MY NAME IS LEE HYUK JAE “Epilog”

FF - My name is lee hyuk jae - NewSore itu langit Seoul begitu tak bersahabat. Terhitung sudah satu minggu semenjak salju mulai melapisi tiap sudut jalan kota dan hal itu tidak mengurangi niat busuk sang awan—tidak memberikan kesempatan pada sang mentari untuk menjalani tugasnya menyinari dunia.

Dengan langkah pelan dan cukup berirama, Ikha berjalan menuju lobby setelah lelah berkutat selama kurang lebih tujuh jam dengan para customer dan retailer. Ia sempat membungkuk beberapa derajat pada beberapa orang yang berpapasan dengannya. Setidaknya citra dirinya sebagai ‘A Polite and Culture Woman’ tidak berubah.

Setelah melewati pintu utama berlapis kaca, yeoja itu sempat terhenti untuk mengamati bulir-bulir salju yang cukup lebat berjatuhan dari langit. Ikha menengadahkan kepala. Haruskah ia menunggu hingga salju mereda atau tetap berjalan menembus butiran es tersebut menuju halte subway terdekat.

Hingga akhirnya…

“Seharusnya kau menungguku,”

…Eunhyuk datang sembari menutupi tubuh bagian atas Ikha menggunakan coat Sapphire Blue-nya.

Yeoja itu melirik sekilas. Mulutnya terkatup rapat. Hanya melihat, tanpa bersuara. Sampai Eunhyuk menyeret tubuhnya menuju tempat parkir dan sedikit memaksa Ikha untuk pulang bersamanya, yeoja yang baru saja mengecat rambut menjadi cokelat pekat itu tetap membungkam mulut.

Saat ini ia tidak ingin melakukan kontak dengan Eunhyuk meski pada kenyataannya mereka sudah satu atap sejak setahun yang lalu—tepatnya ketika mereka telah resmi menjadi sepasang suami-istri. Belum lagi kini ia menjabat sebagai Public Relations Executive di perusahaan Eunhyuk. Tak ada alasan untuk menghindar bukan?

Dia rasa suaminya mengetahui alasan mengapa sikapnya berubah demikian. Tapi namja yang masih terlihat sama ketika pertama kali mereka bertemu itu seolah menutup mata dan pura-pura tak tahu.

***

Suara derit pintu menggema mengisi ruang hampa apartemen. Eunhyuk sengaja membiarkan Ikha masuk terlebih dahulu. Yeoja itu mengeluarkan desah nafas berat sambil melepas coat yang semula melindunginya. Tubuhnya sedikit lunglai. Untuk pertama kalinya ia merasa tidak ingin menghuni apartemen yang menjadi istana baginya.

Langkah Ikha terhenti saat Eunhyuk mencengkeram lengan atas dan membuat tubuhnya berputar. Mau tak mau yeoja itu menatap Eunhyuk malas-malasan. Jujur saja, namja yang kini ada di hadapannya sangat tampan dan mempesona. Ia bahkan tak tahu bagaimana Eunhyuk bisa menjaga proporsi tubuhnya menjadi se-atletik itu. Hanya saja ada hal lain yang membuatnya mengesampingkan faktor tersebut.

“Ada yang salah denganmu,” rajuk Eunhyuk. Ia mengucapkannya setengah mendesis, tidak dengan otot.

Bola mata Ikha berputar. “Eobseo (tidak ada),”

“Aku bisa membedakannya sejak satu bulan yang lalu,” Eunhyuk kembali menyerang, menuntut jawaban pasti darinya.

Yeoja itu menyeringai. Bagaimana mungkin Eunhyuk sama sekali tidak tahu alasan mengapa saat ini dirinya begitu malas bicara satu kalimat pun dengannya? Seharusnya ia tahu.

Beberapa bulan terakhir ini, entah kenapa Eunhyuk begitu protektif padanya. Ia tidak bisa ikut acara reuni teman SMA-nya dulu karena namja itu melarangnya; tidak bisa pergi ke Cafe hanya sekedar untuk berbincang dengan Taerin karena lagi-lagi Eunhyuk melarangnya. Bahkan Eunhyuk sampai hafal luar kepala siapa-siapa saja orang / rekan kerja yang akan ditemui Ikha meski pertemuan tersebut untuk urusan bisnis belaka. Yang lebih parah lagi, Eunhyuk pernah menjemput dan memaksanya pulang saat ia berada di tengah acara Festival Gangnam bersama teman-temannya. Bukankah hal itu begitu memalukan?

