EXO PLANET “Chapter 01” (REPACKAGED)

EXO PLANET NEW TEASERSEHUN MEMANDANGI ATAP SETELAH mendengar bunyi debam yang cukup nyaring di atas kepalanya. Alisnya mengernyit, membuat kacamata bulat merosot dari hidung lancipnya. Buku setebal lima sentimeter yang menjadi pusat perhatiannya sejak separuh jam lalu ia letakkan di pangkuan.

Setahunya, tak ada makhluk lain selain dirinya di dalam markas.

Sehun pada akhirnya beranjak. Ia tak ingin D.O mengamuk hanya karena seekor helot5 merobek lapisan ranjang─seperti yang terjadi beberapa waktu lalu tatkala D.O meninggalkan kamarnya dengan jendela terbuka.

Sambil berjalan menuju lantai kedua, Sehun cukup puas karena berhasil menghabiskan waktu luangnya dengan hal yang berguna. Kali ini ia hampir mengakhiri buku dengan judul ‘Huglooms: Sang Penjaga Scutus’ setelah berhasil mengakhiri ‘Maallum Witch’ yang menceritakan tentang legenda penyihir Maallum si pemakan tubuh pria tampan.

Suara debam kedua membuat Sehun berhenti membanggakan diri. Tangga melingkar di ruang utama ia jejaki seperti langkah kuda. Begitu ia hendak menggunakan kekuatan angin yang dimilikinya, ia sadar bahwa suara itu bukan berasal dari ruangan D.O.

Sekali lagi, ia mendengar langkah seseorang. Sehun membenahi celana ketatnya yang sedikit longgar di pinggang. Ruangan di seberang tempat D.O lah asal suara misterius tersebut—sedangkan itu adalah ruangan Kai.

Lantas jemari Sehun bergerak lihai, menciptakan segumul udara yang membentuk lapisan padat di sekeliling jemarinya. Ia mengintip dengan sudut yang terbatas. Bayangan gelap yang menembus kelambu di dalam ruangan Kai nyaris membuat si paling muda di Castè Krypth itu menciut. Namun itu tak berlangsung lama sesaat setelah Sehun mengenali sosok tersebut.

“Kai!” Ia berseru, “Kau hampir membuatku membunuhmu dengan sarung tinju andalanku dan─” Bibir tipis Sehun berhenti seketika berucap. Ada yang lebih menarik perhatiannya melebihi sosok Kai bersama wajahnya yang semakin memucat.

Sesuatu yang terbaring di atas lapisan bulu ovess6 membuat otot di sekitar wajah Sehun membeku.

Sesuatu yang nampak seperti gumpalan udara yang kemudian membentuk manekin itu membuat Sehun menganga.

Sesuatu yang transparan dan terbentuk oleh serpihan-serpihan angin itu membuat Sehun bertanya-tanya.

Diperhatikannya Kai tengah menyentuhkan ujung telunjuknya tepat di bagian teratas gumpalan tersebut. Pria berkulit cokelat itu berbisik. Sehun mengetahui bisikan itu sebagai kalimat ajaib yang kadang mengiringi Kai berteleportasi. Seiring bisikan Kai yang kian lama dan kian rumit, muncul titik-titik cahaya yang mulai mengelilingi ‘benda’ itu. Sehun menyerukan nama Kai beberapa kali tapi pria itu tak menggubrisnya.

Cahaya tersebut kemudian berpendar membentuk sebentuk makhluk. Sebelum menampakkan diri lebih nyata, Kai menarik bulu ovess menutupi sebagian dari sosok tersebut. Sehun membulatkan kedua mata. Lidahnya mendadak beku seolah tertimbun balok es.

“Kai. Itu…” ucapan Sehun menggantung di ujung bibirnya.

Rasa keingintahuan Sehun akan makhluk yang berubah menjadi lawan jenisnya itu tak berlangsung lama. Teriakannya berkumandang seiring tubuh Kai yang semakin lemah dan roboh, tergeletak layu tak berdaya di sampingnya.

-o-

DALAM SEKALI TARIKAN NAPAS, BAEKHYUN BERLARI MENUJU ruangan Kai. Ia tak mempedulikan Chanyeol dan DO yang masih tertinggal jauh di belakang. Berita itu tiba dengan cepat kepada castè lain sejak Sehun melayangkan kabar tersebut lima menit lalu. Sepasang matanya membulat saat ia memindai setiap sudut ruangan Kai; bahkan lebih bulat dari mata D.O. Ia tidak mendapati makhluk yang dicarinya di sana. Tetapi ia menemukan sosok lain.

Di belakangnya, Sehun hendak mencegah Baekhyun untuk tak mendekati gadis misterius tersebut. Bola mata Baekhyun terlalu berbinar untuk sekedar diperingati. Memasuki langkah ketiganya, tubuh Baekhyun mendadak terhenti. Ia merasakan ada sesuatu yang kuat menghisapnya untuk menjauh dari ruangan tersebut. Baekhyun mengaduh. Pria yang lebih pendek dari Sehun itu kemudian menoleh, hendak memaki si-yang-paling-muda hingga niat itu diurungkan.

