EXO PLANET “Chapter 02” (REPACKAGED)

New version of EXO PLANET SERIES (Repackaged)

Advertisements

EXO PLANET NEW TEASERKEPULAN ASAP BIRU MUNCUL DARI UDARA KOSONG YANG selanjutnya memadat membentuk dua tubuh manusia. Kumpulan burung pipit berparuh gagak pun menyebar ke segala arah. Terkejut akan kehadiran sosok tersebut yang secara tiba-tiba muncul di antara mereka.

Tubuh Cho seketika ambruk di atas rerumputan. Tangannya menekan dada, berusaha untuk menghirup udara sebanyak yang ia mampu. Ini kali pertamanya ia berteleportasi dan—demi Heechul yang tak pernah memahami perasaannya—tak ingin melakukannya lagi sekali pun dalam keadaan genting.

Rasanya seperti ada yang mencoba menarik setiap buku-buku tulang serta meremukkan tubuhnya hingga  ke sel-sel terkecil.

“Siapa kau?” Cho menatap skeptis pada Kai yang tengah berdiri tegak di sampingnya.

Sudut bibir Kai terbentuk seulas senyum mengejek. Jemarinya dengan nyaman bersembunyi di balik saku celana ketatnya. Mata Kai sempat beredar sebelum menatap Cho yang masih berusaha bernapas—dengan susah payah dan kewalahan. Bibirnya menggumamkan sesuatu seperti sedang menggerutu.

“Kuanggap kau cukup beruntung kali ini. Chanyeol bahkan nyaris kehilangan kakinya karena terhimpit partikel noménosku,” jelas Kai sembari membenahi letak rambutnya yang tertiup angin.

“Partikel no… apa?”

Sambil menepuk-nepuk celana pria yang dikenakannya, Cho mendumal seorang diri. Pria berjaket hitam dengan rambut yang tak kalah hitam tersebut tak memberikan penjelasan lebih. Cho sama sekali tak memiliki gagasan mengenai keberadaannya saat ini. Meski dalam hati ia mengucap syukur karena pria ini tak mengaraknya mengelilingi kota akibat tuduhannya sebagai seorang penguntit.

“Kau─” Cho berdiri semampunya setelah yakin kedua lulutnya bekerja dengan sempurna. “─harus bertanggung-jawab karena telah membawaku ke tempat asing ini!”

Kai tak peduli.

Pria itu justru menjauhi Cho, berjalan mendekati sebongkah kayu mati termakan cuaca planet yang tak menentu. Kai duduk beralaskan benda padat tersebut, sementara Cho mulai menampakkan sorot kebingungan di wajahnya.

Bola mata Cho beredar. Ia mencari-cari satu tanda yang ia yakini bahwa ia sedang tidak keluar batas jalur negara tempat tinggalnya.

“Mengapa aku berada di puncak bukit aneh ini? Mengapa aku bisa berada disini? Tunggu! Tunggu dulu! Ini bukan Kangweon-do!”

Cho panik. Ia kembali memeriksa sekelilingnya dan meskipun ia mencoba menghibur hati, ia tak dapat mengenali hutan lebat di bawah matanya serta kota kecil di ujung penglihatannya.

Gadis itu mengosongkan udara dalam paru-parunya. Menenangkan pikiran saat keadaan genting merupakan cara terbaik yang ia pelajari dari guru olahraga-nya. Setidaknya cara itu berlaku saat ia mengerjakan soal ujian. Cukup dengan mengontrol pikirannya, ia dapat mengerjakan soal tersulit sekali pun─karena setelahnya ia memiliki banyak ide untuk menyontek.

“Mengapa aku bisa berada di ruangan aneh dengan tirai akar yang menjulur-julur seperti lidah komodo? Mengapa rambutku berubah? Mengapa kulitku juga berubah? Lalu… mengapa aku bisa… berbaring… tanpa… pakaian?”

Suara gadis itu melirih. Refleks, kedua tangannya menyilang menutupi dada. Ia mendelik pada Kai kemudian berteriak histeris dan bersiap untuk menyerang. Hanya pria itu yang mengetahui semua teka-teki yang berkeliaran di dalam otaknya.

“Dasar mata keranjang!” Cho menghantam tubuh Kai dengan pukulan dan tendangan. “Kau menculikku dan akan menjualku ke pria nakal di luar sana ‘kan? Kembalikan aku pada ibuku!”

Cho membabi-buta. Tubuh Kai menjadi sasaran empuknya dan gadis itu terus mengulangi hal yang sama selama beberapa saat. Di hadapannya, Kai, hanya melipat tangan di dada, membiarkan gadis itu melemparkan segala amarah dan rasa keingin-tahuan yang tak kunjung diterimanya.

“Duduk.” Kai berucap datar.

Tak peduli, Cho tetap menghujamnya bersama dengan makian-makian yang ia pelajari dari Amber.

“Kubilang duduk!”

Nada Kai yang meninggi seketika membuat Cho menjatuhkan diri di atas rerumputan. Wajahnya menunduk memandangi rumput liar yang tertimbun oleh tubuhnya sendiri. Kai sama sekali tak menyodorkan sebilah pisau atau senapan kecil padanya. Namun kata-katanya cukup membuat hati si gadis tomboi itu mengerucut.

“Pertama, aku sama sekali tak menyentuhmu sejak tubuhmu memadat pagi ini.” Kai memberi penjelasan berhubung gadis itu menyilangkan kembali kedua tangannya di dada. “Aku sedikit alergi pada gadis cerewet sepertimu. Jadi jangan pernah berharap.”

Cho mendongak. Harga dirinya sebagai seorang gadis terhormat seolah menurun beberapa derajat. Ia tak banyak bersuara mengingat perawakan Kai yang cukup berbahaya seperti preman-preman liar yang kadang ia temui di daerah Itaewon. Maka Cho memilih untuk menelan liur bersama makian yang ia tujukan pada Kai, membasahi kerongkongannya yang mengering.

“Kedua, kau harus mendengarkan penuturanku dengan baik atau akan kutahan rohmu di duniaku selamanya.”

Cho hendak berucap hingga Kai menghentikannya dengan sekali gerakan tangan. Pria itu tak ingin mendengar bantahan. Dan lagi-lagi Cho hanya mampu menelan liur yang semakin pahit kian detiknya.

