[FF] PLEASE, LOOK AT ME!! – 1st LOOK

Author : Zuleykha Lee a.k.a beibiiilee

Main Casts : Kim Hyun Joong and Han Taerin

Support Casts : Kim Heechul ‘Super Junior’, Lee Hyori, Nicole ‘KARA’, etc.

Type : Sequel [1st Look]

Length : I haven’t decided it yet

Genre : Romantic, Sad Story

Rate : General

a/n : HAN TAERIN!! PUAS LO HAH? GUE UDAH BIKIN NIH FF SAMPE GULUNG TIKER! KALO LO GAK SUKA JUGA, GUE SEBAR FOTO KHJ PAS LAGI HALF-NAKED *yahelah, half-naked bukannya udah lumrah yak? Mau gimana lagi, gue belum punya foto Bang HJ yang full-naked /ditabok Taerin/*

***

“Kenapa akhir-akhir ini kau selalu diam?” tanya seorang yeoja pada seseorang yang tengah memperhatikan majalah disampingnya. Orang yang diajak bicara hanya berdeham pelan sebagai jawaban tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya pada majalah fashion tersebut.

“Oppa,” sahut Taerin, berusaha untuk menangkap perhatian Hyun Joong—namja yang sedari tadi hanya berdiam diri dan membolak-balik halaman majalah yang ia pegang.

“OPPA!!” kali ini Taerin sengaja meninggikan nada suaranya. Sayang, namja berkulit putih mulus itu lagi-lagi hanya berdeham sebagai pengganti jawabannya. Karena stock kesabarannya mulai habis, Taerin merebut majalah yang dipegang Hyun Joong lalu melemparnya sembarangan. Melihat majalahnya dilempar, kedua mata Hyun Joong dengan cepat dialihkan pada Taerin yang kini tengah menatapnya garang.

“Wae?” ucap Hyun Joong datar. Taerin memutar bola matanya lalu berdecak pelan.

“Kau bilang ‘wae’? Aku sedang bicara padamu dan kau malah bilang ‘wae’?” tukas Taerin penuh amarah. Wajahnya memberenggut saking kesalnya, namun tetap memfokuskan kedua matanya pada Hyun Joong—namjachingunya.

Merasa tak ada yang perlu dijelaskan, Hyun Joong memilih untuk bermain-main dengan handphone yang sedari tadi membisu didalam kantung black-cardigan-nya tanpa sedikitpun menghiraukan Taerin.

Taerin semakin kesal. Ia akui kalau namja yang telah menjadi namjachingu-nya selama hampir satu tahun terakhir ini memang memiliki kepribadian ganda, tapi selama Taerin mengenalnya, baru kali ini ia melihat tingkah Hyun Joong yang benar-benar menguji kesabarannya.

“Sadarkah kalau sudah seminggu ini kau selalu bersikap acuh padaku?” tanya Taerin pada akhirnya. Yeah, sepertinya dia sudah tidak tahan lagi menghadapi sikap Hyun Joong yang berkepala sepuluh itu.

Hyun Joong langsung mendelik ke arah Taerin. Tubuhnya ia putar sedikit agar bisa berhadapan dengan yeoja yang duduk disampingnya. “Kalau aku acuh padamu, aku tidak perlu datang ke rumahmu sekarang dan lebih memilih untuk tidur seharian di rumah,” terangnya disertai desahan nafasnya yang berat.

Well, memang benar, Taerin lah yang menyuruhnya untuk datang ke rumah yang tak berpenghuni itu. Setiap akhir pekan, kedua orang-tua Taerin selalu menghabiskan waktu bersama pergi jalan-jalan ke berbagai tempat di seluruh penjuru Korea. Tentu saja, kesempatan itu dipakai Taerin untuk berduaan dengan Hyun Joong di rumah. Tapi sekarang keadaannya berbeda. Meskipun namja itu duduk manis di hadapannya, Taerin merasa kalau ia bicara dengan seorang manekin. Tidak tahukah dirinya jika Taerin saat ini ingin melampiaskan kerinduannya pada Hyun Joong?

Taerin memalingkan wajahnya dari Hyun Joong, dipeluknya bantal sofa yang terhampar disampingnya lalu menopangkan dagunya pada bantal. “Kalau memang kau tidak suka, kau tak perlu datang kesini. Aku juga tidak ingin melihat wajah penyesalanmu menghiasi rumahku,” gumam Taerin, suaranya sangat kecil sampai-sampai Hyun Joong hampir saja tak mendengarnya. “Tadinya aku ingin mengajakmu ke Lotte World. Sudah lama aku tidak kesana. Kufikir, dengan pergi bersama, aku bisa menghilangkan kekesalanku padamu. Kau juga bisa sedikit refreshing. Bukankah kau lelah karena harus bekerja setiap weekdays?” imbuhnya, mencoba bicara dengan nada sehalus mungkin.

