatmu berada di ruangan yang sama denganku tempo hari,” bisik Ikha.

Eunhyuk menelan ludah. Ia sudah menerka dari awal bahwa Ikha pasti akan membahas ini. Mengangkat topik yang lama kelamaan menyangkut kehidupan mereka jauh sebelum pertemuan mereka di gedung Sound Ent. Namja itu membolak-balik halaman buku yang dipegangnya tanpa membaca. Ia hanya sedang berpura-pura. Padahal indera pendengarnya bekerja begitu aktif saat ini.

“Senang? Kecewa? Kaget? Aku tidak bisa mendeskripsikan hal itu lebih detail,” ucap Ikha, menyambung kalimat sebelumnya. Urat-urat di sekitar leher Eunhyuk menegang. Ia paling sensitif jika Ikha sudah bicara perihal perasaannya.

“Bahkan saat aku berhadapan denganmu seperti ini, aku masih tak tahu apa yang kurasakan.” Imbuh Ikha untuk ke sekian kalinya.

Yeoja itu memberi jeda beberapa detik untuk melihat reaksi Eunhyuk. Sayangnya, ia hanya menemukan namja yang lebih tua empat tahun darinya itu tetap bergeming, masih berkutat dengan bukunya. Membolak-balik halaman demi halaman dan merengutkan alis ketika menemukan deretan huruf yang menarik perhatiannya.

Kedua bahu Ikha yang semula tegang kini terkulai lemah. Usahanya ternyata sia-sia. Eunhyuk tetap saja tak mengucapkan apapun. “Tak apa jika kau tetap berdiam diri seperti ini. Yang penting kau mendengarkan apa yang kukatakan sekarang,” ucapnya—setengah bergumam.

Bosan, akhirnya Ikha memilih untuk mencacah dessert-nya menggunakan garpu kecil hingga tak berbentuk lagi. Ia sudah tidak bernafsu lagi melahap makanan itu. “Aku hanya ingin kau menjelaskan kepergianmu dulu. Setelah itu, aku tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi. Asal kau tahu, aku sedikit tak rela melihatmu dengan yeoja berambut pirang itu.”

“Namanya Hyeoyeon.”

Sontak Ikha membeku saat Eunhyuk dengan tangkas menyela pembicaraannya hanya demi mengklarifikasi nama Hyeoyeon yang sama sekali tidak menarik baginya. Bola mata Ikha kembali berputar. Ia mulai merasa jengah dengan sikap Eunhyuk.

“Terserah! Aku tidak peduli!”

Dengan nada yang agak meninggi, Ikha mengucapkan kalimat tersebut sambil menghentakan garpu yang dipegangnya ke atas meja hingga menimbulkan bunyi ttuk pelan. Digesernya bangku yang ia duduki seraya beranjak dari tempat tersebut dengan tergesa-gesa dan terkesan meninggalkan emosi mendalam pada Eunhyuk.

Setelah bunyi langkah kaki Ikha tak terdengar lagi, Eunhyuk memutar kepalanya ke arah pintu exit—menatap bayangan kepergian Ikha dengan sorot mata nanar. Kemudian ia mengalihkan diri pada jendela. Fikirannya terbelah dan berpencar ke berbagai jalur. Tak ada yang harus ia perbuat selain menyesali diri.

Seharusnya ia tidak mengikuti kemauan Donghae untuk menjadi salah satu trainee disini. Pertemuannya dengan Ikha justru memaksanya untuk membuka lubang yang dulu sempat ia kubur dalam-dalam. Namun apa daya. Ia harus tetap bertahan demi masa depannya kelak. Mungkin dengan begitu, ia bisa menceritakan pada Ikha mengapa ia meninggalkannya tiga tahun lalu….

***

Dengan langkah pasti, Ikha melenggang masuk ke dalam kelas menyanyi tanpa sedikitpun melakukan kontak mata dengan beberapa orang yang memperhatikannya. Merasa mendapatkan perhatian lebih dari lingkungan sekitar, Ikha berusaha bersikap sebaik mungkin dengan memberi mereka sebuah senyum tipis dan membungkuk ± 45˚. Untuk hari ini saja, ia akan bersikap manis dan baik hati. Hari ini saja. Tolong digaris-bawahi.

