MY NAME IS LEE HYUK JAE “Chapter 04”

FF - My name is lee hyuk jae - NewSiang itu terasa begitu berbeda bagi Ikha. Biasanya pada waktu-waktu seperti ini, ia sedang berada di kampus bersama teman-temannya, atau berada di ruangan Heechul untuk membantunya membereskan dokumen.

Tapi sekarang lain. Ia kini berada di ruang apartment Kyuhyun tanpa melakukan aktivitas apapun. Pasca kejadian kemarin malam saat ia membawa Eunhyuk keluar dari gedung rumah sakit yang memiliki sistem keamanan yang cukup ketat, Kyuhyun dan Heechul melarangnya untuk datang ke rumah sakit dan berkeliaran di tempat umum.

Yeah. Pasti kalian sudah tahu alasan utamanya. Benar. Lee Hyuk Jae a.k.a Lee Eunhyuk.

Tepat setelah malam itu, Ikha menyadari sebuah fakta yang tak disangkanya. Kini ia tahu alasan mengapa Eunhyuk harus di karantina di rumah sakit tersebut. Ia baru tahu kalau namja yang begitu manis dan sopan itu memiliki penyakit gangguan identitas disosiatif.

Penyakit tersebut adalah gangguan jiwa yang berasal akibat sampingan dari trauma parah pada masa kanak-kanak. Individu biasanya mengalami pengalaman traumatis yang cukup ekstrem dan terjadi berulang kali yang mengakibatkan terbentuknya dua atau lebih kepribadian yang berbeda. Masing-masing individu dengan ingatan sendiri, kepercayaan, perilaku, pola pikir, serta cara melihat lingkungan dan diri mereka sendiri. Setidaknya dua kepribadian ini secara berulang memegang kendali penuh atas tubuh si individu.

Dan hal itulah yang dialami Eunhyuk. Ketika dirinya merasa tertekan, kepribadian lain akan muncul didalam tubuhnya. Pantas, baik Eunhyuk dan Lee Hyuk Jae tak mengenal satu sama lain karena mereka sebenarnya hanyalah satu orang.

Ikha berjalan ke arah dapur untuk mengecek isi pendingin. Sebotol root beer milik Kyuhyun menjadi sasaran utamanya. Tak lupa ia ambil sepotong toast yang dibelikan Seohyun kemarin sore. Yeoja itu duduk pada salah satu kursi makan. Otaknya kembali memutar memori malam itu saat ia melihat secara langsung perubahan kepribadian yang dialami Eunhyuk. Dan hal itu… sangat disesalinya….

“Eunhyuk Oppa,” gumam Ikha setengah mendesis. Ia menatap Eunhyuk dan mentalnya menciut saat mendapati mata Eunhyuk yang memerah diterpa lampu jalan yang temaram.

Eunhyuk terdiam ditempat. Ia melirik sekilas ke arah dua namja yang kini telah lolos darinya lalu kembali menatap Ikha. Karena kesal mangsanya telah kabur darinya, Eunhyuk mendorong Ikha cukup kencang hingga tubuhnya jatuh membentur trotoar.

“MY NAME IS LEE HYUK JAE! UNDERSTAND???”

Sontak Ikha terdiam ketika Eunhyuk—atau saat ini ia sedang berwujud Lee Hyuk Jae—berlaku kasar padanya. Ditengah posisinya tersebut, Ikha menatap Eunhyuk dengan tatapan penuh tanya. Ia melihat namja yang kini tampak menyeramkan itu tengah mengepalkan kedua tangannya. Ikha kemudian menunduk, takut jika Lee Hyuk Jae akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya pada mayat yang tergeletak tak jauh darinya.

Melihat ekspresi Ikha yang sepertinya terkejut bercampur takut, Eunhyuk—dengan nafasnya yang masih tersengal-sengal—mencoba untuk mengontrol emosi dan sedikit melonggarkan urat-uratnya yang menegang.

“You made them ran out. And stupidly, i can’t hit you or slape your smooth face,” gumam Eunhyuk, setengah menggeram.

Ikha tetap diam. Masih tak berani menatap Eunhyuk yang masih berdiri dihadapannya. Satu tangannya ia letakkan didada. Tubuhnya sedikit bergetar, kentara sekali bahwa ia ketakutan.

Eunhyuk menyisir rambut brown-black menggunakan jari-jarinya. Tak lupa ia rapihkan kausnya yang terlihat agak berantakan. Eunhyuk menatap Ikha yang tengah memegangi dadanya. Selama beberapa detik, sepasang mata yeoja itu tak lepas menatap sesuatu dibalik punggung Eunhyuk.

Namja itu memutar tubuhnya mengikuti arah mata Ikha lalu ia tersenyum tipis saat tahu apa yang tengah ditatap yeoja itu. Eunhyuk menggelengkan kepala. Ia baru ingat kalau beberapa menit yang lalu ia baru saja membunuh dua orang dihadapan Ikha. Yeoja ini mungkin tengah dilanda shock. Lihat saja, meski Eunhyuk mencoba menghalangi arah pandangan Ikha, yeoja itu tetap saja menatap miris dua mayat yang telah bercucuran darah tersebut.