Hyun Joong memandang Taerin dengan tatapan kosong. Memori-nya kembali memutar masa-masa indah bersama yeoja yang ia sayangi. Namun ia kembali menelan bulat-bulat memori itu. Bukannya ia sudah bosan dengan Taerin. Hanya saja….

“Kau masih tidak ingin bicara?” Pertanyaan Taerin barusan berhasil membuyarkan memori Hyun Joong. Dikedipkan kedua matanya sekali untuk memastikan penglihatannya. Hyun Joong memutar bola matanya lalu kembali ke posisi semula—bermain dengan handphone-nya.

Taerin menarik sudut bibirnya membentuk sebuah smirk. “Arasseo,” ucap Taerin sembari menaruh bantal sofa yang ia peluk kesampingnya. “Kau bisa pulang sekarang. Sepertinya kau tidak begitu tertarik untuk menemuiku atau sekedar mengobrol denganku. Oppa sudah tahu arah pintu keluar ‘kan? Jadi aku tidak perlu mengantarmu,” Taerin beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju ruangan lain yang terletak disamping ruang tamu.

“Kau yakin menyuruhku untuk pulang?” tanya Hyun Joong memastikan. Taerin tak menggubris kata-katanya, ia masih tetap melangkahkan kakinya masuk ke bagian dalam rumah. Hyun Joong memperhatikan Taerin dari balik punggung yeoja itu. Diusapnya wajah tak bernoda miliknya menggunakan kedua tangan secara perlahan. Ia berdiri dari tempatnya, menatap langit-langit ruang tamu rumah Taerin sejenak, lalu memasukkan kedua tangannya kedalam saku jeans-nya.

“Mianhae, Taerin-ah. Aku tidak bermaksud untuk melukaimu,” gumamnya pelan. Ucapannya barusan jelas tak akan bisa didengar Taerin karena Hyun Joong benar-benar berbisik saat mengucapkan kalimat itu. Sedetik kemudian, ia berjalan ke arah pintu, membukanya perlahan lalu beranjak keluar, menutup pintu tersebut agak keras.

Taerin, yang ternyata sedang bersender pada dinding pemisah antara ruang tamu dan ruang keluarga, mendengar suara pintu rumahnya yang membuka dan menutup. Serta merta ia berjalan kembali ke arah ruang tamu, memastikan bahwa Hyun Joong tidak benar-benar pergi. Tapi tidak. Ia tidak mendapati Hyun Joong disana. Ternyata benar, dia pulang. Benar-benar memutuskan untuk pulang.

Yeoja itu menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk menghilangkan sesak yang tiba-tiba menyerang jantungnya. “Kau benar-benar berubah,” bisiknya pada diri sendiri. Taerin berjalan gontai ke kamar yang menjadi tempat mencurahkan segala perasaannya itu sambil menahan air mata yang tak terbendung di kedua pelupuk matanya…

@@@

Sudah berapa kali Taerin memperhatikan layar handphone touch-screen-nya hari ini? Jawabannya: puluhan, bahkan bisa saja ratusan kali. Pasca ‘kepergian Hyun Joong dari rumahnya’ tiga hari yang lalu, Hyun Joong sama sekali tidak menghubunginya. Padahal biasanya namja itulah yang selalu mengirimkannya pesan singkat—meskipun hanya sekedar untuk menyuruhnya makan. Sebenarnya Taerin tak bisa menahan diri untuk mengirim pesan pada namjachingu-nya itu, namun ia urungkan niatnya untuk tidak menelfon atau meng-sms-nya karena ia ingin tahu reaksi Hyun Joong. Dan benar saja, namja itu benar-benar berhati dingin.

Taerin kembali mendesah. Vanilla ice cream didepannya mulai mencair dan berceceran disekitar gelas. Bukannya segera dimakan, yeoja itu malah mengamati ice-cream-nya yang mulai menitik sedikit demi sedikit dari gelas kaca tersebut.

“Taerin Eonni!!” sapa seseorang tak jauh dari tempatnya duduk. Orang itu melambaikan tangan dari kejauhan lalu disambut dengan senyum Taerin yang agak dipaksakan.

“Mianhae. Apa kau sudah menunggu lama?” tanya Nicole. Nafasnya sedikit tidak beraturan karena ia berlari menuju cafe yang menjadi tempat pertemuannya dengan Taerin. Taerin hanya menggeleng pelan sambil memperhatikan hoobae-nya itu.