Seperti biasa, Ikha duduk di deretan paling belakang. Sengaja mengisolasi diri dari lingkungan. Yoona dan Jia sempat mengajaknya bicara tapi ia  hanya menanggapinya dengan senyum tipis. Sebenarnya ia cukup jengah melihat Eunhyuk yang selalu bersama Hyeoyeon setiap kali berada di dalam kelas. Apa Eunhyuk sengaja melakukan hal itu di hadapannya? Entahlah. Ikha tidak bisa menyimpulkan sendiri.

Suntuk. Satu kata yang terbesit di fikirannya saat ini. Seonsaengnim-nya kali ini, Yesung, memang namja yang memiliki kepribadian unik dan juga menarik. Hanya saja, kadang ada beberapa omongannya yang sulit dipahami. Walhasil, yeoja itu memilih untuk mendengarkan musik melalui handsfree Angry Bird-nya. Terlalu malas mendengar instruksi Yesung.

Saat ia masih asik mendengarkan beberapa lagu yang baru saja di download-nya, tiba-tiba seseorang menekan-nekan kulit bahu Ikha menggunakan ujung telunjuknya selama beberapa kali. Ia menoleh ketika mendapati Taemin tengah berdiri tegap di sampingnya. Bola mata Ikha beredar ke sekeliling ruangan dan baru sadar jika sudah tak ada siapa-siapa lagi di kelas. Ikha. Ikha melirik jam tangannya dan cukup kaget saat sadar bahwa ia sudah berada di dalam kelas selama satu jam lebih.

Neo… mwohaneun geoya?” tanya Ikha ketus pada Taemin.

Taemin menyunggingkan senyum terbaiknya seraya melambaikan tangan pada Ikha seolah mengisyaratkan bahwa namja itu tengah menyapanya. Ikha hanya berdecak pelan sambil membenahi posisi duduk yang berhasil membuat pantat ratanya memanas.

“Bukankah kau itu kembarannya Kai?” Kembali yeoja itu bertanya. Tapi kini tanpa melakukan kontak mata—karena sekarang ia sibuk merapihkan rambutnya yang mengusut.

Ne. Senang bisa satu tim denganmu, Noona.” Jawab Taemin. Tanpa izin dari Ikha, namja itu sudah duduk disampingnya dan lagi-lagi memberikan senyum terbaiknya pada Ikha.

Alis yeoja itu mengkerut. Belum memahami dengan jelas maksud perkataan Taemin. “Satu tim?”

Taemin mengangguk mantap. “Tipe kelas menyanyi hari ini hampir sama dengan kelas tari. Kebetulan Yesung Seonsaengnim menjadikan kita satu tim. Apa kau tidak mendengarkan instruksinya?”

Ikha menggedikan bahu tak peduli. “Geurigo? (Lalu?)”

Taemin memilih untuk tidak mengindahkan pertanyaan tuntutan dari Ikha. Kaki kanannya ia tumpu pada kaki kiri, kemudian satu tangannya ia gunakan untuk menopang dagu. Tatapan matanya lurus pada Ikha dan senyumnya tak pernah berkurang sedikitpun. “Ternyata kau lebih cantik jika dilihat lebih dekat,” ucapnya, memuji Ikha.

Yeoja itu mendelik dengan memutar bola mata. “Jangan menggodaku,” elaknya.

Ia sudah biasa menghadapi orang-orang yang selalu berusaha menarik perhatiannya. Seperti yang sedang Taemin lakukan sekarang. Jika namja itu fikir kata-katanya itu dapat membuatnya senang, jawabannya tentu saja tidak. Ia sering mendengar gombalan lain yang jauh lebih parah darinya.

“Mungkin kau agak kewalahan menghadapi sikap Kai. Tapi aku jamin kau akan senang berada di dekatku, Noona-ya.” ujar Taemin penuh percaya diri.

Serta-merta Ikha langsung menutup mulut rapat-rapat. Dari sudut matanya, ia menemukan Taemin yang masih menatapnya intens dan lamat. Dalam hati yeoja itu pun berteriak, mengapa ia harus satu tim dengan Taemin? Jika namja ini terus saja menebar pesona padanya—dan juga pada trainee lain seperti yang ia lakukan pada Suzy, terpaksa ia harus meninggalkan kelas menyanyi. Sikap Kai yang selalu mengacuhkannya justru lebih baik ketimbang Taemin. Eotteokhaji?

