MY NAME IS LEE HYUK JAE “Chapter 12” [END]

FF - My name is lee hyuk jae - NewSore itu suasana rumah Keluarga Cho terasa lebih gaduh dari biasanya. Pak Jung —supir pribadi Tuan Cho— dan Hwang Ahjumma terlihat begitu sibuk mondar-mandir di sekeliling rumah. Tak lupa Nyonya Cho juga ikut berteriak tak jelas seperti menyuruh seseorang meletakkan vas bunga baru di atas meja makan atau sekedar mengganti taplak meja.

Bola mata Ikha bergerak ke kiri dan ke kanan seiring perubahan posisi Hwang Ahjumma. Wanita yang sudah genap berumur empat puluh tahun itu nampak kebingungan menuruti semua kemauan Nyonya Cho. Ikha menghampiri eomma-nya yang terlihat sedang berkutat dengan double-pan sambil mengaduk sesuatu di dalamnya.

“Apa ada acara spesial?” sahut Ikha setelah menyapa eomma-nya terlebih dahulu. Diraihnya gelas kaca yang ada di dalam kitchen set kemudian mengisinya dengan air mineral. Kerongkongannya serasa terbakar lantaran harus berdesakkan dengan orang-orang di dalam bus sepulang dari tempat kerjanya.

Nyonya Cho hanya melirik sekilas seraya melanjutkan kembali mengaduk Pasta Udang yang tengah dibuatnya. “Seseorang akan datang. Apa Kyuhyun tidak memberitahumu?”

Ikha menggedikkan bahu. Tak peduli sedikitpun.

“Kyuhyun baru saja datang dari apartemennya. Sambil menunggu Appa dan tamu kita, sebaiknya kau istirahat dan mandi,” suruh Nyonya Cho, mengusir Ikha secara halus.

Yeoja itu hanya berdeham lalu meletakkan gelas di atas meja, meninggalkan eomma-nya yang masih sibuk dengan urusannya. Sebelum menaiki tangga menuju lantai dua, Ikha sempat melirik ke ruangan Kyuhyun. Benar saja, kakak sulung —dan satu-satunya itu— sedang asik menatapi layar tablet Apple-nya.

Ikha membuka pintu ruangan Kyuhyun lebih lebar. Menjatuhkan dirinya disamping Kyuhyun tepat setelah ia memeluk dan memberinya sebuah kecupan manis di pipi. Namja itu hanya berdeham pelan. Tidak merasa risih sedikitpun karenanya. Mereka sudah lebih akrab sejak tiga bulan terakhir dan baginya hal itu terasa sangat menyenangkan. Ternyata kebiasaannya dulu yang selalu membuat Ikha marah hanya membuang-buang tenaga saja.

“Bagaimana hari-harimu di tempat kerja yang baru?” tanya Kyuhyun seraya melepas kacamata Harry Potter miliknya.

“Menyenangkan,”

“Kenapa tidak bekerja di perusahaan Appa? Gajinya lebih besar dan kau bisa mendapatkan kehormatan dengan mudah,”

Ikha mengeluarkan tawa renyahnya sambil menyikut perut Kyuhyun. “Alasannya sama persis dengan alasan mengapa kau tidak ingin bekerja di perusahaan Appa dan lebih memilih menjadi psikiater,” tuturnya.

“Kudengar akan ada tamu di rumah. Nugujyo? (Siapa orangnya?)” tanya Ikha, menyambung perkataan sebelumnya.

“Tebak saja,” goda Kyuhyun.

“Seohyun?”

Ani,”

Anijyo? (Bukan?) Oh, kukira Keluarga Seohyun datang kesini untuk membicarakan hari pernikahan kalian. Eomma bilang kau tahu siapa tamu penting yang akan datang,” oceh Ikha sambil membenahi tata rambutnya.

“Eunhyuk Hyung dan Heechul Hyung baru saja datang dari England. Mereka akan mampir kesini,” ucap Kyuhyun enteng.

“Oh,”

“Kau tidak terkejut sama sekali?”

Ikha mendengus seraya menyeringai. “Untuk apa terkejut? Namja itu seolah ditelan bumi ketika pergi ke luar negeri. Sungguh menyebalkan!”

“Kukira kau merindukannya,” ejek Kyuhyun sembari menarik beberapa helai rambut Ikha hingga yeoja itu meringis.

Tsk, jangan menggodaku lagi Cho Kyuhyun.” omelnya. Ia berniat untuk segera pergi dari ruangan Kyuhyun atau obrolan mereka akan semakin melantur kesana-kemari.

“Eunhyuk Hyung bilang kalau dia sudah tidak sabar ingin menemuimu,”

“Lalala~ I don’t wanna hear that!” ucap Ikha setengah berteriak.

Yeoja itu sempat ber-mehrong ria pada Kyuhyun sebelum benar-benar menutup pintu ruangan. Di tengah langkahnya menuju lantai dua, yeoja itu berfikir keras. Eunhyuk a.k.a Lee Hyuk Jae. Namja yang seperti dikatakannya barusan —seperti di telan bumi— itu akan datang ke rumahnya dalam hitungan menit.

Oke. Jujur saja dia memang ingin sekali menemui namja berparas tengil itu. Namun ia harus menjaga harga dirinya bukan? Eunhyuk sama sekali tidak memberi kabar selama pergi melanglang buana di negeri orang dan ia akan muncul di hadapannya tanpa rasa bersalah? Rrrr~ faktanya memang mereka tidak terikat dalam suatu hubungan spesial. Tapi Ikha kira selama ini Eunhyuk menganggapnya ‘special’ dan ternyata terkaannya meleset. Jika memang ia begitu spesial bagi Eunhyuk, mengapa namja itu tidak menghubunginya? Apa karakter Lee Hyuk Jae kembali muncul sehingga sifat ‘playboy’ dan ‘liar’-nya menguap ke permukaan? Hah! Nonsense!

