ACCIDENT (Chapter 02)

 

Key dan Ikha saling menatap kebingungan. Keduanya juga terus menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Selama beberapa detik mereka tidak saling bicara dan memilih untuk memandang tubuh masing-masing. Ikha kembali mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, berharap bahwa ia sedanglah bermimpi sekarang. Namun sayang, setiap kali ia membuka matanya, setiap kali itu pula ia melihat Key yang sedari tadi memegangi keningnya sambil mengerang tertahan.

Ya, sama halnya dengan Ikha, pria berambut blonde itu juga tengah menyadarkan dirinya. Kepalanya masih pusing dan hal itu membuatnya kesulitan untuk berfikir. Dengan sangat hati-hati, ia melirik ke arah yeoja disampingnya yang kini menatapnya was-was.

ACCIDENT

“Apa… apa yang kau lakukan disini, huh? Dan kenapa… kenapa kau ada di ranjangku?” tanya Key lirih. Kepalanya benar-benar masih terasa berat hingga membuatnya sulit untuk menatap Ikha sepenuhnya. Kemudian ia memposisikan tubuhnya untuk duduk di atas tempat tidur dengan bertumpu pada kedua siku tangan. Membuat selimut yang menutupi setengah tubuh Key sedikit turun sehingga menampakkan dada Key yang tidak terbungkus apapun.

Dengan cepat Ikha-pun memalingkan wajahnya saat melihat tubuh Key. Ia terlihat cemas. Wajahnya sarat sekali dengan kebingungan. “Y-Y-YA! HARUSNYA AKU YANG BERTANYA PADAMU! KENAPA KAU ADA DISINI DAN TIDUR DISAMPINGKU. DAN… DAN…”

Yeoja berambut sebahu itu tidak melanjutkan kalimatnya saat ia sedikit membuka selimut yang menutupinya lalu mengintip ke dalam. Ia memandangi tubuhnya yang tak terbalut kain sedikitpun dan hal itu membuatnya semakin tampak pucat. “AAAAAAAA, EOMMAAAAAAA~ ANDWAE!! ANDWAE!!!” teriak Ikha histeris  seraya mengeratkan selimutnya semakin kencang.

Sontak Key-pun menutup telinganya saat mendengar teriakan Ikha yang memekakkan telinganya. “Ya! Geumanhae!” tukas Key, masih dengan nadanya yang terdengar lemah.

“ANIYA! ANDWAE! ANDWAE!” teriak Ikha untuk kesekian kalinya sambil menendang-nendang tak karuan. Setelah beberapa menit ia terus berteriak, yeoja itu memperhatikan wajah Key dengan seksama. Matanya kembali ia kedipkan dengan cepat. Oh, tidak! Dia tidak salah lihat bukan?

“YA! KAU INI SEBENARNYA SIAPA , HAH? SETELAH MEMBUATKU SEPERTI INI, KAU MALAH MEMAKAI TOPENG DENGAN WAJAH MIRIP KEY SHINEE?? DASAR PENJAHAT KELAMIN!!” teriak Ikha kemudian mengambil bantal yang ada dibalik kepalanya, memukul-mukulkan benda tersebut ke arah Key.

Refleks, Key-pun menyilangkan kedua tangan untuk melindungi tubuhnya dari serangan Ikha. Kepalanya kini tak lagi terasa pusing. “YA! YA! GEUMANHAE! HARUSNYA AKU YANG BERTANYA PADAMU KENAPA KAU ADA DIDALAM RUANGAN INI BERSAMAKU! DAN LAGI, AKU INI TAK MEMAKAI TOPENG! AKU KEY SHINEE YANG ASLI, DASAR BODOH!” teriak Key tak kalah besarnya.

Ikha menghentikan pukulannya sesaat untuk mencerna perkataan Key, namun sedetik kemudian ia kembali menyerang namja itu lebih keras. “KAU KIRA AKU INI BODOH, HAH? KEY SHINEE TAK MUNGKIN ADA DISINI DAN MELAKUKAN INI PADAKU! DAN KAU BARUSAN MENGATAIKU BODOH? YA! DASAR OM-OM GENIT!!” pekik Ikha semakin histeris.

Karena lelah menghadapi Ikha dan yeoja itu tetap saja berteriak histeris hingga membuatnya semakin kebingungan, Key menarik bantal yang Ikha pakai untuk memukulnya sekuat tenaga sehingga membuat Ikha berhenti sekaligus. Ia menatap Ikha dengan dingin, membuat yeoja itu membeku seketika. “Dengar! Aku ini Key! Key SHINee! Tak masalah jika kau tak mempercayaiku! Yang menjadi masalah disini adalah: kenapa kita berdua bisa ada di ruangan ini?” ucap Key pelan namun tegas.

Ikha terdiam. Benar-benar diam. Ia sedang mencoba menyadarkan alam bawah sadarnya bahwa namja yang ada dihadapannya saat ini adalah Key. Oke, mungkin ia sekarang percaya bahwa namja ini adalah Key. Tapi pertanyaan yang Key lontarkan barusan adalah masalah utamanya. Kenapa dirinya ada didalam ruangan yang tak diketahuinya bersama salah satu member SHINee?

Baik Ikha dan juga Key sama-sama memandangi keadaan sekitar. Kedua pasang mata itu membulatkan matanya saat mendapati pakaian mereka yang berserakan di lantai serta diatas tempat tidur. Sejenak mereka saling pandang seolah saling bertukar fikiran. Kemudian Ikha menutup wajahnya menggunakan kedua tangan lalu menunduk.

“Eommaaa…” rintih Ikha. Suaranya agak sedikit bergetar dari biasanya.

Key mengacak rambutnya kasar. Diusapnya wajah mulus miliknya dengan cepat sambil berusaha mengingat sesuatu yang ia lewatkan. “Kita harus menenangkan diri kita terlebih dahulu,” ucap Key, berusaha menghibur diri sendiri. Namun Ikha tetap merintih pelan sambil terus menutup wajahnya. Ia masih tak berani menatap Key.