“Don’t keep silence like this. Say something,” ucap Eunhyuk seraya melepas kaus-nya.

Ikha masih belum berani untuk bicara. Ia lebih memilih memperhatikan Eunhyuk yang sedang membersihkan darah pada lengan dan wajahnya menggunakan kaus yang dilepasnya. Ikha tertunduk sejenak. Bukan karena jijik melihat darah tersebut, tapi karena ia tak sengaja melihat tubuh bagian atas Eunhyuk yang tak terbalut apapun.

Setelah membuang kaus-nya—yang telah dipenuhi darah—sembarangan, Eunhyuk menghampiri Ikha lalu memposisikannya duduk disamping yeoja itu yang bersimpuh akibat jatuh tersungkur olehnya barusan. Eunhyuk melirik sekilas pada Ikha dan mendapati wajah Ikha yang mulai memucat.

“Hei, you should thanks to me because i help you from those men. They tryna catch you. Am i rite?” tanya Eunhyuk, setengah membela diri.

Ikha hanya mengangguk pelan. Dia masih takut melihat dua mayat didepannya. Sempat ia memandang Eunhyuk, namun sedetik kemudian ia kembali menunduk saat tak sengaja melihat abs Eunhyuk yang terlihat membentuk di beberapa bagian tubuhnya. Dalam hati Ikha berfikir, namja ini memang tampan—dan manly tentunya. Sayang, dia harus menelan kembali kata-katanya saat mengetahui perbuatan Eunhyuk.

“Are you afraid? Come on, i’ll bring you to—hei!!”

Eunhyuk menghentikan kalimatnya saat mendapati sesuatu yang lain disekitarnya. “I just realized it. I’m not in that cage (hospital) anymore. Where are we?” tanyanya, masih mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat yang sepi tersebut.

“We should go back to the hospital, Mr. Lee,” gumam Ikha, suaranya nyaris tak terdengar.

“No. I like this place,” elak Eunhyuk.

“Please,”

Eunhyuk menoleh kesamping, memperhatikan lebih seksama pada Ikha yang terlihat begitu pucat. “You look so pitiful, Miss.”

“Please, Hyuk Jae. Bring me to the hospital before—“

Ikha menelan ludah sejenak. Ia tidak melanjutkan kalimatnya saat memandang kembali mayat disana yang kulitnya mulai memutih.

“Before what?” tuntut Eunhyuk, bersikeras untuk tidak beranjak dari tempatnya. Ia kembali menatap Ikha yang masih saja menusukkan tatapan matanya pada mayat tersebut.

“Oh—i think i should clean it (human corpse) up first. Then i can go out to some places that i wanted to go. Wanna come with me?” ajak Eunhyuk tulus pada Ikha.

Ikha menggeleng lemah. Kepalanya masih menunduk—sama sekali tak ingin melakukan kontak mata dengan Eunhyuk.

Tepat beberapa detik setelah itu, suara sirine dari ujung jalan membuat perhatian mereka langsung tertuju pada bunyi tersebut. Beberapa mobil polisi serta mobil van bergerak beriringan dan berhenti tepat mengelilingi mereka. Beberapa polisi berpakaian lengkap serta senjata dan pelindung menjadi benteng perlindungan mereka muncul dari dalam mobil. Senjata mereka diarahkan kepada Eunhyuk.

Bukannya takut atau khawatir, Eunhyuk malah tersenyum simpul seraya menggelengkan kepala, membuat Ikha mengerutkan dahi dengan sikap Eunhyuk. Harusnya dia takut karena polisi pasti akan segera menangkapnya, tapi namja ini malah bersikap tenang.

Dari mobil van yang ada tepat di belakang mobil polisi, Kyuhyun, Heechul dan beberapa orang yang menggunakan seragam khas rumah sakit segera menghampiri mereka berdua. Wajah Kyuhyun berubah ngeri ketika melirik kearah dua mayat yang tengah diperiksa beberapa petugas forensik.

Serta merta Kyuhyun memeluk Ikha dengan erat. Ia sangat bersyukur karena dongsaeng satu-satunya ini tak kehilangan satu bagian tubuhnya. Kyuhyun menarik Ikha hingga yeoja itu menjauh dari Eunhyuk yang masih saja bersikap tenang. Ikha hanya menurut. Dalam hati ia sangat bersyukur karena Kyuhyun segera datang dan memeluknya.

Sementara itu, Heechul menghampiri Eunhyuk yang kini dikelilingi beberapa polisi. Kepala polisi, Park Byeongman, berada disamping Heechul. Mereka berdua saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya berjalan lebih dekat lagi ke arah Eunhyuk.

“Nice to see you again, Mr. Park. Miss me?” Sahut Eunhyuk seraya melemparkan senyumnya pada Kepala polisi Park.

“At the beginning, i guessed you wouldn’t do this again after what you did to Doctor Kang. But after you killed those men, i may not consider you as easy as i think,” oceh Polisi Park. Kesepuluh jemarinya menyatu dibalik tubuhnya.

