MY NAME IS LEE HYUK JAE “Chapter 07”

FF - My name is lee hyuk jae - New

Ikha melirik selama lima detik sekali ke arah namja yang sedari tadi menautkan jemarinya. Namja itu terlihat sumringah. Mungkin dia sedang bahagia. Entah karena pekerjaannya, keluarganya, atau karena saat ini dia sedang bersama Ikha berbagi waktu bersama—meskipun hanya sejenak.

Namja itu tersenyum simpul ketika mendapati Ikha tengah menatapnya di sela langkah kaki mereka. Ia semakin mengeratkan jemarinya pada jemari Ikha, seolah tak ingin kehilangan yeoja itu barang sedikitpun.

“Kau yakin tidak ingin pulang bersamaku?” tanya Donghae sekali lagi saat mereka telah sampai di depan lapangan parkir rumah sakit.

Mianhae. Aku masih harus bertemu Heechul Oppa. Gwenchana?” jawab Ikha seadanya. Tubuhnya ia putar 45˚ ke kanan agar dapat berhadapan dengan Donghae.

Namja berambut hitam tersebut mengelus pipi Ikha dengan lembut. “It’s ok. Kalau begitu jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa, kita akan pergi menonton film Captain America weekend ini,” terangnya seraya membuka pintu mobil White Audi A6.

“Yang penting Mr-too-busy-and-too-much-activities ini tidak membatalkan janjinya lagi,” ucap Ikha, meledek.

Donghae menutup pintu mobil lalu menurunkan kaca. Kepala dan tangannya agak keluar agar bisa melihat Ikha lebih dekat. “I won’t. Dan, ah—satu hal lagi.”

Ikha membungkukkan tubuhnya sejajar dengan kepala Donghae. Alisnya terangkat sebelah seolah bertanya pada namja berhidung mancung tersebut hal apa yang ingin disebutkannya.

“Jangan terlalu dekat dengan namja yang bernama Eunhyuk itu. Atau pertunangan kita akan kubatalkan,” seloroh Donghae seraya mencolek ujung hidung Ikha hingga membuat yeoja itu menyeringai.

“Ya. Ya. Ya. Cepat pulang. Aku harus segera ke ruangan Heechul Oppa.” Perintah Ikha.

Donghae mengangguk­­. Setelah mengecup kening Ikha sesaat, ia segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit. Ikha mengamati mobil tersebut sampai hilang dari pandangan. Dan setelah yakin mobil Donghae telah keluar dari pagar besar, tubuhnya ia putar 180˚ kemudian berjalan dengan langkah yang sangat ringan menuju gedung utama.

Saat Ikha tengah mengamati dedaunan yang berjatuhan di sela langkah kakinya, tubuhnya seketika itu juga terhenti karena ada sesuatu yang sangat kokoh menabraknya. Ia mengangkat kepala dan mendapati Eunhyuk tengah menatapnya lurus tanpa berkedip.

 “Ya! Oppa, jangan tiba-tiba muncul seperti ini! Kau hampir membuatku berteriak!” cecar Ikha lalu mengelus dadanya. Beruntung dia menabrak Eunhyuk, bukan pohon atau tiang besar yang mungkin saja dapat membuat hidungnya patah.

Eunhyuk sedikit memiringkan kepalanya ke kanan. Alisnya terangkat sebelah. Kedua tangannya sengaja ia selipkan di dalam saku celana jeans yang dipakainya hingga membuat tubuhnya terlihat begitu tegap. “Who do you think Oppa is?” tanya Eunhyuk balik.

Dahi Ikha mengerut. Jamshiman-yo (tunggu) !! Eunhyuk? Menggunakan Bahasa Inggris? Apa jangan-jangan….

“Lee Hyuk Jae?” sahut Ikha. Matanya menyipit dan alisnya bertautan.

Eunhyuk menyeringai. Ia mendengus seraya memutar bola matanya. “Finally, you knew ma name.” Ucapnya setengah menghardik.

What are you doing here?” tanya Ikha senormal mungkin. Jujur saja, sebenarnya ia agak takut ketika Eunhyuk menatapnya seperti itu. Kejadian tempo hari—ketika namja itu menghias dahinya dengan sebuah benjolan manis—membuatnya harus menjaga jarak. Ia tidak ingin berakhir seperti Heechul—yang notabene mengalami patah tulang beberapa kali.

Masih dengan ekspresi yang sama, namja itu menatap Ikha dingin dan datar. “Watching you with that man,” jawabnya, sederhana.

Did you follow me?” Ikha lagi-lagi meluncurkan pertanyaan pada namja yang kini menggunakan T-Shirt SPAO warna biru tua dilapisi hoodie tebal yang menyembunyikan rambut putihnya.

What’s your relationship between him?” seloroh Eunhyuk tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan yang dilontarkan Ikha padanya.

It’s not your business,” gumam Ikha kemudian kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhalang oleh Eunhyuk.

Namja itu menahan lengan atas Ikha hingga membuat yeoja itu memundurkan langkahnya— kembali ke tempatnya semula. “Answer me,” gumam Eunhyuk.

Ikha hanya mendelik. Bola matanya berputar seolah tak peduli dengan pertanyaan konyol yang tak perlu dijawabnya. Kesal dengan sikap Ikha, Eunhyuk pun mencengkeram bagian leher baju yang dipakai Ikha hingga membuat yeoja itu terperangah saking kagetnya.

“ANSWER ME! OR YOU’RE GONNA GET A HIT FROM ME!” teriak Eunhyuk tepat di depan wajah Ikha.

Yeoja itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Kedua tangannya refleks memegang tangan Eunhyuk yang tengah menarik bajunya kencang, sedikit mendorongnya agar melepas cengkeraman tersebut.

You make me scared,” bisik Ikha.

