STEP FORWARD (ii)

 

Seorang pria belasan tahun melempar secarik kertas dengan kasar ke arah namja lain yang tengah duduk tenang di singgasananya. Si pria hanya menatapnya keheranan. Komik manga yang sempat dibacanya ia letakkan perlahan di atas pangkuan lalu mencomot kertas tersebut dan mulai membaca kata demi kata yang tertera di atasnya.

Ige mwoya? (apa ini?)” tanya si pria. Bibirnya mengerucut dan alisnya mengkerut.

Namja yang melempar kertas malah berdecak. Dengan gusar, ia mengibas poni rambut lalu memutar bola mata. “Harusnya kau sudah tahu hanya dengan membaca tittle dari isi pengumuman tersebut,” rutuknya kesal.

S T E P F O R W A R D

Namja yang tengah duduk hanya ber-oh ria. Ini bukan kali pertamanya ia melihat kelakuan kembarannya itu yang selalu uring-uringan hanya karena masalah sepele. Dan mungkin kertas ini salah satu penyebab mood-nya berubah jelek seperti ini.

“Oh, kita lolos? Jotha, (bagus)” ucapnya datar. Sepertinya ia tidak begitu tertarik dengan kertas tersebut. Buktinya? Setelah mengikuti apa keinginan si kembarannya itu, kertas tersebut ia letakkan dengan malas di sampingnya dan kembali memusatkan perhatian pada komik manga-nya.

Lagi. Namja itu berdecak. Kedua tangannya ia letakkan di pinggang. “Baca lebih teliti lagi, Taeminnie!” rajuknya, kesal dengan sikap acuh Taemin —si namja yang tengah duduk— dan kepolosannya yang memang kelewat polos (?)

Taemin hanya mencibir lalu mengambil kertas berukuran A4 tersebut dan kembali memperhatikan announcement. “Apa? Tidak ada yang aneh,” ucapnya, lagi-lagi tak peduli.

Kai meraih —atau lebih tepatnya merebut— kertas dari tangan Taemin dengan kasar. Announcement berisi deretan nama yang lolos dari open audition seminggu yang lalu ia letakkan tepat di depan wajah Taemin. Sengaja agar namja kembarannya itu dapat memperhatikan lebih seksama dan mengetahui penyebab amarahnya yang kian meledak.

See? Kita di urutan ketiga dan keempat. BUKAN YANG PERTAMA!” pekik Kai penuh emosi.

Taemin menyingkirkan kertas tersebut agar dirinya dapat melihat Kai lebih jelas. “Setidaknya kita lolos, Kai. Bersyukurlah. Well, ternyata audisi itu tidak buruk juga,” tuturnya, santai —berbanding terbalik dengan Kai yang bertanduk dua.

Andwae! Kita harus menemui Hyung,” paksa Kai. Sweeter biru muda yang sempat ia sampirkan sembarangan pada kursi pun ia ambil kembali.

“Untuk apa?” tanya Taemin. Bola matanya bergerak mengikuti kemana Kai berjalan.

“Aku tidak menerima hasil ini! Kau tahu? Aku dijuluki ‘The King of Dance’ dan tidak boleh ada yang merebut posisi itu!” sungutnya.

Taemin menggeleng. Ia kembali membuka salah satu halaman pada komik manga dan kembali mencoba menghayati gambar-gambar serta jalan ceritanya. “Terlalu ambisius juga tidak baik, Kai-ya. Mungkin orang itu memang memiliki bakat yang jauh melebihimu,”

Mendengar penjelasan Taemin yang justru memancing emosinya kian meninggi, Kai menendang udara kosong di hadapannya lalu mengaduh. “Kau tidak lihat siapa yang ada di peringkat pertama? Dia yeoja, Lee Taemin! YEOJA!”

Jinjja? (Benarkah?)”

Taemin meraih kembali kertas yang ada di tangan Kai dan memperhatikan lagi untuk ke sekian kali. Matanya berbinar dan mulutnya menganga tak jelas. Dan ekspresi Taemin sangat berbeda dengan Kai yang justru merutuki hasil open audition yang baginya sangat mengecewakan.

“Aku akan menemui Hyung sendirian jika kau masih berkutat dengan komik manga-mu itu,” ujar Kai.

Ia menunggu jawaban Taemin selama sepersekian detik. Namun melihat gelagat namja yang terbilang cantik tersebut —yang sepertinya lebih tertarik membaca nama-nama yang berhasil lolos audisi, Kai dapat mengambil kesimpulan bahwa ia akan pergi menemui hyungnya sendirian. Padahal sepanjang perjalanan ia terus memaki Taemin. Kenapa ia memiliki seorang twins yang sangat berbeda jauh dengannya?

***

“Apa kau yakin dengan keputusanmu ini?” selidik namja yang tengah berdiri tegap menghadap seorang namja lain yang masih berkutat dengan dokumennya. Tatapan matanya menyiratkan ketidakpercayaan atas keputusan yang telah diambil oleh namja tersebut.

Si namja yang sedang duduk tersebut hanya tersenyum simpul. Kacamata berbingkai hitam miliknya ia lepas seraya mengangkat sedikit kepala agar dapat bertatapan langsung dengan lawan bicaranya.

“Aku tidak salah pilih, Sunbaenim. Mereka memang berbakat,” ucap Donghae kemudian menyandarkan tubuh pada kursi yang didudukinya.

“Tapi mereka berdua lolos tanpa audisi. Bagaimana bisa aku menilai kinerja mereka jika sama sekali tidak mengetahui bakat apa yang mereka punya,” sanggah Yunho untuk ke sekian kali.