“Terakhir, jaga sikapmu saat berada di dalam markas─ruangan semula saat pertama kali kau terjaga, dan jangan terlalu mencolok saat berada di tengah publik.”

Sambil menyelipkan sejumput rambut di balik cuping telinganya, Cho mengamati sosok Kai dari untaian rambut yang bergerak liar tertiup angin. Sejujurnya, kekagetannya belum mereda sejak pria dengan wajah datar tapi setampan Won Bin itu melakukan aksi magic─dengan berteleportasi. Hal itu membuat Cho masih belum bisa berpikir jernih.

“Kumohon kembalikan aku pada ibuku, preman tampan!” Mendadak gadis itu mencengkeram kaki kiri Kai. “Aku tidak secantik Yoona dan Tiffany! Aku juga tidak sekaya Amber ataupun Bora! Aku masih ingin hidup! Jangan jual aku pada mereka! Aku masih muda!”

“Hentikan!” Kai meraung dan gadis itu serta-merta menjauh darinya. “Kau sudah gila!” desisnya.

Cho, yang semula bergidik ngeri, kemudian mendengus sebal.

“Dengarkan aku, pria menyeramkan! Aku hanya membutuhkan jawaban-jawaban yang ingin kudengar darimu, bukan ocehanmu yang panjang-lebar itu!” Ia mengarahkan telunjuknya angkuh pada Kai.

Pria itu menyeringai, menggelengkan kepala. Ia cukup salut dengan perubahan yang ditunjukkan Cho padanya. Sebelumnya gadis itu menyebut ‘preman tampan’ sambil menyembah di kakinya. Detik berikutnya, ia malah memakinya.

“Ingat poin kedua, dasar bodoh.” Kai mengingatkan. Telapak tangannya menepuk kening Cho hingga gadis itu nyaris terjungkal.

Cho meringis, mengucapkan sumpah-serapah yang tak dimengerti Kai. “Maksudmu aku harus bersabar menunggumu menjelaskan padaku mengapa aku diculik oleh alien sepertimu?” Ia mendelik. Ditepuk-tepuknya kembali celana pria yang dikenakannya sambil menggerutu tak karuan.

“Tunggu sebentar,” gadis itu membeku sejenak. Kedua alisnya mengeryit, nyaris menyatu membentuk gelombang. “Kau bukan hantu yang kutemui di sekolah ‘kan?” tanyanya.

Tiba-tiba Cho teringat sosok yang menghantuinya sebelum ia mengalami kejadian yang membawanya ke tempat aneh ini. Saat gadis itu menatap Kai bersama amarah yang tertimbun di dalam hatinya, kedua pupil hitam yang berkilau kebiruan di mata Kai mengingatkannya pada makhluk halus bermata biru tersebut.

Kai meluruskan kedua kakinya. “Ingatanmu ternyata jauh lebih baik dari yang kukira.”

Cho menelan liurnya setelah ia menepuk kasar kedua pipi tirusnya. “Kau… hantu? Jadi sekarang ini─”

“EXO Planet,” Kai berucap sebelum gadis itu menyebut satu kata bodoh yang baginya tak pernah eksis di dunia. “Kau tidak sedang berada di surga atau di neraka, Cho Ikha.” Ucapnya lebih lanjut.

Kebingungan, Cho menyisir rambutnya tak sabaran─yang diartikan oleh Kai sebagai aksi frustasi dan depresi. “Ini tidak masuk akal. Seingatku, kulihat kau bergerak cepat bersama debu hitam yang mengelilingimu sebelum sebuah kendaraan menghantamku.”

“Aku hanya mencoba untuk menolongmu saat itu. Sayang sekali aku tak bisa menyentuh apa pun. Tubuhmu masih terbaring di bumi─setelah terjungkal hebat oleh benda beroda empat yang meluncur cepat ke arahmu,” jelas Kai sesingkat mungkin.

Alih-alih mendumal seperti yang dilakukannya beberapa menit lalu, Cho memilih untuk diam dan memahami apa yang disampaikan Kai padanya. Ia menyeret bokongnya dengan paksa hingga terdengar bunyi gesekan rerumputan, menyandarkan punggungnya pada bongkah kayu dan membuatnya sejajar dengan kaki panjang Kai.

“Tubuhmu telah rusak. Kulihat tengkorak dan salah satu tulang kakimu mengalami retakan. Lima dari dua belas rusukmu bergeser dan dua diantaranya patah─nyaris menusuk hati dan lambung.”

Cho meringis. Bahunya bergerak cepat merespon penjelasan Kai. Ia tak sanggup membayangkan terhadap apa yang terjadi pada tubuhnya.

“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” tanya Cho, nyaris menggumam.

“Karena aku di sana, menyaksikanmu tak berdaya seperti habis ditembak mati.” Kai menjawab seadanya tanpa menyelipkan sedikit ironi atau pun hiperbola.

Dua kelopak mata Cho mengerjap cepat.

Gadis itu mendongak.

Sambil menatap satelit di area pandangannya, ia tenggelam dalam dillema─antara menganggap cerita itu sebagai bualan atau kenyataan. Bulan dengan bentuk bulat penuh itu menyinari seisi planet dengan baik. Cho sama sekali tak mengalami kesulitan saat men-scan wajah Kai meski kegelapan malam membuat hutan yang mengelilinginya hanya tampak seperti sebuah bayangan gelap.

“Jadi,”

“Jadi kuambil nyawamu selama tabib-tabib bumi berhasil membuat tubuhmu kembali normal. Berdoalah detak jantungmu di sana masih berfungsi dengan baik. Karena ketika jantungmu tak mampu memompa udara dan alirah darah, kau pun akan menghilang dari planetku seketika.”

Napas kasar Cho yang mengalir dari lubang hidungnya. Bagaimana pun juga, sejak tadi ia masih menyangkal setiap penjelasan Kai meski sebagian dari otak kirinya berbisik mengiyakan.

Cho memicingkan mata bulat Asia yang ia peroleh dari gen ibunya. Satu titik terang di ujung penglihatannya membuat gadis itu tak berkedip. Seolah terhisap jauh ke titik tersebut, pikiran Cho mulai memvisualisasikan apa yang ditangkap oleh benaknya.