“SO ANSWER ME! NOW!” hardik Eunhyuk lagi, membuat Ikha kembali mengerjap-ngerjap mata. Telinganya agak berdengung mendengar suara Eunhyuk yang sedikit menggelegar.

He—“ Ikha menghentikan pita suaranya. Ia ingat kata-kata Heechul untuk tidak memberitahu Eunhyuk atau Lee Hyuk Jae mengenai pertunangannya. Yeah, mungkin saja Donghae tidak akan selamat karena dirinya telah mengecewakan perasaan Eunhyuk.

“—he is my friend,” jawabnya, berbohong.

Eunhyuk semakin mengeratkan cengkeramannya dan menarik diri hingga berdekatan dengan tubuh Ikha. Ia menatap yeoja itu dalam jarak yang bisa dihitung dengan penggaris mini. Sangat dekat dan lurus. Ikha menoleh ke arah lain, sengaja menghindari kontak mata dengan Eunhyuk.

But why did you look so close?” cecar Eunhyuk, suaranya kini terdengar lebih kecil.

I—“ Lagi-lagi tenggorokan Ikha tercekat. Ia bingung harus berkata apa.

Eunhyuk menarik sudut bibirnya hingga membentuk seringaian. “You even can’t asnwer ma question,” serangnya terus-menerus.

Ikha terdiam. Mencoba berfikir dengan tenang. Biasanya ia bisa melawan namja ini setiap kali mereka beradu mulut. Tapi ini menyangkut keselamatan Donghae, jadi ia tidak boleh salah bicara. Kalau saja namja ini bukan seorang physco, mungkin sekarang ia sudah menendang apa-itu-miliknya-yang-sangat-berharga dan memukul namja itu sepuas hati.

 “Are you jealous?

Tiba-tiba kalimat tanya itulah yang ia sebutkan. Ikha lagi-lagi mencoba bertindak hati-hati. Ia menyunggingkan senyum ketika Eunhyuk perlahan melepas cengkeramannya. Hah, tidak salah ia mengucapkan tiga kata itu.

No,” jawab Eunhyuk ketus. Namja itu kini memundurkan langkahnya dan membuat jarak diantara mereka berdua.

And then?” Kini Ikha balik menyerang. Ia berdiri dengan bertumpu pada satu kaki. Kedua tangannya terlipat di dada dan tatapan matanya lurus pada mata Eunhyuk. Sengaja menggoda namja itu agar mengakui bahwa dirinya memang cemburu pada Donghae.

I really don’t like it—when you’re with him. If i catch you with that man. You’ll see something happen then,” tukas Eunhyuk tegas. Sedetik kemudian, ia memutar tubuhnya dan berlalu meninggalkan Ikha sendirian.

“Hyuk Jae!” sahut Ikha. Namja itu hanya pura-pura tak mendengar sahutannya dan tetap berjalan sampai menghilang dari pandangan Ikha.

“LEE HYUK JAE!!” pekik Ikha kedua kali.

***

Heechul sedikit tergesa-gesa menarik Ikha masuk ke dalam ruangannya. Absennya yeoja itu datang ke rumah sakit selama tiga hari terakhir membuatnya kalang-kabut. Tidak ada yang bisa menolongnya menghadapi Eunhyuk selain Ikha. Ya, selain Cho Ikha.

“Syukurlah kau datang hari ini, Kha-ya.” ucap Heechul, memelas.

Wae? Wae? Wae? Telah terjadi sesuatu?” tanya Ikha santai. Syal yang membelit lehernya ia lepas terlebih dahulu agar dapat memberi sedikit rasa nyaman. Ia memang terlalu disibukkan oleh urusan perkuliahannya, jadi selama tiga hari ini dia sama sekali tidak muncul di hadapan Heechul.

“Eunhyukkie,” sahut Heechul, membuat Ikha dengan cepat menatap Heechul tajam.

Wae?

Nan molla (aku tidak tahu). Sudah tiga hari ini Lee Hyuk Jae terus merasukinya. Biasanya, ketika dia bisa menekan emosinya, ia akan kembali seperti semula. Tapi ini lain. Selama aku menanganinya, baru kali ini aku melihat kepribadian Hyuk Jae bertahan begitu lama di tubuh Eunhyuk,” oceh Heechul tanpa jeda sedikitpun.

Jigeumeun eodi imnikka? (Dimana dia sekarang?)”

Heechul menggedikkan bahunya tanda bahwa ia sama sekali tak tahu keberadaan Eunhyuk. “Rumah sakit ini begitu luas. Dia bisa dimana saja. Mungkin kau tahu dimana Lee Hyuk Jae biasa ber—Ya!

Namja yang terkenal begitu cantik tersebut tidak melanjutkan kalimatnya ketika mendapati Ikha malah berbalik dan melangkah menjauhinya. “Eodiro gal geot inga? (Kau mau pergi kemana?)” tanyanya, penasaran.

Ikha memutar tubuhnya menghadap Heechul. “Aku tahu dimana Lee Hyuk Jae,”

***

Angin musim semi yang berhembus perlahan membuat helai-helai rambut Eunhyuk ikut bergoyang. Namja itu merapihkan poni putih yang agak berantakan tersebut dengan kasar. Ia memperhatikan sekeliling dan tak mendapati siapapun disana. Hanya dirinya. Tak ada yang lain.

Ia kembali merebahkan tubuh di atas rerumputan. Kedua telinganya sengaja ia tutup dengan headset bergambar Rolling Stones agar tak ada bunyi apapun yang dapat mengganggunya.

Baru saja namja itu berusaha untuk memejamkan mata, seseorang melepas headset yang dipakainya lalu diletakkan di kedua telinga orang tersebut. Sontak Eunhyuk membulatkan mata. Orang tersebut sudah jelas merusak ketenangannya.

Eunhyuk duduk di atas rumput dan mensejajarkan tubuhnya dengan orang tersebut. Ikha—yang tengah menyeruput hot chocolate serta headset Eunhyuk yang menempel di kedua telinganya—hanya melirik sekilas saat namja itu menatapnya garang.

