MY NAME IS LEE HYUK JAE “Chapter 11”

Langkah yeoja itu terdengar sangat pelan dan ringan. Tidak terkesan terburu-buru sedikitpun. Derap suara yang ditimbulkan heels nya membahana menggantikan hening yang menyelimuti sekeliling lorong rumah sakit. Yeoja itu sempat menatap bayangannya melalui pantulan kaca jendela yang sempat ia lewati kemudian tersenyum puas. Tidak ada cacat sedikitpun di wajahnya akibat kesalahan make-up dan ia juga memastikan bahwa blouse berwarna violet yang dipadu dengan skirt mini di tubuhnya merupakan pilihan yang tepat.

Yeoja itu kembali tersenyum. Senang rasanya bisa kembali ke rumah sakit setelah Kyuhyun bersikeras untuk tidak memperkenankan menjenguk Eunhyuk karena namja itu masih butuh pemulihan diri. Ini sudah hari kesepuluh dan ia sudah muak. Jika dirinya tidak merengek meminta sang oppa mengijinkannya dan mengancam akan merusakkan PSP kesayangannya, mungkin namja yang selalu mengoleksi majalah Playboy itu tetap bersikukuh dengan pendiriannya.

Ya. Harus ia akui. Semenjak pasca kejadian ‘pengeroyokan Donghae’, Ikha berusaha untuk mulai menutup diri meskipun rasanya sulit dibayangkan jika selama ini Donghae hanya mempermainkannya. Ia masih mencintai Donghae. Sangat. Sekalipun orang-orang bertanya mengenai perasaannya saat ini, jawabannya akan tetap sama: ia masih mencintai Donghae—meski kadarnya sudah berbeda.

Yeoja itu berhenti tepat di depan sebuah pintu di salah satu ruangan lantai enam Seoul International Psychological Hospital. Tempat ini memang sudah tidak asing lagi baginya. Namun kali ini atmosfer di sekitar rumah sakit sangat berbeda. Terlihat lebih ramai dari biasanya. Senyumnya selalu mengembang setiap kali petugas rumah sakit melintas serta membungkuk seolah mereka menghormatinya.

Ia mendorong pintu tersebut perlahan, berusaha untuk tidak menimbulkan suara sekecil apapun. Namun sepertinya indera pendengaran Eunhyuk sangat tajam. Ia segera memutar kepala ke arah daun pintu untuk menegaskan siapa yang datang menjenguknya. Awalnya wajah Eunhyuk agak tegang tapi sedetik kemudian ia tersenyum simpul ketika mendapati bahwa orang itu adalah orang yang sangat diharapkannya.

Ikha menyembulkan sedikit kepala dari balik pintu. Dilihatnya Eunhyuk tengah menyandarkan punggung pada kepala bangsal. Namja itu mengenakan pakaian khas rumah sakit. Setengah tubuhnya tertutup selimut dan salah satu tangannya tak luput dari selang infus. Yeoja itu sempat terpaku ketika kedua mata Eunhyuk tertuju padanya. Setelah satu minggu tak bertemu, ia menemukan beberapa point dalam diri Eunhyuk yang berbeda.

Pertama, mata Ikha mengarah pada kepala Eunhyuk. Namja itu —entah sejak kapan— mengecat rambutnya menjadi pirang kecokelatan. Hairstyle-nya pun tak lagi seperti dulu. Spiky-Mess-Up menjadi pilihannya saat ini. Kemudian, entah karena efek dari cahaya matahari yang bersinar hampir memenuhi seluruh ruangan, kulit Eunhyuk terlihat lebih mulus dan putih dari biasanya. Ikha sempat menggosok permukaan kulit lengannya sendiri. Sepertinya ia harus lebih rajin merawat diri atau Eunhyuk akan mengalahkan kecantikannya.

“Masuklah,” ucap Eunhyuk parau, membuyarkan fikiran Ikha yang sempat melanglang buana akibat memuji apa yang ada pada diri Eunhyuk.

Agak canggung, yeoja itu berjalan lebih jauh ke dalam ruangan. Ia sempat berdeham untuk mengurangi kegugupannya. Tak lupa, jemarinya yang bebas dengan refleks menyisir sedikit rambutnya. Oh Tuhan, ia baru sadar jika sekarang ia sedang gugup ketika bertemu dengan namja itu. Perasaan yang melandanya sulit ia percayai akhir-akhir ini.

“Kau terlihat baik-baik saja,” ujar Ikha, berusaha mengatakan kalimat tersebut senormal mungkin.

Eunhyuk meletakkan majalah yang tengah dibacanya ke atas pangkuan. Deretan info yang ada pada benda itu tak lagi menarik perhatiannya. Justru kehadiran Ikha mampu membuat suntuk yang menaunginya mulai memudar. Seolah yeoja itu adalah pusat kekuatannya. Eunhyuk sama sekali tidak menyembunyikan perasaannya saat ini. Wajahnya terlihat sangat sumringah.

“Dan kau terlihat sangat cantik hari ini,”

Serasa berada di tengah bara api, kulit Asia Ikha langsung berubah warna saat Eunhyuk memujinya. Hampir saja buket bunga yang dibawanya jatuh ke lantai. Selain Donghae, namja yang masih terbaring di ruangan tersebut ternyata mampu membuatnya tersipu. Mantan-mantan pacarnya yang lain tidak pandai menggombalinya dengan kata-kata sanjungan yang sangat disukai yeoja. Tapi ini terasa sangat lain. Apa karena Eunhyuk adik angkat Donghae—yang notabene pandai memuji?

“Darimana kau belajar kata-kata itu?” Ikha bertanya dengan maksud mencairkan suasana.

Eunhyuk menggerakkan bibir dan kepalanya tak karuan seolah sedang mempermainkan Ikha. Yeoja itu hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum. Inilah salah satu faktor yang sangat dirindukannya: kepolosan dan sifat kekanak-kanakan Eunhyuk.

“Kau sudah makan?” tanya Ikha dan dijawab oleh anggukan kecil dari Eunhyuk. Yeoja itu meletakkan bunga lily yang dibawanya di atas meja kemudian duduk pada sisi bangsal tempat Eunhyuk terbaring.

“Sudah minum obat?” Dan lagi-lagi pertanyaan Ikha dijawab oleh anggukannya.

“Apa perawat dan dokter sudah mengecek suhu tubuhmu?”

Eunhyuk memutar bola mata lalu berdecak. Menurutnya pertanyaan Ikha tidak menarik dan terkesan monoton. “Apa tidak ada pertanyaan lain?” sahutnya.