***

“Kenapa yeoja bermarga Cho itu menyebut namamu ketika di kelas Leeteuk Saboo?” Hyeoyeon memberanikan diri menanyakan hal tersebut pada Eunhyuk di sela langkahnya menuju halte bus yang ada di depan Gedung Sound Ent.

Eunhyuk mengeratkan coat dan juga syal-nya saat angin malam berhembus menerpa kulit. Langkahnya nampak tak bertenaga dan tak berirama. “Kami memiliki masa lalu yang cukup rumit.” Jawabnya, agak terbata.

Hyeoyeon mengangguk pelan. Sengaja memberi jeda beberapa detik sebelum ia menanyakan hal berikutnya pada Eunhyuk. Kerikil-kerikil yang ada di antara lapisan aspal pun ia tendang perlahan seiring langkahnya yang kian mantap.

“Kau mengenalnya?” lanjut Hyeoyeon. Ia melirik sekilas pada namja yang baru dikenalnya minggu lalu itu. Meski separuh wajah Eunhyuk tertutup syal hijau pekat, Hyeoyeon dapat mendeteksi bahwa namja berambut putih itu tengah tersenyum.

“Jauh sebelum kami bertemu di kelas Leeteuk-ssi minggu lalu,” jawab Eunhyuk pada akhirnya.

Ada sedikit rasa kecewa yang dirasa Hyeoyeon saat mendengar jawaban Eunhyuk. Bagaimana pun juga, Eunhyuk adalah namja yang begitu mudah menarik perhatiannya. Ia begitu sulit tertarik pada namja manapun dan Eunhyuk berhasil mematahkan sifatnya tersebut saat mereka sering menyempatkan waktu bersama untuk latihan dance. Sedangkan yang ia tahu, Cho Ikha adalah seseorang yang akhir-akhir ini selalu menjadi bahan perbincangan semua trainee. Ia memang tidak cantik, tapi memiliki kharisma dan aura tersendiri yang mampu membuat yeoja maupun namja lain tak melepaskan perhatian mereka darinya.

“Bagaimana kau mengenalnya?” selidik Hyeoyeon. Ia sempat menggigit bibir bawahnya sendiri saat merasakan getaran pada suaranya. Semoga saja Eunhyuk tidak sadar akan hal itu.

“Aku sedang tak ingin membahasnya, Hyeoyeon-ssi.” Elak Eunhyuk, berusaha bersikap sehalus mungkin.

“Sedikit saja,” pintanya, agak memaksa Eunhyuk untuk bercerita.

Kedua tangan Eunhyuk semakin erat dibenamkan di dalam saku coat cokelat cream miliknya. Kepalanya sedikit didongakan ke atas, menatap langit malam yang pekat tanpa bintang yang berkelap-kelip. Kepulan asap—uap lebih tepatnya—dari mulutnya keluar beriringan saat ia mendesah pelan. Pertanda bahwa cuaca malam ini cukup dingin.

“Dia itu hoobae ketika aku masih menjadi mahasiswa di Inha University. Kami cukup dekat karena sebuah kompetisi,” jelas Eunhyuk. Suaranya begitu pelan, bahkan hampir berbisik.

“Tapi… sepertinya kau sengaja menghindarinya.” Cecar Hyeoyeon, setengah menuntut.

“Sudah kukatakan sebelumnya bukan? Masa lalu kami cukup rumit,” Eunhyuk mengucapkan kalimat tersebut tanpa menoleh pada Hyeoyeon atau sekedar memelankan langkah kakinya. Rasanya ia ingin cepat sampai di depan halte bus agar Hyeoyeon tidak mengoceh lagi dan menuntut pertanyaan ini-itu yang menyangkut Ikha atau masa lalunya.

“Dia… mantan kekasihmu?”

Suara tawa Eunhyuk terdengar di tengah hembusan angin malam saat Hyeoyeon mengucapkan pertanyaan di atas. “Kurang lebih seperti itu,” Ia membenarkan.