“Oh─hai, Kai.” Baekhyun tersenyum kecut mengetahui bahwa pria itulah yang menahannya untuk bergerak.

“Jangan tunjukkan wajah itu padaku, Baek. Kau tahu wajah itu takkan pernah berhasil mengintimidasiku.”

Baekhyun menepis cengkeraman Kai pada pakaian castè kebanggaannya. Jaket birunya ia benahi dengan kasar, “Kau tahu mengapa aku menunggangi  dengan cepat dari penjagaanku di Distrik Sembilan? Itu karena aku mencemaskanmu, adikku sayang.”

Kai menyeret Baekhyun diikuti Sehun disampingnya—tanpa mengucapkan sepatah kata. Selain pintar merayu wanita, Baekhyun juga lihai mengada-ada. Kepandaiannya untuk berdalih tak dapat diragukan oleh seluruh Ahli Berdalih di gugus Krypth. Sayangnya, Kai telah belajar banyak hal dan Baekhyun tak pernah mampu meluluhkan Kai. Sama halnya seperti Sehun.

“Siapa dia?”

“Kau bawa gadis cantik ini dari planet mana?”

“Kenapa dia tak berpakaian?”

“Sudah kau apa kan gadis itu? Tak kusangka kau lebih rendah dariku!”

Rentetan kalimat tanya itu hanya sebagian dari apa yang dilontar Baekhyun padanya. Sulit bagi Kai untuk mencerna kata-kata Baekhyun yang bergerak tanpa jeda seperti kereta ekspress yang ia temukan di bumi.

Berjalan menuju lantai dasar, Kai agak kesulitan untuk menyeimbangkan tubuhnya. Dibantu Sehun, pria itu melangkah gontai menuju ruang utama. Suara kicauan Baekhyun membuatnya terjaga. Padahal baru beberapa menit saja ia membaringkan tubuhnya di ranjang empuk milik D.O. Baekhyun kembali mengoceh seperti tetangga-tetangganya. Bahkan pria itu menaikkan nada bicaranya karena Kai sama sekali tak menggubrisnya.

“Kupikir kau tak mau mengiyakan perintah Suho,” suara pria yang begitu dalam itu menajamkan tatapan Kai, “Maksudku, saran Suho.” Ia mengoreksi. Jelas sekali si pemindah materi itu tidak menyukai kalimatnya.

Kai menginjak anak tangga terakhir. Di hadapannya, hanya Suho yang absen dari penglihatan. Setidaknya usaha yang telah ia lakukan dibayar oleh perhatian yang castè lain tunjukkan padanya. Terlebih D.O, si pria dengan suara perutnya yang khas.

“Namanya Cho Ikha. Aku tak perlu menjelaskan perincian lainnya karena kurasa kalian sudah mengetahuinya dari Baekhyun,” Kai memposisikan diri duduk di kursi panjang bersama Sehun.

“Jadi maksudmu, dia… Huglooms?” kemudian Chanyeol menatap Kai seolah mengajukan tanya apakah ia baik-baik saja.

Pria itu berdeham pelan kemudian mengucapkan terima kasih atas kecemasan Chanyeol terhadapnya, “Aku sudah melakukan apa yang kalian mau. Jadi jangan merengek lagi dan melakukan voting bodoh mengenai suatu hal yang sulit untuk digapai,” ucap Kai.

“Terima kasih, Kai. Tak kusangka jika huglooms itu lebih cantik dari Krystal!”

Baekhyun mendadak terdiam setelah ia berucap antusias. Ia malah mendapati hujaman tajam dari empat pasang mata yang mengelilinginya. Bahunya bergedik dan bertanya mengapa. Selanjutnya justru Chanyeol menyemburkan api dan membuat Baekhyun lagi-lagi berteriak histeris.

“Aku akan pergi menemui seseorang. Jaga gadis itu dan jangan membuatnya ketakutan,” titah Kai.

“Kau baru saja berteleportasi jauh ke planet ketiga. Sebaiknya istirahatkan tubuhmu terlebih dahulu.”

“Namanya Cho Ikha. Jangan sampai lupa,” tandas Kai, menatap D.O sekilas sebelum akhirnya ia berdiri dari tempatnya dan menghilang.

D.O berdecak. Kai pergi hanya menyisakan debu biru pekat yang mulai memudar di antara mereka. “Kadang aku tidak suka dengan sikap otoriternya. Dia melupakan satu hal─bahwa aku lebih tua darinya,” dumalnya.

“Hati-hati, Fratheer7 D.O. Terakhir kali kuingat, kau hampir kehilangan kepalamu saat mengaduh di belakang Kai.”

Ejekan Chanyeol seketika menyentak ingatan DO.

Benar.

