ACCIDENT (Chapter 05)

Nyonya Kim tersenyum seadanya ketika Ikha menyodorkan segelas teh hangat. Sejenak ia memperhatikan keadaan ruangan apartment Ikha yang cukup mungil tersebut. Sementara itu, Nyonya Cho juga tak kalah sibuk mengamati Nyonya Kim yang terlihat ‘agak’ glamour: anting emas putih di telinganya, cincin perak di jari manisnya, tas Charles & Kate disampingnya, dan pemakaian make-up yang cukup menarik perhatian orang.

“Aku baru tahu kalau kau tinggal di tempat seperti ini,” ucap Nyonya Kim mengawali pembicaraan.

ACCIDENT

Nyonya Cho—yang tengah duduk didepannya—memutar bola mata dan mendengus kesal. “Setidaknya dia masih ada di rumahnya sebelum ahjusshi dari anakmu itu mengatakan hal tersebut—perbuatan yang dilakukan Ikha dan anakmu—pada suamiku,” jelas Nyonya Cho tak mau kalah.

Nyonya Kim meneguk teh hangat sejenak lalu mengangguk pelan. “Oh, Choi Jin sepertinya bertindak lebih cepat dari dugaanku,” katanya seraya meletakkan cup tersebut diatas meja.

Nyonya Cho kembali mendengus. Tampak sekali bahwa ia tidak begitu suka dengan kedatangan yeoja paruh baya tersebut. Apalagi ketika Ikha membisikkannya bahwa yeoja tersebut adalah ibu dari namja yang akan menjadi ayah bagi bayi yang dikandungnya kelak.

“Sebenarnya, perihal apa yang membuat anda datang kemari. Dan… bagaimana anda tahu tempat ini?” tanya Ikha, bersikap lebih tenang dari Sang Eomma.

“Tak begitu sulit. Aku membuntuti anakku ketika dia datang ke tempat ini tempo hari,” jawab Nyonya Kim seadanya. Ia memperhatikan sosok Ikha dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dan kesimpulan sementara yang ia dapat: yeoja itu terlihat begitu berantakan. Sangat jauh dari kategori calon menantu idamannya.

“Jadi, apa benar apa yang dikatakan Choi Jin?” sambung Nyonya Kim.

Baik Ikha dan Nyonya Cho hanya terdiam. Nyonya Cho diam karena terlalu malas menanggapi yeoja yang baginya sangat angkuh tersebut, sedangkan Ikha terdiam karena ia memang malas untuk bicara.

“Jujur saja, Cho Agasshi. Aku tahu kau hanya mengincar popularitas anakku tapi aku tidak suka dengan caramu yang licik ini,” imbuh Nyonya Kim. Kata-katanya langsung menohok ke hulu hati Ikha, membuat yeoja itu mengeratkan jemarinya hingga menyatu membentuk kepalan.

“Aku tidak pernah sekalipun berfikiran seperti itu,” ucap Ikha, mencoba menahan emosinya agar tidak meledak. Setidaknya dia harus bersikap sopan pada ‘calon mertua’-nya kelak.

Nyonya Kim memutar bola matanya. “Lalu apalagi? Kau tahu sendiri bahwa anakku semakin populer di mata dunia. Kurasa tak ada alasan lain yang kau punya selain itu,” serangnya untuk kesekian kali.

Kha-ya. Siapa namja itu?” tanya Nyonya Cho. Ia menatap Ikha yang tengah menunduk untuk mencari jawaban.

“Nyonya Cho, anda tak perlu berpura-pura bodoh. Semua orang tahu siapa anakku. Dia adalah Kim Ki Bum. Key. Salah satu member SHINee,” seloroh Nyonya Kim, menjawab pertanyaan Nyonya Cho yang tak sempat dijawab Ikha.

Nyonya Cho menatap Ikha tak percaya. Tangannya ia letakkan pada pundak Ikha. “Jinjjayo? (Benarkah?)” tanyanya setengah bergumam.

Ikha mengangguk pelan sambil balas menatap Eomma-nya. Ia tak sanggup untuk bicara saat ini. Lidahnya terasa kaku. Baginya, Key SHINee yang akan menjadi calon ayah bagi anaknya itu bukanlah suatu hal yang dapat dibanggakan. Justru hal tersebut akan mempersulit kehidupannya mengingat status yang disandang Key sebagai seorang Superstar.

“Aku datang kemari hanya untuk mengatakan padamu bahwa kau seharusnya menjauh dari kehidupan anakku. Kau butuh uang? Sebutkan saja. Aku akan memberikannya untukmu,” ucap Nyonya Kim. Sedetik kemudian, ia mengeluar sebuah cek dari tas Charles & Kate-nya dan bersiap untuk menulis angka yang dibutuhkan oleh Ikha.

“Apakah anakku sehina itu di matamu, Nyonya Kim?” desis Nyonya Cho. Kentara sekali bahwa ia tak terima dengan apa yang dikatakan yeoja paruh baya itu.

“Ya. Karena dia berusaha menjebak anakku!” tukas Nyonya Kim tak mau kalah.

Nyonya Cho berdiri dari tempatnya lalu berkacak pinggang. “Kau fikir hanya anakmu saja yang merasa paling benar di dunia ini? Bagaimana dengan anakku? Dia yang menanggung semua penderitaan ini. Dan kalaupun dia memang sengaja menjebak anakmu—yang namanya sangat pasaran itu, ia pasti akan langsung menerima uang yang diberikan Choi Jin bulan lalu!” omelnya tanpa titik koma.

