MY NAME IS LEE HYUK JAE “Chapter 03”

FF - My name is lee hyuk jae - New“DON’T BLOCK MA WAY, YOU JERK!!”

Hyuk Jae menatap Ikha tajam seraya mencengkeram kerah bajunya dengan erat. Nafas Hyuk Jae—yang penuh dengan amarah—beradu dengan nafas Ikha yang penuh dengan ketakutan. Suara Hyuk Jae yang terdengar begitu dalam tersebut menggema di sepanjang koridor.

Ikha berusaha untuk mengeluarkan kata-kata, namun mulutnya tak mampu bergerak sedikitpun. Ia terlalu kaget dengan perlakuan Hyuk Jae padanya.

Cukup lama Hyuk Jae menatap Ikha hingga akhirnya ia mengeluarkan teriakan kesalnya lalu mendorong tubuh Ikha ke belakang. Tubuh yeoja itu berbenturan dengan dinding di balik punggungnya kemudian dirinya tersungkur ke atas lantai setelah menimpa bangku panjang yang ada di dekat lift.

Hyuk Jae hanya menatap Ikha tanpa rasa iba sedikitpun. Nafasnya terus memburu dan tak henti-hentinya menghembuskan nafas berat dari mulutnya. Dada Hyuk Jae naik-turun dan kedua tangannya mengepal.

Don’t tryna stop me or you’ll get somethin’ more painful than this.” desisnya kemudian meninggalkan Ikha setelah ia menyingsingkan kaus putih yang dipakainya.

Saat Ikha masih mengelus siku tangannya yang cukup keras terbentur besi pada bagian bangku, pintu lift lainnya terbuka dan tampaklah Kyuhyun serta beberapa petugas rumah sakit lain keluar dari lift tersebut.

“CHO IKHA!”

Serta merta Kyuhyun menghampiri adiknya yang tengah tergeletak di lantai sambil mengelus beberapa bagian tubuhnya.

 “Gwenchana?” tanyanya, memastikan.

“Namja bernama Lee Hyuk Jae itu memang tidak tahu sopan santun. Kenapa namja aneh itu tidak dikurung saja?” rajuk Ikha, masih mengusap lengan dan lututnya.

“Dia pergi kemana?”

“Ke arah sana,” ucap Ikha seraya menunjuk arah koridor dimana Hyuk Jae itu pergi.

Tepat setelah keterangan dari Ikha, petugas yang ada di belakang Kyuhyun segera melesat pergi mengejar Hyuk Jae. Sementara itu, Kyuhyun menuntun Ikha dan membawanya pergi ke ruang kerjanya.

***

“Sebenarnya apa yang terjadi, Oppa?” tanya Ikha di tengah kegiatan Kyuhyun mengoles antiseptic pada siku tangan Ikha yang agak lecet akibat Hyuk Jae.

Kyuhyun tak mengucapkan satu patah kata-pun. Ia terus saja mengolesi antiseptic tanpa mempedulikan pertanyaan Ikha.

Oppa,” gumam Ikha, memaksa Kyuhyun untuk menerangkan lebih.

“Seharusnya aku memang tidak perlu mendengarkan kata-kata Heechul Hyung.” ucap Kyuhyun tiba-tiba.

“Aku tak apa-apa, Oppa. Yang penting sekarang tolong jelaskan apa yang sedang terjadi,” terang Ikha kemudian melepaskan tangan Kyuhyun hingga namja itu kini menatapnya tajam.

Jaebal (Kumohon),” pinta Ikha, lagi.

“Kenapa kau tidak menuruti perintahku untuk tetap didalam ruangan selama aku pergi?” sungut Kyuhyun pada akhirnya.

“Aku hanya keluar sebentar dan—”

“Aku akan menemui Heechul Hyung dulu,” ucap Kyuhyun, memotong pembicaraan Ikha.

“Cho Kyuhyun! Sudahlah, aku hanya sedikit lecet dan itupun karena ketidaksengajaan. Hyuk Jae ha—”

“DENGARKAN KATA-KATAKU, CHO IKHA!” bentak Kyuhyun hingga berhasil membuat Ikha memberenggut. Kakinya yang semula bergerak pasti ke arah pintu keluar kini terhenti seketika. Sadar karena dirinya telah berbuat kasar pada adiknya, Kyuhyun menghela nafas sesaat untuk mengontrol emosi.

“Untuk kali ini saja… dengarkan aku…” pinta Kyuhyun, sedikit lembut.

Ia menghampiri Ikha dan kembali duduk di sampingnya.  “Jangan mencari masalah dengan Hyuk Jae dan jangan membuat mood Eunhyuk berubah secara tiba-tiba. Arasseo?” jelasnya kemudian mengusap puncak kepala Ikha.

“Aku tidak mengerti, Oppa.” Bisik Ikha. Ia menatap Kyuhyun untuk meminta penjelasan lebih.

“Patuhi saja apa sudah kusebutkan barusan. Aku akan bertemu Hyung. Dan kau? Lebih baik segera berkemas dan pulang ke apartment-ku. Mungkin aku akan tiba jam 8 malam. Jadi kau harus menyiapkan makan malam untukku,” suruh Kyuhyun seenak jidatnya.

“Kau fikir aku ini istrimu?” ucap Ikha dengan nada sinisnya.

Kyuhyun menyipitkan matanya sambil menyeringai. “Bukan! Tapi kau adalah pembantuku,” ejeknya.

“YA!!”

***

Seperti biasa, keesokan harinya Ikha kembali ke rumah sakit untuk bertemu dengan Heechul. Ia harus berusaha mengorek informasi dari atasannya itu perihal penyakit yang diderita Eunhyuk karena tadi malam ia sama sekali tak berhasil membujuk Kyuhyun.

Ketika Ikha sampai di depan ruangan Heechul, tak sengaja ia mendengar percakapan antara dua orang namja didalam sana. Ikha menghentikan langkah, menempelkan tubuhnya pada dinding dan berusaha untuk menajamkan indera pendengarnya.

“Kau fikir namja bermarga Lee itu sudah tidak berbahaya, Hyung? Lihat akibat perbuatannya padamu!” pekik suara seorang namja yang sangat familiar bagi Ikha, Cho Kyuhyun.

“Kita harus mencari cara lain,” jawab suara lain—Heechul.

“Tidak. Aku sudah muak menghadapi sikapnya,” elak Kyuhyun.

“Kita masih memiliki Cho Ikha,”

Shireo! Kalau memang ada cara lain untuk menyembuhkan namja itu, cara yang paling ampuh adalah dengan memusnahkannya dari dunia ini!” Giliran Kyuhyun yang menyerang Heechul.

“Apa kau ingin berubah profesi menjadi seorang pembunuh?”

“Kalau artinya untuk melindungi adikku, jawabannya ‘ya’.”

