MY NAME IS LEE HYUK JAE “Chapter 06”

FF - My name is lee hyuk jae - NewTiga menit berlalu, namun Ikha masih saja menatap hampa mangkuk makanan di hadapannya. Sesekali ia mengaduk sup yang telah disiapkan ahjumma—yang dibayar oleh Kyuhyun—dan hanya sekedar bermain-main dengan wortel serta kentang yang berayun ringan di dalam mangkuk.

Ikha mengusap pelan pelipis serta keningnya sesaat. Rasa sakit masih terasa ketika jemarinya sengaja menekan daerah tersebut. Ia mendesah, menundukkan kepalanya sesaat lalu beralih menatap ke luar jendela.

Ya, seharusnya ia tidak perlu gelisah seperti ini. Sekarang ia berada di tempat yang sangat aman dan cukup jauh dari rumah sakit. Jadi ia tak perlu takut jika Lee Hyuk Jae kembali menyerangnya. Namun bukan itu yang ia khawatirkan. Bukan karena masalah penyerangan Hyuk Jae kemarin lusa padanya.

Ini lebih kepada keadaan Eunhyuk. Setelah kejadian itu, Ikha dapat mengambil kesimpulan bahwa namja yang lebih tua empat tahun darinya itu begitu rapuh dan lemah. Tidak ada sedikitpun keinginannya untuk menjauh dari Eunhyuk. Namun sebaliknya, rasa untuk melindungi namja itu justru semakin kuat.

Sebuket bunga lily putih dari Donghae tergeletak begitu saja di atas meja makan. Ikha kembali mendesah. Saat ia membutuhkan Donghae disampingnya, namja itu malah disibukkan oleh pekerjaannya mengurus perusahaan. Fine, Donghae memang mengirim bunga sebagai tanda maaf karena tidak bisa menjenguknya pasca kejadian itu. Tapi tetap saja, semua terasa berbeda.

Ikha meraih cangkir teh yang terletak tak jauh dari mangkuk sup-nya. Sempat ia memperhatikan riak permukaan air teh akibat pergerakan tangannya. Asap dari teh tersebut mengepul membentuk uap di sekitar hidungnya.

Baru saja Ikha berniat untuk meneguk teh hangat tersebut, ia mendengar pintu apartment yang ditempatinya terbuka. Penasaran, ia pun berjalan ke arah ruang tamu. Alisnya mengerut ketika beberapa orang berjas hitam dan bertubuh tegap masuk ke dalam ruangan. Delapan belas namja berjas itu membentuk dua barisan saling berhadapan. Sengaja mereka merapat agar tak ada yang bisa membongkar formasinya.

“Ada apa ini?” tanya Ikha pada para namja berjas hitam.

Semua namja itu tetap diam di tempat tanpa mempedulikan pertanyaan Ikha. Selang beberapa menit, Kyuhyun dan Heechul muncul dari balik pintu. Langkah Kyuhyun begitu cepat dan tegas. Berbeda sekali dengan langkah Heechul yang terlihat begitu ringan dan santai.

“Oppa?” tanya Ikha saat Kyuhyun sudah berada di hadapannya.

Kyuhyun memperhatikan sekeliling ruangan terlebih dahulu. Setelah yakin semua namja berjas tersebut ada pada posisi yang telah ditetapkan, Kyuhyun mendorong tubuh Heechul hingga namja itu bergerak selangkah ke belakang.

“Aku sudah mengatakan berkali-kali pada Heechul Hyung untuk tidak datang kemari. Tapi dia tetap memaksa,” ucap Kyuhyun. Kentara sekali bahwa ia sedang menahan emosi.

Mian jika aku mengganggu pagimu, Kha-ya. Tapi seseorang terus memaksaku untuk datang kemari,” elak Heechul lalu mensejajarkan tubuhnya dengan Kyuhyun hingga dua namja tampan tersebut berhadapan dengan Ikha.

“Sudah kukatakan kalau itu tidak perlu! Ikha baik-baik saja! Seperti yang kalian lihat!” sanggah Kyuhyun, setengah berteriak ke arah Heechul.

“Kenapa banyak sekali bodyguard?” tanya Ikha, mencoba mencairkan suasana tegang diantara mereka berdua.

“Itu karena aku,” ucap seseorang dari balik pintu apartment.

Ikha mendorong pelan tubuh Kyuhyun agar dirinya bisa melihat siapa yang telah mengaku bahwa dirinya yang menyebabkan namja berjas ini merusak suasana pagi harinya. Mata Ikha kemudian membulat mendapati seorang namja berambut putih—tak lupa kacamata yang menyangkut di hidung mancungnya—tengah diapit oleh dua namja bertubuh besar. Seluruh tubuhnya ditutupi oleh kain tebal berwarna hitam.

“Eunhyuk-ssi?” sahut Ikha, tak percaya.

***

Bunyi detik jarum jam yang bertengger manis pada dinding apartemen Kyuhyun terdengar sangat jelas di telinga. Ruangan itu cukup sunyi meskipun ditempati oleh dua puluh dua orang. Tidak ada yang berani bicara. Bahkan suara hembusan nafas pun teredam oleh suara hening tersebut, seolah mereka memang takut untuk mengeluarkan suara sekecil apapun.

