MY NAME IS LEE HYUK JAE “Chapter 05”

FF - My name is lee hyuk jae - NewHampir setengah jam Ikha berusaha memahami kedua berkas berisi data kehidupan Eunhyuk dan Lee Hyuk Jae. Dia mengamati sederetan nama yang telah menjadi korban pembunuhan Hyuk Jae. Sebut saja: Lee Sooman; Lee Hyora; Son Dongwook; Choi Taji; Kim Beoseong; Kim Hanseul; Lee Bagjja; Park Jungsoo; dan terakhir adalah dua korban tempo hari yang bernama Steven Herz serta Sean Kotler.

“Tolong jelaskan semua ini, Oppa. Ini terlalu rumit,” pinta Ikha. Kepalanya menggeleng pelan saat membaca beberapa data korban pembunuhan Hyuk Jae.

Heechul melepas kacamata lalu memijat kedua sudut matanya yang terasa lelah menopang benda berlensa tersebut. “Apa kau pernah mendengar berita kematian pengusaha terkaya di Korea Selatan—Lee Sooman—sekitar lima tahun yang lalu?” tanyanya, mengawali cerita.

Yeah. Hanya sekedar mendengarnya saja. Aku tidak begitu tertarik mengikuti perkembangan kasus itu karena aku masih sekolah di Senior High School. Oh—tunggu!”

Berkas Hyuk Jae yang dipegang Ikha ia buka kembali. Matanya memperhatikan sederetan nama yang ada pada tabel korban pembunuhan Hyuk Jae. “Lee Sooman? Bukankah—“

“Ya. Dia adalah ayah kandung Eunhyuk,” sela Heechul.

Mulut Ikha menganga. Tatapannya kini beralih pada Heechul yang telah mengubah posisi duduknya. “Eunhyuk? Membunuh ayahnya sendiri?” tanyanya, tak yakin akan perkataan Heechul.

Pertanyaan Ikha disambut oleh anggukan kecil dari namja cantik tersebut. “Alasan mengapa Eunhyuk memiliki dua kepribadian adalah karena trauma masa kecilnya. Sebenarnya dia adalah anak tunggal dari Lee Sooman dan Lee Hyora. Namun karena keduanya ingin memiliki anak perempuan, akhirnya mereka memutuskan untuk mengadopsi seorang anak,”

“Anak perempuan?” potong Ikha.

“Tidak. Anak laki-laki,”

“Namja?” Ikha mengorek kupingnya sejenak takut dia salah dengar. Ingin memiliki anak perempuan tapi malah mengadopsi seorang anak laki-laki?

Eum. Saat mereka akan mengadopsi anak perempuan, panti asuhan sudah kehabisan stock, jadi mereka terpaksa mengadopsi anak laki-laki. Dan entah kerasukan setan apa, mereka malah memaksa Eunhyuk kecil berubah menjadi seorang yeoja. Dia selalu didandani layaknya anak perempuan,” papar Heechul. Kakinya ia lipat sambil menyenderkan punggungnya pada sofa.

Ikha mendengarkan Eunhyuk dengan seksama sambil sesekali membaca data Eunhyuk. Sementara itu, Heechul bersiap melanjutkan kembali kisahnya…

“Karena tidak kuat dengan perlakuan orang-tuanya, Eunhyuk melawan. Sayang, perlawanannya malah berbuntut panjang. Eunhyuk kecil malah dikurung didalam gudang karena selalu membantah perintah Sooman dan Hyora. Pernah beberapa kali ia sempat melarikan diri, namun penjaga rumah selalu berhasil menangkapnya. Alhasil, kaki Eunhyuk di-rantai. Jadi dia tidak bisa pergi atau kabur lagi,” lanjut Heechul.

Ikha mengeryitkan dahi. “Mengenaskan,” gumamnya.

“Lebih dari itu, Kha-ya. Semenjak itu, Eunhyuk selalu diperlakukan seperti binatang. Hampir 12 tahun ia dikurung didalam gudang. Ia sempat mengalami gizi buruk dan depresi. Bahkan ia mengalami tekanan jiwa yang sangat hebat,”

“Lalu bagaimana dengan anak adopsi itu? Dia sama sekali tidak menolongnya?”

“Polisi telah menginterogasinya. Dan Hyung-nya Eunhyuk itu—kakak adopsi—tidak bisa berbuat apa-apa. Jika ia melanggar perintah Sooman dan Hyora, maka ia akan berakhir seperti Eunhyuk.”

Ikha mengerucutkan bibir. Dalam hati ia bersyukur karena ia dilahirkan dalam sebuah keluarga yang normal. Yeah, meskipun Kyuhyun sedikit evil, tapi setidaknya ke-evil-annya tidak menyusahkan anggota keluarga. Masih dibawah batas kewajaran.

“Bagaimana dengan dua kepribadian Eunhyuk itu?” Ikha lanjut bertanya.

“Oh—tidak ada yang tahu pasti kenapa Eunhyuk bisa memiliki dua kepribadian. Karena saat itu Hyung angkatnya tengah tertidur dan semua penjaga dan pembantu rumah sedang libur hari Natal. Dari data yang kudapat, Eunhyuk mengatakan pada seseorang yang menginterogasinya bahwa malam itu—sebelum Sooman dan Heera meninggal—ayahnya mendatangi dan memakinya dalam keadaan mabuk. Eunhyuk tidak bisa melawan saat Sooman memukulinya menggunakan sebilah kayu.”

Geundae? (lalu?)”

“Tiba-tiba saja Eunhyuk tidak sadarkan diri. Saat ia sadar, ia sudah berada di dalam kamar orang-tuanya. Semua tubuhnya dilumuri oleh darah yang sudah mengering. Mungkin ketika Sooman memukulinya, dorongan itu muncul dalam jiwa Eunhyuk. Ia merasa tertekan dan tidak bisa melawan. Tapi jauh dibawah alam sadarnya, ia ingin bertindak. Maka muncullah kepribadian baru, yakni Lee Hyuk Jae.”