“I killed them because they bothered me. When i woke up from ma dream, they kicked me on ma body,” bela Eunhyuk.

“It’s the same reason when you killed some peoples long time ago,” kilah Polisi Park. Tangannya bergerak menyuruh Heechul dan beberapa polisi menangkap Eunhyuk.

Seolah mengerti apa arti dibalik pergerakan tangan tersebut, Eunhyuk mengangkat tangannya dengan cepat hingga membuat polisi-polisi itu berhenti. “I can do it myself,” terangnya lalu berdiri dan beranjak dari tempat.

Polisi Park memperhatikan Eunhyuk yang berjalan menuju pintu salah satu mobil polisi. Beberapa polisi yang menghalangi jalannya dengan refleks bergerak memberinya celah untuk berjalan. Sebelum Eunhyuk benar-benar masuk kedalam mobil, pandangannya ia arahkan pada Ikha yang sedang mengeratkan selimut tipis yang kini menyelimuti tubuhnya.

“You owe me your gratitude, Miss.” ucap Eunhyuk pada Ikha.

Kyuhyun mengeratkan pelukannya pada Ikha. Sementara Polisi Park berbincang dengan Heechul dari kejauhan sana. Entah apa yang dibicarakan kedua namja itu. Yang pasti, keduanya sama-sama menatap ke arah Ikha secara bersamaan selama beberapa detik.

“Kau telah melakukan kesalahan besar, Kha-ya,” bisik Kyuhyun lalu menuntun Ikha untuk masuk kedalam van.

“Mianhae,” Hanya kata itu yang mampu Ikha ucapkan.

Kyuhyun mendesah berat. Kedua bahunya yang sempat menegang kini terkulai lemah. “Kau beruntung karena Hyuk Jae tidak melakukan hal-hal diluar dugaanku. Dan setelah ini, kau harus berurusan dengan Polisi Park,” jelasnya lalu menutup pintu van.

 

Ikha mengusap wajah menggunakan kedua tangan ketika mengingat kejadian pasca pembunuhan yang dilakukan Eunhyuk tadi malam. Pantas saja Kyuhyun selalu memperingatinya untuk tidak berurusan dengan Eunhyuk ataupun Lee Hyuk Jae. Itu karena namja yang bernama Lee Hyuk Jae itu seorang psycho. Dan jika Ikha memancing emosi Eunhyuk, maka namja itu akan berubah kepribadian. Sungguh diluar akal sehat.

Saat Ikha meneguk root beer ditangannya, matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia mengambil koran yang tergeletak diatas meja makan. Dan ketika ia membaca headline koran tersebut, yeoja itu mendesah hebat sambil mengacak rambutnya gusar.

Ia hampir lupa kalau dirinya harus menjalani pemeriksaan di kantor polisi sebagai saksi jam lima sore nanti. Yeah, pembunuhan yang dilakukan Eunhyuk menjadi headline di beberapa surat kabar Korea Selatan dan menjadi Hot Topic di beberapa situs internet. Dan yang lebih membuat Ikha hampir menyemprotkan root beer di mulutnya adalah ketika ia membaca keseluruhan berita tersebut yang menyebutkan bahwa orang yang dibunuh tadi malam oleh Eunhyuk merupakan korban ke-9.

Ikha menyipitkan mata ketika menatap foto Eunhyuk yang berderet pada salah satu halaman surat kabar. “Nugu shin-ga? (Sebenarnya kau ini siapa?)” ucapnya lirih.

Ia kembali menenggak root beer hingga tetes terakhir lalu menghentakkan botol tersebut hingga menimbulkan suara yang cukup keras pada meja makan. Saat ia masih terkonsentrasi pada surat kabar, Ikha terlonjak kaget ketika intercom di apartment Kyuhyun berbunyi.

Dengan malas, ia berjalan ke arah pintu tanpa mengecek terlebih dahulu siapa yang datang. Ia sudah bisa menebaknya, siapa lagi kalau bukan Kyuhyun? Pasti Oppa-nya itu akan segera menceramahinya setelah ini.

Ikha mengerutkan dahi ketika mendapati seseorang tengah membawa seikat bunga mawar yang menutupi wajahnya. Ia diam sejenak untuk berfikir. Namja ini pasti bukan Kyuhyun. Tidak mungkin ‘kan Si Evil tersebut memberinya bunga dan bersikap sok romantis seperti ini pada adiknya sendiri?

Jweoseongi-eyo, (Permisi)” ucap si namja. Suara terdengar begitu berat. Sengaja dibuat-buat.

Ne? Nuguseyo? (Ya? Anda siapa?)” Ikha balik bertanya.

Cheo-yeo? (Saya?) Yang jelas, aku adalah orang yang paling tampan se-Korea Selatan,” jawab namja tersebut.

Ikha mendengus sambil memutar bola matanya. Namja ini benar-benar konyol. “Itu sangat tidak lucu. Kau sama se—“

Ikha menelan kata-katanya saat namja itu menurunkan buket bunga yang menutupi wajahnya. Namja itu tersenyum. Kedua lengannya terbuka lebar seolah menyuruh Ikha untuk memeluknya. Yeoja itu menutup mulut saat mengetahui siapa namja yang telah membuatnya begitu gembira. Ia sempat berkedip beberapa kali untuk memastikan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.