Ikha menatap Eunhyuk yang kini tengah duduk tepat disampingnya dengan cermat. Namja itu menunduk. Sekalipun ia mendongakan kepala, ia pasti akan kembali menunduk sedetik kemudian. Ikha memperhatikan sekeliling ruangan. Ia mendengus pelan dan memutar bola mata. Pantas saja Eunhyuk tidak berani bicara. Semua orang yang ada di ruangan tersebut tertuju padanya. Tak terkecuali Kyuhyun, dialah yang paling terlihat menyeramkan.

“Apa yang ingin Oppa bicarakan?” tanya Ikha pada Eunhyuk, memulai pembicaraan.

Eunhyuk—yang meringkuk di tempatnya—menelan ludah sesaat. Bibirnya bergetar bersiap untuk bicara. Namun ketika ia menatap sekelilingnya, ia kembali merunduk seperti daun bunga puteri malu.

“Aku—” Eunhyuk menghentikan kalimatnya. Kedua tangan yang terbalut oleh kain hitam tersebut terlihat bergerak-gerak, seperti kesepuluh jemarinya sedang bertautan satu sama lain.

Ikha melirik sekilas pada seseorang yang tatapannya paling garang diantara semuanya. “Ya! Cho Kyuhyun! Jangan menatap Eunhyuk seperti itu!” tukasnya.

“Aku hanya sekedar mengawasi,” elak Kyuhyun dingin. Kedua tangannya terlipat di dada. Kacamata berbingkai hitamnya pun tak dilepas olehnya—sengaja agar ia dapat melihat ekspresi Eunhyuk lebih jelas. Setidaknya ia bisa tahu kapan Eunhyuk berubah kepribadian lewat ekspresi wajahnya.

Lagi-lagi Ikha memutar bola mata. Kesal dengan semua tatapan semua orang yang membuat Eunhyuk terlihat tertekan.

Kkaja, (Ayo kita pergi)” ajak Ikha lalu menarik lengan atas Eunhyuk hingga membuat namja itu berdiri mengikutinya.

“Ya! Kau mau bawa dia kemana?” cegah Kyuhyun, bergerak beberapa langkah ke samping dan memblokir jalannya.

“Aku ingin bicara empat mata saja dengannya,” ucap Ikha, pelan namun tegas.

Ani, Ikha-ssi—“

“Jangan membantahku,” rajuk Ikha, memotong perkataan Eunhyuk.

Eunhyuk merapatkan mulutnya dan kembali merunduk saat Ikha malah ikut memelototinya—sama halnya seperti keduapuluh orang yang lain.

“Kha-ya, lebih baik kalian bicara disini saja,” saran Heechul. Ia ikut berdiri dari tempatnya kemudian sengaja berdiri diantara Kyuhyun dan Ikha. Takut kedua kakak-beradik itu saling menyerang satu sama lain.

“Dia tidak akan bisa bicara dengan santai jika kalian berdua dan bodyguard itu terus mengawasinya. Beri dia sedikit kebebasan,” jelas Ikha, setengah memelas.

“Tapi kau mau bawa kemana?” tuntut Kyuhyun, meminta penjelasan.

Ikha tak menjawab pertanyaan Kyuhyun. Ia lebih memilih menyeret Eunhyuk menuju kamarnya yang berada tak jauh dari ruang tamu. Eunhyuk sempat terseok-seok mengikuti langkah Ikha. Sempat ia melirik Heechul dengan tatapan ketakutan, namun namja cantik itu hanya mengangguk pelan—menyuruhnya untuk percaya pada apapun yang Ikha lakukan.

“Kha-ya!” Lagi-lagi Kyuhyun mencegah Ikha dengan cara melepaskan cengkeraman Ikha pada lengan Eunhyuk yang masih terbalut kain hitam.

“Eunhyuk tidak akan melukaiku,” elaknya. Masih bersikukuh untuk mengajak Eunhyuk ke dalam ruangannya.

“Jangan bertindak bodoh!” hardik Kyuhyun tak sabaran.

Ikha menatap Eunhyuk yang masih menunduk. Dengan agak kasar, Ikha menarik lengan Eunhyuk lalu mendorongnya masuk ke dalam kamar.

Kka! (pergi)” suruhnya, membuat namja itu bergeming di tempat—antara mengikuti perintah Ikha atau tetap di ruang tamu seperti yang diinginkan Kyuhyun.

Melihat kelakuan Eunhyuk yang seperti patung membuat Ikha semakin gemas dan kesal. “Kau harus percaya padaku, Oppa.” Ikha sedikit memaksa.

Eunhyuk menatap Ikha agak ragu. Namun saat mata mereka bertemu, ia merasakan bahwa Ikha seolah dapat meyakinkan semuanya akan baik-baik saja. Lagi, Eunhyuk menatap Heechul dari balik punggung Ikha, namja itu mengangguk sekali lagi. Tanpa berfikir panjang, ia memutar tubuhnya dan bergerak masuk lebih dalam lagi ke kamar Ikha.