Minggu lalu, Kai bisa saja dengan segan membuatnya pingsan dan melemparnya ke planet Merkurius. Penyebabnya begitu sepele. Pria yang lebih muda darinya itu memperebutkan sebuah buku bacaan dengan Chanyeol. Ketika D.O membela Chanyeol, hal itu justru berakibat fatal. Mengingat Kai telah berubah menyeramkan sejak hari itu, sulit bagi para castè untuk mengendalikan Kai.

Tak ada senyum Kai lagi sejak hari itu.

Namun harus D.O akui, Kai begitu gesit dalam bertindak. Pantas ia suka berkelahi dan membuat onar. Di umurnya yang menjelang dewasa, Kai mampu menyaingi Zaque─si pemimpin tentara istana.

“Hei, apa kalian yakin jika gadis itu adalah Sang Huglooms? Kurasa Kai hanya berkunjung ke rumah bordir di Distrik Tiga dan menyeret salah satu stardus8 kemari.”

Lagi. Baekhyun menuturkan spekulasi yang berkeliaran di kepalanya. Berlagak seperti detektif, pria itu terus mengoceh mengenai gadis pucat tanpa rona yang masih terbaring kaku di ruangan Kai. Sisa castè hanya menggelengkan kepala. Satu per satu mereka meninggalkan Baekhyun yang masih saja menyebutkan hal-hal bodoh dan tidak masuk akal.

-o-

MENJELANG SORE HARI, TAK ADA YANG MENGISI KEHENINGAN hutan Pinèss selain gesekan dedaunan serta burung mockingjay yang saling bersahutan. Tak jauh dari satu-satunya sungai dangkal yang ada di tepi hutan, seorang pria dengan pakaian serba putih tengah asyik mengusap rambut unicorn peliharaannya.

Sesekali sepasang mata lembut pria itu menyipit tatkala kaki kudanya menyentuh tanduk solomon9 yang menjadi hiasan boots selututnya. Menyisakan waktu bersama Fugore10 selalu berhasil membantunya mengusir kepenatan. Baginya, hanya Fugore yang memahami perasaannya. Meski sangat disayangkan bahwa Fugore hanyalah seekor unicorn.

Pria itu memicingkan kedua telinga. Indera pendengarannya menangkap suara hembusan angin aneh di balik punggungnya. Bunyi ranting kering yang bergemeretak membuatnya tersenyum. Pola langkah kaki itu sangat dikenalnya dengan baik. Tergesa-gesa, tak sabaran, siapa lagi jika bukan makhluk itu.

“Sudah lama kau tak berkunjung kemari semenjak Parleemos King mengadakan pemilihan penguasa baru,” sahut Luhan—pria pemilik unicorn.

Makhluk yang masih berjalan kasar di balik punggungnya menyeringai. Luhan menoleh saat sosok itu meraba-raba punggung Fugore. Seragam biru perlambang gugus Krypth yang dikenakannya sangat mencolok di antara kontras warna hutan pinèss. Ia berharap tak ada satu pun yang mengetahui kedatangan Kai ke wilayahnya.

Ya, Kai.

Satu-satunya makhluk yang berani melintasi batas gugus sejak Suho dan Kris menyatakan diri mereka untuk tidak melewati garis tersebut menjelang pemilihan penguasa baru. Terakhir kali Kai mengunjunginya, Tao berhasil membuat darah mengucur dari hidung mancungnya.

Siapakah Tao?

Si termuda dari Castè Myrath yang paling jago berkelahi namun berhati bayi. Kemampuan mengendalikan waktunya tak lebih dari kemampuan shaman yang selalu mereka gunakan untuk berjudi di kedai Bapak Ghom yang sangat terkenal di gugus Krypth. Well, seperti itulah yang Kai tuturkan acap kali makhluk lain bertanya mengenai Tao.

“Aku hanya merasakan persaingan di sana-sini. Tidak ada persahabatan. Dan kumohon, Luhan. Berhenti menyebut Leeteuk dengan gelar itu!”

Luhan memamerkan senyum tipisnya seraya menggeleng pelan. Ia tak menyangkal adanya perbedaan pandangan antara keduanya. Bukan hanya mengenai gelar Parleemos yang dimiliki Leeteuk, tetapi dari hal kecil sekalipun─contohnya adalah saat Luhan memutuskan menamai kudanya dengan Fugore.

“Hai, Fugore. Sepertinya majikanmu telah merawatmu dengan baik,” sapa Kai pada si kuda bertanduk. “Bagaimana kabar castè lain?”

Luhan mengusap lembut puncak kepala Fugore menggunakan jemarinya. Sesekali ia melirik pada Kai. Pria berkulit cokelat itu tidak banyak berubah. Masih dingin pada siapa pun.Kecuali padanya—mungkin.

“Seperti apa yang telah kau sebutkan. Semua berubah tegang,” ungkap Luhan singkat.