“Dia hanya butuh kasih sayang dari kita semua, Kyu. Hanya itu,”

Tepat setelah perkataan terakhir Heechul, Ikha mendengar bunyi pecahan benda pecah atau apapun itu di dalam sana. Penasaran, yeoja itu sedikit mengintip dari pintu kaca ruangan Heechul dan dirinya mendapati Kyuhyun tengah menatap Heechul garang.

“KENAPA HYUNG SELALU MEMBELA HYUK JAE DAN EUNHYUK?” bentak Kyuhyun.

Heechul hanya melepas kacamatanya dan tersenyum simpul. Sama sekali tak tersulut emosi oleh kalimat Kyuhyun.

Jweoseonghamnida,” ucap Ikha setelah ia memutuskan untuk bergabung dengan perbincangan mereka.

“O—Ikha-sshi,” sahut Heechul, menyambut kedatangan Ikha.

“Kenapa kau kemari?” tanya Kyuhyun seraya menatap Ikha dengan tatapan tak sukanya.

“Aku ingin bicara dengan atasanku,” jawab Ikha seadanya.

Kyuhyun memandang Heechul yang tengah memperhatikan dokumennya. “Kita akan bicarakan ini nanti,” ucap Kyuhyun kemudian pergi meninggalkan kedua orang tersebut tanpa mengucapkan salam.

“Silahkan duduk, Ikha-sshi,” tawar Heechul.

Sambil duduk di sofa yang biasa ia duduki, Ikha memperhatikan sesuatu yang lain pada tubuh Heechul.

“Kenapa dengan pundakmu, Oppa?” tanya Ikha ketika ia melihat perban putih membalut manis pundak kiri Heechul.

“Hanya luka kecil. Kau sudah bertemu Eunhyuk hari ini?” tanya Heechul, mengalihkan pembicaraan.

“Belum. Aku baru datang dan segera ke ruanganmu,” jawab Ikha, berusaha untuk sesopan mungkin.

Oppa,” sahutnya.

“Hmm,”

“Aku masih bingung dengan kisah Eunhyuk. Bisa kau ceritakan padaku mengapa dia bisa menjadi bagian dari rumah sakit ini?” selidik Ikha.

“Dia tidak memberitahumu?” tanya Heechul balik. Ia masih saja membolak-balik dokumennya tanpa sedikitpun menoleh pada Ikha.

“Sepertinya dia tidak suka ketika aku membahas masalah itu,” jawab Ikha. Bola matanya bergerak mengikuti pergerakan Heechul.

“Kau akan segera mengetahuinya, Kha-ya. Secepatnya,” gumam Heechul, tersenyum manis hingga lesung di pipinya terlihat.

***

Angin semilir menerpa helaian rambut pendek Ikha secara perlahan, membuat yeoja itu menghentikan gerakan jemarinya yang tengah menari indah diatas keyboard notebook dan memilih untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya.

Ia memperhatikan keadaan sekelilingnya dengan seksama. Selama dirinya tinggal di Korea, Pulau Jeju-lah tempat paling indah yang pernah ditemuinya. Tapi sepertinya Jeju Island harus bersaing ketat dengan rumah sakit ini. Well, ia tidak tahu persis berapa hectare luas wilayah ini, yang jelas pemandangan didalam rumah sakit benar-benar membuatnya terpukau.

Saat ini ia tengah duduk diatas sebuah bangku panjang persis disamping sebuah danau buatan yang ada di hadapannya. Belum lagi pohon-pohon besar dan juga hamparan rumput hijau yang membuat udara disini begitu bersahabat.

As long as i’m here, I never met anyone who dared to sit there,”

Suara seseorang dari salah satu arah mata angin membuat Ikha menajamkan indera penglihatannya. Ia memutar kepala, menoleh ke kiri dan ke kanan dengan maksud untuk mencari si sumber suara. Dan ketika ia mendapati Hyuk Jae tengah berdiri sambil menyenderkan tubuhnya pada pohon besar disampingnya, yeoja itu mendengus meremehkan kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya.

Is this bench just yours? Wow, cool!” ledek Ikha tanpa sedikitpun memperhatikan Hyuk Jae.

Namja itu menyeringai. Ia menggeleng pelan kemudian berjalan perlahan mendekati Ikha. Yeah, alasan kenapa Ikha dapat menebak bahwa itu Lee Hyuk Jae adalah karena tiga alasan dibawah ini:

  1. Dia tidak menggunakan kacamata
  2. Suaranya terdengar angkuh dan sok
  3. Menggunakan bahasa Inggris dengan lancar

Is the impact of these events yesterday don’t make you feel deterrent?” tanya Eunhyuk tepat dibalik rambut Ikha.

Yeoja itu menutup telinganya dengan cepat. Udara panas yang keluar dari mulut Hyuk Jae membuat bulu kuduknya agak merinding.

Just a lil’ scratched. It’s not a big deal,” jawab Ikha, menantang Hyuk Jae.

Go. You’re only gonna bother me!” titah Hyuk Jae, mengusir Ikha pergi dari singgasana-nya.

I think you’re supposed to go from here. Can’t you see i’m doing ma report now?” ucap Ikha tak mau kalah. Ia melirik sekilas pada Hyuk Jae dengan tatapan sinis kemudian melanjutkan kembali aktivitasnya.

You’re pretty stubborn, huh?” ujar Hyuk Jae seraya duduk disamping Ikha.

So you are,” timpal Ikha. Yeoja itu kemudian membawa beberapa berkas yang tergeletak disampingnya lalu memilih untuk duduk diatas rerumputan tak jauh dari bangku yang sudah menjadi hak milik Hyuk Jae—Well, seperti itulah yang Hyuk Jae katakan.

Hyuk Jae memutar bola matanya sambil tersenyum singkat. Ia memperhatikan Ikha yang sedang sibuk membawa barang-barangnya untuk dipindahkan ke tempat lain. Baru saja Ikha duduk diatas hamparan rumput sambil meluruskan kedua kakinya, Hyuk Jae malah terlihat mengikutinya dan ikut meluruskan kakinya.

Ikha mendelik sesaat. Ia mengeluarkan desisan yang mampu membuat Hyuk Jae tersenyum menang. Yeah, Hyuk Jae merasa senang jika ia telah berhasil membuat orang-orang merasa kesal dengan tingkahnya. Apalagi dengan yeoja disampingnya ini.

Ikha memperhatikan Hyuk Jae yang tengah membaringkan tubuhnya menghadap langit. Ia mengenakan kacamata hitam dan kedua tangannya menopang kepalanya agar tidak bersentuhan dengan rumput. Dia mengenakan T-shirt Lee Cooper warna biru tua dan jeans belèl. Dan kesimpulan yang ia dapat: namja angkuh itu terlihat tampan dan mempesona.

I never thought before. A man whom are truly rough and cold-hearted like you, will love a place like this,” gumam Ikha sambil melanjutan ketikan laporan kuliahnya.

