WHO ARE YOU (Chapter 10)

Kurasa kau juga mengetahui sesuatu, Hyung. Tapi kau tidak memberitahukannya padaku. Benar ‘kan?” tanya Key memastikan. “Cepat katakan atau aku akan segera menelfon Manager!!!”

***

It's Too Late (1)

Key mengoyang-goyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan sambil mendengarkan alunan musik pada headset yang terpasang di kedua telinganya. Setelah sekian lama ia bersikap acuh dan diam, kini ia kembali terlihat sumringah seperti sedia kala.

“Pabwa! Apa yang membuat Key terlihat sangat senang hari ini?” tanya Onew seraya melirik pada Key yang duduk di samping bangkunya.

Minho menggedikkan bahunya dan mencibir. “Entahlah. Mungkin karena dia sudah lama tidak naik pesawat?” ejek Minho yang berhasil membuat Key melepas kacamata hitamnya lalu melirik ke arah Minho.

“Berhentilah mengataiku seperti itu, Minho-ya. Harusnya kalian senang karena kita sedang dalam perjalanan menuju Indonesia. Ah, aku sudah tidak sabar ingin bertemu mereka (Shawol—red). Benar ‘kan, hyung?” tanya Key tersenyum pada Jonghyun. Jonghyun hanya bergumam tak bersemangat. Jelas saja, Key sudah memerasnya dan juga Yeo Ra untuk mengatakan keberadaan Ikha dengan mempertaruhkan hubungan mereka. Dan satu hal yang pasti, Key terlihat sumringah bukan karena konser mereka, tapi karena dia menemukan fakta lain : Ikha sekarang berada di Indonesia bersama dengan adiknya. Hal itulah yang membuatnya bersemangat pergi ke negara tropis tersebut.

Setelah menghabiskan tujuh jam didalam pesawat, akhirnya SHINee’s Stuff tiba juga di bandara Soekarno-Hatta. Puluhan sequrity tengah berjaga di sekitar tempat kedatangan mereka untuk mengantisipasi membludaknya kehadiran Shawol yang tak terduga. Satu per satu, mereka berbaris didepan loket untuk mengecek visa mereka.

Saat giliran Key tiba, ia menjulurkan visanya pada seorang yeoja yang menjadi petugas tersebut. Ia mendengar yeoja itu mengucapkan sesuatu dengan bahasa Inggris-nya yang sangat fasih dan jelas. Dan ketika ia akan mengucapkan sesuatu, lidahnya tiba-tiba saja menjadi kaku dan berat. Ia menatap yeoja yang tengah tersenyum ramah padanya tanpa berkedip. Meskipun hairstyle serta make-up yang menghiasi wajahnya membuat yeoja itu terlihat lain, namun ia masih dapat mengenali dengan jelas yeoja yang tengah mengecek visanya itu.

Yeoja itu masih sibuk mengecek visa milik Key. Dan kesempatan itupun dipakai Key untuk lebih lama mengamati setiap inchi wajah yeoja itu. Sekilas ia mencoba membaca name-tag yang tergantung disebelah kanan blues birunya. Ternyata nama yeoja itu bukanlah Cho Ikha—seperti yang diharapkannya—melainkan ‘Katrina’. Tak lama kemudian, yeoja itu menyerahkan visanya, membuat mata mereka saling bertemu. Key berharap yeoja itu akan terkejut saat melihat wajahnya yang tak ditutupi apapun, tapi….

“Thanks for your coming. Enjoy your vacation here, Sir,” ucapnya ramah sembari mengumbar senyumnya. Key hanya tersenyum kecut lalu berjalan perlahan menjauhi loket tersebut agar Taemin—yang sedari tadi berdiri di belakangnya—segera mengurus visanya.

@@@

Ikha segera melepas syal orange-nya ketika sampai di ruangannya. Disenderkan kepalanya sesaat pada senderan sofa sambil memejamkan mata. Pekerjaannya sebagai pramugari sekaligus resepsionis bandara yang menuntut dirinya untuk berdiri selama sembilan jam itu membuatnya terasa lelah. Tapi bukan hal itu yang membuat hatinya gusar saat ini, tapi kehadiran seseorang yang sangat berarti baginya yang muncul tiba-tiba di hadapannya.

Untung dia bisa mengontrol emosinya, jika tidak, apa jadinya nanti jika dia harus berteriak sekencang mungkin saat Key tersenyum padanya ketika dia menyerahkan visa namja tersebut di loket barusan? Ditambah lagi Onew dan Choi Jin yang tak henti-hentinya menanyainya pertanyaan-pertanyaan bodoh seperti ‘Apa aku pernah mengenalmu’, ‘Mengapa kau mirip sekali dengan orang yang kami kenal’, ‘Kau terlihat cantik mengenakan baju kerjamu’, dan masih banyak lagi.

Well, sebenarnya Yeora sempat mengiriminya email perihal kedatangan SHINee ke Indonesia malam ini. Jadi Ikha bisa mempersiapkan mentalnya saat bertemu dengan Key nanti. Dan sepertinya ia berhasil melakukannya.

Selesai mengatur nafas dan juga emosinya, Ikha meraih tas kerjanya lalu berjalan meninggalkan ruangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 01.00am dan itu berarti bahwa shift kerja malamnya telah selesai. Hanya dibutuhkan waktu kurang lebih dua puluh menit hingga akhirnya ia sampai di sebuah apartemen tempat dirinya tinggal yang tak jauh dari bandara. Setelah menyapa penjaga yang tengah berdiri di tempat resepsionis, ia berjalan menuju lift lalu menekan tombolnya dengan malas.

