ACCIDENT (Chapter 06)

Tanpa sadar, Key menggigit bibir bawahnya agak kencang ketika Ikha mengatakan bahwa dirinya agak mengingat siapa yang telah ‘menjebak’-nya hingga kehamilan ini bisa terjadi. Peluh dari pelipis Key menetes meski di ruangan tersebut sudah terpasang AC.

“Dia—“

“Chagama!” Key menghentikan kalimat Ikha seketika itu juga. Ia belum siap mendengarnya.

ACCIDENT

Alis Ikha bertautan. Kepalanya sedikit dimiringkan ke kanan. “Wae?”

A-a-ani. Punggungku gatal,” seloroh Key seraya menggaruk punggungnya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.

Ikha hanya tersenyum tipis sambil menggeleng pelan. “Well, sebenarnya aku tidak begitu mengingat bagaimana rupa si namja. Yang jelas namja itu menggunakan hoodie, tindikan di telinga sebelah kanannya dan mengenakan jeans belel warna abu-abu,”

Ada sedikit kelegaan dari wajah Key ketika Ikha mengatakan dirinya tidak begitu mengingat wajah si pelaku.

“Wajahnya? Kau yakin tidak mengingatnya?” tanya Key, meyakinkan.

Lagi-lagi Ikha menggeleng. “Molla,”

“Baiklah. Aku tidak ingin membahas itu dulu. Bisakah kita mengganti topik pembicaraan?” pinta Key, mengalihkan pembicaraan.

Ikha menggedikan bahu sambil mencibir. Sepertinya ia tidak curiga sama sekali. “Geurae,” ucapnya.

“Kalau boleh tahu, siapa yeoja yang sedang kau sukai saat ini?”

“Kau sendiri?”

Ikha menyesap minumannya terlebih dahulu. “Haruskah kukatakan berulang kali—bahwa aku begitu mengidolakan Eunhyuk?”

“Aku takut kau akan menyebar gossip,” ledek Key.

Bola mata Ikha berputar. “Kalau aku seorang penggossip, aku sudah menyebarkan fakta kehamilanku ini ke semua orang,”

“Aku akan membawakanmu tanda tangan Eunhyuk Hyung sepulang dari New York,” Key lagi-lagi mengalihkan pembicaraan.

“Ya!” tukas Ikha, melempar bantal sofa ke arah Key. Maksudnya mengajak Key bicara itu adalah untuk mengurangi kecanggungan mereka. Mereka memang terlihat dekat tapi terselip rasa kaku dan enggan dari diri Ikha dalam beberapa hal. Wajar bukan jika ia berusaha mengenal Key lebih dekat? Setidaknya untuk menjadikan Key sebagai salah satu temannya.

***

Jemari Ikha sedari tadi bergerak sangat cepat menekan tombol-tombol keyboard komputer portabel-nya. Perhatiannya sama sekali tak teralihkan dari layar meski Taerin berusaha untuk mengganggunya.

“Kha-ya,”

“Hmm,”

“Kau nampak tidak sehat,” Taerin mengusap pipi kanan Ikha perlahan.

Ya. Sudah beberapa hari ini Ikha nampak kurang sehat. Wajah yeoja itu biasanya langsung merona jika terkena sinar matahari. Tapi ini lain. Sangat pucat. Belum lagi warna bibirnya yang ikut berubah juga.

“Aku baik-baik saja,” jawab Ikha seadanya.

“Apa kau sudah periksa ke dokter?”

“Aku sudah biasa begini, Taerin-ah. Obat generik bisa menyembuhkanku,”

Ani. Maksudku—“ Taerin menunjuk ke arah perut Ikha yang bentuknya masih terlihat normal.

Ikha tersenyum seraya mengelus perutnya perlahan. “Ia akan baik-baik saja,” jawabnya, mencoba menenangkan Taerin.

“Kapan terakhir kali kau memeriksa kandunganmu?” tanya Taerin sembari duduk disamping Ikha dan mulai membuka buku yang baru saja dipinjamnya dari perpustakaan.

Eobseo (tidak pernah),”

“MWO?”