Ikha merogoh kantung blazer Sapphire Blue miliknya lalu mengambil ponsel Samsung yang baru didapat dari hasil kerjanya dua bulan terakhir. Nama-nama yang berderet pada phonelist sempat ia absen satu-per-satu hingga akhirnya menemukan orang yang cocok—yang dapat membantunya saat ini.

“Yeoboseyo? Han Taerin-ssi?”

***

Siang itu, untuk ke sekian kalinya Ikha menguap. Beruntunglah hari ini hari Sabtu. Jadi ia tidak perlu di cap jelek oleh CEO perusahaan tempatnya bekerja karena terlalu banyak menguap. Ini gara-gara kemarin ia tidak mengikuti acara makan malam keluarga Cho dan memilih untuk kabur ke rumah Taerin—teman satu kantornya. Alasannya hanya satu: menghindari Eunhyuk.

Hari ini yeoja itu harus pergi ke universitasnya untuk mengambil transkip nilai. Ia terlalu sibuk dan tidak sempat mengunjungi kampus. Nyonya Cho tidak mau menggantikannya mengurus hal-hal berbau ke-mahasiswa-an. Apalagi Kyuhyun?

Ya! Kudengar yeoja yang menjadi pusat perhatian orang Korea saat ini adalah salah satu mahasiswi di fakultas kita,”

Yeah, kebiasaan Luna yang tidak pernah hilang selama tiga tahun terakhir ini—bergossip ria kapanpun dan dimanapun. Sepanjang perjalanan menuju tempat parkir kampus, mulutnya tidak pernah berhenti mengatakan hal-hal baru yang diketahuinya dari media. Jujur saja, hal itu membuat Ikha jengah.

“Aku tidak mengerti maksudmu, Luna-ya.” dengus Ikha, sama sekali tidak tertarik dengan perbincangannya.

Aish, masa kau tidak tahu? Psikopat yang sempat di bahas oleh KBS kemarin sore, Kha-ya. Namja yang hampir mirip artis Kpop!” oceh Luna.

Ikha melirik sekilas pada Luna tanpa mengurangi sedikitpun kecepatan langkah kakinya. “Nugu? Yang aku tahu, Presiden kita sedang melakukan negosiasi dengan Presiden Korea Utara mengenai bom nuklir. Selain itu, berita lain yang menyita perhatianku hanya berita Jessica SNSD yang ketahuan makan bersama dengan Taecyeon 2PM,”

Luna mendelik. “Cheeze. Kau ini manusia udik atau apa Cho Ikha? Namja psikopat itu kini jadi perbincangan seluruh yeoja di Seoul,”

“Siapa yang kau maksud itu, Luna-ya? Aku jarang menonton TV akhir-akhir ini,” ucap Ikha, masih sesantai tadi.

“Lee Hyuk Jae,”

Langkah Ikha terhenti selama beberapa detik saat Luna menyebut nama itu. Tak lama ia segera melanjutkan kembali dan menyetarakan langkahnya dengan langkah Luna. Ini pasti efek dari pekerjaan over-time-nya hingga ia tak sempat menonton berita atau sekedar searching di google. Semenjak ia resmi lulus dari universitas tiga bulan lalu, ia tak lagi bersantai-santai seperti yang biasa ia lakukan ketika masih menyandang gelar ‘mahasiswa’.

“Oh,” Hanya itu respon dari Ikha.

Luna menyesap Ice Blended Vanilla Latte di tengah langkah kakinya. “Kau mengenalnya?”

Anio,” jawab Ikha secepat kilat.

“Sungguh? Aigoo, mentang-mentang sudah memiliki tunangan jadi kau sama sekali tidak melirik namja lain? Ya! Asal kau tahu, Kha-ya. Namja itu benar-benar tampan. Aku bingung, mengapa namja setampan dia bisa memiliki kelainan jiwa seperti itu,”

Luna terus mengoceh tentang Eunhyuk sampai-sampai Ikha berniat untuk membekap mulut yeoja yang lebih pendek darinya itu menggunakan sarung tangan yang dipakainya. Mungkin karena ia jarang bertemu dengan Luna akhir-akhir ini jadi chinan-chingu-nya yang satu ini tidak mengetahui perihal hubungannya dengan Donghae.

“Kau tahu bagaimana rupa wajahnya?” tanya Ikha, sekedar mengetes pengetahuan Luna.

“Tentu saja. Aku sangat mengaguminya. Dan yeoja yang berhasil mengungkap semua misteri kehidupannya juga tak luput dari perbincangan media. Beruntung sekali yeoja itu,” tuturnya bersemangat.

Ikha mendengus seraya mengeluarkan smirk-nya. Tak disangka jika pemberitaan mengenai Eunhyuk dapat menyebar sejauh ini. Well, setidaknya ia harus berterima kasih pada Byeongman. Identitasnya masih disembunyikan.

“Apa namja itu sempat diwawancarai?”

Luna mengangguk mantap. “Ne. Exclusive!! Tapi namja itu tidak banyak bicara. Namja bernama Kim Heechul yang selalu menjawab semua pertanyaan reporter. Yang jelas, dia mengungkapkan rasa terima kasihnya pada yeoja yang telah menyelamatkan hidupnya.”