Alis Ikha bertautan. Kedua matanya menatap Eunhyuk lekat-lekat. Namja ini memang terlihat sebagaimana mestinya seorang Eunhyuk. Tapi ada lagi hal lain yang membuatnya berbeda saat ini—selain fisik tentunya. Yaitu caranya berbicara.

Wae? Ada yang aneh?” tanya Eunhyuk saat mendapati tatapan mencurigakan yang ditujukan Ikha padanya.

Ikha menggigit bibir bawahnya sejenak. Memperhatikan gerak-gerik Eunhyuk yang kembali membolak-balik halaman majalah. “Kau terlihat—“

“Berbeda?” Eunhyuk melirik dari sudut matanya saat memotong kalimat Ikha. Ia menggedikkan bahu sekali lalu mencibir.

“Bukan hanya kau yang merasakan hal itu. Hampir semua orang yang mengunjungiku beberapa hari lalu mengatakan hal yang sama,” ungkapnya.

Ikha meremas ujung selimut yang menutupi tubuh Eunhyuk. Ingin rasanya ia merengkuh namja itu seperti yang pernah dulu ia lakukan. Tapi sepertinya ia harus mengurungkan niat. Eunhyuk kini berubah. Tidak lagi sesopan dan se-innocent dulu.

“Kalau boleh tahu… apa yang membuatmu… berubah?” selidik Ikha. Suaranya penuh dengan kehati-hatian.

Hembusan nafas berat keluar dari hidung Eunhyuk. Majalahnya ia lempar sembarangan. Untungnya benda itu tepat mendarat di atas meja kecil yang ada di ruangan tersebut. Setelahnya, namja itu menggeliat. Meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku akibat berbaring di ruangan tersebut selama kurang lebih sepuluh hari. Tanpa kegiatan apapun. Hanya berbaring dan tidur.

“Entahlah. Aku merasa sangat bebas ketika semua akal busuk yang dilakukan namja brengsek itu terbongkar. Ternyata sangat melegakan,” erang Eunhyuk disertai uapan kecilnya.

Kedua mata Ikha menyusuri wajah Eunhyuk. Mencoba memahami apa yang diucapkannya melalui ekspresi yang ditimbulkan. Namja itu menyeringai. Salah satu telapak tangannya sempat meraba dada bidangnya sejenak. Tatapannya kosong dalam beberapa detik, dan detik berikutnya ia kembali menyeringai.

“Apa kau masih belum mengerti juga, Cho Agasshi?” tuntut Eunhyuk.

“Wow, seperti de ja vu.” Desis Ikha. Terdengar seperti mencemooh. Ia berniat untuk menjauhi Eunhyuk namun yeoja itu kalah cepat—Eunhyuk sudah mencengkeram pergelangan Ikha dengan kuat.

Yeoja itu sempat menatap cengkeraman Eunhyuk. Merasa bahwa ia telah melakukan sebuah kesalahan, Eunhyuk pun melonggarkan cengkeramannya. Namja itu menatap Ikha dengan tatapan puppy-eyes. Wajahnya melembut.

Mianhae,” gumamnya.

Tangan Ikha bergerak menepis halus cengkeraman tangan Eunhyuk. “Untuk apa?”

“Karena perubahan sikapku. Kau terlihat kesal barusan. Apa karena Lee Hyuk Jae pernah mengatakan hal serupa padamu?” oloknya.

Benar saja. Ikha langsung mendelik. Jawaban Eunhyuk sangat tepat dan itu sangat tak disukainya. Yeoja itu berusaha menghindar tapi lagi-lagi Eunhyuk menghentikannya. Namja itu menarik tubuh Ikha hingga yeoja itu terjatuh dalam dekapannya. Kedua tangan Eunhyuk melingkar cepat di sekitar pinggang Ikha. Mengunci tubuhnya agar tak lari kemana-mana.

“Ternyata kejadian itu —saat kita bersama-sama membekuk Donghae— membuat mulut dan kelakukanmu berubah lancang, Mr. Lee.” Rutuk Ikha setengah berbisik. Yeoja itu sama sekali tak meronta ataupun melepas dekapan Eunhyuk. Diam, menikmati keadaan.

“Sudah kukatakan bukan? Aku bahagia. Aku merasa bebas. Satu-satunya orang yang telah membuatku tertekan sudah medekam di penjara. Park Byeongman tak lagi mengangkat semua kasus-kasus yang pernah Lee Hyuk Jae lakukan ke pengadilan. Ditambah lagi rumah sakit ini —lebih tepatnya seminggu lagi— akan membebaskanku. Jadi?”

“Jadi?” Ikha mengangkat sebelah alisnya, menuntut penjelasan lebih.

Eunhyuk memperkecil jarak hingga wajahnya hanya terpaut beberapa sentimeter saja dari wajah Ikha, membuat yeoja itu menahan nafas. “Jadi tidak akan ada yang menghalangiku untuk menciummu lagi,” celetuknya.

Serta merta Ikha mendorong namja itu menjauh. Meski hasilnya nihil. “A—apa maksudmu?”

Namja berambut pirang kecokelatan itu mengeratkan dekapannya. “Aku mulai merasakan dan mengingat apa yang Lee Hyuk Jae lakukan padamu. Dan, wow! Fantastic!”

Ck. Kau sakit!” ketusnya. “Cepat lepaskan aku, pria mesum.”

“Coba saja,” tantang Eunhyuk. Satu tangan namja itu merengkuh dagu Ikha, bersiap untuk menciumnya hingga sesuatu menghentikannya.

“Eunhyuk-ah, aku membawa—“

Langkah Heechul terhenti seketika itu juga. Betapa tidak? Hal pertama yang dilihatnya ketika membuka pintu adalah dua makhluk yang disangka sedang berbuat mesum di pagi hari. Namja cantik itu memijat pelipis sejenak lalu keluar dari ruangan sambil menggelengkan kepala. Meninggalkan Ikha yang terus memukuli Eunhyuk sambil mengucapkan sumpah serapah padanya.

***

“Sudah kukatakan kalau aku tidak melakukan apa-apa, Oppa! Jangan menggodaku terus!” elak Ikha untuk ke sekian kalinya ketika Heechul menceritakan kembali apa yang dilihatnya pada Kyuhyun.

Namja berkacamata itu tetap saja menggoda Ikha sekalipun yeoja itu sempat membekap mulut comel Heechul beberapa kali. Untungnya Kyuhyun tidak memberi respon yang belebihan. Jika iya, mungkin Heechul terus mencecarnya.