Ikha menyeringai pada Eunhyuk, membuat namja itu mencelos. “Don’t you like it? (Tidak suka?)” tanya Ikha, bersikap biasa saja seraya melepas headset tersebut.

Eunhyuk berdecak. Bola matanya berputar ke arah lain. “You made me sick! (Kau membuatku jengkel)” rutuknya, agak berdesis.

Lagi, Ikha hanya tersenyum simpul. Bahunya ia gedikkan sekali sambil mengerucutkan bibir. “Let’s just say our score is the same. You also pissed me off, always. (Anggap saja skor kita sama. Kau juga selalu membuatku jengkel)” rajuknya, tak mau kalah.

Eunhyuk kembali berdecak. Sempat ia melayangkan tinjunya ke arah Ikha, namun sedetik kemudian ia menahan emosinya itu dengan melempar bebatuan kecil ke dalam danau buatan yang berada tak jauh darinya.

Ikha mengamati namja berkepribadian Lee Hyuk Jae tersebut dengan seksama. Ia terlihat tidak begitu senang dengan kehadiran Ikha. Tapi di satu sisi, namja itu tetap bertahan di posisinya.

Takin’ in the sights? (Mengamati pemandangan?)” tanya Ikha seraya meneguk hot chocolate-nya.

More pricely is avoiding everyone, (Lebih tepatnya menghindari semua orang)” jawab Eunhyuk ketus.

Ikha mendelik ke arah Eunhyuk. Sedetik kemudian ia langsung tertawa pelan. “A Lee Hyuk Jae whose  arrogant and stubborn are tryna’ avoid all the peoples? Wow! Cool! (Seorang Lee Hyuk Jae yang angkuh dan keras kepala sedang berusaha menghindari semua orang? Wow! Cool!)” tuturnya, sengaja mengejek Eunhyuk yang kini tengah menatap Ikha garang.

Eunhyuk meringis saking kesalnya. Hot chocolate yang semula dipegang Ikha dirampas lalu diminum dalam sekali tegukan.

Yaks, it’s hot!” pekik Eunhyuk. Ia melempar cup tersebut ke sembarang tempat lalu mengusap bibirnya yang terasa terbakar.

Suara tawa Ikha menggema. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan, menertawakan tingkah Eunhyuk yang ‘agak’ ceroboh. “Be careful,” ucapnya.

Ikha mengelap ujung bibir Eunhyuk saat mendapati cairan hot chocolate menghiasi sebagian bibirnya. Eunhyuk sempat membeku namun sedetik kemudian ia menepis tangan Ikha dengan kasar. Ia merebahkan diri di atas rerumputan lagi untuk menghindari tatapan mata Ikha.

Sorry ifIdisturbed you.But Ihave to askfew things,Mr.Lee (Maaf jika aku mengganggumu. Tapi aku harus bertanya beberapa hal, Mr. Lee)” ucap Ikha sambil memutar tubuhnya mengamati Eunhyuk. Namja tersebut hanya menutup mata, pura-pura tidak mendengar Ikha.

Just say it what you want and then let me here alone,” ucap Eunhyuk, tanpa ekspresi.

Ikha ikut berbaring di dekat Eunhyuk. Bola matanya bergerak mengikuti pergerakan awan di angkasa. Sesekali ia melirik ke arah Eunhyuk. Tapi namja itu tetap saja diam. Sepertinya ia lebih suka untuk tidak menanggapi Ikha.

You should’ve apologized to me because youve hurt my head yesterday (Harusnya kau meminta maaf padaku karena kau telah melukai kepalaku tempo hari)” sela Ikha. Headset Eunhyuk yang melingkar di lehernya ia lepas lalu dipakaikan kembali pada si pemiliknya.

Eunhyuk membuka mata menatap Ikha. Sempat diperhatikannya kepala yeoja itu yang dulu terkena pukulannya. “It looks likeyour headwas fine. Why should I apologize? (Sepertinya kepalamu sudah baik-baik saja. Untuk apa aku meminta maaf?)” rajuknya lalu kembali menutup mata.

Ikha mendengus kesal. “Ok. Forget it. Let’s just say you’re sorry. (Ok. Lupakan. Anggap saja kau sudah meminta maaf)” ucapnya, mengalah.

Eunhyuk tersenyum menang. Dari sudut matanya, ia mendapati Ikha tengah mengerucutkan bibir. Hal itulah yang paling disukai Eunhyuk ketika Ikha marah.

Ikha menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. “May i ask a little about your life? (Boleh aku bertanya sedikit mengenai kehidupanmu?)” tanyanya tiba-tiba.

Why?” Hanya satu kata itu yang meluncur dari bibir Eunhyuk.

The story of yours was so interesting for me. (Kisah hidupmu begitu menarik bagiku)” ucap Ikha, memberi alasan.

Eunhyuk menyeringai. “Wasn’t youscaredwhensaw mekilled two strangers while outside the hospital? So, why should you be interested? Peoples don’t wanna come near to me. (Bukankah kau ketakutan ketika melihatku membunuh dua orang yang tak dikenal saat di luar rumah sakit? Jadi, kenapa kau harus tertarik? Semua orang tidak ingin dekat-dekat denganku)” cecarnya.

Ikha memanyunkan bibir. Alisnya terangkat seolah sedang berfikir. “Well, just shocked. Actually. (Well, hanya kaget—sebenarnya)” elaknya. Ia mengintip dari sudut mata ke arah Eunhyuk. Benar! Namja itu terlihat biasa saja. Malah masih dengan posisinya semula: menutup mata sambil mendengarkan alunan musik dari headset yang dipakainya.

Did you know a man with the name Lee Sooman? (Apa kau mengenal namja bernama Lee Sooman?)” tanya Ikha, angkat bicara.