Hyuk Jae menggerakkan kakinya. Matanya yang terlindungi kacamata hitam terkatup rapat. “I’m bored. After all, the peoples—here—aren’t friendly enough to me,” rajuknya.

They’ll be friendly as long as you’re friendly to them,” ucap Ikha, bijak.

They can’t speak English and stupid,” jelas Hyuk Jae. Satu kata terakhir yang ia sebutkan tadi menggunakan intonasi yang cukup kasar.

Ikha menggeleng pelan. Sudut bibirnya tertarik membentuk seringaian. Sejenak ia mencuri pandang pada Hyuk Jae yang masih saja menikmati terpaan sinar matahari pagi itu. Sebenarnya namja ini cukup manis ketika diajak bicara seperti ini. Hanya saja, nada bicaranya masih saja terdengar angkuh.

Hei, i’ve a question,” ucap Ikha tiba-tiba.

I don’t wanna answer it,” balas Hyuk Jae tak peduli.

Ikha mendengus. Poninya ia tiup cukup kencang kemudian berkacak pinggang. “What’s your relationship with Eunhyuk? You guys are twins?” tanyanya.

Hyuk Jae menurunkan sedikit kacamata hitamnya hingga bola matanya yang agak kecokelatan tersebut agak terlihat. “Who is he? An alien from Jupiter?” ejeknya kemudian membetulkan kembali letak kacamatanya.

I’m serious,”

So am i,”

Hyuk Jae lalu memposisikan tubuhnya setengah duduk dengan bertumpu pada salah satu siku tangannya. Ia balas menatap Ikha yang sepertinya mulai kesal dengan sikapnya.

I don’t know who he is and stop askin’ me ‘bout anything. I wanna sleep.” Terang Hyuk Jae setengah mendesis.

You’re such a bad boy,” maki Ikha, membuat Hyuk Jae yang tadinya sudah berniat untuk membaringkan kembali tubuhnya malah menatap Ikha dalam.

If you talk once again, i’ll toss you into the pond over there,” ancam Hyuk Jae.

Oh, yeah?” tantang Ikha sambil menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan seolah meledek Hyuk Jae.

I’m not kidding, Miss.” Desis Hyuk Jae lagi.

Wooo, i’m so scared,” ucap Ikha. Kedua tangannya yang mengepal ia satukan kemudian kepalan tersebut menutupi mulutnya—bertingkah seperti orang yang ketakutan.

Karena malas dengan tingkah Ikha yang selalu saja berhasil memancing kesabarannya, Hyuk Jae mengambil beberapa berkas Ikha yang tergeletak begitu saja disampingnya lalu melemparnya sembarangan ke arah danau buatan.

“YA! MA REPORT!!” teriak Ikha histeris ketika melihat kertas-kertas tersebut beterbangan dan jatuh di atas permukaan air.

Ia meletakkan notebook-nya lalu berdiri disamping danau. Tadinya Ikha berniat untuk loncat kedalam sana namun niatnya ia urungkan ketika melihat air danau yang begitu hitam pekat. Ia tak menemukan dasar danau tersebut dan membuatnya ber-spekulasi bahwa mungkin saja ada banyak piranha yang berenang didalam sana.

“WHY THERE’S A MAN LIKE YOU IN THIS WORLD?” pekik Ikha pada Hyuk Jae. Kakinya ia hentakkan beberapa kali keatas tanah, membuat Hyuk Jae mengeluarkan tawa renyahnya.

Hyuk Jae menepuk-nepuk T-Shirt Lee Cooper dan juga jeans-nya saat ia berdiri dari posisinya kemudian ia tersenyum licik pada Ikha sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.

See ya soon,” sahut Hyuk Jae seraya pergi menjauh meninggalkan Ikha yang masih menggerutu disamping danau.

 “HEI, YOU, BASTARD! YOU MUST ACCOUNT FOR THIS!” teriak Ikha sekencang-kencangnya, berharap namja berperilaku layaknya preman Pasar Minggu tersebut mau berbalik dan mengambil berkas yang ia lempar ke danau.

Sayang, Hyuk Jae malah memasukkan satu tangannya pada saku jeans dan tangan lainnya melambai ke arah Ikha. Berjalan dengan angkuhnya tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.

“LEE HYUK JAE, YOU’RE SICK!!!” makinya.

***

Eunhyuk mengerang tertahan ketika baru saja terbangun dari tidurnya. Ia memperhatikan sekeliling tempat tersebut dengan seksama. Dahinya mengerut. Kepalanya mendadak pusing saat itu juga.

Ini bukan kali pertamanya ia lupa bagaimana dirinya bisa tertidur di tempat yang berbeda—bukan di ruangannya. Dan yang paling dibencinya adalah kacamata minus-nya selalu tak ada disampingnya. Biasanya ia selalu ingat untuk tidak meletakkan alat yang membantu penglihatannya itu tak jauh darinya. Tapi benda itu selalu saja menghilang dari tempatnya.

Eunhyuk berjalan dengan penuh hati-hati ke arah sinar yang menyorot tak jauh darinya. Sempat ia menabrak beberapa benda yang menghalangi jalan hingga membuatnya hampir jatuh tersungkur. Namun apa daya, ia harus mampu berjalan tanpa kacamatanya.

Tak jauh dari sana, Ikha menghentikan langkah kakinya saat menemukan Eunhyuk tengah berusaha memapah tubuhnya sendiri. Yeoja itu memperhatikan dengan seksama. Sebelum ia menghampiri namja itu, ia harus menerka-nerka terlebih dahulu, apakah itu Eunhyuk atau Hyuk Jae. Dan saat ia melihat namja itu yang sepertinya terlihat lemah. Ia dapat menarik kesimpulan.

“OPPA!!” sapa Ikha dari kejauhan kemudian berlari mendekati Eunhyuk.

Eunhyuk sedikit mendongakkan kepalanya. Suara yeoja itu jelas sekali merupakan suara milik Cho Ikha. Well, ia sedikit bersyukur karena akhirnya ada orang yang menemukannya.

“Apa yang Oppa lakukan disini?” tanya Ikha seraya memegang lengan Eunhyuk dengan erat. Ia memperhatikan bangunan di belakang Eunhyuk yang sepertinya sudah tak digunakan oleh penghuni rumah sakit.

Na ddo Molla (Aku juga tidak tahu). Kha-ya, tolong antarkan aku ke ruangan Heechul Hyung. Aku harus mengambil kacamata cadanganku,” suruh Eunhyuk.

Ikha hanya mengangguk dan tanpa banyak tanya lagi segera membawa namja itu ke lantai tiga dimana ruangan Heechul berada.

***

“Heechul Oppa mencarimu kemana-mana dan ternyata kau malah berada di gedung usang itu,” ucap Ikha, membuka pembicaraan.