Hyeoyeon kembali merunduk dan memperhatikan kerikil yang menghalangi jalannya. Mantan kekasih. Pantas saja mereka berdua langsung akrab saat bertemu tempo hari. Sudah ia duga. Pasti ada sesuatu diantara mereka.

“Sekarang dia ada di hadapanmu seolah menuntut sesuatu. Kalau boleh tahu, apa itu?” ungkap Hyeoyeon, mengutarakan hal lain yang masih ingin dibahas dengan Eunhyuk. Seperti biasa, ia berusaha mengungkapkannya dengan hati-hati.

Tawa ringan Eunhyuk lagi-lagi terdengar. Tak disangka jika Hyeoyeon akan menanyakan hal tersebut hingga sejauh itu. “Apa kau memperhatikan sedetail itu?”

Yeoja berambut pirang panjang itu menggedikan bahu. “Trainee lain juga satu pemikiran denganku. Selain itu, kalian berdua juga trainee yang lolos tanpa audisi. Semua yang ada disini bertanya-tanya. Pasti ada sesuatu diantara kalian dan CEO Agency ini—menyangkut masa lalu kalian juga mungkin.” Tuturnya, berspekulasi.

Eunhyuk menghentikan langkahnya tepat di depan halte. Memperhatikan jalanan Seoul yang mulai sepi karena malam semakin larut. “Satu hal yang perlu kau tahu—mengingat kita pasti akan lebih sering bersama karena satu tim di kelas tari—Hyeoyeon-ssi. Aku tidak suka jika ada seseorang yang mengungkit masa laluku. Lagipula untuk apa kau mengetahui semua hal antara kami berdua. Kau tidak sedang menginterogasiku ‘kan?” katanya panjang lebar.

A-ani,” jawab Hyeoyeon terbata-bata.

***

Taemin sedari tadi terus saja menyeimbangkan langkah kakinya dengan langkah Ikha. Namja berambut blonde tersebut juga terus mengoceh tak karuan. Mulai dari membahas lagu apa yang akan mereka pakai untuk duet nanti, sampai kepada topik yang tidak begitu penting. Ikha hanya berdeham atau sekedar mengangguk menimpali Taemin. Sungguh, ia lebih suka jika Taemin tersenyum daripada harus membuka mulut dan menggoyangkan pita suaranya tiada henti.

Langkah Ikha terhenti tepat di depan tangga yang ada di depan pintu utama gedung, mencermati jalanan Apgujung yang mulai menyepi. Taemin kini semakin banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Misalnya saja, mengapa ia begitu menginginkan Eunhyuk satu tim dengannya atau sengaja membandingkan trainee lain dengan Eunhyuk.

Di tengah ocehan Taemin yang setengah didengarnya, indera penglihatan Ikha menangkap sosok Eunhyuk tengah berdiri sendirian di depan halte bus yang berada tak jauh dari gedung Sound Ent. Suara sergahan Taemin tak digubrisnya kala ia menyeberangi zebra cross meninggalkan Taemin dan memilih untuk menyusul Eunhyuk yang mulai berjalan ke arah Selatan.

Setelah jarak antara dirinya dan Eunhyuk hanya terpaut tiga meter saja, Ikha sengaja memelankan langkah kakinya—sengaja membuntuti namja yang lebih tinggi darinya tersebut dalam keheningan malam. Hingga persimpangan jalan yang ketiga, ia masih bertahan dengan posisinya. Rasanya begitu tenang berada sedekat ini dengan Eunhyuk, meskipun ia hanya bisa menatap punggung namja tersebut dari belakang.

Detik berikutnya, Eunhyuk menghentikan langkahnya seraya berbalik menghadap Ikha. Sontak yeoja itu menghentikan langkahnya juga atau ia akan bertabrakan dengan Eunhyuk. Senyumnya mengembang lalu tangannya melambai pelan. Eunhyuk memberi reaksi dengan menyipitkan kedua matanya. Masih sulit untuk berekspresi.

“Kenapa kau begitu bersikeras, Cho Ikha?” bisik Eunhyuk dari balik syal hijau pekat yang menutupi setengah wajahnya. Ikha tetap bergeming dengan senyum yang tidak berkurang sedikitpun dari wajahnya.

“Masih penasaran?” tanya Eunhyuk, mendesis seperti ular.