“내 생각이 맞아, 그녀는 당신입니다 (Ternyata benar kalau yeoja itu adalah kau),” ucap seseorang dibalik punggung Ikha. Yeoja itu dengan segera memutar tubuhnya ke arah sumber suara. Dan, Tada! Ia mendapati Key yang tengah berdiri sambil menyunggingkan senyum padanya.

“Annyeong,” sapa Key dengan wajah yang sulit diterka. Ikha, yeoja itu hanya berdiam diri saja, tak berekspresi sedikitpun. Perasaannya kalut, antara bahagia, sedih, bingung dan kacau. Bukannya ia ingin menghindar dari Key, tapi ia telah berjanji pada kedua orang-tuanya untuk menjauh dari kehidupan idolanya itu. Kejadian dahulu membuat kedua orang-tuanya mulai protective padanya. Ditambah lagi semua media menyebutkan bahwa dirinya terkena amnesia. Jadi tak ada alasan baginya untuk mengenal Key.

“당신은 날 몰라? 나는 Kim Ki Bum, Ikha-sshi. Key, 당신의 우상, SHINee 멤버 (Apa kau tak mengenalku? Aku Kim Ki Bum, Ikha-sshi. Key, idolamu, member dari SHINee,)” oceh Key tanpa mempedulikan kebingungan yang melanda yeoja itu.

Key sedikit memiringkan wajahnya untuk menangkap pandangan Ikha yang menatapnya tanpa berkedip sedikitpun. “Wae? 뭔가가 내 얼굴 왜 그래? (Ada yang salah dengan wajahku?)” tanya Key sedikit menyeringai. Mendengar suara Key akhirnya membuat Ikha kembali ke alam sadarnya. Ia sedikit menggeleng pelan lalu memijit pelipis kanannya.

“Sorry, Sir. I don’t understand what you say. Can you speak English?” tanya Ikha, pura-pura tak mengenalnya. Serta merta Key mengerutkan alisnya mendengar jawaban Ikha yang sulit dipercaya. Apa benar yang dikatakan Yeora padanya jika yeoja yang ada didepannya kini telah amnesia? Tapi jika melihat Ikha—secara fisik—kau mungkin akan sulit mempercayainya kalau pada bagian tubuh yeoja itu tak nampak bekas luka atau sayatan pasca kecelakaan satu tahun lalu. Tubuhnya sangat sempurna.

Key mencoba untuk tersenyum, menghibur dirinya sendiri. “Come on, Cho. 너 장난하니? (apakah kau sedang bercanda?)” tanya Key lagi. Ikha kembali memasang poker-face-nya untuk mengelabui namja tersebut.

“Really. I can’t speak Japanese, or Taiwanese, or Korean, or everything what you’re saying now, Sir. Well, are you looking for someone? The reseptionist—over there—will help you,” terang Ikha sambil menunjuk ke arah penjaga yang tengah berdiri di meja resepsionis.

Lagi-lagi Key memberenggut. Ia mengecek kembali alamat pada notes handphone yang diberikan Yeora sebelum dirinya berangkat ke Indonesia. Dan ia yakin bahwa dirinya tidak salah alamat. “Excuse me. But… my friend gave me an address of someone and—coincidentally—your face…. extremely resemble with hers,” ucap Key agak ragu.

Ikha berusaha tersenyum sebagus mungkin sebelum menjawab pertanyaan Key. “As you see—on my nametag, my name is Katrina. And i don’t know who you are, Sir. You can check your address once more. Maybe you are wrong. Well, i’ve to go because it’s already early in the morning,” jelas Ikha lalu beranjak pergi dari tempatnya berdiri menuju ke dalam lift yang pintunya telah terbuka, meninggalkan Key dengan segala keterkejutannya. Padahal dalam hati ia sangat menyesali perbuatan bodohnya yang telah tega ‘melupakan’ Key, namja idola para Shawol di seluruh dunia.

Sebelum pintu lift menutup, Ikha sempat membungkuk ±30° kemudian tersenyum pada Key. Namja itu hanya diam. Sungguh. Ini semua diluar dugaannya. Bagaimana bisa Ikha tidak ingat sedikitpun tentang dirinya? Sebegitu besarnya kah efek dari kecelakaan itu?

Di lain pihak, Ikha menatap pintu lift yang mulai bergerak naik itu dengan tatapan kosong. Meskipun ia mencoba melupakan semua tentang Key, namun tetap saja ia tak bisa menghilangkan debar jantungnya yang melompat kesana kemari setiap kali melihat namja itu. Satu tahun sudah ia berhasil menghindari namja itu, kini ia harus melihatnya dan membuat bunga-bunga di hatinya yang dulu layu menjadi segar kembali.

Sekelebat kejadian yang menimpanya tahun lalu kembali menghiasi otaknya. Saat-saat indah mengenal Key, ditambah dengan masa suramnya dengan Jung Hwa membuatnya, refleks, meringis sambil merekatkan kedua tangannya. Tanpa sadar, ia telah sampai didepan apartemennya. Dengan sangat perlahan, ia membuka pintu agar tidak membangunkan yeodongsaengnya kemudian berjalan lemah menuju kamarnya.

Ikha menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan kasar. Matanya terpejam. Sedari tadi ia berusaha mengusir segala penat yang mengganggu fikirannya, namun sia-sia saja. Justru ia semakin mengingat wajah Key. Bahkan ia merasa bahwa bayang-bayang namja itu serasa ada di hadapannya sekarang.

