[FF] PLEASE, LOOK AT ME!! – 2nd LOOK

PLEASE, LOOK AT ME!! – 2nd LOOK

Author : Zuleykha Lee a.k.a beibiiilee

Main Casts : Kim Hyun Joong and Han Taerin

Support Casts : Kim Heechul ‘Super Junior’, Lee Hyori, Nicole ‘KARA’, etc.

Type : Sequel [2nd Look]

Length : I haven’t decided it yet

Genre : Romantic, Sad Story

Rate : General

a/n : Sebelumnya mian ya Rin. Gue telat pub-nya. Gimana pendapatnya FF yang 1st Look itu? Oke ‘kan? Hahaha *membanggakan diri sendiri* Masih penasaran sama apa yang bikin si Abang HJ jadi berubah begitu? Ada yang mau taruhan sama saya? Yang bisa nebak, gue bikinin FF khusus yang main cast-nya kalian. Tapi gue ragu kalian bisa nebak, karena sengaja gue bikin beberapa teka-teki di episode yang ini. Just check this out! Jangan lupa comment ok? Gamsahamnida *bow*

***

“Pergi…” ucap Taerin lirih, nadanya sedikit tersendat karena ia masih berusaha menahan sakit yang menyerang dadanya.

“Dengarkan aku dulu—“

“AKU BILANG PERGI, KIM HYUN JOONG!!”

***

Nyonya Han baru saja menelfon seorang dokter untuk memeriksa kondisi tubuh Taerin. Setelah Hyun Joong dan Nicole pergi, Nyonya Han mendapati Taerin tengah terisak sambil memegangi dadanya. Yeoja yang sudah berumur lima puluh tahunan itu hanya mengira bahwa sakitnya Taerin semakin menjadi, padahal Taerin menangis akibat perkataan Hyun Joong.

Setelah dokter memberikan resep, Nyonya Han mengantar sang dokter sampai pintu rumah. Sengaja ia biarkan Taerin sendirian di kamarnya untuk beristirahat. Kedua mata Taerin terlihat sembab bekas airmatanya yang mengucur deras sepuluh menit yang lalu. Otaknya memutar kembali percakapannya dengan Hyun Joong beberapa menit yang lalu…

“AKU BILANG PERGI, KIM HYUN JOONG!!” teriak Taerin histeris. Hyun Joong tetap tak bergerak. Tubuhnya seolah menolak perkataan Taerin yang menyuruhnya untuk pergi.

“Aku tahu kau akan sulit untuk menerima ini, tapi kita memang harus berpisah untuk sementara waktu, Taerin-ah. Ini kulakukan agar kau tidak selamanya menerima perlakuan burukku. Kau menganggap bahwa aku ini namja yang berhati dingin? Ya, aku memang seperti ini dan tidak akan berubah. Aku tidak akan merubah keputusan ini karena aku sudah memikirkannya dengan sangat matang. Dan asal kau tahu Han Taerin—“ Hyun Joong terdiam sesaat ketika Taerin mengeratkan selimutnya untuk menutup telinganya. “—aku mencintaimu. Dan akan tetap seperti itu,” ucap Hyun Joong menambahkan.

Taerin masih terdiam. Sulit untuk mempercayai kata-kata Hyun Joong saat ini. Baru saja ia bilang untuk menuntut break dari hubungan mereka, dan dengan mudahnya dia bilang kalau dia mencintainya? Taerin tak habis fikir, sebenarnya apa maksud dari perkataannya?

“Selama tiga minggu kedepan, aku mohon, jangan menghubungiku atau memaksakan dirimu untuk menemuiku,” Hyun Joong mendekatkan tangannya, berusaha untuk menggapai puncak kepala Taerin—bermaksud untuk membelainya. Dan saat jemarinya menyentuh rambut Taerin, dengan cepat tangan Taerin menepisnya.

“Jangan sentuh aku,” gumam Taerin, terselip getaran dan kegagapan pada suaranya. Ya, dia sedang menahan tangisnya saat ini.

“Aku mohon, Taerin-ah. Jangan seperti ini. Aku berjanji akan kembali menjadi Hyun Joong-mu yang dulu. Asal kau memberiku waktu selama tiga minggu ini untuk berfikir,” terangnya dengan nada sehalus mungkin. Taerin kembali diam, masih memunggungi Hyun Joong yang sedang duduk dibalik punggungnya.

“Aku pulang. Jangan lupa jaga kesehatanmu. Aku tidak ingin melihatmu sakit seperti ini,”

Taerin melipat kedua kakinya duduk bersila. Pusing yang menyerang kepalanya memang sudah mereda, tapi tidak dengan hatinya. Ia masih merasakan sesak yang tak terkira. Hyun Joong benar-benar telah menghisap semua tenaga yang ia punya. Taerin sudah tak sanggup lagi untuk menangis, tapi kini ia menatap sebuah foto diatas meja riasnya dengan kosong.