Ia menyerahkan sebuah kacamata berbingkai hijau pada Eunhyuk setelah namja itu menyuruhnya untuk mengambilkan benda tersebut didalam lemari kayu milik Heechul.

“Kau sendiri? Apa yang kau lakukan disana?” tanya Eunhyuk balik seraya mengenakan kacamata tersebut. Tubuhnya ia rebahkan pada sofa yang didudukinya sambil mengusap rambut brown-black-nya dengan lemah.

“Aku disuruh mengantarkan berkas Heechul Oppa ke ruang meeting. Dan aku sengaja melewati lorong itu karena itu jalan tercepat menuju gedung utama,”

Ikha memperhatikan Eunhyuk yang terlihat sedikit berantakan. Namja itu tidak terlihat seperti biasanya. Tidak banyak bicara dan tidak juga mengumbar senyum yang biasa ia bagi setiap kali mereka bertemu.

Neo gwenchanji, Oppa? (Apa kau baik-baik saja, Oppa?)” selidik Ikha. Terselip rasa khawatir didalam perkataannya.

“Menurutmu?”

Ikha menggedikkan bahu. Ia memposisikan diri duduk didepan Eunhyuk sambil sesekali melirik ke arahnya. Namja itu sedari tadi terus saja memijat pelan kening dan juga pelipisnya.

“Apa kau sudah makan? Seharian ini aku belum melihatmu,” ucap Ikha, mencoba mencairkan suasana kikuk diantara mereka.

“Aku tidak lapar,” jawab Eunhyuk seadanya.

Ikha hanya mengangkat kedua alis. Well, sepertinya Eunhyuk tidak begitu tertarik dengan perbincangan ini. Karena itu, Ikha memutuskan untuk membereskan berkas-berkas miliknya serta benda-benda lain yang berserakan diatas meja.

“Apa itu?” tanya Eunhyuk saat ia tak sengaja memperhatikan kesibukan Ikha.

“Oh, ini berkasku yang jatuh ke danau buatan di belakang gedung,” jawab Ikha tanpa mengurangi sedikitpun gerakan tangannya saat merapihkan kertas-kertas yang sudah tak berbentuk tersebut.

Eunhyuk membetulkan posisi tubuhnya. “Bagaimana bisa?” tanyanya. Yeah, setidaknya ia harus sedikit perhatian pada Ikha yang sedari tadi sedikit diacuhkannya.

“Ini semua gara-gara namja bodoh bernama Lee Hyuk Jae itu. Kalau bukan karena dia, mungkin sekarang ini aku sudah pulang ke rumah,” maki Ikha. Kentara sekali bahwa dirinya kesal akibat perbuatan Hyuk Jae. Lihat saja, bibirnya yang semula masih rata kini agak maju ke depan.

Eunhyuk memperhatikan ke arah jendela ruangan Heechul. Diluar gelap. Itu berarti sekarang sudah malam. Ia melirik ke arah jam dinding dan jarum panjangnya menunjuk ke arah angka sebelas. Kemudian, ia kembali memperhatikan Ikha. Tatapannya mendadak kosong, seolah otaknya tak terisi apapun. Tangan Eunhyuk—refleks—memegang dadanya lalu meremas T-Shirt yang menutupi tubuhnya itu dengan perlahan.

Mianhae,” ucap Eunhyuk tiba-tiba.

“Kenapa Oppa meminta maaf?”  kilah Ikha.

Eunhyuk tersenyum sesederhana mungkin seraya menatap Ikha yang kini tengah menatapnya juga. “Lee Hyuk Jae itu mirip denganku ‘kan? Anggap saja aku yang melakukannya jadi aku meminta maaf,” jelasnya.

Ikha tertawa kecil. Ia memastikan semua barang-barangnya beres dan setelah itu beralih untuk membereskan meja kerja Heechul.

“Dia itu memang harus diberi pelajaran mengenai tata krama dan sopan santun,” aku Ikha, bersenda gurau.

“Apa dia menyakitimu?” tanya Eunhyuk penasaran.

Ani. Well, dia hanya mencari masalah saja dan belum sempat menghajarku,” ucap Ikha diselingi tawanya.

Eunhyuk mendengus. Bola matanya berputar ketika mendengar pernyataan Ikha. Dalam hati ia berfikir, sepertinya yeoja ini terlalu menganggap remeh namja bernama Lee Hyuk Jae itu.

“Kau tidak takut?” tanya Eunhyuk sambil memperhatikan ekspresi Ikha. Dan benar saja, yeoja itu hanya mendengus sambil tertawa meremehkan.

“Untuk apa? Harusnya dia yang takut padaku,” tukasnya.

“Jangan menganggap remeh padanya, Kha-ya. Dia… cukup berbahaya,” ucap Eunhyuk agak ragu pada kalimat keduanya.

“Bagaimana Oppa tahu tentang hal itu?” tanya Ikha.

Eunhyuk diam sejenak. Otaknya sedang memilah-milah kata mana yang tepat untuk disebutkan. “Aku… sempat mendengarnya dari Heechul Hyung,” ucapnya.

“Aku hanya tidak habis fikir. Kenapa antara Hyuk Jae dengan Oppa sama sekali tidak mengenal satu sama lain. Kalian berdua sangat mirip, Oppa. SANGAT MIRIP—tolong garis bawahi itu,” oceh Ikha. Kini ia kembali duduk dihadapan Eunhyuk. Menatap namja itu tanpa berkedip sedikitpun.

“Kau ingin mngetahuinya?”

“Tentu saja,”

Eunhyuk tersenyum simpul. “Baiklah. Aku akan memberitahumu. Tapi sebelumnya kau harus mengantarku ke kantin. Mendadak aku ingin makan sesuatu,” ujarnya seraya mengelus permukaan kulit perutnya.

Ikha mengangguk tanda mengiyakan ajakan Eunhyuk. Setelah menyimpan tas dan juga benda-benda lainnya ke dalam lemari, Ikha berjalan ke arah kantin rumah sakit disertai Eunhyuk yang berjalan disampingnya.

“Memangnya apa yang kau tahu tentang Hyuk Jae?” tanya Ikha disela langkah kakinya.

“Semuanya,”

“Bukankah kau bilang bahwa kau sama sekali tak pernah melihatnya?”

“Memang benar. Tapi aku mengetahui segala hal tentangnya,”

Mulut Ikha membulat membentuk huruf O. “Sounds good. Ah—Oppa, bagaimana kalau kita makan Chogojuchang? Ada sebuah kedai makanan di depan gedung ini dan rasanya lumayan juga. Bukankah Oppa bilang kalau Oppa bosan dengan makanan disini?” ocehnya antusias.

Chogojuchang? Apa itu?” tanya Eunhyuk. Dahinya mengerut. Maklum, seumur hidupnya, dia hanya mengenal beberapa jenis makanan saja.

“Kau akan tahu nanti. Kkaja!” ajak Ikha seraya menggenggam pergelangan tangan Eunhyuk lalu menariknya pergi.