Masih, di tempat tidurnya, ia memutar kepalanya dan menatap sebuah kardus besar yang sengaja ia letakkan di pojok ruangan. Setelah bergelut dengan hatinya, ia memutuskan untuk mengorek isi kardus tersebut. Dilihatnya beberapa poster SHINee tergulung rapih di dalamnya, dan ia tersenyum saat memegang sebuah album yang berisi foto Key hasil jepretannya saat ia—dulu—masih menjadi stalker-nya.

Mata Ikha kini tertuju pada tumpukan surat kabar dan majalah yang tertata rapih di dalamnya. Diambilnya satu-per-satu koran dan majalah dengan berbagai bahasa tersebut sambil membaca beberapa judul yang dilingkari oleh spidol biru. “Someone trying to kill Key SHINee’, ‘Who is Cho Ikha?”, ‘Sment Confirm About the Key’s Scandal’, ‘Key SHINee has a twins?”, ‘Kim Jung Hwa = Key SHINee”, “Superhero of Key SHINee’, ‘Cho Ikha was died’, ‘Cho Ikha Got Amnesia’, ‘Noone Knows Where Cho Ikha is’, dan masih banyak lagi beberapa headline yang menyebutkan dirinya.

Yeah, pasca terbongkarnya orang yang melakukan percobaan pembunuhan pada Key, Ikha menjadi Hot-Topic di berbagai majalah dan surat kabar di seluruh dunia perihal tindakan penyelamatannya pada Key. Dan selama setahun ini, ia berpura-pura terkena amnesia setiap kali orang-orang menanyainya.

Setelah puas melihat setumpuk majalah dan surat kabar itu, Ikha meraih sebuah bingkai foto berukuran 7x10cm lalu memandang foto tersebut agak lama. Ia mengelus permukaan kaca yang melindungi foto tersebut perlahan. “난 당신을 잊을 수 없어, Kim Ki Bum. 어떻게해야하나요? (Ternyata aku tidak bisa melupakanmu, Kim Ki Bum. Apa yang harus kulakukan?)” bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri.

@@@

“Kau yakin tidak akan menonton Konser SHINee nanti malam?” tanya Nami untuk kesekian kalinya. Ikha hanya berdeham pelan menjawab pertanyaan yeodongsaeng-nya itu sambil terus merapihkan syal di lehernya. “Kau masih akan menghindar dari Key Oppa, eh?” sambungnya gusar.

“Sejak kapan kau memanggil Key dengan sebutan ‘oppa’, eh? Bukankah biasmu itu si Taeminnie?” Ikha balik bertanya. Well, aksen Bahasa Indonesia Ikha masih agak sedikit kacau sebenarnya. Mendengar respon eonni-nya itu, Nami mengeluarkan tawa halusnya. Jujur saja, eonnie-nya itu memang tidak cocok berbicara dengan aksen Indonesia.

“See? Kau cemburu karena aku menyebutnya ‘oppa’. Am i right?” ejek Nami sambil terus menahan tawanya.

“Just shut up! Sudah kubilang, jangan mengungkit masalah itu lagi,” elak Ikha bersikukuh.

Nami memasukkan sesendok bubur sarapan paginya lalu berkata, “Hah, aku masih tidak bisa memaafkanmu karena kau tidak memberiku tanda-tangan atau foto Taemin. Padahal dulu kau sering bertemu dengannya,”

Ikha mendengus kesal. Kesal bukan karena perkataan Nami, tapi karena syal-nya yang sedari tadi tidak mau terbentuk dengan rapih di lehernya. “Kau sudah mendapatkan tanda-tangan Taemin saat acara fan-sign album terbaru mereka di Singapore. Jadi untuk apa—“ Ikha menghentikan kalimatnya segera setelah melirik jam dinding apartemennya. “OMO! Aku bisa terlambat!” ucapnya sedikit berteriak. Ia menyambar tasnya dan berlalu setelah mengucapkan sesuatu pada Nami. Yeoja itu hanya menggeleng pelan melihat tingkah eonnie-nya yang kadang bersikap seperti anak kecil.

Setelah sepuluh menit Nami menghabiskan sarapannya dengan tenang, terdengar bunyi bel pintu apartemennya menggema mengisi pagi harinya. Dengan agak malas, ia berjalan menuju pintu tanpa melihat intercom terlebih dahulu.

“Makanya, kalau pergi kerja itu jangan terburu-buru, pasti handphone-mu tertinggal bu—“ omel Nami tepat setelah ia membukakan pintu. Namun ia segera menghentikan kalimat dalam Bahasa Indonesia-nya itu setelah melihat sosok didepannya yang ternyata bukanlah Cho Ikha.

Ia mengedipkan matanya berkali-kali, takut kalau ia masih bermimpi. Tapi sosok itu tidak berubah setiap kali ia mengedipkan matanya. Orang itu mengangkat tangannya lalu melemparkan senyum manisnya. “Annyeong,” sapanya. Seketika itu juga Nami menutup mulutnya yang menganga lebar.

“Oh-My-God,”

@@@

Key menyesap lemonade buatan Nami tanpa sedikitpun menghentikan matanya untuk memperhatikan sekelilingnya. Kedua bola matanya sempat terhenti pada sebuah foto yang menampakkan sosok Ikha yang tengah dirangkul Yeora. Namja itu mendengus pelan sambil tersenyum simpul. Kalau bukan karena Nami, yang dengan panjang-lebar menceritakan semua yang terjadi pada Ikha, mungkin selamanya ia akan percaya bahwa Ikha memang terkena amnesia.