Sambil mencoba memutar kembali memori yang ia punya, Key membetulkan posisinya agak menjauhi Ikha. Ia harus membuat jarak sejauh yang ia bisa dengan yeoja yang tak dikenalnya itu. “Seingatku, tadi malam aku keluar dari ruangan KTV karena perutku… ergh, pokoknya saat itu aku mabuk dan—“ Key menghembuskan nafas beratnya sejenak sebelum melanjutkan untuk bicara. “—aku tidak ingat apapun setelah itu,” katanya menjelaskan kronologis kejadian tadi malam dengan singkat.

Na ddo (Aku juga)—“ ucap Ikha pelan. Ia menelan ludahnya lekat-lekat dengan susah payah. “—saat itu aku mabuk karena aku tak biasa minum soju. Ternyata gelasku sudah penuh dengan soju… errrr, setelah itu saat kepalaku pusing akibat soju, aku berusaha kembali ke dalam KTV karena dompetku tertinggal. Dan… sebelum aku tak sadarkan diri, aku melihat seseorang didepanku tapi aku tak bisa melihatnya dengan jelas,” terang Ikha. Kedua tangannya semakin ia eratkan untuk menutupi wajahnya.

“Eotteokhae? Eotteokhae, Key-ya,” ucap Ikha lirih.

Key menatap Ikha yang masih saja menutupi wajahnya. Sepertinya yeoja itu sedang menangis. Tapi apa yang harus ia lakukan? Ia tak ingat sedikitpun tentang kejadian tadi malam. Namun ia juga tidak bisa menjelaskan dengan tepat kenapa tubuhnya sendiri bisa polos tanpa kain sedikitpun. Selain itu, pakaian mereka yang berserakan di lantai membuat namja itu harus menguras otak. Sungguh, ia benar-benar tidak ingat apapun.

“Emm, sebelumnya maaf jika aku tidak sopan tapi… saat ini apa yang kau rasakan? Apa ada… sesuatu yang lain? Di bagian tubuhmu?” tanya Key tersendat-sendat.

Ikha mencoba untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Ia mencoba mencari tahu serta merasakan apakah ada bagian tubuhnya yang terasa sakit atau apapun itu. Dan ketika ia merasakan salah satu titik tubuhnya ngilu dan nyeri, ia-pun membuka mulutnya untuk bicara.

Sebelum Ikha sempat bicara, Blackberry Key yang ada diatas meja tepat disamping Ikha kembali berdering. Yeoja itupun mengurungkan niatnya dan lebih memilih untuk memfokuskan diri pada handphone yang berdering disampingnya.

Key melirik sekilas pada handphone-nya lalu menatap Ikha agak ragu. “Hei, bisa tolong ambilkan handphone-ku? Aku tidak mungkin mengambilnya karena aku takut… nggg, kau tahu ‘kan maksudku?” tanya Key sedikit berhati-hati.

Tanpa banyak basa-basi, Ikha mengambil Blackberry Key lalu menyerahkannya tanpa memandang wajah Key sedikitpun. Jujur saja, ia masih sulit memahami semua yang terjadi.

“Yeoboseyo?” tanya Key pada orang diseberang line telefon.

“Aniya, Hyung. Aku… aku tak sengaja bertemu teman SMA-ku dan aku tertidur di rumahnya,” kilahnya.

“Ne.. Arasseo… Ne. Aku akan segera kesana,” ucap Key lalu mematikan telefonnya.

Ia kembali menatap Ikha yang masih saja terdiam. “Mmm, mianhae. Aku harus pergi. Akan ada pemotretan jam sembilan nanti dan aku—“

“Bagaimana dengan masalah ini? Kau akan pergi begitu saja?” serang Ikha memotong pembicaraan Key.

“Tentu saja tidak. Siapa namamu?” tanya namja bersuara unik itu pada Ikha sambil berusaha meraih celana jeans-nya yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berbaring.

“Cho Ikha,” jawab Ikha seadanya. Ia masih memegang selimutnya dengan erat untuk menutupi tubuhnya.

“Bisa kau berbalik ke arah yang berbeda? Aku ingin memakai pakaianku dulu. Sementara aku memakai bajuku, tulis nomor handphone-mu di handphone-ku,” jelas Key seraya memberikan Blackberry-nya pada Ikha. Setelah memegang handphone Key, tanpa banyak basa-basi, Ikha-pun mengikuti instruksi Key dengan cepat. Karena jika tidak, bisa saja ia melihat Key tengah memunguti pakaiannya dengan kondisi telanjang bulat.

Setelah memakai pakaiannya, Key segera memposisikan dirinya duduk disamping tempat tidur. “Berjanjilah bahwa kau akan merahasiakan semua ini, Ikha-ya. Aku juga tidak akan memberitahukannya pada siapapun. Kita akan bersama-sama memecahkan semua teka-teki ini. Jujur saja, aku masih belum bisa memercayai apa yang terjadi pagi ini. Semuanya terasa sangat tiba-tiba,” terang Key panjang lebar.

“Apa kau sudah selesai memakai pakaianmu?” tanya Ikha, masih bergeming pada posisinya—memunggungi Key.

“Ne,” jawab Key singkat. Ikha-pun lalu membalikkan tubuhnya menghadap Key yang kini sudah berpakaian lengkap. Blackberry-nya ia serahkan kembali pada pemiliknya dengan agak ragu.

“Kau kira aku tidak shock? Aku ini yeoja, Key. Bagaimana jika memang semalam kita…” Ikha sengaja menggantungkan perkataannya. Sungguh, ia tidak ingin melanjutkan kalimatnya. “Omona, bahkan aku sendiri-pun tak bisa membayangkannya,” ucap Ikha lirih. Selimut yang menutupi tubuhnya ia tarik semakin atas hingga lehernya. Kini hanya kepala Ikha saja yang terlihat.

“Kita akan membahas ini lagi. Aku janji. Saat ini aku tidak punya banyak waktu, Ikha-ya. Aku akan menghubungimu lagi,” balas Key. Tanpa ba-bi-bu lagi, Key segera melesat pergi meninggalkan Ikha setelah ia mengeratkan hoodie, masker serta kacamatanya. Ia tak ingin sampai orang lain mengetahui keberadaannya saat ini atau image-nya akan hancur seketika.