“Kurasa seseorang sedang berusaha mengobati luka hatinya dengan menggoda Eunhyuk, Kyunnie. Aigoo, tak kusangka jika gadis kecil ini sudah berani melakukan hal-hal di luar batas umurnya,” goda Heechul seraya mengacak puncak kepala Ikha hingga rambut yeoja itu mengusut.

Iish, Asal kau tahu, tahun ini umurku menginjak angka dua puluh dua!” rutuk Ikha.

Heechul memajukan sedikit bibirnya sambil mengusap dagu —mencibir. Sepertinya yeoja itu tengah membela diri dengan menyebutkan umurnya. Mungkin maksudnya adalah dia sudah dewasa dan cukup umur untuk melakukan hal-hal yang dilakukan layaknya orang dewasa.

“Bagaimana final project-mu? Beres?” tanya Kyuhyun mengalihkan pembicaraan. Bisa saja namja itu ikut-ikutan menggodai Ikha, tapi ia tidak ingin memperkeruh suasana. Ia sudah bosan menghadapi sikap Ikha beberapa hari ini. Menangis dan berteriak seperti orang tak waras di apartemennya hanya karena menyesali pertemuannya dengan Donghae.

Well, begitulah. Sebenarnya selain menjenguk Eunhyuk, aku datang kemari untuk memberikan surat undangan pada namja di sebelahmu itu agar datang ke acara graduation ceremony. Tapi sepertinya niat baikku harus dibatalkan,” ketusnya disertai lirikan tajam pada Heechul.

Seolah tak mempan dengan lirikan tajam yang dilontarkan Ikha, Heechul malah menjulurkan lidah serta memutar bola mata. Serta merta yeoja itu melayangkan pukulan kosongnya pada Heechul. Membuat Kyuhyun mau tak mau berteriak untuk melerai mereka —sesama makhluk berdarah AB yang memiliki kadar keanehan di luar batas manusia normal.

Ikha menyisir rambutnya yang mengusut seraya berkata, “O—Oppa, apa kau menyadari sesuatu?”

Kyuhyun menaikkan kacamatanya yang agak turun. “Perihal apa?”

“Eunhyuk,” jawabnya tegas.

Namja bermarga Cho itu menyenderkan punggungnya pada kepala sofa. “Kau adalah orang ke sekian yang menanyakan hal itu padaku,” terangnya.

“Dan jawabannya?”

“Yah, seperti yang kau lihat. Kurasa kau bisa menyimpulkannya sendiri,”

Ikha melipat kedua tangan di dada. “Jadi benar kalau Eunhyuk sudah sembuh total? Dia bilang jika ia diperbolehkan keluar dari tempat ini beberapa hari lagi.”

“Mmm, kalau dibilang sembuh total sih tidak juga. Dia masih harus melakukan beberapa tes. Namun dari hasil yang kami dapat, aku rasa kondisi jiwanya mulai membaik. Kejadian lalu ternyata memberi dampak besar padanya.” Giliran Heechul yang menjelaskan. Sepertinya ia sudah lelah menggoda Ikha.

“Lalu, bagaimana dengan Lee Hyuk Jae?” tanya Ikha, mengikuti pergerakan tubuh Heechul yang tengah mengitari meja kerjanya.

“Satu-satunya orang yang telah membuat Lee Hyuk Jae menjadi bagian dari kepribadian Eunhyuk adalah Donghae. Dan ketika namja itu sudah tertangkap, Eunhyuk tak lagi merasa tertekan dan hal itu justru membuat Lee Hyuk Jae mulai menghilang dari tubuhnya.”

“Tapi Eunhyuk terlihat lain. Tidak seperti orang yang kukenal,” aku Ikha. Yeah, seperti itulah yang ia rasakan ketika bertemu Eunhyuk.

Heechul melepas kacamata kemudian memijat lekuk hidungnya. “Selama ini Eunhyuk memiliki dua sisi yang berbeda. Ketika Lee Hyuk Jae menghilang, kepribadian Hyuk Jae tidak sepenuhnya menguap begitu saja, ada beberapa karakter Hyuk Jae yang membaur dengan karakter Eunhyuk. Jadi berdoa saja sifat Hyuk Jae yang selalu membuat onar itu tidak melekat padanya. Namun itu semua tergantung Eunhyuk. Dia bisa saja membuang semua sifat Hyuk Jae dengan mengontrol emosinya. Kecuali jika dia memang menyukainya,”

Salah satu tangan Ikha menopang dagunya. Berfikir ternyata cukup menghisap setengah tenaganya. “Satu hal lagi yang ingin kutanyakan,” sahutnya.

Heechul kembali mengitari meja dan berjalan ke arah Ikha. Namja itu memposisikan diri duduk disamping Kyuhyun. Ia menyerahkan dokumen yang tak dimengerti Ikha pada Kyuhyun dan kakaknya itu menerima dengan senang hati.

“Apa dia mulai mengingat apa yang dilakukan Hyuk Jae selama ini?” tanya Ikha, setengah menuntut.

“Tepat sekali. Bahkan dengan semangatnya dia menceritakan padaku bagaimana Hyuk Jae berubah kepribadian menjadi Eunhyuk saat kau menciumnya dengan ganas tempo hari,” seloroh Heechul dan ditanggapi dengan sebuah smirk dari Kyuhyun.

Yeoja itu mengeryitkan dahi. “Eh? Eonjae? (Kapan?)”

Heechul berdecak. Ia menggeliat perlahan di tengah uapan mulutnya. Beberapa hari ini ia kurang tidur. Wajar saja jika namja ini terus menguap selama sepersekian detik. “Ayolah, Kha-ya. Tidak usah pura-pura lupa. Aku tidak tahu cara apa yang kau lakukan dulu —ketika aku dan Kyuhyun menyuruhmu untuk mengubah pribadi Hyuk Jae menjadi Eunhyuk— saat penyerangan Donghae. Yang jelas, Eunhyuk sepertinya menyukai memori itu dan tidak ingin menghapusnya.”

Ikha menggigit bibir bawahnya. Cemas. Ia tidak ingin mengingat kejadian itu karena baginya hal itu sungguh sangat memalukan. Ia terpaksa mencium Lee Hyuk Jae karena namja itu tak berhasil berubah menjadi Eunhyuk setelah ia meluncurkan beberapa cara. Tak disangka jika ciumannya itu justru membuat pribadi Eunhyuk muncul dari tubuhnya.