Sudut bibir Ikha tertarik hingga membentuk senyum tipis. Ternyata Eunhyuk merasa berhutang budi padanya. “Kau tahu kapan mereka shooting acara tersebut?”

“Mmm, acara itu disiarkan secara live,” jawab Luna seraya menyesap kembali Vanilla Latte-nya.

Ikha berfikir sejenak. Disiarkan secara live? Berarti Eunhyuk melakukan sesi interview bersama Heechul tepat sebelum mereka datang untuk kunjungan makan malam. Yeoja itu terus termangut. Untuk apa namja itu mempublikasikan diri sebagai si ‘psikopat’? Bukankah Eunhyuk sangat tidak menyukainya?

Belum selesai fikiran Ikha bertanya-tanya, langkahnya segera terhenti saat ia dikejutkan oleh kehadiran seseorang. Yeoja itu menelan ludah ketika orang tersebut menyunggingkan senyum manisnya sambil melambaikan tangan. Ikha mendengar suara Luna yang membisikkan sesuatu padanya. Tapi sepertinya semua panca indera Ikha berubah passive saat kedua matanya menangkap sosok yang sudah lama tak ditemuinya.

“What are you doin’ here?” tanya Ikha tepat saat orang itu bergerak mendekatinya.

Sebenarnya Ikha sengaja mengucapkan kalimatnya menggunakan Bahasa Inggris. Seingatnya, Eunhyuk sama sekali tidak mengerti bahasa lain selain Hangul. Kesempatan ini sangat bagus baginya untuk menghindar dari Eunhyuk. Sayang, lagi-lagi dugaan Ikha meleset. Eunhyuk malah sedikit membungkukkan tubuh lalu kedua tangan mulusnya mendarat di pipi Ikha, mencubit kedua bagian tubuhnya yang berbentuk seperti jello hingga yeoja itu mengaduh.

“I miss you so bad, Miss Cho. Don’t you miss me?” ucap Eunhyuk, membuat Ikha berubah shock. Sejak kapan namja ini mengenal Bahasa Inggris?

Perhatian Eunhyuk beralih pada Luna yang kini seperti patung Liberty. Bedanya ia tidak sedang memegang obor, melainkan cup berisi Ice Blended Vanilla Latte. “Oh, apa ini salah satu teman baikmu?” tanyanya sesopan mungkin.

Luna menganggukkan kepalanya pelan-pelan tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya pada Eunhyuk. Merasa bahwa mendapat perhatian lebih, Eunhyuk pun meraih tangan Luna yang bebas seraya mengecup punggung tangan yeoja itu, membuat Luna semakin menganga.

“Nice to meet you, Young Lady.” Ucap Eunhyuk.

Luna hanya ber-ah-oh tidak jelas. Bahkan kata ‘gamsahamnida’ yang sempat dilayangkannya terdengar seperti kata-kata makian karena Luna mengucapkannya seperti orang yang kesurupan. Ikha memutar bola mata. Menurutnya adegan ini terlalu mendramatisir. Yeoja itu meringis kemudian hendak beranjak sebelum akhirnya Eunhyuk menahan kepergiannya.

“Aku sengaja menemuimu jadi jangan menghindar lagi,” kilah Eunhyuk.

Namja itu mengusap permukaan wajah Ikha menggunakan ibu jari. Setelahnya ia membisikkan sesuatu pada Ikha bahwa dirinya akan menunggu di dalam mobil. Eunhyuk tahu jika Ikha tidak membawa kendaraan sama sekali. Kesempatan itu tidak akan disia-siakan.

“Apa dia itu namja yang kau lihat di televisi?” gumam Ikha pada Luna yang masih mematung menatap kepergian Eunhyuk.

“Bagaimana kau—“

Belum selesai berucap, Ikha segera melanjutkan langkahnya dan memilih untuk tidak menghiraukan Luna. Tadinya dia ingin lari kemanapun asal tidak pada Eunhyuk, tapi insting kemanusiaannya kali ini berkata lain. Melihat penampakan Eunhyuk yang tiba-tiba justru membuat rasa rindunya bergejolak. Untung ia bisa mengontrol diri, jika tidak, mungkin ia sudah memeluk Eunhyuk sambil memakinya sepuas hati.

 “YA! CHO IKHA!” teriak Luna, berusaha mendahului Ikha yang semakin menjauh.

“TUNGGU! LALU BAGAIMANA NASIB TUNANGANMU ITU??”

***

Sudah lima menit Ikha habiskan hanya untuk memandangi gedung-gedung dan juga beberapa pohon yang melintas di matanya. Kedua tangannya terlipat di dada. Namja yang tengah memegang kendali mobil disamping kirinya seperti tidak menyalakan heater. Hawa dingin dari AC mobil berhembus menerpa kulitnya.

Yeoja itu mendelik ke arah Eunhyuk. Bola matanya berputar saat mendapati namja berambut cokelat kepirangan yang terus saja terenyum sambil memandangi jalanan. Sesekali namja itu juga memamerkan gigi dan gusinya.

“Aku tidak suka melihat senyummu,” ketus Ikha setengah bergumam.

Wae? (kenapa?)” tanya Eunhyuk, mencari penjelasan.

“Menjijikan,” sungut Ikha.

Jeongmal? (Benarkah?)” goda Eunhyuk. Suaranya sengaja dibuat-buat.

Ikha kembali mendelik. Namja disampingnya ini benar-benar menyebalkan.

“Aku suka gaya rambutmu—“ timpal Eunhyuk. Ia memutar kepalanya pada Ikha hanya beberapa detik karena takut-takut malah menabrak trotoar. “—mengingatkanku ketika pertama kali kita bertemu,” imbuhnya.