Buku yang semula hendak dibaca Taerin kini sudah menutup kembali. Ia mengarahkan pandangan pada Ikha. “Bagaimanapun juga kandunganmu itu berisi sebuah nyawa. Boleh saja kau tidak mempedulikan kesehatanmu tapi tidak dengan bayi itu. Bukankah kau sendiri sudah berniat untuk mempertahankan bayi itu untuk mengetes DNA-nya saat lahir nanti?” ocehnya.

“Aku tahu,” jawab Ikha santai. Ia masih berkutat dengan laptopnya.

“Aku akan menemanimu ke dokter kandungan setelah bimbingan nanti,” paksa Taerin.

“Untuk apa? Aku hanya butuh vitamin saja,”

***

Pintu apartemen mini yang disewa oleh Ikha sengaja ia banting cukup keras. Hari ini terasa begitu melelahkan. Selain karena memang ia merasa kondisi tubuhnya mulai menurun, Taerin juga berhasil memaksanya pergi ke dokter kandungan. Walhasil yeoja itu membawa pulang satu kantong penuh berisi obat-obatan dan vitamin.

Tas dan segala tek-tek bengek yang dibawa Ikha pun diletakan sembarangan. Ia sudah tidak punya cukup tenaga lagi untuk sekedar membereskan rumah. Ia jadi mudah lelah akhir-akhir ini. Mungkin karena ia terlalu banyak berfikir dan pola makan yang tidak teratur.

Baru saja Ikha merebahkan tubuh di atas sofa, intercom apartemennya berbunyi nyaring, menandakan bahwa ada pengunjung rumah. Dengan gontai, ia berjalan menuju pintu tanpa memperhatikan siapa yang berkunjung kali ini.

Tepat ketika ia membuka pintu apartemen, seorang namja berdiri kokoh di depannya. Tak lupa, masker, kacamata dan topi fedora menutupi hampir seluruh kepalanya. Ikha membulatkan mata, mencoba tidak terlihat lelah. Bukan karena Key datang menjenguknya, tapi karena empat namja lain yang berdiri di belakang Key, mengekorinya.

“Aku mengajak mereka datang kemari sekaligus untuk memperkenalkanmu dengan mereka,” ucap Key seolah mengerti apa yang ada di benak Ikha.

Yeoja itu sempat mencerna kata-kata Key sejenak lalu mengangguk. “Masuklah,” suruhnya.

Mian jika kami tidak memberitahumu terlebih dahulu. Apa kedatangan kami mengganggumu?” tanya Jonghyun yang masuk lebih dulu di antara mereka.

Well, sedikit. Tapi tak apa,” jawab Ikha seadanya.

“Aksenmu terdengar aneh,” Jonghyun melepas jaket loreng-loreng harimaunya kemudian membanting tubuhnya sendiri ke atas sofa. Key sempat mengaduh tak karuan karena Jonghyun bertingkah seenaknya saja di rumah orang.

“Aku bukan warga Korea asli,” Ikha hanya tersenyum tipis. “Ingin kubuatkan sesuatu?” tawarnya pada yang lain.

“Tentu. Jika kau tidak keberatan,” Lagi-lagi Jonghyun yang menjawab pertanyaan Ikha. Onew, Minho dan Taemin lebih memilih untuk diam dan bertingkah senormal mungkin. Meski sebenarnya Ikha agak canggung dengan mereka, ia mencoba berbaur sebisanya.

“Mian jika tempat ini tidak sesuai harapan kalian,” katanya seraya menendang kaus kaki bekas tadi siang ia pakai yang tergeletak sembarangan dekat sofa.

“Jadi… Noona tinggal disini sendirian?” Giliran Taemin yang angkat bicara. Matanya bergerak menelusuri setiap sudut ruangan.

“Seperti itulah,” jawab Ikha di tengah kegiatannya membereskan beberapa barang yang menurutnya merusak pemandangan. Ia juga menyembunyikan vitamin dan obat-obatan di balik tas. Jangan sampai mereka tahu akan hal ini.

Minho merileks-kan diri pada sofa. Ia mulai mencoba bersikap santai. “Dimana tempat tinggal kedua orangtuamu?”

