MY NAME IS LEE HYUK JAE “Chapter 09”

FF - My name is lee hyuk jae - NewYeoja itu terdiam, duduk di tepian tempat tidur dengan kedua tangan menopang kepala. Ia mendesah berkali-kali. Kepalanya serasa berkedut. Membuat pusing menjalar di otaknya. Sekarang ini Ikha masih berada di ruangan Eunhyuk. Hening. Tak ada siapapun disana kecuali dirinya. Semua orang meninggalkannya sendirian karena ia butuh ketenangan.

Kepalanya mendongak, melirik kembali ke arah foto-foto seorang namja yang sangat dikenalnya menghiasi dinding kamar Eunhyuk. Namun setiap kali Ikha menatap foto itu, setiap kali itu pula hatinya merasa teriris-iris.

Demi Tuhan, ia tak pernah membayangkan semua akan menjadi serumit ini. Empat bulan yang lalu, ia masih seperti yeoja normal lainnya. Memiliki kehidupan yang tenang dan berjalan seperti apa yang diharapkannya. Namun semenjak ia datang ke tempat ini, alur cerita kehidupannya yang telah dirangkai dengan baik berubah dengan cepat.

Lee Eunhyuk, atau bisa juga kau sebut Lee Hyuk Jae…

Ya. Namja berkepribadian ganda ini telah berhasil membongkar semua puzzle hidup yang telah disusun Ikha. Mungkin benar, dengan membongkar puzzle-puzzle tersebut, Ikha dapat mengetahui letak-letak puzzle yang tidak pada tempatnya. Tapi ini terlalu mendadak. Ia belum siap menerima kenyataan.

Ikha menyisir rambut menggunakan jemarinya, menyisipkan ke balik telinga mungilnya, lalu menyatukan geraian rambut kecokelatannya menggunakan ikatan rambut. Bahunya bergerak turun. Sedangkan kedua matanya menatap sinar matahari yang warnanya mulai berubah jingga.

Matanya terpejam. Kata-kata Heechul tentang pribadi Eunhyuk yang pernah ia ceritakan padanya seolah berputar-putar di atas kepala. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana sikap Hyung-nya Eunhyuk ketika namja berkepribadian ganda itu menderita. Diam dan tidak melakukan hal apapun yang dapat mempercepat penyembuhan penyakit Eunhyuk.

Bukan hanya itu. Sikap hyung-nya Eunhyuk yang seolah—atau dengan sengaja—menjauhinya dan malah mendapat semua harta yang seharusnya milik Eunhyuk membuat darah di sekujur tubuh Ikha memuncak. Ya, sekarang ia bisa mengkaitkan semua hal yang diketahui. Benar, semuanya saling berkaitan dan masuk akal.

Ia tidak tahu harus memihak siapa. Yang jelas, Eunhyuk merasa dipojokkan dari berbagai pihak. Tidak ada yang menolongnya. Tidak ada yang menemaninya. Tidak ada yang bisa diajaknya bicara. Meskipun tangannya sendirilah yang telah membunuh kedua orang-tuanya, ia dapat memastikan bahwa—jauh dari dalam lubuk hatinya—ia tak ingin melakukan tindakan kriminal tersebut.

Karena terlalu hanyut dalam fikirannya sendiri, Ikha tidak menyadari bahwa seseorang telah masuk ke dalam ruangan. Panca inderanya menangkap suara pintu yang ditutup dengan paksa dan hal itu membuatnya terjaga. Ikha mendesah. Telapak tangannya mengusap kulit wajahnya dengan merata.

“Sudah kukatakan untuk meninggalkanku sendirian, Cho Kyuhyun.” ucapnya, mendesis. Ikha sudah tak sanggup untuk beradu mulut dengan Kyuhyun. Semua tenaganya seolah terhisap pada gambar yang ada pada dinding kamar Eunhyuk.

“I’m not Cho Kyuhyun! And stop speaking with an alien words,” seru seseorang yang  disangkanya Cho Kyuhyun.

Sontak urat-urat di tubuh Ikha menegang. Indera pendengarnya menajam saat mendengar alas sepatu yang dipakai orang tersebut berbenturan dengan lantai. Menimbulkan suara ‘tok tok tok’ yang pelan dan berirama.

Ikha memberanikan diri untuk melihat orang tersebut. Dan yeah, benar saja. Ia mendapati Eunhyuk—atau sekarang masih berkeperibadian Lee Hyuk Jae—tengah menatap foto-foto Hyung-nya yang berserakan dimana-mana. Sedetik kemudian Hyuk Jae beralih menatap Ikha, membuat yeoja itu menelan ludah seketika. Ia menyeringai. Seringaian angkuh yang biasa ia lontarkan.