[Kalimat yang didalam kurung, berarti dia bicara pake Bahasa Korea yeah,,]

“(Apa yang membuat Oppa datang kemari sepagi ini?)”tanya Nami setelah mempersilahkan Key untuk masuk.

“(Aku ingin menemui kakakmu. Meskipun dia tidak mengingatku, tapi aku ingin ia kembali menjadi fans-ku)”jawabnya asal disertai senyum yang tiada henti ia kembangkan.

Nami menatap Key keheranan.“(Eh? Sebentar! Tidak mengingatmu? Maksudmu?)”Nami bertanya sambil mengangkat alisnya.

“(Aku sempat bertemu dengannya kemarin. Dan sepertinya dia telah lupa padaku. Dia tidak mengenaliku,)” terangnya apa-adanya.

Yeoja itu memutar bola matanya lalu mendengus pelan. “(Aissh, jangan percaya omongannya, Oppa. Dia itu hanya pura-pura tidak mengenalmu,)”

“(Eh? Jinjjayo?)”

“(Ne. kau tahu? Setelah peristiwa setahun yang lalu, kakak-ku menjadi incaran semua media. Kemanapun dia pergi, orang-orang—terutama para Shawol—pasti mengenalnya. Akhirnya, ia berpura-pura terkena amnesia agar orang-orang tidak menanyainya lagi. Sepertinya dia masih shock atas kejadian yang menimpanya,)”

Key menundukkan kepalanya setelah mendengar keterangan Nami. “(Mianhae, Nami-ya. Karena aku, kakakmu jadi menderita,)” Key menatap foto Ikha yang terpampang dengan sangat jelas di dinding ruang tamu apartemennya. Sebelum melanjutkan kalimatnya, ia berdeham sebentar untuk membersihkan kerongkongannya. “(Selama ini aku terus mencoba mencari keberadaan Ikha. Aku merasa bersalah padanya. Bahkan aku belum sempat berterima-kasih padanya pasca tabrak-lari itu. Namun rutinitasku yang semakin padat membuatku agak kesulitan untuk mencari informasi tentangnya. Untung Yeora-sshi memberitahuku kalau kakakmu ada di Indonesia. Aku takut dia tidak akan memaafkanku,”)

“(Anni, Oppa. Dia melakukannya untuk orang yang dia sayangi. Kau tak tahu bagaimana perasaan kakakku yang sesungguhnya padamu. Dia sangat mencintaimu. Akupun akan melakukan hal yang serupa untuk Taemin-ku,)”

“(Neo….neun Taemin Choahaeyo?)” tanya Key dan langsung dijawab dengan anggukan dari Nami yang terlihat antuasias.

Key membetulkan posisi duduknya agar bisa berhadapan dengan Nami. “(Kau mau membantuku? Kalau kau bersedia, aku akan membawa Taemin langsung menemuimu,)”

Key kembali mengingat tentang percakapannya dengan Nami barusan. Sambil mengamati lemonade-nya yang mulai dingin, ia tersenyum tak jelas saat Nami menelfon Ikha untuk segera datang ke apartemen. Nami ber-acting membohongi kakaknya kalau penyakit maag-nya kambuh. Hasilnya? Ikha berjanji untuk kembali ke apartemen setelah menukar shift kerja-nya dengan salah satu temannya. Wajar saja, kedua orang-tua mereka tidak ada di Indonesia, mereka dipindah tugaskan ke Jepang. Jadi Ikha sepenuhnya bertanggung-jawab atas Nami.

Lamunan Key seketika buyar oleh suara pintu kamar Nami yang terbuka. Yeoja itu kini terlihat rapih mengenakan pakaian sekolahnya.

 “(Aku akan pergi berangkat sekolah. Ikha Eonnie sebentar lagi akan sampai. Oppa bisa menunggu kedatangannya. Tidak apa-apa ‘kan jika kutinggal pergi?)” Nami kembali memastikan. Key hanya mengangguk seraya tersenyum simpul. Setelah itu, Nami pergi meninggalkannya sendirian. Sebenarnya ia ada jadwal untuk melakukan press-conference konser mereka jam 11.00am. Itu artinya ia memiliki waktu ± 4 jam untuk bicara dengan Ikha.

Tak lama kemudian, terdengar suara pintu apartemen terbuka diiringi suara langkah seseorang yang tergesa-gesa. “NAMI-YA! DIMANA KAU? APA KAU BAIK-BAIK SAJA?” teriak Ikha dengan Bahasa Indonesia yang sulit dimengerti Key. Langkah Ikha seketika itu juga terhenti saat ia mendapati Key yang tengah duduk santai di sofa ruang tamunya.

Key meletakkan cup lemonade-nya lalu tersenyum simpul. “Hy, Katrina. See you again,” sapanya dengan suara yang lembut. Ugh, suara itu… suara yang selalu datang mengisi mimpi-mimpi Ikha setiap malamnya. Kalau saja kakinya tidak bisa menopang tubuhnya, mungkin saja dia sudah jatuh pingsan saat itu juga.

“W-what are you doing here? Where’s Nami?” tanya yeoja berambut agak bergelombang itu sambil berjalan ke ruangan lain, mencari Nami.

“She went to school fifteen minutes ago. And, i’m really grateful to her because she can bring you come to me now,” terang Key dengan nada yang sedikit menggoda.