Yeoja itu mengeluarkan nafas kesalnya dari hidung sehingga terdengar seperti seekor kerbau Argentina yang siap menyerang matador. Tubuhnya ia geser mendekati pintu mobil. Sudah berapa kali namja itu mengeluarkan kata-kata ‘sok merayu’-nya? Oke, dia memang baru saja memangkas rambut panjangnya menjadi sebatas bahu. Tapi bisakah Eunhyuk mengatakannya dengan cara yang biasa saja? Rasanya dekat-dekat dengan Eunhyuk membuat kulitnya gatal-gatal.

“Kau tidak menanyai kabarku atau apapun?” selidik Eunhyuk.

“Kau terlihat baik-baik saja,”

“Dari luar mungkin iya,”

Ikha memutar bola mata. Menerka-nerka apa yang ada di balik ekspresi Eunhyuk. Namja itu masih saja mengemudikan mobil dengan santai. Dan hal itu justru membuat Ikha terpaku. Harus ia akui, Eunhyuk memang tampan.

Ikha berdeham sejenak untuk membuyarkan fikirannya. “Kau juga terlihat makin kurang ajar,” ucapnya—lebih tepatnya menghina.

“Oh, kalau itu aku mengakuinya.” Jawab Eunhyuk dengan bangga.

Ikha berdecak sambil menggelengkan kepala. “Antar aku pulang,”

“Tentu,”

Lagi. Yeoja itu memutar bola mata sambil mengeluh. “Cheeze, kenapa kau berubah jadi sangat menyebalkan, Eunhyuk-ssi?” rutuknya.

“Aku lebih suka dipanggil Lee Hyuk Jae,” ucap Eunhyuk tepat setelah Ikha menyelesaikan kata-katanya—tanpa jeda sedikitpun.

Eunhyuk menyeringai. Ia melirik sekilas pada Ikha dan kembali memperhatikan rambu lalu lintas. “Kalau aku tidak sedang menyetir, mungkin saat ini aku sedang mengamati wajahmu.”

Kepala Ikha menggeleng pelan. “Omong-kosong,”

“Kau memang lebih cantik ketika sedang marah,” goda Eunhyuk lagi.

Ikha mengerucutkan bibir. Sebaiknya ia tidak mengatakan apapun atau Eunhyuk akan mematahkan semua perkataannya. Ia kembali memandangi apapun yang melintas di hadapannya daripada melayani Eunhyuk—yang notabene serasa seperti sedang mengejeknya.

“Kalau kau mengerucutkan bibir seperti itu, aku jadi ingin me—“

“Geumanhae! Geuman!” desis Ikha, memotong ucapan Eunhyuk. Namja itu terkekeh. Senang rasanya bisa menggoda Ikha lagi setelah sekian lama ia belajar bisnis di luar negeri bersama Heechul.

“Terlalu lama tinggal di Paris ternyata membuatmu berubah jadi ‘manusia gombal’!!” rutuk Ikha.

Eunhyuk menggedikkan bahu. “It’s ok. Selama terus menggombalimu dengan kata-kata romantis di sisa hidupku, aku bersedia.”

Refleks Ikha memegangi perutnya. Mendengar kata-kata gombal yang dilayangkan Eunhyuk membuatnya serasa ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya (baca: mual).

***

Sesampainya di rumah, Ikha disambut oleh beberapa anggota keluarga. Heechul terlihat berada di antara mereka. Namja yang masih saja terlihat cantik itu memberi sebuah pelukan hangat pada Ikha kemudian menariknya ke taman belakang rumah untuk bicara empat mata. Awalnya Ikha menolak, tapi akhirnya menurut juga. Setidaknya mengobrol dengan Heechul lebih baik ketimbang digombali Eunhyuk atau bergossip ria bersama sepupu-sepupunya yang tak tahu malu—sebut saja Key dan Jonghyun.

“Bagaimana kabar Oppa?” tanya Ikha, mengawali perbincangan.

“Sangat baik. Kau sendiri? Sepertinya kau sedikit lebih kurus,”

Ikha mencibir. Kurus? Ia lebih suka disebut berisi. “Temanku menonton acara ketika kau dan Eunhyuk diwawancarai di KBS,” ucapnya.

“Kau tidak melihatnya?”

“Aku terlalu sibuk,”

Heechul memposisikan diri duduk pada salah satu bangku taman. Ikha pun mengikutinya. “Aku tidak lagi menjadi psikiater di rumah sakit. Posisiku digantikan oleh Kyuhyun,”

“Lalu? Bagaimana nasibmu?”

“Aku menjadi penasehat Eunhyuk. Lebih tepatnya aku mengangkatnya menjadi bagian dari keluarga Kim,”

Ikha memutar tubuhnya menghadap Heechul yang duduk tepat disampingnya. Matanya membulat. “Jinjjayo? (Benarkah?)”

Heechul mengangguk pelan. Membenarkan statement-nya. “Eunhyuk sangat percaya padaku jadi aku membantunya belajar beberapa hal di luar negeri sekaligus mengambil alih semua perusahaan orang-tua Eunhyuk ke tangannya,” tuturnya.

Mulut Ikha bergerak membentuk huruf O. Ternyata masih banyak hal yang tak diketahuinya mengenai kehidupan Eunhyuk yang baru. Well, apa besok ia harus memanggilnya Kim Eunhyuk? atau Kim Hyuk Jae?

“Sepertinya ada yang ingin bicara denganmu,” ucap Heechul. Pandangannya terarah pada Eunhyuk yang tengah berdiri tak jauh dari mereka. Namja itu menyusupkan kedua tangan kedalam saku celana. Nampak sangat maskulin.