“Suruh saja mereka berjaga didepan pintu. Aku tidak akan menguncinya. Jadi jika aku berteriak, kau bisa langsung membuka pintu dan menghajarnya,” jelas Ikha pada Kyuhyun. Dagunya bergerak menunjuk namja berjas yang tengah membentuk barisan tersebut ketika menyebut kata ‘mereka’. Dan tanpa persetujuan Kyuhyun, Ikha segera masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintu agak kencang.

Ikha memperhatikan Eunhyuk yang masih saja berdiri di tempatnya. Sepertinya ia agak kaku dengan situasi sekarang ini. Ikha mendekati Eunhyuk, memegang kedua bahu namja itu lalu menuntunnya untuk duduk di sisi tempat tidur. Namja berambut putih itu menurut. Dengan sangat hati-hati, ia duduk di atas spring-bed yang diselimuti bed-cover berwarna floral-pink.

“Buatlah dirimu nyaman. Anggap saja namja-namja di luar sana tidak ada,” terang Ikha seraya menunjuk ke arah pintu kamarnya.

Kemudian ia berjalan ke arah jendela kamar, beniat untuk melihat keadaan di luar sana. Namun sesuatu menarik perhatian dirinya saat melihat beberapa mobil polisi terparkir dengan rapih di sekitar apartemen.

Ikha mendengus seraya menarik poni rambutnya ke belakang kepala. Ia kembali memperhatikan Eunhyuk yang masih tertunduk kaku di atas tempat tidur. Namja ini benar-benar mendapat pengawasan ketat. Lihat! Mungkin bukan hanya bodyguard-bodyguard di dalam apartemen saja yang berjaga, melainkan di lobby dan di sekitar lift apartemen. Hah!

Kaki Ikha ia gerakkan mendekati Eunhyuk. Sengaja ia memposisikan dirinya duduk di depan namja berkacamata tersebut agar ia dapat berbincang lebih dekat dengannya dengan cara menggeser bangku kecil yang ada didepan meja rias. Tangan Ikha bergerak menyentuh jemari Eunhyuk yang terbalut kain hitam, membuat namja itu menatapnya kilat.

Gwenchanayo? (Kau baik-baik saja?)” tanya Ikha sehalus mungkin. Tak lupa, senyum simpul menghiasi wajahnya.

Eunhyuk mengangguk tanpa berekspresi sedikitpun. Sudut bibirnya bergerak pelan, membentuk senyum yang tidak begitu kentara.

Merasa risih dengan kain hitam yang terus saja membalut tubuh Eunhyuk, kedua tangan Ikha pun mencoba melepas benda hitam itu. Refleks, Eunhyuk memegang erat kain tersebut agar Ikha tak membukanya.

Andwaeyo (Jangan),” pinta Eunhyuk, lirih.

“Kau terlihat seperti beruang kutub, Oppa. Tak apa. Aku sudah menyalakan penghangat jadi kau tidak akan kedinginan,” paksa Ikha, masih berusaha menarik kain hitam tebal itu agar  terlepas dari tubuh Eunhyuk.

Anio. Bukan karena itu. Tapi—“

Kata-kata Eunhyuk terhenti ketika Ikha memelototinya. Mata itu seolah memancarkan sinar pembeku yang sangat dashyat hingga mampu membuatnya diam di tempat. Eunhyuk mendesah pasrah. Benar-benar tak tahu lagi harus berbuat apa untuk melawan Ikha yang keras kepala.

“Baiklah,” ucapnya, pada akhirnya.

Ikha tersenyum. Menang. Serta merta ia membuka kain hitam tersebut karena—jujur saja—kain itu membuat Eunhyuk agak kesulitan bergerak.

Ketika kain hitam yang cukup panjang tersebut telah terlepas dari tubuhnya, Ikha membelalakkan mata saat menemukan sebuah borgol melekat erat di kedua pergelangan tangan Eunhyuk. Ia memperhatikan dengan seksama lalu menatap Eunhyuk keheranan.

“Siapa yang melakukan ini padamu?” selidiknya. Eunhyuk hanya diam tak mampu berkata. Jemarinya bergerak gelisah.

Malhae (Katakan)” perintah Ikha. Tapi lagi-lagi Eunhyuk hanya diam.

Gusar. Ikha pun mendengus sambil memutar bola mata. “Baiklah. Aku sudah tahu jawabannya,” ucapnya, menyerah.

Eunhyuk menghembuskan nafas beratnya sekali. Matanya bergerak perlahan memperhatikan Ikha yang sedang memandang ke arah lain. “Mereka takut aku akan menyerangmu. Jadi… seperti ini…” jelasnya, angkat bicara.

Ikha diam sejenak. Perhatiannya kini kembali pada Eunhyuk yang sedang menatap borgol di tangannya. Namja itu sempat tersenyum tipis. Meski tersenyum, tetap saja aura kesedihan terpancar jelas di wajahnya.

Geureondae (Jadi), hal apa yang membuat Oppa datang kemari?” tanya Ikha, berusaha mengalihkan pembicaraan. Eunhyuk sepertinya tidak suka dengan topik tersebut.

“Aku melihat video itu—“

Sejenak Eunhyuk menelan ludahnya. Ia menatap kening dan pelipis Ikha yang warnanya berbeda dengan kulit aslinya—agak kebiruan.

“—ketika aku menyerangmu kemarin lusa,” imbuhnya. Namja berambut putih itu kembali menghembuskan nafas berat. Kepalanya serasa pusing mendadak.