Ikha menggedikan bahu. “Salahkah jika aku mengikutimu? Aku hanya sekedar ingin tahu—“

“Tahu tentang apa? Bukankah sudah tidak ada hubungan lagi diantara kita? Lalu apa lagi yang ingin kau ketahui?” sela Eunhyuk, menginstruksi kalimat Ikha.

Yeoja itu diam sesaat. Agak kaget dengan reaksi Eunhyuk yang tak diduganya. “Aku hanya ingin tahu mengapa kau berubah menjadi manusia dingin seperti ini? Apa kau akan memberitahu jawabannya padaku, Mr. Lee?” tanyanya, menantang.

“Tentu saja jawabannya tidak. Jadi cepat enyah dari hadapanku sekarang juga,” tandas Eunhyuk.

Gigi Ikha bergemurutuk. Mulutnya terkatup rapat menahan amarah. Kalimat terakhir yang diucapkan Eunhyuk cukup menohok hatinya. Namun ia tidak sepenuhnya menyalahkan Eunhyuk. Bagaimanapun juga, namja yang ada di hadapannya ini adalah namja yang sama— yang selalu mengusik ketenangan hidupnya selama tiga tahun ini.

“Kalau begitu, aku akan mencari tahu jawabannya sendiri.” Ucap Ikha tak kalah lantang.

Eunhyuk mendengus pelan kemudian memutar tubuhnya berbalik arah. Sebelum ia benar-benar pergi, Ikha menahan lengan Eunhyuk sekuat tenaga. Bahkan mencengkeram coat cokelat cream-nya hingga mengusut. Eunhyuk menatap Ikha dalam dan tak berkedip.

“Kau begitu keras kepala,” gumamnya.

Ikha mendongakan kepala agar dapat membalas tatapan dingin Eunhyuk. “Perasaanku masih sama seperti dulu, Lee Hyuk Jae. Tak peduli bagaimana kau meninggalkanku atau menyakitiku. Tak bisakah kau merasakan hal itu?” tanyanya.

Eunhyuk sempat melirik ke sebelah kiri saat menemukan beberapa pejalan kaki menatap mereka secara bergantian—tak sengaja mendengar apa yang Ikha katakan. Namja itu kembali mendesah. Jemarinya sempat menyisir rambut blonde-nya secara perlahan.

“Aku tahu,” Hanya itu jawaban Eunhyuk.

“LALU KENAPA KAU TERUS BERSIKAP SEPERTI INI PADAKU? AKU HANYA INGIN SEBUAH PENJELASAN SAJA, LEE HYUK JAE! SATU SAJA!” pekik Ikha histeris.

Cengkeraman Ikha perlahan mulai mengendur. Meski cahaya dari lampu jalanan tidak cukup terang, Eunhyuk dapat melihat kedua mata Ikha mulai memerah dan berkaca-kaca. Yeoja itu tidak menangis. Hanya sesekali menggigit bibir bawahnya untuk menahan segala kekecewaannya. Eunhyuk menggenggam jemari Ikha yang masih bertengger pada salah satu lengannya, melepasnya, kemudian membiarkan tangan Ikha tergelantung bebas.

“Aku meninggalkanmu demi kebaikan kita bersama,” jelas Eunhyuk.

Detik berikutnya, namja itu beranjak pergi dari tempatnya tanpa mengucapkan kata apapun. Ikha bergeming menatap punggung Eunhyuk yang mulai menghilang dari pandangannya. Selama ini, ia begitu kuat menghadapi apapun sehingga teman-temannya menggangap bahwa ia adalah yeoja berhati baja. Tapi kali ini tidak. Malam ini, ia tak bisa menahan air mata yang sedari tadi berusaha merengsak keluar dari sudut matanya. Yeoja it menangis dalam diam.

Eunhyuk…

Dia adalah namja yang telah mengubah seluruh hidupnya selama ini…

Bahkan hingga sekarang…

***

Keesokan harinya, Ikha memutuskan untuk tetap datang ke kelas acting setelah Kyuhyun memaksanya mati-matian. Alasannya satu: yeojachingu-nya akan datang ke rumah dan ia butuh daerah privacy hanya untuk mereka berdua.  Padahal ia sengaja untuk tidak datang hari ini karena sengaja menghindari seseorang.