Selama ini Eunhyuk tidak pernah bersikap seperti itu. Namja itu selalu mempercayai apapun yang dilakukannya. Terhitung sejak tiga bulan lalu Eunhyuk menjadi pria posesif. Bagi Ikha, hal itu menjadi nilai minus bagi Eunhyuk.

Malhae (Katakan padaku),” ucap Eunhyuk, membuyarkan fikiran Ikha yang sempat berenang-renang di dalam kolam memorinya.

Yeoja itu melepas cengkeraman tangan Eunhyuk dengan halus kemudian memijat tengkuk lehernya yang terasa pegal. Posesif-nya Eunhyuk ternyata cukup membawa dampak besar bagi kelangsungan rumah tangga mereka.

Ia baru sadar kalau mereka sering bertengkar kecil hanya masalah ‘tuntutan’ Eunhyuk dan hal itu membuat mereka jarang berkomunikasi sejak sebulan terakhir. Bahkan karena Eunhyuk seolah memojokannya setiap kali beradu mulut, yeoja itu selalu mengungkit hubungan mereka yang dirasa tak nyata baginya.

Yeah. Satu tahun telah berlalu. Apa kalian tidak menyadari sesuatu? Sex PregnantKid. Tiga kata itu tidak didapat Ikha selama mereka berumah-tangga. Berapa kali ia memohon pada Eunhyuk ‘memberikannya’ seorang anak tapi namja itu selalu berkilah setiap kali mereka akan bercumbu. Alasannya satu: takut namja itu akan melukainya.

Ikha selalu meneriaki kata ‘nonsense’ setiap kali Eunhyuk menahan hasratnya dan memilih untuk menghindar. Namja itu bahkan tidak berani menyentuh Ikha lebih jauh. Bukan karena ia tidak suka, tapi ia selalu berucap ‘takut melukainya’. Bagi Ikha, satu-satunya hal yang dapat membuat hubungannya dengan Eunhyuk benar-benar utuh adalah dengan melakukan hubungan seks. Wajar bukan? Mereka sudah resmi terdaftar sebagai sepasang suami istri, jadi mereka bebas melakukan apapun termasuk hal itu.

Ikha menyelipkan sedikit rambutnya di balik telinga. Matanya sempat terpejam sesaat. “Bukankah kau sudah tahu?” ucapnya, balik bertanya.

Eunhyuk menngeluarkan udara dari hidungnya dengan kasar. Bahunya sedikit turun. “Listen—“

Kedua tangan Eunhyuk diletakkan pada bahu Ikha. “—i love you. Really-truly-madly-deeply-in love you. Don’t you understand that?”

Ikha menatap Eunhyuk yang tengah menatapnya sendu. “I knew,” gumamnya.

Bosan. Eunhyuk selalu saja mengucapkan kata itu setiap kali Ikha berbalik menanyainya. Ia tahu jika namja dengan tubuh bak seekor anchovy itu memang mencintainya. Tapi bisakah ada kata lain selain itu yang dapat menjelaskan semua perubahan sikapnya?

Lelah untuk berfikir, Ikha pun menarik diri mendekat pada Eunhyuk. memberinya sebuah kecupan singkat sebelum ia memutuskan untuk mandi dan mengakhiri perbincangan mereka.

“Good nite,” ucap Ikha seraya berjalan masuk ke dalam kamar tamu—bukan kamar yang biasa dipakai untuk menghabiskan malam mereka berdua.

***

“Menunggu lama?” tanya seseorang dari balik punggung Ikha.

Yeoja itu menengadah agar bisa melihat bahwa orang yang mengatakan hal tersebut memang sengaja ditujukan padanya. Ia hanya memberi sebuah senyum tipis kemudian mempersilahkan orang itu duduk.

“Yang datang terlambat harus membayar  minuman ini,” tunjuk Ikha pada secangkir soojunggwa yang dipesannya lebih dulu.

Key—teman bisnis Ikha sekaligus hoobae-nya ketika masih mengenyam pendidikan di kampusnya dulu—hanya menggeleng sambil tertawa ringan. Ia sedikit melonggarkan dasi dan melepas pautan kancing di kedua ujung tangan. Berpakaian formal bukan style-nya. Jika bukan karena bisnis, ia akan lebih memilih menjadi anak gaul Seoul dibanding harus mengurusi dokumen-dokumen.

“Kabur dari tugas?” tanya Key tepat setelah ia melihat jam tangannya. Jam makan siang sudah lewat dan sekarang ini bukanlah waktu yang tepat untuk keluar gedung karena jam pulang kerja masih tiga jam lagi.

“Ada masalah lagi dengan Eunhyuk-ssi?”