Mianhaeyo,” ucap Eunhyuk lagi.

Ikha menatap Eunhyuk nanar. Digenggamnya jemari Eunhyuk dengan lembut seraya memberikan senyum terbaiknya. “It’s ok. Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Setidaknya kepalaku masih baik-baik saja,” katanya, setengah bercanda.

Eunhyuk balas menatap Ikha. “Sesimpel itu kah?” tanyanya. Ikha hanya mengangguk sebagai pengganti jawaban ‘ya’.

“Bagaimana rasanya bisa keluar dari ‘kandang’ itu?” tanya Ikha seraya merapihkan coat hijau tua yang dipakai Eunhyuk. Coat-nya agak berantakan akibat tertimpah kain hitam tebal yang kini disampirkan diatas tempat tidur Ikha.

Eunhyuk memperhatikan gerak-gerik yeoja itu seksama. Tubuh mereka cukup berdekatan dan mampu membuat Eunhyuk agak canggung dibuatnya. Ia menahan nafas sejenak lalu berusaha menghirup oksigen secara perlahan.

“Tidak begitu bagus. Aku seperti penjahat kelas kakap. Hampir satu batalion polisi menjagaku,” jawabnya, sebisa mungkin.

“Aku juga minta maaf atas kejadian kemarin lusa. Aku tidak bilang sebelumnya saat aku akan melihatmu melakukan terapi,” ujar Ikha.

Gwenchana (tidak apa-apa),” Hanya itu yang Eunhyuk katakan. Otaknya tidak begitu bekerja dengan baik sekarang.

“Aku hanya meminta satu hal padamu, Oppa.” Pinta Ikha, membuat Eunhyuk kembali menatap Ikha lebih dalam.

Mwoya igeo? (Apa itu?)” ucap Eunhyuk penasaran.

“Mulai detik ini—jaebal—bersikap jujurlah padaku. Jika kau memang tidak bisa terbuka pada yang lain, kau bisa terbuka padaku. Katakan semua kegelisahanmu selama ini. Mungkin aku bisa membantu,” ungkap Ikha, bicara dengan nada yang sangat lembut.

Eunhyuk mendengus sambil menggeleng pelan. Letak kacamata hitamnya ia betulkan terlebih dahulu. “Mengapa kau selalu menganggap semua hal begitu simpel dan sederhana, Ikha-ssi?” rajuknya.

“Aku tahu semuanya tidak sesederhana itu. Tapi kau tidak perlu mencemaskanku. Kau tahu? Lee Hyuk Jae tidak bisa menyakitiku—well, hanya sedikit memang. Pelipisku sedikit berbeda dari bentuk semula gara-gara kemarin.” Jelas Ikha seraya mengelus pelipisnya yang agak benjol.

Mianhae,” ucap Eunhyuk untuk kesekian kali.

Ikha berdecak. Bangku kecil yang didudukinya ia geser ke belakang dengan maksud untuk memisahkan jarak pribadinya dengan Eunhyuk. “Aku bosan mendengarmu mengucapkan kata itu terus-menerus. Dan, oh—chamkanman-yo,”

Ikha beranjak dari tempatnya menuju pintu kamar. Ia keluar sejenak seraya menutup pintu. Sengaja, agar Kyuhyun atau yang lain tidak mengganggu Eunhyuk untuk sementara waktu.  Selama menunggu kedatangan Ikha, Eunhyuk melepas kacamatanya karena sedikit berembun. Diletakkannya benda tersebut di atas tempat tidur.

Dengan penglihatan seadanya, ia memperhatikan ruangan kamar Ikha. Ia baru sadar, ruangan tersebut ternyata di dominasi oleh warna Sapphire Blue dan Floral-Pink. Namja itu sempat tersenyum ketika mendapati beberapa boneka berbentuk burung (Angry bird), domba (Shaun The Sheep) dan tikus (Mickey Mouse) terpajang manis di sebuah rak kaca.

Mata Eunhyuk kemudian terhenti saat menemukan beberapa foto bertengger manis di atas meja rias. Ia tidak begitu jelas melihat siapa-siapa saja yang ada pada foto tersebut. Yang jelas, ada satu foto yang dipandanginya dengan seksama. Foto yang menampakkan seeorang berambut panjang dengan seseorang lagi berambut pendek tengah merangkul satu sama lain.

Saat hendak mengambil kacamatanya, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Ikha datang membawa sebuah kunci di tangannya kemudian yeoja itu kembali menutup pintu tersebut.

 “Aku sudah bicara pada mereka. Mereka tidak akan mengganggu kita. Jadi kita bisa bicara panjang lebar sekarang.” jelas Ikha.

Eunhyuk tersenyum tipis. Senang bahwa Ikha kembali lagi ke dalam ruangan ini untuk bicara dengannya. Ikha duduk disamping Eunhyuk, tak lagi di hadapannya. Sedetik kemudian, ia meraih tangan Eunhyuk, memasukkan kunci kecil kedalam lubang borgol lalu membukanya.

“Apa kau yakin untuk melepaskan benda ini?” tanya Eunhyuk sambil memperhatikan Ikha yang masih sibuk membuka borgol.