Kai kemudian menatap pria di sampingnya. Meski silsilah keluarga mereka begitu rumit dan sulit dimengerti, hanya dengan menatap wajah Luhan, ia dapat menemukan ketenangan yang selama ini tak didapatkannya dari siapapun.

Wajah Luhan, wajah yang hampir mirip dengan wajah ayahnya. Ayah yang sangat dicintainya.

“Apa kau akan menghadiri undangan makan malam?”

“Tentu. Jika tidak, Kris akan menggorok leherku.”

Jawaban Luhan membuat Kai terkekeh geli.

“Apa kau sudah mengetahuinya? Kita akan melawan satu sama lain di pertandingan nanti,” ucap Kai, setengah bergumam.

“Lalu?” Luhan memegang tali kendali di sekitar leher Fugore, mengarahkan kudanya untuk bergerak mengiringinya. Disampingnya, Kai, senantiasa mengikuti Luhan. Ketiganya berjalan menyusuri sungai. Menikmati keheningan yang tak keduanya temukan di tengah kota.

“Tidak kah kau merasa khawatir?”

Kai sengaja memelankan langkah. Pandangannya kini beralih pada rerumputan. Salah satu hal yang membuatnya takjub adalah hutan pinèss memiliki rumput yang lain dari biasa. Setelah diinjak, rumput tersebut mengering. Lalu tak lama kemudian, rumput itu kembali ke keadaan semula.

“Khawatir? Terhadap apa?” Luhan melempar kembali pertanyaan tersebut pada Kai. “Meskipun kita tidak menginginkannya, kita akan tetap melakukannya,” ucap Luhan, terdengar bijak seperti biasa.

“Fratheer,” Kai menatap Luhan seolah sedang memohon.

“Sebaiknya kau pergi. Gawat jika castè lain mengetahui keberadaanmu di sini,” cegahnya.

“Aku ingin mengajakmu ke kedai biasa. Aku ingin kita berbagi viinum11 seperti dulu,”

“Aku harus datang ke pertemuan Castè Myrath. Kita bisa melakukannya lain kali,” tolak Luhan halus.

“Lihat! Aku benci ketika kita harus menjaga jarak hanya karena pemilihan tolol ini! Asal kau tahu, aku sama sekali tidak tertarik dengan perebutan tahta itu!” Suara Kai kini meninggi. Asap hitam pekat bermunculan di sekitar tubuhnya─berarti bahwa pria ini tengah dilanda amarah.

Detik berikutnya, Kai menghilang dari hadapan Luhan. Ia memerhatikan partikel hitam pekat tersebut hingga benar-benar memudar di udara. Wajahnya yang semula tersenyum kini berubah datar. Fugore menyentuhkan kepalanya pada bahu Luhan seolah mengerti perasaan tersebut. Luhan menyambut Fugore dengan lembut. Saling berbagi perasaan masing-masing.

“Kau masih berkomunikasi dengan Castè Krypth itu?” Suara maskulin di balik punggung Luhan membuat alis pria berambut pirang itu mengernyit. Nada itu terdengar seperti geraman harimau buas.

“Namanya Kai,” Luhan membalikkan tubuh. Ia menemukan sosok tinggi nan gagah itu tak jauh darinya. Percikan api mengelilingi tubuh makhluk tersebut. Rambut mohawknya tersapu angin, mengubah kesan itu semakin misterius. “Bahkan kau telah melupakan namanya.”

Kris, sang pemimpin Castè Myrath, muncul dari balik pepohonan. Ujung jubah castènya ikut berayun saat pria itu bergerak mendekati Luhan. Luhan menanggapinya tanpa banyak bicara. Ia berbalik untuk mengusap bulu-bulu Fugore dengan lembut.

“Dia sedang mencari titik kelemahanmu saja, Luhan.” Kris sedikit menggertak.

Luhan tersenyum menanggapi perkataan Kris. Perebutan tahta itu telah membuat mata Kris menjadi gelap. Gelap dan haus akan tahta penguasa tertinggi EXO. “Kai telah mengetahui kelemahanku sejak dulu, Fratheer.” Luhan, masih memusatkan diri pada Fugore yang sedari tadi melenguh mengajak pergi.

“Jangan merusak rencana kita,” geram Kris.

Luhan menginjak sanggurdi kemudian menaiki punggung Fugore dalam hitungan detik. “Jangan terlalu serius menanggapi hal ini, Kris. Santai saja,” ucap Luhan.

Kedua kaki Fugore terangkat tinggi-tinggi. Sepasang sayap dengan warna yang serupa dengan bulu Fugore muncul diiringi sinar terang yang menyilaukan. Dengan satu kata saja, Luhan menyuruhnya pergi menjauh. Meninggalkan Kris dengan segala kekecewaannya. Pupil hitam Luhan bergerak ke sudut matanya. Ia mengetahui bahwa Kris tak akan berani membantahnya. Namun akhir-akhir ini, ia menemukan beberapa kejanggalan akan sosok pemimpin Castè-nya.

Kris mendoktrin castè lain akan bahaya dari Castè Krypth.