That man—“ Eunhyuk menatap langit sejenak. Tatapannya lurus tanpa berkedip. “—i knew him. Clearly,” imbuhnya. Sudut bibirnya bergerak membentuk lengkungan kecil.

Who is he? And why did you kill him? (Siapa dia? Kenapa kau membunuhnya?)” tuntut Ikha namun tetap berusaha untuk tenang dan hati-hati.

Eunhyuk menyeringai. Tak heran jika Ikha mengetahui apa yang diperbuatnya karena ia sudah bisa menerka: namja cantik lah—a.k.a Heechul—yang memberitahunya. Selain dia, siapa lagi?

Do you truly wanna know about it? (Kau benar-benar ingin tahu tentang hal itu?)” Eunhyuk balik bertanya. Lebih tepatnya meyakinkan Ikha mengenai rasa keingin-tahuannya.

Ikha hanya mengangguk pelan. Serta merta Eunhyuk mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas rerumputan. Kakinya terlipat dan kedua tangan melingkarinya. Ia menatap Ikha tak percaya. Baru kali ini ada seorang yeoja yang ingin mendengar kisah hidupnya.

I’ll tell you. All about me. But with one condition. (Tapi dengan satu syarat)” ucap Eunhyuk, sedikit bernegosiasi.

Mention it (Sebutkan saja)”

Eunhyuk membenahi posisi tubuhnya. Tubuhnya sedikit terangkat dengan bertumpu pada siku tangan agar tidak roboh. Ia menatap Ikha. Kelopak matanya sengaja digerakkan perlahan dengan maksud menggoda yeoja yang kini tercenung di tempatnya.

Accompany me to go to a club tonight. I’m bored because of cooped up here. (Temani aku pergi nanti malam ke club. Aku bosan terkurung disini)” jelas Eunhyuk.

Ikha tertawa merendahkan. tangannya menepuk pundak Eunhyuk sedangkan namja itu malah mengerutkan dahi. “Do you think you can get out of this place? (Kau fikir kau bisa keluar dari tempat ini?)” ledeknya, masih tertawa karena perkataan Eunhyuk yang dirasa hanya sebuah nonsense belaka.

Eunhyuk mencondongkan sedikit tubuhnya pada Ikha, membuat yeoja itu terhenyak saat wajahnya hanya terpaut beberapa centimeter saja.

I’m not as stupid as you think, Miss. (Aku tidak sebodoh yang kau kira, Miss.)” gumam Eunhyuk. Jelas sekali bahwa namja itu tengah menggoda Ikha.

Ikha menelan ludah. Jantungnya bergemuruh hebat. Ia berani bertaruh, yeoja manapun pasti akan merasakan hal sama seperti apa yang saat ini ia rasakan. Namja ini—entah pengaruh dari faktor genetik apa—terlihat lebih mempesona ketika Lee Hyuk Jae merasukinya.

 “So? Accept my offer or not? (So? Menerima tawaranku atau tidak?)” tawar Eunhyuk sekali lagi seraya mengerling nakal.

***

11.36 p.m

Dua puluh empat menit menjelang tengah malam dan Ikha masih saja mematung di tempat. Setiap ia melirik jam tangan, setiap kali itu pula ia mengeluarkan desahan beratnya. Ia mengeratkan sweeter Sapphire Blue yang menutupi tubuh bagian atas ketika angin malam berhembus semriwing (?) menerpa lapisan kulit terluarnya.

Ikha mengeluh. Seharusnya ia tidak perlu mengiyakan tawaran Eunhyuk—atau lebih tepatnya si Lee Hyuk Jae—tadi sore. Akibatnya? Ia harus berdiri di tengah dinginnya angin musim semi tanpa banyak orang yang berlalu lalang selama hampir 2,5 jam. Sesekali ia memperhatikan jalanan di sebelah kiri dan kanannya. Tapi tetap saja, orang yang ditunggunya tak kunjung menampakkan diri.

Ia merogoh saku sweeter lalu mengambil handphone yang sedari tadi tak disentuhnya. Sempat ia mengabsen beberapa nama yang tertera pada phonelist namun sedetik kemudian yeoja itu mengerang. Yeah, Lee Hyuk Jae tidak memegang handphone atau alat komunikasi apapun. Sulit baginya untuk mendeteksi dimana namja berperawakan kurus tersebut berada.

Tin.. Tin… Tin…

Sebuah motor tipe MV Agusta F4 CC melintas di hadapan Ikha, membuat yeoja itu berteriak histeris saking kagetnya. Si pengemudi memutar kendaraannya tak jauh dari Ikha lalu menghentikan laju motor tepat di depannya.

Orang itu menaikkan kaca helm yang dipakainya hingga tampaklah wajah si pengemudi yang telah membuat Ikha mengaduh tak karuan. Yeoja itu menendang ban motor belakang si pengemudi cukup keras saat namja tersebut terkekeh pelan melihat wajah kaget Ikha—lebih tepatnya wajah tololnya.

“YA!” teriak Ikha sekencang-kencangnya pada Hyuk Jae. Namja yang kini memakai sweeter hitam, celana hitam pendek, serta sneaker dengan warna yang senada itu menyeringai. Helm yang melekat di kepalanya ia lepas.

The important thing is i arrived on time. (Yang penting aku datang tepat waktu)” kilah Hyuk Jae sambil merapihkan tata rambut yang sedikit berantakan akibat tertekan helm.

You said that was on time? YA! YOU— (Tepat waktu katamu? YA! KAU—)”

Kalimat Ikha langsung diinterupsi oleh Hyuk Jae saat namja itu menyerahkan sebuah helm yang ada di jok belakang motor padanya dan menyuruh yeoja itu untuk memakai benda tersebut. Hyuk Jae kembali mengenakan helm-nya dan setelah itu kedua tangannya sudah mencengkeram setir motor.