“Aku percaya padamu.”

Tiga kata yang diucapkan Ikha barusan membuat Eunhyuk menyunggingkan senyumnya. Senang, karena yeoja yang baru dikenalnya ± satu bulan ini mau percaya padanya. Eunhyuk mengusap kedua pergelangan tangan ketika Ikha berhasil melepas borgol tersebut. Rasanya begitu bebas saat benda yang terbuat dari besi itu tak lagi membelenggunya.

“Kau lebih tampan tanpa kacamata itu,” ucap Ikha tiba-tiba. Yeoja itu ternyata sedari tadi memperhatikan Eunhyuk saat namja itu masih berkutat dengan kedua pergelangan tangannya.

Eunhyuk lagi-lagi tersenyum. Telinganya memerah. Serta-merta ia segera menyisir kedua sisi rambutnya untuk menutupi daun telinganya yang serasa memanas. Ikha tersenyum melihat sikap Eunhyuk. Namja itu ternyata cukup manusiawi juga.

“Sebelumnya, apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu? Tapi kau harus berjanji padaku untuk menjawab semuanya. Dengan jujur,” pinta Ikha.

Eunhyuk mengangguk. Hanya sekedar itu. Dia harus berbuat apa lagi? Ikha mau menerima keadaannya saja ia sudah sangat bersyukur.

“Aku sudah mengetahui semua tentangmu dari Heechul Oppa,” aku Ikha.

Eunhyuk tersenyum tipis. “Arayo (Aku tahu),”

“Tapi ada satu hal yang tidak bisa kumengerti,”

Namja berambut putih itu menatap Ikha. Senyumnya menghilang. Saat Ikha balas menatapnya, namja itu seolah berbicara lewat tatapan mata. ‘Apa yang tidak kau mengerti?’.

“Hyung-mu,” lanjut Ikha. Seolah dapat membaca fikiran Eunhyuk.

Eunhyuk langsung menegang tepat setelah Ikha mengucapkan kata ‘hyung’. Namja itu menunduk. Kedua tangannya mengepal erat. Melihat gelagat Eunhyuk yang tak biasa, serta-merta Ikha memegang tangan Eunhyuk yang terasa sangat kaku dan tegang itu dengan lembut, berusaha untuk menyalurkan sedikit ketenangan.

“Sebaiknya aku tidak membahas ini. Mian, aku akan mengganti topik pembicaraan.” Cegah Ikha.

Eunhyuk terdiam cukup lama. Ia sedang mencoba untuk mengontrol emosinya. Sebenarnya Ikha juga merasa sedikit was-was dengan perubahan sikap Eunhyuk. Mungkin saja Lee Hyuk Jae tiba-tiba muncul dan menyerangnya.

“Dia ada di Seoul sekarang,” ucap Eunhyuk pada akhirnya.

Ikha memicingkan mata dan telinga. Tak percaya jika namja itu akan mengatakan hal tersebut. Topik mengenai hyung-nya memang sangat sensitif baginya. Jadi wajar saja…

“Hyung-ku… Dia ada di Seoul. Aku sempat bertemu dengannya tadi malam,” Eunhyuk lanjut menerangkan.

Jeongmalyo? (benarkah?)” tanya Ikha tak percaya.

Eunhyuk mengangguk pelan. “Ne. Setelah sekian lama dia menghilang, sekarang dia datang mengunjungiku. Aku membencinya karena dia telah menghindariku. Dia sengaja melakukan itu setelah apa yang dilakukannya padaku,”

Ikha terdiam sampai tidak menyadari bahwa mulutnya agak menganga. Seorang Lee Eunhyuk? Mau mengatakan hal tersebut padanya? Bahkan Heechul dan Psikolog lain pun tak berhasil melakukannya. Wow! Daebbak!

“Lee Hyuk Jae sempat menyerangnya. Tangan kanan Hyung-ku terkena sayatan pisau.” Lanjut Eunhyuk, menjelaskan.

Ikha menganga lagi. “Wow!” pekiknya. Membuat Eunhyuk sedikit menampakkan senyum karena melihat ekspresi Ikha yang sedikit berlebihan.

“Sebesar itukah kau membenci Hyung-mu?” selidik Ikha lebih dalam.

Raut wajah Eunhyuk berubah menjadi lebih masam. Ia terdiam cukup lama. “Aku membencinya. Sangat membencinya. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa.” Gumamnya. Hampir tak terdengar.

“Aku ingin tahu seperti apa wajah Hyung-mu itu. Semuanya terasa sangat tidak adil.” Bela Ikha. Eunhyuk hanya tersenyum kecil menanggapinya.

“Dia bilang… dia akan menjengukku lagi besok.” aku Eunhyuk. Masih dengan nada yang sedikit bergumam. Untung pendengaran Ikha masih baik, jadi dia tidak perlu repot-repot menyuruh Eunhyuk untuk mengulangi kalimatnya.

“Bagus. Aku akan ke rumah sakit besok,” ucap Ikha mantap.

“Untuk apa?”

Ikha menggedikkan bahu sekali. “Entahlah. Sedikit memberi pelajaran padanya?” ujarnya tidak yakin.