Bibir Ikha menyunggingkan seulas senyum hambar. Dari senyum itu Key bisa menebaknya. Suaminya lah yang menjadi alasan yeoja itu mengajaknya bertemu di cafe ini.

“Ada apa lagi?” selidik Key, gemas dengan Ikha yang hampir satu bulan ini mengaduh padanya perihal perubahan sikap Eunhyuk.

“Aku hanya butuh seseorang untuk menemaniku saat ini. Taerin masih sibuk dan Luna tidak bisa diganggu. Hyeoyeon dan Jia juga. Cuma kau yang memiliki sejuta waktu luang,”

Untuk ke sekian kalinya senyum Key mengembang. Meski Ikha adalah Sunbae-nya. Tapi hubungan mereka lebih tepat disebut sepasang teman, bukan hanya sekedar menjunjung tinggi rasa hormat.

“Perlu kuceritakan sebuah lelucon?”

Ikha menyesap soojunggwa-nya seraya menggeleng tak karuan. Ia masih ingat ketika Key menceritakan sebuah lelucon. Hasilnya? Ia hanya mengedipkan mata beberapa kali. Sense of humor namja yang lebih muda satu tahun darinya ini ternyata masih di bawah rata-rata.

“Lebih baik kuantar kau pulang. Cuaca semakin tak bersahabat,” ajak Key lalu menatap langit Seoul yang semakin meredup terhalang awan pembawa salju.

Ikha ber-puh pelan. Maksud dirinya memanggil Key itu untuk menemani dan mendengarkan keluh kesahnya, bukan untuk mengantarnya pulang ke rumah. Hah, rumah? Mendengar kata itu justru membuat hati Ikha sedikit mencelos. Rasa enggan mulai muncul. Bahkan tubuhnya saja berteriak untuk tidak mengikuti perintah Key yang memaksanya untuk pulang sesegera mungkin.

***

Yeogihae (Sudah sampai),” pekik Key tepat setelah ia menghentikan Jaguar-nya di depan apartemen Ikha.

Namja itu hendak membuka pintu mobil hingga niatnya segera terhenti saat menemukan Ikha tengah terlelap di sampingnya. Ia tersenyum. Mungkin yeoja ini tertidur di tengah kemacetan. Yeah. Karena tertutup salju, jalanan Kota Seoul terlihat lebih padat dari biasanya.

Key menatap wajah Ikha lamat-lamat. Ia lupa bagaimana mereka bisa sedekat ini sejak beberapa bulan terakhir. Jujur saja, ia menikmatinya. Jika Ikha bisa mengenalnya lebih cepat daripada Eunhyuk, mungkin ia masih punya kesempatan untuk memiliki yeoja itu. Kira-kira seperti itulah yang ada di fikiran Key sekarang.

Dengan segenap jiwa, Key memberanikan diri mengusap permukaan wajah Ikha. Benar. Ia baru menyadari betapa yeoja yang kini ada disampingnya itu cukup mempesona. Double eyelid yang sempurna dan warna kuning langsat yang mendominasi kulitnya justru menjadi nilai plus.

Sadar, tatapan Key terhenti pada bibir Ikha yang terkatup rapat. Jiwanya kini berperang. Jarang sekali ia berada dalam posisi dan moment seperti ini. Haruskah ia memanfaatkan situasi yang ada?

Setelah beberapa menit bergumul dalam hati, Key akhirnya memutuskan. Satu kecupan mungkin tak apa. Just a kiss, not a passionate one. Dan ketika Key siap melancarkan niatnya itu, aktifitasnya langsung terhenti tatkala mendengar sebuah benda menimpa kaca depan mobilnya.

Sebuah kaleng Cola mendarat sempurna hingga air cola ikut berceceran memenuhi bagian depan mobil. Ikha mengerjapkan mata mendengar suara ribut yang berhasil membangunkan tidurnya sedangkan Key bergerak melepas seatbelt dan menghampiri orang yang telah sembarangan melempari mobilnya.

“Ya! Beraninya kau—“

BUK!

Sebuah pukulan yang cukup kencang mendarat mulus di pipi kiri Key. Namja itu mundur selangkah sambil agak membungkuk menahan sakit. Tatapan matanya sarat emosi. Ia tidak terima diperlakukan seperti itu.

“Ya! Apa yang kau—“

BUK!

Lagi-lagi orang itu memukulnya tepat mengenai pipi kanan Key. Namja itu tersungkur. Pukulan kedua dari orang itu cukup kuat hingga mampu membuat tulang rahangnya terasa ngilu.

“LEE HYUK JAE!” pekik Ikha saat ia mengetahui suaminya lah yang tengah memukul Key.