Ia melirik ke arah Heechul. Kuku ibu jarinya digigit cukup keras. Jika benar apa yang dikatakan Heechul barusan, berarti Eunhyuk telah menceritakan apa yang selama ini terjadi antara dirinya dengan Lee Hyuk Jae. Sejenak ia memusatkan perhatian pada Kyuhyun. Namja itu hanya tersenyum tipis. Semoga saja terkaannya itu salah: bahwa Kyuhyun juga mengetahui semuanya.

Shit! Akan kurobek mulut namja itu,” hardik Ikha seraya memukul bantal sofa yang ada disampingnya.

“Kau agresif juga ternyata,” ucap Heechul, kembali mengejek Ikha.

“Ya! Jangan memancing emosiku, Kim Heechul!”

***

07.45 p.m

Tak disangka ia akan pulang selarut ini. Larut? Ya. Larut. Ia sudah terbiasa sampai di rumah di bawah jam enam sore. Jika lewat dari jam itu, maka baginya jam tersebut sudah masuk ke dalam kategori ‘larut malam’. Kalau bukan karena harus melakukan gladiresik graduation ceremony-nya yang akan diselenggarakan tiga hari lagi, ia tidak perlu repot-repot membantu paduan suara sebagai pengiring piano.

Yeoja itu melepas syal yang melingkar pada lehernya dengan malas sambil membuka pintu apartemen. Tidak ada kejadian yang menarik hari ini kecuali bertemu hoobae-nya dari kelas Seni Musik —Kai. Ia sempat terkejut ketika Kai dengan terang-terangan menyatakan rasa sukanya di depan seluruh mahasiswa yang melakukan gladiresik. Well, bisa saja Ikha menerima si hoobae, hanya saja ada hal lain yang sangat diharapkannya.

“Eomma?” sahut Ikha ketika mendapati bayangan seseorang di balik dinding dapur apartemen Kyuhyun.

Dugaannya tepat. Seorang yeoja yang rambutnya hampir tertutupi uban itu membalikkan tubuh lalu tersenyum. Kompor listrik di hadapannya ia matikan terlebih dahulu sebelum menghampiri Ikha. “Kau sudah pulang rupanya,”

Ikha ikut menghampiri sang eomma kemudian memberinya sebuah pelukan hangat. Indera penciumannya sempat menangkap bau makanan kesukaannya. Senyumnya pun mengembang saat menemukan beberapa menu makanan tersaji di atas meja.

“Kunjungan yang sangat tiba-tiba,” ucapnya.

“Kyuhyun ingin kubuatkan Samgyetang malam ini. Dia menghubungiku untuk datang kemari. Lagipula apa selama ini kau tidak pernah mengurus kakakmu? Dia bilang kalau kau hampir membuatnya keracunan gara-gara memakan makananmu,” rajuk Nyonya Cho.

Ikha menyampirkan syal-nya pada punggung kursi. Yeoja itu menggedikkan bahu sebagai pengganti jawaban pertanyaan Nyonya Cho. Sebenarnya ia pintar memasak. Tapi karena Kyuhyun terlalu banyak menuntut ini itu, Ikha dengan teganya memasukkan jogochucang ke dalam cream soup atau dengan sengaja menambah ekstrak jahe ke dalam bulgogi.

“Dia itu pintar mengada-ngada, Eomma. Kau tahu sendiri ‘kan, kami tidak pernah bisa akur dan satu pendapat dalam beberapa hal,” ujarnya, mengelak.

Nyonya Cho menepuk pundak Ikha seraya berjalan ke arah dapur untuk mengambil mangkuk terakhir —Kimchi Stew Red Pepper. “Bagaimana keadaan Eunhyuk-ssi. Apa dia sudah diperbolehkan pulang?”

Tangan Ikha sontak membeku saat berniat untuk mencomot daging asap yang menjadi pelengkap menu makan malam. Tatapannya berubah misterius. “Setahuku, aku belum pernah menceritakan apapun padamu tentang Eunhyuk,”

“Kyuhyun yang mengatakan semuanya padaku,” jelas Nyonya Cho kemudian diikuti oleh anggukan serta cibiran dari Ikha.

“Ternyata selama ini kau membohongi Eomma, huh? Kau bilang kalau kau bekerja di sana padahal kau selalu berkencan dengan Eunhyuk,” ejeknya.

“EOMMA!!” pekik Ikha. Ia sudah menduga. Pasti Kyuhyun menceritakan hal-hal diluar skenario-nya. Biasanya namja itu akan melebih-lebihkan cerita atau mengubah beberapa scenes.

“Aku hanya bercanda, Sayang.” Canda Nyonya Cho sambil mengusap lembut puncak kepala Ikha. Yeoja itu menghembuskan nafas lega. Setidaknya kali ini Kyuhyun bersikap layaknya manusia normal.

“Lain kali Eomma akan mengajaknya makan malam bersama. Dia sangat baik dan sopan. Awalnya Eomma sempat tidak percaya mengenai hubungannya dengan Donghae. Tapi saat Eomma mendengar kabar bahwa Donghae sudah menjalani sidang di pengadilan, perlahan Eomma mulai percaya,”

Ikha mendelik. Memahami maksud dari perkataan Nyonya Cho. Ada satu kalimat yang tak mudah ia cerna. Nyonya Cho mengatakan ‘dia sangat baik dan sopan’ dengan lantang. Seolah-olah yeoja yang kini berumur lima puluhan itu mengenal Eunhyuk dengan baik.

“Eomma dan Appa sudah menjenguknya dua kali saat dia dirawat di rumah sakit,” ucap Nyonya Cho, menjawab rasa penasaran yang terpancar dari wajah Ikha.

“Mwo?”

Ikha mengangkat sebelah alisnya tak percaya. Nyonya Cho hanya tersenyum. Ia lebih memilih menata alat-alat makan di atas meja ketimbang menanggapi atau sekedar membuat rasa penasaran Ikha semakin membuncah.

“Baiklah, sepertinya semua orang sedang mempermainkanku.” Dengus Ikha. Ia berjalan ke arah dapur, mengambil sebuah gelas kemudian mengisinya dengan air putih.

“Dia sepertinya menyukaimu, Kha-ya.” tutur Nyonya Cho.

“Siapa orang yang Eomma maksud?” Ikha balik bertanya.

“Eunhyuk-ssi,”

Yeoja itu tertawa ringan. “Dia harus menjalani beberapa tes terlebih dahulu. Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan seorang kriminal.”