Nyonya Kim menarik sudut bibirnya hingga membentuk seringaian. Ia masih bersikap setenang mungkin. “Bukan uang yang menjadi tujuan utamanya. Tapi anakku! Kalau memang dia tidak menginginkan anakku, harusnya dia  sudah menggugurkan anak itu dari dulu!” tukasnya seraya menunjuk perut Ikha.

Ikha terdiam. Otot-otot di sekitar lehernya menegang. Ia sangat tidak terima dengan perkataan Nyonya Kim yang seenaknya saja men-judge dirinya. Tapi apa daya. Ia tidak bisa melawan karena ia sudah terlalu lelah menghadapi masalah ini yang semakin hari semakin rumit saja.

“Apa kau tak pernah berfikir layaknya seorang ibu, Nyonya Kim? Kau tak tahu bagaimana posisi anakku sekarang! Ia terus saja menerima tekanan dari berbagai pihak, termasuk kau! Berhenti bertindak seolah-olah kaulah yang paling benar!” rajuk Nyonya Cho. Telunjuknya ia arahkan tepat didepan wajah Nyonya Kim hingga yeoja itu menepis tangannya lalu ikut berdiri untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Nyonya Cho.

“Aku berkata seperti ini karena memang seperti itulah kenyataannya. Banyak yeoja yang mengincar anakku dan aku yakin bahwa kaupun begitu. Bicaralah, Cho Ikha-ssi! Apa kau akan terus berdiam diri seperti itu?” hardik Nyonya Kim sinis.

Nyonya Cho memperhatikan Ikha yang terus saja menunduk. Sebagai seorang ibu, Nyonya Cho merasa tak terima anaknya diperlakukan seperti itu. Ia menatap Nyonya Kim dingin dan juga tak kalah sinisnya.

“Ia tak perlu bicara karena aku yang akan menepis semua perkataanmu itu,” belanya.

“Kau harus bercermin, Nyonya Cho! Didik anakmu dengan benar. Mungkin saja dia akan mengincar artis lain untuk dijadikan mangsanya!” serang Nyonya Kim.

“HARUSNYA KAU YANG BERCERMIN, NYONYA KIM! ANAKMU ITU SUDAH SEENAKNYA SAJA MEMPERLAKUKAN ANAKKU SEPERTI SAMPAH!” bentak Nyonya Cho. Amarahnya sudah tak bisa dibendung lagi mengingat apa yang dikatakan Nyonya Kim.

“HENTIKAN!!”

Kini giliran Ikha yang angkat bicara. Kedua yeoja tua tersebut langsung terdiam lalu memusatkan diri pada Ikha yang sekarang sudah berdiri tegap.

“Nyonya Kim. Perlukah kuulang kalimatku ketika bertemu dengan Choi Jin Ahjusshi tempo hari?” tanya Ikha. Ia menelan ludahnya dengan berat dengan maksud untuk mengurangi rasa kesalnya—meskipun nada suara Ikha terdengar seperti sedang mengutuk seseorang.

Nyonya Kim hanya diam tak mengucap satu patah kata-pun. Ia memperhatikan Ikha dan wajahnya benar-benar menyiratkan kekesalan yang mendalam. Matanya mulai berkaca-kaca menahan emosi dan kedua tangannya mengepal.

“Aku sama sekali tidak membutuhkan pertanggung-jawaban anakmu. Dan tolong garis-bawahi. Keluargaku cukup mampu untuk membiayaiku dan aku juga tidak membutuhkan uangmu—sepersen-pun. Jadi tolong anda pergi dari rumahku sekarang juga,” jelas Ikha panjang-lebar. Tangannya menunjuk ke arah pintu keluar, mempersilahkan Nyonya Kim untuk pergi.

Nyonya Kim memutar bola matanya tak percaya. “Kau mengusirku?” tanyanya sambil melipat kedua tangan didada.

“Ya. Lebih baik anda keluar sekarang juga sebelum aku menyeretmu dengan paksa,” gumam Ikha, mendesis.

Nyonya Kim menghembuskan nafas kesalnya sekali sebelum ia benar-benar pergi. Tak lupa, ia menatap Nyonya Cho dan Ikha secara bergantian. Suara dari high-heels yang dipakai Nyonya Kim terdengar begitu berat ketika berhentakkan dengan lantai apartment. Dan setelah wanita paruh baya itu telah pergi, Nyonya Cho menutup pintu apartment cukup kencang lalu kembali menhampiri Ikha yang kini terduduk lemah diatas sofa.

“Kha-ya,” bisik Nyonya Cho seraya melingkarkan lengannya di pundak Ikha.

Ikha memegang keningnya, menopang kepala yang tiba-tiba begitu berat itu menggunakan tangannya.

“Aku ingin istirahat, Eomma.” Ucap Ikha, lirih.

“Kau bu—“

“Aku ingin sendirian. Eomma pulanglah. Aku baik-baik saja,” ucap Ikha, memotong kalimat Nyonya Cho.

“Tapi—“

“Kumohon,” pinta Ikha.

Nyonya Cho menatap Ikha. Hatinya begitu miris begitu melihat kedua bola mata Ikha yang mulai memerah dan berkaca-kaca.

