My Name is Lee Hyuk Jae “Chapter 01”

FF - My name is lee hyuk jae - New

CHAPTER 01

“Unintentionally”

SEOUL TIME

“Siapa yang Akan Mewarisi Semua Kekayaan Lee Sooman?”

Seoul, 2006 November 09thLee Sooman, salah seorang pengusaha di Korea Selatan, ditemukan tewas di dalam telepon umum daerah Cheongnan. Seorang perempuan tua menemukan mayat pria lima puluh tahunan tersebut dengan luka penuh sayatan di beberapa bagian tubuhnya.

Setelah laporan dari perempuan tua tersebut, polisi segera melacak keberadaan si pembunuh melalui laporan Lee Sooman dan juga CCTV yang terpajang di seluruh jalanan Kota Cheongnan. Dalam video tersebut menunjukkan pembunuhan keji yang dilakukan oleh seorang pria muda.

Polisi kemudian mengidentifikasi pembunuh tersebut yang ternyata adalah anak dari Lee Sooman itu sendiri, yakni L.E. Hanya selang beberapa jam setelah peristiwa pembunuhan itu, polisi segera membekuk L.E yang tak berkutik di rumahnya.

Selama dirinya dikurung di Pusat Tahanan Seoul, L.E telah terlibat beberapa kasus pembunuhan yang dilakukan pada tiga teman satu sel kamarnya dan juga dua petugas tahanan.

Karena hal itulah, Kepala Polisi Distrik Seoul, Park Byeongman, memutuskan untuk memindahkan L.E ke Seoul National Psychological Hospital untuk melakukan beberapa tes kejiwaan. Karena, pria yang masih berumur sembilan belas tahun tersebut terlalu liar dan labil jika tetap ditempatkan di dalam salah satu sel tahanan PTS.

Setelah kesaksian dari kakak angkatnya, L.D, L.E akhirnya dihukum seumur hidup atas pembunuhan yang dilakukan pada kedua orang-tua kandungnya. Jika memang benar adanya, maka berdasarkan hukum di Korea Selatan, seluruh kekayaan yang dimiliki Lee Sooman akan jatuh ke tangan anak angkatnya, yakni L.D.

***

KENAPA KAU TAK MENYURUH AHJUMMA ATAU PAK CHOI UNTUK mengantarkan berkasmu?” tanya Ikha pada manusia yang diajaknya bicara di seberang telepon.

“Mereka punya kesibukan sendiri, Kha-ya,” jawab orang tersebut lantang.

“Aku juga. Malah sekarang aku harus menyelesaikan laporanku dulu,” bantahnya, tetap bersikukuh tak mau menyanggupi permintaan orang tersebut.

“Sudah, jangan banyak bicara! Cepat antar ke kantorku sekarang juga!” kilah orang itu lagi kemudian memutuskan pembicaraan mereka sebelum Ikha kembali membantah.

“YA! CHO KYUHYUN!!” bentak Ikha melalui speaker ponselnya. Sayang, pria bernama Cho Khyuhyun itu telah lebih dulu mematikan ponsel. Otomatis Ikha tak bisa mengelak.

Cho Ikha meniup poninya gusar. “Damn! Kenapa aku harus memiliki seorang kakak yang evilnya setengah mati?” gerutunya pada dirinya sendiri.

Tanpa ba-bi-bu lagi, gadis berambut sebahu itu segera pergi ke ruang kerja Cho Kyuhyun. Ia tak pernah membangkang saat Kyuhyun menyuruhnya melakukan apapun, asal tidak dengan yang satu ini.

Kakak tercintanya itu bekerja pada salah satu tempat rehabilitasi kejiwaan di Seoul. Kalian pasti mengetahui tempat macam apa itu. Yeah, tempat itu berisi orang-orang yang memiliki kelainan jiwa. Garis bawahi: kelainan jiwa, bukan sakit jiwa a.k.a orang gila.

Setiap kali Kyuhyun menceritakan betapa sulitnya menghadapi orang-orang tersebut, Ikha hanya mampu membayangkan. Bagaimana jika orang-orang tersebut collapse saat sedang menjalani terapi dan menyerang psikolog serta petugas rehabilitasi—termasuk kakaknya—dengan cara mencabik-cabik perut mereka atau dengan membakar mereka hidup-hidup?

Masalahnya adalah, orang yang melakukan terapi tersebut biasanya yang memiliki penyakit kejiwaan bipolar, orang yang dikategorikan mengidap psikopat, skizofernia, atau bahkan orang yang mengidap venustraphobia. Jelas, ketiga penyakit tersebut lebih berbahaya dari penyakit jiwa pada umumnya. Jadi dapat dipastikan mengapa Cho Ikha tak pernah mau disuruh pergi ke tempat kerja Kyuhyun.

Apapun alasannya.

-o-

MOBIL YANG DIKENDARAINYA BERHENTI PERLAHAN. Cho Ikha mengamati sejenak pagar yang menjulang tinggi di hadapannya. Di puncak pembatas, terdapat akrilik Seoul National Psychological Hospital yang terpampang jelas. Tak disangka, kisahnya berakhir dengan mengunjungi tempat aneh tersebut.