“Donghae Oppa?” kata Ikha, terselip keraguan dalam suaranya.

Donghae kembali tersenyum. Ia menghampiri Ikha lalu memberinya sebuah pelukan hangat. Perlahan ia mengeratkan pelukannya. Ia sangat merindukan sosok Ikha yang sudah hampir enam bulan tak dijumpainya. Sama halnya dengan Donghae, Ikha-pun balas memeluk namja berkemeja putih itu dengan erat seolah tak ingin melepasnya. Wajahnya ia benam di leher Donghae, mencoba menghirup wangi tubuh Donghae yang sangat ia rindukan.

Bogoshippeoyeo, (aku sangat merindukanmu)” bisik Donghae di telinga Ikha.

Na ddo (aku juga),” Ikha balas berbisik.

Donghae lagi-lagi tersenyum. Sejenak ia mengeratkan kembali tubuhnya pada Ikha selama beberapa detik kemudian mencoba melepas pelukannya setelah ia merasa cukup puas mencium wangi tubuh Ikha. Sayang, sepertinya Ikha memiliki keinginan yang lain. Ia sama sekali tidak memberikan sedikitpun celah bagi Donghae untuk merenggangkan tubuh mereka.

Eosseo, Kha-ya. (Ayolah, Kha-ya). Kau tidak malu kalau ada penghuni apartment lain yang melihat kita dengan posisi seperti ini?” tukas Donghae, setengah meledek.

Serta-merta Ikha melepas pelukannya dengan sangat terpaksa. Ia menggembungkan pipinya sambil menatap Donghae. Namja itu terkekeh pelan lalu mencubit pipi kanan Ikha dengan halus.

Aigoo, kyeopta (Ya ampun, lucunya),” ucap Donghae, gemas.

Ikha menutup pintu apartment lalu mempersilahkan Donghae masuk. Sempat ia mencuri kesempatan memeluk Donghae dari belakang punggung namja tersebut dan ia segera melepasnya saat Donghae berusaha mencubit tangannya.

Eodiga? (Kau mau kemana?)” tanya Donghae saat dirasanya Ikha berjalan dengan arah yang berlawanan dengannya—bukan ke ruang tamu, melainkan ke arah dapur.

“Mengambilkanmu minuman,” jawab Ikha seadanya.

Donghae menghampiri Ikha lalu mencengkeram pergelangan tangannya. Ia menarik yeoja itu, menuntunnya untuk mengikuti kemana kakinya melangkah. “Kemarilah. Aku masih ingin bersamamu,” ujarnya lalu duduk di atas sofa bersamaan dengan Ikha yang ada disebelahnya. Buket bunga yang dibawanya ia taruh sembarangan diatas meja.

“Eomonim memberitahuku kenapa kau ada di apartment Kyuhyun. Neo gwenchanji? (Kau baik-baik saja?)” selidik Donghae.

Ikha menggenggam jemari Donghae dengan erat. Ia mengangguk sambil tersenyum tipis. “I’m fine. Karena kau ada disini sekarang,” ucapnya lirih.

Tangan lain Donghae yang tak digenggam Ikha kini bergerak menyapu permukaan kulit wajahnya. Kemudian jemarinya menyelipkan sedikit rambut Ikha dibalik daun telinganya. Dalam hati namja itu begitu memuja yeoja yang telah menjadi kekasihnya itu selama satu tahun terakhir ini. Betapa ia begitu bersyukur karena memiliki seorang yeojachingu seperti Ikha.

“Kenapa kau bisa terlibat dengan rumah sakit itu?” tanya Donghae, mencari tahu.

Ikha mendesah berat. Bahunya bergedik tanda bahwa ia sendiripun tak tahu jawaban yang pasti. “Ceritanya panjang,” desahnya.

“Kalau begitu menjauhlah dari sana. Kau lihat apa yang terjadi saat ini? Kau dalam masalah besar,” rajuk Donghae. Jemarinya masih terus memainkan helai rambut pendek Ikha yang terjuntai di bahunya.

Algesseoyeo (Aku tahu),” ucap Ikha, pasrah.

Donghae memeluk Ikha hingga mau tak mau yeoja itupun menggeser tubuhnya agar dapat menerima pelukan Donghae. Namja berambut hitam itu mengusap rambut Ikha dan sesekali menciumnya.

“Jangan pernah pergi kesana lagi. Itu demi kebaikanmu. Arasseo? (Mengerti?)”

Ikha mengangguk pelan. Yeah, memang sebaiknya seperti itu. Ia tidak ingin terlibat lebih jauh lagi dengan namja bernama Lee Hyuk Jae atau Eunhyuk tersebut. Atau selamanya dia akan mendapat masalah.

“Kau tidak ingin meminum apapun?” tanya Ikha setelah dirinya melepas pelukan Donghae.

Ani (Tidak). Yang kuinginkan hanya kau,” gumam Donghae tepat didepan wajah Ikha. Membuat permukaan wajah yeoja berambut sebahu itu memerah.