“Are you shock?” ucap Hyuk Jae. Ia berjalan perlahan mendekati Ikha. Tak lupa jemarinya bergerak menelusuri kertas-kertas yang bertempelan di dinding.

Tenggorokan Ikha seperti tercekat sesuatu. Pita suaranya tak dapat bergetar. Bola matanya bergerak perlahan mengikuti kemana arah Hyuk Jae berjalan. Dan ketika namja berambut putih kekuningan tersebut berhenti tepat di depannya, ia pun segera menunduk, sengaja tak ingin melakukan kontak mata dengannya.

“At first, i weren’t gonna tell you about him. But since you’ve entered into my room without permission, I can’t do anything,” ucap Hyuk Jae. Ia memang mengucapkan kalimat tersebut dengan suara yang pelan. Namun siapapun yang mendengarnya pasti akan meremang. Aura Hyuk Jae seolah memancar, membuat Ikha lagi-lagi mengatupkan mulutnya.

Hyuk Jae bergumam, “I told you that you’ll regret what you’ve decide, Miss Cho.”

Ikha sedikit mendongakan kepala. Kedua matanya menemukan Hyuk Jae tengah bersender pada jendela. Ia kembali menunduk, mengusap permukaan wajah untuk kesekian kali, kemudian beranjak dari tempatnya. Entah mengapa ia sedikit muak dengan apa yang Hyuk Jae katakan.

Baru saja yeoja bermata cokelat tersebut memutar tubuh membelakangi Hyuk Jae, namja itu mencengkeram salah satu lengan Ikha dengan kuat. Otomatis Ikha segera menghentikan langkahnya dan mendelik tajam pada Hyuk Jae.

“Don’t touch me,” desisnya seraya berusaha menepis tangan Hyuk Jae.

Hyuk Jae memandang Ikha lebih intens. Nada suaranya terdengar sangat datar. “You’ll continue to defend him after what he did to me?”

Yeoja itu bergeming di tempatnya. Sama sekali tak melakukan pergerakan sekecil apapun. “I said, don’t touch me, Lee Hyuk Jae.” Gumamnya.

Meski tak bertenaga, Ikha berhasil melepas tangan Hyuk Jae. Mungkin karena namja itu juga sedikit melonggarkan tautan jemarinya hingga Ikha dapat dengan mudah terlepas dari cengkeramannya. Sudut bibir Hyuk Jae tertarik membentuk sebuah seringaian. Ia mengeluarkan CO2 dari hidungnya dengan kasar, membuat Ikha berspekulasi bahwa namja ini tengah menganggapnya remeh.

“Ah, you loved him, right? I forgot it,” tukas Hyuk Jae.

Lagi-lagi Ikha menurunkan bahu. Ia mendengus seraya memutar bola matanya. “I’m tired. I don’t have much energy to fight with,” elaknya, kemudian kembali melanjutkan langkah yang sempat tertunda.

“CHO IKHA!!” bentak Hyuk Jae, membuat yeoja berambut kecokelatan tersebut secepat kilat menghentikan langkah kakinya. Bukan karena Hyuk Jae telah membentaknya, melainkan karena ini kali pertamanya namja tersebut memanggil namanya. Lengkap dengan nama marga dan nama panggilannya.

“I’m tired, Mr. Lee. Stop bothering me and gimme time to think,” ucap Ikha sepelan mungkin.

Bosan dengan semua penolakan Ikha, Hyuk Jae pun bergerak mendekati yeoja tersebut kemudian menariknya dengan kasar hingga mereka saling berhadapan. Kedua tangan Hyuk Jae meremas kedua pundak Ikha, membuat yeoja yang tengah mengenakan violette-coat tersebut agak menengadah menatap Hyuk Jae yang notabene lebih tinggi darinya.

“You don’t need to think. You’re supposed to be with me. That’s all,” tandasnya.

Ikha—yang merasa bahwa kata-kata Hyuk Jae barusan lebih terdengar seperti sebuah pemaksaan—hanya mendengus. Sempat ia melirik ke arah foto Hyung-nya Eunhyuk beberapa saat.

“Do you think it’s the good time to make a joke?” elak Ikha, berusaha menghibur diri perihal statement Hyuk Jae beberapa detik yang lalu.

“And you think that i’m just kidding?” rajuk Hyuk Jae, tak mau kalah.