Eunhyuk tersenyum simpul. “Tidak perlu. Kau tidak tahu apa-apa mengenai permasalahan kami,”

“Aku tahu. Hanya sedikit memang. Tapi jika kau menceritakannya padaku, mungkin aku akan mengerti.” bujuk Ikha, membela diri.

Eunhyuk termenung. Sedang menimang-nimang. “Aku… masih tidak bisa,” ucapnya penuh keraguan.

Ikha mengusap lembut pipi kanan Eunhyuk menggunakan ibu jarinya. “Jangan memaksakan diri,” katanya disertai senyum yang sanga disukai Eunhyuk.

“Ikha-ssi,”

“Hmm?”

“Kenapa kau masih ingin menjadi—ehm—temanku?” selidik Eunhyuk.

“Aku hanya ingin membantumu,” jelas Ikha sambil melipat kain hitam tebal yang sebelumnya dipakai Eunhyuk dengan rapih.

“Sebaiknya kita keluar. Kyuhyun Oppa sudah mewanti-wantiku untuk tidak menahanmu cukup lama,” ujar Ikha seraya berdiri dari tempatnya.

“Apa aku boleh datang kemari lagi?” tanya Eunhyuk. Membuat Ikha menghentikan pergerakan tangannya yang akan membuka kenop pintu kamar.

“Tentu. Selama orang-orang berjas hitam itu tidak membuntutimu. Waeyo? (Kenapa?)”

“Aku merasa lebih bebas ketika ada di sini,” aku Eunhyuk, agak malu untuk mengatakan hal itu.

Ikha tertawa ringan seraya meraih pergelangan tangan Eunhyuk agar namja itu mengikutinya dari belakang. “Kau harus bisa meyakinkan Oppa-ku dulu. Itu satu-satunya cara agar kau bisa datang lagi kemari,” ujarnya seraya membuka pintu kamar.

“Gomawo, Ikha-ssi.” Bisik Eunhyuk di sela langkah kakinya.

Ikha hanya melirik sekilas lalu mengerling padanya. Eunhyuk menunduk seketika. Jujur saja, selain baik, Ikha juga memang sangat manis. Maklum, selama ia hidup, hanya tiga jenis yeoja saja yang pernah ia lihat di dunia ini: Eomma-nya (itupun tidak begitu jelas karena ia hampir sepenuhnya melupakan wajah sang eomma), Hyoyeon (sepupu Heechul yang sempat ia temui) dan Cho Ikha.

Kyuhyun dan Heechul menatap Ikha dan Eunhyuk secara bergantian. Heran melihat dua makhluk tersebut bergandengan tangan. Heechul lalu tersenyum. Tak salah ia mempercayai Ikha karena yeoja itu benar-benar memegang janjinya bahwa ia akan baik-baik saja bersama Eunhyuk.

“Aku akan ke rumah sakit besok. Sampai bertemu nanti,” ucap Ikha. Sebelum dua bodyguard besar itu kembali memborgol lengan Eunhyuk, Ikha sempat mengusap pelan kedua pipi namja itu.

“Senang bisa bertemu denganmu hari ini,” sahut Eunhyuk, kembali tersenyum pada Ikha dan lagi-lagi membuat Kyuhyun mencuri pandang padanya.

“Berusahalah untuk tidak berbuat ulah di rumah sakit selama aku tidak disana,” lanjut Ikha, dan dijawab dengan anggukan kecil dari Eunhyuk.

Saat semua bodyguard itu membawa Eunhyuk ke luar ruangan, Heechul sengaja untuk menahan diri di apartemen Kyuhyun. Ia mendekati Ikha dan tersenyum puas.

“Kau berhasil,” pekik Heechul, puas.

That’s me,” ucap Ikha tak kalah puas. Ia membusungkan dada, bangga dengan apa yang dilakukannya.

***

Hampir setengah jam berlalu, dan Ikha masih saja seorang diri di dalam ruangan Heechul. Namja itu sudah berjanji untuk menemuinya tepat jam tiga sore. Tapi sampai sekarang Heechul belum juga muncul. Ikha sudah merubah posisi duduknya beberapa kali, mendengarkan musik, atau bahkan mengobrak-abrik meja Heechul. Namun tetap saja, semua itu tidak mengurangi rasa bosannya sedikitpun.

“Menunggu cukup lama?” tanya seseorang di balik punggung Ikha.

Yeoja itu memutar tubuhnya lalu meniup poni gusar saat mendapati Heechul—lengkap dengan T-Shirt SPAO biru dan jeans cokelat—berjalan dengan anggunnya ke dalam ruangan.

“Aku tidak suka dengan orang yang tidak bisa menepati janjinya,” rajuk Ikha, berharap Heechul akan tersinggung karena ucapannya.

“Eunhyuk sedang melakukan pertemuan dengan kakak angkatnya,” ucap Heechul, memberi tahu alasan mengapa dirinya bisa terlambat datang.

Jeongmal? Lalu kenapa kita tidak kesana? Aku ingin melihat seperti apa namja buruk rupa itu!” oceh Ikha, tak sabaran.

“Kau fikir aku tahu siapa Hyung-nya Eunhyuk? Namja itu selalu merahasiakan dirinya di depan publik. Yang mengetahui wajahnya hanya Dokter Son dan Eunhyuk saja. Oh, plus bodyguard yang dibawa Hyung-nya,” jelas Heechul.