(ps: baca Prolog FF ini deh. Disitu diceritain gimana Hyuk Jae ngebunuh Lee Sooman)

Ikha meringis mendengar cerita Heechul. Bulu kuduknya seketika itu juga meremang. Heechul mengangkat telefon sejenak dari rekan psikolog-nya. Ia mencatat sesuatu pada berkas lalu kembali memusatkan diri pada Ikha untuk bercerita.

“Eunhyuk tidak pernah merasakan alam bebas karena setelah ia melakukan pembunuhan, ia segera dikurung di dalam penjara selama beberapa minggu dan dipindahkan ke rumah sakit ini,” imbuh Heechul.

“Pantas ia selalu mengatakan padaku bahwa ia ingin sekali melihat keadaan di luar pagar besar itu,” sela Ikha seraya menatap pagar besar yang menjadi penghalang rumah sakit dengan dunia luar dari kaca jendela ruangan Heechul.

“Sampai detik ini, Eunhyuk sama sekali tidak mengalami perkembangan. Penyakitnya sulit sekali disembuhkan karena Eunhyuk sepertinya masih belum bisa menerima keadaannya. Ia juga tidak bisa melepaskan emosi jiwanya hingga pada akhirnya semua yang ia rasakan dan ia alami terus dipendam. Karena hal itulah, aku menyuruhmu untuk menjadi temannya agar—setidaknya—dia mulai terbuka dan mau menceritakan apa yang dialaminya,”

Ikha terdiam. Satu tangannya menopang dagu. Alisnya mengerut seolah sedang berfikir keras. Well, ternyata kasus Eunhyuk cukup menarik baginya. Hanya saja ada satu penghalang untuk dapat mendekati Eunhyuk lagi: Lee Hyuk Jae.

“Bicara tentang Lee Hyuk Jae. Aku akui, kepribadian ini cukup membuatku takut,” aku Ikha.

“Dia memang patut untuk diawasi. Sangat labil dan mudah marah. Berbanding terbalik dengan Eunhyuk. Lee Hyuk Jae ini… dia merasa bahwa dirinya adalah warga asli California. Dia tidak mengerti bahasa Korea dan sangat fasih berbahasa Inggris. Nama aslinya Tyrone—seperti itulah yang Hyuk Jae katakan. Namun karena ia tinggal di Korea, maka ia menamai dirinya sendiri dengan nama Lee Hyuk Jae.”

“Pantas, sifatnya sangat buruk dan membuat orang jengkel,” rajuk Ikha, membenarkan statement Heechul.

“Yang menarik adalah, dia sangat pintar bermain musik, bernyanyi dan menari. Sangat enerjik dan penuh semangat. Ia pandai berkelahi. Hyuk Jae bilang bahwa dirinya meraih sabuk hitam Karate ketika dia bersekolah di California. Dan dia bilang dia itu sangat tampan hingga banyak yeoja yang menyukainya,”

Ikha tergelak tepat setelah Heechul mengakhiri penjelasannya. Kepribadian Lee Hyuk Jae benar-benar penuh percaya diri. Melihat Ikha tertawa renyah, Heechul-pun ikut tertawa. Tak disangka, kepribadian Hyuk Jae menjadi candaan bagi mereka.

“Kenapa Lee Hyuk Jae selalu dengan mudahnya membunuh orang?” tanya Ikha, sedikit lebih serius.

“Itu yang sedang kami selidiki. Kami—para psikolog dan psikiater—membuat kesimpulan sementara bahwa Hyuk Jae memiliki keterkaitan dengan Eunhyuk. Karena setiap korban yang dibunuhnya dapat ia hafal dengan baik. Seolah-olah Hyuk Jae membunuh semua orang tersebut karena ingin membela Eunhyuk.”

“Apa Oppa dan psikolog lain belum berhasil mendapat data lebih mengenai Hyuk Jae?”

“Dia itu sangat labil, Kha-ya. Jika kau memaksanya, maka akibatnya tidak akan bisa kau bayangkan. Apa kau lihat nama Park Jungsoo pada salah satu korban di tabel tersebut?”

Ikha kembali membaca berkas Hyuk Jae. Yeah, ada nama Park Jungsoo di deretan ke-delapan. Telunjuk Ikha bergeser kesamping untuk melihat keterangan mengenai Park Jungsoo. Kedua matanya membulat saat membaca profile namja tersebut.

“Dia seorang psikolog? Di rumah sakit ini?”

“Ya. Leeteuk-ssi—panggilan akrab Park Jungsoo—sangat dekat dengan Eunhyuk. Malah Eunhyuk sudah menganggapnya sebagai Hyung kandungnya sendiri. Suatu hari, Eunhyuk menjalani terapi dan Hyuk Jae muncul dalam tubuhnya. Leeteuk-ssi tidak bisa mengendalikan Hyuk Jae dan akhirnya… seperti itu,” papar Heechul lagi. Suaranya ia pelankan sedikit ketika menyebutkan dua kata terakhir. Matanya sempat menutup sejenak mengingat bagaimana Hyuk Jae membunuh Leeteuk didepan matanya sendiri.

Jamshiman-yo, Oppa (Tunggu, Oppa). Bukankah ia masih memiliki kakak angkat? Apa kakak angkatnya itu tidak pernah mengunjunginya?” cecar Ikha.

“Untuk kepentingannya, ia sengaja dijauhkan dari Eunhyuk. Lee Hyuk Jae sampai sekarang masih mengincarnya. Lagipula sekarang kakak angkatnya yang mengurus semua perusahaan Sooman. Perusahaan industri, hotel, dan restoran di beberapa wilayah Seoul.”