Key meringis sambil menatap Eunhyuk lebih intens. Jadi inikah namja yang bernama Eunhyuk itu? Suami dari sunbae yang disukainya? Hanya dalam sepersekian detik, Key baru menyadari mengapa namja ini memukulnya: pasti ia melihat aksinya yang hampir mencium Ikha.

“Aku sudah muak melihatmu selalu menghabiskan waktu bersama istriku. Kali ini aku tidak akan bertoleransi lagi,” desis Eunhyuk. Ia sedikit berjongkok, mengangkat collar Key kemudian memukul namja itu sekali lagi.

“LEE HYUK JAE! STOP IT!” teriak Ikha sembari menghampiri Eunhyuk, berusaha untuk menghentikannya sebelum Key akan babak belur di tangan namja itu.

Sayangnya Eunhyuk tak peduli. Sekalipun Ikha mencengkeram lengan Eunhyuk agar namja itu berhenti, ia tidak akan berhenti hingga puas membuat wajah Key penuh lebam. Eunhyuk menyeringai. Key ternyata benar-benar masih bocah. Ia bahkan tidak bisa menangkis pukulan Eunhyuk.

“HENTIKAN ATAU AKU AKAN MELAPORKANNYA PADA POLISI!” pekik Ikha untuk ke sekian kali.

Eunhyuk terdiam. Nafasnya memburu. Dilepaskannya kerah baju Key dan membiarkan namja itu tergeletak di jalanan. “Ck, kau lebih memilih membela namja brengsek ini?” dumalnya.

Ikha hanya menatap Eunhyuk tak percaya. Dihampirinya Key yang masih mengaduh menahan sakit dan hal itu justru membangkitkan emosi Eunhyuk.

“Ikut aku,” paksa Eunhyuk seraya menarik lengan kanan Ikha dan menyeretnya menjauh dari Key.

Key mencoba menahan Ikha dengan menggenggam pergelangan tangan kirinya. “Eunhyuk-ssi—“

“Ini urusanku dengan istriku, Mr. Kim Kibum. Jika kau ingin selamat, lebih baik cepat enyah dari hadapanku sekarang juga,” ucap Eunhyuk lalu menyingkirkan tangan Key yang masih terpaut dengan tangan Ikha.

Yeoja itu hanya menatap Key sejenak. Dari tatapan itu, Key dapat mencerna dua hal. Pertama, yeoja itu meminta maaf karena Eunhyuk telah memukulnya. Kedua, ia menyuruh dirinya untuk menuruti kata-kata Eunhyuk—untuk cepat-cepat menjauh atau ia akan ada dalam bahaya.

***

Mwohaneun geoya? (Apa yang kau lakukan?) Kau memukulnya, Lee Hyuk Jae! Tanpa alasan!” omel Ikha setibanya mereka di dalam apartemen.

Eunhyuk membanting pintu apartemen cukup kencang hingga terdengar bunyi debam keras. “Sejak kapan aku menjadi seorang preman yang selalu memukul orang-orang sesuka hati? Dia bertindak kurang ajar padamu!”

“Dia tidak melakukan apapun padaku!”

“ITU KARENA KAU TERTIDUR! JIKA AKU TIDAK MEMBUNTUTI KALIAN SEJAK DARI CAFE TADI SORE DAN TIDAK MELEMPAR KALENG COLA KE MOBILNYA, MUNGKIN BIBIR KALIAN SUDAH BERSENTUHAN!” Amarah Eunhyuk memuncak. Ia sudah tidak bisa menahan emosinya sedari tadi hingga akhirnya ia berteriak pada Ikha.

“Tapi setidaknya kau bisa bicarakan baik-baik dan tidak dengan otot!” sergah Ikha, masih berusaha untuk tidak terpancing emosi.

“KAU INI PURA-PURA BODOH ATAU MEMANG KAU SUDAH BODOH DARI LAHIR, CHO IKHA? APA KAU SADAR? SEJAK BOCAH TENGIK ITU MENJADI REKAN BISNISMU DAN KALIAN SERING BERTEMU, DITAMBAH LAGI FAKTA BAHWA DIA ITU SALAH SATU HOOBAE-MU, IA SELALU MENATAPMU DENGAN TATAPAN YANG BERBEDA!”

Ikha termangu. Tidak. Bukan kata-kata Eunhyuk yang membuatnya merasa seperti manusia bodoh. Ia baru sadar saat Eunhyuk menyebut namanya dengan benar. Bukan ‘Nyonya Lee’ atau ‘Lee Ikha’ yang biasa Eunhyuk ucapkan, melainkan ‘Cho Ikha’. Marga keluarga besarnya.