Ikha menghentikan langkahnya tepat disamping Key duduk, menatap namja itu dengan ekspresi yang sulit ditebak. Kedua tangannya ia letakkan di pinggangnya lalu berdecak pelan. “Awas kau, Cho Nami. Akan kuhajar kau saat pulang nanti,” gumamnya pelan.

Key memiringkan wajahnya, mencoba mencerna makna dibalik kata-kata Indonesia yang Ikha lontarkan. Sementara Ikha terus mengomel tak karuan, Key berdiri dari tempat duduknya lalu memposisikan tubuhnya tepat didepan yeoja itu. Ikha agak terkesiap melihat Key yang kini hanya berjarak kurang dari 50cm darinya. Refleks, ia pun memundurkan langkahnya. Seiring langkah Ikha yang kian mundur, Key pun memajukan langkahnya mendekati yeoja itu. Dan entah atas dasar apa, kedua tangannya ia lingkarkan pada pinggang Ikha lalu menarik tubuh yeoja itu mendekatinya.

“OMO!” pekik Ikha tiba-tiba, membuat Key mengeluarkan smirk-nya.

“(Jangan coba-coba berbohong padaku, Ikha-sshi. Nami sudah menceritakan semuanya padaku. Jadi tak ada alasan bagimu untuk pura-pura tak mengenalku,)” bisik Key tepat didepan wajah Ikha. Dalam hitungan detik, Ikha dapat merasakan wajahnya yang mulai memanas berkat kalimat Key barusan. Sebelum Key menyadari perubahan warna kulitnya, buru-buru ia mendorong tubuh namja itu untuk menjauhinya.

“Stay away from me! Let me go!” erang Ikha semampunya. Sayang, namja itu terlalu erat merangkulnya sehingga usahanya tetap saja sia-sia.

“(Aku sudah susah payah meminta izin pada Choi Jin Hyung untuk bisa bertemu denganmu. Jadi tak akan kulepaskan kau untuk kesekian kalinya,)” tukas Key dengan tegas. “(Dan lagi, aku tidak akan melepas tanganku sebelum kau mengakui semua kebohonganmu padaku,)”

Ikha terdiam sesaat. Matanya mendelik ke arah Key yang sedari tadi tak menghentikan senyum di wajahnya. “FINE. YOU WIN!!”

@@@

Mereka terus saja berdiam diri tanpa ada satupun yang berusaha untuk bicara selama setengah jam. Ikha terlihat gelisah karena Key tak henti-hentinya menatapnya sambil tersenyum. Kalau bukan karena Key memaksanya untuk duduk disampingnya sekarang, mungkin dia akan memilih duduk di seberang namja tersebut. Bisa gawat jika Key menyadari dan mendengar betapa keras serta hebatnya detak jantung Ikha sekarang.

“(Sebenarnya apa maumu, Key-sshi?)” tanya Ikha pada akhirnya. Key hanya tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari yeoja tersebut.

Neomu yeppeo,” ucapnya tanpa menjawab pertanyaan Ikha. Ergh! Lagi! Namja itu kembali membuat semburat merah menghiasi wajah Ikha. Yeoja itu segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Ditariknya syal orange yang melilit lehernya. Entah kenapa syal itu terasa mencekiknya sekarang.

“(Ternyata kecelakaan itu telah merubahmu sepenuhnya, Ikha-sshi. Bahasa Inggrismu sangat bagus, berbeda dengan satu tahun yang lalu. Selain itu, kau terlihat lebih dewasa dan elegan,)” gumam Key, masih pada posisinya semula, mengamati Ikha. Ikha tak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Matanya masih memperhatikan sesuatu diluar jendela apartemennya.

Key kembali melanjutkan kalimatnya. “Mianhae,” ucap Key lirih. Ternyata tiga silabel itu berhasil membuat Ikha memutar kepalanya dan menatap Key. Dilihatnya Key yang kini tengah menundukkan kepalanya, tak lagi mengamatinya.

“(Aku sungguh kejam membiarkanmu terluka hanya demi membuatku selamat dari Jung Hwa. Dan aku sangat bodoh karena telah membiarkanmu pergi tanpa satupun kata ‘mian’ dan ‘gomawo’ dariku. Selama ini aku merasa bersalah padamu, Cho. Hidupku tidak tenang,)” ucap Key panjang-lebar. Wajahnya masih menunduk, tak ingin menatap Ikha yang kini sedang mengamatinya.

Namja yang telah mengecat hitam rambutnya itu balas menatap Ikha. Matanya memancarkan kesenduan dan penyesalan. “(Apakah kau masih mau memaafkanku atas semua yang telah terjadi?)”

Ikha bergeming. Bingung harus berkata apa. Setelah ia sembuh dari beberapa operasi yang ia jalani, ia memang berniat untuk tidak muncul lagi didepan Key. Tapi kini, namja itu sendirilah yang datang menghampirinya. Ikha mencoba menghirup udara sedalam-dalamnya untuk menetralkan fikirannya. “(Aku sudah melupakan semuanya, tak pernah menganggap semuanya nyata. Jadi untuk apa kau meminta maaf padaku?)”

“(Melupakan semuanya? Termasuk pertemuan kita?)” timpal Key kemudian dijawab dengan sebuah anggukan kecil dari Ikha.

Key memutar tubuhnya agar dapat menatap Ikha lebih mudah. “(Apa kau mencintaiku?)”

Ugh! Pertanyaan Key yang satu ini berhasil membuat Ikha membulatkan kedua matanya. Bagaimana bisa bocah ini menanyakan perasaannya yang selama ini hanya diketahui oleh dirinya sendiri secara tiba-tiba? Haruskah dirinya mengatakan yang sebenarnya?