Kedua tangan Hyuk Jae yang semula bertengger pada bahu Ikha kini bergerak perlahan menuju telapak tangannya. Setelah menemukan bagian tubuh Ikha yang dicarinya, ia pun meremas kedua telapak tangan yeoja tersebut hingga mampu membuat Ikha kembali dibanjiri keringat dingin di sekitar pelipisnya.

“I’m serious with my own words,” aku Hyuk Jae pada akhirnya.

Bola mata Ikha membesar. Telinganya seolah berdengung hebat. Bahkan ia sempat tak merasakan ketiga panca indera-nya yang lain bekerja sebagaimana mestinya saat mendengar Hyuk Jae yang terlihat sangat serius mengucapkan kalimat di atas. Ikha memilih diam—lebih tepatnya menunggu apa yang akan Hyuk Jae katakan. Ia masih mencerna apa maksud dari perlakuan Hyuk Jae saat ini—menggenggam kedua tangannya.

“I like you. And i knew that you like me, too.” Ucap Hyuk Jae, penuh percaya diri.

Ikha mendengus kemudian berkata, “I’m gonna get engaged and you’ll know who’s going to marry me,”

Dan tepat setelah itu, Ikha-pun melepas genggaman Hyuk Jae. Ia tidak mau membuat namja itu berlama-lama menyentuhnya. Asal kau tahu, saat ini perasaannya semakin tak menentu. Jika Hyuk Jae terus bersikap seperti itu, apa jadinya nanti?

“You’ve known the one who made me like this and you still choose him?” hardik Hyuk Jae. Matanya mulai memerah dan nafasnya tak beraturan. Sedari tadi Ikha terus saja menampiknya dan hal itu justru membuat emosinya tak terkendali.

Melihat Ikha yang masih saja mematung di tempat, tak bicara, atau bahkan bernafas sedikitpun—karena sedari tadi Ikha berusaha memelankan deru nafasnya, Hyuk Jae pun merengkuh wajah Ikha hingga mau tak mau yeoja itu memutar mata, berusaha untuk memalingkan wajah.

“LOOK AT ME, CHO IKHA!” tegas Hyuk Jae seraya mengeratkan rengkuhan kedua tangannya, membuat kedua pipi Ikha semakin terdesak hingga wajahnya terlihat seperti Kobochan.

“You can’t lie to me! We’ve spent our time together more than enough! You knew that’s only you whom i couldn’t hurt! Why? Because i know there’s something in my heart! I have a feeling and it’s strong! But you still choose him? HIM???” Suara Hyuk Jae perlahan meninggi satu oktaf, membuat Ikha semakin takut untuk menatapnya.

Hyuk Jae menggerakkan kepala Ikha agar yeoja itu menatapnya. “I can give you everything that he can’t do!” ucapnya mantap.

Ikha mendesis seraya mengeluarkan tawa hambarnya. “Like what?” tanyanya, sedikit mendesak Hyuk Jae untuk memberi jawaban.

“Like this!!!”

Dan tepat setelah itu, Hyuk Jae menarik diri lebih dekat dengan Ikha. Bibir tipisnya menyatu sempurna dengan bibir Ikha. Sengaja kedua tangannya tetap merengkuh wajah yeoja tersebut agar tidak menolaknya.

Mungkin memang benar apa yang dikatakan Hyuk Jae. Mereka telah sering menghabiskan waktu bersama. Wajar jika Ikha merasakan ada sedikit ‘rasa’ yang timbul dalam hatinya. Siapa yang akan menolak Lee Hyuk Jae? Meskipun ia sedikit ‘gila’ dan ‘frontal’, namun ada sisi lain yang patut dipertimbangkan. Dia cukup ‘manis’ dan ‘tampan’. Tapi untuk kali ini tidak. Ikha masih bisa menahan diri.

Terbukti ketika Hyuk Jae melakukan ‘pemaksaan’ padanya, tubuhnya langsung bergerak aktif. Sebelum Hyuk Jae bertindak lebih jauh lagi, ia segera mendorong tubuh namja bertubuh skinny tersebut. Belum puas karena Hyuk Jae telah agak ‘liar’ mendaratkan bibirnya, salah satu tangan Ikha dengan refleks menampar pipi namja tersebut hingga menimbulkan bunyi ‘plak’ yang cukup kencang.

Seketika Hyuk Jae terdiam. Tangannya tak lagi menyentuh Ikha, namun kini berpindah mengelus kulit pipinya yang serasa memanas. Nafas Ikha memburu. Agak menyesal—sebenarnya—karena ia justru bisa saja malah membangkitkan amarah Hyuk Jae. Namun apa daya? Hyuk Jae terlalu kasar dan ia sangat tidak menyukainya.