Ikha bergeming di tempatnya. Pakaiannya yang berserakan membuatnya menyipitkan mata. Berbagai pertanyaan kini muncul memenuhi otaknya. Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana bisa mereka bisa tidur bersama? Dan yang lebih bodoh lagi, dimana dirinya sekarang? Siapa yang membawanya kemari?

“Cham! Apa tadi itu benar-benar Key SHINee?” tanya Ikha, lebih pada dirinya sendiri. Sejenak ia menyunggingkan senyum saat ia telah menyadari sepenuhnya bahwa namja yang tidur dengannya tadi malam adalah seorang worldstar Korea. Tapi ingatan itu ia hapus seketika saat yeoja itu memikirkan hal-hal buruk yang akan terjadi nantinya.

Yeoja itu memijit keningnya sambil terus mencoba mengingat kembali kejadian tadi malam. Namun hasilnya nihil. Percuma saja. Ia masih belum mengingat apapun…

Akhirnya Ikha memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu. Tangannya ia julurkan ke lantai untuk meraih kaus sapphire-blue-nya. Ketika ia menyibakkan selimut yang ia pakai karena ia ingin memakai jeans-nya, mata Ikha dikejutkan oleh sesuatu yang menghiasi tempat tidurnya.

Matanya membulat. Tangan kirinya yang bebas kini menutup mulutnya yang menganga. Ketika melihat pemandangan di hadapannya, tubuh Ikha langsung bergetar hebat. “Tidak… tidak mungkin…” bisik Ikha tak percaya.

“Omona… eotteokhae?”

***

Ikha berjalan dengan sangat gontai menuju pintu rumahnya. Otaknya masih memikirkan kejadian barusan yang baginya sangat membingungkan. Bayangkan saja. Ruangan yang menjadi saksi bisunya ternyata adalah salah satu kamar motel yang letaknya bersebelahan dengan KTV yang Ikha sewa tadi malam bersama teman-temannya. Well, untung dompetnya yang tertinggal di KTV masih ada. Jika tidak? Bagaimana mungkin ia bisa membayar uang sewa kamar motel? Ergh, membayangkan hal itu membuat amarah Ikha semakin naik ke ubun-ubun. Key, namja yang menidurinya tadi malam, pergi begitu saja dan tidak membayar uang sewa kamar.

Baru saja Ikha berniat untuk membuka pintu rumahnya, seseorang telah lebih dulu menarik gagang pintu dan membuat yeoja itu sedikit terperanjat karenanya. Wajahnya yang semula menunduk kini ia dongakkan. Ia mendapati Sang Eomma tengah menatapnya dingin.

“Taerin menelfon Eomma barusan. Dia mencarimu karena kau tiba-tiba menghilang dari rumahnya,” ucap Nyonya Cho garang.

Ikha menelan ludahnya lekat-lekat. Errr, bagaimana ini? Apa yang harus ia katakan? Ia sama sekali tidak pandai berbohong. “Um, aku… aku harus pergi ke percetakan pagi-pagi buta, Mom. Printer Taerin rusak sedangkan aku harus mengantarkan laporanku sebelum jam delapan,” kilah Ikha asal.

Nyonya Cho mengalihkan pandangannya ke sekeliling tubuh Ikha. Alisnya mengerut. “Mana laporanmu?” serang Nyonya Cho, membuat keringat dingin mengalir pelan dari kening Ikha.

“Errr, aku titipkan pada Ahra, Mom. Aku… aku capek karena semalam harus mengerjakan penelitianku,” elak Ikha kedua kalinya. Nyonya Cho berfikir sejenak. Dagunya ia elus-elus pelan menggunakan jari-jarinya.

“Hmm, Mom kira kau melakukan hal yang aneh-aneh. Kkaja, cepat mandi dan sarapan. Lihat, kau terlihat sangat berantakan, Ikha-ya,” ucap Nyonya Cho sambil meraih beberapa helai rambut Ikha yang terlihat kusut.

Yeoja berkulit cokelat itu hanya tersenyum kecut. Ah, ia baru sadar kalau sekarang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Berarti tadi pagi Key meninggalkannya sekitar jam empat? Apa ia sengaja agar orang-orang tidak mengetahui keberadaannya?

Ikha segera langkahkan kaki menuju kamar tercintanya, menutup pintu kamar, lalu menguncinya dengan rapat. Ia mengelus dadanya sambil menghembuskan nafas dengan kasar. Untunglah Eomma-nya mempercayai perkataannya. Padahal jika Sang Eomma menyerangnya sekali lagi, maka ia tidak akan bisa berdalih karena otaknya sudah sangat buntu.

Ditatapnya cermin yang ada dihadapannya kini dalam-dalam, memperhatikan sosok dirinya sendiri sambil menerawang jauh. Ia harus mengingat kejadian tadi malam atau selamanya menjadi sebuah teka-teki yang tak akan pernah terjawab. Ikha menyipitkan kedua matanya seraya menarik rambutnya dengan kasar. Ya, satu-satunya yang harus ia ingat adalah orang yang ditemuinya sebelum ia jatuh pingsan. Tapi kapan ingatan itu akan kembali padanya?

“ARGH!!” pekik Ikha lalu menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke atas tempat tidur.

***

Key menggigit kuku ibu jarinya pelan. Kakinya ia silangkan dan pandangannya menatap kosong sesuatu didepannya. Apa yang harus ia lakukan? Ia masih takut jika membayangkan apa yang terjadi tadi malam antara dirinya dengan yeoja yang bernama Cho Ikha itu. Meskipun pada dasarnya, ketakutannya yang paling besar adalah ‘kenyataan’. Kenyataan yang menyebutkan bahwa mereka memang sudah melakukan ‘itu’ tadi malam.

“Ya! Kenapa kau diam saja? Sekarang giliran pengambilan fotomu, Key. Kkaja!” tukas Onew, menyuruh dongsaeng-nya itu untuk bersiap-siap.