Foto dirinya dan Hyun Joong tengah berpelukan serta senyum yang menghiasi wajah mereka—yang ia ambil saat akhir musim panas yang lalu—kembali menggores hatinya. Bantal yang tadinya ia pakai untuk menopang punggungnya ia lempar ke arah meja rias tersebut, membuat foto dan juga beberapa benda yang terpajang disana jatuh berantakan ke lantai.

Ditariknya sudut bibir Taerin sehingga membentuk senyum yang cukup mengerikan. Apakah kakak beradik itu memiliki sifat yang sama—Hyun Joong dan Nicole—yakni suka mempermainkan perasaan seseorang? Ia masih ingat bagaimana Nicole menceritakan kisah kandasnya bersama Key hanya gara-gara kata terkutuk itu (break—red). Dan kini kakak laki-lakinya mengucapkan hal yang sama pada yeojachingunya? Hah!!!

Nafas Taerin memburu. Ia bingung, antara sedih dan juga marah. Hyun Joong, namja yang sangat ia cintai itu telah membuat bibit kebencian dihati yeoja itu mulai tumbuh. Taerin lagi-lagi memandang foto tersebut yang kini tergeletak dilantai. Matanya tak berkedip sedikitpun saat melihat siluet wajah Hyun Joong dari balik kaca yang melapisi bingkai foto tersebut.

“Nappeun…” ucap Taerin sepenuhnya berbisik.

“Nappeun saram,”

@@@

“NEO MICHYEOSSEO?” bentak Nicole pada Hyun Joong yang tengah berjalan didepannya. Nicole mencoba untuk menyamai langkah Hyun Joong yang cukup besar dan cepat itu agar bisa menangkap perhatian kakak laki-lakinya itu. And finally, ia mencengkram lengan namja itu kencang lalu menarik lengan tersebut sehingga kini Hyun Joong menghadapnya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Nicole tepat didekat wajah Hyun Joong.

“Maksudmu?” Hyun Joong balik bertanya.

“Aku tidak sengaja mendengar perbincanganmu dengan Taerin Eonnie tadi siang. Dan kau benar-benar tidak waras. Kau sadar apa yang telah kau perbuat, eh? Kau menyakitinya, Oppa,”

Hyun Joong mendelik ke arah Nicole. “Bukankah kau dulu juga pernah melakukan hal yang sama pada Key? Jadi apa bedanya?” Namja itu balik menyerang.

“Kita memiliki permasalahan yang berbeda. Aku—dulu—memang salah. Tapi kau? Aku tahu kau masih mencintainya tapi kau malah bilang seperti itu? Hah, konyol!”

Hyun Joong tak menggubris perkataan Nicole. Ia lebih memilih untuk segera masuk kedalam kamarnya.

“Ya! Oppa, aku sedang bicara denganmu!” teriak Nicole cukup kencang. Kembali ia mengejar Hyun Joong untuk minta penjelasan darinya.

“Oppa! Dengar, aku bicara karena kau adalah oppa-ku! Bagaimana jadinya kalau semua namja di dunia ini memperlakukan yeoja-nya seperti apa yang kau lakukan pada Eonnie? Kau ba—“

“Jangan bicara apapun seolah kau mengerti semuanya, Nona Nicole,” potong Hyun Joong kilat. “Aku sengaja tidak menceritakan hal ini pada siapapun. Tapi karena kau terus bawel dan menuntutku, aku tak punya pilihan lain,” imbuhnya. Hyun Joong—yang telah berada didalam kamarnya—mengambil brown-notes yang biasa ia pakai diatas mejanya lalu membuka sesuatu untuk kemudian ditunjukkan pada Nicole.

Agak bingung, Nicole menerima notes tersebut saat Hyun Joong menyodorkan benda tersebut padanya. Dengan sedikit ragu, ia membaca sesuatu yang tercetak dengan sangat jelas diatas kertas putih itu. “Igeumwoya?” tanya Nicole, memastikan bahwa ia tidak salah baca. “Jadi… inilah alasanmu melakukan hal itu?”

Hyun Joong hanya menyenderkan tubuhnya pada kursi disampingnya sambil melipat kedua tangannya. Ia sedang memperhatikan reaksi apa yang akan Nicole keluarkan setelah melihat tulisan tersebut.

Nicole mendengus pelan lalu menggelengkan kepalanya. “Kau gila, Oppa. Hanya karena ini? Karena ini kau sampai tega menyakiti hati Eonnie? Kau sadar kalau Eonnie sangat terpukul karena sikapmu. Kau sungguh keterlaluan,” dengus Nicole lagi. Dilemparnya notes tersebut ke sembarang tempat.