“Don’t ever do itagain,” gumam Ikha. Dan sebelum ia memberi kesempatan Hyuk Jae untuk bicara, ia telah pergi terlebih dahulu.

Hyuk Jae mengusap bibirnya sambil memperhatikan Ikha yang semakin jauh meninggalkannya sendirian. Lidahnya menjilati biibr bawahnya seraya tersenyum. Ia melepas coat  serta kaus yang dipakainya karena setelah mencium Ikha, suhu tubuhnya berubah naik.

“You’ll regret it,” bisiknya seraya melempar kausnya sembarangan.

Sementara itu Ikha terus berjalan tanpa terlalu memperhatikan arah. Namun tepat ketika dirinya keluar dari ruangan Hyuk Jae, ia masih bisa melihat dengan jelas beberapa petugas berpapasan dengannya. Mereka berlari berlawanan arah, bergerak menuju kamar Hyuk Jae.

Ia sempat berpapasan dengan Heechul dan juga Kyuhyun, tapi ia pura-pura tak melihat mereka sekalipun kedua namja itu menyapa atau sekedar bertanya perihal kedatangan Hyuk Jae yang tak terdeteksi siapapun.

Ia berjalan gontai ke pintu keluar kemudian tak lama ponsel-nya bergetar. Dirogohnya isi kantung violette-coat-nya kemudian membaca pesan masuk. Ternyata dari Sang Eomma. Ia mengibas poninya sejenak lalu mendesah. Kenapa hari ini mood-nya berubah dengan cepat? Ia tidak ingin bertemu siapapun tapi dari isi pesan Sang Eomma, jelas bahwa ia mau tak mau harus datang.

Well, Ikha meyakinkan diri terlebih dahulu. Mencoba bersikap tenang. Oke, ada satu hal yang dapat menguntungkannya jika ia datang ke tempat itu. Ya, untuk meyakinkan sesuatu.

***

Ikha membawa seikat bunga lily di tangannya. Tak lupa, keranjang kecil berisi buah-buahan segar tertenteng manis pada tangan satunya. Langkah kakinya sangat pelan dan tak bertenaga. Nampak jelas bahwa ia agak ragu untuk datang. Nyonya Cho mengiriminya pesan bahwa Donghae sekarang ada di apartemen miliknya.

Beliau mengatakan, Donghae mengalami kecelakaan kecil ketika dirinya sedang bekerja. Untungnya luka yang ditimbulkan tidak begitu buruk, jadi Donghae tidak perlu menjalani rawat inap. Sang eomma memaksanya untuk menjenguk Donghae karena beliau dan juga suaminya—appa-nya—sedang berada di luar negeri. Beliau beralasan ‘Donghae adalah calon suamimu kelak, jadi rawat dia dengan baik ketika keadaannya tidak begitu bagus’. Hah, sungguh kolot!

Seseorang mempersilahkan masuk tepat setelah Ikha membunyikan bel. Ia bisa menebaknya, yeoja paruh baya yang lebih bagus dipanggil ahjumma tersebut pasti pelayan yang dibayar Donghae untuk membersihkan ruangan. Selain itu, apa lagi?

Ikha sempat memperhatikan sekeliling ruangan. Tempat ini sangat berbeda ketika terakhir kali dikunjunginya—mungkin sekitar dua tahun yang lalu. Tepatnya ketika Donghae pertama kali mengajaknya berkunjung ke tempat tinggalnya. Selama ini, Donghae lebih sering berkunjung ke rumahnya. Bukan sebaliknya.

Wasseo (Kau sudah datang,)”

Bola mata Ikha sontak berputar mencari dimana letak si sumber suara. Tak lama, ia menangkap sesosok namja tengah memutar tubuhnya dari balik sofa. Namja itu tersenyum seraya menyuruhnya untuk duduk disampingnya. Ikha hanya menunjukkan senyum tipis yang ia punya. Setidaknya hanya itu satu-satunya hal yang dapat ia lakukan.

Benda-benda yang sengaja ia bawa diletakkan di atas meja. Kemudian Ikha pun memposisikan diri duduk disamping Donghae. Ia kembali tersenyum seraya mengusap lebam yang menghiasi wajah mulus calon tunangannya—atau lebih tepatnya calon suaminya—tersebut.