“Ya! Kenapa ice-cream-nya kau biarkan meleleh? Aisshhh,” omel Nicole lalu memanggil pelayan cafe untuk membersihkan mejanya. “Bertengkar lagi dengan Hyun Oppa, eh?” tanya yeoja berambut pendek itu menambahkan.

“Anni,” elak Taerin.

“Kau tidak usah berpura-pura padaku, Eonni-ya. Kau kira apalagi yang membuatmu murung seperti itu selain karena tugas kuliah yang menumpuk? Pasti Hyun Oppa. Iya, ‘kan?” cecar Nicole tiada henti. Taerin menghembuskan nafas perlahan. Kedua tangannya ia lipat diatas meja.

“Nicole-ah,” sahut Taerin lemah.

“Ne,”

“Apa yang dapat membuat seseorang tiba-tiba berubah?” tanyanya sambil memandang sesuatu di luar jendela.

“Maksudmu Hyun Oppa?” Nicole balik bertanya. Taerin mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan Nicole. “Perubahan apa yang kau maksud itu?” sambungnya.

Taerin kembali menghembuskan nafas beratnya. Memikirkan Hyun Joong benar-benar telah menyedot semua tenaga dan juga fikirannya. “Semuanya. Dia… benar-benar berubah. Aku tidak bisa menyebutkannya satu per satu karena memang terlalu banyak hal-hal yang sudah berubah. Kau tahu? Yang membuatku bersemangat menjalani hidup—selain kedua orang tuaku dan teman-temanku—ini adalah dia. Sekarang dia berbeda. Aku tak bisa mencari jawaban atas semua teka-teki ini karena dia sama sekali tak mau bicara,” ungkap Taerin panjang-lebar.

“Sudah berapa lama dia bersikap seperti itu?”

“Sepuluh hari. Jika  hari ini dia tetap mengacuhkanku, total semuanya menjadi sebelas hari,” Taerin menjelaskan sembari mengacungkan jari-jarinya.

“Apa sebelumnya kau sempat bertengkar atau semacamnya?” selidik Nicole.

Taerin menggeleng lemah. “Anni. Kami baik-baik saja. Bahkan kami sempat makan malam bersama setelah pertunjukan drama musikalnya selesai,” elaknya. Yeah, Hyun Joong merupakan aktor drama musikal pada salah satu agency di Korea. Pekerjaannya sebagai aktor membuatnya harus dengan susah payah mencari waktu yang tepat untuk menemui Taerin. Namun, semenjak karirnya yang kian meningkat, hal itu membuat Hyun Joong sedikit melupakan Taerin.

“Mungkin dia butuh waktu extra untuk istirahat. Bukankah intensitas pekerjaannya semakin meningkat?” ucap Nicole, berusaha untuk menghibur Taerin.

Lagi-lagi yeoja itu menggeleng lemah. “Aku tidak perlu dia menemuiku setiap hari, Nicole-ah. Asalkan dia menghubungiku atau sekedar mengirimkan pesan itu sudah cukup bagiku. Kalau pekerjaannya sekarang membuatnya lupa padaku, seharusnya dulu—lebih tepatnya setahun yang lalu—aku tak perlu mengantarnya audisi menjadi aktor drama musikal. Bagaimana jadinya jika dia menjadi aktor drama televisi atau menjadi seorang artis? Dia pasti akan mencampakkanku,” rajuk Taerin menggebu-gebu.

Nicole menyesap minumannya sebelum kembali menginterogasi sunbae-nya di Seoul University itu. “Aku tidak ingin menakut-nakutimu, Eonni-ya. Tapi aku hanya ingin memberitahumu sebuah fakta saja. Biasanya, orang seperti Hyun Oppa ini adalah tipe orang yang sudah mulai jenuh dengan hubungannya,” terang Nicole, agak ragu.

“Maksudmu?” Taerin mengerutkan kedua alisnya. Matanya yang seperti Onew SHINee itu semakin sipit saja saat ia mengerutkan alisnya.

“Apa kau mengenal Kim Ki Bum?” tanya Nicole sedikit melenceng dari pembicaraan. Taerin menggedikan bahunya tanpa tahu siapa makhluk yang hoobae-nya sebutkan. “Kim Ki Bum. Key, namja yang satu angkatan denganku,” tambahnya.

“Yang sekarang berpacaran dengan yeoja yang seangkatan denganku? Cho ikha?” tanya Taerin balik, memastikan.

“Ne. Apa kau tahu bahwa dulu dia itu mantan kekasihku?”

“Anni. Aissh, Nicole-ah, kenapa kau malah menanyakan hal itu padaku?” sungut Taerin tak sabaran.