Wow. Apa mereka sangat kaya?”

Heechul menggedikkan bahu dan mencibir. “Yeah. Begitulah,” jawabnya singkat.

“Eunhyuk tidak memiliki sepersen-pun harta peninggalan ayahnya?” tuntut Ikha. Kini ia semakin tertarik dengan cerita Heechul.

“Tidak. Karena dia telah membunuh kedua orang-tuanya,”

“Tapi dia memiliki sebuah alasan. Perbuatan kedua orang-tuanya juga tidak manusiawi bukan?”

“Tidak ada bukti kuat. Jadi semua menganggap Eunhyuk-lah yang bersalah,” lanjut Heechul menjelaskan.

Ikha menutup semua berkas yang telah dilihatnya lalu meletakkan benda tersebut diatas meja. “Jadi.. yang harus kulakukan hanyalah mencari data tentang Hyuk Jae?”

Heechul tersenyum seraya meraih berkas yang telah dibaca Ikha. “Aku tidak memaksamu untuk melakukannya, Kha-ya. Tapi selama aku menangani kasus ini, hanya kau saja yang tidak dilukai Hyuk Jae,” ujarnya.

“Memangnya kau pernah dilukai olehnya, Oppa?”

“Ia sempat mematahkan tulang paha kiriku dan juga ini…” terang Heechul seraya mengusap bahu kanannya yang masih dibalut perban. Mulut Ikha membulat membentuk huruf O. Hyuk Jae benar-benar diluar kendali.

“Yang sangat kucemaskan adalah, siapapun yang membuat Hyuk Jae marah, ia pasti tidak akan selamat.”

Ikha termenung sejenak. Kalimat Heechul barusan ia putar-putar kembali. Ia ingin membantu Eunhyuk menyembuhkan penyakitnya. Tapi jika harus berhadapan dengan Hyuk Jae, errrr ia harus berfikir ulang sepuluh kali.

“Satu hal yang membuatku sangat membutuhkanmu untuk membantu menyelesaikan permasalahan Eunhyuk, Kha-ya—“

Heechul diam sejenak menatap Ikha yang masih menunduk. Yeoja itu balas menatap Heechul dengan tatapan seolah menyiratkan kata ‘Mwoya igeo?’ (Apa itu?)

“Eunhyuk dan Lee Hyuk Jae… kedua kepribadian itu sepertinya tertarik padamu. Mereka berdua selama ini tidak pernah bisa sedekat ini berhadapan dengan lawan jenis. Apa kau tidak menyadari hal itu?” ucap Heechul, terselip nada gurauan di dalam kalimatnya.

Well, Lee Hyuk Jae memang tidak pernah melukaiku. Oke, hanya mendorongku hingga tersungkur, tapi tidak sampai berdarah,” terang Ikha.

“Itu karena dia tertarik padamu,”

Ikha mendengus sambil memutar bola matanya. “Jika memang mereka berdua tertarik padaku, aku akan menghentikannya sebelum perasaan mereka berkembang lebih jauh, Oppa.”

Wae? (Kenapa?)”

“Karena aku akan bertunangan. Dan dalam hitungan bulan, aku akan segera menikah,” ungkap Ikha seraya merapihkan sweeter yang melekat pada tubuhnya.

“Kalau begitu jaga tunanganmu baik-baik. Jika kau mengecewakan perasaan Eunhyuk, mungkin Hyuk Jae akan memburu tunanganmu,” ledek Heechul.

Ikha mengerucutkan bibirnya. “Ya! Oppa! Jangan menakutiku!”

***

Eunhyuk duduk di bangku pinggir kolam sambil membolak-balik isi file-nya secara perlahan. Ia memperhatikan dengan seksama beberapa foto yang sengaja ia tempel didalamnya. Syal berwarna cream chocolate yang melingkar manis di leher ia eratkan sejenak agar hawa dingin musim semi tidak menyentuh kulitnya. Ia memegangi dada saat merasakan sesuatu yang hampa di dalam organ tubuhnya tersebut.

“Boleh aku duduk disini?” tanya seseorang yang berhasil membuat fikirannya tak lagi kosong.

Eunhyuk diam menatap sesosok yeoja yang sangat dikenalnya tengah berdiri tegak sambil tersenyum manis padanya. Yeoja itu mengenakan coat berwana cokelat muda. Rambutnya-pun terlihat lebih panjang dibandingkan ketika Eunhyuk mengenalnya pertama kali. Tanpa persetujuan Eunhyuk, yeoja itu memaksa untuk tetap duduk disampingnya. Ia kembali tersenyum, senyum yang sangat dia sukai.

“Untuk apa kau datang kemari?” hardik Eunhyuk. Nadanya terdengar sangat datar dan tidak berirama.

“Mengunjungimu. Apa sekarang ada Undang-Undang yang melarangku untuk bertemu dengan temanku sendiri?” elak Ikha seraya melayangkan kembali senyumnya pada Eunhyuk.

Eunhyuk tersenyum tipis. Kata ‘teman’ yang dilontarkan Ikha terdengar sangat asing di telinganya. Selama ia hidup, Ikha adalah orang ketiga yang menganggapnya sebagai seorang teman—setelah Leeteuk dan Heechul tentunya.

By the way, kau terlihat lebih tampan dengan potongan serta warna rambutmu yang baru,” puji Ikha dengan tulus.

Lagi-lagi Eunhyuk tersenyum. Ia bingung harus mengatakan apa sebagai tanda terima kasihnya pada Ikha karena yeoja itu telah memujinya. Ia menatap Ikha yang tengah duduk disampingnya sejenak. Dan baginya, yeoja itu terlihat begitu cantik hari ini.