Di tengah kumpulan pohon-pohon tinggi, ia menemukan danau hijau pekat yang dikelilingi oleh bebatuan besar dan berlumut. Kemudian ia menembus rerantingan dan seperti terseret mesin waktu, ia kini melewati beberapa rumah penduduk yang sebagian diantaranya berada di dalam tanah kering dengan pintu besar yang menjadi akses masuk.

“Lagipula jika kau mati di tempat kejadian, Baekhyun akan kesulitan untuk menemukan generasi huglooms berikutnya.”

Suara Kai menghentikan visualisasi dalam pikiran Cho. Gadis itu menoleh sejenak lantas kembali terpaku pada titik terang tersebut.

“Siapa huglooms?”

Cho mendengar Kai berdecak.

“Kau,” jawabnya.

Cho menatap Kai seolah pria itu sedang bergurau.

“Ya. Kau. Huglooms.” Kai kembali meyakinkan.

Gadis itu menggeleng. Ia tak berucap karena saat ini visualisasi yang ditangkapnya berakhir dengan menampakkan sebuah gedung tinggi bercat putih.

“Kau ingin menipuku lagi, huh? Setelah bonsai aneh, tirai hidup, teleportasi yang kau tunjukkan padaku, klaim yang kau ajukan atas tempat ini sebagai planet EXO, lalu kau menyebutku huglooms?” oceh Cho.

Cho sama sekali tak menoleh pada Kai. Pria itu jelas merasa tak dihormati dan berdecak kesal. Melihat bahwa gadis disampingnya itu tak begitu tertarik untuk sekedar bicara, Kai mengikuti arah bola mata Cho tertuju lantas menggeleng pelan.

Ia sudah menduganya.

“Sejak tadi kau hanya menatap ke satu arah. Kau tak akan menemukan bumi di sana.” Dagu Kai menunjuk pada titik terang di ujung bukit.

Gadis itu menggeram tertahan oleh sepasang bibirnya yang terkatup rapat. “Tidak. Istana Princess Elsa di Universal Studio jauh lebih indah dari bangunan itu. Hanya saja, kurasa ada sepasang mata di sana yang memperhatikan kita saat ini.”

“Kau dapat melihatnya? Maksudku, istana di sana?” tanya Kai secepat angin lantas dijawab oleh anggukan dari Cho.

Pria itu lekas beranjak dan menarik Cho ke dalam pelukannya, meninggalkan guratan aneh yang jarang Cho tunjukkan di wajahnya.

“Apa yang kau lakukan?” Ia tak banyak memberikan reaksi penolakan saat Kai merapatkan tubuhnya. Setidaknya wangi segar yang cukup menyengat dari tubuh pria tinggi di hadapannya itu berhasil membuatnya tak berkutik.

“Seharusnya aku menyadari hal itu sejak tadi,” rutuk Kai.

Cho hampir memberinya jawaban sebelum ia sadar bahwa pria itu sedang menggerutu pada dirinya sendiri.

“Satu lagi yang harus kau ingat, Cho Ikha.” Kai meremas kedua bahu Cho tanpa melihat ekspresi gadis itu yang diartikan sebagai erangan singkat. “Jangan mengenakan pakaianku sembarangan atau akan kupaksa kau untuk melepasnya.”

“Aish! Kau─”

Kemudian keduanya menghilang tanpa kesempatan yang cukup bagi Cho untuk menyelesaikan gerutuannya.

-o-

CHO MUNDUR BEBERAPA LANGKAH SETELAH KAI MELUNCUR cepat di atas permukaan kerikil yang membentuk pola jalan setapak. Ia terbatuk-batuk. Rasa sesak itu kembali merenggut jantungnya. Ternyata menembus waktu bukanlah sesuatu hal yang menarik. Seperti itulah yang ia pelajari hari ini.

Sambil memijat pergelangan kakinya, Cho menengadah meneriaki Kai yang tak peduli dengan keeksisannya. Pria itu memasuki pintu besar yang berada di ujung jalan setapak. Padahal di balik punggungnya, wajah Cho mendadak pucat saat menyadari seekor anjing setinggi dadanya tengah terpekur di pojok halaman.

Enam pasang taring si anjing yang saling melengkung tajam di antara sisi-sisinya membuat Cho menelan liur dengan susah payah. Kulit hewan itu bersisik tajam seiring desahan napasnya yang memberat. Belum lagi deretan tulang tajam yang tersusun lurus di sepanjang tulang punggungnya.

Jangan tanyakan mengapa Cho mengetahui jumlah gigi si anjing besar. Hanya itu yang dapat ia lakukan karena Kai sama sekali tak membantunya.

“Aku tak peduli kau membawaku ke planet mana. Tapi bisakah pelankan sedikit langkah kakimu? Aku sama sekali tidak memakai alas kaki!”

Cho tertatih. Kaki telanjangnya tak mampu menapaki kerikil-kerikil di sepanjang halaman rumah besar yang menjadi tujuan Kai kali ini.

Tubuh Kai berputar, sejenak memperhatikan Cho yang membungkuk rendah tanpa alas kaki. “Pilihannya hanya dua. Ikuti aku atau akan kubiarkan Rooby13 menggigitmu,” ucap Kai datar.

Gigi Cho bergemeretak.

Kai seperti teroris-teroris dunia yang selalu memberinya pertanyaan jebakan yang hanya dilandasi oleh dua pilihan saja. Sambil menyumpahi Kai dalam hatinya, Cho mengerang-erang acap kali menapaki kerikil tersebut. Karena gelar gadis tomboi yang ia sandang di sekolah, Cho tak pernah diperlakukan tak layak oleh seniornya sekali pun. Kim Heechul mungkin iya. Namun Cho memberikan pengecualian untuk pria tampan pecinta Putri Elsa tersebut.

Suara gaduh di dalam rumah besar itu kemudian menggugah benak Cho.

Diam-diam ia memasuki ruangan setelah berhasil melewati tantangan batu-batu tajam. Terdapat beberapa bilik dinding yang menguasai pandangannya. Cho hanya berjalan mengikuti arah suara. Tanpa banyak kesulitan, gadis itu menemukan Kai berbincang dengan pria tinggi dengan kulit putihnya yang nampak bersinar di antara lampu penerang di dalam ruangan.