Gwenchanjji (Kau tak apa-apa?)” tanyanya. Well, pertanyaan simpel memang. Namun hal itu tepat ia ajukan karena jika kau melihat lebam yang menghiasi wajah Donghae, kau pasti akan ikut mengerutkan alis.

Donghae meletakkan tangannya di atas tangan Ikha yang masih mengusap pipinya dengan lembut. “Aku senang kau datang,” ucapnya, sedikit mengalihkan pembicaraan.

Ikha meraih tangan Donghae, meletakkannya di atas paha namja tersebut kemudian digenggam cukup erat. Ia sempat memperhatikan jemari Donghae yang sudah lama tak disentuhnya. Membuat ibu jari tangannya bergerak mengusap halus permukaan punggung tangan Donghae.

“Kau berjanji akan mengajakku ke theater untuk menonton Captain America. Apa kau lupa?” tanya Ikha, suaranya sangat pelan. Hampir tak terdengar.

Donghae tersenyum. Senyum yang sangat disukai Ikha. “Aku sudah membelinya, tapi keadaan sepertinya tidak memihak kita,” belanya kemudian menunjukkan dua tiket theater yang telah dibelinya.

“Setidaknya aku masih ingat dengan janjiku sendiri,” imbuhnya, dan—lagi-lagi—tersenyum manis pada Ikha.

Geurae (Baiklah). Aku tidak akan membahas itu lagi. Tapi aku ingin kau menjelaskan kenapa wajahmu dipenuhi lebam seperti itu?” tuntut Ikha. Masih dengan tangan yang berpautan dengan tangan Donghae, ia menyandarkan tubuhnya pada senderan sofa. Punggungnya terasa lelah.

Donghae sedikit mengerucutkan bibir. “Hmm, hanya kecelakaan kecil. Jatuh dari tangga karena tergelincir sesuatu. Well, itu lebih baik daripada aku harus jatuh dari lantai enam belas dari jendela ruangan,” godanya.

Namja yang telah mengecat cokelat rambutnya tersebut memang sempat terkekeh. Tapi tidak dengan Ikha. Baginya hal tersebut bukanlah sebuah candaan. Ia hanya menatap Donghae intens. Padahal dalam hati dirinya mengaduh. Mengapa namja yang kini menyandang status ‘namjachingu’-nya tersebut sangat dicintainya?

“Apa kau mencintaiku?”

Pertanyaan Ikha yang tiba-tiba tersebut membuat Donghae menghentikan tawa dan merubahnya menjadi senyum tipis. “Kenapa kau menanyakan hal itu? Kalau aku tidak mencintaimu, aku akan membatalkan pertunangan kita dua hari lagi,”

Mata Ikha membulat. Syarafnya bergerak cepat saat mendengar kalimat terakhir Donghae. “Mworago? Dua hari lagi?” tanyanya memastikan.

Donghae mengangguk. “Apa kau lupa? Aigoo,” dengusnya seraya mencubit ujung hidung Ikha.

Ugh, benarkah itu? Dua hari lagi? Mengapa waktu jadi berjalan semakin cepat? Seingatnya, baru kemarin dirinya dan Sang eomma fitting pakaian di butik. Apa karena ia terlalu hanyut dalam permainan Lee Hyuk Jae hingga lupa daratan seperti ini?

“Dimana Abeonim dan Eomonim? Aku ingin melihat mereka,” pinta Ikha.

“Mereka masih di Paris. Mungkin besok baru datang,” jelas Donghae.

“Oppa,” sahut Ikha, kepalanya semakin ia benamkan pada senderan sofa. Tiba-tiba bagian tubuhnya itu terasa berat. Matanya terpejam dan suaranya sangat pelan.

“Hmm,”

Hanya itu jawaban Donghae. Ia menggeser tubuhnya beberapa sentimeter mendekati Ikha lalu meletakkan kepalanya sendiri pada pundak Ikha yang terkulai lemah. Ikha dapat merasakan dengan jelas ketika aroma tubuh Donghae yang semakin kuat tertangkap indera penciumannya. Dan hal itu membuatnya terjaga.

“Kenapa takdir mempertemukan kita?” gumamnya. Pandangan Ikha lurus menatap sesuatu di depannya dengan kosong.

“Karena Tuhan telah merencanakan semuanya,” jawab Donghae singkat.

Ikha menarik diri menegakkan tulang punggungnya hingga Donghae mau tak mau mengangkat kepala dan menjauh dari pundak Ikha. Yeoja itu terdiam cukup lama. Hingga akhirnya…

“Bagaimana jika Tuhan berkehendak lain dari pertemuan kita ini?” tanya Ikha lagi.

