MY NAME IS LEE HYUK JAE “Chapter 08”

FF - My name is lee hyuk jae - New“ANDWAE!!” teriak Ikha dengan nafas yang cukup panjang.

Kakinya bergerak menendang-nendang bed-cover yang menyelimuti sebagian tubuh sementara tangannya berusaha menjauhkan lengan Hyuk Jae yang sedari tadi masih saja melingkar indah di pinggangnya.

Perlahan Hyuk Jae terjaga dari tidurnya. Ia sedikit mengerang tanpa membuka sedikitpun kelopak matanya yang terasa berat. Tangannya yang telah berpindah tempat dari tubuh Ikha pun ia kembalikan lagi ke tempat semula. Membuat Ikha semakin mengaduh tak karuan.

Ngh, what happen? It’s too noisy early in the morning,” gumamnya malas.

Yeoja itu tak mengindahkan gumaman Hyuk Jae. Ia masih mengerang, mencoba menjauhkan namja bertubuh skinny tersebut darinya.

Ya! Hyuk Jae! What r u doin’ in my room? And.. and…

Ikha tidak melanjutkan kata-katanya saat memperhatikan Hyuk Jae yang tengah berbaring disampingnya dan tak melakukan pergerakan sekecil apapun. Bed-cover floral-pink miliknya hanya menutupi sebagian tubuh Hyuk Jae, membuat kulit putih tanpa cacat tersebut nampak jelas di matanya. Ia menelan ludah. Oh, tidak. Ini adalah sebuah malapetaka besar.

Ssstt, don’t talk too much,” gumam Hyuk Jae sambil mengeratkan tangan, merengkuh tubuh Ikha mendekat padanya.

“YA!” pekik Ikha, berusaha menghindar.

Don’t move around, Miss. Cho. I still wanna close to you.” Kembali Hyuk Jae berbisik di dekat Ikha, membuat yeoja itu terhenyak.

Ia menatap Hyuk Jae lekat-lekat. Namja liar itu memang terdiam, namun deru nafasnya terdengar sangat teratur melewati hidung mancungnya. Serta-merta yeoja itu turun dari tempat tidur, itu satu-satunya cara agar dapat menjauh dari Hyuk Jae. Terlalu berbahaya dekat-dekat dengan namja itu.

Benar saja. Hanya mendengar beberapa kalimat saja, jantung Ikha berdetak cukup keras. Apa lagi ini? Tidak mungkin dirinya bisa jatuh ke dalam pesona Hyuk Jae. 안돼! 안돼! 안돼! Ikha terus mencoba meyakinkan hati bahwa apa yang membuat jantungnya berdebar bukan karena perlakuan Hyuk Jae, tapi karena ia takut jika Kyuhyun mengetahui bahwa namja liar ini ada di kamarnya sekarang. Ya! Takut Kyuhyun memergoki mereka!

Lee Hyuk Jae! Don’t-f*ckin-do-somethin’-to-me! (Lee Hyuk Jae! Jangan-macam-macam-padaku!)” ketus Ikha. Yeoja itu memberikan penekanan pada setiap kata-katanya—seolah menghardik Hyuk Jae.

Hyuk Jae membuka kelopak matanya sedikit. Alisnya terangkat saat mendapati penampilan Ikha yang—yah—sangat kusut dan berantakan. Ia tersenyum geli sambil memeluk bantal yang dipakai untuk menahan kepalanya.

What?” tanya Ikha saat dirasa sesuatu yang mencurigakan terpancar dari wajah evil Lee Hyuk Jae.

Lagi-lagi Hyuk Jae hanya menyeringai. Pandangan matanya terhenti pada salah satu bagian tubuh Ikha. Yeoja itu mengikuti arah pandangan Hyuk Jae dan segera membalikkan tubuh ketika mendapati restleting jeans-nya terbuka lebar. Well, jadi Hyuk Jae menertawainya karena restleting ini? D*mmit!

Setelah membenahi jeans-nya, Ikha bergerak menuju meja rias. Ia menyeret bangku kecil di depan meja tersebut hingga dirinya dapat berhadapan dengan Hyuk Jae yang masih saja—dengan malas-malasan—berbaring di tempat tidur. Cardigan abu-abu yang tergantung tak jauh darinya ia ambil lalu dikenakan untuk menutupi tubuh bagian atas yang hanya terbalut tank-top cokelat.

Merasa bahwa keadaan di dalam kamar begitu hening dan sepi, Hyuk Jae membuka matanya lebar-lebar lalu mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Saat ia mendapati Ikha yang tengah duduk manis di depan tempat tidur, namja itu membetulkan posisinya dengan duduk bersender pada senderan (?) tempat tidur—masih dengan bed-cover yang menutupi sebagian tubuhnya.

Hyuk Jae menahan tawa ketika mendapati Ikha yang tengah mengalihkan perhatian dengan cara berdeham kecil, mengedarkan pandangan ke arah lain, atau sekedar mengusap tengkuknya dengan kaku. Ia tahu mengapa Ikha begitu kaku dan salah tingkah seperti itu: mungkin karena yeoja itu melihat dirinya topless hingga abs-nya terekspos.

Let me guess. You never slept with a guy?” goda Hyuk Jae sambil merentangkan tangan, membuat abs di perutnya semakin terbentuk.

Ikha hanya melirik sinis. “Do you think that i was a cheap girl?” desisnya.

Hyuk Jae tersenyum simpul. Ternyata jawaban Ikha telah membuktikan bahwa dirinya lah, namja pertama yang pernah tidur bersamanya.

How did you know my house? You checked my ID card?” cecar Ikha, masih berusaha memperkokoh benteng keimanannya.