“Jangan katakan padaku bahwa kau kembali beradu mulut dengan Suho. Dia mencarimu sejak tadi.” Si pria tinggi itu bicara. Suaranya terdengar lembut dan menggoda. Seperti suara Orlanda Bloom saat aktor Hollywood itu berperan sebagai Legolas dalam The Lord of The Ring.

“Aku tidak ada urusan dengan pria aneh itu. Kau sendiri? Mengapa masih disini dan tak kembali ke markas?”

Cho mendapati Kai menggerakkan kepalanya ke arah lain.

“Kau pikir aku ingin kembali ke sana dan menjadi bahan ocehan Suho?”

Tepat sesuai dugaannya. Suara maskulin itu merupakan bukti bahwa terdapat kehadiran makhluk lain di antara mereka. Cho tak dapat menemukan sosok tersebut yang tersembunyi di balik sekat putih berbentuk belahan-belahan jajar genjang.

“Sudah kuduga kau bersamanya.”

Cho, yang sebelumnya tak pernah disangka akan tertangkap oleh lensa hitam di kedua mata si pria tinggi, seketika terpaku.

Pria itu sama sekali tak berpaling darinya meski Kai membalikkan tubuh dan ikut menjurus tajam. Cho melempar sebilah senyum kaku. Jari-jari kakinya saling beradu di atas permukaan keramik putih sementara sebagian tubuhnya terhalang dinding.

“Kau membiarkannya tanpa alas kaki?!”

Pria itu bertanya dengan sedikit histeris kemudian menghampiri Cho tanpa basa-basi. Rambutnya yang berkilau kecokelatan ikut terbang bersama langkahnya yang besar-besar. Cho dibuatnya kikuk karena pria itu melontarkan beberapa pertanyaan dalam detik yang sama. Bahkan Cho sempat tersanjung sebelum akhirnya delikan tajam Kai membuatnya berhenti mengagumi keramahan si pria.

“Kenapa kau bawa Sang Huglooms kemari?” Si pria menuntun gadis itu menuju ruangan di balik sekat putih.

Itu dia.

Di sana, pria lain dengan sepasang telinga fairy-nya sedang menganga tak percaya. Cho mencuri pandang kepada Kai tapi pria itu sama sekali tak menggubris. Ia malah disibukkan dengan pakaiannya yang nampak berat seperti dilapisi kulit buaya.

“Akhir-akhir ini aku tak bisa mempercayai Suho. Jika kau tak keberatan, aku ingin pelayanmu mengurus gadis cerewet ini selama beberapa hari,” pinta Kai.

Mulut Cho menyebut serapah kotor cukup kencang pada Kai. Beruntunglah tak ada satu pun yang memahami makna dari ucapannya.

Si pria tinggi berkulit putih itu tersenyum di hadapannya. “Tentu. Dengan senang hati,” ucapnya lembut.

“Hentikan, Chanyeol! Kau membuatnya ketakutan!” Sergahan Kai membuat pria bertelinga lebar itu menghentikan tatapannya. Namun setelah itu Chanyeol tetap kikuk dan sama sekali tak mengucapkan apa pun selain ‘oh’ dan ‘ah’.

“Temui aku di markas esok hari. Pemimpinmu itu benar-benar membuatku jengkel,” rutuk Kai sembari melempar aksesori bergerigi dari pergelangan tangannya ke sembarang tempat.

Seketika Cho menyergap lengan Kai. Ia tak perlu kesulitan melakukannya karena Kai masih berada di dalam jangkauannya. “Kau tidak berniat untuk meninggalkanku di tempat ini ‘kan?”

“Jika kau ingin tidur bersama tirai yang menurutmu seperti binatang hidup di ruanganku─”

“Setuju!” Buru-buru Cho memotong kalimat Kai. “Aku akan tinggal di rumah ini asal kau berjanji tak akan kabur dariku! Hanya kau yang dapat mengembalikanku ke bumi!” Imbuhnya.

“Kau tidak akan menetap di sini selamanya, Cho Ikha. Kai akan kembali jadi tenanglah.” Lagi-lagi si pria tinggi putih itu yang berbicara, menenangkan.

Cho melirik hati-hati pada Kai. Alisnya mengerut, membuat Kai tak dapat memahami makna yang sedang Cho sampaikan padanya.

“Aku bukan orang jahat,” ucap si pria seolah mengerti benar maksud Cho.

Senyum yang pria itu berikan padanya membuat Cho berubah tenang. Kegusaran di hatinya seketika lenyap dihujani oleh ketulusan dari senyum si pria yang seolah tak pernah padam seperti obor di wilayah industri kilang minyak.

“Aku akan kembali. Ada yang harus kuurus.”

Kai melepaskan cengkeraman Cho di lengannya. Pria itu menjentikkan jari seraya menghilang dan menyisakan debu tipis berwarna biru pekat.

Di hadapan gadis itu, si pria menunduk, melayangkan tanda hormat padanya disertai gerakan tangan di dada yang tak dimengerti Cho. Kemudian ia menunjuk ke arah tertentu, mempersilahkan si penyandang Huglooms itu untuk mengikutinya.

Sejenak Cho mencurigai pria itu. Ditambah lagi kehadiran Chanyeol membuatnya risih sekaligus takut. Chanyeol tak bersuara dan hanya memandangnya tanpa jeda. Cho bahkan mengira Chanyeol sedang kerasukan hantu sekolahnya.

Beruntunglah pria tinggi putih itu terlihat tampan dan mempesona.  Cho mengikuti instruksinya tanpa kecurigaan yang membuncah. Setidaknya pria itu sempat menyebutkan nama sebelum ia memutuskan untuk tinggal di rumah mewah tanpa tirai hidup dan benda-benda aneh lainnya.

“Namaku Sehun. Oh Sehun,” ucapnya disertai sepasang mata yang melengkung sempurna seperti kue bulan─saat bibirnya membentuk senyum merekah.

-o-

APA KALIAN SUDAH MENDENGAR DESAS-DESUS YANG BEREDAR di luar?” Kris menyesap minuman berwarna merah maroon pada cangkir berbentuk setengah lingkaran miliknya.

Ia dikelilingi kelima Castè Myrath. Kris duduk di pusat perhatian. Hanya meja besar saja yang menjadi penghalangnya dengan anggota lain.