Ikha meraih botol bekas di atas meja makan lalu menaruhnya di bak cuci piring. “Apgujung,” ucapnya tanpa sedikitpun menoleh pada Minho.

“Lokasinya tidak jauh dari sini. Agak aneh untuk ukuran yeoja sepertimu tinggal sendirian di apartemen ini,” tutur Minho.

“Aku hanya harus membiasakan hidup mandiri. Sementara kubuatkan sesuatu, kalian bisa merileks-kan diri. Asal kalian tidak menyentuh dokumenku di sebelah sana,” Ikha menunjuk buku-buku serta kertas yang bertebaran tak jauh dari mereka duduk. Taemin dan Minho mengangguk.

“Biar kubantu,” Key menawarkan bantuan saat Ikha mulai membuka isi pendingin dan mengeluarkan beberapa bahan makanan.

Sementara Key dan Ikha sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk mereka, Jonghyun serta Taemin berjalan menelusuri isi apartemen Ikha. Mereka sempat takjub melihat koleksi Ikha yang ada di ruang sebelah—seluruh album Super Junior dan beberapa photocard serta poster Eunhyuk.

“Bukankah agak aneh jika kita datang ke tempat seorang yeoja yang dicurigai menjebak Key?” tanya Onew sambil memperhatikan gerak-gerik Jonghyun dan Taemin. Kakinya menyilang sempurna sedangkan kedua tangannya tak luput dari ponselnya. Sedari tadi ia sibuk menekan touchscreen ponsel.

“Tapi sepertinya Jonghyun Hyung dan Taemin menikmatinya,” ujar Minho. Ia sempat melirik ke arah dapur. Key dan Ikha nampak begitu akrab.

“Jika Key tidak mengancam akan memberitahu manager perihal hubunganku dengan teman SMA-ku, aku lebih memilih untuk tidur seharian ketimbang berkunjung kemari.” Aku Onew. Sejak awal ia memang tidak tertarik untuk datang kemari. Jujur saja, ia masih belum bisa menerima kenyataan perihal Key dan Ikha.

Tiba-tiba tangan Minho merogoh sesuatu di bawah rak TV. Ia menemukan seperangkat Play Stations. “Tapi memang tempat ini tidak terlalu membosankan,” ucapnya sembari tertawa sumringah.

Namja bertubuh atletis itu berteriak pada Ikha agar mengizinkannya bermain PS. Minho pun langsung bermain games ketika Ikha membolehkannya menyentuh benda tersebut. Mendengar Minho meneriaki kata Playstations, Taemin dan Jonghyun pun menghampiri Minho. Kembali bergabung bersama Onew.

“Pasti kalian sedang membicarakan ketampananku. Iya ‘kan?” tanya Jonghyun dan langsung mendapat cibiran dari Onew dan Minho.

Jonghyun menyikut bahu Onew hingga namja itu menoleh. “Jangan kaku seperti itu, Hyung. Santai saja,” ucapnya. Ia melihat raut wajah Onew yang nampak tegang.

Onew mendelik. “Bagaimana aku bisa santai. Yeoja itu…”

“Jangan men-judge orang dari luarnya saja. Lagipula tempat ini tidak buruk juga. Aku bosan pergi ke tempat ramai. Setidaknya aku bisa menenangkan diri disini,” elak Jonghyun.

Well, Onew memang tidak mengetahui fakta sebenarnya di balik kisah Key dan Ikha. Yang ia tahu, Ikha berusaha menjebak Key. Itulah yang diyakininya selama ini setelah mendengar penjelasan dari Jin Hyung. Wajar jika ia seolah merasa jijik bertemu dengan Ikha.

Sementara itu…

“Apa itu?” tunjuk Key pada bungkusan yang dikeluarkan Ikha dari pendingin.

“Lumpia dan Pastel,”

Key mengeryitkan dahi. Menekan-nekan makanan setengah jadi tersebut menggunakan ujung telunjuknya.

“Cemilan khas Indonesia,” jelas Ikha, menghilangkan keraguan di benak Key.

Namja itu memagutkan dagu. “Aku pernah melihat makanan ini ketika kami berkunjung kesana tahun lalu tapi tidak pernah mencobanya,”

“Tolong buatkan slush untuk mereka sementara kubuatkan green toppoki dan menggoreng cemilan ini,” suruh Ikha pada Key yang masih saja menekan-nekan pastel yang belum digoreng tersebut.