Ikha masih melongo menatap Hyuk Jae. Namja berkepribadian aneh ini selalu membuatnya bingung, terperangah, kaget, dan marah dalam waktu yang bersamaan.

Why are you silent? (Kenapa kau diam saja?)” tanya Hyuk Jae saat namja itu menangkap basah Ikha yang menatapnya keheranan.

Ikha mengerjapkan mata sekali untuk membawa kembali jiwanya yang sempat berjalan di dalam alam bawah sadarnya. Ia melihat Hyuk Jae tengah menatapnya intens, membuat yeoja itu berdeham untuk mencairkan suasana.

Where did you get that bike? And your appearance— (Darimana kau mendapatkan motor itu? Dan penampilanmu—)”

Hyuk Jae lagi-lagi hanya tersenyum. Sama sekali tak menanggapi rasa penasaran Ikha atas apa yang dilakukannya saat ini.

Ya! I’m asking you, Lee Hyuk Jae! And—ah, how could you get out from the hospital?” cecar Ikha sekali lagi.

Merasa bahwa dirinya harus memberi penjelasan pada Ikha, Hyuk Jae memutuskan untuk mematikan mesin motor terlebih dahulu. Ia merilekskan tubuh sambil tetap menahan motor besar yang dipakainya saat ini agar tidak terjatuh.

 “When I was outside the buildingthe night when I killed two foreign namja—I found a path that would take me out of here. (Saat aku berada di luar gedung—malam ketika aku membunuh dua namja asing—aku menemukan jalan yang bisa membawaku keluar dari sini)” terang Eunhyuk seraya menatap salah satu arah mata angin.

Why did not you just run away from it long ago? (Kenapa kau tidak kabur saja dari tempat itu sejak dulu?)” ejek Ikha di tengah kegiatannya memakai helm.

If I ran away so fast, maybe I would difficult to find you. (Kalau aku kabur secepat itu, mungkin aku akan kesulitan menemukanmu)” ungkap Eunhyuk, membuat Ikha membeku seketika.

Yeoja itu menatap Eunhyuk dalam. “Do you mean? (Maksudmu?)”

Eunhyuk terdiam cukup lama. Agak ragu untuk berucap. “Hmm, honestly. I truly hate you because of a reasoncause you always deny my words and always makes me upset. But I feel like something told me not to  hurt you.  (Hmm. Jujur saja. Aku sangat membencimu karena suatu alasan—karena kau selalu membantah kata-kataku dan selalu membuatku kesal. Tapi aku merasa seperti ada sesuatu yang menggerakkanku untuk tidak menyakitimu.)”

Ketika Eunhyuk mengucapkan kata terakhir, jemarinya ia letakkan di bagian hatinya. Sejenak ia terdiam, merasakan seperti ada sesuatu yang kosong disana. Ikha ikut terdiam. Matanya tidak berkedip sedikitpun. Bukan karena apa yang Hyuk Jae rasakan, tapi lebih kepada apa yang Hyuk Jae ungkapkan. Melihat hal itu, Hyuk Jae pun segera mengklarifikasi.

You’re not too fast to be proud of just because I did not hurt you! (Kau jangan terlalu cepat berbangga hati hanya karena aku tidak menyakitimu!)” hardik Hyuk Jae, membuat Ikha terhenyak dari lamunannya.

“Ya!” Ikha memukul lengan atas Hyuk Jae membabi-buta. Namja itu hanya tertawa kecil menanggapinya.

Let’s go. We’ll miss the party,” ucap Hyuk Jae, menyuruh Ikha untuk segera duduk di belakang motor bersamanya.

Yeoja itu menurut. Tanpa rasa curiga sedikitpun—apakah Hyuk Jae akan membunuhnya di kolong jembatan atau akan memutilasi tubuhnya di club—ia segera naik ke atas motor. Sengaja ia membuat jarak antara dirinya dengan Hyuk Jae. Jangan sampai tubuhnya menempel sedikitpun dengan namja itu. Bisa gawat nanti—gawat karena Ikha bisa saja jatuh ke dalam pesona Hyuk Jae, hanya karena mereka bersentuhan. Yeah, sentuhan!

Hey, you haven’t told me how you can get this thing,” ucap Ikha. Telapak tangannya bergerak menyusuri permukaan motor berwarna hitam tersebut dengan perlahan. Well, Hyuk Jae memang patut dicurigai. Motor semewah  ini tidak mungkin ia dapat hanya dengan mengeluarkan uang sebanyak 100.000 Won. Dan masalahnya adalah: dia tidak memiliki uang sepersen pun.

Hyuk Jae menyalakan kembali mesin motornya dan memutar kendali beberapa kali hingga terdengar bunyi deru keras dari knalpot. Tubuhnya condong ke depan karena motor hasil rampasannya itu di desain layaknya motor balap.

It’s been a long time i haven’t hit people. So i took it forcely  when a man passed in front of me just now.” jelasnya kemudian semakin menderukan suara motor.

Ikha memutar bola mata dan berdecak. Seringaian menghinanya tampak jelas dari bibirnya. “Such a thugs! (dasar preman!)” ejeknya.

Hold my waist firmly, Miss.” Suruh Hyuk Jae, semakin mengencangkan bunyi deru motor.

W-w-what? Hold your waist? No! No! No!” Ikha agak terbata saat namja itu menyuruhnya untuk berpegangan pada pinggangnya.

Hyuk Jae berdecak. “Whatsoever. I won’t be responsible if you fall (Terserah. Aku tidak akan bertanggung-jawab jika kau jatuh)”

But—YA!”

Ikha segera memegang pinggang Hyuk Jae erat ketika namja itu melajukan motornya secara tiba-tiba. Membuat motor yang dinaikinya sedikit terjungkir ke belakang. Pipi kanan Ikha menempel pada punggung Hyuk Jae. Jemarinya pun meremas sweeter yang dipakai Hyuk Jae dengan kencang.