Hyun Joong menghela nafas panjang. “Ini semua untuk kebaikannya, kebaikanku, dan kebaikan kami berdua. Jadi kumohon, jangan men-judge-ku yang aneh-aneh lagi karena aku memang sengaja melakukan hal itu. Aratchi?” perintahnya pada Nicole.

“Seharusnya kau bilang padaku, Oppa. Jadi aku tidak perlu marah-marah padamu. Apa kau sudah bilang pada eomma dan appa mengenai hal ini?”

“Sudah. Dan mereka menyetujuinya,” balas Hyun Joong cepat.

“Lalu bagaimana jika Taerin Eonnie benar-benar membencimu?” tanya Nicole lagi. Pertanyaan yang satu ini berhasil membuat urat-urat di lehernya menegang.

“Gwenchana. Aku memang pantas mendapatkannya,” ucap Hyun Joong, tersenyum pahit. “Aku sangat mencintainya, Nicole-ah. Makanya aku sampai hati melakukan ini,”

@@@

Taerin menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya untuk mengusir dingin yang kembali menyerangnya. Sebenarnya dia baru saja sembuh dari sakitnya, tapi malam ini dia harus bertemu Hyun Joong untuk memastikan hubungan mereka. Terdengar bodoh memang, tapi hal itu ia lakukan karena ia tidak ingin ‘digantung’ seperti ini. Apa menurut Hyun Joong dirinya itu sebuah mainan yang seenaknya saja dibuang setelah puas ia memakainya? Hah!

“Kau lagi rupanya,” ucap seseorang disamping Taerin. Taerin sedikit terperanjat berkat suara namja yang agak tinggi itu. “Menunggu seseorang? Lagi?” tanyanya sambil duduk disamping Taerin. Yeoja itu menggeserkan pantatnya sedikit saat Heechul—yang menurut Taerin—duduk terlalu dekat dengannya.

Taerin mengeratkan kedua tangannya yang terbungkus rapih didalam saku sweeter-nya. “Bukan urusanmu,” jawab Taerin singkat.

Heechul mendengus. Baru kali ini ada seorang yeoja yang berani mengacuhkannya. Padahal, yeoja mana yang tidak dapat terpesona dengan wajah cantiknya itu? Jawabannya: tidak ada! Biasanya, hanya dengan sekali kedip, yeoja manapun pasti langsung kejang-kejang dibuatnya. Sedangkan Han Taerin? Wow, sungguh yeoja yang memiliki selera namja yang tinggi, sepertinya.

“Mau kutemani? Kebetulan aku tidak bawa mobil hari ini jadi aku bisa menemanimu menunggu bus. Eottheo?” tawarnya tulus.

Taerin terlihat berfikir sejenak. “Mmm, baiklah. Asal kau tidak macam-macam saja padaku,” tukasnya menekankan. Heechul tertawa keras. Kebiasaannya yang tidak pernah hilang setiap kali ada yang mengejeknya.

“Aku tidak akan macam-macam. Tenang saja. Mungkin aku hanya akan sedikit ber-macam-macam,” ungkap Heechul sambil mengelus dagunya. Taerin memiringkan kepalanya menatap namja itu. Ia sedang mencoba mencerna kata-kata Heechul yang sulit ia pahami.

Melihat wajah Taerin yang kebingungan membuat Heechul lagi-lagi tertawa keras. “Ya! Aku hanya bercanda,” elaknya. Taerin lalu mengangguk, mulutnya membulat membentuk huruf ‘O’.

“Ok. Kau belum mengatakan padaku apa yang membuatmu bisa duduk manis disini. Cuaca sangat buruk akhir-akhir ini. Kau tahu itu?” ucap Heechul, sedikit menceramahi Taerin.

Yeoja itu hanya menggedikkan bahunya. “Hanya iseng?” jawabnya asal.

“Iseng? Apa kau tidak ada kegiatan lain selain iseng duduk di halte yang sepi pengunjung ini?” oceh Heechul menampik jawaban Taerin yang tidak masuk akal baginya.

“Hmm, kegiatan lain? Misalnya?” Taerin balik bertanya.

Heechul bertingkah pura-pura berfikir. “Hmm, misalnya… membantu para tukang sampah memunguti sampah yang bertebaran di sekitar jalan ini. Selain membuat Kota Seoul tercinta ini bersih, kau juga bisa dapat pahala,” ucap Heechul panjang lebar. “Yeah, kecuali kalau kau duduk disini untuk menemuiku, aku tidak akan melarangmu. Apa kau salah satu fansku?”