“Justru kutanyakan hal itu karena ada hubungannya dengan permasalahan Eonnie sekarang,” timpal Nicole tak mau kalah. “Dulu, aku bersikap seperti apa yang Hyun Oppa lakukan pada Eonnie: yakni mengacuhkan Key. Aku tak pernah menimpalinya setiap kali dia bicara, aku tak pernah mengirimnya pesan, setiap kali dia menelfonku selalu ku-reject, selalu beralasan setiap kali dia mengajakku pergi, dan masih banyak lagi. Kenapa aku menghindar darinya? Karena aku sudah jengah dan bosan padanya,” ungkap Nicole.

“Jinjja? Semua yang kau sebutkan tadi sama persis seperti yang Hyun Oppa lakukan padaku,” jelas Taerin.

“Ne. Akhirnya kuputuskan untuk break dengan Key. Maksudnya break disini adalah kami tidak bicara atau berkomunikasi dalam jangka waktu tertentu namun status hubungan kami tetaplah sebagai sepasang kekasih,” Nicole terlihat memasukkan cake yang ia pesan barusan sebelum melanjutkan kisahnya. Taerin memperhatikan dengan seksama.

“Mungkin Eonnie akan memandangku sebagai yeoja yang kejam. Tapi jujur saja, saat itu aku sempat dekat dengan Jinwoon. Dan Jinwoon selalu menghiburku setiap kali Key disibukkan dengan kegiatan modellingnya. Karena itu, aku sempat menjalin hubungan dengan Jinwoon selama masa break-ku dengan Key. Lama-kelamaan, aku mulai bosan dengannya. Dan aku memutuskan untuk mengakhiri masa break-ku dengan Key,”

“Lalu?” sela Taerin, ia merasa semakin tertarik mendengar cerita Nicole.

“Saat aku mencoba untuk bicara dengannya, Key selalu menghindar. Yah, aku memang salah karena selama masa break itu aku selalu menghindar dari Key yang setiap hari tidak pernah absen menanyaiku perihal alasan yang membuatku memutuskan untuk break darinya. Dan ternyata, Key mengetahui rahasiaku. Dia tahu kalau aku sempat kencan dengan Jinwoon. Hal itu membuatnya terpukul. Dia sempat menangis didepanku, membuatku semakin merasa bersalah padanya. Aku mencoba menjelaskan tapi ia tidak mau mendengar. Dan selang beberapa minggu, kudengar dia berkencan dengan Ikha Eonnie. Awalnya aku merelakan Key bersama Ikha Eonnie, tapi lama-lama aku sadar, aku sangat mencintai Key hingga aku tak mau melepaskannya dan bersama yeoja lain selain aku. Tapi percuma, sekuat apapun aku memohon, dia tidak akan kembali,”

Nicole menghela nafas panjang dan mencoba untuk tersenyum. “Itu merupakan hal terbodoh yang pernah kulakukan selama hidupku. Mencampakkan Key. Dan kuharap, hal itu tidak akan terjadi pada hubungan kalian berdua, Eonnie,” ucap Nicole seraya menggenggam tangan Taerin.

Taerin memasang wajah masamnya. “Tapi sepertinya sebentar lagi aku akan berada di posisi yang sama dengan Key, Nicole-ah.”

“Anni, Eonnie jangan berkata seperti itu,” ucap Nicole, menangkis perkataan Taerin yang terdengar sangat hopeless.

“Tapi semua yang kau ceritakan merupakan refleksi dari perbuatan Hyun Joong padaku, Nicole-ah. Kau tak tahu rasanya diperlakukan seperti ini,”

“Jangan berfikiran negatif, Eonnie-ya. Lebih baik Eonnie temui Hyun Oppa. Buat dia bicara. Komunikasi itu sangat penting dalam sebuah hubungan. Setelah mengetahui alasan utamanya mengapa dia mengacuhkanmu, baru Eonnie putuskan apa yang akan dilakukan selanjutnya,”

Taerin berfikir sejenak. Ya, benar apa yang dikatakan Nicole barusan. Dia harus bicara dengan Hyun Joong atau semuanya tidak akan kembali normal. Sampai kapan mereka akan terus-terusan seperti ini?

@@@

Sudah lebih dari lima belas menit Taerin duduk di sebuah halte yang letaknya tidak jauh dari gedung teater tempat Hyun Joong dan kru drama musikalnya tampil dan melakukan show. Gedung tersebut ada diseberang jalan. Taerin memutuskan untuk tidak masuk kedalam karena tidak ingin mengejutkan Hyun Joong. Bisa saja namja itu mengusirnya dari situ? Benar ‘kan?