Kris mencoba mengorek kelemahan Kai serta kekuatan lain yang tak diketahuinya.

Kris mempelajari beberapa sejarah dan selalu menyempatkan waktu untuk pergi ke istana.

Dan, Kris memaksanya melakukan satu hal yang tak ingin ia lakukan seumur hidupnya.

Membunuh Kai.

-o-

SEORANG PRIA BERAMBUT PIRANG KECOKELATAN TENGAH memperhatikan pemandangan di sekeliling istana dari balkon tertinggi. Mata hitamnya terpejam saat menghirup udara malam yang sangat disukainya, merasakan berbagai kehidupan di luar sana yang terselubung oleh kegelapan malam. Suara pintu berlapis baja yang terdengar tua dan berkarat itu menghentikan pengamatannya. Pintu tersebut terbuka lebar, pertanda bahwa tamu-tamu istimewanya telah hadir di sana.

Seiring langkahnya menghampiri keenam pria-pria tampan yang memasuki ruangan istana, pakaian ala kerajaan yang dikenakannya berubah perlahan menjadi kaus beludru berlapis cotton serta celana skinny hitam bermotif abstrak, menampakan lekuk tubuhnya yang atletis.

“Suatu kehormatan Parleemos King mengundang kami untuk hidangan makan malam,” Suho menunduk, diikuti keempat Castè lain. Disamping Suho, Baekhyun mencoba menarik tubuh Kai untuk mengikuti sapaan hormat mereka. Tentu saja pria itu menolak dan lebih memilih untuk berdiri tegak.

Pria dengan sebutan Parleemos itu tak ambil pusing. Ia mempersilahkan para castè untuk menempati kursi yang telah disediakan. Dari jumlah alat makan yang ada di sekeliling meja mahoni, Suho dapat menebaknya dengan mudah.

“Aku juga mengundang Castè Myrath malam ini,” ucap Leeteuk seolah dapat membaca pikiran Suho.

Berbeda dengan Suho mau pun Kai, Baekhyun dan Chanyeol lebih memilih untuk mengamati interior ruang makan istana yang baru kali ini mereka datangi. Beberapa patung pemain harpa bergerak lincah memainkan musik sebagai pengiring acara makan malam. Tak lupa sejumlah brascus12 beterbangan mengikuti alunan lagu. Tiga belas lukisan berbingkai segi lima yang berderet manis di dinding, saling bergantian menampakkan wajah Prajurit Super Junior dan Dewi Girls Generation.

Tak lama kemudian, Leeteuk menyambut kedatangan Castè Myrath. Tatapan antara kedua castè sempat bertemu. Terutama antara Suho dan Kris. Sementara Suho masih menatapnya tak bermakna, Kris memilih untuk berpaling tanpa kata. Leeteuk duduk di kursi utama dimana Sora dan Sulli mengapitnya. Castè Krypth dan Myrath saling berhadapan. Lay dan Chanyeol bahkan saling melempar senyum kaku. Mereka merupakan partner terbaik di ajang Festival Musik yang diselenggarakan pihak istana setiap tahunnya. Tapi kali ini mereka harus menjaga jarak.

“Jangan terlalu tegang. Ini hanya makan malam biasa,” ucap Leeteuk mencairkan suasana.

Mungkin di antara deretan dua belas Castè, hanya Kai dan Luhan yang tak peduli. Justru mereka berdua menikmati makanan yang dihidangkan tanpa mendengarkan atau sekedar tertarik dengan perbincangan lain. Kai mendengus dan menyeringai mendengar Suho dan Kris tak henti-henti memuji kehebatan Leeteuk. Ia tak habis pikir. Memuji Leeteuk belum tentu menjadi poin tambahan agar mereka bisa menjadi penguasa baru planet.

Kai hanya ingin segera mengakhiri makan malam ini. Semua makhluk yang hadir menunjukkan kepalsuan mereka.

“Pemilihan penguasa baru diadakan setiap sepuluh tahun. Aku sudah menduduki singgasana itu selama lima kali berturut-turut. Pasti kalian mengerti bagaimana melelahkannya duduk di sana,” ujar Leeteuk.

Kai memutar bola mata. Ia sudah tahu arah pembicaraan Leeteuk saat Suho memaksanya untuk mengikuti acara makan malam kali ini. Ia tidak tertarik jika sudah berurusan dengan politik maupun kekuasan. Terlalu rumit untuk dimengerti.

Alasan lain mengapa Kai ingin segera meninggalkan acara yang paling membosankan ini adalah kehadiran Sulli yang membuatnya jengah. Ia tak suka dengan cara gadis itu mencari-cari perhatiannya. Kai malah hampir  menusuk mata Baekhyun karena pria itu justru memuji-muji Sulli dan beropini tentang bagaimana ia merasa iri akan cinta yang Sulli berikan pada Kai.

“Apa kalian tahu alasan lain mengapa kalian terpilih menjadi kandidat penguasa baru?” tanya Leeteuk.