“Aku hanya menganggapnya rekan bisnis, teman, hoobae dan sejenisnya. Kau fikir aku ini yeoja murahan yang mau kencan dengan sembarang namja?”

“PADA KENYATAANNYA KAU MEMANG TAMPAK SEPERTI YEOJA MURAHAN! KAU TERLALU BANYAK MENGHABISKAN WAKTU DENGANNYA DIBANDINGKAN DENGANKU, SUAMIMU SENDIRI!”

Seperti pohon kelapa yang hangus karena tersambar petir, kata-kata Eunhyuk telak menohok hulu hati Ikha. Sesak rasanya, tapi Ikha bertahan dan mencoba untuk tetap sabar dan tidak terbawa suasana.

“Sebelumnya kau tidak pernah melarangku bergaul dengan siapapun. Bahkan kau selalu membebaskanku pergi kemanapun aku mau. Pertanyaannya disini adalah ‘siapa yang berubah dan siapa yang bersalah’. Kau bertindak seolah kaulah yang paling benar di dunia ini,” gumam Ikha. Suaranya agak bergetar. Kentara sekali jika ia tengah menahan tangis.

“KAU FIKIR SIAPA YANG MEMBUATKU MENJADI PRIA POSESIF SEPERTI INI? KAU, CHO IKHA! KAU!”

Eunhyuk kembali berteriak untuk meluapkan kekesalannya selama tiga bulan terakhir ini. Suaranya menggeram. Membuat nyali Ikha sedikit menciut karenanya.

“TIDAK MASALAH KAU PERGI DENGAN SUNGMIN HYUNG, RYEOWOOK, MINHO, KAI, ATAU SEDERET NAMJA LAIN YANG JUGA KUKENAL. TAPI TIDAK DENGAN BOCAH ITU! DIA ITU MENYIMPAN RASA PADAMU CHO IKHA! APA KAU MASIH TIDAK SADAR JUGA?” racaunya.

“Tidak mungkin Key menyukaiku—“

“BISA SAJA! UNTUK APA DIA DATANG KE ACARA REUNI TEMAN SATU SENIOR HIGH SCHOOL MU? UNTUK APA DIA DATANG BERSAMA TAERIN KE CAFE? UNTUK APA DIA DATANG KE FESTIVAL GANGNAM BEBERAPA WAKTU LALU? ITU HANYA MOTIF SAJA AGAR BISA LEBIH DEKAT DENGANMU!” serang Eunhyuk, menginterupsi kalimat Ikha.

“Dia tahu aku sudah memilikimu dan—“

“Siapapun bisa melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apapun yang diinginkannya bukan?” Nada suara Eunhyuk turun dua oktaf sekarang. Dadanya bergerak naik-turun. Nafasnya pun tak beraturan.

Ikha mengusap permukaan wajahnya dengan lemah. “Jangan bersikap kekanak-kanakan seperti ini, Lee Hyuk Jae.”

Eunhyuk mengerang. Jemarinya ia selipkan di antara rambut blonde-nya. Mencengkeram beberapa helai kemudian mengacak rambutnya kasar. “AKU HANYA BERUSAHA MEMPERJUANGKAN APA YANG SEHARUSNYA MILIKKU, CHO IKHA!”

Emosi Eunhyuk kembali naik. Ia mengamati Ikha dengan jarak ± dua meter darinya. Yeoja itu masih bergeming. Otot-otot di sekitar leher dan tangannya terlihat begitu kaku.

“Benarkah kau memperjuangkanku? Kukira kau sudah lupa kalau kita sudah menikah,” cemoohnya.

Eunhyuk berjalan mendekati Ikha sambil masih berusaha mengkontrol emosinya. Kedua bahu Ikha diremasnya cukup kencang. Sengaja agar yeoja itu tahu bahwa ia memang bersungguh-sungguh dengan segala ucapannya. “Sudah berapa kali kukatakan bahwa aku sangat mencintaimu, Cho Ikha? Aku tidak ingin kehilanganmu,” gumamnya.

Ikha menunduk. Tak berani melakukan kontak mata dengan Eunhyuk. “Selama ini Key selalu mendengarkanku dengan baik. Dia teman. Saat kau terlalu sibuk mengurusi apapun, Key yang selalu menemaniku dan memberi nasehat. Aku tidak terima saat kau memukulinya seperti itu tadi. Dan aku begitu bersalah karena meninggalkannya seperti itu,” jelasnya.

Seringaian Eunhyuk mengembang. “Kau masih saja membelanya meskipun aku sudah memberikan alasan?” desisnya, masih tak percaya bahwa Ikha tetap berada di pihak Key.