Hmm, not really. The instinct brought me here, (Hmm. Tidak juga. Insting yang membawaku kemari,)” jawab Hyuk Jae santai.

Ikha tertawa meremehkan. Insting? Memang dasar monyet liar! Insting primata-nya benar-benar bergerak cepat. Ah, Ikha baru menyadari sesuatu! Ia berlari menuju pintu kamarnya, membukanya pelan-pelan lalu mengintip dari celah kecil yang ia buat.

You proper to listen to me, (Kau seharusnya mendengarkan perkataanku,)” hardik Hyuk Jae, masih dengan nada yang malas-malasan.

Mendengar suara Hyuk Jae yang cukup nyaring, serta-merta Ikha meletakkan telunjuk pada bibir tebalnya—menyuruh namja liar itu untuk mengatupkan kedua bibirnya. “Don’t make a noise. It’s terrible if Kyuhyun know it. (Jangan berisik. Gawat jika Kyuhyun tahu,)” suruh Ikha, menekan suaranya sebisa mungkin.

Kyuhyun? The young-Psychologist? Who’s him for you? (Kyuhyun? Si psikolog muda itu? Dia siapamu?)” tanya Hyuk Jae di sela kegiatannya—menguap sambil menggeliat.

My Brother,” balasnya singkat.

Eunhyuk mengangguk pelan. Bibirnya mengerucut sedikit tertarik ke depan. Ia kembali merentangkan tangan, otot-ototnya masih terasa kaku akibat semalam. Sepertinya ia tidur seperti patung, tidak bergerak atau berpindah posisi.

I heard that he went to Osaka yesterday in the afternoon. (Kudengar dia pergi ke Osaka kemarin sore,)”

Ikha memutar kepala ke arah Hyuk Jae. Alisnya saling bertautan. “How did you know?” tuntutnya.

Hyuk Jae mencibir seraya menggedikkan bahu. “I heard it from the pretty boy with his familiy name of Kim. (Aku mendengarnya dari namja cantik bermarga Kim,)” ucapnya memberi penjelasan.

Tangan Ikha yang semula memegang kenop pintu dengan erat berubah lemas. Pintunya sengaja ia buka dengan lebar karena sekarang ia tahu—tak ada orang lain di apartemen ini selain mereka berdua.

“Kenapa dia tidak memberi tahuku? Paboya!” rajuk Ikha sambil mengacak poni rambutnya gusar.

Bola matanya berputar mencari sesuatu yang dibutuhkannya sekarang. Ketika handphone warna Sapphire Blue miliknya terpajang manis di atas meja rias, yeoja itu segera meraih benda itu lalu mencoba mengirim tweet pada Kyuhyun. Menghubunginya saat ini tetap percuma. Nomor area Seoul-nya pasti tidak akan berfungsi di Osaka.

It’s better if you cook something for me. I’m starving! (Lebih baik kau membuatkanku sesuatu. Aku lapar!)” suruh Hyuk Jae seraya mengelus perut sixpack-nya dengan gerakan memutar.

Better if you quickly get out of here. Too dangerous if a girl together with a man in the same room.  Only both of them. (Lebih baik kau segera pergi dari sini. Terlalu berbahaya jika seorang gadis bersama dengan laki-laki di dalam kamar. Berdua saja.)” tandas Ikha—lebih terpaku pada ponsel daripada Hyuk Jae.

Namja berambut blonde tersebut tersenyum singkat. “Are you sure? If I’m out of here and roam out there, what will you be responsible if the psychiatrists and psychologists in the hospital make you a suspect because you’ve been carried off a cold blooded’ patient? (Apa kau yakin? Jika aku keluar dari sini dan berkeliaran di luar sana, apa kau akan bertanggungjawab jika para psikiater dan psikolog di rumah sakit menjadikanmu tersangka karena telah mengeluarkan seorang pasien berdarah dingin?)” ocehnya tiada henti.

Ikha mengerut. Bagaimana bisa seorang Lee Hyuk Jae bisa berfikiran sejauh itu? Setahunya, namja itu hanya berprinsip satu hal saja dalam hidupnya, yakni ‘membunuh’.

Well, everyone—indeed—assume me like that, doesn’t it? (Well, semua orang memang menganggapku seperti itu bukan?)” seloroh Hyuk Jae seolah dapat membaca fikiran Ikha.

Ikha mengibas poni rambutnya ke belakang kepala. Namja di hadapannya benar-benar membuatnya skakmat. Berbeda dengan Ikha, Hyuk Jae malah terlihat santai di atas tempat tidur. Matanya sempat berputar mengelilingi ruangan dan terhenti pada sebuah foto berbingkai kayu tepat di belakang Ikha.

You’ve ever asked me about my life. Do you still wanna know it? (Kau pernah bertanya padaku mengenai kehidupanku. Apa kau masih ingin mengetahuinya?)” tanya Hyuk Jae tanpa sedikitpun berkedip memandang foto tersebut.

Ikha yang semula menunduk sambil memijat tengkuknya yang terasa kaku jadi agak mendongak. “Yeah. Even then if you want it. (Ya. itupun kalau kau mau,)” ucapnya.

Jujur saja. Ia sudah tidak begitu tertarik mendengar cerita Hyuk Jae saat ini. Namja ini telah membuatnya shock beberapa kali pagi ini. Dan ia sudah tidak punya tenaga lebih untuk menanggapinya.

Melihat ekspresi Ikha yang sedikit ‘ogah-ogahan’, Hyuk Jae pun meniup poni blonde-nya agak kasar. Ia ingin didengarkan. Bukan diacuhkan.