Key mengerjapkan matanya untuk mengembalikan kesadarannya. “O—baiklah,” ucapnya lalu merapihkan pakaiannya yang agak kusut.

“Tak apa. Choi Jin Hyung tidak akan memarahimu karena kau menginap di rumah teman tanpa sepengetahuannya. Berterima kasihlah padaku karena aku berhasil meyakinkan Jin Hyung,” ucap Onew sembari melepas kancing kemeja yang dipakai saat pemotretannya.

Key hanya tersenyum tipis. Yeah, bersyukurlah dirinya karena Onew mau menerangkan pada sang manager perihal alasannya tadi malam. Padahal jika Onew tahu kejadian yang sebenarnya, pasti Hyung-nya itu tidak akan membela dan malah menyuruhnya untuk keluar dari SHINee. Hhhh, membayangkan hal itu justru membuat bulu kuduknya merinding. Dia sudah bersusah payah bekerja keras agar bisa terkenal hingga sekarang. Dan karena kecerobohannya tadi malam, bisa saja semua yang telah ia peroleh saat ini sirna seketika.

Sebelum fotografer memanggilnya untuk melakukan sesi pemotretan, Key mengetik sesuatu pada Blackberry-nya dengan cepat lalu meletakkan handphone-nya diatas meja. Hari ini juga ia harus bertemu dengan yeoja itu atau semuanya akan semakin rumit…

***

 “Ya! What’s wrong with you, huh? Kau terus saja membungkam mulutmu seharian ini. Benar-benar aneh,” tukas Taerin sambil sesekali mencolek bahu Ikha.

“Ani,” Hanya itu jawaban dari mulut Ikha. Membuat Taerin mendengus pelan lalu memutar bola matanya.

“Han Taerin,” sahut Ikha tanpa menatap Taerin sedikitpun. Yeoja yang diajaknya bicara hanya berdeham sebagai pengganti jawaban ‘ya’.

“Kenapa kau meninggalkanku tadi malam?” tanya Ikha langsung pada intinya.

“Eh? Mana kutahu! Tiba-tiba saja aku terbangun di pagi hari dan tidak menemukanmu di rumahku. Lagipula kau kemana semalam, huh? Tadi pagi kutelfon Eomma-mu dan dia juga tidak tahu kau ada dimana,” Taerin balik bertanya.

Mendengar penjelasan Taerin barusan membuat Ikha—dengan cepat—menjitak kepala Taerin. Taerin hanya meringis pelan sambil mengusap kepalanya. “PABO! PABO! PABO! HARUSNYA KAU BERTERIMA KASIH PADAKU KARENA AKU TELAH DENGAN SUKA RELA MEMBOPONG KALIAN KE DALAM TAXI! AKU MENYURUH TAXI YANG MEMBAWA KALIAN UNTUK MENUNGGUKU SAAT AKU HARUS MENGAMBIL DOMPETKU YANG TERTINGGAL DAN—“

Ikha seketika menghentikan kalimatnya atau ia akan ‘keceplosan’ dan menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Key.

“Ye, ye, ye. Algetta. Gomawo, gomawo… Lalu apa? Dan apa?” ucap Taerin semaunya.

Ikha berfikir sejenak untuk memilah kata apa saja yang harus ia sebutkan. “Dan… dan… dan aku tidak tahu lagi. Saat itu kepalaku pusing gara-gara kau—sepertinya yang—menuangkan soju ke dalam gelasku. Bodohnya aku tidak tahu dan malah menenggak soju itu hingga aku harus tak sadarkan diri,” jelasnya, menyalahkan Taerin.

“Mwoya? Jadi kau meminum soju itu? Lalu tadi malam kau pingsan dimana?” tanya Taerin sedikit menginterogasi Ikha.

“Aisshh! Kau terlalu banyak tanya!” dalih Ikha. Ia mengambil handphone-nya yang bergetar cukup keras di kantung jeans-nya lalu membaca sebuah pesan yang menghiasi layar handphone-nya.

Setelah membaca pesan tersebut, Ikha segera beranjak dari tempatnya dan berlalu meninggalkan Taerin sendirian tanpa pamit sedikitpun.

“Ya! Ya! Ya! Cho Ikha! Aku sedang bicara denganmu! Eodiga isseoyo?” tanya Taerin setengah berteriak.

“Aku harus menyelesaikan urusanku,”

***

Key menggerak-gerakkan sedotan yang ada didalam gelas minumannya dengan malas. Ia sudah menghabiskan waktunya selama tujuh menit didalam sebuah cafe sendirian. Orang yang ditunggunya ternyata masih belum muncul juga.

“Sudah lama menunggu?” tanya seorang yeoja yang tak lain adalah Cho Ikha. Wajahnya memerah dan berkeringat. Nafasnya-pun sedikit terengah-engah. Dijentikkannya jari Ikha dengan maksud untuk memanggil pelayan dan tak lama kemudian orang yang diinginkannya itu datang membawa daftar menu.

Key mengerutkan alisnya dan menatap Ikha keheranan. Jujur saja, ia sebenarnya lupa dengan wajah Ikha. Tapi saat melihat tahi lalat yang ada di dekat bibirnya, Key dapat memastikan bahwa yeoja ini memang Cho Ikha.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Key seraya meletakkan gelas yang sedari tadi ia pegang ke atas meja.

“Memesan minuman. Ternyata jarak dari halte bus ke cafe ini cukup jauh jadi tadi aku berlari sampai kesini. Ditambah lagi diluar matahari bersinar sangat terik. Ugh,” oceh Ikha tanpa sedikitpun menoleh pada Key.

“Ya! Aku sudah memesankan minuman untukmu,” terang Key gemas. Ikha melirik sekilas pada Key dan namja itu lalu mengarahkan matanya pada segelas minuman yang belum disentuhnya.

Mata Ikha-pun bergerak ke arah yang ditunjuk Key. Ia tersenyum kaku lalu menyerahkan daftar tersebut pada si pelayan yang terus saja berdiri disamping Ikha. “Mian. Aku tidak jadi memesan,” ucap Ikha malu-malu.