Taerin, yang sebelumnya menatap Heechul dengan tatapan anehnya—karena ia rasa leluconnya tidak lucu, menyunggingkan senyumnya saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan namja berkulit putih itu. “Ternyata kau begitu percaya diri, Oppa,” sahut Taerin, masih menunjukkan gigi-giginya, tersenyum simpul.

“See? Akhirnya aku membuatmu tersenyum padaku! Ya! Kim Heechul memang penakluk para yeoja!!” ucapnya dengan semangat yang berkobar-kobar. Lagi-lagi Taerin tersenyum dibuatnya. Tidak, ia malah mulai tertawa melihat tingkah namja disampingnya yang sedikit tidak waras itu.

Saat Taerin memutar bola matanya, senyum dan tawa yang sebelumnya menghiasi wajahnya seketika menghilang saat ia mendapati Hyun Joong tengah berjalan menuju mobilnya diiringi yeoja yang sempat ia temui kemarin. Yeah, siapa lagi kalau bukan Lee Hyori? Mereka berdua masuk kedalam mobil Hyun Joong sambil terus mengumbar tawa. Taerin tak tahu percakapan apa yang membuat mereka terlihat akrab itu, tapi yang jelas, pemandangan itu membuatnya kembali tersulut emosi.

@@@

Keesokan harinya, Taerin kembali mengunjungi halte bus dekat gedung rehersal yang biasa Hyun Joong tempati pada jam yang sama. Tekadnya sudah bulat. Kali ini ia harus bisa menemui Hyun Joong dan mengajaknya bicara. Menurutnya, keputusan Hyun Joong beberapa hari yang lalu hanyalah keputusan sepihak. Taerin sendiri belum mengiyakan permintaan Hyun Joong yang mengajaknya untuk break.

Taerin sempat mencoba menghubungi Hyun Joong beberapa kali. Handphone-nya aktif, tapi si pemilik handphone tersebut sama sekali tidak menjawab panggilannya. Bahkan namja itu sempat memutuskan telefonnya beberapa kali. Sungguh menyedihkan. Apakah Taerin sekarang terlihat seperti sedang mengemis cinta pada Hyun Joong? Ya, tapi lebih tepatnya adalah mengemis sedikit waktu yang dimiliki Hyun Joong untuk mau bicara dengannya.

Dirogohnya saku sweeeter Taerin untuk mengambil handphone-nya. Jarinya dengan sangat lincah mengetik sesuatu dilayar handphone touch-screen miliknya.

—————-To: Naui Hyunnie aku menunggumu di halte dekat gedung rehersal. Kurasa kita harus meluruskan sesuatu——————-

Pesan terkirim. Taerin menggenggam handphone-nya erat. Berharap Hyun Joong akan membalas pesannya atau sekedar menghampirinya yang tengah duduk di tengah salju yang mulai turun di awal Desember ini. Taerin mendongakkan kepalanya saat ingat sesuatu. Ya, dia lupa mengatakan satu hal pada Hyun Joong. Segera ia ketik pesan pada handphone-nya untuk kedua kali.

————————To: Naui Hyunnie aku akan menunggumu sampai kau benar-benar datang——————–

Taerin menatap lurus ke arah gedung berlantai lima didepannya. Setiap kali ada seseorang yang muncul dari balik pintu kaca gedung tersebut, ia pasti memicingkan matanya untuk memastikan bahwa sosok itu adalah Hyun Joong. Namun lagi-lagi Taerin harus menelan pahit harapannya itu saat orang-orang yang berlalu-lalang itu bukanlah namja yang ditunggunya.

Selain karena Hyun Joong yang terus menghindarinya, Taerin juga sekarang mulai kesulitan untuk menemui Nicole. Padahal yeoja itu tidak pernah absen mengiriminya pesan—meskipun hanya sekedar menanyai materi kuliah. Dan anehnya, sikap Nicole yang aneh itu dimulai sejak kunjungan terakhirnya ke rumah saat ia sakit. Apa Hyun Joong melarang Nicole untuk menemuinya? Sungguh kekanak-kanakkan!

“Hhhh, aku bosan bertemu denganmu terus disini,” ucap seseorang disamping Taerin sambil menghela nafas. Taerin mencelos. Sudah jelas dari nada suaranya kalau orang yang membuyarkan lamunannya adalah namja yang serupa, Kim Heechul, si pemilik senyum yang—menurut Taerin—manis.

“Kau masih bisa tahan duduk ditengah salju begini? Aigoo, sebenarnya dulu kau itu reinkarnasi dari makhluk apa sih? Beruang kutub?” oceh Heechul tiada henti. Taerin lagi-lagi mendengus. Sebenarnya dia ingin tertawa, tapi jika ia tertawa, maka namja ini pasti akan menganggap dirinya hebat karena berhasil membuat yeoja berwajah datar sepertinya bisa tertawa.