“Eomma tidak akan meninggalkanmu,” ujar Nyonya Cho seraya memeluk Ikha didalam dekapannya.

Ikha balas memeluk Nyonya Cho. Merasakan betapa hangatnya pelukan Sang Ibu yang sangat ia butuhkan saat ini. Karena tak kuat menahan emosinya, Ikha mulai menangis dipelukan Nyonya Cho. Tangisnya semakin menjadi saat Eomma-nya mengelus rambut dan juga punggungnya dengan lembut.

Gwenchana, Kha-ya. Gwenchana (tak apa),” bisik Nyonya Cho. Seiring perkataannya tersebut, air mata Nyonya Cho-pun ikut mengalir.

***

Key tengah latihan koreaografi bersama Rino Sunbaenim di ruangan tempat biasa member SHINee berlatih. Ketika ia mengusap peluh di sekitar leher dan juga pelipisnya, indera penglihatannya menangkap sosok yang dikenalnya tengah memperhatikan dari balik pintu. Setelah meminta izin pada Rino, Key serta merta menghampiri sosok tersebut kemudian memberinya sebuah pelukan hangat.

Eomma? Kenapa datang tiba-tiba?” tanya Key setelah melepas pelukan singkatnya.

“Aku tak sengaja lewat daerah ini untuk menyerahkan berkas rumah sakit. Jadi lebih baik Eomma sempatkan waktu untuk mengunjungimu. Kudengar kau agak kurang sehat akhir-akhir ini. Apa kau tidak menjaga pola makanmu?” ucap Nyonya Kim seraya mengusap pipi Key dengan lembut.

(Ingat: In fact, Key’ mother is a nurse)

“Entahlah. Aku mual dan tak enak badan dari tadi pagi. Tapi sekarang jauh lebih baik setelah Jin Hyung membawaku ke dokter pribadi SM,” terang Key tersenyum manis.

“Baiklah. Karena kau baik-baik saja, Eomma akan bergegas kembali ke Daegu,” ucap Nyonya Kim lalu bersiap untuk pergi.

Key mengerutkan dahi. Tidak biasanya Sang Eomma datang sekedar ‘lewat’ saja. Nyonya Kim akan tinggal lebih lama jika mengunjungi Key.

“Hanya itu?” selidik Key.

Nyonya Kim mengusap puncak kepala Key dengan halus. “Harusnya kau senang karena Eomma mengunjungimu, Kibum-ah.” Rajuknya, gemas.

“Tentu saja aku senang. Haji—”

“A-a-a-a, Eomma harus kembali ke rumah sakit. Lain kali Eomma akan datang bersama Appa. Jaga dirimu baik-baik, okay?” ucap Nyonya Kim, memotong kalimat Key.

Setelah ber-say goodbye’ dan memberi Key kecupan manis di pipi, Nyonya Kim segera pergi meninggalkan anak tunggalnya tersebut seraya melambai manis ke arah Onew, Jonghyun, Taemin dan juga Minho yang menatapnya dari dalam ruang latihan.

Namun Key berfikir. Sepertinya ada yang salah dengan Eomma-nya. Seingatnya, terakhir kali ia bertemu dengan Sang Eomma adalah ketika beliau memarahinya mengenai tragedi ‘kehamilan’ Ikha. Lalu kenapa sekarang wanita paruh baya itu terlihat sumringah? Ditambah lagi ia terlihat lebih stylish dari biasanya. Well, Key belum tahu saja jika Sang Eomma telah ‘berkunjung’ ke tempat persinggahan Ikha dan sedikit ‘beradu-mulut’ dengan Nyonya Cho.

Key menggedikkan bahu lalu mencibir. “I don’t give a damn,” ucapnya lalu bergabung bersama the rest of SHINee’ Members.

***

Ikha menguap untuk kesekian kali. Matanya terlihat sangat merah akibat kekurangan tidur. Belum lagi kantung matanya yang semakin hari semakin menghitam, membuatnya nampak seperti Gollum di Film trilogi Lord of The Ring.

Yeoja berambut sebahu itu mengacak rambutnya dengan malas. Saat melirik ke arah jam dinding yang tertempel manis pada dinding kamar, mulutnya mengeluarkan desahan hebat seraya melemaskan otot bahunya.

Sekarang sudah pukul sembilan pagi dan itu artinya ia baru tidur selama dua jam. Semalaman Ikha tak bisa memejamkan mata karena terlalu banyak yang difikirkannya. Laporan kuliahnya yang masih belum selesai, masalah dengan Sang Appa yang tak kian reda, belum lagi masalah terkait kehamilannya yang semakin hari semakin rumit, dan juga jadwal check-up ke dokter kandungan yang tidak boleh dilewatkannya—karena Nyonya Cho memaksa.

Intercom menyala. Dengan sangat terpaksa Ikha menyeret tubuhnya bangkit dari tempat tidur untuk mengecek siapa yang telah mengganggu paginya ini. Saat ia membuka pintu, ia kembali mendesah berat karena melihat keadaan rumahnya yang sangat berantakan. Kertas laporan dimana-mana, belum lagi bungkus makanan yang berserakan di lantai.

Saat Ikha menguap sambil membuka pintu, mulutnya seketika membeku melihat seseorang yang tengah berdiri tegak didepannya.

“Taerin-ah?”