“(Aku hanya seorang fans, Key. Aku hanya terlalu mengidolakanmu. Itu saja,)” jawab Ikha, berbohong. Keringat dingin mulai mengucur pelan di pelipisnya. Suasana menjadi sangat tegang sekarang.

“(Arasseo. Justru karena kau adalah fans-ku, kau rela melakukan apa saja untukku. Iya ‘kan? Lalu apa bedanya antara ‘mengidolakan’ dengan ‘cinta’? Bukankah untuk mengidolakan seseorang, kau harus menyukai dan mencintai orang itu terlebih dahulu?)“ jelas Key dengan sekali nafas. Dilihatnya Ikha yang kini tak lagi menatapnya. “(Lalu bagaimana denganku? Aku sangat mengidolakan pahlawanku sampai-sampai aku harus memimpikanmu setiap malam. Aku selalu memikirkanmu, Ikha-sshi,)” Key menambahkan.

“(Tidak, Key. Kau salah,)” potong Ikha kilat. Kembali ia menatap kedua mata Key yang seolah memancarkan sinar kesejukannya. “(Kau tidak sedang mengidolakanku. Kau hanya merasa bersalah dan kasihan padaku. Bisa dibilang, antara ‘mengidolakan’ dengan ‘rasa bersalah’ itu perbedaannya sangat jauh,)”

Key memutar bola matanya lalu mendengus pelan. “(Apa kecelakaan itu benar-benar telah menghapus semua memori tentangku?)”

Tawa ringan Ikha terdengar diantara hening yang menyelimuti mereka. Pertanyaan yang sangat bodoh. Ditengah tawa halusnya itu, Ikha merengkuh wajah Key dengan tangan kirinya. Mengelus lembut pipi namja idolanya itu menggunakan ibu jarinya. “(Ternyata kau memang nyata,)” bisiknya pelan. Meskipun bisikan itu masih bisa didengar jelas oleh Key. Setelah itu, dengan cepat ia melepaskan tangannya sebelum ia bertindak lebih jauh lagi.

“(Ini sudah lewat jam sembilan, Key. Kudengar—dari Nami—kalau SHINee akan mengadakan press-conference jam sebelas. Jarak antara apartemen ini menuju Hotel Sultan cukup jauh. Belum lagi macet yang menjadi ‘tradisi’ di kota Jakarta. Aku tidak ingin kau mendapat masalah dengan Choi Jin Ahjusshi,)” ucap Ikha datar. Ia beranjak dari tempat duduknya lalu membuka pintu apartemennya, mempersilahkan Key untuk keluar.

Key menarik sudut bibirnya. Tak menyangka kalau yeoja berkaki semampai itu akan mengusirnya secara halus. Dengan sangat terpaksa, ia berjalan menuju pintu keluar. Langkahnya ia hentikan tepat didepan Ikha yang tengah memegang kenop pintu. Ditatapnya kedua mata Ikha yang sedang menatapnya juga.

“(Mungkin kau akan menganggapku sedang bergurau. Mungkin kau juga tidak akan percaya pada kata-kataku. Dan mungkin kau juga menganggap bahwa terlalu cepat bagiku untuk mengatakan hal ini. Tapi… aku rasa kalau aku mulai menyukaimu, Ikha-sshi. Aku mohon jangan menghindar lagi,)” bisik Key lembut. Suaranya terdengar sangat halus di telinga Ikha, membuat jantungnya berdetak 10x lebih cepat.

Dan entah setan apa yang merasukinya, Key—dengan agak ragu—merengkuh rahang Ikha dengan satu tangannya kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Ikha. Ditariknya dagu Ikha dengan sangat perlahan lalu dikecupnya bibir Ikha dengan sangat lembut selama beberapa detik. Tidak ada perlawanan sedikitpun dari Ikha. Yeoja itu justru mematung di tempatnya. Jantungnya kini serasa berhenti berdetak. Apakah ini nyata? Apakah benar yang menciumnya adalah Key?

Key melepas bibirnya dari bibir Ikha. Sengaja ia hanya menyisakan jarak ± 2cm dari bibir Ikha. Dapat ia rasakan nafas yeoja itu yang memburu menerpa kulit wajahnya. Satu tangannya yang bebas kini mencoba melepas tangan Ikha yang tengah memegang kenop pintu. Seolah terhipnotis oleh Key, tangan Ikha menurut saat Key melepasnya dari kenop.

Tangan Key menutup pintu apartemen Ikha yang ada disampingnya dengan perlahan seiring langkahnya yang kian menggiring tubuh Ikha untuk memundurkan langkahnya. Setelah yakin bahwa tubuh Ikha sudah bersandar seutuhnya pada dinding di belakangnya, ia kembali mengecup bibir Ikha yang tak bergerak sedikitpun. Tidak, tidak, Key tidak lagi mengecupnya saja, tapi ia sedikit melumat bibir yeoja itu. Tidak dengan nafsunya, tapi dengan hatinya. Sangat lembut dan perlahan.

Ikha masih bergeming. Sungguh, perlakuan Key saat ini benar-benar membuat akal sehatnya menghilang. Ia tidak melawan, namun ia juga tidak meresponnya. Dan saat Key masih melumat bibirnya, Ikha merasakan tangan Key meletakkan sesuatu pada telapak tangannya.