Si pelayan tersenyum ramah lalu meraih menu tersebut. Key hanya menggelengkan kepala. Hah, sudah lama dia tidak menemukan yeoja bodoh seperti Cho Ikha. “Sepupuku ini memang agak aneh, Yang. Jadi biarkan saja,” terang Key pada si pelayan. Orang tersebut membungkuk sejenak kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.

Tanpa diperintah lagi, Ikha segera menenggak minumannya. Meminumnya dengan cepat seolah ia tak pernah menemukan air. Saat ia akan menyelesaikan tegukan terakhirnya, matanya ia lirikkan ke arah Key yang tengah menatapnya. Hampir saja Ikha tersedak dan menyemburkan air yang ada di mulutnya saat ia menyadari bahwa Key sama sekali tak memakai apapun di wajahnya.

“Ya! Kau tidak memakai masker atau apapun itu? Bagaimana kalau fans-mu….” Ikha menggantungkan kalimatnya kemudian mengedarkan pandangan ke segala arah.

Key berdecak pelan. Kedua tangannya ia lipat di dada lalu menyandarkan punggungnya pada senderan kursi. “Kau tidak dengar apa yang kukatakan pada pelayan tadi? Aku bilang kau ini sepupuku,” jelasnya seraya memijit keningnya pelan. Yeoja di hadapannya ini benar-benar tidak sepintar yang ia duga. Dan dengan santainya Ikha hanya mengangguk pelan sambil ber-oh ria.

“Kau terlambat tujuh menit,” ucap Key dengan santainya.

“Kau fikir jarak antara kampusku dengan cafe ini sedekat yang kau kira?” hardik Ikha, berusaha membela diri.

“Memang kampusmu dimana?” tanya Key, memastikan.

“Pai Chai. Beruntunglah karena aku menyuruh sopir bus untuk mempercepat lajunya. Kalau tidak?” oceh Ikha lalu meletakkan gelas kosongnya dengan kasar di atas meja. “So? Bagaimana kelanjutan cerita kita?” sambungnya.

“Cerita kita?” Key balik bertanya, takut-takut ia salah dengar.

Ikha mendengus kasar lalu memelototi Key. “Neo jinjja! Juggoshipeoseo?” ucap Ikha seraya melayangkan tas laptopnya pada Key.

“Wow, ternyata kau tipe yeoja galak juga, ya?” kata Key setengah meledek. “Baiklah. Aku tidak akan bercanda lagi, Ikha-ya… Kejadian tadi malam itu… jujur saja, aku masih belum menemukan jawabannya,” jelasnya. Raut wajah Key yang semula tersenyum kini berubah serius.

“Lalu bagaimana sekarang? Aku…sebenarnya bisa saja melupakan kejadian tadi malam dan menganggapnya tak pernah terjadi. Tapi aku yakin sekali kalau tadi malam—“ Ikha langsung menghentikan kalimatnya. Kelopak matanya menutup, urat di lehernya-pun tampak tegang. “—ergh, bagaimana aku harus menjelaskannya?” gumamnya kemudian menghempaskan diri pada senderan kursinya.

“Untuk memastikan semuanya, kita tunggu sampai bulan depan. Sampai masa menstruasimu tiba. Ottheo?” ucap Key menerangkan.

Di tengah kegalauannya Ikha hanya mengangguk pelan. Ide namja itu tidak buruk juga. “Geundae… jika setelah satu bulan itu ternyata aku ham—“ Ikha memotong kalimatnya saat tak sengaja mengucapkan kata terlarang tersebut. Telapak tangannya menutupi mulutnya dengan refleks. Ia sedikit berdeham untuk membersihkan kerongkongannya. “Jika ternyata itu benar, apa yang akan kau lakukan?” imbuhnya.

Ikha menatap Key yang terlihat menghembuskan nafasnya dengan berat. Namja itu balik menatap Ikha dan berusaha bersikap setenang mungkin. “Nan molla… aku bingung…” jawab namja berambut blonde itu lirih.

“Ne, Arrayo. Aku tahu bagaimana posisimu sekarang, Kibum-ah. Lagipula aku juga tidak menyalahkanmu karena kita sama-sama merasa tak melakukannya bukan? Hanya saja… aku seorang yeoja… jika memang aku ham—“ Lagi, Ikha menghentikan kalimatnya saat itu juga. Ia menelan ludahnya lekat-lekat sambil mengibaskan poninya sejenak. “Jangankan dirimu. Aku sendiri-pun bingung. Bagaimana aku harus menjelaskan pada keluargaku—terutama Appa-ku—saat ia melihat perutku membuncit setiap bulannya?” terangnya tak mau kalah.

“Apa kau merasakan ada yang lain dari tubuhmu?” tanya Key pada akhirnya. Ia masih menatap Ikha dengan lekat. Sebenarnya ia agak ragu untuk mengucapkan kalimat sensitif itu. Namun ia harus memastikan sesuatu.

“Ne,” jawab Ikha. Nadanya penuh dengan kepastian.

Key memukul keningnya pelan. Mendengar jawaban Ikha barusan seolah menyerap semua tenaganya. Bahunya yang semula tegak kini terkulai. Namja itu menatap Ikha lagi, ia berniat untuk menanyakan satu hal yang terlewatkan.

“Apa… kau pernah melakukan… ‘itu’… dengan orang lain selain aku? Mungkin saja jika nanti kau—“ Key menghentikan sejenak perkataannya. Tadinya ia berniat untuk mengatakan kata ‘hamil’. Namun kata itu ia ia ganti dengan body language dengan cara menggerakan tangan pada perutnya. “—dan ternyata anak di dalam perutmu itu bukanlah dari hasil perbuatanku,”

Ikha membulatkan matanya. Ia bisa menangkap apa maksud perkataan Key. “Jadi… kau fikir aku ini yeoja murahan, huh?” tukas Ikha namun tetap berusaha memelankan suaranya.