“Itu… tidak masuk akal. Dia temanku dan—“

“JADI KAU LEBIH MEMILIH MEMBELANYA DARIPADA PERCAYA PADAKU?” teriak Eunhyuk tepat di depan wajah Ikha. Yeoja itu menutup mata dan sedikit merengut.

“ARGH!”

Kesal, Eunhyuk pun mundur beberapa langkah dari Ikha. Meraih vas bunga yang ada di atas meja kemudian melemparnya tepat mengenai dinding yang ada dibalik punggung Ikha. Jantung Ikha bergemuruh. Entah Eunhyuk meleset atau sengaja tidak mengenainya saat melempar benda itu, yang jelas, Ikha begitu shock dan takut.

Yeoja itu bergeming. Ia baru sadar, Eunhyuk bertingkah lain. Namja itu begitu mengerikan dengan tatapan mata yang tajam serta suaranya yang menggeram seperti serigala. Persis seperti pribadi Lee Hyuk Jae ketika namja itu dulu membunuh dua orang warga asing. Ia berfikir, apakah penyakit bipolar yang diderita Eunhyuk benar-benar sepenuhnya sudah hilang dari jiwanya atau belum.

Kaki Ikha perlahan bergerak mundur. Benar, Eunhyuk nampak begitu mengerikan. Aura nya sangat berbeda. Hampir sama dengan aura Lee Hyuk Jae yang sebenarnya. Ia memang pernah berfikir bagaimana jika Eunhyuk memang belum sembuh total. Tapi apa yang dibayangkannya berbeda dengan sekarang. Seharusnya ia dulu bertanya pada Heechul perihal kesembuhan Eunhyuk lebih jauh.

Tanpa ba-bi-bu lagi, yeoja itu bergegas masuk ke dalam kamar tamu. Pintunya ia tutup cukup kencang tanpa menguncinya. Tubuh Ikha disenderkan pada daun pintu. Masih ingat di benaknya saat dulu Lee Hyuk Jae melukainya beberapa kali. Kali ini, ia merasa bahwa Eunhyuk akan melakukannya lagi.

Dari balik pintu, Ikha dapat mendengar Eunhyuk tengah berteriak sambil membanting beberapa barang. Yeoja itu terduduk di lantai, melipat kedua kakinya lalu membenamkan wajah. Ini sungguh mengerikan. Tidak pernah menyangka ia akan mengalami perdebatan hebat seperti ini dengan Eunhyuk.

***

Eunhyuk menatap seluruh sudut ruang tamu seksama. Semua berantakan akibat ulahnya. Bantal sofa, bingkai foto, hiasan di atas rak kayu dan semua yang ada disana sudah tak lagi di tempat semula. Ia meremas rambutnya dengan kencang. Seharusnya ia tidak berlaku kasar pada Ikha. Seharusnya ia tak membentak dan membuatnya ketakutan.

Damn. Hanya kata itu yang sedari tadi keluar dari mulut Eunhyuk. Jika bukan karena ia memergoki Key yang berusaha bertindak senonoh pada Ikha, ia tidak akan selabil ini. Namja itu berdiri dari tempatnya. Ia harus melakukan sesuatu atau hubungannya dengan Ikha akan semakin buruk.

Eunhyuk memberanikan diri membuka pintu kamar tamu tempat Ikha menenangkan diri sekarang. Namja itu bernafas lega saat mendapati pintu tersebut tak terkunci. Perlahan, ia melangkah masuk ke dalam ruangan. Didapatinya Ikha tengah terbaring di atas tempat tidur dengan posisi memunggunginya.

Ia menelan ludah. Rasa bersalah semakin menyelubunginya. Yeoja itu memang tidak terisak, namun melihat tubuhnya yang sedikit bergetar dapat dipastikan bahwa Ikha memang sedang menangis.

Eunhyuk menghampiri yeoja itu dengan memposisikan diri berbaring tepat di sampingnya. Tangan kananya sengaja dilingkarkan pada pinggang Ikha kemudian mendekap yeoja itu dari belakang. Wajahnya ia benam pada leher yeoja-nya kemudian menghirup wangi tubuh yeoja itu yang begitu ia rindukan.

“Mianhae,” bisiknya di telinga Ikha. Yeoja itu bergeming. Tubuhnya masih bergetar menahan tangis.

 “Please, Honey. Jangan menangis. Aku semakin merasa bersalah,” gumamnya, berusaha menenangkan Ikha.

Eunhyuk semakin mengeratkan pelukannya hingga tubuh mereka saling bersentuhan. Wajahnya pun semakin ia benamkan di leher Ikha. “Aku memang kekanak-kanakan, aku juga sudah bertindak kasar padamu. Aku menyesal. Aku menyesal, Kha-ya. Please, forgive me.” bujuknya.