Para castè menggeleng kepala sebagai pengganti jawaban tidak. Mereka sangat hati-hati dalam berucap. Bahkan Baekhyun yang selalu bertindak sesuka hati hanya menoreh senyum tipis. Ia tidak ingin dipandang minus oleh Leeteuk─kecuali saat ia memuji Sulli.

“Karena kalian memiliki tetesan darah para Castè Super Junior.” Leeteuk menjawab.

Untuk kesekian kalinya Kai memutar bola mata. Leeteuk selalu saja mengangkat topik ini setiap kali mereka berbincang.

Castè.

Kai bahkan tak ingin mendapat gelar itu meskipun ia ditakdirkan memiliki kekuatan yang sebanding dengan Leeteuk. Sang Parleemos itu terus saja mengoceh tentang silsilah keluarga mereka. Mengagungkan para prajurit Super Junior dan dewi Girls Generations yang merupakan bagian dari keluarga Castè Krypth dan Myrath.

“…aku begitu mengenal Donghae. Dia adalah castè yang hebat. Meski Kangin saat itu adalah Castè terkuat, Donghae begitu pintar membuat strategi sehingga EXO berhasil mengalahkan SHINee World saat itu,” tutur Leeteuk, melanjutkan perbincangan berikutnya.

Kedua tangan Kai membeku. Tatapannya lurus pada benda cekung yang menjadi alas makanannya. Leeteuk, lagi dan lagi, mengangkat topik yang tak ingin didengarnya. Beberapa castè mencuri pandang ke arah Kai. Sehun bahkan sempat mengalihkan perhatian Kai saat asap hitam mulai menguap dari  tubuh Kai, dan tanda itu dipahami betul oleh teman-temannya.

“Parleemos—“

“Dan kurasa kalian mengerti mengapa aku bersikukuh memilih kalian meskipun beberapa penasehat kerajaan tidak menyetujuinya. Bukan begitu, Kai?” Leeteuk memotong kalimat D.O.

Bibir Kai terkatup rapat. Tatapannya menembus retina Leeteuk. Begitu dalam dan berbahaya. Castè Krypth saling melirik satu sama lain. Luhan yang sejak tadi hanya berdiam diri pun kini menatap Kai. Ia dapat membaca situasi dan kondisi ini sangat tidak baik.

Kai menarik mundur kursinya dengan kasar. Ia membungkuk sejenak pada Leeteuk, menatap para Castè Krypth dan Myrath satu per satu, kemudian melenggang pergi dari tempat tersebut. Suara sergahan dari Suho pun tak digubris oleh Kai. Pria itu lebih memilih berteleportasi, mengisolasi diri dari lingkungan.

Saat ini yang ia butuhkan hanyalah tempat untuk menenangkan diri.

Sendirian.

-o-

BINATANG DAN MAKHLUK PENGHUNI KEGELAPAN seolah berhibernasi malam itu. Suara sahutan penghuni hutan tropis yang mengelilingi markas Castè Krypth ikut meredam. Hanya bunyi desing angin malam serta gemerisik pasir halus yang berjatuhan dari alat penghitung waktu saja yang tertangkap inderanya.

Kelopak mata gadis itu perlahan terbuka. Ia mengerjap beberapa kali, menyesuaikan lensa matanya dengan cahaya terang yang muncul dari balik kap lampu di sudut ruangan. Ia menengadahkan kepala, mencermati struktur ruangan yang dirasa asing baginya.

Benar.

Tempat ini sangat asing.

Furniture ruangannya juga aneh.

Ia menemukan bonsai mini menggugurkan daunnya sendiri di atas meja. Daun tersebut kemudian kembali melekat pada batang pohon dan hal itu terus berulang selama beberapa saat. Selang tiga meter darinya, ia menemukan sebuah papan besar setinggi dua kali tubuhnya. Pusaran air yang muncul dari tepian papan melapisi permukaan benda tersebut. Gadis itu merengut namun sama sekali tak berpaling dari papan besar.

Kemudian, riak air membentuk gelombang layaknya ombak laut. Riak itu mulai tenang dan bersinar kebiruan membentuk pantulan ruangan. Kini, papan kayu itu berubah menjadi cermin besar, menampakan pantulan tubuh Ikha yang masih terbaring di lapisi kulit ovess.

Gadis itu tercengang.

Tidak. Bukan karena atraksi riak air yang berubah menjadi sebuah cermin. Melainkan apa yang ia lihat dari pantulan tubuhnya. Sambil memposisikan tubuhnya duduk di atas ranjang empuk tersebut, gadis itu menggeleng ringan.

Ada yang salah dengannya.

Mengapa kulit cokelat yang selalu dibanggakannya berubah menjadi putih terang merona?

Mengapa rambut pendeknya berubah menjadi panjang mulus dan terurai indah?

Satu lagi.

Ketika gadis itu menyampirkan selimut ovess yang ia kira terbuat dari bulu domba, ia baru menyadari satu hal.