Jeongmalyo?” ucap seseorang dari arah lain.

Nyonya Cho dan Ikha sama-sama memutar kepala menuju pada si pemilik suara. Ikha hanya melemparkan smirk-nya sejenak kemudian meminum air putih yang baru saja di ambilnya sedangkan Nyonya Cho malah menyambut Kyuhyun —si pemilik suara— dengan hati gembira.

“Kyuhyunnie dan —oh— sepertinya kau bersama orang lain,” sahut Nyonya Cho ketika menemukan dua orang lain mengiringi langkah Kyuhyun.

Annyeong haseyo, Eomonim. Senang bertemu dengan anda lagi,” ucap salah satu diantaranya. Membungkuk layaknya orang Korea dengan sopan dan hormat.

Bola mata Ikha berputar ke arah Kyuhyun dan dua tamunya. Ia hanya mengamati dari sudut mata dengan hati-hati. Namja yang menyapa Nyonya Cho tersenyum manis ke arah Ikha seraya melambaikan tangan. Tepat setelah ia meyakinkan diri bahwa indera penglihatannya masih baik, yeoja itu menyemburkan air yang hendak ia teguk dari mulutnya.

“Eunhyuk?”

***

Eomonim, masakanmu sangat enak. Sepertinya aku harus sering mengunjungimu,” puji Eunhyuk tulus.

Nyonya Cho mengeluarkan tawa khas ibu-ibu tua seumurannya. Sesekali ia mengusap permukaan kedua pipinya ketika Eunhyuk maupun Heechul memuji Sang Eomma. Ikha memutar bola mata. Kenapa Eomma-nya begitu genit dan rendahan? Dipuji sedikit saja oleh dua namja tampan bisa membuat kulit wajahnya memerah. Ia jadi ragu mengenai hubungan si Eomma dengan si Appa selama ini (?)

Sebenarnya bukan hanya itu yang membuat bola mata Ikha berputar untuk ke sekian kalinya. Yeoja itu bahkan sengaja membuat suara gaduh dengan menggesekan sendok maupun garpu yang dipegangnya pada piring. Obrolan di sela makan malam mereka benar-benar membuatnya kesal. Topiknya tak lain dan tak bukan adalah perihal hubungannya dengan Eunhyuk. Sejujurnya Ikha tak mempermasalahkan apapun. Hanya saja Heechul, Kyuhyun dan juga Eunhyuk menceritakan beberapa hal seolah dia itu gadis dungu dan tolol —dan sepertinya Nyonya Cho mempercayainya.

Ikha berusaha menahan emosi dan tidak terpancing perbincangan mereka dengan memasukkan beberapa potong daging ayam selama sepersekian detik. Karena jika ia menimpalinya, maka ketiga namja berhati devil itu pasti akan langsung mencecarnya. Satu lawan tiga, siapa yang akan menang? Pasti tiga!!

Dan yang patut disayangkan, posisi duduknya tidak berdekatan dengan Nyonya Cho. Karena Tuan Cho berhalangan hadir, Nyonya Cho duduk di kursi utama. Kyuhyun dan Ikha duduk di sebelah kanan Nyonya Cho sedangkan Heechul dan Eunhyuk duduk di sebelah kiri dimana posisi Heechul saling berhadapan dengan Kyuhyun dan Ikha berhadapan dengan Eunhyuk.

Di sela kunyahan daging yang penuh di dalam mulutnya, bola mata Ikha membulat sempurna ketika merasakan sesuatu menyapu kulit kakinya. Ia menegakan kepala menatap orang yang duduk tepat di seberang mejanya. Eunhyuk terlihat anggun memasukkan potongan kimchi menggunakan sumpit ke dalam mulut. Masih berpura-pura tak melakukan apapun. Padahal Ikha tahu, pasti kaki Eunhyuk sengaja menyapu permukaan kakinya.

Ikha mendengus. Malam ini benar-benar hari sialnya. Selain karena ia dipermalukan habis-habisan di depan Nyonya Cho, Eunhyuk sedari tadi terus saja menggodanya dengan memainkan kaki di bawah meja.

Kesal dengan kelakuan Eunhyuk, Ikha pun menendang kaki Eunhyuk sekuat tenaga hingga menimbulkan bunyi ‘dug’ pelan dari bawah meja. Tadinya Ikha berniat untuk menertawakan Eunhyuk, namun niatnya segera diurungkan saat mendengar Heechul meringis sambil menurunkan salah satu tangannya ke bawah meja—mengelus tulang keringnya.

 “Ada apa?” tanya Nyonya Cho, menatap Heechul khawatir.

Ikha segera berpaling ke arah Eunhyuk yang tengah menahan tawa. Namja itu masih saja ber-acting dengan menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Ia tahu bahwa dirinya salah ‘menendang’ kaki Eunhyuk. Dan bodohnya, kenapa kaki Heechul yang ia tendang? Lagi, Ikha memutar matanya pada Heechul. Sepertinya namja itu tahu. Lihat saja, meski orang lain tak menyadarinya, Heechul sebenarnya sedang memancarkan laser ke dalam mata Ikha.

Anio. Kurasa ada sesuatu yang menendang kakiku,” jawab Heechul apa adanya.

Ikha langsung menundukkan sedikit kepala dengan menatap makanan di piringnya. Ingin rasanya ia berteriak ataupun pergi dari tempat itu. Tapi ia tahu, Nyonya Cho tidak akan mengizinkannya pergi. Jadi Ikha tetap bertahan dengan memasang wajah ‘tak berdosa’.

“Biasanya kau selalu cerewet setiap kali kita berkumpul di meja makan. Kenapa hari ini kau jadi pendiam?” tanya Kyuhyun pada Ikha—mencoba mengalihkan suasana.

“Kurasa ada yang sedang menjaga citra dirinya,” timpal Heechul. Balas dendam atas kelakuan Ikha barusan.

Cho Agasshi. Kita sudah mengenal cukup lama. Kau tidak perlu gugup seperti ini,” goda Eunhyuk.

Tanpa ba-bi-bu lagi, Ikha —yang notabene belum mengganti bajunya sepulang dari gladiresik— langsung menginjak punggung kaki Eunhyuk menggunakan ujung high-heels-nya. Sepertinya Ikha tepat sasaran. Ia melihat Eunhyuk mengatupkan mulut rapat-rapat seraya menelan ludah. Namja itu mengeratkan sumpit yang dipegangnya lalu balas menatap Ikha.