I’ll tell you. Well, lets just pretend it as an expression of thanks because you’ve slept with me. (Aku akan menceritakannya padamu. Well, anggap saja sebagai ungkapan terima kasih karena kau telah tidur bersamaku,)”

Tepat setelah Hyuk Jae menyelesaikan perkataannya, Ikha segera melempar sweeter Hyuk Jae yang terkapar di lantai ke arahnya. Namja itu hanya memberi cengiran kuda pada Ikha. Senang rasanya bisa menggoda yeoja itu. Ditambah lagi, Ikha lah orang pertama yang dilihatnya ketika terbangun pagi ini. Lengkap sudah kebahagiaannya.

You didn’t do anything to me, rite? (Kau tidak melakukan apapun padaku kan?)” tanya Ikha, meyakinkan.

Hyuk Jae menggedikkan bahu. Bola matanya berputar seolah sedang menggoda dan membuatnya penasaran. “Hmm, At least I’ll be responsible if you’re pregnant. (Setidaknya aku akan bertanggungjawab jika kau hamil,)” tuturnya sambil mengerling nakal.

“YA!”

Ikha bergerak mendekat pada Hyuk Jae, menarik bed cover yang menutupi sebagian tubuh namja itu. Hyuk Jae tak kalah saing, ia pun ikut menarik bed cover tersebut. Bukannya apa-apa. Hawa dingin dari AC kamar Ikha mampu membuat bulu-bulu halus di permukaan kulitnya layu.

 “Hei, don’t pull the bed cover, (Hei, jangan menarik bed cover-nya.)” sergah Hyuk Jae memelas. Ia masih setengah mengantuk, jadi ia hanya mengaduh seperlunya.

Ikha tak peduli. Yeoja itu tetap menarik bed cover – nya dengan maksud agar Hyuk Jae bangun dan keluar dari kamar tercintanya. Menurutnya, namja itu sudah cukup puas berbaring disana. Tempat tidur itu singgasananya. Tidak boleh ada yang menempati selain dirinya.

Hei! Miss, Cho! I’m not wearing pants! (Hei! Miss, Cho! Aku tidak pakai celana!)” pekik Hyuk pada akhirnya. Ikha langsung mematung. Membeku. Tangannya tak lagi menarik bed cover. Gawat jika benda tersebut tersingkap dari tubuh Hyuk Jae. Ingat apa yang dia katakan? Dia tidak memakai celana!

You didn’t do anything to me, did you? (Kau tidak melakukan apa-apa padaku ‘kan?)” tanya Ikha untuk kesekian kalinya. Ia kembali duduk pada bangku kecil sambil membekap tubuhnya sendiri.

Senyum Hyuk Jae mengembang. Seharusnya yeoja itu menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak melakukan hal-hal diluar kemauannya. Hanya sekedar menyentuh Ikha, tak lebih. Tapi Ikha sepertinya termakan omongan Hyuk Jae. Dan hal itu justru membuat Hyuk Jae semakin ingin menggodanya.

Should i tell you the truth or the other side? (Haruskah kuceritakan yang sebenarnya atau yang sebaliknya?)” ejeknya.

You, Bastard!

Ikha meraih vas bunga yang menjadi hiasan di meja rias, bersiap untuk melemparkan benda itu ke arah Hyuk Jae. Tapi ia mengurungkan niat. Vas bunga tersebut pemberian Sang Eomma. Jadi benda itu termasuk ke dalam salah satu benda keramatnya.

Hyuk Jae mengeluarkan tawa renyahnya. “Calm down, Honey. I just wanna give you a lil’ lesson bcoz you’ve been fed me up. (Calm down, Honey. Aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran padamu karena kau telah membuatku kesal.)” rajuknya.

You’ve been fed me up, Lee Hyuk Jae! Not the other way! (Kau yang telah membuatku kesal, Lee Hyuk Jae. Bukan sebaliknya!)” kilah Ikha.

Hyuk Jae kembali merentangkan tangan, membuat otot-otot di perutnya membentuk sempurna. Ia menatap Ikha lurus tanpa berkedip, memancarkan aura jahat yang biasa ia berikan pada mangsa-mangsanya.

You’ve related with that man, haven’t you? (Kau telah berhubungan dengan namja itu bukan?)” tanya Hyuk Jae. Kepalanya bergerak menunjuk pada foto tersebut.

Bola mata Ikha bergerak ke arah yang ditunjuk Hyuk Jae. Tubuhnya sedikit memutar agar dapat melihat foto yang terbingkai pigura mini berwarna Sapphire Blue. Ia menelan ludah. Sial sekali namja liar itu menemukan foto ini—foto dirinya bersama Donghae yang diambil sekitar tujuh bulan yang lalu, sebelum Donghae memutuskan pergi ke Paris.

Ikha memilih untuk diam. Takut salah bicara.

It makes me become angry, you know?” tutur Hyuk Jae. Matanya bergerak menatap Ikha yang masih mengatupkan mulutnya rapat-rapat.

 “Mmm, no. He’s just …  a friend,” jawabnya, berkilah.

Do you think you can lie to me?” cecar Hyuk Jae. Kata-katanya memang singkat namun cukup tajam di telinga Ikha.

Kyuhyun threatened to killed me if something happened to you, (Kyuhyun mengancam akan membunuhku jika terjadi sesuatu padamu,)” aku Hyuk Jae. Bola matanya bergerak kembali menuju foto tersebut.

He talked to you? When?” tuntut Ikha, mencari penjelasan dari namja berambut blonde itu.