“Kenapa aku tidak berpakaian?!”

-o-

KAI BERJALAN DENGAN LANGKAHNYA YANG BESAR-BESAR. Ia hanya memperhatikan sekilas lalu membuat kesimpulan bahwa tak ada siapa-siapa di dalam markas. Pria itu melewati ruang utama dengan tergesa-gesa. Ia hanya ingin memastikan satu hal dan selesai─kembali ke tugasnya semula.

“Kenapa kau meninggalkan acara makan malam begitu saja? Kau sadar bahwa acara itu begitu penting bagi kita!”

Suara alto-bariton yang tertangkap indera Kai membuat pria itu menghentikan aktivitas otaknya. Langkah pertamanya pada anak tangga pun terhenti seketika. Tubuhnya berbalik dan ia tak begitu terkejut mendapati sosok Suho yang tak lebih tinggi darinya itu muncul tak terduga.

“Kau jauh-jauh datang kemari hanya untuk mengejarku?” olok Kai.

“Hanya ingin memberimu sedikit pelajaran. Makan malam seketika buyar tepat setelah kepergianmu.”

“Jangan menjadikan kisahku sebagai bahan simpati jika kau ingin menjadi seorang penjilat di depan Leeteuk,” Kai menatap datar pada Suho. Pria berambut hitam di hadapannya tak kalah kuat membalas tatapannya. “Tak kusangka kau bisa dengan santainya membicarakanku di balik punggungku sendiri.”

Suho menelan udara. Bersikap kuat seperti biasa. “Aku tahu kau tidak pernah suka denganku—dan juga pada Leeteuk. Tapi setidaknya tunjukan sedikit rasa hormatmu saat berada di istana,” suruhnya.

“Aku akan hormat pada siapapun selama mereka menghormatiku. Beliau mengungkit sesuatu yang tak ingin kudengar. Menurutmu apa beliau sengaja melakukannya untuk membedakan statusku di mata kalian? Atau memang dia sengaja ingin mengucilkanku?” oceh pria berpakaian serba hitam tersebut.

Suho berjalan mengitari Kai hingga bunyi boots hitamnya terdengar mengetuk-ngetuk lantai. “Sikap keras kepalamu itu justru membuat Leeteuk mulai mengubah pikirannya, Kai. Harusnya kau beruntung karena anak dari stardus yang dikencani ayahmu tak seharusnya menjadi bagian dari bangsawan,” ucap Suho. Ia mendekatkan tubuhnya pada Kai dan berbisik, “Kehadirannya hanya mencoreng kehormatan kerajaan.”

Suasana kemudian berubah tenang.

Tak ada kalimat sanggahan yang dikumandangkan oleh Kai. Jemarinya membentuk kepalan. Urat di sekitar lehernya tampak jelas dan rona di wajahnya kian memerah. Kai membuang tatapannya ke arah lain. Selama beberapa detik, ia sengaja menatap lurus pada lantai kedua yang menjadi tujuan utamanya.

“Kau tak pandai berterima kasih, Suho. Jangan lupa bahwa aku bisa saja memelintir kepalamu dan membuangnya ke Bukit Taash dengan mudah,” ujar Kai. Ia bermaksud untuk mengontrol emosinya.

Suho mendengus kasar. “Kau─”

“Tak usah membuang tenagamu hanya untuk menceramahiku. Lebih baik kau segera temui Akira. Sepertinya ia menunggumu di balik pintu itu.” Dagu Kai bergerak menunjuk ke satu arah.

Tanpa persetujuan Suho, pria itu kemudian berteleportasi. Tak memakan waktu banyak bagi Kai untuk mencapai ruangannya, karena sebelum seperempat detik saja ia telah berada di dalam kamar. Sosok berambut panjang di hadapannya terkejut. Bahkan hampir berteriak jika saja Kai tak membungkam mulutnya setelah detik pertama. Kai mengamati, heran karena sosok gadis yang sedang mencoba untuk bicara tersebut mengenakan kaus dan celana ketatnya.

Kai mencengkeram pergelangan tangan gadis tersebut. “Peraturan ke-453 ayat kedua mengenai kaedah hukum menyebutkan bahwa seorang penguntit harus menjadi santapan Razour atau diarak keliling kota dengan tubuh telanjang,” ucapnya tegas.

Mata gadis itu membelalak sepenuhnya. Setelah meronta-ronta seperti kambing liar yang siap untuk dipotong, gadis itu pada akhirnya mampu berucap.

“Apa?”

Kai menarik tubuh gadis itu untuk mendekat. “Jangan berteriak dan tahan napasmu saat kubilang siap.”

Si gadis memberontak. Ia sempat mengeluarkan suara sopran-nya beberapa kali agar Kai melepas jeratannya. Bayangan terburuk sempat melintas di benaknya. Mungkin Kai akan merealisasikan pilihan kedua dari peraturan yang baru saja ia sebutkan—mengaraknya keliling kota dengan tubuh telanjang.