Belum sempat Ikha berkata, Heechul segera menepuk pundak Ikha lalu meninggalkannya. Membiarkan Eunhyuk menggantikan posisinya—duduk disamping Ikha. Yeoja itu menelan kembali kata-kata yang ingin ia lontarkan pada Heechul. Eunhyuk lagi-lagi berhasil membuatnya seperti seorang budak yang takut melakukan apapun.

“Aku tahu kau kesal karena aku tidak menghubungimu selama di luar negeri,” tutur Eunhyuk. Nada bicaranya terdengar sangat lain. Tidak sedang mengejek atau menggoda Ikha.

“Aku tidak kesal. Justru aku senang karena berhasil jauh dari namja aneh sepertimu,” elak Ikha, berbohong lebih tepatnya.

Eunhyuk menyeringai. Senyumnya pun mengembang. “Kyuhyun bilang kalau kau selalu merutuki-ku karena hal itu,”

Ikha mendengus. Digigitnya bibir bawah dengan maksud menahan kekesalannya. “Aissh, mulutnya memang harus kuplester besok-besok,” rutuknya. Mulut Kyuhyun ternyata masih harus diwaspadai.

“Alasanku untuk kembali ke Seoul hanya satu, Cho Ikha. Untuk menemuimu. Saat acara makan malam kemarin, aku sangat kecewa karena kau tidak ada. Padahal aku sudah menghabiskan waktu tiga jam hanya untuk menata rambutku,” ucap Eunhyuk panjang lebar.

Ikha menatap Eunhyuk sejenak namun kembali mengalihkan perhatian ke arah lain saat mendapati namja itu ternyata tengah menatapnya intens. Ia sama sekali tidak merasa risih. Hanya saja… hal itu justru membuatnya… grogi?

“Berhentilah mengatakan hal-hal seperti itu,”

“Aku serius,” kata Eunhyuk tegas.

Sedetik kemudian, Eunhyuk merogoh kantung celananya. Sebuah benda berbentuk kubus berwarna Sapphire Blue kini bertengger di atas telapak tangannya. Namja itu membuka kubus tersebut hingga tampaklah sebuah cincin berlapis emas putih. Tak lupa, berlian berukuran mini menghiasi puncaknya.

“Aku datang kemari untuk ini,” gumam Eunhyuk, memamerkan cincin yang masih terselip di dalam busa kubus pada Ikha.

Yeoja itu mengerutkan dahi. Bukan. Bukan karena ia keheranan melihat cincin yang nampak berkilauan di matanya, melainkan ia bingung mengapa Eunhyuk tiba-tiba memamerkan cincin itu padanya. Tapi kini Ikha menemukan jawaban dari semua kebingungannya ketika Eunhyuk melepas cincin dari sangkarnya kemudian meraih jemari Ikha dan menyematkan benda berbentuk lingkaran sempurna itu di jari manisnya.

“Aku selalu merasa bahwa kau selalu berusaha menghindariku. Karena apa Cho Ikha? Aku sudah sembuh. Aku bukan lagi namja lemah berkeperibadian ganda. Aku Lee Hyuk Jae. Namja yang tidak memiliki siapapun kecuali sebongkah cinta yang hanya akan kuberikan padamu,”

Wajah Ikha yang semula mengerut kini berubah. Bibirnya melengkung membentuk senyuman. Kata-kata Eunhyuk terdengar sangat lucu. Dan ia baru sadar, ini pertama kalinya ia tersenyum sejak kembalinya Eunhyuk dari England.

“Siapa yang mengajarimu mengucapkan kata-kata itu?”

“Hmm, Heechul Hyung.”

Ikha kembali tersenyum. “Aku—“ Ia mengusap permukaan cincin yang kini tersemat diantara jemarinya. “—aku tidak tahu persis apa yang kurasakan saat ini, Eunhyuk-ssi. Ini terlalu cepat dan terburu-buru,”

Eunhyuk meraih tangan Ikha, mengenggam seluruh jemarinya dan menyalurkan sedikit kehangatan di tengah hembusan angin malam yang menerpa kulit mereka. “Aku tahu kau sebenarnya menyukaiku. Tak peduli seberapa besar rasa suka atau rasa cinta yang ada dalam dirimu, yang penting setidaknya masih ada ruang bagiku disana.”

Lagi-lagi Ikha tergelak. Harusnya ia bahagia karena seorang namja kini tengah berusaha bersikap romantis di hadapannya. Hanya saja, sudah lama ia tidak digombali oleh namja. Terakhir? Ya, Donghae yang melakukannya.

Eunhyuk memainkan beberapa helai rambut Ikha. Wajah mengejeknya tak lagi mendominasi. Ia terlihat lebih serius. Hal itu membuat Ikha membungkam mulut. Sepertinya ia tertawa di waktu yang salah.

“Apakah dulu abeonim itu seorang penjual kalender?” tanya Eunhyuk. Kedua matanya bergerak menjelajahi setiap inchi wajah Ikha.

Yeoja itu mengerutkan alis. “Ani. Waeyo?”

“Karena beliau sudah menetapkan tanggal pernikahan kita,” ujar Eunhyuk.

Alis Ikha masih mengerut selama beberapa saat. Ia masih belum bisa mencerna apa maksud di balik kata-kata Eunhyuk. Setelahnya yeoja itu mengeluarkan tawa menggelegar. Ia baru sadar, Eunhyuk sedang meng-gombalinya. Lagi!