Hyuk Jae menggedikkan bahu dengan santai, bibirnya mencibir. “I forgot when it was. Clearly, he didn’t want you to hurt in the least— (Aku lupa tepatnya kapan. Yang jelas, dia tidak ingin kau terluka sedikitpun—)“

Ia memberi selang beberapa detik sebelum menyelesaikan kalimatnya. Mencari-cari dan menerka ekspresi yang dipancarkan wajah Ikha.

—approaching your engagement day. And let me guess, you’ll married with the man on that pic,  (—menjelang hari pertunanganmu. Dan bisa kutebak, kau akan menikah dengan namja yang ada di foto itu,)” sambungnya, telak ke hulu hati Ikha.

Ikha kembali diam. Urat-urat di sekitar lehernya menegang. Tenggorokannya bergerak naik-turun, jelas sekali yeoja itu tengah berusaha menelan ludah yang terasa begitu sulit.

You’ll regret it, Miss Cho. (Kau akan menyesal, Miss Cho.)”

Seolah petir menyambar, tubuh Ikha langsung melemah. Kata-kata itulah yang ia takutkan. Dan Hyuk Jae malah menyebutnya. Meskipun terlambat, yeoja itu meraih pigura lalu memasukkan benda tersebut ke dalam laci. Berharap Hyuk Jae tidak akan dengan mudah merekam wajah Donghae.

Don’t act as if you always right in everything, Lee Hyuk Jae. (Jangan bertindak seolah kau selalu benar dalam segala hal, Lee hyuk Jae.)” rutuknya.

Hyuk Jae tetap santai. Ia sedikit menguap lalu merenggangkan lagi otot-ototnya. “Let me tell you the facts about me. And i’ll make sure that you’ll change your mind about anything. Anything that you’ve decided,” ceramahnya, membuat yeoja yang tengah menunduk itu menyunggingkan senyum singkat.

Your words make me scared enough, (Kata-katamu cukup membuatku takut,)” dengus Ikha.

And you’ll be more afraid after hear it,” ucap Hyuk Jae, sedikit menakuti Ikha. Well, sepertinya cara itu berhasil. Wajah Ikha terlihat mengkerut.

Yeoja itu merinding. Ia berjalan gontai ke arah jendela lalu menyenderkan punggung ke dinding disamping gorden kamarnya. Satu tangannya memijit kening dan pelipisnya dengan lembut. Pusing tiba-tiba menyerang kepalanya.

“Lee Sooman…”

Hyuk Jae membenahi posisinya terlebih dahulu. Bola matanya sempat berputar, mencoba mengingat kembali memori yang telah terlewatkan selama hampir enam tahun tersebut.

“Lee Sooman… He’s the one who killed my brother,” jelasnya. Bibir Hyuk Jae mengerucut. Yeah, dia tidak salah menyebutkan nama. Nama namja yang pertama kali dibunuhnya adalah Lee Sooman. Bukan yang lain.

Kedua alis Ikha bertautan. Pusing di kepalanya mendadak hilang. “What did you say? Your brother?” tanyanya, meyakinkan bahwa dirinya tidak salah dengar.

Hyuk Jae mengangguk seperti anak kecil. Wajahnya membentuk ekspresi yang sulit diterka. Pembicaraan ini—bagi Ikha—cukup serius, tapi namja ini… ugh, bagaimana harus dideskripsikan? Ia terlihat santai dan malah mencoba ber-aegyeo padanya.

His name was Jason. He was the only person in the world that i have. And when i visited Seoul, i met him accidentally in a big house. Because i’ve a great revenge, i killed him that night,” terangnya, menjelaskan mengapa dirinya membunuh Lee Sooman.

Ikha mencerna kata-kata Hyuk Jae. Jadi.. inilah versi kepribadian Hyuk Jae mengenai Lee Sooman? Padahal namja yang telah menyandang gelar almarhum itu adalah ayah kandungnya sendiri.

Then, what about the other peoples who’ve you killed?” tanya Ikha, sedikit menginterogasi.

They’re the part of Sooman’ conspiracy. They tried to hurt my brother, so I killed them while there’s time only. Except for the last two foreign guys. They just annoyed me.” ucap Hyuk Jae, memberi penjelasan.

Ikha berusaha memahami apa yang Hyuk Jae maksud. Jadi, saudara yang namja berambut blonde maksud itu adalah kepribadian Eunhyuk sendiri? Ugh, Ikha mengacak poni rambutnya. Dalam hati ia merutuki diri. Kenapa di dunia ini harus ada penyakit seperti yang Eunhyuk derita? Sungguh membingungkan!

I heard you were targeting someone whose long you’ve been looking for,” ucap Ikha.

Kepala Hyuk Jae bergerak menatap Ikha yang—sepertinya—sedang asik memainkan ujung lengan cardigan yang dikenakannya. “How did you know about that?

Ikha mengeluarkan desahnya. Kepalanya terangkat. Bola matanya bergerak lemah ke arah Hyuk Jae. “Only ever heard. But if I may to know, who are the person you’re looking for?” selidiknya, berharap Hyuk Jae akan memberitahunya perihal Hyung-nya yang ia incar.

Hyuk Jae tersenyum kecut. “I don’t need to tell you. The important thing is, I know how to get him,” ucapnya setengah mendesis. Smirk-nya mengembang, menggantikan senyum evil yang sedari tadi menghiasi wajahnya.

Ikha menyelipkan sedikit rambut ke balik telinga mungilnya. Ia kembali mendesah. Bahunya bergerak turun seolah dirinya tak punya tenaga lagi untuk mengajak Hyuk Jae bicara. “So… When you’ve got him, what would you do?