Donghae ikut menegakkan tubuhnya, menyetarakan dengan tubuh Ikha. Namja itu agak meringis ketika dirasa salah satu bagian tubuhnya terasa ngilu. Namun ia segera tersenyum ketika melihat wajah Ikha yang nampak bingung.

“Jika memang seperti itu, aku akan berusaha untuk terus mendapatkanmu. Kau adalah pilihan terakhirku, dan akan tetap seperti itu.” jelasnya.

Sedetik kemudian, Donghae memberinya sebuah pelukan hangat. Namja itu mengeratkan pelukan setiap detiknya seolah tak ingin melepas Ikha barang sedetikpun. Tapi yeoja itu lain, ia hanya diam. Diam dan tak merespon apapun. Otaknya sedang berputar-putar mengingat apa yang telah diketahuinya.

Mata Ikha terpejam. Ingin sekali ia menangis saat itu juga, tapi ia berusaha bertahan. Yeah, ia kembali ingat percakapan—atau lebih tepatnya pertengkaran kecilnya—dengan Kyuhyun tadi pagi ketika mereka masih di ruangan Hyuk Jae. Foto-foto Hyung-nya Eunhyuk lah yang menjadi sumber pertengkaran mereka…..

“Bukan begitu, Kha-ya. Aku juga baru sa—“

“Aku tidak mau mendengar alasanmu,”

Ikha memotong kalimat Kyuhyun. Namja itu bergerak mendekati Ikha namun yeoja itu lebih cepat bertindak.

“Jangan mendekatiku, Cho Kyuhyun! Kau—“

“BERHENTI MENGINTERUPSI SETIAP PERKATAANKU, CHO IKHA! AKU KAKAKMU!” bentak Kyuhyun.

Hah, tepat sekali. Ikha langsung membatu setelah Kyuhyun membentaknya. Kakaknya itu memang agak menakutkan ketika sedang marah. Wajah evil-nya berubah menjadi wajah iblis, lengkap dengan aura jahatnya.

Kyuhyun memohon pada Heechul dan petugas rumah sakit untuk meninggalkannya berdua saja dengan Ikha. Ia harus menjelaskan sesuatu atau selamanya yeodongsaeng-nya itu akan salah paham padanya.

Ikha mengusap wajah menggunakan kedua telapak tangannya. Matanya mulai berkaca-kaca dan hal itu membuat Kyuhyun semakin merasa prihatin. Ia memegang kedua bahu Ikha, menuntun yeoja itu untuk duduk di sisi tempat tidur Eunhyuk. Ikha sempat melirik ke arah foto Hyung-nya Eunhyuk dan ia kembali meringis setiap kali hal itu dilakukannya.

“Dengarkan aku, Kha-ya. Kalau kau fikir aku menyembunyikan hal sebesar ini padamu, maka jawabannya salah,” bela Kyuhyun.

“Aku bukan menyalahimu karena hal itu, Cho Kyuhyun. Aku tahu semua orang tidak mengetahui identitas Hyung-nya Eunhyuk karena Dokter Kim memberitahuku. Yang kusesali adalah… kenapa kau melarangku untuk datang kemari?” ocehnya tiada henti. Ya, kebiasaan Ikha ketika sedang marah pada Kyuhyun adalah ‘tidak menyebutnya OPPA’. Melainkan nama lengkapnya.

Ikha masih saja menutup wajahnya. Masih belum sanggup melihat kembali pemandangan mengerikan di depannya. Gambar-gambar yang dibuat Eunhyuk dan Lee Hyuk Jae membuatnya mual.

“Aku takut kau belum siap menerima kenyataan ini,” jawab Kyuhyun, mencoba bersikap setenang mungkin.

Ia kembali melanjutkan, “Aku tahu, kau sudah mengetahui semua hal mengenai Eunhyuk ataupun Lee Hyuk Jae dari Heechul Hyung. Kau bukan lagi adik kecilku yang dulu—yang bodohnya setengah mati, jadi kau pasti langsungdengan cepatmengaitkan semuanya. Aku pun sama. Sama kagetnya denganmu. Ini menyangkut kehidupanmu kelak dan aku tidak ingin hal-hal buruk menimpamu,”

Setelah Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya, Ikha menelan ludah dengan cepat seraya berusaha mendongakan kepala. Sekali lagi—berusaha untuk menatap foto Hyung-nya Eunhyuk.