Taerin kembali mengingat kata-kata Nicole—hoobae di kampus sekaligus adik dari Hyun Joong—tadi siang. Apa benar kalau Hyun Joong sudah bosan dan jenuh dengan hubungan mereka? Padahal selama mereka berpacaran, mereka tak pernah bertengkar secara serius atau apapun. Hidup mereka berjalan sempurna sampai semuanya berubah saat Hyun Joong mulai sukses di dunia akting-nya. Taerin menggesek kedua telapak tangannya cepat, cuaca malam ini cukup dingin. Apa karena sebentar lagi salju akan turun?

Ditengah kesibukannya memperhatikan gedung rehersal diseberang jalan, sebuah bus berhenti didepan menghalangi pemandangannya. Seseorang turun dari bus tersebut lalu berjalan cepat menuju halte kemudian merapihkan rambut serta bajunya yang agak kusut. Sejenak ia sempat memperhatikan Taerin yang tak berkedip sedikitpun memandangi gedung dihadapannya.

“Maaf, Agasshi. Tapi diluar sangat dingin. Apa kau menunggu bus selanjutnya?” tanya namja berambut hitam disampingnya. Taerin hanya mendelik sekilas, tak ingin bergerak lebih banyak.

“Aku sedang menunggu seseorang,” jawabnya dengan nada yang sangat lemah.

“Tapi sungguh, disini sangat dingin. Lagipula, apa kau sedang menunggu seseorang yang ada di gedung sana? Kebetulan aku akan masuk kedalam. Kau boleh ikut denganku,” ucap namja itu sambil menunjuk ke arah gedung yang Taerin maksud. Taerin memandang namja itu keheranan. Well, wajahnya sedikit familiar baginya. Apakah dia mengenalnya?

Melihat wajah Taerin yang mengerut, namja itu menyunggingkan senyum sambil menjulurkan tangan kanannya. “Kim Heechul imnida,” sapanya. Agak ragu, Taerin menjabat tangan yang sangat halus itu pelan. “Taerin. Han Taerin imnida,”

Ah, benar. Pantas wajah namja itu terlihat sangat familiar, dia adalah namja yang sangat terkenal berkat acting-nya di drama musical ‘Fame’. Dan namja yang bernama Heechul itu memang satu agency dengan namjachingu-nya sekarang.

“Jadi, siapa yang kau tunggu? Aku tidak bisa meninggalkan seorang yeoja cantik sepertimu sendirian di tengah malam yang dingin seperti ini,” ucap Heechul sembari mengeratkan syal hitamnya.

Baru saja Taerin hendak mengucapkan kalimatnya, niatnya itu terhenti saat Heechul menunjuk ke arah lain. “Oh, Hyun Joong? Sedang apa dia?”

Mendengar nama Hyun Joong barusan, membuat Taerin seketika itu juga memutar bola matanya menuju arah yang Heechul tunjuk. Yeah, dia menemukan sosok yang dia cari di seberang sana. Mata Taerin menyipit. Tidak, bukan karena dia salah lihat sehingga ia menyipitkan matanya. Tapi seseorang yang tengah berdiri di sampingnya membuatnya jengah.

“Heechul-sshi. Siapa yeoja yang ada disamping Hyun Joong?” tanya Taerin sedikit berbisik.

“Oh, dia Lee Hyori. Artis yang menjadi lawan main Hyun Joong di drama musical terbarunya. Aissh, anak itu. Sudah tahu Hyori itu incaranku, kenapa dia malah mendekatinya?” hardik Heechul, masih ditempatnya semula. Taerin kembali memperhatikan dua makhluk yang terlihat sangat dekat itu dengan seksama. Gelagat Taerin yang sulit ditebak itu membuat Heechul memberenggut. “Chamkanmanyo, apa kau fans-nya Hyun Joong?” tanya Heechul sedikit menginterogasi.

“Anni. Aku hanya orang biasa yang tak pantas untuk mendapatkan perhatiannya,” ucap Taerin. Sebelum airmatanya kian menetes, ia memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Heechul sempat memanggil namanya dari kejauhan, tapi Taerin tak memiliki cukup tenaga lagi untuk menanggapi orang asing yang baru dikenalnya itu.

Melihat Hyun Joong bercengkrama dengan yeoja lain sungguh membuatnya sulit untuk bernafas. Lee Hyori? Siapa yeoja berambut panjang itu yang berhasil membuat Hyun Joong tersenyum padanya setiap kali yeoja itu bicara? Apakah yeoja yang bernama Lee Hyori itukah yang membuat Hyun Joong acuh padanya? Kalau bukan karena Heechul yang memberitahunya bahwa Hyun Joong sedang latihan untuk drama musical terbarunya, selamanya ia tak akan  pernah tahu. Namja itu sama sekali tidak memberitahukan atau menceritakan apapun selama sepuluh hari terakhir ini.