Taerin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul. “Apa tidak ada yeoja lain yang bisa kau godai, Tuan Kim Heechul? Kau seorang aktor drama musical yang cukup terkenal. Seharusnya kau dikelilingi yeoja-yeoja cantik dan bukannya menggodaiku,” ledek Taerin sambil memasang wajah menghinanya.

Heechul menggoyangkan telunjuk dan juga kepalanya. “A, A, A! Aku malas menanggapi mereka yang mendekatiku hanya karena popularitas dan juga uang yang kupunya. Aisshh, tidak adakah yeoja yang tulus di dunia ini?” ungkap Heechul, tangannya ia gerak-gerakkan seperti sedang memohon pada Tuhan.

Taerin terkekeh pelan mendengar penjelasan serta body-language yang Heechul praktekkan. “Ternyata hidupmu sungguh tragis, Tuan Kim. Sama seperti drama musicalmu yang tragis itu,” ujarnya, sedikit meledek.

“Ya! Kau—“ Heechul pura-pura melayangkan kepalan tangannya pada Taerin dan disambut dengan mehrong oleh yeoja itu.

Saat Taerin tengah sibuk menahan tawanya—karena sejak tadi Heechul selalu menceritakan cerita lucunya, handphone yang terbungkus rapi didalam saku sweeter-nya bergetar, membuatnya sedikit kaget berkat getaran yang ditimbulkan benda mungil itu. Taerin segera mengambil benda tersebut lalu diperhatikannya layar handphone yang menunjukkan tulisan ‘One Message Received’.

———————From: Naui Hyunnie Sejak kapan kau duduk disana bersama dengan Heechul hyung? Menjauh darinya!!———————-

Eh? Hyun Joong? Bagaimana bisa dia tahu bahwa dirinya sedang bersama Heechul? Taerin mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari sosok yang telah mengiriminya pesan itu. Ternyata tak begitu sulit baginya untuk mencari Hyun Joong. Namja itu kini tengah menatap lurus ke arah Taerin dari kejauhan.

Baru saja Taerin balas menatap mata Hyun Joong, tak lebih dari tiga detik, Hyun Joong buru-buru melajukan mobilnya dari depan gedung tersebut tanpa menunggu ekspresi dari wajah Taerin. Yeoja itu mendengus pelan, dia sudah berusaha bertahan di tengah dinginnya ‘saweran’ salju malam ini hanya untuk menemui Hyun Joong dan namja itu malah pergi meninggalkannya setelah mengiriminya pesan yang isinya sungguh diluar topik yang ingin ia bicarakan?

Taerin menoleh kesampingnya saat ia merasakan sesuatu menyenggol lengan kirinya. Ia mendapati Heechul yang tengah menatapnya garang. “Wae? Wae? Wae?” tanya Taerin seadanya.

“Wae? Kau bilang ‘wae’? Yaaa, dari tadi aku sedang bicara padamu dan kau malah sibuk mengotak-ngatik handphone. Ditambah lagi kau tidak berkedip saat mobil Hyun Joong melintas didepanmu barusan. Aissh, jinjja!” Heechul melempar pandangannya ke arah lain, pura-pura kesal. Taerin—yang semula masih kesal karena sikap Hyun Joong—kini malah tersenyum melihat tingkah namja berdarah AB itu.

“Well, sepertinya aku harus mentraktirmu minum cokelat hangat sebagai imbalan karena kau berhasil membuat stress-ku hilang,” ucap Taerin akhirnya. Yeah, setidaknya hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membuat Heechul berhenti mengatainya macam-macam.

“Mmm, ide bagus. Tapi aku yang akan menentukan cafe mana yang menjadi tujuan kita,”

“Eh? Cafe? Aku tidak bilang akan mentraktirmu di cafe. Di kedai biasa saja. Aku tidak punya cukup uang,” elak Taerin.

“Ya! Ya! Ya! Aku ini seorang aktor drama musical. Mana ada aktor tampan sepertiku bertengger di sebuah kedai? Cafe. Tujuan kita ke cafe, aratchi?” tukas Heechul, tetap bersikeras pada permintaannya.

Taerin mengeratkan sweeter-nya sambil terus terkekeh. Namja ini benar-benar aneh—menurutnya. Ia menghembuskan nafasnya yang terasa agak berat itu sekali. “Kau benar-benar keras kepala, Tuan Kim,”

Heechul mengibaskan poni hitamnya sebagai tanda bahwa dirinya berhasil menang berdebat dengan Taerin. “Kkaja! Bus-nya sudah datang. Kau beruntung karena bisa naik bus bersama aktor tampan bernama Kim Heechul ini,” ucap Heechul sambil membusungkan dada.