“Perihal apa?” tanya Lay acuh─meski bagi Chen pria itu justru sedang berpura-pura peduli terhadap pertanyaan Kris.

“Kunjungan Kai ke bumi,” jawab pemimpin Castè Myrath dengan nada bas-nya yang menggema di keheningan.

Tao—yang hanya memusatkan diri pada kura-kura kecil bercangkang istana—angkat bicara. “Meski Kai memiliki kemampuan berteleportasi, kita semua paham betul jika Kai tak pernah suka bepergian ke tempat jauh. Apalagi ke bumi.”

“Berhentilah mendengarkan gosip-gosip murahan. Lebih baik kau tanyakan langsung pada Kai.” Chen ikut menimpali. Buku bacaan yang semula bertengger manis di pangkuannya dilemparkan ke arah rak. Seperti dikendalikan oleh sihir, buku itu seketika tersimpan rapih di antara buku lain.

“Lalu bagaimana dengan syarat terakhir, Kris? Apa kau tetap akan melakukannya?” tanya Xiumin. Tak seperti anggota lain, ia lebih memilih untuk fokus pada setiap pertemuan Castè yang selalu Kris adakan setiap minggu.

Kris mendengus kasar. “Menikah itu hanya sebuah simbol. Apa salahnya jika aku mencoba?”

“Sampai kapan kau akan bersikap berlebihan seperti ini? Pertandingan ini juga hanya sebuah permainan─sama seperti pernikahan bodoh itu. Kapan kau akan berhenti menyuruh kami untuk tidak bertegur-sapa dengan Castè Krypth?”

Ocehan Chen membuat Kris menatap tajam padanya. Kedua bahu pria dengan bibir Joker-nya itu bergerak naik-turun. Sungguh disesali saat Parleemos King menyuruh para anggota untuk mengikuti setiap instruksi pemimpin.

Ia masih belum memaafkan pemimpinnya saat pria itu hampir membakar Tao beberapa waktu lalu. Penyebabnya sepele, Kris menemukan Tao berbagi tawa dengan Baekhyun. Lihatlah, jangan salahkan pria termuda itu saat ia tak lagi memandang Kris.

Chen yakin. Saat ini anggota lain hanya dirundung rasa takut. Siapa yang ingin dibakar hidup-hidup oleh api sharon yang dimiliki Kris? Jawabannya tentu saja ‘tak ada’.

Dilihatnya jemari Kris menyentuh mulut nephencea di atas meja. Tanaman itu mengeluarkan sebatang rokok dari daun anggrek hitam. Ia mengeluarkan sejumput api dari ujung kelingking. Tak lama kemudian kepulan asap hitam saling berdayu-dayu muncul dari napas Kris.

“Kita gunakan rencana kedua. Waktu pertandingan semakin dekat,” ucap Kris disertai kepulan asap hitam dari mulutnya.

Paham dengan ucapan Kris, para castè yang ada di dalam ruangan seketika tertuju pada Luhan. Sedari tadi pria itu sibuk membaca perkamen-perkamen tua. Ia sama sekali tak ikut berargumen atau sekedar mengucap satu kata.

Luhan tersenyum simpul, menyadari bahwa semua perhatian castè terpusat padanya.

“Jangan gunakan aku sebagai kaki tanganmu. Bersikap sportif lebih baik ‘kan?” ucap Luhan, masih berkutat dengan perkamennya tanpa menoleh pada Kris.

Kris, bagaimana pun juga, kadang jengah dengan sikap Luhan yang seolah-olah membela Krypth dan tak pernah mendengarkan perintahnya. Meski Luhan telah membuktikan kesetiaannya pada Myrath, hal itu tetap tak mengurangi kecurigaan Kris. Tao dan Chen bahkan membela Luhan acap kali muncul pertengkaran kecil di antara keduanya.

“Ingatlah akan ketidakadilan yang selalu gugus kita terima selama ini,” ujar Kris.

“Alasan itu tidak cukup kuat untuk meyakinkanku, Kris. Aku hanya ingin kita semua bersikap dewasa dalam menanggapi pemilihan ini. Kau ingin menjadi penerus Parleemos? Lakukanlah dengan caramu sendiri.”

Kris memperhatikan gerak-gerik Luhan dari sudut matanya. Entah mengapa ucapan Luhan selalu berhasil mematahkan setiap pernyataannya. Jujur saja, ia tak mampu mengartikan senyum yang sejak tadi mengembang di bibir Luhan saat ini: apakah senyum itu adalah senyum tulus atau senyum hina yang sengaja ditujukan Luhan padanya.

-o-

WAJAH CHO TAK LAGI MENGUSUT SEJAK PAGI TADI IA terbangun dari tidur lelapnya. Harus ia akui, kebangsawanan Sehun telah berhasil membuatnya nyaman berada di dalam rumah besar yang hanya dihuni oleh beberapa pelayan eksklusifnya.

Gadis itu menoleh saat suara langkah seseorang tertangkap inderanya. Sehun muncul bersama dua pelayan lain. Dari cara pria itu memandang, Cho memahami bahwa si anak bangsawan itu cukup terpana oleh sosoknya.

Cho tak lagi mengenakan celana ketat Kai dan kaus sederhana yang baginya hanya selembar kain lusuh. Kali ini ia mengenakan gaun sebatas lutut yang menutupi kedua tangannya hingga pergelangan. Beberapa pelayan menata rambut dan sedikit merias wajahnya. Tak lupa, sepasang sandal dengan hak setinggi telunjuk membalut indah kaki telanjangnya.

Memang benar. Ada rasa ketertarikan tersendiri yang Sehun rasakan. Mungkin karena gadis itu bukan berasal dari planetnya─yang notabene memiliki keanehan yang luar biasa. Atau mungkin karena Cho adalah seorang huglooms─yang ia pelajari sebagai si penjaga kunci dengan pesona terpendam.

“Jadi,” Sehun mencoba untuk memulai pembicaraan.

Keduanya duduk di halaman rumah. Dikelilingi oleh rerumputan dan bunga-bunga, gazebo berbentuk segi enam yang meneduhi Cho terlihat seperti singgasana pengantin. Bagi Sehun, duduk bersama Cho ternyata jauh lebih mengasyikan ketimbang menemani Baekhyun ke pasar raya.