Kata-kata Nicole lagi-lagi menghiasi fikiran Taerin. Benarkah semua ini karena Hyun Joong sudah bosan dengannya? Taerin mengeratkan sweeter yang melekat di tubuhnya sambil terus berjalan di tengah dinginnya malam. Melihat Hyun Joong dan Hyori barusan membuat hatinya ikut berubah dingin.

@@@

Hyun Joong tengah mengikat tali sepatunya. Latihan hari ini sudah selesai, dan itu artinya ia harus segera pulang karena angin malam kali ini membuatnya memikirkan bathtub yang berisi air hangat sepanjang latihan tadi.

“Ya! Kau sudah mau pulang?” hardik Heechul yang notabene baru saja sampai dari gedung rehersal tersebut.

“Yeah. Aku sudah tidak kuat dengan cuaca malam ini. Sangat dingin,” jawabnya, masih berkutat dengan sepatunya. “Heechul hyung, tumben sekali kau baru datang? Bermain-main dengan yeoja yang kita temui kemarin di club, eh?” imbuh Hyung Joong, mengejek Heechul.

Namja berparas cantik itu terkekeh pelan. “Aku tidak tertarik dengan yeoja ber-breast rata, Hyunnie. Dia tidak termasuk kategoriku,” Heechul melepas sarung tangan harimaunya agar ia dapat dengan mudah memegang cup berisi susu cokelat hangatnya. “Ah, tadi tak sengaja kutemui seorang yeoja diseberang halte. Sepertinya dia menunggu seseorang karena matanya tidak pernah lepas dari gedung ini. Yeoja itu yang sempat menahanku selama beberapa menit disana,”

Hyun Joong menyunggingkan senyumnya sambil terus mengikat si tali sepatu. “Yeoja? Apa dia menggodamu?” ucapnya sedikit mengejek.

“Anni. Sudah kubilang dia seperti sedang menunggu seseorang. Ah, kalau tidak salah, namanya Taerin. Han Taerin,” jelas Heechul kemudian meneguk susu cokelatnya. Hyun Joong menghentikan kegiatannya sejenak lalu mengarahkan kedua matanya pada Heechul. Apa dia tidak salah dengar? Han Taerin? Dia bilang Han Taerin?

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” hardik Heechul, membuat Hyun Joong kembali pada sepatunya sedetik kemudian. “Mmm, apa dia fans-mu?” tanya Heechul penuh keingin-tahuan. Hyun Joong berdeham pelan sebagai jawaban untuk mengiyakan pertanyaan Heechul.

“Gawat,” gumam Heechul sambil menggelengkan kepala. “Tadi dia melihatmu jalan dengan Hyori. Dan setelah itu, dia pergi entah kemana,” sambungnya.

Hyun Joong meraih jaket tebal yang bertengger di dinding lalu dikenakannya jaket tersebut secepat mungkin. “Aku pergi duluan, hyung,” Hyun Joong segera pergi meninggalkan ruang latihannya. Padahal dalam hati, ia sedikit gusar dan khawatir. Dia tahu bagaimana sikap Taerin. Meskipun dia tidak menunjukkan kekesalannya, tapi namja itu dapat mengetahui sikap yeojachingunya setiap kali dia cemburu padanya: Taerin akan berubah menjadi yeoja yang sangat menyeramkan.

“Hyunnie, apa kau mau pulang?” sapa seseorang dibalik punggungnya yang berhasil menghentikan tangannya untuk membuka pintu mobil yang terparkir manis didepan gedung. Hyun Joong hanya melirik sekilas setelah tahu siapa yang telah memanggilnya.

“Boleh aku ikut bersamamu? Kebetulan tempatku satu arah dengan tempatmu,” ucap Hyori menambahkan.

“Tidak sekarang, Hyori-sshi. Aku… ada urusan penting yang harus kuselesaikan sekarang,” balas Hyun Joong kemudian masuk kedalam mobilnya dan mulai melajukan si kendaraan beroda empat itu dengan cepat.

@@@

Taerin menghentikan langkahnya sebentar untuk memukul-mukul betisnya yang terasa semakin membesar. Dia baru sadar kalau sedari tadi dia berjalan menggunakan kedua kakinya menuju rumah dari gedung rehersal Hyun Joong. Jaraknya cukup jauh, dan jelas memakan waktunya. Sialnya, handphone-nya tiba-tiba mati. Ia tidak tahu sekarang jam berapa karena dia sendiri tidak mengenakan jam tangan.

Taerin menyeka keringat yang mengucur pelan dari pelipisnya. Padahal dia baru saja berteriak kedinginan. Tapi karena dia terus berjalan, dia menjadi sedikit kepanasan akibat kalori yang terbakar didalam tubuhnya.