Tangan Donghae meraih dagu Ikha. Sengaja ia tak melepas kontak mata dengannya agar Ikha dapat mengetahui apa yang ada didalam fikirannya sekarang. Keduanya saling melempar senyum seolah dapat membaca fikiran masing-masing. Dan dalam hitungan detik, Donghae mendekatkan wajahnya pada wajah Ikha. Bibirnya meraih bibir Ikha kemudian menempelkannya secara perlahan.

Selama beberapa detik, Donghae sengaja hanya sekedar menempelkan bibirnya pada Ikha. Lambat laun, ia mulai mengecup bibir Ikha dengan berirama. Ikha membalas ciuman Donghae tanpa fikir panjang. Mereka saling menautkan bibir masing-masing untuk menyalurkan kerinduan yang selama ini mereka pendam.

***

Ikha melepas syal yang melilit rapih pada leher jenjangnya dengan malas. Coat biru tuanya-pun ia lepas lalu disampirkan pada lengannya. Jemarinya memijit pelan tengkuk leher yang sedikit menegang. Yeah, pemeriksaan di kantor polisi Seoul selama kurang lebih dua jam tersebut membuat seluruh uratnya kaku.

Ikha melangkahkan kakinya menuju tangga yang ada tepat didepan kantor polisi. Matanya berputar ke segala arah untuk mencari mobil berwarna kuning bertuliskan ‘taxi’ diatas atap mobil. Selang beberapa menit, seseorang menghampiri Ikha sembari membungkukkan tubuhnya 30˚. Ikha mengeryitkan dahi.

“Kim Paksa? (Dokter Kim?)” tanyanya, memastikan.

Heechul tersenyum tipis. “Ada yang ingin kubicarakan, Ikha-ssi,” jawabnya to-the-point.

Setelah mendapat persetujuan dari Ikha, Heechul mengajaknya ke sebuah cafe yang terletak tak jauh dari kantor polisi. Heechul memesankan dua cup Americano hangat di tengah cuaca musim semi bulan ini. Ikha menerimanya dengan senang hati.

Cafe mungil tersebut tidak terlalu banyak dipenuhi pengunjung. Kesempatan ini benar-benar akan dipakai dengan baik oleh Heechul. Untungnya pemilik cafe memutar alunan musik jazz-classic sehingga dapat menciptakan rasa nyaman di ruangan tersebut.

“Apa Polisi Park menanyaimu macam-macam?” tanya Heechul, memulai pembicaraan.

Ikha meneguk Americano-nya sejenak. “Hanya mengajukan beberapa pertanyaan,” ujarnya santai.

“Kenapa Oppa tidak memberitahuku yang sebenarnya?” imbuh Ikha, berusaha berbicara langsung pada intinya.

“Mengenai?” Heechul meneguk Americano-nya dan bertindak seolah tak tahu maksud perkataan Ikha.

Ikha memutar bola matanya. Baru kali ini ia merasa kesal dengan tingkah Heechul. “Mengenai Eunhyuk,” ungkapnya.

“Bukankah kau sudah mengetahuinya sekarang?”

“Tapi ini konyol, Oppa. Kau membuatku harus berurusan dengan kedua orang itu—Eunhyuk dan Lee Hyuk Jae,” rajuk Ikha.

“Aku hanya menyuruhmu menjadi temannya dan mencari informasi tentangnya,”

Arayo. Arayo (Aku tahu. Aku tahu). Tapi setidaknya kau memberitahuku mengenai hal ini sebelumnya. Pantas saja Kyuhyun Oppa selalu memperingatiku. Pasti karena kau menyuruhnya begitu? Iya ‘kan?” desak Ikha, memaksa Heechul untuk mengakui semuanya.

Heechul hanya tersenyum seadanya. Kesepuluh jarinya saling bertautan diatas pahanya. “Aku tahu arah pembicaraanmu, Ikha-ssi.”

“Syukurlah kalau kau mengetahuinya. Aku sudah memutuskan untuk tidak akan datang kembali ke rumah sakit. Aku tidak ingin terlibat lebih jauh lagi,” tolak Ikha.

“Justru aku datang kemari untuk memaksamu datang kembali kesana,”

“Kyuhyun Oppa tidak akan membiarkanmu melakukan hal itu, Oppa. Lagipula, sebesar apapun rumah sakit membayarku untuk mendekatinya, cara itu tidak akan berhasil.” Sergah Ikha, tetap bersikukuh dengan keyakinannya.

“Data-dataku akan segera rampung setelah mendapatkan informasi dari Hyuk Jae. Dan hanya kau, satu-satunya orang yang bisa saling berbagi pendapat dengannya. Jika besok kau datang ke rumah sakit, aku akan memberitahumu semua mengenai mereka—Eunhyuk dan Lee Hyuk Jae. Aku yakin, kau pasti sebenarnya penasaran dengan kehidupan mereka berdua.” Jelas Heechul. Kentara sekali bahwa ia berusaha merayu Ikha agar yeoja itu mau datang kembali ke rumah sakit dan menolongnya.