Gomawo (terima kasih),” ucap Eunhyuk pada akhirnya.

Puas mendengar kata tersebut, Ikha-pun tersenyum. Ia menyodorkan sebotol coffee hangat pada Eunhyuk. Namja itu sempat terdiam. Selama beberapa detik, ia menatap tangan Ikha yang tengah menggenggam botol coffee tersebut tanpa ber-ekspresi sedikitpun.

Ikha menggerakkan tangannya, memaksa Eunhyuk untuk menerimanya. Dengan agak canggung, Eunhyuk menerima botol coffee tersebut. Sempat ia menatap Ikha yang tengah meneguk minumannya sambil tersenyum menatap burung-burung kecil yang beterbangan disamping kolam.

“Jangan bersikap seperti ini, Ikha-ssi.” Cegah Eunhyuk. Sengaja ia tak menatap Ikha dan lebih memilih mengarahkan pandangannya pada botol coffee pemberian Ikha.

Wae geurae? (Memangnya kenapa?) Apa itu salah?” rajuk Ikha, membela diri.

Eunhyuk menyerahkan kembali botol coffee tersebut pada Ikha. Tatapannya masih pada botol, ia belum siap untuk menatap kedua mata Ikha.

Jaebal (Kumohon),” pinta Eunhyuk, memelas.

Ikha menggenggam jemari Eunhyuk yang tengah memegang botol dengan erat. Sontak Eunhyuk-pun menatap Ikha, tak percaya.

“Jangan pernah memandang dirimu hina didepan orang lain, Oppa. Aku tidak pernah mempermasalahkan apapun, termasuk mengenai Lee Hyuk Jae,” terang Ikha sehalus mungkin.

Eunhyuk melepas genggaman Ikha dengan perlahan. Tubuhnya ia putar kembali ke posisi awal. “Mianhae, Ikha-ssi. Aku tidak jujur sejak awal,” lirihnya.

Ikha tersenyum tipis. “Gwenchana. Harus kukatakan berapa kali bahwa aku tidak mempermasalahkan hal itu, eum?” ujarnya, kembali meyakinkan Eunhyuk.

“Kau… tidak takut? Padaku?” tanya Eunhyuk, terbata-bata.

Kepala Ikha menggeleng dengan mantap. “Sedikitpun tidak. Lagipula Lee Hyuk Jae tidak berani macam-macam padaku,” guraunya. Tawa ringannya terdengar diantara kalimat yang ia ucapkan.

Eunhyuk tersenyum tipis. Perasaannya bercampur aduk sekarang. Senang: karena Ikha mau menerima penyakit kejiwaannya. Takut: jika suatu hari Ikha—satu-satunya yeoja yang dekat dengannya—akan menjauhinya seiring dengan waktu. Sedih: karena Ikha pasti tidak akan bersikap seperti biasa lagi setelah itu.

“Tidak, Kha-ssi. Kau seharusnya menjauhiku,” tukas Eunhyuk dengan nada yang sangat rendah, hampir bergumam.

Ikha berdecak pelan sambil memutar bola matanya. “Jangan mengatakan hal itu lagi, Oppa.” Ucap Ikha, gemas. Ternyata ia belum cukup mampu meyakinkan Eunhyuk.

“Aku telah membahayakanmu. Kau tidak tahu betapa mengerikannya diriku ketika Hyuk Jae merasuki tubuhku,” jelas Eunhyuk, merintih. Jemarinya terlihat begitu tegang memegang botol coffee yang ada di tangannya.

“Hei, Oppa—“ Ikha meletakkan telapak tangannya pada pipi Eunhyuk lalu menggerakkan kepala Eunhyuk agar menghadapnya. Eunhyuk menatap Ikha, bola matanya kini mulai berkaca-kaca.

“—dengarkan aku. Seburuk apapun dirimu, aku akan tetap menjadi temanmu. Manusia tidak ada yang sempurna bukan? Maka dari itu, kau harus semangat agar bisa sembuh. Aku akan membantumu keluar dari permasalahan ini. Asal kau berjanji padaku bahwa kau akan berusaha untuk sembuh,” tandasnya.

Eunhyuk menunduk. Salah satu tangannya memegang tangan Ikha yang masih menempel di pipinya. Ia mulai menangis. Air matanya perlahan mulai berjatuhan menghiasi pipi wajah mulusnya.

Gomawo, Ikha-ssi. Gomawo… karena kau mau menerimaku,” rintih Eunhyuk. Tangannya yang lain memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak akibat emosi yang ditahannya.

“Kemarilah. Sebuah pelukan hangat mungkin bisa sedikit menenangkanmu,”

Ikha lalu menarik tubuh Eunhyuk mendekatinya. Yeoja itu melingkarkan kedua tangannya disekitar leher Eunhyuk, membuat namja berambut putih itu membenamkan wajahnya pada pundak Ikha. Eunhyuk menangis. Isakannya semakin kencang ketika Ikha membelai puncak kepalanya.

“Semua akan baik-baik saja, Oppa. Kau akan sembuh. Secepatnya,” bisik Ikha di telinga Eunhyuk.

Dari kejauhan sana, Heechul dan Kyuhyun memperhatikan Ikha yang tengah menenangkan Eunhyuk. Heechul menghembuskan nafasnya secara perlahan. Bibirnya menyunggingkan senyum kepuasan.

“Aku sangat salut pada dongsaeng-mu itu,” aku Heechul seraya melepas kacamatanya yang mulai berembun.

Kyuhyun masih menatap Ikha yang masih saja memeluk Eunhyuk. Sama halnya dengan Heechul, namja itu juga menghembuskan nafasnya perlahan lalu melonggarkan otot bahunya.