Hyuk Jae diam sesaat. Matanya menerawang. “I dunno.. Killed him? Maybe,” jawabnya asal. Membuat Ikha berdecak seraya memutar mata.

 “There’s another way except killin’, right?

No,” tandas Hyuk Jae cepat.

Mmm, imprison them? (memenjarakan mereka?)”

Hyuk Jae tersenyum kecut, menggeleng tak karuan sambil mengarahkan telunjuknya pada Ikha. “Nonsense,” desisnya. Meski hanya satu kata, namun buktinya kata itu cukup tajam di telinga Ikha.

Tiba-tiba suara nyaring menghentakkan lamunan Ikha. Reff dari lagu Nanrina yang dipopulerkan oleh Block B berdering dari ponselnya. Ia meraih alat komunikasi tersebut, menatap layar untuk memastikan bahwa Kyuhyun menelfon-nya.

Ikha mengangkat sebelah alisnya. Tulisan ‘Kim Paksa are calling’ terpampang sangat jelas. Ia dapat menerka mengapa namja itu menelfonnya. Pasti ia kehilangan bahan eksperimen-nya di rumah sakit.

Ia melirik Hyuk Jae, meletakkan telunjuk lentiknya pada bibir—menyuruh namja itu untuk tidak bersuara.

 “Yoboseyo, Oppa.” sahut Ikha tepat setelah menekan tombol ‘asnwer’.

“Ikha-ya, sekarang kau dimana?” tanya Heechul di seberang sana.

“Di apartemen Kyuhyun. waeyo?

“Dengan siapa?”

Dia ngelirik Hyuk Jae sebentar. Sepertinya namja itu menuruti perintahnya—untuk membungkam mulut. Dapat dipastikan bahwa Hyuk Jae tidak akan berteriak atau sekedar mengoceh tak jelas untuk menandakan bahwa ia ada disini bersamanya.

“Sendiri,” jawab Ikha, berbohong.

“Kau harus berhati-hati di rumah sendirian. Hyuk Jae kabur dari rumah sakit. Aku takut dia akan pergi ke apartemenmu—karena Eunhyuk pernah kesana, kemungkinan insting Hyuk Jae menangkap memori Eunhyuk. Kyuhyun masih di Osaka dan akan kembali tiga hari lagi,”

It’s ok, Oppa. Aku baik-baik saja. Lagipula Lee Hyuk Jae tidak akan berani menyakitiku,” candanya, sedikit menghibur diri.

“Polisi sedang melacaknya. Aku akan mengabarimu lagi nanti,”

“Ne,”

Dan—flip. Sambungan telefon terputus. Ikha menyibakkan rambutnya seraya melempar ponsel sembarangan ke atas tempat tidur. Setidaknya hal itu tidak akan merusak ponsel satu-satunya.

Who?” selidik Hyuk Jae, dilanda rasa penasaran.

“Kim Heechul,”

I heard you said my name,

The hospital’ staffs are looking for you. And the polices are tracing you right now. It’s better if you leave this place as soon as possible, Hyuk. I don’t want Park Byeongman interogate me because he thinks that i bring you to run away from the hospital,” oceh Ikha.

Ia berjalan kesana kemari. Sengaja pintu kamarnya dibuka lebar-lebar agar Hyuk Jae mau beranjak dari tempatnya. Sayang, namja itu sepertinya lebih memilih untuk melanjutkan aktivitasnya. Buktinya? Ia malah semakin mengeratkan selimut dan kembali tidur seolah tidak terjadi apa-apa.

Ikha mendesah. Ternyata tidak mudah menyuruh Hyuk Jae yang keras kepala dan angkuh itu. Ia memilih memutar badan menghadap jendela. Menatap pemandangan di luar sana dengan seksama. Ia memijat keningnya lalu mengeluarkan oksigen dengan paksa melewati hidungnya.

Ini salah. Seharusnya ia tidak bersama Hyuk Jae malam itu. Bukan karena  mereka telah tidur bersama—garis bawahi: hanya tidur bersama, tidak melakukan kegiatan lain—melainkan karena mereka telah semakin sering menghabiskan waktu bersama.

Ia sadar. Ia memiliki Donghae, tunangannya yang akan segera dinikahinya. Tapi keabsenan Donghae pasca kembalinya dia dari Paris jelas membuat ia jengah. Ikha beberapa kali berusaha menghubungi namja itu namun Donghae tetap lebih memilih mengurusi pekerjaannya hanya dengan sebuah alasan: ia bekerja demi menghidupinya kelak pasca menikah dengannya.

Saat Ikha masih tenggelam di dalam fikirannya sendiri, tiba-tiba sepasang tangan menyelip diantara kedua tubuhnya, merengkuh pinggang Ikha dan membelitnya dengan manis. Hyuk Jae meletakkan dagunya pada pundak Ikha lalu menutup mata, mencoba menikmati aroma tubuh Ikha yang—anggap saja—seperti wangi perfume dari Paris.

Ikha terhenyak. Hangat yang dipancarkan dari tubuh Hyuk Jae membuat jantungnya berdebar hebat. Refleks ia pun mencoba melepas tautan tangan Hyuk Jae pada tubuhnya—meski namja itu justru malah sebaliknya, semakin mengeratkan tautan tersebut.

Don’t do this, Lee Hyuk Jae,” pinta Ikha. Suaranya melemah.

But i like it,” bisiknya di telinga Ikha.

Yeoja itu kembali menelan ludah ketika Hyuk Jae mencoba menghirup aroma rambutnya. Ujung hidung namja berkulit seputih susu tersebut sempat menyentuh permukaan kulitnya, membuat Ikha merinding.