“Hhhh, aku bosan mendengar ocehanmu itu,” Taerin memalingkan wajahnya dan—pura-pura—memasang wajah super bosannya. Namja itu mengeluarkan tawa ditengah salju yang menghiasi rambut hitamnya.

“Kau memang pintar membuatku tertawa, Han Agasshi,” kekeh Heechul. Ia mempersilahkan Taerin untuk masuk lebih dulu saat pintu bus terbuka. Namja itu berjalan mengekori Taerin sambil menyingkirkan salju yang menempel di pundak serta coat sapphire-blue yang ia pakai.

“So, aku masih sedikit bingung. Sebenarnya ada hubungan apa antara kau dengan Hyun Joong? Saat aku menanyakan hal yang sama padanya,  dia juga memberikan jawaban serta ekspresi serupa seperti yang kau tunjukkan padaku,” tanya Heechul yang masih sibuk dengan butiran salju yang menghiasi coat-nya.

Taerin menatap Heechul—yang duduk tepat disampingnya—sekilas. Pertanyaannya sungguh bukanlah yang ingin ia dengar sekarang. Kenapa namja aneh ini harus menyebut nama Hyun Joong saat ia mulai merasa nyaman dengan keadaannya sekarang? Sedetik kemudian, Taerin memutar bola matanya lalu mengarahkan pada pemandangan diluar kaca bus, mencoba untuk tidak mengindahkan pertanyaan Heechul yang tidak begitu penting baginya.

Heechul menangkap gelagat aneh yang ditampakkan Taerin. Ia mengerucutkan bibirnya, berfikir. “Kalau kau tidak mau menceritakannya, aku tidak akan memaksa,” ucapnya, menyerah pada akhirnya.

Yeoja itu tersenyum simpul. Seorang Kim Heechul akhirnya mau mengalah juga? Wow, sulit dipercaya. “Baguslah. Aku juga tidak ingin menceritakannya padamu. Bukankah namja sepertimu itu tipikal namja yang suka mengumbar rahasia orang?” ledek Taerin. Entah kenapa setiap kali meledek Heechul, ia merasa semua gundah dan juga penat yang ditimbulkan Hyun Joong menghilang seketika.

“Ya! Juggoshippo! Eh?” hardik Heechul. Baru kali ini ia mendapati seorang yeoja yang berani meledeknya tiada henti. Biasanya ia pasti selalu mendapati yeoja yang selalu terlihat manis didepannya, atau yang suka mengeluarkan aegyeo mereka—yang menurut Heechul tidak bagus sama sekali, atau yang selalu tampil cantik dihadapannya. Tapi Taerin? Yeoja itu tidak termasuk kedalam salah satu dari ketiga faktor yang ia sebutkan tadi.

Taerin kembali menatap jalanan yang melintas disampingnya. Malam ini benar-benar begitu dingin. Ditambah lagi dengan sikap Hyun Joong yang kian mencampakkannya. Tiga minggu? Apakah dia akan bertahan selama itu? Mungkin ia akan sangat bahagia jika Hyun Joong benar-benar kembali lagi padanya setelah tiga minggu itu, tapi jika ternyata kenyataan berkata lain? Apa yang akan ia lakukan? Memohon pada Hyun Joong agar mau kembali padanya?

Taerin mencoba mengingat-ingat kesalahan apa yang telah diperbuatnya sehingga Hyun Joong ingin menjauh darinya untuk waktu yang telah ditentukan. Tapi lagi-lagi hasilnya nihil. Hubungan mereka benar-benar berjalan sempurna. Tidak ada pertengkaran hebat karena mereka saling terbuka satu sama lain. Jadi? Sebenarnya apa yang membuat Hyun Joong berubah seperti ini? Well, sepertinya semuanya akan menjadi sebuah teka-teki hingga tiga minggu ke depan—lebih tepatnya sampai waktunya tiba.

@@@

“Kau sering ke tempat ini?” tanya Taerin saat ia dan Heechul sampai didepan sebuah cafe yang direkomendasikan Heechul.

“Ne. Apa kau pernah kesini sebelumnya?” Heechul balik bertanya. Taerin hanya menggeleng pelan. Haruskah ia bilang pada namja yang baru ia kenali beberapa hari ini kalau sebenarnya cafe ini adalah tempat Hyun Joong—setahun yang lalu—menyatakan cinta padanya? Sepertinya hal itu tak begitu penting untuk diceritakan bukan?