“Hyung-nya membawa bodyguard sendiri? Wow!” pekik Ikha, salut dengan apa yang dilakukan Hyung angkat-nya Eunhyuk.

“O—Heechul Oppa. Sepertinya antara Eunhyuk dan Hyuk Jae memiliki sebuah ikatan. Apa kau merasakannya?” tanyanya pada Heechul yang tengah sibuk membereskan dokumennya.

Yeah,”

“Jelaskan padaku,” tuntut Ikha.

“Terlalu rumit. Aku takut kau tidak akan mengerti,” elak Heechul, masih berkutat dengan dokumennya.

I wanna know it,” paksa Ikha.

Heechul mengarahkan telapak tangannya pada yeoja itu, menyuruh untuk diam. Ia lalu mengangkat gagang telefon dan berbincang dengan seseorang di seberang sana.

“Seseorang menunggumu di lobby,” ucap Heechul.

Ikha mengeryitkan dahi. “Nugu?

Molla. Pergilah. Kita akan membicarakan ini lain kali,” suruh Heechul kemudian kembali berkutat dengan pekerjaannya.

Ikha mencibir. “Menyebalkan!” ucapnya, setengah mendesis. Takut jika Heechul akan mendengarnya.

“AKU MENDENGARMU, KHA-YA!” teriak Heechul. Ikha hanya memberenggut lalu memasang kuda-kuda untuk pergi sejauh-jauhnya sebelum Heechul melempar sendal jepit yang ada di sudut ruangan ke arahnya.

***

Ikha mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru lobby. Tak ada seorang pun disana. Ia sudah mencoba bertanya pada security, tapi jawabannya tetap sama: mollaseoyo. Ikha mendengus kesal. Apakah Heechul hanya mengerjainya saja agar ia tidak banyak bertanya mengenai Eunhyuk?

“Aiissh, Kim Heechul! Awas kau!” rutuk Ikha pada dirinya sendiri.

Akhirnya Ikha memutuskan untuk kembali ke tempatnya semula. Dalam perjalanan menuju ruangan Heechul di lantai empat, ia sempat melewati beberapa belokan. Ketika ia sampai pada belokan terakhir menuju lift, tangan kokoh seseorang menariknya kasar hingga membuat tubuh Ikha membentur dinding cukup kencang.

“OMO!” pekik Ikha, kaget.

Tangan kokoh tersebut kini berada di kedua sisi tubuh Ikha. Menguncinya agar yeoja itu tak dapat bergerak. Ikha menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. Gawat jika pemilik tangan itu melakukan hal yang macam-macam pada wajahnya.

Tawa renyah dari si pemilik tangan itu terdengar di telinganya. Ikha melonggarkan telapak tangan yang sedang menyembunyikan wajahnya. Tawa dari suara namja itu terdengar familiar. Penasaran, ia pun mengintip dari celah jemarinya untuk memastikan bahwa….

“Ya! Kau mengagetkanku!”

…namja itu adalah Donghae, calon tunangannya.

Donghae mengeluarkan tawanya ketika melihat ekspresi Ikha yang agak ketakutan. Yeoja itu memukul pelan dadanya. Membuat Donghae semakin mengencangkan tawa.

Wae? Tidak suka?” canda Donghae.

Ikha mengerucutkan bibirnya sejenak dan menatap Donghae dengan death-glare andalannya. “Apa yang kau lakukan disini?” tanya Ikha sembari mengelus dadanya yang masih bergemuruh.

“Kenapa bahasamu kasar sekali? Harusnya kau menyebutku dengan kata ‘Oppa’ atau ‘Chagiya’.” Tuntut Donghae, masih pada posisinya semula—menyudutkan Ikha pada dinding.

“Aku masih kesal karena kau tidak datang ke apartemen kemarin. Aku mengharapkan kedatanganmu dan kau lebih memilih mengurus pekerjaanmu,” omel Ikha.

Donghae menyentuh ujung hidung Ikha lalu kembali meletakkan tangannya pada sisi tubuh yeoja berambut panjang tersebut. “Aku bekerja untuk menghidupi kehidupan kita kelak. Siapa yang akan membiayai pernikahan kita jika bukan aku, calon suamimu?” jelasnya, membela diri.

“Aiishh, menyebalkan!” rutuk Ikha. Kedua tangannya ia lipat di dada. Tak lupa, ia memasang wajah datar.

Lagi-lagi Donghae hanya tersenyum. Ikha memang seperti itu. Selalu mencoba ber-aegyo didepannya meskipun sedang marah. “Aku datang untuk menjemputmu. Kyuhyun bilang kau ada disini. Well, anggap saja sebagai permintaan maaf karena aku tidak datang sekaligus membatalkan janjiku sendiri untuk jalan-jalan Saturday Night kemarin,” jelasnya.

Ikha melemah. Donghae memang selalu bisa membuatnya luluh. Padahal kata-kata yang ia ucapkan tak ada sisi special-nya sedikitpun. Tapi caranya berbicara dan menatapnya lah yang membuat ia dapat luluh lantak.

“Aku tahu kau tidak akan marah padaku,” ucap Donghae santai.