Di dalam kelas, ia menemukan Eunhyuk duduk diantara Gikwang dan Hyun Joong sambil sesekali memperhatikan kertas yang dipegangnya—yang baru saja dibagikan Sungmin Saboo pada seluruh trainee. Sepertinya namja itu terlihat baik-baik saja seolah tidak terjadi apapun diantara mereka. Bahkan ketika mata mereka sesekali bertemu, Eunhyuk hanya diam selama tiga detik seraya memalingkannya ke arah lain.

“Aku sudah membuat koreo tarian kita. Setelah kelas ini selesai, sebaiknya kita latihan.” Bisik seseorang disamping Ikha.

Yeoja itu mengerutkan alis dan detik berikutnya segera mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan—mencari Jia yang tadi masih duduk disampingnya.

“Tadi kusuruh Jia Noona pindah tempat,” ucap Kai seolah paham dengan ekspresi kebingungan Ikha.

Karena Ikha mulai terbiasa dengan sikap otoriter Kai, yeoja itu tak banyak mengeluh atau memberi komentar. “Atur saja,” ucapnya malas.

Kai memiringkan wajah agar dapat melihat wajah Ikha yang tengah tertunduk menatap deretan tulisan pada kertas putih yang ada di tangannya. Sepertinya ia merasakan ada sesuatu yang lain pada Ikha. Yeoja itu tidak banyak bicara.

Gwenjanjji? (Kau baik-baik saja?)” tanyanya, setengah berbisik takut-takut jika Sungmin mendengar pembicaraan mereka.

“Kapan aku terlihat baik-baik saja, Kai-ssi?” jawab Ikha, masih menunduk—pura-pura memahami naskah yang ada di tangannya.

“Cho Ikha-ssi?”

Kepala Ikha tegak sempurna saat mendengar sahutan dari suara Sungmin. “Ye?

“Sepertinya kau begitu asyik mengobrol dengan Kai di kelas ku. Bisa tolong maju ke depan dan membantuku memberi contoh pada mereka bagaimana melakukan acting yang baik dan benar?” titahnya.

Seluruh penghuni ruangan seketika tertuju pada Ikha saat itu juga. Termasuk Eunhyuk. Yeoja itu meniup poni sebatas pipinya sesaat. “Tentu saja, Saboo.” Balasnya, menerima tantangan Sungmin.

“Tolong semuanya perhatikan baik-baik. Cho Ikha akan mempraktekkan 4-line-up yang terdiri dari acting bahagia, kecewa, marah dan juga sedih satu-per-satu dalam tempo yang sangat minim. Hal itu tidak begitu sulit bukan?”

“Tidak,” tukas Ikha.

Baginya, ia sudah terbiasa menghadapi mentor yang selalu meremehkannya. Mungkin dengan begini, ia bisa membuktikan pada orang-orang perihal kemampuan akting yang dimilikinya.

“O—Saboo. Aku butuh pemeran pembantu agar acting-ku terlihat lebih nyata. Bolehkan aku menunjuk seseorang?” tawar Ikha.

“Silahkan,”

Saat Ikha mengarahkan tatapannya pada Kai, ia malah menemukan namja itu tengah asik mendengarkan lagu lewat handsfree mini-nya. Meski ia sempat melirik ke arah Taemin yang malah menunjuk dirinya sendiri agar ia memilihnya, yeoja itu jelas tidak akan memilih Taemin. Namja itu begitu labil. Ia belum bisa menerka bakat aktingnya.

“Eunhyuk-ssi,” ucap Ikha lantang.

Para trainee saling berbisik saat Ikha memilih Eunhyuk menjadi pemeran pembantunya. Tanpa menolak, Eunhyuk pun segera beranjak dari tempatnya lalu menuju ke tengah lingkaran, bergabung bersama Sungmin dan Ikha. Taemin sempat mengaduh di tempat saat Ikha tidak memilihnya, sedangkan Hyeoyeon malah memalingkan wajah. Tidak suka dengan keadaan ini.

“Apa yang harus kulakukan, Ikha-ssi?” tanya Eunhyuk, bersikap senormal mungkin.