Eunhyuk menahan tarikan tangan Ikha dan menatapnya dengan mata memelas. “Chagama! Kha-ya, kau tahu ‘kan kalau aku tidak boleh keluar dari gedung ini?” cegahnya.

It’s ok. Aku yang akan bertanggung-jawab. Lagipula semua petugas dan psikolog sedang berkumpul di lantai lima. Katanya ada pasien yang berulah ketika sedang melakukan terapi. Mmm, aku lupa siapa namanya. Ye…soung? Ye…seung?”

“Maksudmu ‘Yesung’?”

“Ah—itu maksudku,” timpal Ikha, membenarkan.

Eunhyuk mengarahkan pandangannya ke arah jendela lantai lima. Sepanjang lantai itu, lampunya menyala terang. Yeah, Yesung adalah salah satu namja yang di karantina disini. Heechul bilang, dia mengidap skizofernia akut.

Eunhyuk kembali menatap Ikha. Yeoja itu tengah memperhatikan pintu keluar gedung yang tak dijaga oleh siapapun.

 “Kau serius mengajakku keluar?” seloroh Eunhyuk, masih ragu untuk menerima ajakannya.

“Tentu. Bukankah Oppa ingin menikmati udara di luar sana?”

“Ya. Tapi—“

“Sudahlah. Oppa terlalu banyak berfikir,” ucap Ikha kemudian menarik Eunhyuk sekuat tenaga. Mau tak mau Eunhyuk-pun mengikutinya meskipun ia terus memohon untuk tidak memaksanya.

“Kha-ya, jaebal (kumohon)” desah Eunhyuk, pasrah.

Eunhyuk memperhatikan gerak-gerik Ikha dengan seksama. Yeoja itu tengah menekan beberapa tombol pengaman kemudian menggesek sebuah kartu yang terselip diantara kantung blazzer Sapphire Blue yang dipakainya pada sesuatu yang tak dimengertinya.

Setelah lampu disamping tombol tersebut berubah menjadi warna hijau, Ikha tersenyum senang seraya menatap kamera pengintai di pojok ruang penjaga gerbang yang kosong tak berpenghuni tersebut sambil ber-mehrong ria.

“Bagaimana kau bisa tahu semua itu?” tanya Eunhyuk, dagunya bergerak menunjuk kartu yang ada di tangan Ikha.

“Aku bekerja disini. Jadi…..”

Ikha menghentikan kalimatnya ketika pintu gerbang yang terbuat dari besi dan tembaga setebal setengah meter serta dengan berat mencapai 70 ton tersebut bergerak perlahan. Mata Eunhyuk mengikuti pergerakan pintu besi tersebut dan ia sempat membeku ketika mendapati sesuatu yang lain didepannya.

Eotte-o? (Bagaimana?)” tanya Ikha seraya menarik Eunhyuk menjauh dari pintu gerbang.

Namja tersebut memperhatikan sekelilingnya dengan seksama. Matanya sama sekali tidak melewatkan apapun yang ada disekitarnya. Lampu jalanan, tong sampah, trotoar, billboard yang menampilkan iklan minuman tonic, gedung-gedung beraneka bentuk, dan juga mobil yang sesekali melewati mereka.

“Kha-ya,”

“Hm?”

Yeppeudda (Sangat indah),” gumam Eunhyuk sambil terus memperhatikan benda-benda disekelilingnya. Bahkan tangannya sempat mengelus tiang halte bus yang sempat dilewati mereka.

Ikha tersenyum. “Kau terlihat sangat senang, Oppa.”

“Ini pertama kalinya aku bisa melihat dunia,” ucap Eunhyuk, masih menatap takjub gedung-gedung yang berderet rapih didepannya.

“Sebelum kita pergi ke kedai chogojuchang, aku akan membawamu ke minimarket yang ada di ujung jalan. Aku ingin mentraktirmu makan ice cream,” kata Ikha tanpa sedikitpun memelankan langkah kakinya.

Ice cream?

Eum. Tolong jangan katakan padaku kalau kau tidak tahu apa itu ice cream,” tukas Ikha lalu mengarahkan telunjuknya pada Eunhyuk.

Eunhyuk tersenyum tipis. “Aku pernah melihatnya di majalah. Tapi aku tidak pernah mencobanya,” jelasnya apa adanya.

Ikha memutar bola matanya tak percaya. “Sebenarnya kau ini hidup di zaman apa, Oppa?” ucapnya setengah meledek.

Lagi, Eunhyuk hanya tersenyum tipis menanggapinya. “Sudah kukatakan kalau hidupku ini sangat rumit,” akunya sembari memandangi sekelilingnya tanpa megurangi sedikitpun senyum di wajahnya.

***

Ikha dan Eunhyuk keluar dari pintu minimarket sambil menggenggam ice-cream ditangan mereka masing-masing. Terlihat dengan jelas bagaimana namja itu begitu gembira ketika dirinya merasakan ice cream untuk pertama kalinya.

Dan ketika mereka berada di persimpangan jalan menuju kedai makanan, mereka dikejutkan oleh kehadiran empat orang namja. Keempat namja yang sepertinya bukan warga asli Korea tersebut menutup jalan Ikha dan Eunhyuk sehingga mereka tak bisa lewat. Ikha dan Eunhyuk sama-sama terdiam ditempat. Keempat pasang mata tersebut mengarahkan pandangannya pada mereka dengan tajam.

Excuse me, Sir. You—

“GIMME UR WALLET!” bentak namja berambut pirang pada Ikha seraya mengarahkan sebilah belati yang cukup tajam.

Ikha tersentak kaget hingga ice cream yang dipegangnya jatuh ke  atas aspal jalan. Eunhyuk hanya diam. Tubuhnya tidak bergerak sedikitpun. Hanya saja tangannya yang sedang memegang ice cream agak bergetar dan berkeringat.

“M-m-menjauh darinya,” ucap Eunhyuk memberanikan diri. Ia berjalan selangkah didepan Ikha kemudian mendorong yeoja itu untuk bersembunyi dibalik punggungnya.

Ikha merasakan ada rasa takut yang terpancar dari wajah Eunhyuk. Dalam hati ia berfikir, jika tahu keadaannya seperti ini, ia tidak akan mengajak Eunhyuk keluar gedung rumah sakit. Yeoja itu memperhatikan sekelilingnya dan yang didapati hanya keheningan dimana-mana. Mereka ada dipersimpangan jalan dan sekarang sudah pukul 12 malam lewat. Jalanan sudah cukup sepi.

Hei, you dummy! Go away, or you’re gonna out of luck,” ucap namja berambut gondrong seraya melayangkan pisau miliknya pada Eunhyuk.

Diluar dugaan, dua orang namja yang tidak bergerak sedikitpun didepannya bergerak cepat dan mencengkeram kedua lengan Ikha dengan erat. Lalu mereka menyeret Ikha agak menjauh dari Eunhyuk dan kedua temannya yang sama-sama mengacungkan pisau mereka.