Baru saja mereka melangkahkan kakinya kedalam cafe tersebut, beberapa orang yang melintas didepan mereka terlihat menyapa Heechul. Sebenarnya Taerin tidak mempermasalahkan hal tersebut, hanya saja ia agak begitu risih melihat Heechul yang memeluk dan mencium pipi setiap yeoja yang satu per satu datang menghampirinya. Oh, my! Apa namja ini memiliki kebiasaan menciumi para yeoja?

Yeah, karena merasa bosan—sejak tadi Heechul terus berbagi tawa dengan beberapa orang yang ia temui, Taerin memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut. Ia lupa kalau namja yang sedang bersamanya sekarang adalah seorang aktor, pasti banyak orang yang mengenalnya. Padahal mereka belum sempat duduk didalam cafe namun orang-orang sudah menyerbu Heechul. Harusnya ia memang tidak perlu mengajaknya pergi tadi. Hhhh, sekarang ia sedikit menyesal karenanya.

“Ya! Kau mau kemana?” Heechul menahan tangan Taerin agar yeoja itu tidak pergi menjauh dari tempat itu. Taerin memutar tubuhnya dan memasangkan wajah tak sukanya.

“Lebih baik aku pulang karena kulihat kau sangat sibuk dengan para fansmu—atau apalah itu, aku tak peduli,” ucap Taerin datar.

Heechul menarik bibirnya membentuk sebuah smirk khas-nya. “Kurasa kau hanya sedang cemburu padaku,” elak Heechul, sedikit menggoda Taerin. Yeoja itu mendengus sambil memutar bola matanya.

“Apa aku tidak salah dengar?”

“Sebaiknya kita kedalam. Salju turun semakin lebat,” Heechul menarik tangan Taerin kemudian membawanya kedalam cafe.

“Heechullie!” sapa seseorang dari balik punggung mereka. Yang dipanggil sontak memutar tubuhnya untuk melihat siapa orang telah memanggil namanya itu.

“Hyori-sshi?” tanya Heechul memastikan. Taerin mengerutkan alisnya. Hyori? Bukankah yeoja yang dihadapannya sekarang itu adalah yeoja yang sempat menumpangi mobil Hyun Joong beberapa hari yang lalu? Taerin memperhatikan yeoja itu dengan seksama. Hah, pantas saja Hyun Joong mau dekat dengannya. Ia akui kalau Hyori memang terlihat ‘lebih’ darinya—dari segi fisik tentunya.

“Nugu?” tanya Hyori sambil menunjukkan telunjuknya ke arah Taerin yang tengah berdiri disampingnya. “Incaran barumu?” imbuhnya disertai seringaian menggodanya.

“Aiisshh, kau ini… Jangan memberikan kesan pada yeoja disampingku ini kalau aku adalah namja yang tidak baik, Hyori-ya,” ujar Heechul mencoba membela diri. “Kau kesini dengan siapa?” Heechul kembali bertanya.

“Seperti biasa,” jawabnya asal. Tak lupa tawa renyahnya yang keluar dan terdengar sangat anggun di telinga Taerin. Well, Hyori memang terlihat sangat sempurna. Tak ayal kalau dia menjadi pemeran wanita utama mendampingi Hyun Joong di drama musical terbarunya. Hah, sial! Lagi-lagi Taerin harus mengingat namja itu.

“Kurasa orang yang bersamamu itu mempunyai sedikit keterbelakangan mental. Jangan terlalu dekat dengannya, Hyori-ya. Dia sangat berbahaya,” ungkap Heechul dengan nada setengah berbisik saat mengucapkan kalimat terakhir.

Hyori hanya menyunggingkan senyum simpulnya. “Anniya, Heechullie. Dia hanya butuh teman bicara. Sepertinya dia agak tertekan beberapa hari ini. Mmm, masalah pribadinya,” jelas Hyori, sedetik kemudian ia menatap Taerin agak lama kemudian tersenyum simpul padanya. Taerin ikut tersenyum meskipun agak dipaksakan. Ia kesulitan mengartikan senyuman yang barusan Hyori berikan padanya.

“Baiklah. Aku tidak bisa lama-lama. Seseorang sedang menungguku disana,” Hyori melambaikan tangannya sejenak lalu berlalu meninggalkan mereka.

Heechul menyuruh Taerin untuk duduk disebuah bangku yang Heechul tunjuk sementara ia pergi memesan cokelat hangat di konter khusus. Kali ini Taerin tak banyak bicara. Ia lebih memilih untuk mengamati salju yang turun perlahan diluar sana melalui kaca jendela yang mejadi pembatas penglihatannya.