Semua ini karena Cho Kyuhyun.

“Aku sudah didepan gedung. Kau dimana?” tanya Ikha melalui teleponnya.

“Masuk saja. Penjaga untuk membukakan pintu untukmu. Jangan lupa, tunjukkan kartu yang terselip di dalam berkasku saat monitor di ruang utama menyala,” jelas Kyuhyun.

“Menyusahkan,” cibirnya.

Segera Cho Ikha mengikuti perintah Kyuhyun. Dan hitungan detik, gadis itu dapat melewati pintu akses yang dijaga ketat oleh petugas keamanan. Setelah memarkirkan mobilnya, ia cukup dikejutkan oleh suasana bangunan yang ada di balik pagar tinggi tersebut.

Tempat ini tidaklah seperti apa yang dibayangkannya. Tidak ada lorong-lorong yang biasa ditemui di rumah sakit, tidak ada suara berisik dari troli yang dipenuhi obat-obatan, bahkan bebabuan kimia yang menyengat hidung.

Tempat ini seperti hotel bintang lima. Taman yang terbentang luas dengan rumput hijau serta kolam yang menghiasinya, pepohonan di berbagai sudut yang membuat lingkungan tersebut begitu rindang seperti hutan tropis, serta suasana tenang hingga mampu membuat siapa pun tak ingin beranjak pergi dari tempat ini.

Belum cukup dengan pemandangan di luar ruangan, Ikha kembali terpana dengan keadaan di dalam gedung.

Ternyata gedung berlantai enam yang ia masuki itu di desain layaknya sebuah rumah. Ada kamar tidur, kamar mandi, dapur, dan sebagainya. Dan ruangan tempat para dokter dan psikolog lain di desain seperti ruang menonton televisi.

Ya!” hardik Kyuhyun, membuat Ikha terlonjak dibuatnya.

Gadis itu mengusap dada. “Kau ingin membunuhku, huh? Ini berkasmu. Lain kali jangan menyusahkanku lagi, Cho Kyuhyun.”

“O—Kha-ya, tolong katakan pada eomma bahwa aku tak bisa pulang nanti malam. Aku harus membantu Dokter Kim melakukan terapi pada pasiennya,” jelas Kyuhyun sembari memeriksa berkasnya.

“Bukankah kau berjanji padanya akan pergi ke Indonesia Batik Store sore ini?” tanya Ikha memastikan.

“Aku sudah membelikan gaun untuknya. Kau tunggu di ruanganku dulu sementara aku meletakkan berkas ini di ruang meeting. Ruanganku di lantai empat. Setelah keluar lift, langsung belok kanan dan nanti kau bisa menemukan pintu bertuliskan Cho Kyuhyun. Kau paham?”jelas Kyuhyun panjang-lebar.

Ya, ya, ya. Jangan menghabiskan waktuku terlalu lama. Aku harus segera ke kampus untuk menyerahkan laporanku,” ucap Ikha dan disambut dengan dehaman pelan dari Kyuhyun.

-o-

CHO IKHA MEMANG MEMILIKI DAYA IMAJINASI YANG TINGGI namun ia tak pandai mengingat sesuatu. Hampir seperempat jam ia mencari-cari ruangan Kyuhyun namun hasilnya nihil. Seharusnya ia mencatat atau membuat pengingat singkat di ponselnya.

Gadis itu kemudian bertubrukan dengan seseorang di tikungan, membuat keduanya jatuh menyentuh lantai.

Can you watch when you walk?” cetus manusia lain yang saling menabrakkan diri dengan Cho Ikha.

Cho Ikha mengaduh seraya mengusap siku dan lututnya. “Harusnya kukatakan hal itu padamu! Kau ini buta apa?” balasnya tak kalah menghardik.

Speak english, bitch! Who the hell this fuckin’ lady?” ucapnya sembari menatap Ikha garang.

Ikha balas menatap manusia tersebut. Seorang pria, perawakannya skinny namun tinggi. Ia mengerutkan alis. Pria di hadapannya tidak terlihat seperti orang asing. Wajahnya lokal namun ia tidak mengerti bahasa Korea.

Sungguh aneh.

Can’t you speak Korean?” tanya Ikha.

No,” jawab si pria pada intinya. Ia melirik jam tangannya sekilas kemudian mendengus kesal. “You’ve wasted ma time!” tukasnya lalu berjalan melangkahi Ikha yang masih terduduk di lantai.

Ya!” bentak Ikha.

Ia tidak menerimanya. Apakah pria itu pikir tubuhnya adalah keset umum yang dapat seenak hati dilangkahi? Hah!

Setelah mengusap lututnya, Ikha segera melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Beruntunglah ia menemukan lift yang  dicarinya.

“Tunggu!” teriaknya, berharap pintu lift tersebut tidak menutup.

You?” Ikha terhenyak saat melihat seseorang tengah berdiri angkuh di dalam sana. Pria itu hanya melirik sekilas kemudian memejamkan mata. Kedua telinganya tertutup oleh headphone sementara jemarinya bersembunyi di dalam saku jeansnya.