Donghae lagi-lagi hanya tersenyum menanggapinya. “Sunbae hanya tinggal menguji mereka pada masing-masing kelas. Dan aku jamin, Sunbae tidak akan menyesal.” Jawabnya singkat.

Yunho berdecak. Bola matanya berputar mendengar penjelasan Donghae yang menurutnya omong kosong. “Kau ini memang selalu saja bertindak sesuai  keinginanmu tanpa memperhatikan kualitas dan—“

“HYUNG!”

Suara seseorang dari balik punggung Yunho serta merta menghentikan percakapan dua namja tampan tersebut. Donghae menggeser tubuhnya agar dapat melihat siapa orang yang dengan ‘sopan’ masuk ke ruangannya tanpa izin.

“Oh—Kai, kau rupanya.”

Dengan tergesa-gesa, Kai menghampiri meja kerja Donghae. Ia sempat melirik sekilas pada Yunho, membungkuk seperlunya, kemudian meletakkan secarik kertas yang menjadi sumber kekesalannya hari ini. Mengerti dengan keadaan sekarang, Yunho pun bergegas pergi meninggalkan ruangan setelah berpamitan pada Donghae.

“Seharusnya kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk,” dumal Donghae. Kai memang seperti itu, tingkat kesopanannya sangat rendah bila dibandingkan dengan Taemin.

“Apa maksudmu melakukan ini? Kau bilang kalau aku dan Taemin pasti akan menjadi orang pertama yang berhasil lolos audisi! See? Namja dan yeoja inilah yang malah lolos tanpa audisi! Jika keadaannya seperti itu, aku dan Taemin tak perlu mengikuti audisi itu dan lebih memilih membungkam mulutmu dengan sejumlah uang!” rutuk Kai tiada henti.

Donghae melempar bantal kursi yang ada di balik punggungnya ke arah Kai. Namja belasan tahun itu hanya menepis seperlunya. Ia tahu, Donghae melakukannya tidak dengan emosi, hanya saja saat ini ia sedang kesal pada kakak kandungnya itu.

“Kau fikir uang yang kau dapat itu dari siapa selain dariku? Jadi berhentilah merengek seperti anak kecil. Sudah bagus aku meloloskanmu masuk ke dalam drama musikal ini,” goda Donghae dan berhasil membuat Kai mengeluarkan kepulan asap di sekitar kepalanya.

“Ergh! Hyung! Akan kubuktikan bahwa aku lebih baik dari mereka!” sungut Kai. Sedetik kemudian ia menghilang dari ruangan Donghae. Namun sebelum benar-benar menghilang, ia sempat menendang kursi, meja, dan daun pintu untuk menyalurkan kekesalannya.

Donghae hanya menggeleng sambil berdecak. Well, Kai memang seperti itu. Terlalu ambisius jika sudah berhubungan dengan urusan ‘dance’. Tapi ada daya? Eomma dan Appa nya saja tidak bisa menahan kelakuannya. Mungkin ia hanya perlu menunggu kapan Kai akan berubah.

Kertas yang diletakkan oleh Kai begitu saja di atas meja malah menarik perhatian Donghae. Ia membalikkan kertas itu agar dapat membaca deretan kata yang menghiasi benda tersebut. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. Kedua tangannya menyatu lalu menopang dagunya.

Kedua matanya menutup, mengingat kembali peristiwa lima tahun lalu saat dirinya masih menjadi seorang manusia biasa —tidak seperti sekarang ini, seorang CEO sebuah agency di Seoul.

“Mungkin ini adalah salah satu cara agar aku bisa menemui kalian,” bisiknya seraya menatap dua nama pertama yang ada pada deretan tulisan pada kertas.

and the story begins….

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

30 thoughts on “STEP FORWARD (ii)”

  1. aw aw aw…
    i think that this gonna be my next ff i want to read after the last chapter of my name is lee hyuk jae

  2. Kyaaa~ Apa-apaan ini.. Lagi enak-enak baca tiba-tiba TBC..
    Awaw.. My namja jadi main cast lagi. Semangat bacanya. Kkkk~
    Tapi baydewey, itu Kai yaampun galak banget. Jadi atuut~ baru gitu udah marah2 ga jelas. Padahal Taeminnya stay cool. Ngahahaha
    Yeoja sama namja yang ngalahin Kai-Taemin itu Hyukjae sama Ikha ya? :/
    Ayo dong cepet dilanjut, eon. Penasaran sekaliiiiiiiiihhhhh~

    1. eh eh eh, kamu baca prolog FF ini ya? kkkk~ tar yaaa, pasti onn lanjutin ko, doain aja skripsi onn lancar ya biar nanti gak kesendat-sendat kaya My Name is Lee Hyuk Jae, hehe~ muah muah

  3. what??? jongin and taemin are twins???? sodaraan juga sama donghae?? bener2 diluar dugaan. hahaha. suka banget karakter kai, berandalan gimana gitu, cocok banget sama wajahnya yang agak ‘brengsek’ (?). hahaha.

  4. saya kalo jadi Donghae, saya bakal ngegeplak Kai..
    tu pintu, meja, kursi pasti pada nangis di.tendangin satu.2..
    yak..
    terciptalah twins ter-absurd abad ini..
    coba Ikha-ya bayang.in..
    Kai : [marah.2>>treak.2 pake TOA>>noleh ke Teamin..] Bener, khan.?
    Taemin : Eh.? [noleh ke Kai>>mikir tapi ndak ngerti] Uhm.. Iya, bener.. [balik baca komik]
    yg ngliat : [jatuh, cium tanah]
    semangad, Ikha-ya.! *treakPakeTOABarengKai

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s