Ia menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan pelan. Ditatapnya Key dengan tajam seolah menantangnya untuk adu bicara. “Dengar, Kim Kibum. Kau pasti berfikir bahwa aku ingin menjebakmu agar kau selamanya menjadi milikku. Iya ‘kan? Jawabannya: TIDAK! Kutekankan beberapa hal padamu, Tuan Kim. Pertama, aku ini seorang ELF. Kalaupun aku memiliki niat seperti itu, pasti aku akan menjebak Eunhyuk atau Leeteuk Oppa terlebih dahulu. Kedua, aku bukanlah yeoja murahan yang dengan mudahnya tidur dengan namja lain seperti yang kau fikirkan saat ini. Dan ketiga, sekalipun ternyata terbukti bahwa aku ‘positif’, aku akan lebih memilih untuk menggugurkannya. Jadi kau tidak akan dirugikan dan kau tak perlu khawatir dengan pamor-mu sekarang. Puas? Jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan, lebih baik kita akhiri saja pertemuan kita. Aku lupa kalau kau ini seorang superstar,” ucap Ikha panjang lebar. Suaranya memang sangat kecil tapi Key bisa mendengar semua kalimat Ikha dengan jelas.

Key menatap Ikha yang tengah meraih tas tangan dan juga tas laptop-nya. Kentara sekali bahwa yeoja itu termakan amarah akibat kata-katanya. “Tidak, Ikha-ya. Aku tidak bermaksud unt—“

“Annyeong haseyo,” sahut Ikha memotong kalimat Key. Sedetik kemudian, yeoja yang lebih pendek lima centimeter dari Key itu pergi meninggalkan namja itu sendirian.

***

“Kau mau banana milk?” tawar Jonghyun pada Key yang sedari tadi bersandar pada kitchen-set sambil melipat kedua tangannya.

Key meraih banana milk tersebut dan memberikan sebuah senyum kecut sebagai tanda terima kasih-nya pada Jonghyun. Ia menghisap susu tersebut perlahan lewat sedotan kecil yang ada. “Kau tidak mengambil persediaan banana milk milik Taemin ‘kan, Hyung?” tanya Key memastikan.

Jonghyun menggedikkan bahunya sekali. Setelah itu, ia ikut menyenderkan tubuhnya pada kichen-set seperti yang dilakukan Key. “Aku hanya mengambil untuk kita saja. It’s not a big problem, right?” terang namja bertubuh kekar itu dengan santainya.

“Ya! Kalau Si Baby tahu, dia pasti akan memarahiku, Hyung! Kau tidak ingat kejadian kemarin ketika Minho mengambil banana milk-nya?” tukas Key lalu meletakkan susu yang sempat ia minum ke atas meja.

Jonghyun memutar bola matanya. Benar juga. Kemarin Minho mengambil persediaan susu milik Si Baby Taem dan hasilnya? Minho—yang notabene paling atletis diantara mereka berlima—harus terkena pukulan bertubi-tubi dari Taemin. Well, meskipun kelihatannya kurus, Taemin ternyata memiliki tenaga cadangan yang cukup besar.

“O—Key-ya, aku ingin menanyakan sesuatu padamu,” ucap Jonghyun mengalihkan pembicaraan.

“Katakan saja,” jawab Key sambil membersihkan kitchen-set dan beberapa piring yang telah dicucinya.

“Kemarin malam kau pergi ke rumah siapa? Kalau kuperhatikan, semenjak kau pulang dari rumah temanmu—seperti itulah yang Jin Hyung katakan padaku—kau terlihat lebih diam dan tidak banyak bicara,” selidik Jonghyun sambil memperhatikan gerak-gerik Key.

Key sempat membeku beberapa detik tepat setelah mendengar kalimat yang Jonghyun lontarkan. Namun sedetik kemudian, ia kembali melanjutkan aktivitasnya seperti semula. Ia tak menjawab pertanyaan Jonghyun dan lebih memilih untuk diam.

“Hmm, baiklah. Aku tidak akan menanyakan hal itu lagi. Tapi jika kau membutuhkan seseorang untuk diajak bicara, kau tahu siapa orangnya,” jelas Jonghyun lalu menepuk pundah Key dan berlalu meninggalkannya sendirian di dapur Dorm mereka.

Key memutar bola matanya untuk menatap punggung Jonghyun yang kian menghilang. Kenapa Hyung-nya itu bisa mengetahui perubahan sikapnya? Padahal ia sudah berusaha bersikap sebiasa mungkin didepan yang lain. Ya, inilah alasan kenapa ia sangat dekat dengan Jonghyun dibandingkan dengan member lain: karena Jonghyun memahaminya.

***

Sudah lima menit Ikha terus saja menekan-nekan keypad handphone-nya dengan terburu-buru. Ia juga sudah beberapa kali mencoba menelfon Key namun setiap kali itu pula operator telefon-nya mengatakan bahwa nomor yang ditujunya selalu diluar jangkauan. Dimana namja cerewet itu? Apa dia berusaha kabur ke luar negeri untuk menghindarinya?

Tak habis akal, segera Ikha sambungkan modem pada laptop kesayangannya. Biasanya pertama kali yang ia lakukan saat internet tersambung pada gadget-nya itu adalah membuka website resmi Super Junior. Namun kali ini lain. Ia sedang membutuhkan informasi dimana keberadaan Key sekarang.

Setelah membuka website resmi SHINee, yeoja itu meng-klik laman ‘schedule’ kemudian memperhatikan setiap tanggal yang tertera. Ergh, kalau saja dia itu Shawol, mungkin ia tidak akan kesulitan mengetahui jadwal kegiatan SHINee. Mata Ikha menyipit saat mendapati beberapa tanggal yang menyebutkan kegiatan mereka di Jepang. Well, mungkin Key sekarang ada disana untuk promo single Juliette. Karena itu namja manis itu sulit untuk dihubungi.

Selanjutnya, Ikha mencari tanggal yang tertera simbol TV kecil di pojoknya. Hmm, SHINee akan mengikuti acara Idol Championship satu minggu lagi, dan itu artinya mereka akan shooting acara tersebut satu minggu sebelumnya.