“Abeonim dan Eomonim sudah menyetujuinya. Aku hanya tinggal menunggu jawaban darimu,”

Bola mata Ikha membulat. Mulutnya bergerak seolah sedang mengucapkan kata ‘mwo’ sambil menyipitkan mata. Lancang sekali Eunhyuk sudah meminta izin pada eomma dan appa-nya untuk meminangnya? Eunhyuk mengangguk pelan saat melihat ekspresi Ikha. Dia tahu, yeoja itu pasti terkejut mendengar pengakuannya.

“Beri aku waktu,” gumam Ikha. Wajahnya ia palingkan ke arah lampu taman rumahnya yang bersinar remang-remang.

“Tentu,”

Eunhyuk meraih dagu Ikha. Sedikit menariknya agar yeoja itu menatap ke arahnya. Sedetik kemudian, Eunhyuk mendekatkan wajahnya pada Ikha, menempelkan bibir masing-masing selama beberapa saat. Namja itu hanya sekedar menempelkan bibir, tidak menciumnya lebih dalam.

“I’ll be waiting,” bisik Eunhyuk di telinga Ikha kemudian pergi meninggalkan yeoja itu sendirian di taman. Terpaku akibat perlakuan Eunhyuk yang… yah, ia sendiri tak tahu harus mengungkapkannya seperti apa.

***

Suasana di dalam ruangan itu begitu sepi. Hanya terdengar bunyi ketukan yang dihasilkan ujung heels Ikha. Hampir tujuh menit ia menunggu dan orang yang ditunggunya tak kunjung datang. Yeoja itu menatap satu per satu jeruji yang menghalangi pemandangannya. Besinya sudah agak berkarat namun sepertinya petugas kebersihan sudah mengecat ulang besi-besi tersebut. Nampak dari permukaan besi berwarna hitam yang tak begitu rata.

Yeoja itu mengalihkan pandangan pada pintu yang terbuka tak jauh dari tempat duduknya kini. Urat-urat di sekitar lehernya menegang ketika tampak seorang namja yang begitu nyata di hadapannya. Wajahnya masih sama seperti dulu. Tanpa cacat sedikitpun.

“Terima kasih karena kau masih sudi menemuiku,” ucap Donghae tepat saat ia duduk di hadapan Ikha. Ia diawasi dua namja berpakaian polisi lengkap.

Ikha menatap Donghae sebisanya. Besi jeruji yang menjadi penghalang antara dirinya dan Donghae cukup mengganggunya saat ini. “Kau tahu sendiri bagaimana perasaanku padamu, Oppa.”

Sejenak Ikha membayangkan kejadian tiga bulan lalu, ketika dirinya menjadi saksi di pengadilan perihal kasus Eunhyuk. Wajah Donghae menyiratkan sebuah penyesalan, tapi sayangnya semua saksi dan bukti sudah mengarah padanya. Donghae tak bisa mengelak dan ia pun dijatuhi hukuman seumur hidup.

Arayo (aku tahu),” desis Donghae.

“Eunhyuk melamarku,” aku Ikha. Ia menunjukkan cincin yang disematkan Eunhyuk tadi malam pada Donghae.

Namja itu tersenyum tipis. “Apa kau sudah memikirkannya?”

“Aku akan menerimanya,” ucap Ikha tegas.

Donghae mengusap permukaan punggung tangannya. Wajahnya menunduk seakan tak sanggup melihat Ikha. “Aku tahu jawabanmu pasti itu,”

“Dia sangat tulus. Berbeda denganmu,” cecar Ikha, sengaja menyinggung Donghae. “Apa kau tidak pernah menyesali apa yang telah kau perbuat padaku?” tanyanya lagi.

“Aku membohongimu. Iya, ‘kan?” jelas Donghae.

Ikha mendengus. “Seharusnya aku tidak perlu mengatakan hal ini padamu. Toh selama ini kau tidak memiliki rasa apapun padaku. Aku mengatakan hal ini karena aku ingin membuktikan padamu bahwa aku juga pantas mendapatkan kebahagiaan,”

Perasaan Ikha saat ini begitu tak menentu. Kedua matanya sudah tergenang oleh air mata. Yeoja itu menahan sebisa mungkin untuk menahan air matanya tidak jatuh. Bodoh jika Donghae melihatnya seperti ini. Bukankah baru saja ia katakan bahwa ia pantas untuk bahagia?

Ikha mengangkat tubuhnya bersiap untuk pergi. Sengaja ia menatap ke arah lain selain Donghae. “Jalani sisa hidupmu dengan baik, Oppa.”

Tepat setelah itu, Ikha pergi meninggalkan Donghae yang masih duduk di tempat kunjungan tamu tahanan. Di tengah langkah kakinya, Ikha mengeluarkan ponsel lalu mengetik sesuatu pada seseorang.

Di lain pihak, Donghae memperhatikan kepergian Ikha dari tempatnya. Yeoja itu memejamkan mata. Menahan nafasnya sejenak, kemudian menghirup udara sebanyak yang ia mampu. Udara yang ia tampung di dalam paru-parunya dikeluarkan dengan paksa. Terdengar seperti orang yang tengah putus asa.

“Kau salah,” bisik Donghae pada diri sendiri.

“Aku mencintaimu. Tepat ketika aku menyadari semua kesalahanku, Ikha-ya.”

***

Eunhyuk terlihat sedang asyik memberi makan beberapa bebek di tepi kolam kecil yang ada di Seoul International Psychological Hospital. Rasanya sudah lama ia tak melakukan kegiatan yang dulu sempat menjadi rutinitasnya setiap pagi. Setelah ditinggal kurang lebih tiga bulan, rumah sakit ini tak begitu banyak perubahan.