Ikha memutar bola mata saat mendengar Eunhyuk menyebut namanya dengan embel-embel –ssi. Apakah semula pria selalu bersikap masa bodoh dan pura-pura tak mengenal mereka setelah beradu mulut dengan wanita?

“Diam saja dan biarkan mengalir begitu saja,” jawabnya, membalas kata-kata Eunhyuk dengan bahasa yang begitu formal.

“Oke, mulai.” Ucap Sungmin, memberi aba-aba.

Ikha sempat menatap Eunhyuk dengan wajah datarnya selama sepersekian detik setelah akhirnya—secara tiba-tiba—raut wajahnya berubah sumringah. “OPPA!” pekiknya.

Terdengar bunyi coor ‘uwooo’ secara bersamaan dari para trainee saat Ikha memeluk Eunhyuk dengan erat. Meski diantara bunyi tersebut terdengar nada ‘huuuu’ dari mulut Taemin.

 “Yeogi ittgoona! Neomu geuriwoyo, Oppa! Neo ddo na bogoshippeo sseo, eung? (Akhirnya kau datang juga! Aku sangat merindukanmu, Oppa! Apa kau merindukanku juga, eung?) Baiklah, karena kita sudah lama tidak bertemu, aku akan mengajakmu keliling Seoul sekaligus mengenang masa lalu kita. Eottheyo?” ucap Ikha dengan nada bahagia dan penuh aegyeo. Sungmin memagutkan dagu. Cukup puas dengan acting Ikha.

Detik berikutnya, Ikha segera melepas pelukan Eunhyuk lalu menatapnya dengan tatapan kebingungan—melakukan acting selanjutnya, kecewa.

Mwo? Wae geuraesseoyo? (Ada apa denganmu?) Kau tidak suka bertemu denganku? Kenapa sedari tadi kau hanya berdiam diri saja tanpa mengucapkan satu patah katapun?”

Meski kalimat yang Ikha sampaikan begitu singkat dan jelas, ekspresi yang ditampakkan olehnya begitu nyata dan mewakili. Wajah tanpa senyum, alis mengkerut, dan tatapan mata penuh keingintahuan dan kekecewaan. Yoona dan Nana sempat kagum dengan perubahan acting Ikha yang begitu singkat tersebut.

“KATAKAN SAJA JIKA KAU MEMANG TAK INGIN BERTEMU DENGANKU ATAU SEKEDAR MELIHAT WAJAHKU, LEE HYUK JAE! BERHENTI BERSIKAP SEPERTI INI SEOLAH AKULAH YANG MELAKUKAN KESALAHAN BESAR! SIAPA YANG MENINGGALKANKU SELAMA TIGA TAHUN TERAKHIR INI? KAU! KAU YANG TELAH MEMBUATKU SEPERTI YEOJA BODOH YANG MENANTI SEBUAH KETIDAKPASTIAN!”

Pekikan suara Ikha sejenak membuat beberapa trainee terlonjak kaget. Yeoja itu benar-benar mengeluarkan semua amarahnya saat menyebutkan deretan kalimat tersebut. Nafas Ikha terengah-engah. Dada-nya naik-turun tak menentu. Eunhyuk masih bergeming di tempatnya sesuai apa yang Ikha perintahkan. Meski kata-kata Ikha cukup menohoknya hingga ke hulu hati.

Detik berikutnya, wajah Ikha mulai memerah. Matanya mulai berkaca-kaca dan digenangi air mata. Satu tangannya menekan dada, meremas vest abu-abunya sembari menundukkan kepala. Ia mulai terisak. Tangisnya perlahan pecah diantara keheningan ruangan.

“Kau mengecewakanku, Lee Hyuk Jae.” Bisiknya, merintih menahan tangis.

Ikha membalikan tubuh memunggungi Eunhyuk yang masih diam tak berkutik di tempatnya. Selang beberapa saat, riuh tepuk tangan bergemuruh menggantikan isakan tangis Ikha. Semua trainee—bahkan Sungmin sendiri—memberi applause meriah atas acting Ikha yang luar biasa.

Yeoja itu mengusap air matanya kemudian menegakan tubuh seraya tersenyum lebar. Memasang poker face yang sulit diterka orang-orang. Mungkin bagi mereka, deretan kata yang ia pakai saat melakukan drama singkat barusan hanyalah sekedar ‘acting’ belaka. Tapi tidak, baik dirinya maupun Eunhyuk sadar akan apa yang ia bicarakan.