Taerin—teman kampusnya—menatap dalam diam. Sedangkan Ikha tetap terpaku ditempatnya. Sebentar! Kenapa sekarang orang-orang mengetahui keberadaannya yang sengaja dirahasiakan Ikha dari publik? Setahunya hanya Nyonya Cho saja yang tahu—dan juga Key serta Nyonya Kim tentunya, itupun kedua makhluk itu mengetahui tempat ini setelah membuntutinya.

 “Kha-ya. Neo gwenchanji?” gumam Taerin. Jelas sekali yeoja itu tampak khawatir dengan keadaan Ikha.

Hmm,” Hanya itu yang dapat Ikha jawab.

“Eomma yang memberitahumu?” Ikha lanjut bertanya sambil mempersilahkan Taerin masuk.

Ne. Dan aku segera melesat kesini. Saesangi (Ya Tuhan), kau terlihat sangat berantakan, Kha-ya. Kenapa kau semakin jelek? Lihat matamu! Garis hitamnya tampak jelas,” oceh Taerin tiada henti. Ia juga sempat menggelengkan kepala saat mendapati betapa berantakannya apartment yang ditempati Ikha.

“Aku harus mengurus laporanku,” ucapnya, berbohong.

Malhaebwa (Katakan padaku),” bujuk Taerin, setengah memaksa Ikha untuk menjelaskan kenapa dirinya bisa tinggal di tempat sempit ini, bukan di rumah yang menjadi istana dan tempat berlindungnya.

“Mengenai?” Ikha balik bertanya.

Taerin berdecak sambil memutar bola mata. “Eomonim menceritakannya padaku,” jelasnya.

Ikha hanya menggedikkan bahu. Ia mengambil botol soft-drink didalam kulkas seraya menyuguhkannya pada Taerin. Sempat ia menyingkirkan beberapa kertas diatas sofa sebelum yeoja itu mendudukinya.

Eoseo (Ayolah), Kha-ya. Aku ini temanmu. Kau tidak percaya padaku?” rajuk Taerin. Dan lagi-lagi Ikha hanya menjawabnya dengan gedikan bahu dan senyum tipis yang terlihat sangat dipaksakan.

“Jangan terus-menerus memendam masalahmu sendirian. Kau tahu? Riset membuktikan bahwa rata-rata orang yang menderita stroke disebabkan karena menahan emosi dan memendam masalahnya sendirian,” Lagi, Taerin menuntut Ikha agar yeoja itu mau berbagi sedikit beban yang menimpanya.

I’m fine, Taerin-ah.” Elak Ikha, berulang kali.

Taerin mendekati Ikha, menggengam tangan yeoja itu dengan erat hingga membuat Ikha menatap Taerin. Entah kenapa saat Taerin menggenggam tangannya, dadanya terasa sangat sesak. Perlahan Ikha menangis. Taerin—mengetahui bahwa Ikha sedang tidak baik-baik saja—mendorong tubuhnya mendekat lalu memberinya sebuah pelukan hangat.

“Sudahlah. Masih ada aku,” gumam Taerin ditengah pelukannya.

Ikha semakin erat memeluk yeoja yang telah dianggapnya sahabat tersebut sambil terus menumpahkan air mata yang sedari kemarin ditahannya untuk keluar.

“Taerin-ah. Aku… aku tidak sanggup menghadapi semuanya,” ucap Ikha terbata-bata disela isakan tangisnya.

“Eomonim menceritakan semuanya padaku. Tentang pertengkaranmu dengan Abeonim. Tentang nenek sihir yang katanya memakimu kemarin siang. Dan tentang kehamil—“

Taerin sejenak menelan ludahnya. Ia agak ragu untuk menyebutkan kata selanjutnya, takut Ikha akan tersinggung atau sedih mendengarnya. Ikha semakin terisak dipelukannya. Jadi ia memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan.

“Saat aku akan ke rumahmu mengantarkan surat dari Seonsaengnim, Eomonim memberitahu mengapa kau bisa ada ditempat ini. Demi Super Junior, aku benar-benar tidak tahu jika ternyata kau telah mengalami banyak hal, Kha-ya. Sudah seminggu ini kau tidak ke kampus jadi aku tidak tahu,” terang Taerin. Ikha hanya menggangguk sebagai pengganti kata ‘gwenchana’.

Mianhae (Maaf), Kha-ya. Saat kau dalam masa sulit, aku tidak ada disampingmu,” sesal Taerin.

Lagi-lagi Ikha hanya mengangguk. Sulit baginya untuk menggetarkan pita suara saat ini. Taerin mengusap punggung Ikha pelan. Memberikan sedikit ketenangan baginya.

“Kha-ya. Sebenarnya siapa yang menghamilimu?” tanya Taerin tiba-tiba.

Ikha melepas pelukan Taerin kemudian mengusap air matanya yang membanjiri pipi dan juga dagunya. “Eomma tidak memberitahumu?”

Taerin menggedikkan bahu.

“Itu tidak penting,” jawab Ikha. Ia beranjak dari tempatnya lalu pergi ke arah dapur, mencari sesuatu untuk bisa dimakan Taerin.

“Apa dia tampan?” seru Taerin dari ruang tamu.

“Yeah. Tapi tidak setampan Eunhyuk Oppa,” jawab Ikha asal.

“Oh, sepertinya kau harus menyelidiki motel tempat dimana kau mengalami kejadian itu. Setidaknya untuk memastikan siapa yang telah membuatmu seperti ini. Mungkin saja ada yang menjebak kalian atau semacamnya,” seloroh Taerin.