Ikha diam untuk berfikir. Ia berusaha menimang-nimang kembali tawaran Heechul.

“Baiklah. Kali ini kau menang,” jawab Ikha dan disambut oleh anggukan puas dari Heechul.

“Tapi semuanya tergantung besok, Oppa. Aku harus mengetahui terlebih dahulu masa lalu Eunhyuk hingga ia bisa memiliki dua kepribadian seperti itu. Jika kurasa semuanya terlalu rumit, mungkin aku akan mundur dari misi-mu ini,” lanjut Ikha.

“Tentu. Kalau begitu kita bertemu di ruanganku besok jam 11 siang,”

***

Kyuhyun menurunkan majalah PlayBoy yang tengah dibacanya saat mendengar pintu apartment terbuka. Tubuhnya ia putar ke belakang dan mendapati Ikha tengah berjalan lemah ke arah kamarnya tanpa memandang sama sekali ke arahnya.

“Kenapa kau baru pulang?” selidik Kyuhyun.

“Ada sedikit urusan,”

“Bertemu dengan Heechul Hyung?”

Ikha mem-pause gerakannya saat Kyuhyun mengetahui apa yang telah dilakukannya. Ia melirik sekilas ke arah Kyuhyun yang tengah duduk diatas sofa ruang tengah lalu memutar arah kakinya menuju dapur. Ia sama sekali tak ingin beradu mulut dengan Kyuhyun jadi ia memutuskan untuk tidak menanggapi perkataannya.

“Semua tergantung padamu, Kha-ya. Tapi jika lain kali terjadi apa-apa, aku tidak akan menolongmu,” tukas Kyuhyun, menekankan setiap kata-kata yang diucapkannya.

Ikha tetap diam tak menanggapi kata-kata Kyuhyun. Kakinya ia seret dengan paksa ke arah dapur. Diperiksanya isi pendingin dan ketika ia menemukan sekotak kecil yoghurt, tangan Ikha-pun segera menyambar benda tersebut. Mungkin yoghurt dingin bisa sedikit melumerkan otaknya yang kini mulai membeku.

Yoghurt yang baru saja diambilnya ia letakkan diatas kitchen set. Ikha memasukkan sesuap yoghurt dingin tersebut kedalam mulutnya sambil memperhatikan keadaan diluar jendela kecil dihadapannya. Angin musim semi meniup dedaunan pada pohon-pohon besar yang ada disekitar apartment. Ikha mendengus. Harusnya ia memakan sesuatu yang hangat ditengah cuaca yang mulai dingin ini namun ia malah memilih melahap yoghurt dingin.

Saat fikiran Ikha tengah memikirkan hal-hal yang terjadi didalam kehidupannya, sepasang tangan dengan kokohnya melingkar manis disekitar pinggang, membuat Ikha terlonjak kaget dan refleks memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan si pemilik tangan.

Ia memukul dada Donghae agak kencang saat didapati namja itulah yang hampir membuat jantungnya keluar dari tempatnya.

Aissh, Oppa!” pekik Ikha sambil mengusap dadanya.

Donghae meletakkan kedua tangannya yang semula bertengger di pinggang Ikha pada sisi kitchen set. Membuat Ikha tak bisa bergerak karena Donghae sengaja meletakkan tangannya di kedua sisi tubuh Ikha.

“Mengagetkanmu?” tanya Donghae seraya mendekatkan wajahnya pada Ikha.

Ikha menjauhkan wajah Donghae dengan perlahan. Masalahnya, Kyuhyun ada didalam, apa jadinya jika kakaknya yang evil itu melihat posisi mereka seperti ini?

“Bagaimana kau bisa masuk?” tanya Ikha. Matanya ia arahkan pada sofa dimana Kyuhyun kini tak lagi duduk disana.

“Tidak begitu sulit memaksa Kyuhyun untuk menyuruhku masuk,” jawab Donghae seadanya. Ia mendekatkan bibirnya pada wajah Ikha dan berhasil mencium hidung Ikha dengan lembut.

Ya! Donghae Hyung! Kalau kau ingin berbuat mesum dengan Ikha, lebih baik jangan di dapur. Aku akan masuk ke kamar. Pakai saja ruang tamu,” celoteh Kyuhyun yang tak sengaja melewati mereka.

Ia berjalan kearah kulkas lalu mengambil beberapa bungkus snack. Setelah itu ia berjalan meninggalkan Donghae dan Ikha seolah tak melihat kedua makhluk yang masih saja menempelkan tubuhnya satu sama lain.

“YA! CHO KYUHYUN!” bentak Ikha seraya melempar serbet ke arah Kyuhyun. Ia melipat kedua tangannya didada kemudian menatap Donghae yang masih saja mengeratkan tubuh padanya.

“Sampai kapan Oppa akan terus seperti ini?”

Donghae tersenyum simpul. Tidak mengindahkan perkataan Ikha. Justru ia malah semakin mengeratkan tubuhnya dengan tubuh Ikha. “Sampai aku puas,” ucapnya sambil menyeringai meggoda.