Merasa menang, Ikha mencondongkan sedikit tubuhnya pada meja. “Aku terlalu senang hari ini. Makanya aku memilih untuk mendengarkan perbincangan kalian. Apa makanannya enak, Mr. Lee?” tanya Ikha disertai injakan kakinya yang semakin dalam pada kaki Eunhyuk.

Tidak tahan dengan ujung heels Ikha yang melesak menembus sepatu James Scotts terbarunya, Kaki Eunhyuk yang lain menendang kaki Ikha hingga high heels yang menekan punggung kakinya terlepas dan membuat meja makan agak bergetar. Ikha pura-pura makan seperti biasa meski Eunhyuk sempat menatap dengan death-glare-nya.

“Sebenarnya aku mengajak mereka kesini karena mereka akan berpamitan,” tutur Kyuhyun.

Nyonya Cho menghentikan pergerakan sumpitnya lalu menatap Heechul dan Eunhyuk bergantian. “Pamit?”

Eum. Kami akan pergi ke Los Angeles dan Paris untuk beberapa hari. Ada yang harus Eunhyuk urus dan sepertinya ia butuh bantuanku.” Terang Heechul.

Ikha menghentikan kunyahan makanannya lalu menatap lurus pada Eunhyuk. “Apa tidak terlalu terburu-buru?” tanyanya, berusaha berhati-hati agar namja itu tidak menemukan kecurigaan dari pertanyaannya.

“Kami akan pulang ke Seoul secepatnya, Nyonya Cho. Karena ada hal lain yang lebih penting dan harus kuselesaikan disini,” ucap Eunhyuk seraya melontarkan senyumnya pada Nyonya Cho tanpa sedikit pun menimpali pertanyaan Ikha.

Yeoja itu mendengus dan menarik sudut bibirnya. “Syukurlah. Aku juga tidak ingin Oppa datang ke acara graduation ceremonial nanti,”

Entah siapa yang Ikha maksud dengan Oppa—antara Heechul dan Eunhyuk. Yang jelas ia langsung mendapat sikutan kecil di tulang rusuknya dari Kyuhyun.

***

Bunyi gelas dan sendok yang saling beradu menggema di sekeliling ruang dapur. Keran wastafel juga sengaja dibiarkan terbuka oleh Ikha. Yeoja itu memerutuk sedari tadi karena Nyonya Cho menyuruhnya mencuci piring. Bukan apa-apa. Setidaknya izinkan dia untuk mengganti baju terlebih dahulu. Agak aneh melihat seorang yeoja lengkap dengan pakaian semi formal-nya tengah mencuci piring.

 “Perlu kubantu?” tawar Eunhyuk, mengintip dari balik dinding dapur.

Ikha hanya mendengus. Spons yang dipakainya untuk mencuci piring sengaja ia remas-remas hingga menghasilkan busa yang cukup banyak. “Terima kasih. Tapi kau sudah sangat membantuku dengan menceritakan hal-hal bodoh pada eomma saat makan malam tadi. Jadi lebih baik kau pergi bergabung dengan mereka sambil menceritakan lagi hal-hal yang dapat mempermalukanku,”

Sudut bibir Eunhyuk tertarik sempurna. Kepalanya menggeleng pelan. Sejenak ia memperhatikan Nyonya Cho, Kyuhyun dan Heechul yang sedang berbagi cerita di ruang tengah sebelum akhirnya menghampiri Ikha.

Namja itu berdiri tepat di belakang Ikha. Ia mendekatkan wajahnya di balik rambut si yeoja kemudian kedua tangannya meraih ujung blazer yang dikenakan Ikha—mencoba menggulungnya agar tidak basah terkena cipratan air keran.

“Aku tahu jika kau marah,” gumam Eunhyuk.

Ikha menghentakan tangan Eunhyuk yang masih berusaha menggulung lengan blazer-nya dengan kasar. “Hentikan. Aku tidak suka!”

Wae? Aku hanya menggulung lengan blazer-mu dan tidak melakukan hal lain,” elak Eunhyuk, masih berusaha melakukan kegiatannya.

“Pokoknya aku—”

Ya! Hyung, kalau bermesraan jangan di dapur. Aku bosan melihat Ikha dan Donghae bermesraan disini. Kamar Ikha masih kosong. Kau juga boleh menggunakan kamarku,”

Ucapan Kyuhyun yang memotong kalimat Ikha sontak membuat yeoja itu mendelik ke arah Oppa-nya. Kenapa Kyuhyun selalu muncul ketika dirinya tengah bersentuhan dengan namja? Sebut saja Donghae ataupun Euhnyuk. Ikha melayangkan tinjunya dari kejauhan. Kyuhyun itu mulutnya benar-benar tidak bisa dijaga. Eomma pasti mendengar ocehannya barusan. Bagaimana jika eomma-nya berfikir yang macam-macam?

“Jadi karena Donghae—“

“Anio!” potong Ikha. Ia sudah tahu arah pembicaraan Eunhyuk. Sebelum namja itu meneruskan apa yang ingin diucapkannya, ia sudah meng-cut­ terlebih dahulu.

Kedua tangan Eunhyuk berpindah dari lengan Ikha menuju pinggang si yeoja berambut sepunggung tersebut. “Karena kau sering bermesraan dengannya disini jadi kau tidak menyukainya?” ucapnya, berbisik di telinga Ikha.

“Bukan itu!” elaknya sembari menyikut perut Eunhyuk menggunakan kedua siku tangannya.

“Donghae sering menciummu dan—“

Serta merta yeoja itu memutar tubuhnya lalu mendorong Eunhyuk hingga tercipta jarak diantara mereka. Kemeja abu-abu yang dipakai Eunhyuk sedikit basah akibat kedua tangan Ikha yang basah menyentuhnya. Ini sudah tidak bisa di tolerir lagi. Ia sudah bosan mengalah sepanjang malam ini.

“Cukup, Lee Hyuk Jae! Jika kau ingin memancing emosiku, kau berhasil!!” rutuk Ikha. Ia berjalan menuju kamar tanpa membilas tangannya yang dipenuhi busa sabun terlebih dahulu. Meninggalkan beberapa piring dan gelas kotor yang belum selesai dicuci.

“Ada apa dengannya?” tanya Kyuhyun yang melihat Ikha sedikit membanting pintu ketika sampai di kamarnya.