Ikha, bagaimanapun juga dia tetap akan memaafkan Eunhyuk. Ia tahu bahwa namja-nya itu tidak akan bertindak kasar padanya mengingat betapa besar rasa sayang Eunhyuk padanya. Hanya saja, perdebatan tadi membuatnya takut. Takut jika Eunhyuk akan memiliki dua kepribadian lagi.

Satu tangan Ikha menggenggam tangan Eunhyuk yang melingkar manis di pinggangnya. Bibirnya bergetar. “Apa yang harus kulakukan agar kau percaya padaku, Oppa?”

Eunhyuk kembali mengeratkan pelukannya. “Tidak. Kau tidak perlu melakukan apapun. Aku yang salah. Aku tidak bisa mengendalikan emosiku,”

Kemudian Eunhyuk melepas rangkulannya. Ia memutar tubuh Ikha agar berhadapan dengannya. Yeoja itu setengah menutup mata. Kedua tangannya bergerak menutup mulutnya sendiri dengan maksud agar isakannya tidak semakin menjadi. Mata dan pipinya sudah basah akibat air mata yang sedari tadi berjatuhan.

Mianhae. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Jangan takut padaku, Kha-ya. Kumohon,” pinta Eunhyuk. Jemarinya bergerak mengusap air mata Ikha yang kembali berjatuhan. Selama ini ia selalu tahu bahwa Ikha adalah yeoja yang kuat dan jarang menangis. Saat melihatnya menangis seperti ini, ia baru sadar bahwa yeoja ini begitu rapuh.

Ikha melingkarkan tangannya di leher Eunhyuk kemudian memeluknya erat. Namja itu pun sama, ia memeluk Ikha hingga tak ada ruang tersisa antara mereka berdua.

“I love you,” bisik Ikha. Tangisnya tak lagi pecah. Ia begitu bahagia saat Eunhyuk menghampirinya dan meminta maaf. Padahal ia sudah memikirkan hal terburuk pasca pertengkaran barusan, yaitu perceraian.

“So do i,” balas Eunhyuk.

Ikha melepas pelukannya kemudian menatap kedua mata Eunhyuk lekat-lekat. Kedua telapak tangannya menempel di kedua pipi Eunhyuk. Membuat namja itu sempat memejamkan mata menikmati sentuhan Ikha yang sudah lama tak dirasakannya. “Kau adalah pilihan terakhirku, Honey. Kumohon jangan mengecewakanku seperti yang telah Donghae lakukan padaku,” bisik Ikha.

Eunhyuk mengangguk pelan. “Never,”

Dan hanya hitungan detik, namja itu segera mendaratkan bibirnya pada bibir Ikha. Agak aneh memang dengan posisi mereka yang seperti ini—berbaring di tempat tidur dimana tubuhnya menghimpit Ikha dari atas. Tapi Eunhyuk mencoba untuk menikmati keadaan. Bagaimanapun juga, ia sangat ingin menyentuh Ikha.

“Berjanjilah bahwa kita harus saling berbagi dalam hal apapun. Jika kau ingin aku menjauh dari Key, aku akan melakukannya. Asal kau bilang padaku alasannya. Selama ini kau terus bungkam. Aku tak pernah menyadari jika Key menyukaiku karena aku memang hanya menganggapnya sebagai teman. Tidak lebih,” jelas Ikha setelah mereka melepas ciuman singkatnya.

Arayo. Arayo. Aku percaya padamu. Aku akan merubah sikapku.” ucap Eunhyuk. Bibirnya mengembangkan sebuah senyum tipis. Senang rasanya bisa berbaikan dengan Ikha.

“Mianhae, Honey.” Gumam Ikha terlebih dulu.

“Na ddo,” balasnya.

Eunhyuk mencium Ikha untuk kedua kalinya. Hanya beberapa detik saja kemudian namja itu melepaskannya. “Aku ingin kita melakukannya,” tukasnya.

Ikha merengut. Tak mengerti dengan maksud perkataan Eunhyuk.

Eunhyuk merapihkan beberapa helai rambut Ikha yang melekat di sekitar pipinya kemudian menyelipkan dibalik telinga. “Benar. Seharusnya dari dulu kita melakukannya. Selama ini kau pasti selalu ragu padaku. Terutama rasa sayangku padamu. Setelah tadi berfikir cukup keras, akhirnya aku sudah memutuskan,”

Setelah Eunhyuk berhenti bicara, Ikha baru menyadari apa maksud Eunhyuk. Matanya membulat. Semoga ia tidak salah dengar dengan permintaan Eunhyuk yang notabene sulit ia dapatkan. “Aku tidak akan memaksa jika kau memang tak mau,” tolak Ikha.