Jelas saja, sikap acuh pria tinggi itu membuat Ikha semakin termakan emosi. “Ya! You should hold the door!” bentaknya sembari berkacak pinggang.

Pria itu memandang Ikha dengan tatapan yang meremehkan kemudian menyeringai. “Was it important for me?

Don’t you have manners?”

Gadis itu memaki. Sepasang matanya semakin membulat. Pria dengan rambut saddlebrown yang menyala itu sama sekali tidak memberikan respon. Dan hal itu justru membuat Cho Ikha semakin naik pitam.

“Ya!”

Suara mungil Cho Ikha melengking di dalam box besi tersebut. Cara itu cukup jitu untuk menarik perhatian si pria.

Lihatlah. Kini si pria tinggi semakin menyeramkan setelah melepas headphone di telinganya.

I have a name. And stop calling me with Ya or Hei,” gumam si pria.

Suaranya hampir mirip seperti Voldemort dalam Film Harry Potter. Mendesis seperti ular.

Ikha memojokkan diri sudut lift. “Ya! I just—

“I have a name and my name is Lee Hyukjae!” Si pria membentak, mengejutkan Cho Ikha yang kini mengerucut seperti kulit ayam di atas penggorengan.

Si pria memperkecil jarak di antara keduanya. Jemarinya bergerak membentuk kepalan seolah-olah tinjunya siap mendarat di wajah Cho Ikha kapan saja. Hingga detik berikutnya pintu lift terbuka…

“Cho Ikha!”

Seseorang memisahkan keduanya dan berhasil meleburkan ketegangan dari wajah Cho Ikha yang memucat. Pria bernama Lee Hyukjae itu melemah, mengurungkan segala niat jahatnya ketika orang yang hadir di antara mereka menarik perhatiannya.

“What are you doing here,” Pria itu sejenak berpikir. “Tyrone?” Kemudian menarik Cho Ikha bersamanya.

Do you know this girl?” tanyanya pada sosok tersebut.

She’s my sister. Is she looking for troubles with you?”

Cho Kyuhyun, tetap dengan wajah penuh ekspresi, mencengkeram lengan Cho Ikha dan menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh tegapnya.

Next time, shut her mouth up or i will shut hers with my own way,”

I got it.

Jawaban singkat Cho Kyuhyun cukup membuat Lee Hyukjae mereda. Pria itu lantas menghilang setelah pintu lift memisahkan Cho bersaudara tersebut.

“Kenapa kau bisa berurusan dengannya?” Pertanyaan Kyuhyun terdengar begitu jelas dan tanpa basa-basi. Sambil berjalan menuju ruangannya, ia menyeret Cho Ikha meskipun gadis itu menjerit-jerit untuk melepasnya.

“Siapa suruh lift gedung ini sulit kutemukan?” Ikha mengelak, mencoba membela diri.

“Kau masih bisa naik menggunakan tangga?”

“Ruanganmu di lantai empat, Oppa. Kau ingin membuat kakiku lumpuh?” Kembali Ikha membantah Kyuhyun yang semakin mempercepat tempo langkahnya.

“Lagipula apa hebatnya pria bernama Lee Hyuk Jae itu? Hanya bisanya menghardik dan mengancam saja,” gumam Ikha diselingi kata-kata makiannya.

Kyuhyun menghentikan langkah. Tubuhnya berputar sempurna hingga berhadapan dengan Cho Ikha. “Lee Hyuk Jae?” Alisnya membentuk gelombang.

Yeah. Kenapa?”

“Kau yakin dia tidak menyebut dirinya dengan nama Tyrone?”

“Lee Hyukjae, Cho Kyuhyun. Perlu kuucapkan sekali lagi?”

Sejenak Kyuhyun terdiam.

“Lain kali jika kau datang kemari, usahakan untuk menghindar darinya. Mengerti? Aku akan mengantarmu ke tempat parkir segera,” jelas Kyuhyun kemudian menyambar bungkusan kecil di atas kursi.

Ikha memasukkan kedua tangannya ke dalam saku coat yang ia pakai. “Tumben sekali kau perhatian padaku? Aku bisa ke tempat parkir sendiri, Cho Kyuhyun. Jadi tenang saja. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu,” kilah Ikha.

“Ini karena kau sudah berulah dengan Hyuk Jae,”

“Memangnya kenapa?”

“Kau jangan banyak tanya!” tukas Kyuhyun pada akhirnya. Meskipun Ikha tetap menolak untuk diantar Kyuhyun, tapi namja tiga tahun lebih tua darinya itu terus saja memaksakan kehendaknya. Ikha hanya berdecak sambil menggeleng pelan. Well, tidak buruk juga. Terakhir kakaknya itu perhatian padanya adalah ketika ia jatuh dari ayunan  sekitar sebelas tahun yang lalu—itupun karena dia jatuh karena Kyuhyun terlalu kencang mendorong ayunannya. Hah!