Green toppoki? Bagaimana bisa?” Key menghampiri Ikha yang sibuk dengan kompor listriknya.

“Resep keluarga. Rasanya tidak kalah enak dengan toppoki biasa,” ucapnya sembari memberi sebuah senyum simpul.

Key kembali mengeryitkan dahi ketika memperhatikan wajah Ikha. Ada sesuatu yang berbeda dengan yeoja yang telah dikenalnya dua bulan terakhir ini. “Hei, kau baik-baik saja?” tanyanya.

“Tentu. Ada apa memangnya?”

“Kau terlihat semakin pucat,” Terselip nada khawatir dari suara Key. Matanya tak lepas dari wajah Ikha yang lebih mirip orang sakit.

Yeoja itu melirik pada Key sekilas lalu berkutat lagi dengan spatulanya. “Aku baik-baik saja. See? Aku masih bisa melakukan aktivitas seperti biasa,” elaknya sebisa mungkin.

Key menggedikan bahu. Agak sulit memang jika beradu argumen dengan Ikha. Yeoja itu sedikit keras kepala.

“Sepertinya Onew dan Minho tidak begitu bersemangat hari ini,” ucap Ikha ditengah kegiatan membuat green toppoki.

Key memperhatikan Onew yang masih asik dengan I-Phone nya dari dapur. Hyung – nya memang seperti tidak begitu tertarik datang kemari. Entah karena alasan apa. “Mereka terlalu lelah,” jawabnya, berbohong.

“Ah—aku lupa membawa tanda tangan Eunhyuk Hyung!!” Key menepuk jidatnya sendiri. Ia lupa akan janjinya beberapa hari lalu pada Ikha.

Yeoja itu hanya tersenyum tipis. “Tak apa. Bisa lain kali. Sebaiknya kau duduk dan bergabung bersama mereka,” suruhnya lalu melepas Tokebi dari tangan Key. Sedari tadi namja itu belum juga menyalakan mesin itu untuk membuat slush.

Key menyingkirkan tangan Ikha yang berniat merebut mesin penggiling tersebut darinya. “Sekedar membantu tidak apa ‘kan?” tolaknya.

“Ikha-ssi,” sahut Jonghyun yang datang menghampiri mereka dan memutuskan untuk bergabung dengan Ikha serta Key. Yeoja itu hanya berdeham pelan.

Mian, kita belum saling memperkenalkan diri. Jonghyun imnida. Key sudah menceritakan semua tentangmu padaku,” tutur Jjong tanpa jeda sedikitpun.

“Tidak perlu memperkenalkan diri, Jonghyun-ssi. Siapa yang tak kenal kalian semua? Semoga saja Key tidak membicarakan sisi negatifku,” ucap Ikha terkekeh, tak lupa ia berpura-pura mendelik sinis pada Key dan disambut cibiran dari namja yang lebih muda satu tahun darinya itu.

“Kudengar kita seumuran,” ujar Jjong lagi sambil memasukkan pastel panas yang baru saja digoreng Ikha. Namja bertubuh kekar itu sempat mengaduh karena mulutnya serasa terbakar.

Ikha kembali terkekeh melihat tingkah Jonghyun. “Ne. Banggapta chingu-ya,”

“Boleh aku ikut bergabung?” pinta Taemin. Ia merasa bosan bersama Minho. Hyung-nya itu tidak mau mengalah sedikitpun dalam hal apapun—termasuk ketika mereka bermain Starcraft.

“Bagus. Sebaiknya kau bantu Noona mengambil beberapa gelas dan piring kecil,” Jjong mendorong bahu Taemin, menyuruhnya melakukan apa yang diperintahkannya barusan.

“Sepertinya Noona itu salah satu fans Super Junior ya?” tanya Taemin sembari mengeluarkan beberapa piring kecil dari kitchen-set.

“Dia itu Jewels,” imbuh Key.

“Eunhyuk Hyung?” ucap Taemin tak percaya lalu disambut oleh anggukan kecil dari Ikha.