“Pria yang membawaku kemari─”

“Namanya Kai,” jawab Sehun.

Cho hanya mengangguk. Bibirnya bergerak membentuk huruf O tanpa suara.

Sejak tadi malam, gadis itu sama sekali tak berani untuk mengucapkan kata lain selain ‘terima kasih’ dan ‘maaf’. Sehun sangat menghargai setiap kata yang muncul dari bibir Cho saat ini. Gadis itu tak pernah tahu seberapa banyak kekaguman Sehun atas Huglooms itu sendiri.

Sehun melipat kedua tangan di atas meja, tepat di depan dadanya. “Kau bahkan mengerti bahasa kami dengan baik,” ucapnya. Kedua mata Sehun menatap lurus manik mata Cho.

Alis gadis itu mengerut. Setahunya, ia selalu mengucap bahasa buminya sejak tiba di planet ini. Cho paham betul dengan apa yang diucapkan Sehun dan Kai, dan ia dapat berkomunikasi dengan baik sejauh ini.

“Kau masih tak mengerti juga?” Sehun kembali bertanya lalu Cho menggelengkan kepala.

Sehun terkekeh pelan. Jemarinya menyuruh gadis itu mendekat. Cho menurut kemudian Sehun meletakkan telapak tangannya pada sepasang telinga mungil Cho. Gadis itu dapat merasakan suara di sekelilingnya meredam. Ia tak dapat mendengar selain desing angin dari telapak tangan Sehun.

Sehun memejamkan mata sejenak kemudian menatap lurus. “I sum kats’i mundial,” kemudian melepaskan kedua tangannya.

“Kau mendengar apa yang kukatakan?”

Cho mengeryitkan dahi. Wajahnya sedang menerka-nerka. “Seperti bisikan mantra sihir,” ucapnya lirih.

Tawa Sehun menggema di sela-sela udara pagi. “Itu bahasa kami,” tandasnya.

“Jika kau mengucapkan bahasa planetmu, mengapa aku bisa mengerti apa yang kau katakan?” tanya Cho, masih tidak paham.

“Karena kau seorang huglooms,” jawab Sehun.

Cho menjauhkan diri dari Sehun. Tubuhnya memanas saat ia menyadari bahwa pria itu mengerling manis padanya. Ia meraih cangkir kecil yang disediakan pelayan Sehun untuknya. Cairan hijau pekat itu menyesak ke dalam tenggorokan Cho. Jika Jonghyun yang ada di hadapannya, ia yakin teriakan hebat akibat rasa aneh yang meluncur di tenggorokannya tersebut akan membuat Rooby menggigitnya seketika.

“Apa itu huglooms? Kai sempat menyebut kata itu saat ia membawaku kemari,” tanya Cho, sedikit mendesak.

Sehun meneguk minumannya sebelum melanjutkan obrolan. Cho hanya menatap miris cairan hijau pekat yang jika diaduk perlahan berubah kental seperti lumpur tersebut.

“Huglooms itu─”

“ITU DIA!!”

Teriakan seseorang di balik punggung Cho membuat gadis itu terperanjat. Seorang pria yang hampir menyerupai tinggi badannya, berlari dengan kekuatan penuh untuk mencapai kursi kosong disamping Sehun.

Ia menunduk, memberi penghormatan yang sama seperti yang dilakukan Sehun sebelumnya kemudian tersenyum lebar seindah yang ia mampu.

“Hai, aku Baekhyun. Chanyeol memberitahuku bahwa kau bersama Sehun kemarin malam.” Pria itu menjulurkan tangan yang lantas ditepis kasar oleh Sehun.

“Jangan bersentuhan dengannya. Dia itu razour14,” sergah Sehun.

Senyum aneh Cho berubah menjadi kekeh tawa setelah Sehun menjelaskan binatang buas bernama razour tersebut. Baekhyun mengikuti alunan tawa Cho sebelum akhirnya ia memberikan pukulan kecil di sudut perut Sehun.

Baekhyun mengeret kursinya perlahan. Tentu saja agar bisa lebih dekat dengan Cho. “Butuh bantuanku untuk menjelaskan?” tanya Baekhyun.

Belum sempat Sehun mengucap satu kata, pria itu mengangkat tangan menyuruh Sehun untuk diam. Cho menahan tawa. Jelas sekali Sehun tak kuasa menahan hasratnya untuk melayangkan pukulan balasan di wajah Baekhyun.

“Aku akan menceritakan garis besarnya saja,” Baekhyun berdeham. “Ada sebuah cerita yang menyebutkan perihal pedang aftheurcaly yang dijaga oleh Prajurit Samudera Maritimo. Pedang itu dilansir memiliki kekuatan yang dahsyat. Jika pedang itu dipegang oleh seseorang, maka tak akan ada yang mampu mengalahkannya. Sejauh ini apa kau paham?”

Cho mengangguk lemah. Ia menatap Sehun dan pria itu ikut mengangguk pelan─pertanda bahwa gadis itu harus memaklumi cara bicara Baekhyun yang hampir menyaingi kecepatan sinar matahari.

“Sayangnya, hingga saat ini tak ada yang mengetahui dimana letak pedang tersebut. Desas-desus menyebutkan bahwa pedang itu ada di planet ketujuh. Satu-satunya makhluk yang mengetahui letak afftheurcaly hanyalah huglooms,” lanjutnya.

“Dan kalian mengira bahwa aku ini adalah seorang huglooms? Begitu?” tanya Cho, sedikit retoris.

Gadis itu mengeluarkan tawanya saat kedua pria di hadapannya mengangguk secara bersamaan. “Pernyataan kalian begitu konyol! Maksudku, bagaimana mungkin aku bisa berubah menjadi seorang huglooms?”

“Baekhyun memiliki kekuatan Cahaya Corion yang mampu menuntun siapa pun menemukan tujuannya. Ketika ia mencoba mencari huglooms, tak disangka corion menuju ke arah tempatmu bernaung,” ungkap Sehun.

Cho terdiam. Penjelasan Sehun membuatnya merenung cukup lama. “Sejujurnya aku masih tak percaya bahwa Kai telah membawaku kemari. Tubuh ini…”

Gadis itu menatap sepasang telapak tangannya yang tak lagi memerah seperti yang ia miliki sebelumnya. Kulitnya pucat seperti mayat. Ia tak pernah menyukai orang-orang berkulit putih selama hidupnya. Kecuali Kim Heechul─lagi.