Bosan melihat salju, ia putar kepalanya mengamati ruangan hangat berukuran 30x50m ini. Cukup luas memang, sayangnya pengunjung disini tidak begitu banyak. Saat Taerin tengah mengamati lampu hias yang berada di tengah ruangan, sensor di kepalanya menangkap sesuatu dibalik lampu tersebut. Ia menggeser kepalanya ke kanan agar lampu tersebut tidak menghalangi pemandangannya.

Hyori, tengah duduk dengan santainya bersama seseorang yang sangat ia kenal. Yeah, Taerin yakin kalau saat ini ia tidak sedang salah penglihatan. Dirogohnya saku sweeter-nya untuk mengambil handphone. Disentuhnya layar touch-screen tersebut sehingga tersambung pada sebuah nomor.

Taerin mengamati dari kejauhan. Orang yang tengah duduk bersama Hyori memperhatikan layar handphone-nya. Dan setelah itu, ia memasukkan kembali benda tersebut kedalam coat hitamnya. Taerin mendengus. Hyun Joong, mengabaikan panggilan telefonnya. Padahal jelas sekali kalau namja itu sedang berduaan dengan Hyori.

“Sedang memperhatikan apa?” tanya Heechul yang tiba-tiba datang membawa nampan berisi dua gelas cokelat hangat dan beberapa cemilan yang ia pesan.

“Oppa, bisa kupinjam handphone-mu? Sebentar saja,” pinta Taerin, kali ini lebih halus dan tak ada nada mengejek.

Heechul mengerutkan kedua alisnya. “Handphone? Untuk apa?”

“Sebentar saja. Aku ingin memastikan sesuatu,” ucap Taerin lagi. Dengan agak ragu, Heechul menyerahkan I-phone silver-nya pada Taerin. Tanpa banyak cing-cong, Taerin meraih benda tersebut dan segera menekan beberapa nomor diatasnya.

Kembali ia memperhatikan Hyun Joong dari kejauhan sambil terus menempelkan speaker handphone Heechul ke telinganya. Hyun Joong terlihat merogoh kantung coat-nya. Tak banyak basa-basi, ia langsung menekan tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.

Ne, hyung? Waeyo?” tanya Hyun Joong seadanya. Taerin mendengus mendengar suara Hyun Joong dibalik speaker handphone tersebut. Baru satu menit yang lalu ia mencoba menelfon namja tersebut dan ia mengelak. Sekarang, saat ia menggunakan handphone Heechul, dengan cepat Hyun Joong mengangkatnya. Benar-benar….

“Apakah ini yang selalu kau lakukan setiap kali kau tidak sedang bersamaku?” tanya Taerin dingin. Yeoja itu memperhatikan Hyun Joong yang berjarak empat bangku darinya yang terlihat keheranan.

Nuguseyo?” tanyanya lagi. Lagi-lagi Taerin mendengus. Kesimpulan yang ia dapat adalah, Hyun Joong benar-benar sudah lupa bagaimana suaranya saat di telefon.

“Jika kau memutar kepalamu searah angka jam tiga, kau akan tahu,” ucap Taerin lirih. Diperhatikannya Hyun Joong memutar kepalanya dengan perlahan.

Hyun Joong membulatkan matanya. Ia sedikit kaget saat mendapati Taerin tengah menatapnya dingin dan datar.

Taerin menyunggingkan senyum kecutnya tanpa sedikitpun mencoba untuk memutuskan sambungan telefon. “Sekarang aku bisa menyimpulkan semuanya, Tuan Kim Hyun Joong,” bisik Taerin pada handphone Heechul yang menjadi alat komunikasinya dengan Hyun Joong sekarang. “Kau berhasil membuatku membencimu,”

TO BE CONTINUED….

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

22 thoughts on “[FF] PLEASE, LOOK AT ME!! – 2nd LOOK”

  1. Neomu a.. a.. a.. a.. apa etteohke sarraneun geoni..? 😥
    Brharap happy ending, cz kl gni nyesek bgt!! 😥
    Cho, jgn prmainkan prasaan gw, jeballll~ 😥
    Dada gw beneran nyesek nih bacanya, hyun joong.. 😥

  2. koment ngebutttt,,, part 1 ma 2 udah baca karena bisa buka lewat mobile *curcol lagi

    aku tau aku tau *ngacung ala anak SD
    Hyunjoong mau buat suprise ultah Taerin bukan? jadi dia pura-pura gak peduli gitu ke Taerin, dan nunggu atau break dalam wktu 3 minggu, sungguh mencurigakan, dan menambah clue kuat dengan hipotesisku *apadeh

    kalo bener,,woaaa suatu keajaiban buatku yang langsung konek, baru ngeuh nya pas hyunjoong ngasih note ke nicole, aku pikir itu kalender, hahaha

    ini REAL ya eon, eon percaya kan ma aku, aku belum baca part end nya,… *keukeuh 😀

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s