“Setidaknya jika kita melakukannya, aku akan lebih tenang saat kau pergi dengan pria manapun. Aku harus memilikimu seutuhnya agar tak ada keraguan lagi di antara kita,” tandas Eunhyuk.

Mata Ikha mulai berkaca-kaca. Ia tidak bisa mengekspresikan perasaannya sekarang ini. “Gomapta, Honey.” Ucapnya terbata-bata.

Eunhyuk melempar senyum manisnya pada Ikha. Ia kembali memperkecil jarak di antara mereka kemudian melumat bibir yeoja-nya sepuas hati. Saking bersemangatnya, Eunhyuk berguling dari tempatnya dan kini posisinya terbalik. Ikha yang menimpah tubuh Eunhyuk.

“Beri tahu jika aku melukaimu,” bisik Eunhyuk di sela ciuman mereka dan dijawab oleh sebuah anggukan kecil dari Ikha.

Mereka pun kembali berciuman. Mereka bahkan lupa jika setengah jam yang lalu sempat bertengkar hebat. Saat tangan Eunhyuk mulai nakal mengelus punggung Ikha, yeoja itu melepaskan tautan bibirnya lalu menatap tajam ke arah Eunhyuk.

“Wae?” tanya Eunhyuk.

“Kau tidak ingin menutup pintu terlebih dahulu?” tanya Ikha. Kedua tangannya ia letakkan di dada Eunhyuk saat namja itu memaksanya untuk memberikan sebuah ciuman lagi.

“Untuk apa?” rajuknya, malas.

“Aku tidak ingin pembaca blog ini memperhatikan kita,” pintanya sambil melancarkan sebuah aegyeo pada  Eunhyuk.

Namja itu memutar bola mata sambil tertawa renyah. “Baiklah. As you wish, Honey.

Ikha menurunkan tubuhnya dari atas tubuh Eunhyuk agar tidak menghalangi namja itu bergerak menuju pintu. Eunhyuk melepas kemeja yang sedari tadi dipakainya lalu dibuang ke sembarang tempat. Ia juga sempat meregangkan otot-otot tubuhnya hingga menampakan chocolate abs-nya yang bisa membuat para yeoja mengeluarkan darah dari hidung mereka.

“Jangan harap kalian bisa melihat apa yang akan kami lakukan nanti,” goda Eunhyuk pada kalian—para pembaca FF ini. Ia menyeringai sambil mengedipkan sebelah mata sebelum akhirnya menutup pintu kamar lalu menguncinya rapat.

END

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

123 thoughts on “MY NAME IS LEE HYUK JAE “Epilog””

  1. Aku kira di epilogue ini isinya romantic semua. Eh ternyata ada sedikit adegannya hihi.. Yayaya itu pintu kenapa ditutup aish, kan lumayan nonton live-nya ahahaha..

    Yaudah lah, eon selamat bersenang-senang /muka lesu, bawa Kyuhyun ke kebun binatanga #lha :D\

  2. Ige mwoya?? Aq juga mau ikutan…*lempar ikha ke selokan, bejek2.. Wuahaha. Eunyuk-ah. . . (sambil kdpin mata) “im sexy”.

    Huahaha. Peace.

    Wuah slesai juga bca. G0mawo pw nya. ^^

  3. ahhh hyukjae aku mau liaaaaattt ^_^

    gomawo chingu PW nya, ff nya daebak!! lain dr yg lain! tapi part 12 ga bisa dbuka sma 2 PW itu yaa?

  4. finally selesai baca iniiii… makasii author-nim udah kasi pw nya :3 unbelieveable bgt endingnya jadi kaya gini. daebakkk >< im waiting for exo planet ya author-nim :3

  5. Eonni.. DAEBAKKKKK…

    Mianhe baru koment dan Mianhe karena aku komentnya di sini aja…

    Sumpah eon, bahasanya keren bangettt,
    Ide ceritanya Keren..

    Sebelumnya aku juga ada baca Cerita tentang kepribadian ganda karya mbak Santhy Agatha.. tapi di karya mbak Santhy Cashnya sampe ending tetap mempunyai dua kepribadian.

    Dan jujur, karena terinspirasi aku pengen bikin FF yang kek gitu -tentang kepribadian ganda- ehhh nemu FF ini… kagag jadi deh bikinnya…

    Pokoknya Daebak eon FFmu..

    Aku tunggu FF Mermaid.nya eonni..

    Fighting ^^

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s