“Ada beberapa alasan yang menguatkan kami bahwa kau memang benar seorang huglooms,” Sehun memperhatikan Cho Ikha yang sedari tadi menggerakkan kedua belas jemarinya.

“Pertama, kau bisa melihat Kai saat ia berkunjung ke duniamu. Manusia lain belum tentu dapat melihat Kai dengan kemampuan yang sama.”

Cho menggumam. Sejauh ini ia tak menyangkal pernyataan Sehun.

“Kedua, rohmu tidak memudar saat Kai membawanya berteleportasi.”

Cho mendongak. Ia kemudian mendesah berat. Sehun mencondongkan tubuhnya untuk mendekat. Gadis itu sempat menghindarinya namun Baekhyun tak kalah menakutkan. Pria itu menatapnya seolah dirinya santapan razour. Sungguh menyeramkan.

“Terakhir, kau satu-satunya makhluk bumi yang memahami bahasa kami.” Sehun mengakhiri kalimatnya dengan tegas.

Bola mata Cho berputar. Kedua tangannya bergerak di depan dada, menyuruh keduanya menjauh dan tetap menjaga jarak pribadi dengannya.

“Itu tidak membuktikan apapun, Sehun-ssi.” sanggah Cho.

“Huglooms memiliki kekuatan yang hanya diketahui oleh Penjaga Samudera Maritimo. Selama kau disini, aku akan membantu menemukan keahlianmu.” Baekhyun menawarinya bantuan.

Cho menjentikkan jari. “Jika aku adalah huglooms, setidaknya aku dapat mengingat masa laluku atau apa pun itu yang dapat mengingatkanku pada pedang itu.” ocehnya. Ia teringat akan beberapa film fantasi yang ia tonton di televisi. Setidaknya tontonan itu sedikit membantunya untuk berpikir.

“Dari buku yang kubaca, huglooms sengaja menutup pikirannya agar reinkarnasinya tak mengetahui letak pedang tersebut. Ia hanya menyisakan satu kekuatan yang mampu membawanya pada pedang itu.” Sehun kembali menjelaskan dengan gamblang.

Cho memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut. Baginya, legenda atau fairy tale yang diceritakan para orang-tua hanyalah akal-akalan mereka saja untuk mengelabui anak kecil. Ternyata ia salah. Justru saat ini ia sedang berada di dalam dunia tersebut.

“Baiklah, aku tak peduli kalian akan menganggapku ini sebagai apa. Aku akan membantu kalian menemukan pedang itu—meski aku sama sekali tak tahu bagaimana caranya. Aku hanya meminta kalian untuk membawaku kembali ke bumi. Itu saja,” ujar Cho memelas.

Pasrah pada akhirnya.

“Yang bisa membawamu kembali hanya Kai. Jadi bersikap manis lah padanya,” ucap Baekhyun.

Serasa tertimbun batu pegunungan sebesar gajah Thailand, kepala Cho kembali berdenyut saat Baekhyun menuturkan pria berhati dingin itulah yang akan membawanya pulang. Ia cukup lelah menghabiskan tenaganya untuk memaki pria itu. Apa lagi ini? Mengemis agar ia membawanya pulang?

“Mengapa kalian begitu menginginkan pedang itu? Pasti ada sebuah kepentingan disini,” Cho merubah arah pembicaraan.

Baekhyun menopang dagunya. “Kau akan mengetahuinya nanti,” jawabnya, disertai sebuah kerlingan yang membuat Cho harus menelan liurnya.

Bukan karena terpesona, melainkan karena takut Baekhyun akan menikamnya.

“Kalau boleh tahu, apa yang kau katakan ketika kedua telingaku ditutup?” Cho beralih pada Sehun.

Bicara pada Sehun jauh lebih baik. Sungguh. Baekhyun itu harus digaris-bawahi.

“Oh, kalimat itu? Artinya ‘aku adalah pria tampan sejagad raya’,” jelas Sehun penuh percaya diri.

-o-

02.00 AM.

Cho tak tahu pasti waktu menunjukkan pada angka mana. Ia hanya sekedar menerka-nerka karena di sana ia sama sekali tak menemukan jam atau pun pasir dalam botol yang jatuh perlahan.

Setelah Sehun mengantarnya ke markas Krypth, Cho tak mampu memejamkan mata. Markas ini seperti tak berpenghuni. Meski saat ini ia berada di ruangan terbesar, ia masih merasa takut dan kaku. Semua keasingan di sekitarnya membuat Cho takut untuk menatap dunia di luar markas. Razour, sedari tadi ia masih berpikir bentuk rupa binatang buas itu.

Cho menyingkap tirai yang melapisi jendela. Bersyukurlah Kai telah mengganti tirai hidup itu menjadi beludru tipis berwarna putih. Sejenak ia mengingat kehidupannya di bumi. Ia merindukan hal-hal yang ada di sana. Di sini, ia tak menemukan minuman kaleng. Tak ada televisi dan juga ponsel. Bagaimana mungkin ia bisa bertahan di planet ini dengan segala perbedaan yang ada?

Di sini, ia merasa hidup di zaman purbakala.

“Aku tahu kau belum tidur.”

Cho terlonjak mendengar sahutan seseorang di balik punggungnya. “Jangan mengagetkanku seperti itu, Kai!” dumal Cho.

Sesungguhnya gadis itu cukup lega karena Kai lah yang muncul di sana.

Kai menyandarkan tubuh pada ambang pintu. “Saat aku mengamatimu di bumi, kau tidak pernah sekaget ini setiap kali menghadapi makhluk-makhluk halus,” tuturnya.

“Aku belum terbiasa dengan planet ini. Kau lihat? Terlalu banyak hal-hal aneh yang kutemui,” ungkap Cho. Dagunya bergerak ke arah beberapa benda yang membuatnya tak mau berlama-lama di ruangan ini.

“Tunggu. Memang sejak kapan kau mengamatiku?” tanya Cho begitu menyadari pengakuan Kai.