***

“Sejak kapan Kyuhyun pintar memilih dress untuk Eomma?” ucap Nyonya Cho sambil membolak-balik dress yang dibawakan Ikha dari kantor Kyuhyun tadi sore. Yeoja berusia sekitar lima puluhan itu mengamati setiap inchi dress yang terbuat dari kain Batik Indonesia tersebut dan sesekali berdecak kagum.

“Mungkin dia pergi ke butik Shindong Oppa dengan Seohyun—yeojachingu-nya,” jawab Ikha tanpa mengalihkan pandangan dari majalah fashion yang dipegangnya.

“Eomma tidak menyangka kalau kau akan segera bertunangan dengan Donghae. Kapan namjachingu-mu itu pulang dari Paris?”

“Mmm, sekitar dua minggu lagi, Mom. Katanya dia harus mengurus beberapa hal disana. Tapi Mom, aku sedikit tak percaya kalau aku akan segera bertunangan dengan Donghae Oppa. Masalahnya, aku belum bertemu dengan kedua orang-tuanya,” kata Ikha. Majalah yang sedari tadi ia baca diletakkan diatas pangkuannya agar ia mudah bertatap muka dengan Eomma-nya yang sedari tadi terus saja berkutat dengan dress yang dibelikan Kyuhyun.

“Yang penting Donghae sudah bilang kalau orang-tuanya setuju dengan pertunangan ini. Tidak jadi masalah bukan?” jelas Nyonya Cho.

Ikha terdiam sejenak. “Yeah. Benar juga,” gumamnya tak kalah berbisik.

Dress ini cocok ‘kan untuk pesta pertunanganmu nanti?” tanya Nyonya Cho dan disambut oleh anggukan pelan dari Ikha.

Err, semuanya seperti di negeri dongeng. Bagaimana tidak? Ikha kadang masih sulit untuk mempercayai apa yang dialaminya saat ini. Pertemuannya dengan Donghae dua tahun yang lalu tak disangkanya akan berlanjut hingga ke jenjang yang lebih serius.

Lee Donghae, yang banyak digilai para yeoja karena ketampanannya, belum lagi kemampuan otaknya yang diatas rata-rata, bentuk tubuhnya yang mampu membuat semua yeoja meleleh, dan juga pewaris tunggal kekayaan dari keluarganya, kesemua faktor itulah yang membuat Ikha merasa diberkahi karena Tuhan telah menjadikannya sebagai tempat persinggahan terakhir.

Dan satu hal lagi yang tak dapat disanggahnya: She really loves him. No matter what!!

***

“Kha-ya, kau mau pergi ke mana?” sergah Nyonya Cho dari arah yang berlainan dengan langkah Ikha yang agak tergesa.

“Kampus. Wae?” jawabnya acuh sembari memasang jam tangan ripcurl-nya.

“Bisa tolong antarkan ini ke Oppa-mu? Dia bilang tidak bisa pulang kemari karena dia akan pergi mengecek apartemen barunya sepulang kerja nanti,” suruh yeoja yang sudah cukup tua tersebut.

“Apa ini?” tanya Ikha sambil memperhatikan kotak berwarna biru pastel yang Nyonya Cho sodorkan padanya.

“Makanan kesukaannya,” jawab Nyonya Cho sepolos-polosnya.

Ikha memutar bola mata kemudian mendengus, mencemooh. “Oh, my! Nyonya Cho, Kyuhyun Oppa itu bukan anak kecil lagi. Tidak seharusnya kau membuatkan bekal ini untuknya,” ujarnya, menolak permintaan Sang eomma.

Aiish, kalau kakakmu itu kelaparan bagaimana?” tukas Nyonya Cho bersikukuh.

“Justru aku senang kalau dia menderita,” ejek Ikha dan disambut oleh pukulan kecil pada kepalanya. Ia meringis pelan ketika ternyata kotak bekal itulah yang mendarat mulus di kepalanya.

“Sudah cepat antarkan ini atau kau tidak dapat jatah makan malam!” ancam Nyonya Cho kemudian bergegas pergi ke dalam rumah. Ikha mencibir ke arah Eomma-nya sambil menggerutu tak karuan.

Inilah salah satu alasan kenapa ia tak suka dengan Kyuhyun. Dia itu terlalu dimanja oleh Eomma. Makanya sifat evil-nya itu setiap tahun semakin menjadi-jadi. Mungkin karena kakaknya itu tampan, digilai banyak yeoja, pintar matematika, pintar memainkan klarinet, dan masih banyak kelebihan lain yang dimilikinya sehingga sangat disayang Eomma.

Hey, come on! Aku juga tidak kalah keren dengan Kyuhyun Oppa! Biarpun aku tidak digilai banyak namja, tapi aku cantik—cacar bintik-bintik, pintar—pintar bicara dan berdalih, dan jago bermain alat musik—memukul-mukul panci dan penggorengan menggunakan stick spatula.” rutuk Ikha sepanjang perjalanan menuju bagasi rumahnya.