Eunhyuk berjalan menghampiri ketiga makhluk yang masih berkutat dengan perbincangan mereka. “Sepertinya aku telah membuatnya kesal,”

***

Ikha menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke atas spring-bed empuk miliknya. Desah nafas beratnya berhembus selama beberapa menit sekali. Ia lelah. Bukan karena latihan pra-ceremonial yang dilakukannya selama lima jam nonstop, tapi karena Eunhyuk. Ya. Karena Eunhyuk.

Hidup yang dijalaninya tidak sesederhana yang kau bayangkan. Semenjak berkenalan dengan Eunhyuk, ia harus terlibat dan menjalani interview beberapa kali dengan polisi. Ia masih ingat dengan jelas ketika dirinya dipanggil Polisi Park saat Eunhyuk membunuh dua namja asing. Belum lagi ia akan menjadi saksi untuk sidang lanjutan kasus Donghae.

Yeoja itu memejamkan mata. Tubuhnya terlentang dan ia memang sengaja mengambil posisi seperti itu agar mudah bernafas. Tangan kirinya ia letakkan di atas perut sedangkan punggung tangan kanannya ia letakkan di atas kening. Ia sedang berfikir. Apakah ia harus menyesali pertemuannya dengan Eunhyuk atau tidak—meski pada akhirnya pertemuannya itu menguntungkan berbagai pihak. Salah satunya adalah perusahaan Appa tidak jadi dikuasai Donghae.

Telinga Ikha menangkap sebuah bunyi. Ternyata itu bunyi pintu kamarnya yang terbuka dan menutup, seperti ada seseorang yang sengaja masuk. Yeoja itu tetap bergeming pada posisinya, pura-pura tidur. Kalau bukan Nyonya Cho, pasti orang itu adalah Kyuhyun.

Ikha merasakan spring-bed-nya bergerak. Orang tersebut sepertinya tengah berbaring juga disampingnya. Tadinya ia sudah siap membuka mulut. Namun saat indera penciumannya merasakan wangi perfume lain yang berbeda dengan yang dipakai eomma atau Kyuhyun, yeoja itu kembali berdiam diri. Wangi ini adalah wangi Eunhyuk. Selain dia, tak ada lagi namja yang menggunakan Eau De Toillette-nya Lin Young.

“Aku tahu kau belum tidur,” gumam Eunhyuk.

Ikha berusaha untuk tidak menunjukan bahwa ia tidak sedang tidur dengan mengkakukan tubuhnya atau dengan berusaha untuk tidak menggerakan bola mata. Ia tidak ingin menanggapi Eunhyuk. Untuk saat ini saja.

Mianhae. Sikapku agak berlebihan padamu,” tuturnya. Seiring dengan perkataan Eunhyuk barusan, Ikha merasakan jemari namja berambut pirang kecokelatan itu bergerak mengelus permukaan pipi sebelah kirinya.

Ikha berusaha untuk bernafas senormal mungkin. Meski agak kesulitan baginya untuk melakukan hal itu. Skinship dengan Eunhyuk ataupun Lee Hyuk Jae memang mampu membuat jantungnya melompat kesana-kemari. Belum lagi suara Eunhyuk terdengar begitu dekat di telinganya. Semoga saja namja itu tidak bertindak kurang-ajar saat ini.

“Aku hanya… terlalu senang. Aku senang bisa bertemu dan berbincang denganmu lagi. Jadi maafkan aku jika sikapku membuatmu begitu kesal.”

Seolah dibius tujuh kali oleh Chlomoforme, Ikha benar-benar tak dapat berkata apa-apa. Meski ia hanya mendengar suara Eunhyuk tanpa melihat ekspresi wajahnya. Ia dapat menarik kesimpulan bahwa namja ini berkata apa adanya. Tulus. Seperti halnya Eunhyuk—dalam artian yang sebenarnya.

 “Aku akan ke luar negeri. Mungkin bisa memakan waktu satu bulan,” tuturnya lagi. Ikha tetap bergeming. Masih berpura-pura seperti beruang kutub yang sedang hibernasi.

 “Aku pasti akan merindukanmu,” ucap Eunhyuk. Namja itu memainkan beberapa helai poni Ikha sambil mengamati wajahnya yang terlihat kelelahan.

“Berjanjilah kalau kau akan menungguku,” ungkapnya.

“Bagiku satu bulan itu waktu yang sangat lama. Dan mungkin akan lebih dari itu,” imbuhnya.

Eunhyuk menundukan kepalanya, membenamkan wajah pada leher Ikha setelah menyelipkan beberapa helai rambut Ikha dibalik telinga mungilnya. Namja itu menghirup wangi tubuh Ikha sebanyak yang ia bisa. Tubuh Ikha menegang. Oh, tidak. Ia paling tidak suka ketika Eunhyuk melakukan hal itu padanya. Kekuatan imannya dapat runtuh seketika.

Eunhyuk menegakan kembali kepala dan menahannya menggunakan salah satu tangannya. Ia mengamati wajah Ikha untuk ke sekian kali kemudian tersenyum puas. Tanpa perintah dari siapapun—hanya insting dan kemauannya saja—namja itu mendekatkan wajahnya pada wajah Ikha. Menempelkan kedua bibir mereka dengan sedikit mengecupnya. Awalnya ia memang hanya mengecup saja. Selang beberapa detik, namja itu kembali mencium bibir Ikha dengan sedikit melumatnya hingga mampu membuat Ikha menahan nafas beberapa saat.

Eunhyuk mengusap permukaan bibir Ikha dengan lembut. “Karena kau tetap berpura-pura seperti orang mati, aku bisa lebih mudah menciummu,” ungkapnya.

Ikha tetap kaku seperti mumi. Tidak lucu jika tiba-tiba ia berteriak memaki Eunhyuk karena ketahuan berpura-pura. Biarlah Eunhyuk melakukan apa yang ingin dilakukannya. Anggap saja sebagai bonus karena namja itu akan pergi jauh.

“Istirahatlah. Aku tidak akan mengganggumu,” ucap Eunhyuk seraya melayangkan sebuah senyum yang tak terlihat oleh Ikha.

Sebelum benar-benar pergi, namja itu sempat mengecup puncak kepala Ikha dengan lembut. Setelah yakin bahwa Eunhyuk sudah tak di kamarnya lagi, yeoja itu mulai membuka mata. Kepalanya bergerak ke arah daun pintu. Ia menatap kosong pintu kamarnya yang tertutup kemudian tersenyum lirih.