Ikha kembali mengecek tanggal tersebut lalu melingkari kalendernya sendiri. Ya, ia harus datang ke stadiun itu untuk bertemu Key. Ada hal penting yang harus ia katakan. Sudah hampir enam minggu mereka tak bertemu setelah pertemuan terakhir mereka dan yeoja itu tidak akan bersikap manis lagi. Kali ini ia harus tegas.

Sebelum mematikan laptop, ditatapnya sebuah benda yang terletak disamping laptop Ikha dengan tatapan tak percaya. Benda berwarna putih dengan panjang ± 6 cm tersebut menampakkan dua buah garis merah di tengahnya. Ikha menghembuskan nafasnya berat. Menundukkan kepala dan menutup wajahnya dengan erat.

Positive…” bisiknya pada diri sendiri.

***

“KYAAA! HEECHUL OPPA!” teriak Taerin histeris saat mendapati bias-nya ada diantara peserta Idol Championship. Balon Sapphire-blue-nya semakin ia ayun-ayunkan kesana kemari.

Ikha-pun tak kalah histeris. Yeoja itu terus saja meneriaki nama ‘Lee Hyuk Jae’ saat kelompok SM Town muncul dan bergabung ke dalam barisan. Awalnya Ikha memang berniat untuk bertemu Key, tapi saat melihat Eunhyuk, yeoja itu seolah terbius olehnya hingga melupakan tujuan utamanya.

Cukup lama Ikha memandangi Eunhyuk sambil berteriak tak karuan. Namun saat ia menggeser pandangan matanya ke beberapa orang di belakang Eunhyuk, senyum dan teriakannya hilang seketika. Disana, ia melihat Key tengah melambaikan tangan pada para penonton di stadium. Ah, benar!

Segera Ikha mengambil handphone-nya dan mengetik sesuatu pada Key. Setelah itu, ia terus memperhatikan gerak-gerik namja itu di lapangan. Ia melihat Key tengah bermain dengan Blackberry-nya dari kejauhan. Ia tak begitu yakin apa yang sedang namja itu lakukan. Namun sedetik kemudian ada sebuah pesan masuk ke dalam handphone Ikha. Dengan cepat, yeoja bertubuh mungil itu membaca isi pesan tersebut.

 From: Si bawel ‘Kim’

“Temui aku di ruangan dekat gerbang ke-7 saat makan siang nanti”

Sontak Ikha mengarahkan matanya pada Key. Diperhatikannya namja itu tengah mengamati sekeliling penonton yang hadir siang ini. Apa si Almighty itu tengah berusaha mencari dirinya? Hmm, entahlah. Tak ada salahnya ‘kan untuk sedikit percaya diri?

***

Ikha menundukkan kepalanya sambil memainkan potongan kertas yang ada di lantai menggunakan ibu jari kakinya. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku hoodie full color miliknya dengan erat. Sesuai yang dijanjikan oleh Key, ia sekarang berada di pintu gerbang ke-7 untuk menemuinya sekaligus memberitahunya sebuah fakta yang mungkin sulit untuk dia terima.

“Kukira kau tidak ingin menemuiku lagi?” tanya seseorang dari balik dinding yang menghalangi mata Ikha. Perlahan, orang tersebut menampakkan diri. Dan yeah, siapa lagi kalau bukan Kim Key Bum.

Ikha semakin mengeratkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie. Ia menghembuskan nafas dengan berat. Asal kau tahu saja, ia sangat bingung harus memulai darimana. Yeoja berambut sebahu itu membungkukkan tubuhnya beberapa derajat tanpa melakukan kontak mata sedikitpun dengan Key. Setidaknya ia harus bersikap sopan sedikit bukan?

“Igeo…” ucapnya lirih. Kepalanya menunduk, ia masih belum cukup keberanian untuk mengatakan apa yang menjadi tujuannya bertemu Key saat ini.

“Malhaebwa. Aku akan mendengarkanmu dengan baik kali ini,” kata Key.

Ikha sejenak menengadahkan kepalanya lalu menatap Key. Namja itu tengah tersenyum padanya. Hah, tidak, bukan senyumnya yang ia harapkan saat ini. Justru senyum itu malah semakin menambah buruk mood Ikha. Namja yang tengah memakai kaus hijau pastel di hadapannya itu tidak tahu kabar apa yang akan ia katakan.

“Tidak usah takut, Ikha-ya. Katakan saja. Aku akan menerimanya,” ucap Key mantap. Sekali lagi, yeoja itu menatap Key dengan tatapan takjub. Apakah dia ini benar-benar Key? Namja yang telah menghinanya beberapa waktu lalu?

“Sebelumnya, maaf. Kemarin itu… aku tidak bermaksud mengatakan hal-hal buruk tentang-mu. Aku hanya… yah, terlalu bingung,” jelas Key lagi. Punggungnya ia sandarkan pada dinding sambil memasukkan kedua tangan kedalam saku celana hitam selututnya.

Ikha tersenyum tipis. Ya, dia tahu apa yang ada di fikiran Key sekarang. Sama sepertinya, semuanya terasa sangat tidak masuk akal. “Sebaiknya kau selesaikan dulu pertandinganmu. Kita bisa bicarakan ini lain kali. Apa kau sudah makan siang? Lebih baik kau pergi dan bergabung dengan yang lain. Aku akan menunggumu sambil menyemangati Eunhyuk Oppa di bangku stadium,” kilah Ikha lalu berniat untuk pergi dari tempatnya.

“Pasti ada sesuatu. Iya, ‘kan?” tahan Key. Tangannya mencengkeram erat lengan Ikha hingga yeoja itu tak berkutik sedikitpun. “Katakan sekarang atau kau tidak akan bisa menemuiku nantinya. Setelah ini mungkin aku akan segera pergi ke SM untuk latihan PV Jepang terbaru kami dan masih banyak jadwal lainnya yang menungguku,” imbuh Key kemudian melepas cengkeramannya.