“Sepertinya aku akan berubah fikiran, Hyung.” gumam Kyuhyun seraya melipat kedua tangannya di dada.

“Aku akan mengizinkan Ikha untuk membantumu menyembuhkan Eunhyuk,” imbuhnya, membuat Heechul menyeringai puas dengan keputusan Kyuhyun.

***

Kyuhyun meneguk soojunggwa hangatnya sambil memperhatikan Ikha yang tengah sibuk menarikan jemarinya diatas keyboard laptop. Ia sempat berdeham beberapa kali agar Ikha menoleh padanya. Sayang, Kyuhyun baru sadar kalau kedua telinga Ikha sedang disumbat oleh headset.

Bosan karena tak ditanggapi Ikha, Kyuhyun-pun berjalan mendekatinya lalu melompat keatas tempat tidur dimana Ikha tengah berbaring sambil mengetik. Ikha sempat terlonjak ketika tempat tidurnya yang empuk itu memantul perlahan. Headset-nya ia lepas dengan kasar.

“Ya! Cho Kyuhyun! Berhenti mengganguku!” bentak Ikha tak sabaran.

Kyuhyun hanya terkekeh tak karuan. Tubuhnya ia dekatkan pada Ikha agar dapat melihat monitor laptop dongsaeng-nya itu. Well, benar juga. Ikha memang sedang mengerjakan laporannya. Kyuhyun bahkan sempat terserang migrain dadakan karena melihat deretan angka dan tabel yang tidak dimengertinya.

“Bagaimana pertemuanmu dengan Heechul Hyung?” tanyanya. Kedua tangan Kyuhyun mengepal lalu menopang dagu.

“Menyenangkan,” jawab Ikha seadanya lalu memasukkan sesendok topokki yang ada disamping tempat tidur.

“Sepertinya Eunhyuk sudah jinak di tanganmu,” ucap Kyuhyun, meledek.

Ikha mengeryitkan dahi lalu menatap Kyuhyun. “Maksudmu?”

Saat mulut Kyuhyun bergerak untuk menjawab pertanyaan Ikha, tiba-tiba intercom di apartment-nya menyala. Selang beberapa menit, ia kembali masuk kedalam kamar Ikha sembari membuka lebar-lebar pintu kamar. Donghae, si tamu tak diundang, mengikuti langkah Kyuhyun dari belakang.

“Baiklah. Sepertinya aku harus keluar. Lain kali jika Hyung ingin berkunjung kemari, pastikan dulu aku tidak ada di rumah. Atau sebaiknya sekali-kali kalian pergi jalan-jalan. Aku muak mengalah terus padamu,” rutuk Kyuhyun disela langkah kakinya.

Donghae hanya tersenyum tipis. Ia seraya menepuk pundak Kyuhyun hingga namja berambut cokelat tua itu menoleh. “Seohyun menunggumu di lobby,” tuturnya.

Kyuhyun—yang semula tampak kesal pada Donghae—berubah sumringah. “Jeongmal? (Benarkah?)”

Donghae menyunggingkan senyum manisnya sambil mengangkat kedua alis, mengiyakan Kyuhyun. Serta merta namja itu pergi meninggalkan Ikha dan Donghae tanpa berpamitan sedikitpun. Ikha menggeleng. Bukan karena melihat tingkah Kyuhyun yang selalu saja merasa bahwa Seohyun itu makanan utamanya, melainkan karena Donghae lagi-lagi datang ke tempat ini.

“Datang lagi?” ucap Ikha, tak percaya.

“Kau tidak suka?” Donghae balik bertanya. Ia berjalan mendekati Ikha dan memposisikan tubuhnya menelungkup disamping kiri yeojachingu-nya.

Anio. Tapi apa kau tidak lelah? Bukankah seharian ini kau terus mengurusi kantormu?” tukas Ikha. Pandangannya sama sekali tidak berpaling dari monitor laptop.

“Itu tidak jadi masalah. Semua lelahku akan hilang jika kau menciumku,” bisik Donghae di telinga Ikha. Tangan kanannya bergerak perlahan, melingkar dengan sendirinya pada punggung Ikha.

Yeoja itu menggeser tangan Donghae menjauh dari tubuhnya lalu menatap tajam. “Mesum!” hardiknya.

Kemudian Ikha kembali pada aktivitasnya semula—mengetik—tanpa memperdulikan Donghae. Namja berambut hitam itu mendengus sambil memutar bola matanya.

“Ya! Kau akan berdiam diri seperti itu terus? I’m here, Baby.” Rengek Donghae. Bahunya bergerak menyentuh bahu Ikha yang menempel padanya. Seolah sedang memohon agar Ikha memusatkan perhatian padanya.

So?

Pay attention to me,” tuntut Donghae, bertingkah seperti anak kecil.

Ikha hanya melirik sekilas pada namjachingu-nya itu dan kembali berkutat dengan laptopnya.  “I’m busy, Oppa. Kau tidak lihat aku sedang mengerjakan laporanku?” sergahnya. Sama sekali tak peduli dengan tuntutan Donghae.

Kesal dengan sikap Ikha membuat Donghae meniupkan udara dari mulutnya hingga poni rambutnya melayang. Perlahan, tubuhnya bergerak mendekati Ikha yang masih tak berkedip menatap layar. Donghae sedikit menyingkirkan rambut yang menjuntai di bahu Ikha kemudian meraih leher Ikha dan menciumnya—hanya sekedar menghirup wangi tubuhnya.

Sontak Ikha bergerak menjauhi Donghae saat udara hangat dari mulut dan hidung namja itu menerpa kulit lehernya. Bukannya apa-apa. Bagian itu adalah salah satu daerah sensitif-nya. “Geumanhae, Oppa. (Hentikan, Oppa)” sergahnya. Tangannya bergerak mendorong bahu Donghae agar menjauhinya.