Ikha menyodorkan sepiring nori. “Kau benar. Kalau begitu aku akan pergi kesana setelah bimbingan dengan Kang Seonsaengnim,” ucapnya.

Ani. Aku saja yang pergi,”

“Aku tidak ingin melibatkanmu, Taerin-ah,”

“Aku merasa bertanggung-jawab atas apa yang terjadi padamu sekarang. kalau bukan karena soju yang ku—“

Omongan Taerin terputus ketika Ikha mengangkat tangannya menyuruh Taerin untuk diam. “Sudahlah. Jangan ungkit hal itu lagi. Aku sudah menganggap hal itu sebagai sebuah kecelakaan,” kilahnya.

“Karena itu, Kha-ya. Izinkan aku untuk menyelidiki semuanya. Setidaknya untuk menebus rasa bersalahku,”

Ikha tremenung, menimang-nimang permintaan Taerin. “Baiklah, itu karena kau tetap memaksa.”

Taerin tersenyum lalu menggenggam jemari Ikha. “Itulah gunanya seorang teman,”

***

Tik… Tok… Tik… Tok…

Bunyi dari detak jam weker bergambar Angry Bird disamping tempat tidur Key terdengar sangat jelas di telinganya. Sempat ia melirik sekilas pada benda tersebut dan ia kembali pada posisinya semula setelah mengetahui ke arah angka mana jarum pendek jam tersebut berhenti.

Ya. 01.56 am.

Ajikdo kkae-eo? (Belum tidur?)” tanya seseorang yang ternyata adalah Jonghyun. Dari seberang tempat tidurnya, ia melihat hyung kesayangannya itu tengah mengetik sesuatu pada I-phone miliknya.

Key membetulkan posisinya yang semula merebahkan tubuh dengan posisi miring menjadi terlentang. Kedua tangannya ia selipkan dibawah kepala lalu memandang langit-langit kamar.

Waeyo? (Ada apa?)” Jonghyun kembali bertanya setelah meletakkan handphone dan berbalik menatap Key.

Amugeotdo (Tidak ada apa-apa),” jawab Key seadanya.

Kemudian ia turun dari tempat tidur dan bergegas menuju dapur. Sengaja ia redam langkah kakinya agar Onew, Minho dan Taemin tidak terjaga dari tidur lelap mereka. Tanpa Key sadari, Jonghyun mengikutinya dari belakang. Namja bertubuh atletis itu menyeret salah satu kursi meja makan sambil memperhatikan Key yang tengah memperhatikan isi kulkas dengan malas.

Bumonim ibogo shipdago? (Merindukan orang-tuamu?)” selidik Jonghyun lagi seraya memasukkan sepotong kue yang ada diatas meja.

“Untuk yang satu ini jawabannya ‘tidak’.” sergah Key lalu menarik kursi meja makan tepat didepan Jonghyun. Kini mereka saling berhadapan.

Geundae? (Lalu?)”

Key menyenderkan punggungnya pada senderan kursi. Kepalanya ia tengadahkan hingga menatap langit-langit. “Aku tidak tahu harus mulai dari mana, Hyung.” ucap Key, lirih.

“Apa ini menyangkut pembicaraan kita beberapa hari yang lalu di atap gedung SM?” tanya Jonghyun seolah dapat membaca fikiran Key.

Yeah,” Key meng-iya-kan dengan nada yang sangat berat.

“Kau sudah mengingat kejadian itu?”

Key menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan berat sebelum menjawab pertanyaan Jonghyun.

“Sepenuhnya ‘Ya’.” jawabnya sambil mengangguk.

Jonghyun memutar bola mata. Jemarinya bergerak diatas permukaan meja makan hingga mengeluarkan suara gemerutuk pelan.

I’m listening,” ujarnya, mencoba bersikap setenang mungkin. Padahal ia sebenarnya tidak ingin mendengar sebuah kenyataan yang akan Key jelaskan padanya.

Key gusar. Beberapa kali ia menelan ludah untuk menghilangkan gundah. Ia belum sepenuhnya yakin untuk menceritakan aib-nya. Meskipun hal ini hanya sebuah kecelakaan, tapi tetap saja, menyakitkan.

“Kalau kuperhatikan mimik wajahmu, sepertinya ini bukanlah pertanda yang baik,” gumam Jonghyun, berharap tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka, sekalipun itu Onew-Minho-atau-Taemin.

Key lagi-lagi mendesah. Ia mengusap wajah menggunakan kedua telapak tangannya lalu meletakkan kedua siku tangan diatas meja. Kesepuluh jemarinya saling bertautan menutup setengah wajahnya.

Naega geuraesseo (Aku yang melakukannya),” aku Key pada akhirnya.

Jonghyun sontak menatap Key dalam. Nafasnya seolah terhenti ketika Key menyebutkan kalimat tersebut. “Mwo? (Apa?)” tanya Jonghyun, tak percaya.

“Aku yang telah menghamilinya, Hyung.” ulang Key, meyakinkan Jonghyun bahwa ia tidak sedang bercanda atau semacamnya.

Jangnan Imnikka? (Kau bercanda ‘kan?)”

Key menggeleng. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyum tipis yang sangat dipaksakan.

Hajiman, eotteohkkae hal su? (Tapi… bagaimana bisa?)” tuntut Jonghyun, masih belum mampu mempercayai Key.