***

Ikha masuk ke dalam lobby gedung tempat kerja Kyuhyun dengan sangat tergesa. Ia harus segera mengantarkan bekal yang dititipkan Nyonya Cho atau ia akan terlambat masuk kelas kesayangannya: Seni Bahasa Inggris.

Namun sialnya, setelah ia bertemu dengan petugas resepsionis, Kyuhyun tengah rapat di lantai tiga dengan para psikolog lain dan mungkin akan selesai setengah jam kemudian. Tadinya ia berniat untuk menitipkan benda yang berisi makanan tersebut pada resepsionis, tapi ternyata tidak bisa. Alasannya karena peraturan disini yang mengharuskan semua benda yang akan dititipkan diberikan oleh si pengantar itu sendiri. What a foolish rule, isn’t it?

“Luna, sepertinya aku tidak bisa ikut discussion class hari ini. Sekarang aku masih di tempat kerja Kyuhyun Oppa dan—“

Ikha tidak melanjutkan perbincangan melalui telefon dengan salah satu teman kampusnya ketika ia menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia menyipitkan mata, memperhatikan sosok yang tengah berada di taman gedung melalui tembok yang terbuat dari kaca yang menghalangi penglihatannya.

Kemudian, ia memutuskan untuk menghampiri sosok tersebut yang kini tengah berjongkok disamping kolam ikan sambil mengelus seekor kucing yang sedang menyantap makanannya.

Sekali lagi, Ikha memperhatikan sosok itu lebih teliti. Tidak, dia tidak salah lihat. Sosok itu adalah orang yang ia temui beberapa hari lalu ketika dirinya berkunjung ke tempat ini. Hanya saja, penampilannya agak lain. Ia menggunakan kacamata, rambutnya-pun tertata lebih rapih dibandingkan kemarin. Jujur saja, ia masih dendam dengan kejadian tempo hari.

“Ya! Lee Hyuk Jae!” sahut Ikha dengan nada setengah menghardik. Namja yang bernama Lee Hyuk Jae itu tidak menyahut ataupun melirik sama sekali. Ia masih sibuk memperhatikan kucing sambil tersenyum ketika hewan itu menggeliat pelan.

“YA! I’M TALKIN’ TO YOU, FREAK!” pekik Ikha, membuat namja yang tengah memakai kaus putih dan menampakkan lekuk tubuhnya tersebut memutar kepalanya menatap Ikha.

Namja berkulit putih mulus itu mengerutkan alis sejenak dan memutuskan untuk berdiri terlebih dahulu. Ia membungkuk dengan sopan ke arahnya.

“Anda bicara pada saya?” tanya namja yang disangkanya Lee Hyuk Jae tersebut menggunakan bahasa Korea yang fasih dan lancar.

Sejenak Ikha agak terpana saat melihat penampilan Lee Hyuk Jae kali ini. Ia terlihat—ehm—lebih tampan dari kemarin. Namun sedetik kemudian Ikha langsung menepis fikiran itu jauh-jauh. Yeoja itu menatapnya keheranan. Tunggu, sejak kapan namja itu bisa berbahasa Korea?

Don’t pretend like you didn’t know me, Mr-always-right-in-everything,” ucap Ikha dengan nada yang penuh dengan kebencian. Dan bukannya tersulut emosi, namja yang disangkanya bernama Hyuk Jae itu malah tersenyum ramah padanya, membuat yeoja bertahi lalat di bibir itu keheranan.

Jweoseonghamnida, Agasshi. Tapi… saya tidak mengerti apa yang anda bicarakan,” kata namja tersebut sesopan-sopannya.

Ikha menyipitkan kedua matanya. Kepalanya ia miringkan sedikit dan bibirnya mengerut. “Hei, don’t lie to me, Lee Hyuk Jae. And since when did you speak Hangguk?” oceh Ikha, masih keukeuh dengan argumennya.

“Lee Hyuk Jae? Oh, mianhada, Agasshi. Sepertinya anda salah orang,” elak namja tersebut tanpa sedikitpun mengurangi kesopanannya.

No! Aku tidak salah orang! Jelas-jelas orang yang mengajakku bertengkar kemarin itu adalah kau!” tukas Ikha seraya mengarahkan telunjuknya ke wajah namja berkacamata itu.

Si namja hanya tersenyum simpul. Raut mukanya terlihat sangat tenang. “Namaku Lee Eunhyuk. Bukan Lee Hyuk Jae seperti yang anda sebutkan tadi. Tapi tak apa. Anda bukanlah orang pertama yang menyangka bahwa aku ini Lee Hyuk Jae,” jelasnya seraya membungkuk lagi beberapa derajat.

Yeoja berambut sebahu itu semakin menyipitkan matanya. “Jeongmal? (Benarkah?)” tanyanya tak percaya.

“Dokter Kim bilang, ada seseorang yang sangat mirip denganku. Jadi aku tak keberatan jika orang-orang menganggapku seperti dia,” ucap Eunhyuk, masih menggunakan suaranya yang terdengar lembut di telinga.

“Kalau begitu—“

Ikha menghentikan kata-katanya saat ia kembali memperhatikan wajah Eunhyuk. “O—mianhamnida,” ucapnya seraya membungkuk ± 45˚ pada Eunhyuk selama tiga kali.