Kegiatan Eunhyuk terhenti saat menemukan sosok yeoja yang ditunggunya. Ia melempar sisa rempah-rempah yang ada di tangannya ke rerumputan. Membuat bebek-bebek itu tak lagi mengerumuninya. Baru saja Eunhyuk membenahi posisinya, yeoja itu datang menghampiri Eunhyuk kemudian memeluknya erat.

“Hei, ada apa ini? Kau salah minum obat?” ejek Eunhyuk seraya melepaskan pelukan Ikha.

Tanpa ba-bi-bu lagi, Ikha memberi sebuah ciuman kilat pada Eunhyuk. Si namja toh menerima saja perlakuan Ikha. Terus terang hal itu memang sangat disukainya.

“Kapan kita menikah?” tanya Ikha. Masih pada posisinya—berdekatan pada Eunhyuk sambil melingkarkan kedua tangan di leher si namja.

“Kau menyuruhku datang kemari hanya untuk menanyakan kapan tanggal pernikahan kita?” rutuk Eunhyuk.

Ikha menggedikkan bahu. “Aku hanya tidak ingin kau mencabut kembali cincin yang sudah kau pasangkan di jariku tadi malam,”

Senyum Eunhyuk mengembang. Tak lupa, ia mencubit kedua pipi Ikha dengan pelan saking gemasnya. “Aku tahu kau akan menerimaku,”

“Kau memang tahu segalanya, Mr. Lee.” Balas Ikha. Ia melepaskan pelukannya kemudian beralih memperhatikan burung-burung yang hinggap di sisi kolam ikan.

Eunhyuk meraih tangan Ikha, menautkan jemari mereka masing-masing kemudian menarik yeoja itu ke salah satu bangku taman. Ikha memperhatikan Eunhyuk dengan seksama. Namja itu terlihat lain hari ini. Kepolosan Eunhyuk mendominasi, tidak ada sorot mata ‘liar’ dan ‘kurang-ajar’ yang biasa ia pancarkan belakangan ini.

“Kuharap pilihanku kali ini memang sangat tepat,” gumam Ikha seraya merapatkan tautan jemari mereka.

“Kenapa kau harus menyuruhku datang kemari? Sekarang hari Minggu dan banyak yang sedang berkunjung ke rumah sakit ini,” omel Eunhyuk, masih tidak puas karena yeoja itu malah menyuruhnya datang kemari.

“Ingatanmu ternyata begitu kacau. Kau lupa? Tempat ini adalah tempat dimana kita pertama kali bertemu,” seloroh Ikha.

“Bodoh! Tentu saja aku tahu,” bela Eunhyuk. Namja itu sempat memajukan bibirnya namun kemudian berubah menjadi sebuah senyuman saat melihat Ikha tersenyum padanya.

“Aku membayangkan jika kau akan menerima lamaranku dengan kata-kata yang romantis dan di tempat yang bagus seperti resto atau cafe. Ternyata—“

“Setidaknya aku sempat melakukan salah satu adegan romantis tadi,” ujar Ikha.

Mwoya igeo? (Apa itu?)”

“Menciummu?”

Eunhyuk lagi-lagi tersenyum. Senyum khas-nya yang tidak dimiliki orang lain—gummy smile—justru menjadi salah satu hal yang sangat dirindukan Ikha. Namja itu meletakan tangannya yang lain di atas tautan jemari mereka, mengusap punggung tangan Ikha dengan lembut dan hati-hati seolah bagian tubuh yeoja itu seperti sebuah benda yang mudah pecah.

Gomawo. Awalnya aku tidak pernah menyangka hidupku akan berakhir seperti ini. Cerita misteri tapi berubah menjadi kisah cinta yang romantic,”

“Maksudmu bahagia?”

Eunhyuk mengangguk, mengiyakan pertanyaan Ikha.

“Kau bahagia bersamaku?” tanya Ikha setengah menuntut.

“Sudah kurasakan sejak pertama kali kita bertemu,”

Yeoja itu tersenyum. “Kau tidak tahu sifat jelekku. Berhati-hatilah,”

“Aku tidak peduli,”

Salah satu tangan Eunhyuk kini bergerak di sekitar wajah Ikha, mengusap permukaan wajah yeoja berparas oriental tersebut sambil sesekali meyelipkan helai rambutnya di balik telinga. “Kau tahu? Aku ingin segera menikah denganmu,” ucapnya—lebih tepatnya berbisik.

“Wae?”

“Setidaknya aku bisa bebas menciummu,” jawab Eunhyuk sejujur-jujurnya.

“Tanpa menikah pun kau memang selalu menciumku tanpa izin, bukan?” ledek Ikha.

Tepat setelah yeoja itu menyelesaikan kalimatnya, Eunhyuk mendaratkan bibirnya pada bibir Ikha dengan kilat. “Gotcha!” pekiknya.

Yeoja itu melepaskan tautan jemarinya kemudian memukul lengan Eunhyuk. “Ya! Kau curang!”