“Eotteohkae, Oppa.” Rintih Ikha. Nadanya sangat mirip seperti orang yang bosan hidup. Kyuhyun ikut mendongakkan kepala menatap semua hasil tangan Eunhyuk. Serta-merta ia mengusap punggung Ikha dengan lembut.

“Saneun gae wa ireolkka? (kenapa hidupku jadi begini?)” Kembali Ikha merintih didalam dekapan Kyuhyun dan namja itu hanya diam tak berkata.

“Lee Donghae…” gumamnya.

“Kenapa harus kau yang terlibat?”

Ikha melepas pelukan Donghae yang dirasanya sudah cukup lama. Tubuhnya panas. Mungkin karena bergesekan dengan tubuh Donghae. Namja itu mengeryitkan kening saat mendapati raut wajah Ikha yang lain dari biasanya.

“Wae?” selidik Donghae seraya mengusap kedua kantung mata Ikha.

Yeoja itu menyingkirkan jemari Donghae kemudian mendekatkan wajahnya pada namja tersebut sedetik kemudian. Donghae sempat tersentak saat Ikha yang berinisiatif menciumnya terlebih dahulu. Seperti yang kalian ketahui, Donghae adalah namja yang selalu bergerak lebih dulu dalam hal apapun—termasuk dalam berciuman. Jadi wajar saja jika ia agak kaget melihat sikap Ikha yang ‘berbeda’ dari biasanya.

Ikha melingkarkan kedua tangannya di sekitar leher Donghae, memperdalam ciuman mereka dan berhasil memancing libido Donghae. Namja berambut kecokelatan tersebut melingkarkan tangannya pada pinggang Ikha, mencoba menikmati moment yang jarang ia dapatkan.

Meski saat ini ia sedang memadukan bibirnya dengan bibir Donghae, perasaan Ikha begitu campur aduk dan tak menentu. Namja ini—namja yang akan menjadi calon suaminya kelak—adalah kakak angkat dari Eunhyuk. Bagaimana bisa semua ini sangat kebetulan? Apa ini rencana dibalik pertemuannya dengan Donghae? Yakni mengetahui segala kebusukannya?

“This is our last kiss, Oppa. We never do it again,” ucap Ikha di dalam hati.

Ya. Dalam hati.

***

Sayup-sayup Ikha mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Dia sudah menebak. Pasti Cho Kyuhyun. Dia memang memiliki kebiasaan suka mengganggu kenikmatan seseorang yang sedang menikmati pagi indahnya. Tapi kali ini Ikha bersikap biasa. Kelopak matanya terlalu berat untuk dibuka. Biasanya ia akan berteriak terlebih dahulu ketika Kyuhyun mencoba untuk mengganggunya. But, yeah.. she said it just now.

Indera perasa Ikha seketika mengeluarkan sirine tanda bahaya ketika merasakan tangan seseorang melingkar di pinggangnya. Ia bisa menerka jika orang ini juga tengah merebahkan diri disampingnya—lebih tepatnya dibalik punggungnya.

Ikha menggumam tak karuan. Selain karena Kyuhyun sudah mengganggunya, cahaya matahari yang merengsak masuk melalui celah gorden membuatnya kembali mengaduh.

“Cho Kyuhyun, berhenti menggangguku. Aku masih ngantuk,” gumam Ikha nyaris tak bersuara. Ia sama sekali tak bergerak, hanya mulutnya saja yang sedari tadi berbicara.

“I’m not Cho Kyuhyun,” sanggah orang tersebut.

Ikha membelalakan kedua matanya. Jangan katakan kalau sekarang ia salah dengar? Oke, untuk memastikan, yeoja itu memperhatikan struktur tangan Kyuhyun. Dan kesimpulan yang ia dapat adalah ‘kulit namja ini lebih putih dan halus ketimbang kulit Kyuhyun’. Apa dia salah orang? Kalau bukan Kyuhyun, lalu namja ini siapa?

Serta merta Ikha memutar tubuhnya secara perlahan. Demi Tuhan, ia akan mencekik leher Kyuhyun jika ternyata namja yang kini berbaring di sampingnya adalah….

“Hy! Miss me?” goda Hyuk Jae. Tak lupa gummy-smile-nya yang menghiasi wajah.

“YA!” teriak Ikha. Yeoja itu menarik selimut hingga tenggorokan. Berharap kejadian beberapa hari yang lalu tak kembali terulang.

“You must follow me. I need your help,” ucap Hyuk Jae to-the-point.