“Aku sudah membentakmu barusan. Aiish, paboya! (bodohnya!)” rutuk Ikha pada dirinya sendiri.

Eunhyuk hanya tersenyum simpul. Tidak ada rasa kesal atau marah sedikitpun pada Ikha yang jelas-jelas telah membentaknya dengan asal. “Gwenchana (Tak apa). Saya baru melihat anda disini. Apa anda sedang berkonsultasi atau semacamnya?” tanya Eunhyuk seraya meraih sebuah file yang tergeletak di pinggiran kolam ikan.

Ania. Aku harus bertemu kakakku, Cho Kyuhyun,” jelas Ikha.

“Oh, kau adik dari Dokter Cho?” tanya Eunhyuk dan dijawab dengan anggukan kecil dari Ikha.

“Pantas saja kau hampir mirip dengannya. Kakaknya tampan, dan adiknya juga tak kalah cantik,” puji Eunhyuk. Well, meskipun namja itu hanya menyebutkan beberapa kata, tapi kalimat pujiannya barusan berhasil membuat Ikha tersipu malu. Jelas saja, yang memujinya adalah seorang namja tampan dan berkepribadian baik.

Gamsahamnida,” Hanya itu kata yang keluar dari mulut Ikha.

“Kalau kau tak keberatan, aku akan mengantarmu ke ruang meeting. Saat ini Dokter Kim sedang melakukan pertemuan dengan Dokter Cho. Lagipula struktur bangunan ini agak begitu sulit dipahami bagi orang yang baru masuk kesini.” terang Eunhyuk seraya menggerakkan kakinya menuju ke dalam gedung.

 “Ya. Aku sempat tersesat hanya gara-gara mencari dimana letak lift,” ucap Ikha membenarkan. Yeoja itu mengikuti Eunhyuk tanpa merasa takut sedikitpun. Setidaknya ini sebagai permintaan maaf karena ia telah membentaknya barusan.

“Kalau boleh tahu, siapa namamu?” tanya Eunhyuk disela langkah kakinya yang santai itu.

“Cho Ikha imnida,”

“Namamu terdengar sangat asing di telinga. Kau bukan orang Korea asli?”

Anio. Ayahku Korea dan Ibuku dari Indonesia,”

Eunhyuk hanya mengangguk pelan. Sesekali ia melempar senyum pada beberapa orang yang melewatinya. Di lain pihak, Ikha terus saja memperhatikan lekuk wajah Eunhyuk. Ia yakin bahwa ia tidak salah lihat. Namja manis disampingnya ini sangat mirip dengan orang berkepribadian jelek yang ia temui tempo hari. Jika memang benar adanya, apakah Eunhyuk ini kembaran dari Lee Hyuk Jae?

Wae? Ada yang salah dengan wajahku?” tanya Eunhyuk ketika ia mendapati Ikha yang tak berkedip sedikitpun saat menatapnya.

Ikha menggeleng cepat, takut Eunhyuk salah paham. “Ani. Hanya saja… wajahmu mirip sekali dengan namja angkuh yang kutemui kemarin,” jelasnya.

“Aku dengar juga seperti itu. Tapi selama aku tinggal disini, aku tidak pernah sekalipun bertemu dengannya,” ucap Eunhyuk tanpa mengurangi senyum di wajahnya. Ikha sempat menelan ludah sesaat. Namja disampingnya ini benar-benar sangat tampan. Omona! He’s truly handsome, INDEED!

Jamkkan! (Sebentar!) Kau? Tinggal disini?” tanya Ikha ketika ia baru menyadari apa yang baru saja Eunhyuk katakan.

Ne. Aku salah satu pasien disini,”

Ikha menghentikan langkahnya beberapa detik, tubuhnya ia putar ke sebelah kanan agar ia bisa melihat Eunhyuk dengan jelas. “Jeongmalyo? (Yang benar?)” tanyanya tak percaya.

Eunhyuk mengangguk. Sekalipun ia mengatakan bahwa ia adalah salah satu pasien di rumah sakit ini, tapi ia sama sekali tidak menunjukkan kekecewaan atau rasa ketidaksukaannya. Ikha kembali berjalan sambil berusaha menyetarakan langkahnya dengan Eunhyuk.

“Tapi… kau tidak terlihat seperti…”

Ikha memutar telunjuk kanannya di sekitar pelipis sebagai pengganti kata ‘tidak waras’ atau apalah itu. Jujur saja, namja di hadapannya ini tidak terlihat seperti orang yang memiliki masalah kejiwaan.

Lagi-lagi namja berambut brown-black itu tersenyum melihat ekspresi Ikha yang cukup menggelikan. “Semua orang juga berfikiran sepertimu. Bahkan aku sendiripun tidak tahu kenapa aku dipindahkan ke tempat ini,” terangnya.

“Memang sebelumnya kau ada dimana?” selidik Ikha.

“Sekalipun aku menceritakan semuanya, kau tidak akan mengerti, Cho Agasshi. Terlalu rumit,” imbuh Eunhyuk.