“Aku telah mengingat semuanya,” jelas Key.

Setelah meneguk segelas air putih dingin, Key memberanikan diri untuk menceritakan semuanya. Tentang bagaimana dirinya bisa begitu bodoh melakukan hal hina tersebut hanya karena pengaruh soju. Jonghyun membuang muka, sulit untuk mempercayai bahwa Key benar-benar telah menghamili Ikha.

“Jangan sampai hal ini diketahui oleh yang lain. Kariermu akan hancur. Dan jangan cerita apapun pada Onew Hyung. Choi Jin Hyung sepertinya sudah mengurus semua permasalahanmu. Lihat? Sampai detik ini kita tidak mendengar gossip atau berita apapun tentangmu. Kita harus tetap mempertahankan hal itu,” sergah Jonghyun tepat setelah Key menyelesaikan ceritanya.

Lagi-lagi Key hanya mengangguk pelan sambil menatap gelas kosong yang ada digenggamannya. Saat ini ia masih belum bisa berfikir realistis. Jadi alangkah baiknya jika ia menuruti apa yang Jonghyun sebutkan barusan.

“Yeoja itu—” Jonghyun memperhatikan ekspresi Key sejenak. Ia menyeringai ketika Key menutup kedua matanya saat Jonghyun hanya mengucapkan dua kata tersebut. “Bagaimana dengan nasib yeoja itu?” tanyanya.

Key menyelipkan jemari pada rambut blonde-nya. Menarik poni rambutnya hingga ke belakang kepala. Nafasnya terdengar sangat berat. Sama halnya ketika dirinya harus menceritakan kejadian itu pada Jonghyun beberapa menit yang lalu.

“Itulah yang saat ini kufikirkan, Hyung. Aku merasa… sangat bersalah,” aku Key, kalimatnya diucapkan dengan terputus-putus.

“Apa kau sudah memberitahunya?”

Key menggeleng lemah. “Belum,”

Mata Jonghyun menelusuri jendela dorm mereka, menatap keadaan di luar sana yang masih gelap gulita. “Apa jadinya jika yeoja itu mengetahui hal yang sebenarnya?” tanya Jonghyun yang berhasil membuat Key kembali mendesah berat.

“Yang jelas, ia pasti tidak akan bisa memaafkanku,” jawab Key seadanya.

Ia kemudian berjalan menuju ruang tamu, meraih handphone kesayangannya yang tengah di-charge diatas meja kecil disamping sofa. Ia mengetik sesuatu pada seseorang. Dan setelah pesan singkat tersebut terkirim, tubuhnya ia hempaskan pada sofa. Otot-otot tubuhnya serasa lemah dan tak mampu menopang tubuhnya.

“Kha-ya… Mianhae (Maafkan aku),” bisik Key, pada diri sendiri.

***

“Kau sudah menyelidikinya?” tanya Ikha ketika Taerin datang menghampirinya yang tengah sibuk membereskan beberapa buku yang baru dipinjam dari perpustakaan.

Eum. Motel itu sekarang sudah berubah menjadi restoran makanan China. Kata petugas disitu, mereka pindah sekitar enam bulan yang lalu,” terang Taerin seraya menyodorkan satu botol minuman tonic pada Ikha.

“Ini sangat aneh, Kha-ya.” ujar Taerin, menambahkan.

Gwenchana (Tak apa). Sepertinya Tuhan memang belum mengizinkanku untuk mengetahui fakta yang sebenarnya,” jelas Ikha, bertingkah sesantai mungkin. Ia melirik jam tangan sejenak dan langsung terkejut ketika jarum pendeknya menunjuk ke arah angka tiga.

“O—aku harus buru-buru pulang. Ada seseorang yang ingin berkunjung ke rumah,” pekik Ikha lalu terburu-buru membereskan barang-barangnya ke dalam tas.

Nugu? (Siapa?) Hongki Sunbaenim?” selidik Taerin sambil memperhatikan gerak-gerik Ikha.

Spontan Ikha langsung tergelak ketika mendengar Taerin menyebut nama Sunbae yang sempat menyatakan cinta padanya beberapa bulan yang lalu. “Anio (Bukan). Lagipula sejak kapan Sunbae-ku yang agak terbelakang itu mengetahui tempat tinggalku? Jika dia tahu aku sedang mengandung anak orang, pasti dia segera menghindariku,” gurau Ikha dengan nada bercanda.

Setelah pamit pada Taerin, yeoja itu langsung melesat menuju apartment-nya yang terletak cukup jauh dari kampus. Sesekali ia melirik jam tangan, takut orang yang akan berkunjung ke rumahnya datang lebih dulu. Dan benar saja, ketika ia sudah sampai didepan pintu apartment, seseorang—lengkap dengan hoodie, masker serta kacamata hitam yang menutupi kepalanya—tengah menyenderkan punggungnya pada dinding disamping pintu.

Serta merta Ikha membuka pintu apartment setelah menekan beberapa tombol pengaman. Ia mempersilahkan orang tersebut masuk.

Mian, Key. Kukira kau belum datang. Ingin kubuatkan sesuatu?” tawar Ikha seraya bergerak menuju dapur. Tas dan juga hoodie-bag yang berisi buku-buku perpustakaan dilemparnya sembarangan ke atas sofa.