Donghae—yang merasa bahwa tenaga Ikha tidak seberapa kuat—pura-pura tak mendengar Ikha dan malah semakin mengeratkan tubuhnya. “Never. Sampai kau memperhatikanku,” elaknya, bersikukuh.

Ikha mendengus. Dalam beberapa detik, ia sengaja membiarkan Donghae seperti itu—menciumi wangi tubuhnya. Namun ketika Donghae mendorong tubuhnya hingga membuat Ikha berguling dari posisinya, yeoja itu segera mendorong kedua bahu Donghae sekuat tenaga.

“Kau seperti anak kecil,” ejek Ikha dengan nada setengah bergumam. Tangannya masih bergerak menjauhi tubuh Donghae agar namja itu membenahi posisinya—karena saat ini tubuh Donghae menimpa tubuhnya. Asal kau tahu, Ikha tak cukup kuat menopang tubuh Donghae yang berat itu.

That’s who i am,” ujar Donghae lalu kembali bergerak meraih leher Ikha.

Oke. STOP IT!” pekik Ikha, membuat Donghae langsung terdiam dan tidak lagi menuntut.

Ikha menatap Donghae dalam sambil memperhatikan arah pintu kamarnya yang terbuka. Ia tidak mendengar suara Kyuhyun. dan ia berharap Oppa-nya itu belum kembali. Mungkin saja ia akan shock melihat posisi mereka sekarang yang terlihat seperti pasangan mesum.

“Aku sudah melihatmu sekarang. And then?” rutuk Ikha.

“Besok Saturday Night. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan,” ajak Donghae.

“Ke?”

It’s a surprise,”

Sure. Setelah jam makan malam, okay? Aku harus pergi ke kampus mengurus laporanku,”

Got it,”

Ikha lalu berusaha berdiri dari tempatnya sambil mendorong Donghae. Sayang, si namja lebih cepat bertindak. Lagi-lagi ia mendekap tubuh Ikha lalu menciumnya dengan paksa tepat setelah ia melirik ke arah pintu kamar—mengecek terlebih dahulu bahwa Kyuhyun tidak memergokinya tengah mencium dongsaeng satu-satunya ini.

“YA!!”

***

Ikha tengah membenahi syal yang melingkar di lehernya disela langkah kaki menuju ruangan kerja Kyuhyun. Dalam hati ia tak henti-hentinya memaki dan mengutuk Donghae yang telah semena-mena padanya kemarin malam.

Bagaimana tidak? Ikha sudah memperingati Donghae untuk tidak melakukan hal-hal aneh saat Kyuhyun pergi menemui Seohyun, tapi namja itu malah membuat lehernya dihiasi beberapa bercak kemerahan. Dampaknya adalah: seharian ini dia harus menyembunyikan bercak itu atau semua orang akan berfikir bahwa dirinya itu wanita panggilan. SH*T!!

“O—watta! (Kau datang),” pekik Heechul saat tak sengaja berpapasan dengan Ikha di lobby rumah sakit.

Ikha membungkuk sejenak. “Laporanku sudah selesai jadi aku memiliki cukup banyak waktu untuk datang kemari. Dimana Eunhyuk?”

“Dia ada di lantai lima. Emm, sepuluh menit lagi Eunhyuk akan menjalani terapinya. Jadi semua psikolog berkumpul di atas, termasuk Kyuhyun,” jelas Heechul sambil membaca beberapa dokumen yang dipegangnya.

“Apa aku boleh ikut?” pinta Ikha, berharap Heechul akan menjawab ‘ya’.

“Tentu. Selama kau berada di tempat yang aman,”

Ikha menyunggingkan senyumnya. Terlihat bahwa ia begitu puas dengan jawaban Heechul yang sangat diharapkan. “Algesseoyo,” ucapnya.

Yeoja itu menyeimbangi langkah Heechul yang cukup besar dan lebar-lebar sembari memperhatikan sekeliling ruangan setelah tiba di lantai lima. Dari balik kaca besar yang hanya membatasi setiap ruangan disana, ia dapat melihat beberapa pasien tengah melakukan terapi. Ekspresi mereka sama: ketakutan dan cemas.

Heechul menghentikan gerakan kakinya setelah tiba di sebuah ruangan bertuliskan angka 223 pada pintu berlapis kayu. Tepat setelah mereka berdua masuk kedalam ruangan, Ikha langsung tercengang ketika mendapati tujuh psikolog tengah berkumpul di depan sebuah kaca besar. Mereka saling berbisik sambil mencatat sesuatu pada notes yang mereka bawa.

Ikha mencoba melihat ada apa di balik kaca besar di dalam ruangan tersebut dengan cara menyelip diantara dua namja berperawakan kecil tepat setelah Heechul menyapa ke tujuh psikolog itu.

Mata Ikha membulat dan alisnya terangkat. Ternyata dibalik kaca tersebut, ia melihat Eunhyuk tengah duduk di depan sebuah meja besar. Dua orang namja bertubuh besar berdiri di kedua sisi tubuhnya. Tak lupa, seorang psikolog yang tak dikenalnya duduk tepat di hadapan Eunhyuk, membuat mereka saling berhadapan.

Ketika psikolog itu melontarkan berbagai macam pertanyaan, Eunhyuk terlihat tidak begitu tenang. Bola matanya bergerak kesana-kemari. Jemarinya pun mengepal dan menutup tak karuan. Suara psikolog dan orang-orang lain yang ada di dalam ruangan tersebut dapat Ikha dengar dari speaker yang tersambung ke ruangan inti. Ia memperhatikan dengan seksama apa yang kini tengah mereka bicarakan.