Kemudian namja itu menghentikan langkah kakinya didepan sebuah ruangan berlapis pintu kaca. Tepat setelah dirinya dan Ikha sampai didepan ruang meeting, orang yang dicarinya muncul dari dalam ruangan sambil membawa beberapa berkas.

Annyeong haseyo, Dokter Kim. Annyeong, Dokter Cho,” sapa Eunhyuk seraya membungkuk dengan sopannya kepada dua orang yang disebutnya barusan.

“Cho Ikha? Sejak kapan kau—”

Kyuhyun menghentikan suaranya seketika itu juga saat melihat orang yang sedang berdiri tegap disamping adik satu-satunya itu. Sama halnya dengan Kyuhyun, Kim Heechul—Dokter Kim—pun membulatkan matanya saat mendapati Eunhyuk tengah tersenyum ramah padanya.

Eunhyukkie, kemarilah. Aku ingin memberikan sesuatu untukmu,” ucap Heechul seraya mengajak Eunhyuk ke suatu tempat.

Mannaseo banggapseumnida (senang bertemu denganmu), Cho Agasshi,” sahut Eunhyuk sebelum ia benar-benar pergi dari tempatnya. Tak lupa ia membungkuk pada Kyuhyun sembari memamerkan gummy-smile-nya.

Setelah Heechul dan Eunhyuk menghilang dari pandangan mereka, Kyuhyun segera berkacak pinggang dan menatap Ikha dengan garang. “Kenapa-kau-bisa-berurusan-dengannya?” tanya Kyuhyun. Tak lupa ia memberikan penegasan di setiap suku katanya.

“Kau ini kenapa, huh? Setiap aku kemari, kau selalu saja menanyakan hal yang sama. ‘kenapa kau bisa berurusan dengannya?’. Sucks!” tukas Ikha kemudian mengibas rambutnya gusar.

“Eomma menyuruhku mengantarkan ini. Jadi jangan salahkan aku karena kembali ke tempat kerjamu yan penuh misteri ini,” katanya lagi sambil menyodorkan kotak makan siang yang dititipkan Nyonya Cho padanya.

Kyuhyun meraih benda itu dengan kasar. “Cepat pu—“

Ne, ne, ne. Algesseoyo. Aku akan cepat pulang karena tempat ini terlalu berbahaya untukku,” ucap Ikha, memotong kalimat Kyuhyun seolah sudah hafal dengan benar apa yang ingin Kyuhyun katakan.

***

“Apa yang ingin Hyung berikan padaku?” tanya Eunhyuk setelah ia duduk pada sofa yang menghiasi ruangan Heechul. Yeah, Heechul memang menyuruh Eunhyuk untuk memanggil semua psikolog di Seoul National Psychological Hospital tersebut dengan sebutan Hyung—jika mereka lebih tua darinya—agar ia merasa nyaman tinggal di gedung tersebut.

“Kau ingat sepupuku yang bernama Hyeoyeon? Sepertinya dia menyukaimu,” seloroh Heechul. Ia mengambil sesuatu di dalam lemari kayu samping meja kerjanya seraya menyerahkan bungkusan berpita ungu tersebut pada Eunhyuk.

Eunhyuk menerima bungkusan tersebut dengan senyum yang tak begitu kentara. Ia menatap kotak tersebut cukup lama kemudian meletakkannya di pangkuan.

Wae? Kau tidak menyukainya?” selidik Heechul di tengah kegiatan membolak-balik berkas yang sedang dibacanya. Kacamata berbingkai hitam yang bertengger manis di hidungnya sedikit turun, membuat matanya yang besar terlihat semakin besar.

Ania, Hyung. Sebelumnya terima kasih. Tapi, jika memang dia menyukaiku, kenapa dia tidak memberikan ini langsung kepadaku?” ucap Eunhyuk. Tatapan matanya seolah menyiratkan kekecewaan.

Heechul melepas kacamatanya dan menatap Eunhyuk dalam. Dilihatnya namja yang lebih muda tiga tahun darinya itu tengah mendesah berat.

“Aku tahu dia sebenarnya takut melihatku—lebih tepatnya takut dekat-dekat denganku,” timpal Eunhyuk.

Eoseo (Ayolah), Hyukkie-ah. Jangan berprasangka buruk lagi,” kilah Heechul mencoba menghiburnya.

“Aku hanya bicara apa adanya, Hyung.”

Heechul mendekati Eunhyuk. Ia duduk disamping namja yang tengah memainkan replika kartun Spongebob di mejanya kemudian mengelus pelan punggung Eunhyuk dengan maksud untuk memberinya sedikit ketenangan.

Geureondae (Ngomong-ngomong), siapa yeoja yang bersamamu tadi?” tanyanya, mengalihkan pembicaraan.

“Oh, aku tidak sengaja bertemu dengannya. Seperti biasa, dia orang ke sejuta yang mengira bahwa aku ini Lee Hyuk Jae,”

“Dia pernah bertemu Hyuk Jae?”