Key melepas semua benda yang telah melindungi wajahnya dari publik tersebut lalu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Cuaca hari ini cukup panas dan membuatnya tak bisa bernafas akibat masker yang menutupi wajahnya.

“Tidak perlu, Ikha-ssi.” Elak Key, sesopan mungkin.

Namja itu memperhatikan Ikha yang tengah sibuk menyiapkan segelas minuman pada Key dan mengeluarkan beberapa cemilan dari kulkas. Sementara menunggu Ikha, Key memposisikan dirinya duduk pada salah satu kursi meja makan.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya sambil meletakkan tas Pink Auction disampingnya.

“Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja,” kilah Ikha, berbohong. Ia menghampiri Key lalu menyuguhkannya beberapa cemilan yang ia punya.

Mulut Ikha sempat bergerak untuk menyuruh Key duduk diatas sofa—bukannya di meja makan. Namun niatnya segera ia urungkan ketika melihat sofanya dipenuhi kertas-kertas laporannya yang belum ia bereskan.

“Aku sedang mengerjakan laporan akhir-ku. Jadi maaf jika keadaan tempat ini cukup berantakan,” tukas Ikha sambil menyeringai tidak jelas. Key hanya tersenyum sekilas dan mengangguk pelan, memakluminya.

“Kau tidak ada jadwal?” Ikha lanjut bertanya.

“Jadwal latihanku jam empat sore, jadi aku masih ada waktu luang kurang lebih 45 menit. Lagipula dua hari lagi aku akan pergi ke New York untuk melakukan konser SM Town,”

Jeongmalyo? (Benarkah?)” Mata Ikha membulat tidak percaya. Bagaimana mungkin ia sampai tidak tahu jika SM Town akan mengadakan konser di New York? Itu berarti Super Junior juga ikut serta ‘kan?

 “Ah—bukankah kau itu fans-nya Eunhyuk Hyung? Kau tidak ingin menitipkan sesuatu padanya?” tawar Key.

Ikha memutar bola matanya tak percaya. “Damn! Aku sangat sibuk akhir-akhir ini. Jadi aku tidak begitu mengetahui jadwal kegiatan Super Junior,” tukasnya kemudian meniup poni dengan kasar.

“Kalau begitu, aku akan memberimu tanda-tangan dan membuatkanmu dokumen khusus tentang Eunhyuk Hyung selama dia melakukan kegiatan di New York. Eotthe? (Bagaimana?)” tawar Key lagi.

Ikha mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Key. Kedua telapak tangannya menempel pada permukaan meja makan. “Jeongmalyo?” pekiknya.

Key mengangkat kedua alisnya sambil meneguk minuman yang disuguhkan Ikha barusan. Ia begitu senang ketika melihat Ikha yang sangat tertarik dengan tawarannya.

Chamkan (Tunggu dulu). Kenapa kau begitu baik sampai-sampai mau menawariku tanda tangan Eunhyuk Oppa?” tanya Ikha. Matanya menyipit, hidungnya seolah mencium bau sesuatu yang sengaja disembunyikan Key.

Key menggedikkan bahunya sekali. “Aku merasa bersalah karena tidak mengabarimu beberapa hari ini. Bagaimanapun juga, anak itu adalah anakku. Jadi aku harus bersikap baik pada yeoja yang sedang mengandungnya bukan?” ucap Key, berbohong. Yeah, ia belum siap memberitahu Ikha mengenai fakta yang sebenarnya.

“Bukankah sebelumnya kau pernah bilang kalau anak ini belum tentu anakmu? Lagipula jika kau merasa bersalah karena tidak menghubungiku, kau harus membawa Eunhyuk Oppa ke hadapanku dulu agar aku sepenuhnya bisa memaafkanmu,” oceh Ikha, terselip ejekan dan candaan pada nada bicaranya.

Key tersenyum tipis. Kedua matanya ia arahkan pada permukaan air yang ada didalam gelasnya. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri. Ia masih ingat bagaimana dulu ia begitu bersikukuh pada Ikha jika anak itu bukanlah anaknya. Tapi ternyata…

Mianhae (Maaf),” ucap Key tiba-tiba.

Ikha hanya tersenyum menanggapinya. “Berhenti mengatakan hal itu, Key. Kita sudah menegaskan beberapa hal ‘kan? Kita tidak saling terikat hanya karena masalah ini. Kau bebas melakukan apapun selama anak ini belum lahir. Kita akan memastikan siapa ayah anak ini nanti, ketika saat itu tiba.”

Ikha menatap Key yang tengah menunduk sambil menggerakkan ujung telunjuknya pada sisi gelas. Hati Ikha serasa ditusuk saat melihat wajah Key. Benar, hatinya masih terasa sakit ketika Nyonya Kim—Eomma-nya Key—memakinya tiada henti beberapa hari yang lalu. Dan ia berani bertaruh kalau Key sepertinya tidak mengetahui kunjungan mendadak Sang Eomma padanya.

“Key,” sahut Ikha, setengah bergumam.

“Hmm,”

“Aku ingat sesuatu mengenai namja yang sempat kulihat sebelum aku jatuh pingsan,” ucap Ikha, mengalihkan pembicaraan.

Gerakan Key membeku seketika ketika Ikha mengucapkan kalimat tersebut. Ia membulatkan mata. Bahkan ia juga sempat menelan ludah. Tunggu! Jika Ikha ingat siapa yang telah bertabrakan dengannya sebelum ia jatuh pingsan, itu berarti…

“K-kau…. mengingatnya?” tanya Key, agak terbata-bata.