END

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

160 thoughts on “MY NAME IS LEE HYUK JAE “Chapter 12” [END]”

  1. Eonniii, aku reader baru disini. Salam kenal hehehe :p

    Aish, Lee Hyukjae sama Eunhyuk itu punya masing2 sifat yg aku suka deh. Kl Eunhyuk, suka deh dia polos + lugu, padahal mah aslinya….*digaplok eunhyuk*
    Kl Lee Hyukjae, dia itu cool + liar2 seksi gimanaaaa gitu *kecups basah hyukjae*

    Itu si Ikha masih ada perasaan ga sih sama Donghae? Kok kaya agak berat gitu ninggalin Donghae 😐
    Emangnya penyesalan itu selalu dateng belakangan, jatuh cinta beneran kan tuh si nemo *read: donghae* *toyor donghae* *donghae asah golok*

    Daaaan ending yang amat saya cintai, akhirnya si Eunhyuk a.k.a Lee Hyukjae bisa bahagia jugaa. Kasian udah menderita segitu lama gegara Donghae. Tapi eonni keren deh bisa bikin cerita kaya gini, aku deg2an setengah idup baca dari part 1 sampe part 11. Aku selesai baca nih ff udah jam 5 subuh aja tiba2 -__-

    Dan itu biasku satu lagi, keren banget sih dia jadi spesialis kejiwaan gitu *nyengir bareng heebum*
    Udah lama ga baca ff yang cast-nya si abang cantik nan rupawan itu *kedip2 mata*

    Eh, ini udah panjang yah? Yauda lah yah abaikan #plak
    Sukses eon buat ff yang lainnya…
    Fighting!!!! ^^

    -istri Kim Heechul dan selingkuhan Lee Hyukjae-

    1. Hahaha halu Hee^^ sebelumnya makasih yaa udah komen disini dan wow banget itu diatas, gak pegel nulisnya dek? *gapapa ya dipanggil dedek, abis kamu manggil aku eonni :p
      Aduh aku gak tau lagi deh mau bilang apa, pokonya makasih yaaa atas kritik sama sarannya, betewe itu kenapa ada tulisan “selingkuhan hyukjae ya? *mikir keras pura-pura gak tau*
      😀

    2. Gapapa kok Eon, asalkan ga manggil aku halmeoni aja -____-
      Hehhehe, aku juga ga tau kl udah nulis segitu Eon hihihihi :p

      Iya dong Eon, aku kan emang istri sah Kim Heechul dengan selingkuhan sebanyak 12 *maruk* hehehehe :p

      Semangat Eon buat FF lainnyaaaa! ^^ *bakar petasan bareng yesung*

  2. Yeeaayy Happy Ending :). Senangnyaaaa hahaha..
    Hemmm Donghae-ya.. Poor you :(.

    Acie ceritanya kakak beradik Cho sudah akur yaahh masa deluan eon yang nikaaahhhh? Aku aja belum dilamar sama Kyuhyun #eh hahahaha

  3. Wuahhh~~ akhirnya setelah sekian lama bisa baca part akhir :’3 daebak eon akhirnya~~……^^ hyuk jae<3!!!

  4. Yey… I’m finish–again–

    Entah sudah keberapa aku baca ff ini, tiga? empat? Yeah.. Sepertinya yang keempat kali

    MNLHJ adalah salah satu ff terfenomenal yang pernah aku baca dan berkesan banget ceritanya *EonniEmangDaebak
    PROK PROK PROK…

    Hehe.. Btw ini juga pertama kalinya aku ninggalin jejak di ff ini. Soalnya pas pertama baca ff ini aku masih berupa(?) reader yang awam dalam dunia per-ff-an, jadi masih takut dan bingung mau komen apa

    Jadi disini saya juga ingin mengucapkan MIANHAE eonni… SARANGHAE… *GombalDikit

  5. Haaahh ..
    Akhirnya selesai juga penderitaan uri oppa-ga setelah berbelas tahun menderita *lap keringet*

    Menurut aku , ini adalah ff terkomplit feelnya yng aku baca . Campur jadi 1 kaya es campur , yng ending”nya pasti bikin terharu. Kalau aku jadi Ikha , aku pasti milih Donghae *plak , digeret Eunhyuk ke jeruji*. Tapi sayangnya aku bukan Ikha , jadi aku milih Hyuk Jae aja yng lebih cool , dingin , & sexy *peluk uri oppa!*

    Lalu buat ~namja cantik~ , ck! KAU dibayar berapa sama Eunhyuk sampe rela melepas jabatan psikiatermu ? & akhirnya menyerahkan itu padanya *nunjuk namja evil yng main psp*. Kau yakin padanya ? Aku sih tidak *digeplak pake psp*

    Udah panjang ya , haha udah aah nanti kepanjangan lagi . Pokoknya buat Ikha eonnie keep fighting ! (\^o^/) , tetap berkarya untuk nulis lagi cerita” yng lebih melanglang buana !! *apasih kata”nya*

    1. wah parah banget milihnya donghae, hajarrrrrr____ hahaha sebenernya aku malu dek. secara ini ff lama dan bahasanya masih semrawut gak kek yg sekarang. Makanya di protek karna jelek. tapi makasih ya udah dikomenin. terharuuuuuu *nangis dipelukan hyukjae*

  6. hahaha keren akhirnya dapet jg pw nya,, dua jempol buat author nya,, kalo aku punya lbh dr 2 jempol psti tak kash lbh jg. hahaha

  7. Wah haeppa telat sekali sadarnyaa >o< horee eunhyuk happy horee finally mumumu \^o^/ gumawo author mengijinkanku membaca kisah yg agak serem tp bahagia ini (?) ah pokoknya gumawoo xD

  8. Finally, it’s end. Makasih bgt kak udah bikin cerita se-daebak ini aku jadi terharu (?) hahaha kebayang bgt itu si tyrone a.k.a hyukjae yang pas dia lagi main FAME. Aaaaaa kakak harus tanggung jawab nih aku kepelet beneran sama hyuk ><

  9. ternyata endingnya banyakan gombalan eunhyuk :p

    udah gak penasaran lg deh. makasih banyak lho ikha. lope2 deh ❤ ❤

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s