Ikha memelototi Donghae. “Kau fikir aku tidak akan marah padamu? Kau itu ternyata penuh percaya diri, Tuan Lee,” ejeknya.

Donghae tersenyum. Satu tangannya bergerak di sekitar pelipis Ikha, menyentuh beberapa helai rambut yeoja-nya sambil sesekali memainkan ujung rambut tersebut. “Jangan berpura-pura, Cho Agasshi,” godanya.

Donghae menggerakkan tubuhnya lebih dekat dengan Ikha. Dengan cepat, ia mengecup bibirnya hanya dalam tempo tiga detik kemudian kembali dilepaskan. Jika terlalu lama, yeoja itu pasti akan mencabik-cabiknya.

Ikha menutup mulutnya cepat tepat setelah Donghae melepas kecupannya. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan, takut seseorang melihat perbuatan mesum mereka. “Ya! Jangan lakukan hal itu disini. Ada CCTV di setiap sudut ruangan,” omelnya.

“Aku hanya tidak ingin kau marah padaku,” bela Donghae. Kedua tangannya kini diletakkan di sekitar pinggang Ikha. Membuat jarak diantara mereka semakin intim.

“Kau fikir aku akan memaafkanmu hanya karena satu kecupan?” sungut Ikha.

“Kau ingin lebih?” goda Donghae, tak mau kalah. Serta-merta namja itu mengeratkan pelukannya dan mencoba untuk meraih bibir Ikha.

Ikha mendorong tubuh Donghae menjauh. Sekali lagi, ia melirik ke segala arah dan sudut ruangan. Ada satu CCTV pada arah jam dua. Itu berarti seseorang yang mengawasi monitor pasti sedang asik menonton adegan ini.

Ani. Ani. Jangan disini, Oppa. Kumohon.” Pinta Ikha, memelas.

“Sekali saja. Aku sangat merindukanmu,” ucap Donghae. Ia memasang puppy-eyes-nya dan tidak lupa, suara yang sengaja dibuat-buat.

Ikha berdecak kesal. Ia mengutuk dirinya sendiri. Betapa ia begitu bodoh dan terlihat seperti wanita murahan karena selalu menuruti semua keinginan Donghae.

“Dasar tukang gombal,” tukas Ikha.

Donghae hanya menyeringai dan sedetik kemudian namja itu langsung menjelajahi salah satu bagian dari wajah Ikha yang sangat diinginkannya dengan senang hati. Ikha hanya menurut saja. Well, ia juga tidak ingin dicap sebagai wanita munafik. Karena sesungguhnya ia juga menginginkan Donghae 🙂

***

Eunhyuk berjalan dengan langkah yang sangat gontai menyusuri rumah sakit. Ia tak tahu harus berjalan ke arah mana. Kepalanya serasa pusing mendadak. Dadanya terasa sesak dan juga hampa. Jadi satu-satunya hal yang diinginkannya adalah tempat yang jauh dari orang-orang.

Saat ia akan melalui belokan di depannya, indera pendengarnya mendengar suara aneh.. Langkah Eunhyuk sengaja diperlambat. Dengan sangat hati-hati, ia berjalan ke arah belokan tersebut lalu mengintip dari balik dinding.

Urat-urat di sekitar leher Eunhyuk menegang. Matanya memerah. Betapa tidak? Saat ini ia sedang memrgoki Ikha—yeoja yang kini tengah disukainya—berciuman dengan seorang namja. Dan yang membuat Eunhyuk semakin memanas adalah ketika kedua makhluk tersebut terlalu intim melakukan adegan tersebut.

Eunhyuk memegangi dadanya yang terasa hampa. Emosinya tak terkendali, antara maraha, kecewa dan putus asa. Selang beberapa detik, tubuh Eunhyuk bergetar hebat. Namja itu sempat tertunduk sejenak di tempatnya.

Ketika Eunhyuk mengangkat kepala, tatapan matanya berubah dingin. Ia kembali melihat adegan romantis antara Ikha dan Donghae sambil memiringkan kepala. Ia mengamati dengan jelas wajah Donghae hingga dapat terekam dengan jelas olehnya.

You disappointed me,” bisik Eunhyuk—atau kini sedang berjiwa Lee Hyuk Jae—pada diri sendiri.

Kedua tangan Eunhyuk mengepal. Nafasnya memburu. “That should be me who kiss your lips,” bisik Eunhyuk untuk kedua kali.

Ia diam sejenak. Terus mengawasi mereka yang masih saja menautkan bibir masing-masing. Seringaian mengerikan tiba-tiba menghiasi wajah Eunhyuk. Ia mengusap bibir bawahnya lalu mengibaskan poni rambut putihnya sejenak.

You won’t be save,” gumam Eunhyuk lalu bergegas menuju suatu tempat.

To be Continued…

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

86 thoughts on “MY NAME IS LEE HYUK JAE “Chapter 06””

  1. Donghae itu kakak angkatnya Eunhyuk bukan siih?
    Kek ada cluenya kan, yg Eunhyuk di kamar Ikha tapi pas lepas kacamata trus ngeliat photo namja-yeoja (Donghae ama Ikha) tp ga jelas dan Ikhanya keburu dateng… Ya ngga, ya ngga?

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s