Pria itu mengangkat bahu. “Kurang lebih satu minggu. Selama itu, aku hanya mengamatimu dari kejauhan. Karena aku tahu, huglooms dapat melihat keberadaanku.”

Cho hanya berdeham. Ia sudah bosan mendengar hal-hal yang tidak masuk akal seharian ini. Gadis itu berjalan ke arah tempat tidur hingga suara sesuatu menghentikan langkahnya.

Kepala Kai menunduk menahan tawa. Dilihatnya Cho tengah mengusap perutnya beberapa kali. “Sebaiknya kau makan. Hidangan sudah tersedia.”

Cho menyelipkan beberapa helai rambutnya di balik telinga. “Tak biasanya kau perhatian padaku,” tanyanya berjalan mendekati Kai.

“Baekhyun membawakanmu makanan.”

Bola mata Cho berputar. Ia lupa bahwa Kai memang pria dingin yang tidak punya perasaan.

“Turunlah. Kebetulan aku belum makan. Ada satu menu yang ingin kusantap.”

Bibir Cho mengerucut. Tatapan sebalnya kembali terpancar pada Kai. “Jadi, kau menghampiriku karena ingin menyantap makanan? Kau ini—ya!

-o-

APA INI??!” CHO MELOLONG SEPERTI SERIGALA SAAT menatap hidangan yang tersaji di atas meja.

“Tentu saja makanan!” sungut Kai kemudian menyeret bangku di sudut kanan.

“Ini? Kau bilang ini makanan?” Telunjuk Cho mengarah pada piring terdekat dengan jarak pandangnya.

Bagaimana mungkin napsu makan Cho memuncak jika melihatnya saja dapat membuatnya mual seketika?

Pada mangkuk alumunium oval, Cho melihat lintah sebesar ibu jari mengapung di atas cairan sup bening dengan bintik-bintik telur katak di dasar mangkuk. Di sebelahnya, piring bergerigi dengan hiasan lily ungu menyajikan beberapa lidah binatang bersisik, digoreng kering lalu disiram oleh semacam saus tar-tar pekat.

Cho lebih enggan menyentuh ikan besar di tengah hidangan lain. Taring tajam membuat ikan tersebut seperti dragonfish beracun yang dihidangkan bersama daun-daun mint berbulu halus. Mungkin mereka menganggap daun itu seperti selada. Bagi Cho, daun itu lebih mirip sekumpulan ulat bulu yang mati akibat disemprot anti-hama.

“Lebih baik aku tidak makan seumur hidup daripada harus memakan hidangan ini,” desis Cho. Satu tangannya menutup mulut, menahan diri untuk tidak memuntahkan isi perutnya di sana.

Kai menatap Cho. Sepertinya ia harus membuat sebuah memo bahwa gadis itu adalah makhluk bumi. “Memang biasanya apa yang kau makan?” tanya Kai.

“Nasi! Kkadugi, chadolbakgi, samgyeopsal, kkomjango, jangjorim, gokuma, gunmandu─”

“Cukup! Kau tidak perlu menyebut semuanya. Tunggu beberapa menit. Aku akan segera kembali.”

Belum sempat Cho mengucapkan terima kasih, Kai telah menghilang berteleportasi.

Well, ternyata pria dingin itu tidak buruk juga. Menawarinya makanan dan mau menyeberang ke bumi hanya demi semangkuk nasi?

Cho memutuskan untuk menunggu kedatangan Kai di halaman depan markas. Itu lebih baik jika ia harus berhadapan dengan makanan menjijikan di atas meja. Saat ia baru saja membuka pintu markas setinggi tiga meter tersebut, sekelompok pria—lengkap dengan perisai serta tombaknya—membuat barisan di depan markas.

Seorang pria berjubah merah terang yang ada di tengah barisan melangkah mendekati Cho. Ia tak berucap namun berkata melalui matanya. Pria berambut hitam pekat itu meraih salah satu lengan Cho kemudian mengecup punggung tangannya dengan lembut. Seiring hal tersebut, cahaya putih terang membawa mereka menghilang dan berlabuh ke suatu tempat.

…bersambung…

Thank For Your Visit Huglooms

——————————————————–

13Rooby: anjing peliharaan Sehun.

14Razour: buaya ala EXO planet. Mulutnya dua kali lipat lebih besar dari mulut kuda nil. Razour selalu bersikap tenang atau pura-pura mati sebelum menyerang mangsanya. Kulit berlendir dengan tiga jari besar di setiap kakinya. Sepasang matanya hampir menonjol keluar.

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

63 thoughts on “EXO PLANET “Chapter 02” (REPACKAGED)”

  1. aduh, eonni cantik yang kembarannya yuri snsd *die
    akhirny aku bsa baca ff ini jg
    pdhl udh lma d kasih pw nya tpi, bru sempat buka sekarang -,-

    aku pkir exo planet pake bhasa indonesia
    hehehe

    oh,ya
    namja random itu siapa ya? pnasaran akut ni

    1. Hahaha haseeek dipanggil kembarannya yuri snsd~~~ hahahahaha
      *sujud sukur penuh nikmat*
      hihihi gapapa ko santai aja. Eh? Nampa random? Coba dibaca lanjut aja sampe part-part selanjutnya, tar ketauan ko. Makasih yaa udah komen 😀

  2. seru ih baca ff ini kak, bikin ga berkutik, keren bangeeeeeett :”) udah gitu tiap bagian terakhirnya selalu bikin penasaran, siapa td yg dateng nemuin Cho Ikha? siapa yg ngawasin Cho sama Kai waktu di hutan tadi??
    kak, kakak klo nulis rapi ya, ga ada typo dr awal aku baca series ini, pasti kakak jeli banget ya waktu nulis? hehe

    dan di bagian ini: ““Oh, kalimat itu? Artinya ‘aku adalah pria tampan sejagad raya’,” jelas Sehun penuh percaya diri.” aku cuma bisa bilang IYA SEHUUUUUNN IYA!! BENER! knp dia memesona banget sih kak di sini?? makin suka deh :3

    1. Ini edisi repackaged sayang. Jadi aku rechecked lagi makanya bersih dari typo hahaha *hush jangan bilang-bilang Kai ya nanti aku ditepok pantatnya sama dia*
      Hmm ketahuan deh. Kamu suka si ganteng Sehun yaaaaaaa

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s