Ia tidak tahu perasaan apa yang melandanya saat ini. Ia tidak mungkin dengan mudah menyukai Eunhyuk karena sesungguhnya ruang di hatinya masih terisi oleh Donghae. Tapi tak dapat di pungkiri pula jika Eunhyuk memang telah menyita perhatiannya selama ini.

“Ada apa sebenarnya?” tanya Ikha, bertanya pada diri sendiri mengapa jantungnya berdetak tak karuan setiap kali bersentuhan dengan Eunhyuk.

…To be Continued…

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

197 thoughts on “MY NAME IS LEE HYUK JAE “Chapter 11””

  1. Hooaa eonnie Daeebbaakk .. ^^b *telat ya ? hehe karena emang aku baru bisa baca semuanya*
    Dari awal , saat blog ini masih pake nama yng lama aku penasaran sama cerita ini . tapi karena saat itu aku belum punya akun buat kasih komen , aku gak berani baca .
    Terus saat baru bisa buat akun , aku baca awal” tapi ternyata ada yng pake password , jadi diundur lagi bacanya ..

    Pokoknya sejak part awal , cerita ini udah bikin deg”an . gak nyangka kalo Hyuk-Jae ya Eunhyuk itu . ditambah lagi sifat Hyuk-Jae yng kelewat menyebalkan tapi bisa buat aku lebih suka sama sifat itu saat dia udah mulai nggodain Ikha hehe ..
    Intinya aku bener” suka sama FF ini , gak bisa ditebak . tapi eonn , untuk part 12 aku gak bisa buka saat masukin password itu . jadi aku minta passwordnya ya , *aku udah mention ke twitter eonnie* . aku penasaran sama endingnya gimana .

    1. hahaha___ kamu ini pasti heboh kalo komen. jadi kamu udah tau dari dulu ya? huuuuu___ hajarrrrr hahahaha
      pokoknya makasih ya udah sempetin baca sama komen juga. by the way kamu udah dapet passwordnya kan? Maaf ya aku lagi sibuk akhir” ini jadi jarang open sosmed 😦

  2. hihi .. kalo gak heboh gak seru , lagian aku heboh saat udah baca ffnya eonnie *dapet feel nya gitu*
    udah kok eonn , eonnie bales message ku di FB . oh ya , apa aku belum bilang ? *sepertinya belum* .
    ID-name FB “Khoirun Nisa Namsteria” itu aku loh eonn ^o^ , karena saat itu lagi semangatnya buat baca cerita di sini , aku memanfaatkan akun” yng ada :^D . tapi karena harus berhadapan dulu sama buku” pelajaran , baca+komennya harus ditunda dulu .
    hehe makasih ya eonn udah dikasih pw+disempetin bales komenan ini & mian juga eonn kalo kemaren aku minta pw nya kebanyakan .. XD

    P.S : buat EXO Planet sama Step Forward aku baru baca awal”nya tapi belum sempet komen, nunggu hari minggu dulu ne eonn saat selesai UKK

  3. ya ya ya! i like this fanfiction!! /rap vers/?

    eonniya! btw aku mau minta pass ff yang berprotect /puppy eyes/ aku kesiksa bacanya harus loncat loncat hn :’3

  4. wah eunhyuk oppa udah berubah,dan mulai memperlihatkan kalau dia suka sama ikha,tapi ikhanya belum bisa nerima eunhyuk karna masih ada bayang bayang donghae
    makin menarik aja ceritanya

  5. You’ve succeed to drive me crazy! Curious to the max for this whole story. In general, I know the plot of this story. But still I miss the detail and I really want to know about it! Please give me the password for all of strory part which you locked!

  6. ikha gak usah bingung. Jawabannya itu iya kalo kamu memang sudah jatuh pada pesona eunhyuk atau hyukjae. Jadi kejar eunhyuk dan lupain donghae.
    Author, part 12 masih di PW ya? Aku minta PWnya dong, bolehkan??

  7. huwaa….. keren… ayolah kha jangan bohongi perasaanmu. kalo sebenarnya kamu udah gak cinta sama Hae. part selanjutnya end ya? kok di PW T.T boleh minta PW nya? please…. 😦 penasaran endingnya gimana.

  8. Haii kak…
    Sebenernya aku udah dari dulu baca ff ini tapi barusan rasanya pengen bgt baca lagi. Dan alhasil aku menemukan chap 12 diPW. Maaf ya kak baru sempet komentar. Semuanya bagus dan aku suka detail ceritanya. Semangat terus kakak!!
    Boleh minta pw chap 12 ya😁😁 kirim ke twitter aku ajja kak @Forever_HAny aja. Terimakasih banyak😊

    1. Halo Hani, salam kenal ya…
      Maaf banget baru update di blog. Kalo gak salah aku udah kirim passwordnya via twitter deh. Kamu udah terima kan? *berhubung belum ada feedback dari kamunya* 🙂
      BTW terima kasih ya udah berkunjung kemari. Sekali lagi salam kenal 🙂

  9. ahh gula pokonyaa cerita ini dri awal bikin tegang saraf otak ku un 😀
    dan lambat laun aku suka sama pribadi hyukjae yg bad boy kkkkk~

    eon boleh minta pw 12 nya gga?
    dan juga maaf karna aku baru tau ini ff -,- padahal ff ini keren banget, beda dri yg laenhehe
    keep writting terus ya un 🙂

  10. ahh gila pokonyaa cerita ini dri awal bikin tegang saraf otak ku un 😀
    dan lambat laun aku suka sama pribadi hyukjae yg bad boy kkkkk~

    eon boleh minta pw 12 nya gga?
    dan juga maaf karna aku baru tau ini ff -,- padahal ff ini keren banget, beda dri yg laenhehe
    keep writting terus ya un 🙂

    1. Aku kembali…. Bolehkah minta pw untuk part 12..?
      Thank you before… Dan terimakasih untuk cerita yang keren banget… Meskipun telaaaat banget taunya… tapi wotrth it banget udh bisa baca..
      Love love ^^

      1. Hi dearie~~ aduh maaf banget baru balas komentar mu 🙂
        Part terakhir udah aku buka jadi kamu gak perlu pakai password lagi. SO please feel free to read. Makasih loh udah baca *meskipun tulisannya masih acak acakan hahaha* salam kenal!!

      2. Nah.. bener looh udah dibuka… Kamsa very much.. Aku cuus ke sana dulu yaa.. (Sembari mengingat ceritanya, maklumlah otak di atas sudah kepenuhan oleh banyak hal..) Hheee… Mian, banyak kata ^^

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s