Ikha mendengus sambil meniup poninya. “Paris ternyata sudah mencuci otakmu, huh? Dari kemarin kau selalu saja bertingkah seperti ini. M-E-S-U-M,” ujarnya sambil berusaha menjauhkan wajah Donghae yang sedari tadi berusaha menggapai bibirnya.

“Aku hanya merindukanmu, Kha-ya.” rengek Donghae manja. Kedua tangannya kembali bertengger pada pinggang Ikha sambil mengelusnya lembut.

Ikha menelan ludah. “Oke. Geumanhae, Oppa (Hentikan, Oppa). Lebih baik kita ke ruang tamu. Tempat itu lebih baik dibandingkan disini,” sergahnya sambil melirik ke arah tempat cucian piring yang penuh dengan peralatan dapur yang kotor.

“Apa pemeriksaannya berjalan lancar?” tanya Donghae disela langkahnya menuju ruang tamu.

Yeah, begitulah. Aku hanya diperiksa sebagai saksi. Oppa sendiri? Bagaimana urusan kantormu?”

“Hanya mengecek dokumen financial perusahaan. Setelah itu aku menyempatkan diri bertemu Eomonim dan segera meluncur kesini,”

Ikha mengangguk tanda mengerti. Yoghurt-nya ia letakkan diatas meja. Sekarang ia lebih tertarik dengan Donghae, bukan pada yoghurt lagi. “Mengenai pertunangan kita—“

“Kau tak perlu mengkhawatirkannya, Kha-ya. Semua berjalan sesuai rencana,” jelas Donghae, memotong kalimat Ikha.

“Tidak. Bukan itu maksudku, Oppa. Aku hanya ingin bertemu dengan orang-tuamu. Aku belum pernah sekalipun bertemu mereka,” pinta Ikha dengan nada memelas.

“Yang penting mereka sudah memberikan restu pada kita. Itu tidak akan menjadi masalah besar,” terang Donghae, mencoba meyakinkannya.

“Kau yakin? Bagaimana jika mereka tidak menyukaiku?” oceh Ikha lagi.

Donghae mengusap lembut pipi Ikha dan menatap dalam pada kedua matanya. “Mereka percaya padaku. Jadi berhentilah memikirkan hal-hal yang tidak perlu,” ujarnya.

“Eh? Siapa yang membaca majalah ini?” tanya Donghae saat ia menemukan majalah Playboy yang baru saja dibaca oleh Kyuhyun.

“Siapa lagi kalau bukan makhluk itu?” jawab Ikha. Dagunya bergerak menunjuk kearah kamar Kyuhyun yang tertutup rapat.

“KYUHYUN-AH!” panggil Donghae menggunakan suara yang cukup keras.

Kyuhyun membuka pintu kamarnya sedikit. Kepalanya menyembul keluar. “Ne, Hyung?

“Kau punya edisi ke XXI dari majalah ini?” tanya Donghae. Majalah tersebut ia angkat setinggi-tingginya agar Kyuhyun dapat melihatnya.

Kyuhyun menyipitkan mata sejenak. “Ne. Wae, Hyung? (Ya. Kenapa, Hyung?)”

“Boleh aku meminjamnya? Kudengar pada edisi itu yang menjadi cover-nya adalah Yuri SNSD,” pinta Donghae, diluar dugaan Kyuhyun dan juga Ikha.

“Kau juga suka membaca majalah itu, Hyung? Aku punya banyak,” tawar Kyuhyun. Ia membuka pintunya lebih lebar sedangkan Donghae segera berlari menuju kamar Kyuhyun.

Ikha menatap kedua namja tersebut tidak percaya. Oke, tidak jadi masalah jika Kyuhyun membaca majalah tersebut—karena memang itu adalah kebiasaannya yang tak bisa dicegah. Tapi Lee Donghae? Kekasihnya yang sangat tampan dan romantic itu?

“YA! LEE DONGHAE! CHO KYUHYUN!” teriak Ikha sejadi-jadinya.  Kedua namja itu tidak menyahut sama sekali. Mereka berdua sepertinya lebih tertarik memperhatikan majalah Playboy yang sengaja ditata rapih oleh Kyuhyun pada rak buku dekat lemari pakaiannya.

“DASAR NAMJA MESUM!!” pekik Ikha sambil melempar bantal sofa ke arah pintu kamar Kyuhyun.

***

Ikha berjalan dengan penuh kehati-hatian kedalam rumah sakit yang telah ditinggalkannya selama satu minggu. Tidak ada yang berubah. Semuanya masih sama seperti saat pertama kali dirinya datang kemari. Hanya saja, keadaannya lebih hening dari biasanya. Sejenak Ikha memperhatikan lantai lima dari luar gedung. Mungkin ada pasien yang sedang berbuat ulah diatas sana.

Ikha membungkuk beberapa derajat setiap kali ada orang yang melewatinya. Beberapa diantaranya malah ada yang menatapnya dengan death-glare mereka, membuat Ikha melemparkan senyum terpaksanya agar setidaknya mengurangi ketidaksukaan mereka terhadapnya. Maklum, namanya sempat masuk dalam surat kabar karena dianggap sebagai orang yang telah membawa lari pasien rumah sakit.