“Calm down, Han Taerin. Setelah belokan ini, kau akan segera sampai di istanamu,” ucap Taerin pada dirinya sendiri.

Saat ia telah sampai di belokan terakhir, akhirnya ia dapat melihat rumah bercat putih yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Tinggal beberapa meter lagi dan yeoja itu akan segera menikmati empuknya tempat tidur hangatnya. Namun sesuatu menghentikan langkahnya segera. Seseorang—didepan rumahnya—tengah bersender pada bagian depan mobilnya sambil melipat kedua tangannya didada. Yeoja itu terperangah.

“Oh, tidak. Kau bermimpi lagi, Han Taerin?” Lagi-lagi Taerin mengucapkan kalimat itu untuk dirinya sendiri. Ia memutuskan untuk berjalan namun dengan kepala menunduk. Ia takut kalau kalau bayangan orang itu hanyalah imajinasinya semata. Jadi lebih baik ia tidak melihat ke arah tersebut dan mempercepat langkahnya sebisa mungkin.

Saat Taerin melewati mobil tersebut, terdengar suara dari orang yang sangat ia kenal menghiasi telinganya. “Kenapa handphone-mu tidak aktif?” ucap orang tersebut datar.

Taerin menghentikan langkahnya lalu berusaha untuk menatap orang yang tengah mengarahkan kedua mata pada dirinya. Yeah, ini dia, Kim Hyun Joong, namja yang membuatnya harus berjalan di tengah malam yang dingin. Sebenarnya Taerin ingin sekali memaki namja itu, melampiaskan semua amarahnya yang kian memuncak. Namun entah kenapa ia tak pernah bisa melakukannya. Setiap kali ia menatap wajah itu, setiap kali itu pula ia bisa meredam amarahnya. Tidak, bukan karena wajah Hyun Joong yang berhasil meredam emosinya yang labil, lebih tepatnya karena perasaan cinta yang yeoja itu miliki lebih besar dari rasa bencinya pada Hyun Joong.

Taerin menghirup udara sebisanya sebelum menjawab pertanyaan Hyun Joong. “Handphone-ku mati,” jawabnya, seperlunya.

Hyun Joong berjalan perlahan ke arah Taerin sambil melepas jaket tebal yang ia kenakan. Hyun Joong bermaksud untuk mengenakan jaketnya pada kedua pundak Taerin, karena yeoja itu hanya mengenakan kaus tipis serta jeans yang menutupi tubuhnya didalam cuaca yang dingin ini. Tapi Taerin—dengan sedikit halus, meskipun aslinya dia ingin menepis tangan namja itu—menghindar agar Hyun Joong tidak mengenakan jaketnya pada tubuh Taerin. Sudah terlambat bukan? Dia sudah merasakan udara dingin itu saat ia berjalan menuju rumah.

“Tidak usah bersikap baik padaku, Oppa,” gumam Taerin sedikit berbisik. Baru lima menit yang lalu ia membayangkan tertidur di kasur hangatnya. Kini, sosok Hyun Joong menghalanginya untuk merasakan kehangatan kamarnya.

“Cuaca malam ini sangat buruk. Kau tidak boleh sakit. Lagipula kemana saja kau? Sekarang sudah jam sebelas lewat dan kau baru sampai rumah,” ucap Hyun Joong bersikukuh untuk mengenakan jaketnya.

Taerin menatap Hyun Joong yang asik mengatur jaketnya pada tubuh Taerin dengan nanar. Ia masih ingat bagaimana Hyun Joong memperlakukannya tiga hari yang lalu di rumahnya. Bagaimana bisa namja itu berubah menjadi perhatian seperti ini sekarang?

“Aku sungguh-sungguh tidak bisa mengerti sikapmu, Oppa. Kau begitu dingin padaku, seolah-olah tidak peduli padaku. Setelah pertemuan terakhir kita, kau tidak pernah menghubungiku. Dan sekarang? Kau muncul dihadapanku dengan sok perhatian padaku. Apa kau sedang berencana untuk melukaiku lagi?” racau Taerin, nada bicaranya sangat pelan seperti orang berbisik. Ia tidak ingin kedua orang-tuanya mendengar suaranya yang tengah berteriak tak jelas ditengah malam seperti ini.