Ikha mundur satu langkah ke belakang agar tubuhnya bisa berhadapan dengan Key. Sejenak ia mendesah pelan sebelum akhirnya memutuskan untuk balas menatap Key yang tengah menatapnya dalam.

“Baiklah,” ucap Ikha pada akhirnya. Ia kembali menghembuskan nafasnya dengan kasar sebelum bicara.

“Sebenarnya aku tidak ingin merusak suasana hatimu hari ini. Geundae… aku harus mengatakan ini padamu,” ucap Ikha sedikit terbata-bata.

“Mengenai kejadian lalu?” tanya Key meyakinkan.

“Ne,” jawabnya. Kepalanya kembali ia tundukkan. Sungguh, ia tak berani sedikitpun untuk menatap Key lebih lama.

“Sudah kukatakan sebelumnya bukan? Aku akan mendengarkanmu dengan baik,” ucap Key lembut.

Mendengar kata-kata Key yang seolah meyakinkannya bahwa namja itu memang akan terbuka dan siap mendengarkannya, sontak Ikha-pun berusaha mengumpulkan tenaga yang ia punya. Diraihnya sebuah benda kecil berwarna putih di dalam salah satu kantung hoodie-nya kemudian menyerahkan benda tersebut pada Key.

“Sebelumnya aku akan menekankan sesuatu padamu, Key. Sekalipun aku akan memberitahumu akan hal ini, aku tidak akan memaksamu untuk melakukan apapun yang—menurutmu—akan merugikanmu. Aku akan memikirkan segalanya, membuat rencana baru, pindah ke luar negeri, atau apapun itu asal aku bisa membesarkan anak ini. Jujur saja, saat hasil test itu menunjukkan bahwa aku hamil, aku merasa takut. Aku takut melihat reaksi Appa, Eomma, naui dongsaengi, naui chingureul, dan kau…” terang Ikha. Ia berusaha melihat reaksi Key dari sela-sela sudut matanya saat namja itu tengah melihat benda putih tersebut.

Key menatap benda bergaris merah tersebut tak percaya. “Jadi… kau benar-benar….”

“Kau tidak usah takut. Aku tidak akan meminta pertanggung-jawabanmu. Hanya saja, kau harus tahu akan hal ini. Jika nanti anak ini lahir dan ternyata memang benar anakmu, kau tak boleh lari dariku,” potong Ikha.

Kedua mata Key kini ia alihkan pada Ikha yang tengah menyorotkan pandangannya pada benda yang ada di tangan Key. “Lalu… apa yang akan kau lakukan? Menanggung semuanya sendirian? Kau yakin?” tanya Key sedikit menyerang Ikha. Yeoja itu mengangkat bahunya sekali dengan lemah. Ia menghembuskan nafasnya sekali lalu mengangguk tanda mengiyakan.

“Aku semakin terlihat seperti nappeun namja,” gumam Key lirih.

“I’m fine… I’m smarter than you think,” ucap Ikha sedikit menyemangati. Padahal di dalam hati ia menyalahkan diri sendiri. KENAPA TADI DIA BILANG BAHWA DIA AKAN MEMBESARKAN ANAK ITU SENDIRIAN? Pabo! Pabo! Pabo!

“Aniyo. Aniyo. Ok, fine. Aku memang masih belum bisa menerima semuanya tapi bagaimana denganmu? Bagaimanapun juga perutmu itu akan semakin membesar, Ikha-ya. Dan—“ Key mengibaskan poni blonde-nya ke belakang lalu memutar bola matanya ke segala arah. “—ergh, eotteokhania?” erang Key sambil menggenggam alat tes kehamilan yang barusan Ikha serahkan padanya dengan erat.

Ikha, yang sedari tadi menunduk, kini mengangkat kepalanya. Ia berniat untuk menenangkan Key. Namun sosok seseorang yang tengah menatap ke arahnya dari balik punggung Key membuat Ikha sejenak menahan nafasnya. Jantungnya berdebar hebat. Oh, tidak! Orang itu tidak mendengar perbincangan mereka bukan?

“Key…” gumam Ikha dengan suara yang sepelan mungkin.

Ye?” ucap Key. ia menatap Ikha dengan keheranan saat yeoja itu memutar bola matanya ke kiri dan ke kanan. Matanya seolah menyuruhnya untuk menatap sesuatu di belakangnya.

“Waeyo?” tanya Key lagi memastikan. Ikha hanya menyuruh Key—menggunakan body language-nya—untuk berputar melihat si sosok yang melihatnya dengan tatapan yang sangat garang.

Key-pun memutar tubuhnya sesuai dengan apa yang diperintahkan Ikha. dan ketika matanya menangkap sesosok namja yang tengah berdiri tegak tak jauh dari tempatnya berdiri, Key segera menyembunyikan tes kehamilan yang ia pegang dibalik pantatnya.

“Hyung?”

…bersambung…

Header 01 (Cut)

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

26 thoughts on “ACCIDENT (Chapter 02)”

  1. arhhh.. key disini ga peka banget sih k perasaan cewek
    kn kasian si ikha hamil tuuuu
    masa km ngebiarin ikha nanggung semuanya sendiri key
    *kejaaaammm (ーー;) *

  2. aku mau nebak, yang denger itu jonghyun oppa ya eon….
    kalau bener aku dikasih hadiah ya…hehehehe#nyuri evil laugh kyu oppa…

  3. Huuuwwwaaa. . nah lho kn? ikha nya hamil. . ??
    ehm. . itu yg dengerin omongan mereka jonghyun bkan? klu ketauan . . ntar gmn nanti nasib ikha. .
    ayo. . . lanjut marathon lg. .

      1. hidup pantat Key.!! *teriakPakeTOA
        eh, Ikha-ya..
        pantat Key bisa buat ngumpetin Kyu juga, ndak.?
        kita berdua habis ke gap mojok trus dikejar sparkyu ni.. *sodorinKyu

      2. hah? ke-gap ngapain rhuuu? Waaah, kalian berdua maen gapleh di pos kamling ya? Ya ampun, kan gue udah bilang ma si abang jangan bawa” cewe kalo mau maen gapleh. Aissshhh~

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s