“It’s wrong, Hyuk Jae. Please, stay away—“

“I think you enjoy it, too, Miss Cho. I guess your boyfriend never touched you like this. Am i right? Hmm, if i read your facial expression, it looks like he tryna keep you away,” gumam Hyuk Jae. Suaranya terdengar agak serak dan—sialnya—itu malah terdengar lembut di telinga Ikha.

Dengan segenap kesadarannya, Ikha melepas pelukan Hyuk Jae sekali hentakan. Sengaja ia mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak dengan namja tersebut. “I… i’ll make breakfast for you,” ucapnya agak terbata.

Hyuk Jae menyenderkan tubuhnya pada jendela sambil memperhatikan Ikha yang sedang berjalan ke luar kamar dengan tergesa. Ia tersenyum tipis. Bisa ditebak bahwa yeoja itu pasti sedang mencoba mengontrol emosinya. Wajah Ikha terlihat memerah. Kalau bukan karena perlakuan Hyuk Jae barusan, lalu karena apa lagi?

***

Ikha meniup poninya gusar. Kedua tangannya berpangku pada sisi kitchen-set. Ia harus segera mengembalikan Hyuk Jae ke rumah sakit. Namun sulit baginya membawa Hyuk Jae dalam keadaan sadar seperti itu. Jelas sekali ia pasti akan menolak.

Ia mendengus sambil mengacak rambut. Hyuk Jae memeluknya tanpa izin. Dan itu membuatnya salah tingkah. Ia tetap berharap bahwa wajahnya yang memerah akibat perlakuan Hyuk Jae tidak begitu kentara sehingga namja itu tidak akan berfikir yang macam-macam.

Tiba-tiba terbesit sebuah ide di benak Ikha. Bola matanya bergerak menatap sebuah kotak berukuran 20x35cm yang menempel di dinding dapur. Biasanya Kyuhyun menaruh obat-obatan yang sekiranya diperlukan dalam keadaan darurat.

Ikha membuka kotak bertanda palang merah tersebut lalu memperhatikan botol-botol serta kapsul yang tertata rapih di dalamnya. Bibirnya bergerak membentuk senyum tipis.

“Ini dia yang kucari,” ucapnya di dalam hati.

***

Ikha membawa nampan berisikan segelas susu strawberry dan sandwich sederhana yang dibuatnya hanya dalam waktu ± 7 menit saja. Hyuk Jae—yang tengah membaca majalah dengan santainya di atas tempat tidur—menghentikan aktivitasnya dan memilih memperhatikan Ikha.

Yeoja itu meletakkan nampan di atas tempat tidur. Hyuk Jae membenahi posisinya lalu melempar majalah itu sembarangan.

Wow, thank you so much, Miss Lee.” Ucap Hyuk Jae seraya meminum susu tersebut dalam sekali teguk. Seperti orang yang kekurangan air.

W-what? Miss Lee?” Ikha memicingkan telinga, takut salah dengar.

“You look like a wife who prepare breakfast for her husband. So i change your family name to mine,” tutur Hyuk Jae. Ia melahap sandwich buatan Ikha. Oke, dia memang sangat lapar sekarang.

Ujung bibir atas Ikha terangkat, menatap sinis pada Hyuk Jae. Jika sampai wajahnya memerah lagi, ia akan menyeret namja ini dengan paksa ke luar apartemen. She promise!

“Hei, how could you get that magazine?” tanya Hyuk Jae. Matanya bergerak ke arah majalah yang baru saja dilemparnya.

Mata Ikha menyipit. Setahunya ia tidak pernah membeli majalah dimana Son Eun Seo menjadi cover girl. Namun ketika ia membaca tulisan besar bercetak ‘Playboy’, ia sudah dapat menerkanya. Itu ulah Kyuhyun.

Cheeze! Sudah berapa kali ia menyuruh Kyuhyun untuk tidak sembarangan menaruh majalah tersebut? Sudah jelas ia tidak tertarik melihat isi dari majalah itu. Hanya yeoja-yeoja yang memamerkan tubuhnya saja. Tidak ada gambar lain.

“Oh, it’s Kyuhyun’s. Not mine,” tegas Ikha, mengelak. Ia melirik ke arah Hyuk Jae. Jangan katakan jika namja ini juga suka membaca majalah itu? Hah, oke! Setelah Kyuhyun dan Donghae, kini bertambah lagi satu orang!

“Oh, he likes read it, too? Wow, i should borrow his magz sometimes—Ouch!” Hyuk Jae tiba-tiba memegangi kepalanya. Sandwich yang belum selesai ia makan pun ia letakkan sembarangan, membuat mayonaise serta ham pada sandwich berceceran di atas bed-cover.

“Something happen?” tanya Ikha.

“My head… Ugh, I dunno… I’ve to lie down on the bed,” ucap Hyuk Jae lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memegangi kepala.

Ikha memperhatikan Hyuk Jae seksama. Sengaja ia sembunyikan senyumnya dengan cara mengerucutkan bibir. Dalam hitungan detik, tubuh Hyuk Jae melemah. Nafasnya teratur dan ia tidak melakukan pergerakan kecil sama sekali. Ikha pun mendekat. Tangannya ia kibas-kibas di depan wajah Hyuk Jae. Ia tersenyum menang.

Well, obat tidur itu bekerja cukup cepat,” ucapnya.