“Ikha-ssi. Kau baik-baik saja?” selidik Jonghyun. Ia memang sedang duduk pada salah satu kursi meja makan yang menyatu dengan dapur, namun mata tegasnya mengarah pada Ikha, membuat yeoja itu bergidik ngeri.

“Ada yang salah dengan wajahku?” elaknya untuk kesekian kali.

See? Aku sudah memperingatimu barusan. Apa kau tidak sadar juga kalau wajahmu seperti vampire hidup?” sungut Key, meyakinkan Ikha bahwa memang apa yang diucapkannya itu benar adanya.

“Ayolah. Aku sangat sehat. Jangan berlebihan seperti itu,” ujar Ikha, tetap bersikeras.

“Mungkin karena kandunganmu jadi kau cepat le—“

Sontak Jonghyun menghentikan kata-katanya dan mengatupkan mulut rapat-parat. Ia mendapati Key dan Taemin menatapnya lurus tanpa berkedip. Hanya Ikha yang bersikap biasa saja. Yeoja itu masih asik di depan kompor listrik jadi ia hanya menganggap hal itu sebagai candaan Jonghyun. Keberadaan kandungannya pasti sudah diketahui segenap member SHINee. Nothing serious.

Mianhae. Aku tidak bermaksud,” sesal Jjong.

Key mengeluarkan suara decakan kasar dari mulutnya. Jonghyun memang tak bisa menempatkan dirinya kali ini. Padahal ia sudah mewanti-wantinya untuk menjaga cara bicara di depan Ikha. Takut yeoja itu tersinggung.

“Taemin, panggil Onew Hyung dan Minho. Makanan dan cemilan sudah siap,” ucap Key, mencoba mengalihkan situasi.

Taemin melengkingkan suara untuk memanggil Minho dan Onew agar bergabung bersamanya. Key bahkan melempar serbet ke arah Taemin saking kesalnya. Sejak Taemin akan bergabung dengan para penyanyi Immortal Song 2, magnae SHINee itu jadi lebih sering melengkingkan suara. Alasannya satu: karena suara emasnya diakui oleh pihak KBS.

Jonghyun, Taemin dan Minho dengan semangatnya menyantap makanan yang telah terhidang di atas meja makan. Hanya Onew yang terlihat tak bersemangat. Namja itu hanya bertingkah seadanya seolah bahan bakar di dalam tubuhnya sudah menipis. Key sempat memijit pundak Onew tapi namja itu hanya tersenyum tipis.

Ikha memperhatikan Onew dengan tatapan hati-hati. Sejak namja itu menginjakan kaki di apartemen mininya, ia tak pernah menatapnya lebih dari tiga detik. Dan setelah diingat-ingat, Onew hanya tersenyum padanya saat tiba di apartemen. Itupun hanya senyum simpul, bukan senyum sumringah. Setelah itu mereka tidak melakukan kontak apapun lagi.

Entah Onew memiliki kekuatan sihir atau memang indera perasanya begitu tajam, matanya langsung mendelik ke arah Ikha yang sedari tadi memperhatikannya. Yeoja itu tertegun lalu mengalihkan pandangan pada Taemin. Dalam hati ia merutuki diri, menyesal karena Onew telah memberikan tatapan dingin padanya.

Selang beberapa detik, Key tiba-tiba berlari ke arah kamar mandi dengan kecepatan 40 km/jam. Ikha sempat mengikuti kemana Key pergi meski langkahnya harus terhenti di depan pintu kamar mandi yang sengaja ditutup oleh Key. Yeoja itu mengerutkan alis saat mendengar suara Key yang sedang mengeluarkan isi perutnya (baca: mual).

“Apa dia baik-baik saja?” tanya Ikha pada anggota SHINee yang lain.

“Sudah beberapa hari ini Key selalu mual. Padahal ketika di cek ke dokter, dia baik-baik saja dan tidak mengidap apapun,” seloroh Minho tanpa mengalihkan pandangannya dari piring kecilnya yang penuh dengan toppoki.

Jonghyun terkekeh hingga suara khas dinosaurusnya menggema di seluruh ruangan. “Lama-lama dia memang tampak seperti namja yang tengah ngidam,” ucapnya tanpa dosa.