Setelah Ikha memegang benda tersebut, Key melepaskan ciumannya lalu menatap Ikha yang tengah menatapnya keheranan. “(Aku harap kau datang. Aku akan menunggumu,)” bisiknya tepat di telinga Ikha. Yeoja itu kini merasakan perutnya seperti diaduk-aduk sesuatu. Merasakan mual yang tak terkira.

Sebelum benar-benar pergi, Key mengusap pipi Ikha dengan lembut. Dan sedetik kemudian, ia membuka pintu apartemennya dan bergegas pergi setelah memasang masker, kacamata dan hoodie untuk menutupi wajahnya.

Ikha memperhatikan benda yang ada ditangannya yang ternyata sebuah tiket untuk konser SHINee yang akan diselenggarakan malam ini. Ikha memutar tubuhnya lalu menempelkan keningnya pada dinding. Masih jelas di benaknya bagaimana Key menciumnya barusan. Bahkan ia masih bisa merasakan bibirnya yang basah karena saliva Key.

“Pabo-ya! Pabo-ya! Pabo-ya!” rintih Ikha sambil membenturkan keningnya pada dinding beberapa kali.

@@@

“Huh, kurasa agency yang bekerjasama dengan SM menyembunyikan SHINee. Buktinya? Kita sama sekali tidak bisa menemukan mereka,” ucap si yeoja berambut pendek.

“Yeah, penjaganya juga menyeramkan,” Yeoja berambut ikal mengiyakan.

“Tapi tadi saat konser, Minho terlihat makin keren,” terang si rambut pendek.

“Tidak! Taemin yang terlihat manly sekarang. Eh, Key juga. Ternyata aslinya dia sangat maskulin. Aiih, kalau aku bertemu dengannya, akan kucium dia sampai puas,” Si rambut ikal mulai mengoceh.

Ikha memperhatikan perbincangan antara dua orang yeoja yang tengah merapihkan make-up mereka disampingnya. Yeah, saat ini para Shawol tengah mengerumuni bandara Soetta karena SHINee dijadwalkan kembali ke Seoul malam ini. Ikha mendengus pelan saat yeoja berambut ikal itu bilang kalau dia akan mencium Key sampai puas. Apa-apaan yeoja itu?

Selesai mencuci tangannya, Ikha memutuskan untuk segera pergi dari toilet wanita karena tak ingin mendengar ocehan yeoja-yeoja genit itu. Baru saja ia menutup pintu toilet, langkahnya segera dihentikan oleh kemunculan seseorang.

“OMO!!” teriak Ikha kaget melihat orang bermasker dihadapannya. Namja itu melepas maskernya dan memberenggut.

“(Kau tidak datang. Padahal aku menunggumu saat konser tadi,)” ucapnya datar.

Ikha menarik tangan Key agar sedikit menjauhi toilet wanita yang berisi monster-monster genit yang mengincarnya. “(Aku kerja shift malam. Semua ini berkat kebohongan Nami tadi pagi yang membuatku harus bertukar shift,)” jelas Ikha agak emosi. “(Lagipula, apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau harus kembali ke Seoul?)”

Key memasukkan kedua tangan kedalam saku celananya lalu menyenderkan bahunya pada dinding. “(Aku ingin melihatmu sebelum aku kembali. Belum tentu kita akan bertemu lagi nanti,)” jawabnya setenang mungkin.

Ikha sudah siap membuka mulutnya untuk bicara, namun ia telan kembali kata-katanya saat ia mendengar pintu toilet wanita terbuka. Ia dapat mendengar dua yeoja itu berbincang tentang SHINee menggunakan bahasa Indonesia. “(Aiishh, cepat kenakan maskermu!)” suruh Ikha pada Key. Bukannya menurut, namja itu malah memasukan maskernya pada kantung jeans-nya. “Shireo,” ucapnya santai.

“(Ya! Aku tidak ingin yeoja-yeoja itu mengetahui keberadaanmu. Bisa bahaya. Ayo kita pergi,)” suruh Ikha kedua kalinya. Ia menarik tangan Key untuk segera menjauh dari tempat mereka berdiri sebelum dua yeoja itu ‘ngeh’ dengan keberadaan mereka.

“(Shireo. Biarkan saja mereka tahu. Mungkin mereka hanya akan meminta foto dan tanda-tanganku,)” lagi-lagi namja itu bersikap santai. Key sama sekali tidak bergerak dari tempatnya meskipun Ikha menariknya. Ikha semakin gusar. Ia masih ingat kata-kata yeoja berambut ikal tadi tentang apa yang akan dia lakukan jika bertemu dengan Key. Jelas, Ikha tak akan membiarkan hal itu terjadi.

Samar-samar Ikha mendengar suara yeoja itu semakin mendekat. Dan benar saja, tak lama kemudian, sosok itu muncul di hadapannya. Bodohnya, Key malah memutar tubuhnya menghadap dua yeoja itu, membuat Ikha geram dibuatnya. “Ya! Juggoshippo (Cari Mati!)!!” maki Ikha pada Key. Suaranya yang agak melengking itu ternyata malah mengundang kedua yeoja itu untuk menatapnya.

Sebelum yeoja genit itu mengetahui wajah Key, dengan cepat Ikha memutar tubuh Key yang tadi memunggunginya lalu menyembunyikan wajah namja itu dengan menciumnya. Sengaja tangan Ikha memegang kedua pipi Key agar wajahnya tertutupi. Ikha terus saja menciumi Key dengan maksud ‘mengamankannya’ tanpa mempedulikan namja itu yang sedari tadi memegang pinggangnya minta dilepaskan.