“ANDWAE!” pekik Eunhyuk.

Ketika dirinya hendak menghampiri Ikha yang tengah meronta dari dua namja yang mencengkeramnya, namja berambut pirang memukul punggung Eunhyuk hingga dirinya jatuh tersungkur.

“OPPA!” teriak Ikha saat dirinya melihat Eunhyuk terkulai di jalanan.

Dua namja tersebut kini tengah menendang perut dan juga beberapa bagian tubuh Eunhyuk tanpa belas kasihan sedikitpun. Eunhyuk mengerang. Ia tak bisa berbuat apa-apa karena dirinya sendiri sebetulnya tidak bisa berkelahi.

Ikha mencoba melepas cengkeraman dua namja disampingnya itu dengan terus meronta meskipun hasilnya nihil. Yeoja itu berteriak histeris ketika namja berambut gondrong melepas kacamata Eunhyuk lalu menginjaknya hingga kepingan lensa berserakan dimana-mana. Eunhyuk mencoba meraih kacamatanya namun namja berambut gondrong tersebut malah menginjak punggung tangan Eunhyuk dan membuat namja itu mengerang kesakitan.

“DON’T TOUCH HIM, YOU BASTARD!” pekik Ikha berusaha untuk menghentikan tindakan kedua namja tersebut.

“SHUT UP, BITCH!” tukas namja bermata biru yang tengah mencengkeram lengan Ikha kemudian menampar pipinya hingga Ikha terdiam.

Disudut matanya, Eunhyuk melihat perlakuan kedua namja tersebut pada Ikha. Tangan kirinya memegangi perut yang terasa sakit bekas tendangan namja berambut pirang sedangkan tangan kanannya mencoba menepis kaki namja berambut gondrong yang terus saja menginjak jarinya.

“Ja-jangan… sentuh d-d-dia,” ucap Eunhyuk terbata-bata.

Sayang, bukannya berhenti, kedua namja tersebut terus saja menendang dan memukul Eunhyuk tanpa ampun. Namja berambut pirang mengecek kantung Eunhyuk namun ia tidak menemukan dompet atau apapun yang diinginkannya.

Damn. He doesn’t have anything,” ucap namja berambut pirang.

So? What are we gonna do?” tanya si namja berambut gondrong.

Namja berambut pirang lalu menatap Ikha sejenak. Ia mengusap dagu dan tatapannya penuh dengan niat busuk. Bulu kuduk Ikha seketika berdiri saat mendapati tatapan keempat pasang mata tersebut disertai tawa mereka yang sungguh mengerikan. Ya, ia sudah tahu maksud mereka. Mereka menginginkannya.

Firstly, we must run this guy,” gumam si namja berambut pirang.

“NO!” teriak Ikha histeris saat mendengar apa yang dikatakan namja tersebut.

Tapi namja berambut pirang tak menggubris kata-kata Ikha. Dengan menggunakan kakinya, ia mendorong tubuh Eunhyuk yang sedang meringkuk sambil menahan sakit di perutnya tersebut hingga namja itu terlentang di atas aspal jalan. Sementara kaki satunya menopang tubuhnya, kaki yang lain ia arahkan pada leher Eunhyuk lalu menginjak pangkal lehernya dengan sekuat tenaga. Sontak tangan Eunhyuk memegang kaki namja itu dan berusaha untuk melepaskan benda yang telah membuatnya sulit untuk bernafas.

“DON’T DO THAT TO HIM, COWARD! STAY AWAY FROM HIM!” pekik Ikha. Sungguh, ia sudah tidak kuat melihat pemandangan tersebut. Eunhyuk adalah namja yang lemah. Dan saat ini, keadaannya merupakan tanggung-jawab terbesarnya.

“FINE! I’LL GIVE YOU MA WALLET. BUT PLEASE, DON’T HIT HIM!” pinta Ikha.

Namja berambut pirang hanya melirik sekilas pada Ikha lalu kembali menatap Eunhyuk. Bukannya melepaskan Eunhyuk, namja itu malah semakin mengencangkan injakan kakinya pada leher Eunhyuk, membuat kaki Eunhyuk menendang-nendang ke udara tak karuan.

 “You’re late,” ucap namja berambut gondrong yang kini tengah melayangkan pisau belatinya pada Eunhyuk.

“NO!!!” teriak Ikha. Ia terus saja mencoba melepas tangannya meskipun usahanya sia-sia belaka. Kedua namja disampingnya terlalu kuat menahannya.

“EUNHYUK OPPA!!” pekik Ikha untuk kesekian kalinya.

Buliran air mata mulai menitik menghiasi wajah Ikha. Ia tidak sanggup melihat pemandangan ini. Kini di benaknya dipenuhi oleh kata-kata Eunhyuk yang selalu mengatakan bahwa malam ini adalah malam pertamanya melihat dunia. Ia merasa bersalah akan hal itu. Harusnya ia memberi kesan indah mengenai dunia ini, tapi Eunhyuk malah mendapat sesuatu diluar dugaannya.

Saat Ikha terus saja memohon pada kedua namja yang terus menyiksa Eunhyuk agar mereka melepaskannya, ia melihat namja berambut gondrong kembali melayangkan benda tajam tersebut pada Eunhyuk.

Mata Eunhyuk yang tak begitu jelas menatap pisau yang siap menancap di tubuhnya itu langsung menutup. Ia mengerang cukup lama sambil memegang kaki namja berambut pirang yang terus saja menginjak lehernya. Tiba-tiba tubuhnya bergerak seperti tersengat listrik. Kepala Eunhyuk tak henti-hentinya bergerak kesana kemari. Dan sedetik kemudian, Eunhyuk terdiam. Kedua matanya menutup namun dadanya bergerak naik-turun.

What happen with him?” tanya si namja berambut gondrong.

I don’t know. Maybe he’s afraid,” jawab namja berambut pirang disertai tawa menghinanya.

Namun tiba-tiba mata Eunhyuk membuka dengan cepat. Tatapan matanya lebih tajam dari sebelumnya. Wajahnya seolah menyiratkan dendam dan memancarkan aura jahat. Belum sempat namja berambut pirang itu menyadari bahwa Eunhyuk menatapnya tajam, tangan Eunhyuk mencengkeram pergelangan kaki si namja lalu menarik kaki tersebut hingga namja itu jatuh tersungkur.

Ikha tercengang ketika melihat perubahan sikap Eunhyuk yang tiba-tiba tersebut. Tatapan matanya seperti bukan Eunhyuk. Yang ini lebih tajam dan menyeramkan. Seperti orang lain yang dikenalnya.