Semua orang langsung terdiam tepat ketika Jonghyun mengakhiri kalimatnya. Jemari Jonghyun yang semula menggerakan sumpit untuk mencomot toppoki pun langsung berubah kaku.

Wae? Ada yang salah dengan kata-kataku,” tanyanya. Masih bertindak seolah tak terjadi apa-apa.

Onew meraih coat cokelat yang sengaja ia sampirkan di kursi yang didudukinya seraya mengenakan pakaian itu dengan agak tergesa-gesa. “Sebaiknya aku pergi. Aku ada janji dengan temanku,” ucapnya seraya pergi meninggalkan meja makan.

“Hyung!!” Tanpa aba-aba terlebih dahulu, Minho segera menyusul Onew tanpa berpamitan terlebih dahulu pada si tuan rumah.

Mengetahui keadaan yang kurang kondusif tersebut, Jonghyun mengedipkan sebelah matanya—menyuruh Taemin untuk menyusul kedua sobatnya. Walhasil hanya tinggal Jonghyun dan Ikha saja yang ada meja makan.

Yeoja berambut sebahu itu tercenung. Masih nampak jelas di matanya saat Onew belum sepenuhnya pergi meninggalkan tempatnya. Namja itu terlihat memutar bola mata pada Ikha, mendengus perlahan seolah enggan dan menyesal telah bertemu dengannya. Apakah Onew masih belum menerima kehadirannya hanya karena skandal yang membelitnya saat ini?

“Onew Hyung memang seperti itu jika sedang banyak masalah. Kau tahu? Jadwalnya memang cukup padat akhir-akhir ini,” jelas Jonghyun, berusaha menghibur Ikha. Ia sudah mengira jika yeoja itu pasti berfikiran sama dengannya—bahwa Onew memang tidak suka ada di tempat ini.

“Kemana yang lain?” sahut Key sekeluarnya dia dari kamar mandi.

Tangannya bergerak mengusap-ngusap perut. Rasanya bagian tubuhnya yang satu itu selalu bergemuruh seolah menyuruh mengeluarkan seluruh isi perutnya. Padahal ia hanya memakan sepotong toast tadi pagi dan cemilan yang dihidangkan Ikha. Tapi keadaanya selalu seperti itu setiap kali ia selesai makan. Kejadian ini berlangsung beberapa minggu ini.

Jonghyun menggedikan bahunya sekali. Tak peduli kemana Onew, Minho dan Taemin pergi. Toh mereka pasti akan bertemu juga di dorm sore nanti. Namja itu tetap asik menyantap makanannya tanpa merasa risih dengan keadaan ini.

Sedangkan Ikha? Yeoja itu memilih untuk diam. Ia tahu, semua pasti tidak akan berjalan sesuai apa yang dibayangkannya. Ketiga member SHINee yang tak ada di ruangan ini pasti masih belum bisa menerima kehadirannya. Terlebih Onew. Leader yang harus menanggung apapun yang menjadi permasalahan setiap member. Wajar jika namja itu memberinya tatapan peringatan. Karena jika berita kehamilannya diketahui publik, karir yang telah susah payah dirintisnya akan hancur dengan mudah.

Ikha mencoba bersikap setenang mungkin. Setidaknya ia masih menemukan satu hal baik.

Ya. Jonghyun.

Setidaknya salah satu diantara mereka mau menerimanya dan mau mengajaknya bicara…

…bersambung…

Header 01 (Cut)

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

49 thoughts on “ACCIDENT (Chapter 06)”

  1. Ikha-ya menistakan Onew lgi..
    d FF yg dlu juga gitu..
    apa hubngan Ikha sama Onew bakal kya gini terus sampe akhir FF.?
    kasian ntar Key.n..
    harus milih Ikha pa hyung.ny.. *puk-pukKeyYangMasihMual-mual

      1. *puk-pukOnew..
        sama saya aja Bang..
        saya suka.n sama yg lebih tua, ko’..
        saya bukan tante.2 pecinta berondong..
        *tunjukIkhaLagiMesra-mesra.anSamaKeyMaTaem>>liatIkhaAsahGolok>>kabbuuurrr..

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s