Dari balik helm-nya, Hyuk Jae tersenyum tak karuan. Sudah lama ia tidak merasakan lawan jenis menyentuhnya. Dan dengan perlakuan Ikha yang kini tengah memeluknya erat, ia dapat membuktikan bahwa dirinya masih normal.

***

Do you want some drinks?” tawar Hyuk Jae saat mereka berhasil duduk di kursi dekat bartender setelah melewati puluhan namja dan yeoja yang sedang asik berdansa tak tentu arah di tengah ruangan.

Jari Ikha menepuk-nepuk dagunya. Bola matanya pun bergerak menyusuri deretan huruf pada daftar menu di atas meja. Alisnya mengkerut. Ia tidak begitu suka alkohol. Terakhir kali ia meminum soju adalah ketika ia pergi jalan-jalan dengan Han Taerin—teman satu kampusnya. Hasilnya? Ia terus berteriak karena soju yang diminumnya telah membuat lidahnya mati rasa.

Juice,” jawab Ikha mantap. Kedua tangannya bersidekap di atas meja yang tingginya sebatas dada.

Hyuk Jae menjentikkan jari, memanggil si bartender.

Two glassess of strawberry juice, please.” ucapnya, setengah berteriak. Suara dentuman musik dari berbagai sudut ruangan cukup meredam semua suara. Jadi mau tak mau namja itu sedikit berteriak agar pesanannya didengar si pelayan.

Kepala Ikha berputar cepat. Kedua alisnya terangkat. Kelingkingnya menggaruk salah satu lubang telinganya takut-takut ia salah dengar.

Two?” tanyanya pada Hyuk Jae yang sedari tadi mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Bibirnya tertarik membentuk senyuman setiap kali matanya bertemu dengan mata para yeoja yang tengah menatapnya seduktif.

Eum. I can’t drink alcohol,” celetuk Hyuk Jae sekenanya.

Mulut Ikha terkatup rapat. Terlihat sekali bahwa yeoja ini tengah menahan tawa. “YA! A hoodlums like you? Can’t drink alcohol? Oh-my-god!” ledeknya seraya mengetuk-ngetuk meja bartender menggunakan jemarinya.

Hyuk Jae hanya melirik sinis. “Whatsoever,” gumamnya tak peduli.

Ketika Ikha masih berusaha untuk menahan tawa, seorang yeoja—lengkap dengan mini dress yang hampir saja menampakkan celana dalamnya, high heels, serta parfum yang menyengat—menghampiri Hyuk Jae. Ia menatap skeptis ke arah Hyuk Jae, membuat seluruh panca indera namja itu terpaku pada yeoja itu.

Si yeoja berdiri tepat di samping Hyuk Jae. Ia memang tidak berucap, namun hanya dengan memperhatikan gerakan tangannya yang mulai menggelayar di sekitar dada Hyuk Jae, sudah jelas bahwa yeoja itu tengah menggodanya.

Yeoja itu melirik ke arah lantai dansa, mengajak Hyuk Jae menari dan bergabung dengan beberapa orang di bawah sana. Hyuk Jae—yang sudah lama tidak merasakan nikmatnya malam hari—melingkarkan tangannya di sekitar pinggang si yeoja. Tak lama, ia pun menarik tubuhnya bergerak menuju tempat yang diinginkannya.

Melihat bahwa Hyuk Jae malah mengacuhkannya dan memilih bersama dengan yeoja yang lebih mirip seperti seorang tuna susila, Ikha pun segera melempar tissue yang telah disediakan bartender di meja ke arah Hyuk Jae. Membuat namja itu memutar tubuh menghadapnya.

Ya! What are you going? You invited me to come here and you’ll leave me alone?” ketus Ikha, berteriak.

Hyuk Jae membisikkan sesuatu di telinga si yeoja, membuat yeoja itu menyunggingkan senyum tipisnya. Ikha malah mendengus. Menurutnya, senyum yeoja itu tidak begitu bagus jika dibandingkan dengan senyumnya. Benar-benar menyebalkan.

I’ll dance over there. Wanna come with us?” ajak Hyuk Jae, setulus-tulusnya.

Ikha malah memalingkan muka. Bukan karena ia menolak ajakan Hyuk Jae, tapi lebih tepatnya ia muak melihat kelakuan yeoja yang sedari tadi terus saja bergelanyut pada Hyuk Jae. Satu tangan yeoja itu melingkar manis di pinggang Hyuk Jae, sementara tangan yang lain terus saja menyentuh daerah sekitar leher dan dada Hyuk Jae yang terbalut sweeter.

Hyuk Jae menyeringai. Poni putihnya ia kibas perlahan saat bagian rambutnya yang mulai memanjang itu sedikit menghalangi penglihatannya.

I know you won’t,” ujar Hyuk Jae. Ia memberikan sebuah senyuman singkat pada si yeoja, mengeratkan rangkulan hingga tubuh yeoja seksi itu menempel dengan tubuhnya kemudian menyeretnya menuju lantai dansa.

Lagi-lagi Ikha mendengus. Sungguh muak melihat pemandangan tersebut. Benar. Seharusnya ia tidak menerima tawaran Hyuk Jae sejak awal. Menyesal? Ya. ia sangat menyesal.

Dari kejauhan, Ikha memperhatikan gerak-gerik dua insan tersebut. Hyuk Jae tengah menari bersama si yeoja. Oh, tidak! Bukan hanya satu. Tapi sekarang ada LIMA! Dan bodohnya, Hyuk Jae seperti menikmatinya. Ikha mendengus. Kesal. Permukaan meja bartender pun menjadi sasarannya. Ia pukul-pukul meja tersebut. Tak peduli tangannya terasa perih atau ngilu. Yang penting sekarang ia harus melampiaskan amarahnya.