Saat Ikha masih bingung dengan sikap Eunhyuk, ia kembali dikejutkan ketika namja yang dikenalnya sebagai pasien rumah sakit itu menendang namja berambut gondrong hingga terpental dan menabrak tiang lampu lalu lintas. Namja itu terkulai lemah dan kesempatan itupun dipakai Eunhyuk untuk menghampiri namja tersebut. Eunhyuk mengambil pisau yang ada ditangan namja gondrong lalu mengarahkan benda itu pada wajah si namja.

Are you tryna kill me?” ucap Eunhyuk, mendesis.

Namja gondrong tersebut mengerang. Ia menatap Eunhyuk lalu berteriak ketika kaki Eunhyuk menendang alat vitalnya sekuat tenaga. Dan ketika namja itu meringkuk kesakitan, tangan Eunhyuk mencengeram lehernya hingga namja itu mau tak mau berhadapan dengan wajahnya.

Say goodbye to the world, buddy,

Tepat setelah Eunhyuk mengucapkan kata terakhirnya, belati yang digenggamnya ia hunuskan pada leher si namja. Sengaja Eunhyuk tidak mencabut pisau tersebut yang tertancap manis di leher namja itu hingga darah segar menyembur keluar menghiasi pakaian si namja.

Bukan kedua namja yang tengah menahan Ikha saja yang meringis. Tapi dirinya juga. Ikha menelan air liurnya bulat-bulat saat mendapati Eunhyuk dengan santainya membunuh si penjahat tersebut. Sulit bagi Ikha untuk mempercayai apa yang telah dilihatnya. Eunhyuk namja yang manis dan baik, bukan pembunuh seperti sekarang ini.

“YOU’VE KILLED MY FRIEND!!” bentak namja berambut pirang dibalik punggung Eunhyuk. Tubuhnya yang sempat tersungkur akibat perlakuan Eunhyuk barusan kini kembali tegap. Ia berlari ke arah Eunhyuk sambil mengayunkan pisaunya.

Eunhyuk memutar tubuhnya lalu tersenyum merendahkan. Ia menjilat bibir bawahnya kemudian menyelipkan jari-jari diantara rambutnya.

Namja berambut pirang menyerang Eunhyuk—membabi-buta. Namun seolah telah terlatih dengan baik, Eunhyuk dapat berkelit hingga kini keadaan malah terbalik: Eunhyuk berhasil membuat namja itu tersungkur lagi. Eunhyuk menginjak leher namja pirang tersebut sekuat tenaga, membuat namja itu merintih kesakitan.

Hei, t-t-take me offakh,” ucap si namja, kesulitan untuk bicara karena lutut Eunhyuk-lah yang kini menekan lehernya.

Namja itu menatap Eunhyuk ketakutan. Sedangkan Eunhyuk malah tersenyum saat melihat wajah namja itu mulai memerah.

W-w-who are you?” tanya si namja terputus-putus.

Me? Are you askin’ me ma name?” ucap Eunhyuk balik bertanya. Ia mengambil pisau yang tergeletak disamping namja tersebut. Sempat ia perhatikan pisau itu dari berbagai sudut dan setelahnya benda itu ia letakkan di pipi si namja. Membuat namja itu bergetar karena ketakutan.

Eunhyuk menekan ujung pisau yang tajam tersebut pada pipi si namja hingga timbul goretan kecil akibat benda tersebut. Namja itu mengerang saat perih mulai terasa pada kulit pipinya.

My name is Lee Hyuk Jae. But when i wanna kill someone, peoples call me Tyrone,” jelas Eunhyuk, santai.

And because you’re seeking matters from me, i’ll determine first that you’ll die in my hand,” imbuhnya.

Dari kejauhan Ikha terhenyak. Bukan karena Eunhyuk telah membunuh salah satu diantara mereka. Namun ia terhenyak karena mendengar pengakuan Eunhyuk. Mata Ikha membulat saat Eunhyuk mengatakan bahwa dirinya adalah Lee Hyuk Jae. Ikha menunduk, mencoba mencerna apa yang dilihatnya.

“ARGH!”

Suara teriakan namja pirang tersebut berhasil membuat Ikha menegakkan kepala. Ia kembali dikagetkan oleh keadaan dihadapannya. Ya, Eunhyuk—atau sekarang ini bersosok Lee Hyuk Jae—telah membunuh namja pirang tersebut dengan menusukkan pisau tersebut beberapa kali pada perutnya.

Ikha mendengar kedua namja disampingnya berbisik-bisik pelan. Mereka berniat untuk pergi agar tidak menjadi korban selanjutnya dari Eunhyuk. Sayang, belum sempat mereka kabur, Eunhyuk telah menatap mereka dengan tajam.

Ia berdiri dari tempatnya setelah membersihkan darah yang berlumuran di jemarinya menggunakan kaus namja pirang yang telah mati tersebut. Ia berdiri tegap. Tatapannya seperti seekor elang yang siap menerkam mangsanya.

Saat mata Eunhyuk menatap sinis ke arah namja yang tengah mencengkeram Ikha, mata Eunhyuk malah terhenti pada Ikha. Kepalanya ia miringkan sejenak untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah lihat.

Eunhyuk mendengus pelan sambil memutar bola matanya. Sedetik kemudian, ia berjalan perlahan mendekatinya setelah mencabut pisau yang tertanam pada mayat si namja pirang.

Kedua namja yang mencengkeram Ikha melepaskannya lalu berjalan mundur seiring langkah Eunhyuk yang kian mendekat. Mereka merogoh kantung jeans lalu mengambil sebilah pisau yang mereka sembunyikan.

Don’t come near to us,” gumam si namja bermata biru. Kentara sekali bahwa dirinya tengah dilanda ketakutan.

Eunhyuk memasukkan kedua tangannya pada kantung jeans yang dipakainya. Ia memutar bola mata kemudian tersenyum sinis. “What will you do if i do so?” ucap Eunhyuk balik bertanya.

Kedua namja tersebut memundurkan langkahnya dengan cepat sambil terus mengarahkan pisau mereka pada Eunhyuk. Mereka takut jika namja itu menyerang tiba-tiba. Tanpa gentar sedikitpun, Eunhyuk mempercepat langkahnya. Matanya tak berkedip sedikitpun saat mengarah pada kedua namja itu. Dan saat Eunhyuk siap menyerang mereka, Ikha menghalangi Eunhyuk lalu menahan tubuhnya—meskipun aslinya Ikha sangat takut untuk berdekatan dengan Eunhyuk.

“Eunhyuk Oppa,” gumam Ikha setengah mendesis. Ia menatap Eunhyuk dan mentalnya menciut saat mendapati mata Eunhyuk yang memerah diterpa lampu jalan yang temaram.

Eunhyuk terdiam ditempat. Ia melirik sekilas ke arah dua namja yang kini telah lolos darinya lalu kembali menatap Ikha. Karena kesal mangsanya telah kabur darinya, Eunhyuk mendorong Ikha cukup kencang hingga tubuhnya jatuh membentur trotoar.