Ikha mengangguk pelan sambil memasukkan Dry Kimchi kedalam mulutnya. Mungkin Ikha terlihat biasa saja, tapi berbeda dengan Key. Keringat dingin mulai mengalir indah di sekitar pelipisnya.

“Dia—“

…bersambung…

Header 01 (Cut)

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

35 thoughts on “ACCIDENT (Chapter 05)”

  1. Lagi-lagi gak ngerti -___- TBC gak pas eon !! Padahal kan lg mencerna cerita nya ,_,

    nama key emg pasaran ya, setuju sama nyonya cho *plak

    Ikha gak usah sama key deh eon!! Key jahat banget!!! Masa dia ngelakuin itu ragara nganggep ikha itu IU!! >.< *nyesek bacanya* sekali kali kek eon, key nya dibuat sakit hati gitu… Jangan ikha mulu -,- *

    itu kok tiba2 motel nya pindah ya?? ~ sebenarnya ada apa sih eon?? Kekeke~~

    Jangan lama2 ya part selanjutnya eonni^.^ Ohya kandungan ikha udh berapa bulan ya eon? *wkwk*

    pamit ya….
    Annyeong~~

    1. buahahahaha, sumpah deh banyak tanya bang-get..
      Emang sengaja onn buat begitu pas terakhirnya ciiin, tar part selanjutnya lebih jelas. Tp maaf ya Saeng, onn lagi sibuk bgt jadi gak tau mau pub kapan next part-nya..

      Hmm, usia kandungan Ikha baru 1 bulan 2 minggu (kkk sampe hafal). tar kalo udah 7 bulanan onn undang ya /plak

  2. Huaaa setuju banget sama komen sebelumnya TBC nya gaa pass bangettttttt >.<

    mamahnya keyy ih nyebelin banget sihhhh !!
    ikhanya lagi , kalikali jujur aja ke key biar key marahin mamahnya !!!

    nasibnya ikha gimanaaa ini . garagara si key jadi sial -____-
    itu eommanya ikhaa comel bangett . bilangbilang ke si taerin , ntar kalo taerin nya comel lagi gimanaa ??

    ah udah ah eon bingun mau komen apalagii .
    pokonya part selanjutnyaaa okeeeyy 😀

    1. ahahahhaa… ih baru liat kamu bawel begini… iya saeeeenggg, emang sengaja TBC-nya dibuat begitu…
      tar tunggu aja next part-nya ya… Asiknya lagi pada libur, onn malah lagi sibuk2nya ngurus persiapan skripsi.. Huhuhuhu~

      1. ihh eon , aku mah aslinya kalem taukk 😀 . << fitnah -____-
        aduhh penasarann . ayo dong lanjuttt .
        pastii ditungguuu eon .
        oiya dong asik , nih aku tiap hari bangun jam 11 , tidur jam 3 pagi . terus makann , main main , jalanjalan ,, asikk lohh eon . wkwkwkwk .
        wah kasiann , cepet libur yaa 😀 biar cepet publish ff lagii . ckkcckck ,
        sukses ya eon , fighthing 😀

  3. ahh ayoo dong eon , udah penasarann >.<
    ini kan ff diterbitin 2011 , nah sekarang udah 2012 ..
    astagaaa udah setaun loh eon hehe . #plakkk ^^v
    -ini komen gj bener ya , abaikan aja eon- 😀

    1. Haahaha, ble’e… Onn masih sibuk sayang, bisa buka Facebook aja udah ahamdulillah. Super sibuk deh, kalo onn boong oon dicium Key deh. Tapi kalo onn bener, onn dicium Eunhyuk /plak

      1. itu jujur atau sedikit keceplosan Saeng? /plak
        Kkkk~ yaudah gpp. Selama kata ‘sexy’ gak ada diantara nama Saeng. Secara yang dapet predikat itu cuma onn doang /jederrrr

  4. Tuh kan bener dugaanku, Key yg “melakukan” ny cma krna mbuk jd dia gak sadar . . Asyik q g loading lg *loncatloncat*
    aduh itu nyonya kim bnr” pengen dijitak sama aku. . Heuhh emosiku naik. .
    Dr pda ngamuk mendng cpt bca kelanjtnya *suruh siapa cba*

  5. yakin deh kalau ikha nggak mengetahui sepenuhnya kalau orang itu key…
    aku rasa dia cuman bakal bilang ciri2 orang itu aja deh…
    aku lanjut lagi ya eon…

  6. Kasian baget ikha,, sdh dia harus sibuk baget dengan tugas lapirannya,, di udh diusir dari rumah, direndahin sama choi jin, direndahin juga sama mamanya key ,, kasian baget,,,

  7. Ikha-ya..
    entah kenapa, saya pengen punya Oom kya’ Choi Jin..
    tu orang sakti banget bisa ngasih uang banyak, mindah.in motel..
    lama-lama ajussi satu itu saya daulat jadi Oom jin pribadi saya.. *siapinBotol>>pergiBerburuChoiJin

    1. Hahahaha, mending punya om kek bapaknya siwon rhuu.. kan bapaknya siwon tajirnya membahana. Doi bisa loh beli kancutnya choi jin sekali kejap. beli SM juga bisa. HAHAHAHA

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s