Ia mengambil ponselnya lalu mengetik pesan singkat pada Heechul untuk memjemput Hyuk Jae disini. Ikha memperhatikan Hyuk Jae. Wajahnya berubah kesal. Ternyata namja itu sedari tadi memakai celana? Kenapa dia harus berbohong ketika ia menarik bed cover? Agar dirinya bisa berlama-lama disini? Cih~

“Ini sebagai balasan karena kau telah membohongiku,” gumamnya seraya menarik bed-cover untuk menutupi tubuh topless Hyuk Jae.

***

Esseo (Ayolah), Kha-ya,” rengek Hyesun, salah satu teman satu kampusnya. Yeoja itu menarik lengan baju Ikha sambil terus memohon.

“Ya! Dari dulu kau tidak pernah sedikitpun menginjakkan kaki di rumahku. Tapi semenjak aku tinggal di apartemen Kyuhyun, kenapa kau jadi memohon seperti ini?” rajuk Ikha kemudian melepaskan jemari Hyesun yang sedari tadi menempel padanya.

Semua ini gara-gara Kyuhyun yang mengantarnya ke kampus tepat setelah ia datang dari Osaka empat hari yang lalu. Hampir semua teman-temannya menanyakan perihal oppa evil-nya itu. Hah! Apa bagusnya Kyuhyun? Kalau saja mereka tahu seperti apa sifat aslinya, mereka pasti akan lari tunggang-langgang menjauhi Kyuhyun yang jahilnya setengah mati.

Hyesun mengeluarkan puppy-eyes-nya, berusaha membujuk Ikha yang hatinya sekeras batu karang. Ikha berdecak. Bola matanya berputar.

Fine. Asal dengan satu syarat,” tawarnya.

“Sebutkan saja. Aku akan melakukannya dengan baik,” sambut Hyesun. Kedua tangannya menyatu dan membentuk kepalan.

“Jangan mengacak kamarku dan isi pendingin di dapur,” ucap Ikha.

Bola mata Hyesun bergerak ke atas, bibirnya mengerucut. Tak lama, ia menjentikkan jari tangannya. “Arraseo,

Hyesun kemudian berlalu meninggalkan Ikha. Hah! Harusnya ia bisa menebak, yeoja itu mendekatinya hanya sebagai alasan agar ia bisa menemui Kyuhyun.

Ikha jalan sendirian ke halte bus. Hari ini dia tidak membawa mobil karena alat transportasi tersebut dipakai Kyuhyun. Sementara menunggu bus datang, fikiran Ikha melayang-layang.

Ini sudah lewat tiga hari dari hari Sabtu. Donghae pernah berjanji akan mengajaknya pergi ke theater. Tapi sampai sekarang namja itu tidak kunjung datang. Memberi kabar pun tidak. Well, Ikha pernah melihat salah satu iklan di Youtube. Iklan provider dari Indonesia yang mengatakan ‘Sms gak pernah, telfon gak pernah’. Yeah, seperti itulah yang Donghae lakukan padanya saat ini.

Ikha merogoh saku hoodie yang dipakainya saat merasa ponsel-nya bergetar. Ia menekan tombol answer lalu mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya.

“Ne,”

“Eodiga?” tanya Heechul, si penelfon.

“Di halte dekat kampusku. Wae?

“Bisa kau datang ke rumah sakit sebentar?”

Ikha melekatkan speaker ponsel ke telinganya. Suaranya Heechul hampir tak terdengar. Seperti berbisik. “Mworago? Ya! Oppa, suaramu kecil sekali!”

“Kyuhyun melarangku untuk menghubungimu, Kha-ya. Tapi kurasa aku harus memberitahumu mengenai hal ini. Jadi bisakah kau datang ke rumah sakit sekarang? Hyuk Jae—“ terangnya, masih berbisik seperti semula.

“Ada apa lagi? Dia berbuat onar?”

“Ani. Dia kabur sejak dua hari yang lalu. Sampai sekarang dia belum kembali. Dan saat aku memeriksa kamarnya, aku menemukan sesuatu,”

“Apa itu?”

“Sebaiknya kau datang. Lebih bagus lagi jika Kyuhyun tidak mengetahui kedatanganmu. Jangan terlalu menampakkan dirimu di rumah sakit,”

***

Langkah Ikha agak terburu-buru memasuki lift. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan, memastikan bahwa Kyuhyun tidak menemukannya disini. Selang beberapa menit, ia menemukan Heechul tengah berdiri sambil membaca beberapa kertas di tangannya.

Kyuhyun Oppa-ga eodi ittjyo? (Dimana Kyuhyun Oppa?)” tanya Ikha tanpa banyak basa-basi.

“Di lantai lima. Sengaja kupaksa dia untuk membujuk pasien lain yang sedang terapi—untuk mengalihkan perhatian,” jawabnya sembari melangkah menuju ruangan yang akan ditunjukkannya pada Ikha.

“Apa yang ingin kau beritahukan padaku?” Kembali Ikha bertanya di sela langkahnya.

“Kau akan melihatnya sendiri,”

Kaki Heechul kemudian terhenti tepat di depan sebuah pintu kayu. Ia membuka pintu ruangan yang sudah pasti bisa Ikha tebak—ruangan tersebut adalah ruangan yang biasa Eunhyuk tempati.

Ikha mengamati keadaan sekitar. Semuanya putih. Ya, warna putih yang mendominasi ruangan. Tapi tempat ini bisa dibilang seperti kamar tahanan. Meskipun cahaya matahari dapat masuk dan menerangi setiap sudut, tempat ini begitu tertutup. Orang yang menempati ruangan ini pasti akan merasa terisolasi.

Ketika Ikha masuk lebih dalam, kedua matanya-pun langsung tertuju pada foto-foto serta gambar yang berserakan dimana-mana. Lantai, tempat tidur, meja mini yang ada di sudut ruangan, serta dinding kamar dipenuhi oleh foto-foto tersebut.