Saat ia tiba didepan ruangan Heechul, Ikha sengaja menghentikan langkahnya saat mendapati ada orang lain didalam sana. Dari pintu kaca tersebut, Ikha dapat mengenali sosok Heechul dengan baik. Namun ia sedikit menyipitkan mata saat melihat namja berambut putih yang sedang duduk didepan Heechul.

Namja itu tengah membicarakan sesuatu dengan Heechul. Sepertinya perbincangan mereka sangat serius. Terlihat dari mimik wajah namja berambut putih tersebut dimana dahinya mengeryit dan bibirnya terkatup rapat.

Tak lama kemudian, namja berambut putih memutar bola matanya ke arah Ikha. Sontak Ikha membulatkan matanya saat tahu bahwa namja tersebut adalah Eunhyuk. Dia telah mengecat rambut dan potongannya-pun berbeda dari rambutnya semula, terlihat lebih stylish.

Dengan agak canggung, Ikha berusaha tersenyum manis ke arah Eunhyuk. Sayang, Eunhyuk malah memalingkan wajahnya, membuat hati Ikha mencelos. Setelah itu, ia melihat Eunhyuk beranjak dari tempatnya lalu melangkah ke arah pintu. Sempat ia menatap Ikha tanpa ekspresi saat melewatinya, namun ia hanya membungkuk lalu kembali berjalan meninggalkan tempat tersebut tanpa kata-kata.

Ikha mengikuti arah kemana Eunhyuk pergi namun langkahnya terhenti ketika Heechul menepuk pundaknya. Serta merta ia membungkuk sopan pada Heechul dan menyapanya terlebih dahulu.

“Sudah lama?” tanya Heechul.

“Aku baru sampai,” jawab Ikha seadanya.

Ikha berjalan dibelakang Heechul lalu duduk pada sofa yang ada didalam ruangan Heechul. Ia melirik kearah pintu yang dapat melihat dengan jelas siapa saja yang melewati ruangan tersebut.

Oppa, apa tadi itu… Lee Hyuk Jae?” tanya Ikha, ia menggantungkan kalimatnya saat menyebut nama Lee Hyuk Jae.

“Dia Eunhyuk,” jawab Heechul cepat.

“Tapi tadi… dia terlihat agak aneh,”

Heechul mengambil beberapa dokumen dari dalam laci meja kerjanya lalu melepas kacamata bingkai hitam yang sedari tadi bertengger manis di hidungnya.

“Dia tidak mau melihatmu,” ungkap Heechul.

Mworagoyo? (Apa yang kau katakan?)”

“Dia tidak mau melihatmu karena kejadian tempo hari. Dia merasa malu karena kau telah melihat perubahan kepribadiannya. Dan karena hal itu, ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mendekatimu lagi,” terang Heechul.

“Kenapa dia berfikiran seperti itu? Aku sendiri tidak pernah merasa takut berada di dekatnya,” sungut Ikha.

“Dia takut Lee Hyuk Jae akan menyakitimu,”

“Hanya karena hal itu?”

Ikha mendengus seraya memutar bola matanya. Eunhyuk memang baik. Sangat baik malah. Tapi hanya karena masalah kemarin dia sampai memutuskan untuk tidak menemuinya? Bukankah Lee Hyuk Jae tidak berbuat macam-macam padanya? Lalu apa masalahnya?

“Ini data-data mengenai Eunhyuk. Sedangkan berkas biru adalah data Lee Hyuk Jae,”

Heechul menyerahkan dua dokumen tersebut pada Ikha dan yeoja itu menerimanya dengan senang hati. Sempat ia membalik beberapa lembar kertas namun perhatiannya lebih tertarik pada dokumen Lee Hyuk Jae.

Matanya membelalak hebat ketika membaca deretan tabel didepannya.

“Apa ini?” tanya Ikha, berusaha mencari tahu makna dibalik tabel tersebut.

“Kasus yang telah dilakukan Lee Hyuk Jae selama ini,” jelas Heechul seadanya.

Ikha menggeleng pelan menandakan bahwa ia sulit mempercayai semua ini. Ia menatap Heechul sesaat dan namja itu mengangguk, mengiyakan.

“Tidak mungkin,”

To be Continued…

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

92 thoughts on “MY NAME IS LEE HYUK JAE “Chapter 04””

  1. Mungkin ini commentnya telat banget ya tapi akhirnya bisa baca part ini, yaampun nunggu part ini dibuka dari jaman bahola >< nambah suka sm karakternya hyukjae disini, keren. Eh, tapi nggak tau kenapa kok ya rada empet gitu sama donghae disini kayak ada maksud jahat terselubung sm hyukjae, uh. Sip deh~keep writing

  2. Mungkin ini commentnya telat banget ya tapi akhirnya bisa baca part ini, yaampun nunggu part ini dibuka dari jaman bahola >< nambah suka sm karakternya hyukjae disini, keren. Eh, tapi nggak tau kenapa kok ya rada empet gitu sama donghae disini kayak ada maksud jahat terselubung sm hyukjae, uh. Sip deh~keep writing 🙂

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s