 “Jangan katakan itu, Hyung. Kumohon,” pinta Eunhyuk seraya menutup kedua telinganya dengan erat. Namja itu terlihat mengerutkan dahi dan memejamkan mata, menolak untuk mendengar perkataan si psikolog.

“Jika kau ingin sembuh, kau harus menghilangkan kebencian terhadap kakak angkatmu, Eunhyuk-ah.” Suruh si psikolog dengan nada yang pelan namun sedikit memaksa.

Ikha memperhatikan Eunhyuk dari balik kaca, berharap namja yang kini berambut putih itu dapat melihatnya. Sayang, meskipun Eunhyuk melihat kaca besar tersebut, namja itu pasti hanya akan melihat pantulan tubuhnya, bukan Cho Ikha yang tengah mencemaskannya.

“Kau tidak tahu rasanya jika berada diposisiku,” gumam Eunhyuk. Suaranya terdengar sangat pelan dari speaker di ruang inti.

“Arayo. Arayo. Tapi ini demi kebaikanmu. Kau tahu hal apa yang menghambat proses penyembuhan kejiwaanmu? Karena kau selalu bersikap introvert dan memendam apa yang kau rasakan. Jika kau terus menerus seperti ini, lambat laun Lee Hyuk Jae akan mengontrol tubuhmu sepenuhnya,” jelas si psikolog.

Eunhyuk menggelengkan kepala dengan cepat seolah tak ingin mengikuti perintah sang psikolog. “Shireo-yo! Shireo-yo!” elaknya tiada henti.

“Kalau begitu lepaskan semua emosimu. Perlahan saja, jangan terburu-buru.” Kini si psikolog mengatakan kalimat tersebut dengan nada yang lebih lembut.

Lagi-lagi Eunhyuk menggeleng. Kedua tangannya semakin direkatkan pada telinga. “Aku tidak bisa. Terlalu… menyakitkan,” ucapnya, suaranya terdengar sedikit bergetar.

“Kau bisa, Eunhyukkie,” kata si psikolog, menyemangatinya.

Eunhyuk tetap bergeming. Raut wajahnya malah semakin memucat. Udara hangat yang keluar dari celah pemanas ruangan semakin membuat peluh di sekujur tubuhnya meningkat. “Jangan panggil aku dengan sebutan itu,” pintanya, masih meringis dan tampak ketakutan.

“Oppa, sebaiknya hentikan. Eunhyuk sepertinya sangat tertekan,” suruh Ikha pada Heechul yang kini berdiri di sampingnya.

Heechul hanya membetulkan letak kacamata dan kembali memperhatikan Eunhyuk dari balik kaca. “Tak apa. Hal ini dilakukan untuk melatih mentalnya,” terangnya.

“Tapi—“

“Ssstt. Lihat dan perhatikan,” potong Heechul seraya meletakkan telunjuk lentik pada bibir tipisnya.

Ikha mengamati Eunhyuk lagi dari balik kaca besar tersebut. Sesekali digigit bibir bawahnya ketika melihat namja rapuh tersebut memohon pada psikolog untuk tidak memaksanya bicara.

Selang beberapa menit, Eunhyuk memejamkan mata dan mengeratkan kedua telinganya lebih rapat. Ia menunduk, sedangkan mulutnya mengeluarkan suara teriakan tidak jelas. Tubuhnya bergetar sangat hebat hingga kedua petugas yang berdiri di kedua sisi Eunhyuk mencengkeram bahunya cukup kencang.

Ikha menggelengkan kepala dan menatap Heechul, berharap namja itu akan menghentikan terapi Eunhyuk. Tapi Heechul tetap tenang di tempatnya sambil melipat kedua tangan di dada. Ikha semakin cemas. Masalahnya, ketika ia melihat tubuh Eunhyuk bergetar hebat seperti itu adalah ketika namja itu akan berubah kepribadian menjadi Lee Hyuk Jae.

 “Oppa, jaebal (kumohon).” Kini Ikha menarik lengan baju Heechul agar namja itu mendengar permintaannya. Lagi, Heechul hanya meletakkan telunjuk pada bibirnya, menyuruh Ikha untuk diam.

Gusar. Akhirnya Ikha memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan dengan menerobos beberapa orang yang menghalanginya. Ia tidak tahan melihat kondisi Eunhyuk yang terlihat begitu tertekan.

 “KHA-YA! JANGAN MASUK KE DALAM!” teriak Kyuhyun saat mendapati Ikha sudah ada di dalam ruangan. Ia berniat untuk membawa adiknya ke luar namun langkahnya tertahan oleh Heechul.

“Biarkan saja. Petugas di dalam ruangan pasti bisa menghalau Eunhyuk jika namja itu berubah kepribadian,” sergah Heechul.

Kyuhyun terdiam menatap Heechul. Padahal dalam hati ia memaki atasan yang sudah ia anggap sebagai Hyung-nya itu sendiri karena telah menahannya dan membiarkan Ikha di dalam sana.

“Hentikan, Oppa. Kau hanya menyakitinya saja,” ucap Ikha tepat setelah berada di dekat Eunhyuk. Ia menghampiri namja itu lalu melingkarkan kedua tangannya pada pundak Eunhyuk, berharap ia akan sedikit lebih tenang.

“Cepat keluar, Agasshi. Aku sedang melakukan tugasku,” elak si psikolog. Ia berdiri dari tempat kemudian menggerakkan jemarinya, menyuruh kedua penjaga yang ada di dekat pintu untuk menyeret Ikha menjauh dari Eunhyuk.

“Tapi caramu kurang tepat,” sergah Ikha. Ia semakin mengeratkan pelukannya ketika merasakan tubuh Eunhyuk semakin bergetar hebat.