Ikha sempat menjabat tangan Eunhyuk sebelum kembali ke tempatnya. Setidaknya ia harus berterima kasih. Karena Eunhyuk, emosinya bisa langsung menguap dengan mudah.

Shiryehamnida (Permisi),” sapa seseorang yang datang dari balik pintu ruangan. Menghentikan riuh para trainee yang masih memuji bakat Ikha.

“Cho Ikha-ssi. Anda ditunggu oleh CEO agency di ruangannya,” ucap orang bertubuh gemuk tersebut setelah membungkuk sejenak pada Sungmin untuk meminta izin.

Mwonga munje ga ittnayo? (Ada sesuatu yang salah?)” Ikha malah balik bertanya seolah ia memang tidak melakukan sesuatu hal yang besar selama masa training.

“Saya hanya menyampaikan pesan dari Lee Jeonmunim,” jawab orang itu, sederhana dan singkat.

Kai dan Taemin sempat saling melirik satu sama lain saat mendengar Hyung mereka memanggil Ikha ke ruangannya. Tak hanya itu, Ikha juga sempat melirik sekilas pada Kai—mencari jawaban. Awalnya Ikha agak ragu untuk mengikuti perintah si pria gemuk. Namun ia baru ingat bahwa ia memang ingin bertemu orang yang telah membuat Kyuhyun terluka.

Sejenak, ia melupakan masalah pribadinya dengan Eunhyuk dan memilih mengekori pria gemuk itu seraya meninggalkan kelas. Inilah saat yang ia tunggu-tunggu…

Bertemu nappeun namja yang sudah lama diincarnya….

…bersambung…

copy-header.jpg

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

80 thoughts on “STEP FORWARD (Chapter 02)”

  1. doooh “akting”nya ikha dapet banget dah ya padahal dia curcol tuh barusan ckckck…
    tapi pas adegan ikha lagi akting marah kok aku malah sedih ya *merasa aku yang ada diposisi itu* #plaak abaikan
    okeeh lanjut…

  2. OMG!! pliss yah,, klo mau ada love triangle2an *read:cinta segitiga2an* tolong jgn sama yg namanya Kai atau Taemin,, pedofil kha,, inget umur…. wkwkwk #diinjek
    sama bang donghae aja gih, klo mau yg kyk gt, biar afdol, biar hyuk kesel, abs sebel bgt sih, pake jual mahal segala,, pliss deh hyuk,, dimana lg qmu mendapatkan cewe kyk ikha selain d ff?? wkwk
    oke,, sory nyampah ga penting,,
    lanjut next chapt… ;))
    btw baru sadar judul ff ini ‘step forward’ ngingetin ma ‘step up’ deh,, kan ttg dance2 jg.. #abaikan -______-‘

    1. Abis mereka berdua imut bangget reyyy~ bangeeeet~ hahaha~ *ketauan aslinya pengen punya pacar yg lebih muda*
      coba ada ikon jempol kek di facebook, aku like banget deh komen kamu yg ini, kkk~ 😀

  3. haaaa akhirnya sosok lee hyukjae mulai mendominasi ff ini, baru terlihat jelas kalau dialah tokoh utama dalam ff ini.
    cho ikha gw kasih tau ya Jongin itu gak cuma ‘manly’ tapi ‘manly’ pake banget nget nget (?).

  4. ohhwww ohwww jadi kenapa sih antara ikha-hyukjae? penasaran sama masa lalunya.
    dan… eiyyyy aktingnya ikha luar bias, aku aja yg baca ikut trsentuh/cieleh
    itu sebenernya akting sekaligus pengungkapan perasaan.wkwk
    oh, jadi ikha dulunya di inha university sama hyuk terus pindah gara gara hyuk juga?
    ckck lanjut baca yg kaaa

    1. hahahaha udah kek ayam goreng di KFC aja ‘hot and spicy’. Crispy -nya ketinggalan Saeng 😀
      Tapi kadang lucu juga ya kalo liat Kai suka kaku gitu depan kamera, jadi inget TOP bigbang jadinya /loh?

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s