Dari sela penglihatannya, ia melihat kedua yeoja itu menjauhi mereka berdua tanpa sedikitpun melihat kearahnya. Setelah memastikan mereka menghilang, Ikha melepaskan ciumannya. Diamatinya Key yang tengah terengah-engah sambil mencoba untuk menelan ludah. “Wae?” tanyanya tanpa rasa berdosa sedikitpun.

“(Kau bilang ‘wae’? YA! LAIN KALI KALAU MAU MENCIUMKU BILANG DULU!)” bentaknya pada Ikha. Bukannya takut, yeoja itu dengan cepat malah menutup mulut Key.

“(Sssttt, nanti mereka dengar,)” bisiknya sambil memperhatikan sekeliling. Merasa sudah aman, ia melepaskan tangannya dari mulut Key lalu melangkah pergi.

“(Ya! Ya! Ya! Beginikah caramu memperlakukan orang? Kau tadi semena-mena menciumku dan malah pergi begitu saja? Yeoja macam apa kau ini? Aku ini seorang idol!!! Pantaskah kau memperlakukan idol seperti ini? Kau itu bla bla bla,)” Key terus saja mengomeli Ikha tiada henti sambil menyetarakan langkahnya dengan yeoja itu. Ikha mengeratkan kedua telinganya mendengar ocehan Key yang semakin menjadi-jadi. Dan syukurlah, akhirnya dia bisa menemukan rombongan SHINee’s Stuff.

“JONGHYUN-SSHI!!” teriak Ikha pada Jonghyun yang tengah asik mengotak-atik handphone-nya. Namja itu memutar tubuhnya 180° lalu tersenyum saat mendapati bahwa Ikha-lah yang memanggilnya. “(Tolong aku untuk membungkam mulut bocah ini. Sungguh, aku tidak kuat mendengar ocehannya,)” suruh Ikha yang sedari tadi masih menekan kedua telinganya.

“(Ya! Kau mengataiku ‘bocah’?)” erang Key, merasa tidak terima dengan perkataan Ikha.

“Cho Agasshi,” sapa Choi Jin memotong ocehan Key. Ikha membungkuk sedikit ke arah Manager SHINee yang tengah menyapanya.

(Apa ocehan Key berhasil menyembuhkan ingatanmu, eh?)” ejek Jonghyun pada Ikha. Yeoja itu menyikut perut Jonghyun pelan hingga namja bertubuh atletis itu pura-pura kesakitan.

“(Ternyata benar dugaan kami kalau yeoja yang kemarin kami temui adalah kau. Kenapa kau memakai nama ‘Katrina’ disini?)” selidik Choi Jin.

“(Memalsukan identitasku. Kau tahu, ahjusshi? Menjadi orang terkenal itu ternyata sangat sulit,)” ucap Ikha dengan nada sedikit angkuh.

“(Kau terlihat berbeda, Cho Agasshi. Bagaimana kalau kau menjadi salah satu trainee di SM? Kurasa Sooman Sunbaenim akan senang mendengarnya,)” jelas Choi Jin antusias.

“(Yeah, dan asal kau tahu. Kau menjadi hot-topic setiap kali rapat berlangsung antara semua petinggi SM,)” sambung Onew.

Ikha hanya tersenyum simpul menanggapi semua perkataan mereka. Ia memandangi mereka satu-per-satu. Choi Jin, Onew, Jonghyun, Minho, Taemin dan tentunya, Key, namja yang membuatnya gila sepanjang hidupnya. Dulu, ia sangat ingin menjadi bagian dari mereka. Kini, mereka tertawa bersama seperti ini justru membuatnya seolah seperti sedang mimpi. Benarkah ini nyata?

“(Ini memang nyata,)” sahut Key di belakang Ikha, seolah mengetahui apa yang ada di fikirannya. Ikha memutar tubuhnya agar ia dapat melihat Key lebih jelas. Tanpa memperhatikan sekelilingnya, Key melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Ikha. Saat menatap mata Key, Ikha baru sadar kalau ia harus sedikit mengangkat kepalanya karena tubuh Key yang lebih tinggi darinya.

“(Ehm, Key. Kami tunggu di dalam pesawat. Jangan lama-lama, atau kau akan tertinggal,)” ucap Choi Jin kemudian mengerling ke arah Ikha. Key dan Ikha hanya tersenyum pada Choi Jin dan juga member lain yang tengah menertawakan Key lalu mereka kembali saling menatap.

“(Apakah hari ini adalah hari terakhir pertemuan kita?)” tanya Key sedikit bergumam.

Ikha menggedikkan bahunya sekali. “(Entahlah. Who knows?)” jawabnya singkat.

Tanpa aba-aba dari Ikha, Key segera mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir yeoja itu dengan lembut. Mereka menikmati saat-saat dimana mereka saling berbagi kebahagiaan bersama. Padahal di pojok sana, Minho, Onew dan Jonghyun tengah mengintip Key dan Ikha sambil menahan tawa dan keterkejutan mereka saat Key mencium Ikha. Taemin? Haha~ dia mengerucutkan bibirnya karena Minho memaksanya untuk tidak melihat adegan tersebut.

 ** END **

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

9 thoughts on “WHO ARE YOU (Chapter 10)”

  1. akhirnya bisa kebuka juga, hrus di komputer toh bukanya, di hp gagal aja..
    part ini bikin aku ngakak aja,seru..
    apalagi pas bagian ikha nya ngekiss key, gak mau key dicium yeoja lain.hehe..
    eonni,aku minta pw yg epilognya? ya ya ya *tingtingting. DM lg ya.. mianhe + gomawo

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s