Mollayo (Entahlah). Dia bilang seperti itu padaku,” jelas Eunhyuk. Ia tersenyum simpul ketika mengingat pertemuan singkatnya dengan Ikha.

“Kenapa kau tersenyum? Ada sesuatu?” selidik Heechul.

Eunhyuk memutar tubuhnya sedikit ke kanan agar bisa menghadap Heechul yang tengah menatapnya penuh rasa keingintahuan.

“Kau tahu, Hyung. Selama dua puluh empat tahun menghabiskan waktu di dunia, aku tidak pernah bicara panjang lebar dengan seorang yeoja,” akunya.

Geuraeseo (Lalu?)?”

“Ternyata sangat menyenangkan. Dia yeoja yang baik dan manis—meskipun pada awalnya ia membentakku tanpa alasan,” jelas Eunhyuk seraya memainkan kembali replika Spongebob sambil tersenyum simpul.

“Siapa namanya?” selidik Heechul, kembali memeriksa berkas di tangannya.

“Cho Ikha, adik dari Kyuhyun—Dokter Cho,”

Heechul menghentikan pergerakan tangannya tepat setelah ia mendengar penjelasan Eunhyuk. Ia memperhatikan namja berhidung mancung tersebut melalui sudut matanya. Hanya beberapa detik saja ia terdiam dan Heechul kembali memperhatikan berkasnya.

“Jangan lupa hari ini kau harus melakukan terapi jam tiga nanti, Hyukkie,” ucap Heechul kemudian merapihkan pakaiannya, bersiap untuk pergi ke suatu tempat.

“Tidak, Hyung. Aku tidak mau,” elak Eunhyuk.

“Kau ingin sembuh ‘kan?”

“Tentu saja. Tapi—“

“Kalau begitu kau bersiap-siap terlebih dahulu. Sementara itu, aku akan bertemu Kyuhyun. Ada yang harus kubicarakan,”

“Hyung,”

Eunhyuk menahan langkah kaki Heechul yang terkesan agak terburu-buru tersebut dengan cara mencengkeram pergelangan tangan Hyung-nya kencang. “Jangan memaksaku. Kumohon,” pintanya, memelas.

Gwenchana (Tak apa), Eunhyukkie. Semua akan berjalan dengan lancar,”

“Lancar? Hyung bilang ‘semua berjalan lancar’? Terakhir kali aku melakukan terapi, paha kirimu patah dan kau harus memakai gips selama satu bulan. Dan aku juga telah mencelakai Dokter Kang tempo hari. Apa semua itu masih bisa dikatakan ‘lancar’?” hardik Eunhyuk agak tersulut emosi.

Heechul hanya memberikan senyum simpulnya kemudian menepuk pundak Eunhyuk dan mengelusnya pelan. “Segeralah ke ruanganmu. Kita akan bertemu dua jam lagi,”

***

“Cho Kyuhyun!!” sahut Heechul dengan jarak beberapa meter dari tempat kyuhyun berdiri. Namja yang dipanggil namanya melepas kacamata kemudian menatap Heechul.

Ne, hyung?”

“Aku ingin membicarakan sesuatu mengenai Eunhyuk,” jelas Heechul seraya menyisir poni rambutnya yang terbang oleh angin yang berhembus melalui celah-celah pintu yang terbuka.

“Bukankah dia akan melakukan terapi dua jam lagi?”

“Ne. Tapi aku ada cara lain,”

Kemudian Heechul membisikkan sesuatu di telinga Kyuhyun. Namja itu mendengarkan dengan seksama dan tak lama kemudian matanya membulat. Ia tercengang lalu menatap Heechul dengan tatapan tak percaya.

“NO!” teriak Kyuhyun, tak setuju dengan apa yang dibisikkan Heechul barusan.

“TIDAK HYUNG! AKU TIDAK AKAN MENYETUJUINYA!”

To Be Continued…

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

103 thoughts on “My Name is Lee Hyuk Jae “Chapter 01””

  1. eonni, aku boleh minta passwordnya semua ga? udah baca di sujuff2010 tapi ga puas soalnya bolong bolong.
    lewat twitter bisa ga? .-.

  2. Gak bisa nebak sumpah!! Awalnya mikir apa hyukjae/eunhyuk itu punya penyakit bipolar?? Tapi masa iya sii?? Hah bingung bingung bingung~

  3. semoga azh ikha bisa buat eunhyuk jadi lebih ceria…
    L D itu.. lee donghae bukan sih???
    eonni mnta pw nya donx…???

    1. Hi dearie, ini tulisan sumpaaaahhhh masih acak-acakan dan waktu aku masih alay. Jadi dimohon untuk memaklumi ya kalau bahasanya masih alay 🙂
      Aku udah gak protect lagi sisanya jadi monggo membaca 🙂

  4. halo kak. aku reader baru di blog kakak… ahh suka sama ceritanya. jadi donghae itu kakaknya eunhyuk? Itu eunhyuk punya 2 kepribadian atau apa ya.. wah ikha jangan tunangan sama hae. donghae keliatan jahat di ff ini.

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s