Tiba-tiba Eunhyuk mengerang, mengeluarkan suara yang menakutkan. Ia melepas kedua tangannya lalu membuka mata dengan perlahan. Nafasnya memburu dan tidak berirama. Ketika ia mendapati sepasang tangan melingkar di sekitar tubuhnya, dengan kasar ia melepas tangan tersebut tanpa melihat terlebih dahulu siapa pemilik tangan itu.

Ikha berteriak cukup kencang ketika Eunhyuk menarik salah satu lengan lalu mendorong tubuhnya sekuat tenaga hingga terhempas membentur dinding ruangan. Karena benturan pada kepala Ikha cukup keras, yeoja itu langsung jatuh terkulai di atas lantai sambil memegangi kepalanya.

Eunhyuk mulai membabi-buta. Kedua penjaga bertubuh tegap yang  berusaha menangkapnya itu ia pukuli hingga tak satupun dari mereka yang behasil menyentuhnya. Si psikolog berjalan mundur, tatapannya tak sedikitpun ia alihkan ke arah selain Eunhyuk yang kini tengah menatapnya garang.

Sedetik kemudian, beberapa petugas rumah sakit masuk dan menyerang Eunhyuk. Sayang, Eunhyuk pandai sekali berkelit. Tujuh petugas tersebut dapat dengan mudah dijatuhkan olehnya. Lagi, ia mencari-cari si psikolog yang kini memojokkan diri pada sudut ruangan. Senyum Eunhyuk tiba-tiba mengembang. Tidak, itu bukanlah sebuah senyum, melainkan smirk yang tampak menyeramkan.

Ketika Eunhyuk sudah siap melayangkan tinjunya, pintu ruangan tersebut kembali terbuka. Kyuhyun segera berlari menghampiri Ikha yang sudah tak sadarkan diri sementara Heechul dan lainnya berusaha melindungi Kyuhyun jika tiba-tiba Eunhyuk—atau kini sedang berjiwa Lee Hyuk Jae—menyerangnya.

“Kha-ya…” panggil Kyuhyun lirih. Ia memutar tubuh Ikha kemudian ia meringis pelan saat kening Ikha berubah ke-ungu-an akibat benturan tersebut.

“Kha-ya…” bisik Kyuhyun. Namja itu mengusap wajah adik satu-satunya itu perlahan, berharap yeoja bersyal itu akan kembali sadar.

Eunhyuk—yang mendengar Kyuhyun sedang mencoba membangunkan Ikha—memutar bola matanya ke arah Kyuhyun yang tengah bersimpuh disamping Ikha. Matanya menyipit saat melihat wajah Ikha yang agak memucat.

Merasa bahwa Eunhyuk tengah melihat ke arahnya, Kyuhyun menatap Eunhyuk—tak kalah tajam darinya. “You—“

Kyuhyun menelan ludah sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya. “—WHAT DID YOU TO HER, HAH?” bentaknya.

Kyuhyun mencoba berdiri dari tempatnya dan berniat menghampiri Eunhyuk untuk menghajarnya. Namun niatnya segera dihentikan lagi oleh Heechul. Membuat Kyuhyun mengerang tertahan karena sedari tadi Heechul selalu menghentikannya.

Eunhyuk memegang kepalanya sejenak saat menyadari bahwa kepalanya serasa berkedut—membuat pandangannya tidak fokus dan berputar-putar. Namja itu menjambaki rambutnya sendiri. Pusing di kepalanya malah semakin menyiksa tubuhnya. Ia jatuh perlahan ke lantai dengan posisi kedua lutut menopang tubuhnya.

Eunhyuk terus menjambaki rambut putihnya tak karuan hingga pada akhirnya ia jatuh pingsan di tempatnya.

“LEE HYUK JAE!!!” pekik Heechul lalu kemudian berlari menghampirinya.

To be Continued…

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

68 thoughts on “MY NAME IS LEE HYUK JAE “Chapter 05””

  1. kasihan banget Eunhyuk oppa dirantai kayak gitu? jahat banget. u,u
    dan ya~ I always loves this ff. ^^ Mungkin karna ceritanya yg bikin dag dig dug ser. haha ^^

  2. huehehe..
    Evil.n Abang Kyu tu ngangenin bukan nyeremin.. *lirikKyu>>liatEvilSmirk.ny>>faint
    Ikha-ya..
    bikin yg action.ny lebih jeger lg, dun..
    pengen baca Hyuk tendang kiri-tendang kanan..

  3. kasian banget masa kecil Eunhyuk 😦 bahkan sampe dia dewasa dan dikarantina juga menyedihkann..
    oohhh aku salah eon, di prolog kalau gak salah aku komen bahwa yang membunuh Lee Soman adl Donghae eh ternyata beneran Eunhyuk hihi. melihat tindakan Sooman yang memaksa perubahan Eunhyuk menjadi wanita aku malah berpikir yang sakit itu Sooman hihi daann Donghaeeee anda mesum sekaliii hahha
    ahh, bagaimana seandainya Ikha tau bahwa Donghae dan Eunhyuk adalah bersaudara walaupun buka sedarah??

  4. lee soo man kjam bngeettt…
    pntesan aj eunhyuk trauma…
    brarti smua hrta pnya hae donk ??
    what’s happen with ikha ???
    hyukjae klw ngmuk prah jg…
    kyuhyun lngsing naek ptam…

    eonnie fighting (◦ˆ⌣ˆ◦)

  5. Hmm.. okee, cluenya makin banyak di ff ini~ authornim mahasiswa psikologi atau sering baca novel psikologi yaa? Ngegambarinnya oke bangeet! Tapi satu hal yg buat penasaran, knp eunhyuk gak di pakein baju yg di rantein itu ya?

  6. kasian banget hyuk pntsan azh dia jdi gitu… ohh jadi hyuk pnya dndam pribadi sama kk angktny…
    moga hyuk ma ikha ngg pp..

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s