“MY NAME IS LEE HYUK JAE! UNDERSTAND???”

To Be Continued…

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

82 thoughts on “MY NAME IS LEE HYUK JAE “Chapter 03””

  1. daebak eon ^^
    hahaha, tebakan ku benar 😀
    ternyata bener eunhyuk and hyukjae adalah orang yg sama 😀

    aigoo…
    hyukjae sadis banget dah, bunuh orang segitu gampang and lincahnya…
    gk kebanyang…

    akhirnya ikha tau kalo mereka berdua sama…
    apakah yang akan terjadi selanjutnya ???…
    penasaran,,, lanjut baca dulu deh…

  2. hhuaahh , setelah nunggu di blog super junior fanfiction . akhirnya ketemu jg blog author .
    ceritanya seru , 😀

  3. wuuuuuuuuuuuuuuuuuuuwwwwwwwwwwww!!!!! eunhyuk itu eh lee hyuk jae itu bener2 hulk, tapi hulk versi lain aqaqaqa canda deng.
    aku lebih suka dia yg mirip preman pasar minggu deh. soalnya dia jadi keren. ngomongnya pakai bahasa inggris juga, bukan “nice weather” atau “will you marry me?”. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA keren banget nget nget nget…
    lanjuuuuuutttttttt bacaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa 😀

  4. anyyeong… eonniiiii ff mu yg ini bagus sekali, suka deh…
    tapi nunggu di SJFF lamaaaaaaaa sekali gak muncul-muncul, tetapi nemu juga blognya author hheheh…

  5. astaga itu hyukjae knp jadi kaya rubah?.-.
    perubahannya begitu cepat dari waku ke waktu. huehehe keren tuh yg tadinya mau dibunuh eh malah mau membunuh.
    my name is lee hyukjae! understand?
    wohoho arasseo eunhyeok ah~
    wkwk lanjut yag

  6. Aku belum baca part 2 krna msih di protect eon dn blum dpet pw tpi krna penasaran yg menang jadi loncat ke part 3 deeh *curhat :D. Huuaaaa akhirnya terungkap who EunHyuk and who Hyuk Jae. Aiiii aku penasaran sma keadaan mata mereka eon. Bkannya klw jdi Eun Hyuk, dia g bsa tanpa kacamata minusnya? Tpi kenapa saat mnjdi Hyuk Jae dia bsa tnpa kaca mata? Yeahh dan aku g sbar apa hub ceritanya sma prolognya nanti huhuu

    1. hehehe karna beberapa alasan, aku sengaja ngasih password di beberapa part. kalo kamu mau, kamu bisa isi form di page QUESTION ya azra, biar nanti enak bacanya. Makasih uda visit kesini 😀

  7. “Ikha mendengar bunyi pecahan benda pecah..”
    Ikha-ya kalimat ini rada gimana gitu..
    piranha.?
    saya ngira.ny malah ada hiu kepala martil di danau itu.. *mentalDitendangIkha>>jatuhDipelukanAbangKyu
    dan saya suka si preman Lee Hyuk Jae.. *lirikAbangKyu
    eh, saya suka Kyu yang pake jas dokter..
    *terjunKePartSelanjutnya

    1. aahhahaa emang typo beb. tapi biarin aja sengaja gak dirubah. Biar aku tau sejauhmana EYD tulisan aku yang lama. Dan alhamdulilah bisa sedikit belajar dari kesalahan (✿◠‿◠)

  8. ada yang salah di part ini… kenapa gw jadi ser2an sendiri ngebayangin Hyukjae ngejilat bibir bawahnya.

    Aduh kepala saya kok jadi nyut2an gini ya~ kayanya harus check up ke dokter neh…

    Dokter Kim, kayanya aku sakit deh~ obatin hatiku yang tak kunjung sembuh ini dong… *ngegombal gagal >,<

    1. dan ada yang salah juga sama kata-katanya cho. gile pas gue baca banyak banget typo-nya. Ah bodo amat, yang penting eunhyuk seksi. Muahahaha~
      Hah? Dokter Kim? *curiga jangan jangan kim jongin?***

      1. Masa sih?? yang sebelah mana? kok gw gak engeh ya…
        Iya seksi banget, gak tau kenapa gw justru demen banget sama karakter si Eunhyuk dibanding Hyukjae.Walaupun Hyukjae tetep sekseh banget menurut gw~ hehehe~

        Dokter Kim Heechul lah, mang di FF ini ada Kim Jongin??

      2. hahahaha gue lagi ngantuk gak ngeh kalo bang cantik emang jad support cas disini (-‿◕)
        Betewe cho, bisa gak lu bikin idup gue tenang. Barang sehariiii aja. Gue kasian sama abang gue, lu maen goda” laki orang sama brondong simpenan orang. Ckck, *brb nyuci beras*

      3. Makanya cuci muka dulu sonoh!!! masih ada belek-beleknya noh~ hahaha 😛

        gak bisa gw, klo ngeliat orang lebih bahagia dari gw. berkumpul riang dengan brondong2nya, tuh gw bawaannya pengen ngerecokin idup lu mulu~

        knapa gw harus tetap bertahan dengan abang lo yang hobi ngeliatin pantat cewek laen, klo gw bisa grepe2in anak2 dibawah umur kaya Kai sama Taemin.

        Gimana??? 😉

      4. sori ya, belek gue itu mahaaaaalll biarin aja si banghyuk yang bersiin. biar kek telenovela jaman esmeralda. Nyiahahaha~
        udeh udeh gak usah bikin konflik perang dunia ke-5. atur aja jadwal gilir tuh brondong. Malem jumat khusus lw, sisanya buat gue ~(‘▽’~) (~’▽’)~~(‘▽’~) (~’▽’)~

      5. ckckck~ judul apaan tuh Esmeralda. kayanya pas disetel gw blom lahir deh, gw aja sekarang masih SMP… 😛

        Gpp gw juga semalem doang, karena malem laennya gw ngegilir Hykjae, Sungmin, Donghae, abang lo, dan KEY… Muahahaha~
        *ketawa seevil-evilnya*

  9. Author,aku reader baru disini…
    Salam kenal ^^
    thor gimana cara buat dapetin password part 4 dan part lainnya yg di protect thor??aku kan juga mau baca lanjutannya thor…
    Gomawo

  10. wooooaaahhh….
    dbunuh tuch preman sm eunhyuk,klw aq jd ikha psti udh lari…
    dr awal emng udh ngrasa klw mreka tuch sma….
    eunyuk kyaknya tau y dia pnya kepribadian ganda…
    Kyu psyi ngmuk abis ini…
    wkwkwkwk…

    eonnie fighting (◦ˆ⌣ˆ◦)

  11. Wow! Tebakan ku beneer kan kaloeunhyukdan hyukjae satu orang. Pertama kali nih nemu ff yg tema utamanya psikologis! Curious!

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s