Ia membekap mulutnya sendiri saat dirasa bagian tubuhnya itu menganga lebar. Matanya tak berkedip sedikitpun saat ia mengetahui sebuah fakta tak diketahuinya. Kepalanya menunduk ketika alas sendal yang dipakainya menginjak sesuatu.

Perlahan tubuhnya menunduk, mengambil secarik kertas yang diinjaknya lalu memperhatikan kertas tersebut yang telah dicoret-coret oleh entah siapa—antara Eunhyuk atau Lee Hyuk Jae. Tubuh Ikha merosot ke lantai. Tulang kakinya serasa melemah dan tak sanggup menopang tubuhnya.

Ia menatap kertas tersebut lebih dalam. Pada kertas yang dipegangnya, terdapat lukisan seseorang yang—meskipun tidak begitu mirip—cukup familiar baginya. Tidak hanya itu, jelas sekali pada gambar tersebut—entah itu Eunhyuk atau Lee Hyuk Jae—menyiratkan kebencian yang begitu mendalam pada orang yang digambarnya.

Belum sempat Ikha dibuat terkejut, ia kembali menganga ketika melihat foto-foto orang yang sama—yang ada pada kertas yang dipegangnya—tersebut dilumuri semacam cat minyak bertuliskan ‘die’, ‘freak’, ‘내려‘, ‘Jugoshippeo’, dan masih banyak lagi.

Ige…”

Suara Ikha melirih. Tenggorokannya tercekat. Matanya sama sekali tidak terlepas dari coretan-coretan yang ada di dinding.

Ne. Foto itu adalah Hyung-nya Eunhyuk,” Heechul membenarkan. Ia membetulkan letak kacamatanya yang agak merosot. Sengaja ia memunggungi Ikha, ia sudah tahu seperti apa wajah Ikha saat ini. Shock.

Bulga… (Tidak mungkin),” lirih Ikha untuk kedua kalinya.

“HEECHUL HYUNG! AKU—“

Kyuhyun, yang baru saja muncul dari balik pintu, segera tidak melanjutkan perkataannya saat mendapati Ikha yang tengah mematung memperhatikan coretan di dinding.

“Kha-ya….” sahut Kyuhyun. Suaranya lebih pelan seolah takut untuk menyapa yeo-dongsaeng-nya.

Kyu melirik ke arah Heechul dan Ikha secara bergantian. Berbeda dengannya, Ikha malah membalikkan tubuh dan menatap Kyuhyun dengan tajam dan juga intens. Kertas yang dipegangnya ia remas hingga tak berbentuk lagi.

“Jadi… kau berusaha menyembunyikan ini dariku?” tuntut Ikha, mencari penjelasan dari Kyuhyun.

Namja itu menggerakkan bibirnya hendak berkata, namun ia hanya menelan ludah.

“Kenapa kau melakukan hal ini padaku, Cho Kyuhyun?” desak Ikha. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Ya, ia sudah tidak sanggup menahan emosinya yang mungkin saja bisa meledak saat itu juga.

“Bukan begitu, Kha-ya. Aku juga baru sa—“

“Aku tidak mau mendengar alasanmu,” potong Ikha.

Kyuhyun berjalan dengan sangat-sangat-sangat perlahan, menghampiri Ikha yang kini terlihat begitu terpukul. Mata yeoja itu terpejam. Tangannya pun semakin erat meremas kertas tersebut.

“Jangan mendekatiku, Cho Kyuhyun! Kau—“

To be continued…..

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

64 thoughts on “MY NAME IS LEE HYUK JAE “Chapter 08””

  1. kenapa ini jd rumit bgt? astaga…
    hyukjae with his badboy side is so damnnnn cool!><
    eon aku maunya couple hyukkha eon .___.
    soalnya badboynya hyuk pas deh sama ikha
    mwehehehe si nemo mau diapain yah sama hyuk?.-.
    relakah hyuk membunuh pasangan senasibnya itu?/berasa jadi presenter gosip/-_-
    wkwk penasaran lanjut yah eon

  2. Hehehee^^.. udah aku duga.. part ini paling seru.. Daebak eon..
    Dsini Hyuk Jae nya lucu…
    Oh iy, eonni nyelipin tulisan hangul y..? hehe.. untung aku bsa baca.. jadi kagak kebingungan aku bacanya.
    Dan ngomong2 masalah siapa hyung angkatnya Hyuk, aku mah sebnrnya udah tau dari awal.. hehee^^.. Udah keliatan bget pas baca part 1nya…
    Cerita seru bgt Eon..

    1. emang iya dek? aku aja lupa sama cerita ini. hahaha~
      ah kamu baca aja ya, onn lagi pusing nih. Bingung tar malem minggu pergi ma banghyuk, kai atau tetem…
      (‾(••)‾)(‾(••)‾)

  3. OMG !!!! I wanna it !!! (づ ̄ ³ ̄)づ wanna slept with eunhyuk oppa …
    Ahhh, make him a breakfast like his wife … Omoooo …
    Your so great !!!

  4. wawww sudah ketahuan, masih penasaran siapa di foto walaupun sudah bisa menebaknya. tapi heran kenapa Ikha harus harus sehisteris itu. omoo.. Hyuk kabur, apa dia menemui Donghae.aku jadi pengen Hyuk cepat sembuh dari penyakitnya (emang bakalan sembuh? hehe) abis saat di Ikha’s room aja mereka mesra banget *APPAHH??* 😀 apalagi kalau semua masalah udah kelar nantinya hehe

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s