Belum sempat Ikha membuka mulut dan meminta keterangan lebih lanjut dari Hyuk Jae, namja berperawakan tinggi tersebut menarik tubuh Ikha, menggendongnya dengan paksa. Kau tau bagaimana posisi Ikha sekarang? Kepalanya ada dibawah sedangkan kakinya terjuntai tak karuan. Perut Ikha menempel pada pundak Hyuk Jae sementara tangan kokoh namja itu menahan tubuh Ikha dengan melingkar manis pada pinggangnya. Bahkan Hyuk Jae sempat menyentuh butt Ikha yang—baginya—merupakan salah satu daerah sensitifnya.

“YA! LEE HYUK JAE! GET OFF OF ME!!” teriak Ikha sambil memukul punggung Hyuk Jae. Kakinya yang bergelantungan menendang udara tak karuan. Dan sialnya—karena kepala Ikha yang terbalik, ada di bawah—membuat semua rambutnya menutupi pandangannya.

Hyuk Jae malah bersenandung. Menggendong Ikha serasa menggendong sekarung beras. Sangat ringan dan mudah. Ia sempat memegang kedua kaki Ikha agar berhenti bergerak, namun yeoja itu tetap tak bisa diam.

“YA! WHERE WILL YOU TAKE ME OUT?” pekik Ikha untuk kesekian kali saat Hyuk Jae telah melewati ruang tamu.

“Somewhere, baby. Just shut your mouth up and follow my orders,” suruhnya tak peduli.

Ikha semakin berteriak histeris. Seharusnya ia dapat memperhitungkan hal ini. Kemarin ia sempat membuat Hyuk Jae marah dengan menamparnya cukup keras. Inikah akibatnya jika membuat namja liar ini marah.

Hanya ada dua pertanyaan yang mengerubungi otak Ikha sekarang.

Pertama, Kemana Hyuk Jae akan membawanya.

Dan kedua, DIMANA CHO KYUHYUN SEKARANG? SEHARUSNYA PAGI INI KAKAKNYA YANG EVIL ITU MASIH DI RUMAH!!!! HARUSNYA KYUHYUN MENCEGAH HYUK JAE MASUK TAPI DIA KEMANA?

To be Continued…

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

76 thoughts on “MY NAME IS LEE HYUK JAE “Chapter 09””

  1. ikha y mulai bimbang deh perasaan y…..
    agak sedih jg sih pas ikha bilang tu ciuman terakhir y,,,,, sebener y pa yg dilakuin donghae k eunhyik sih sampe dia dendam bgt gt,,,,, pa krn hyuk y marah krn dia soang yg diperlakukan kyk gt ma ortu y sementara donghae ngak???????
    kyuhyun k mana kok ngak ada,,,, hyuk jae y jd bisa seenak y ja masuk k kamar ikha n mau d awa k mana tuh……

  2. Aura kelam itu bukan cuma puya Kyu sama Ichul aja..
    Hyuk Jae juga punya..
    Ikha, saya nobat.kn Hyuk jadi salah satu top bias saya selaen Kyu.. *diTampolIkha>>jatuhKePelukanHyuk>>ciumPipiHyuk>>liatIkhaBawaGolok>>Kaabbuuuuuuurrrrr~

  3. woww Ikha sudah tau kenyataannya.. dari kata-katanya yang bilang ‘ini terakhir ciuman kita oppa, dan kita gak akan pernah melakukannya lagi’ apakah itu artinya Ikha akan ninggalin Donghae? aigooo aku kasihan hahahha.. galau unyuk plus donge niih.. disatu sisi kasihan sama kelamnya hidup Hyukjae tapi nanti disaat Ikha melepas donghae, donghae juga gak akan punya siapa-siapa lagi hoho..
    ooooo, apakah luka-luka yang didapat Donghae itu dihasilkn dari Hyukjae? cepat juga Hyukjae bertindaknya hehe

  4. “You can’t lie to me! We’ve spent our time
    together more than enough! You knew that’s only
    you whom i couldn’t hurt! Why? Because i know
    there’s something in my heart! I have a feeling
    and it’s strong! But you still choose him? HIM???”

    Aduh eon…itu kata2 yg aku suka dari hyuk jae

  5. Aah makin seru tpi kenapa banyak banget yg diproctect
    kenapa minta Pw ya susah banget?
    Aku penasaran banget ma ending ya ne ;-(

  6. Donghae… Apa movitasi/tujuan kamu Oppa? T.T
    And Hyukjae lagi… Kapan Eunhyuknya? Tapi emang sikon lagi tegang siih.. Jadi yang keluar si kuat-jenius- handsome Hyukjae.. Heeumm…..

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s