“Tidak! Lepaskan aku pria jalang!” pekiknya.

Kai tak menggubris. Ia memejamkan mata seraya membawa serta tubuh gadis itu menghilang dari ruangannya.

Suara langkah ringan terdengar memasuki tempat tersebut.

Suho.

Pria itu mengaduh pelan karena tak mampu menangkap tubuh Kai sebelum ia berteleportasi. Ia yakin bahwa inderanya menangkap kehadiran sosok lain yang berada di dalam ruangan tersebut.

Dan ia mengetahui siapakah sosok yang menjadi tawanan Kai saat ini.

…bersambung…

Thank For Your Visit Huglooms

———————————

5Helot : binatang berkaki empat, berekor, dipenuhi lendir dan berkulit kasar. Suka masuk ke dalam rumah karena makanannya adalah kutu ranjang.

6Ovess : binatang seukuran domba. Bulunya berwarna hitam legam, halus seperti sutera.

7Fratheer : sebutan bagi pria yang umurnya lebih tua.

8Stardus : wanita pekerja seks komersial.

9Solomon : banteng seukuran tikus persia. Tanduknya semahal gading gajah. Sangat langka, hanya anggota kerajaan saja yang menggunakan tanduk solomon.

10Fugore : nama unicorn peliharaan Luhan.

11Viinum : sejenis alkohol. Berwarna hijau pekat. Wangi mawar menyeruak dari minuman tersebut namun rasanya lebih pahit dari jus pare.

12Brascus : sejenis kunang-kunang bersayap perak dan mengeluarkan cahaya berbagai warna.

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

67 thoughts on “EXO PLANET “Chapter 01” (REPACKAGED)”

  1. Ikhhaaaaaa…. aku muncul lagi dan akan lagi… haha…

    Gila!!! kok lu bisa aja sih nemu nama2 and istilah2 kaya gitu??

    dapet darimana seh??

    Sumpah, berani mati sesek napas gara2 dicium Eunhyuk deh gw. Nih FF keren bgt…

    1. What? Mending lw mati ketiban shindong deh li daripada dicium laki gue. Gak terima lahir batiiiiin~ hahahaha~
      Ini garagara gue dikejer deadline beb, jadi aja mimpi buruk selama berhari-hari. Daripada mubazir, gue bikin FF aja tuh mimpi. Ya gak? MUAHAHAHA~ *ketawa evil*

      1. Ya ampun kha… kga bisa liat orang seneng dikit lu mah, biarin kek di komen ini aja lu ikhlasin gw cipokan ma Eunhyuk… (bisa disensor gak tulisan gw?) hehe…

        Enak bgt lu mimpi buruknya aja sama Kai, klo gw mah mimpi buruknya balik lagi ke sma trus dikasih ulangan matematika, dan gw blom blajar sama sekali… Sumpah mengerikan bgt!!! 😀

      2. kalo udah bawa bawa eunhyuk mah jangan harap gue iklas li. lu mau nyebur jurang bareng dia aja gue gak rela ᄏᄏᄏ
        hahaaha kenapa lu gak sms gue pas mimpi begitu? tar kan gue kasih contekan ulangan mtk-nya biar lu dapet 100 😀

      1. jangan nyesel ka, harusnya lo senang saingan buat ngerebutin brondong lo banyak /eh
        tp yang tetap setia kan cuma gue n lia yang ngerebuti
        jd saingat berat lo lia n gue 8betulin kerah baju* hhahaha

      2. hahahhaa kenape kerah baju lw ka? kancingnya copot sampe dibetulin gitu? (´▽`) – c (” `з´ )
        haduh kalo saingannya macem lw ma lia, gue mah mending punya saingan ababil 10 orang deh ka. Lw berdua nyusahin gue, bentar bentar grepe, bentar bentar ngelucutin baju, hahahha /eh?

      3. habis di grepe” kai maklum brondong gue mulai nakal, lagi puber hihihi
        tp brondong lo yg satu lg kan masih aman cc:Lay:
        gue dapat brondong baru yg sifatnya gk jauh beda sama gue *lirik xiumin* #ajakdinnerbareng

  2. aku ud bca dr prolog”ny,tertarik makin tertarik akhirnya bca jg kkk~
    buat onnie salut *jempol di acungin* kereenn bangettt..
    Aq telat bca ni ff krn kemarin sibuk ujian,pkokny lnjut buat author ^ ^

  3. omegat omegat!! makin keren aja kak, tp masih agak abu” sih soal masa lalunya Kai, kurang ngerti, hehe
    oh ya penasaran, Kakak suka baca” cerita fantasy gitu atau gimana nih? Soalnya istilah” yg dipake keren 🙂

    1. Yuhu tyas~ aku bukan tipe pecinta romance yang menggelitik jadi kebanyakan buku di rumah tentang cerita fantasy dan anak-anak, hehehe~
      Oke kalau begitu selamat membaca 🙂

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s