“Minumanmu, Agasshi.” Ucap salah satu bartender yang wajahnya hampir mirip dengan Kim Hyun Joong. Namja itu menyodorkan segelas minuman yang dipesan Ikha sebelumnya. Dan tanpa basa-basi, yeoja itu segera meneguk sekaligus juice yang ada didalam gelas.

“Hei, aku mau satu gelas lagi,” pinta Ikha pada bartender tersebut.

Sementara menunggu pesanannya tersedia, Ikha kembali mencuri pandang ke arah Hyuk Jae. Wajahnya memanas. Sweeter yang semula membalut tubuhnya ia lepas seketika. Panas. Ya, saat ini ia tengah dilanda emosi. Betapa tidak? Ia harus melihat Hyuk Jae dicumbu oleh yeoja seksi yang mengajaknya berdansa dan namja itu sama sekali tidak menolak. Damn!

Ikha meraih gelas kecil tak jauh darinya lalu meneguk air tersebut dengan cepat. Tepat setelah itu, wajah Ikha mengkerut. Lidahnya menjulur dan tangannya mengibas-ngibas mulutnya.

Damn! Apa ini?” pekiknya pada si bartender.

Si bartender menghentikan aktivitasnya sejenak untuk memastikan apa yang diminum Ikha. Namja itu mencium aroma yang menyeruak dari gelas.

“Oh, ini Tequilla Sunrise,” terangnya lalu kembali melanjutkan kegiatannya—membuat minuman untuk beberapa pengunjung.

Ikha mengeluh. Tequilla Sunrise? Setahunya nama itu adalah nama minuman dengan kadar alkohol yang sangat tinggi.

Yeoja itu memperhatikan sekelilingnya. Hyuk Jae masih menikmati alunan musik di bawah sana. Dan sialnya, ia menemukan beberapa pasang mata menatapnya seduktif. Ikha berani mengambil kesimpulan bahwa si pemilik mata itu pasti para namja hidung belang.

Sebelum alkohol itu menguasai fikirannya, Ikha segera beranjak keluar dari club. Meskipun harus bertabrakan dengan orang-orang yang menghalanginya, itu tidak jadi masalah. Yang penting sekarang, ia harus keluar dari tempat laknat tersebut.

Sayang, ketika ia baru sampai di lorong menuju pintu keluar, kepalanya tiba-tiba pusing mendadak. Yeoja itu menyenderkan tubuhnya sejenak pada dinding. Berharap pusing itu akan hilang—meskipun hanya sedikit.

“Wow, sepertinya ada seseorang yang butuh bantuan,” ucap seseorang tak jauh darinya.

Ikha melirik sekilas. Dan ah, seorang namja paruh baya berjalan perlahan menghampirinya. Ikha memijat pelan dahi dan pelipisnya, berharap ia akan tetap tersadar sampai namja itu menghilang dari hadapannya. Tapi sepertinya namja itu berfikiran lain, ia berjalan menghampiri Ikha dan berusaha untuk melakukan kontak fisik.

Don’t touch me, you bastard,” gumam Ikha saat dirasakannya tangan namja itu mencoba menyentuh bagian tubuhnya. Ia kembali berjalan—meskipun agak sempoyongan—menjauhi si namja.

Namja itu tetap bersikeras, memaksa agar dapat—setidaknya—menyentuh pinggang Ikha dan melingkarkan tangan kokohnya disana. Ikha memberontak dengan sisa tenaganya. Dalam hati ia mengutuk diri sendiri. Harusnya ia tidak meminum alkohol itu. Dampaknya benar-benar diluar dugaan.

Hei, you! She said to not touched her, dummy.”

Dan setelah itu,

BUK!

Sebuah pukulan keras melayang di pipi si namja paruh baya, membuatnya tersungkur ke lantai. Darah segar mengalir di sudut bibir. Namja itu menatap orang yang telah memukulnya dengan tatapan dendam. Tapi orang tersebut bergeming di tempatnya. Ia balas menatap si namja dengan lebih tajam.

Go. Now. Or you’ll not save,” ancam Hyuk Jae, berdiri di depan si namja yang tengah terduduk di lantai dengan angkuhnya. Namja itu hanya menatap sebentar lalu berjalan menjauh.

Hyuk Jae memutar tubuhnya menghadap Ikha yang kini tengah mencoba mengokohkan tubuhnya. Yeoja itu terus meringis dan memaki kepalanya yang semakin berputar-putar. Hyuk Jae melingkarkan tangannya di sekitar pinggang Ikha lalu berusaha membawa yeoja itu pergi.

Hei, why you look like a drunker?” ejek Hyuk Jae, agak berbisik di telinga Ikha.

Ikha berusaha melepaskan rangkulan Hyuk Jae. Saat ini ia tak ingin disentuh oleh siapapun. “Ya! Stay away from me!” ketusnya.

Hyuk Jae pura-pura tak mendengar perkataan Ikha. Ia tetap menyeret yeoja itu menuju pintu keluar.

“I SAID STAY AWAY FROM ME, LEE HYUK JAE! JUST TAKE CARE OF YOURLS AND IGNORE ME!”

Kini Ikha berteriak sejadinya pada Hyuk Jae, menumpahkan segala kekesalannya yang terus ia pendam akibat ulah namja liar tersebut. Tak peduli apa yang akan difikirkan Hyuk Jae terhadapnya, yang penting sekarang emosinya dapat tersalurkan.

You’re drunk,” gumam Hyuk Jae, masih bersikukuh menopang tubuh Ikha yang mulai melemah.

“Aissh, jinjja! You will regret it because—Ugh,”

Ikha tidak melanjutkan kalimatnya. Ia terjatuh tepat di pelukan Hyuk Jae. Namja itu tersenyum tipis. Kepalanya menggeleng pelan. Well, tak disangka yeoja ini akan meminum alkohol.

Hyuk Jae melingkarkan lengannya di sekitar punggung dan kaki Ikha, menggendong yeoja berambut panjang tersebut dan berniat untuk membawanya ke suatu tempat.

***

“Engh…”

Ikha mengerang ketika sebuah sinar menyapa kedua matanya. Tangannya bergerak menghalangi jalannya sinar tersebut agar tidak menyilaukan. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan baru menyadari gorden berwarna pink tak jauh dari penglihatannya tidak menutupi jendela.

Ia tersenyum tipis. Senang rasanya bisa berada di kamar sendiri. Ikha menghirup aroma kamarnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan kasar. Kedua tangannya terlentang, mengeratkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.

Namun tak memakan waktu lama bagi Ikha untuk menikmati pagi indahnya. Ia baru menyadari sesuatu ketika tangannya bergerak menyingkap bed-cover yang menutupi sebagian tubuhnya. Matanya membulat saat mendapati tangan seseorang—yang ia yakini bahwa tangan tersebut mirip sekali dengan tangan seorang namja—melingkar manis di atas perutnya.

Bola matanya bergerak perlahan ke sebelah kanan. Ia berharap bahwa apa yang ditakutkannya saat ini tidaklah benar adanya. Dan ketika ia melihat seorang namja tengah terbaring malas disampingnya, leher Ikha langsung tercekat.

Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benak Ikha. Kenapa semua ini bisa terjadi? Dan apa yang dilakukannya tadi malam sehingga namja yang tengah tertidur pulas tersebut ada di kamarnya? LEE HYUk JAE? DI KAMARNYA?

Ikha mencoba mengangkat sedikit tubuhnya dengan bertumpu pada salah satu siku tangan. Sementara tangan yang lain memegang kepalanya yang masih terasa pusing. Saat matanya menangkap sosok dirinya sendiri dari balik cermin meja rias yang ada di depan tempat tidur, matanya kembali membulat dan mulutnya menganga.

BAGAIMANA BISA IA HANYA MEMAKAI TANK-TOP COKELATNYA SAJA? BUKANKAH TADI MALAM IA MASIH MEMAKAI SWEETER? Oke, ia memang masih mengenakan jeans kebanggaannya. Tapi apa ini? Restleting jenas-nya sudah terbuka?

Serta merta yeoja itu mengeratkan bed-cover floral pink-nya menutupi seluruh tubuh—kecuali kepala tentunya. Ia kembali menatap Hyuk Jae. Rambutnya acak-acakan dan ia sweeter hitam yang semula ia pakai sudah tertanggalkan—topless.

“ANDWAE!!!”

To be continued…

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

82 thoughts on “MY NAME IS LEE HYUK JAE “Chapter 07””

    1. kkk~ betuuuuul~

      ƪ(˘⌣˘)┐tory.. ƪ(˘⌣˘)ʃ tory.. ┌(˘⌣˘)ʃ tory.. ƪ(˘⌣˘)cheese.. ƪ(˘⌣˘)┐

      ƪ ʃ. ƪ :* ʃ. ƪ ʃ.
      . . 
      . ≤¯≥. ≤¯≥. ≤¯≥. TORI TORI TORI

      .ƪ (=| ʃ. ƪ :p ʃ. ƪ =)) ʃ.
      . . 
      . ≤¯≥. ≤¯≥. ≤¯≥. TORI CHIZ CRAKER

  1. BWAHAHAHAHAHHAHAHA
    aku suka ini eon! lee hyukjae lo normal juga bro’-‘/
    bwahahah
    seorang physco trnyata juga bisa jatuh cinta? masih dlm jalan yg lurus berarti dia.wkwk
    apa kan kata aku, lbh mempesona pria yg rada naughty dibanding yg manis manis gitu.wkwk
    btw, itu si hyuk gimana bawa ikha kekamarnya coba?._.

    1. Hahaha, kan ceritanya si lee hyuk jae itu genious Saeng. Pinter dalam segala hal termasuk pinter masuk ke dalem rumah orang, .:*•. ЩĸЩĸЩĸЩĸЩĸЩĸЩĸЩĸ
      iya nih, sesuatu banget ya lee hyuk jae begitu… 🙂

  2. Ikha-ya..
    pinjem Hyuk Jae.ny bentar dun..
    saya pngen bz masuk ke kamar.n Kyu-Min.. *lirikKyu
    *bisik.2.. saya pengen nyulik tu PSP yg bikin saya cemburu terus..

  3. akhirnya bisa ngelanjutin jugaaaa..
    aigoo.. Lee Hyuk Jae ckck.. benar-benar namja liar hahahha
    what happen with them? gak terjadi sesuatu yang buruk kan eon hehe. uuuu Hyuk Jae cemburu itu lucu yaaa, segitu marahnya dan hanya dibilang cemburu langsung adem keke~
    Ikha memang daebak kalau berhubungan sama Hyuk Jae (eonni: iya dong, dia kan suami aku :D) *PLAK

  4. wah… wah… wah… lee hyuk jae keren…..
    tapi enhyuknya sayang… penyakitnya makin tambah parah….
    trus penyakitnya bisa sembuh gak thor…?

  5. hyukjae tw jlan kluar ???
    berabe sudah….
    tuch mtor dpet abis ngbunuh org y ??
    hyukjae cool y,BAD BOY…
    ikha jlas bnget tuch cmburunya…
    donghae gmana donk ???
    wkwkwk…

    eonnie fighting (◦ˆ⌣ˆ◦)

  6. sumpah ffnya keren bangetttt. author aku boleh minta password ff my name is lee hyukjae ngga? aku readers baru, mian.

  7. Bagus banget ff nya eonni .. Suka karakternya hyuk jae>< gregetan gituu!!
    Eonni minta password nya boleh?semua part di ff ini yang di proteksi:D

  8. annyeong haseyo

    eonni aku reader baru, ijin baca yaa 🙂
    ahh iya aku denger ff ini selanjutnya d pw ya
    boleh minta pw nya gga eon?,
    hihi

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s