“Aku sibuk. Kau tahu itu ‘kan? Seharusnya kau yang mengirimiku pesan kalau aku tidak menghubungimu. Kau harus mengerti—“

“Mengerti?” tanya Taerin memotong kalimat Hyun Joong. “Apakah kau fikir selama ini aku tidak pernah mengerti dirimu? Selama satu tahun kita pacaran, aku selalu mengerti keadaanmu. Aku tak pernah marah setiap kali kau memilih untuk pergi bersenang-senang bersama teman-temanmu ke club. Aku tak pernah marah setiap kali kau lupa dengan janji kita. Aku tidak pernah marah setiap kali kau tak punya waktu untuk menemuiku saat kau berhasil menjadi aktor drama musical seperti sekarang. Dan kau bilang aku harus mengerti? Apa salahku Oppa? Apa salahku sehingga membuatmu acuh padaku?”

Hyun Joong menatap Taerin, ia bisa melihat kedua mata Taerin yang mulai berkaca-kaca diterpa cahaya remang-remang dari lampu jalanan. Namja itu menghembuskan nafas beratnya. “Kau tidak salah, Taerin-ah. Hanya saja—“

“Aku tidak mau mendengar penjelasanmu, Oppa. Aku capek. Aku ingin tidur,” potong Taerin kedua kalinya. Ia melepas jaket Hyun Joong dari tubuhnya lalu disodorkannya benda tersebut pada Hyun Joong. “Pulanglah. Bukankah kau harus istirahat untuk pertunjukan terbarumu?” suruh Taerin. Sedetik kemudian, ia membuka pagar rumahnya lalu berjalan memasuki rumah, meninggalkan Hyun Joong dengan segala rasa bersalahnya.

Namja itu masih mengamati Taerin hingga yeoja itu benar-benar hilang dari pandangannya. Alisnya sedikit mengkerut. Bagaimana Taerin bisa tahu mengenai drama terbarunya? Bukankah dia sama sekali belum menceritakannya?

Hyun Joong mendesah pelan sambil berjalan gontai ke arah mobilnya. Kata-kata Taerin sangat menohok hatinya. Ya, dia memang salah. Dia yang sebenarnya telah menyakiti yeoja yang sangat ia cintai itu. Hanya saja, ada satu alasan yang membuatnya tak bisa mencurahkan perasaannya saat ini.

Ditatapnya jendela kamar Taerin yang terletak di lantai dua itu agak lama. Berharap yeoja itu akan melambaikan tangan padanya—hal yang selalu ia lakukan setiap kali Hyun Joong sudah mengantarnya pulang. Tapi Hyun Joong hanya mendapati ruangan yang sunyi dan gelap.

“Aku tidak akan menceritakannya padamu, Han Taerin—naui yeojachingureul. Tunggu, sampai nanti waktunya tiba…..”

@@@

Nicole sedikit tergesa-gesa merapihkan rambut dan juga pakaiannya. Setelah terlihat rapih, segera disambarnya keranjang yang berisi buah-buahan yang telah tertata rapih serta sebuket bunga lily di tangannya yang lain. Hyun Joong tak sengaja melihat kesibukan yeodongsaeng-nya disela-sela ruangannya. Karena penasaran, akhirnya ia menghampiri si little sister-nya.

“Untuk apa keranjang buah dan buket bunga itu?” tanya Hyun Joong sambil menyenderkan tubuhnya pada daun pintu kamarnya.

“Menjenguk Taerin Eonnie,” jawab Nicole yang masih saja mondar-mandir tidak jelas. Hyun Joong mengerutkan alisnya.

“Taerin?”

“Ne. Memangnya kau tidak tahu? Taerin Eonnie sudah beberapa hari ini sakit. Sebagai hoobae-nya baik, aku harus menjenguknya dan memberinya semangat. Memangnya kau yang tidak perhatian padanya? Masa Oppa tidak tahu keadaan yeojachingunya sendiri?” ejek Nicole pada kakak laki-lakinya itu.

“Kau akan menjenguk dengan siapa?” Hyun Joong bertanya tanpa mempedulikan ejekan yang dilontarkan Nicole padanya.

“Sendiri. Waeyo?”

@@@

Hyun Joong memarkirkan mobilnya dengan rapih didepan rumah Taerin. Setelah sedikit berdebat dengan Nicole, akhirnya ia bisa juga mengantar adiknya yang agak bawel itu—meskipun ia harus menjanjikan akan membayar tagihan internetnya. Nicole berjalan lebih dulu meninggalkan Hyun Joong yang tengah memarkirkan mobil.

Setelah Nyonya Han mempersilahkan masuk, Nicole dengan cepat berlari ke kamar Taerin. Disana kini terbaring seorang yeoja yang tengah asik mengetik sesuatu pada notebook hijaunya.

“Ya! Sudah tahu sakit, masih saja mengerjakan tugas kuliah,” sahut Nicole mengagetkan Taerin. Yeoja itu segera menutup notebook-nya lalu menyambut kedatangan Nicole dengan sebuah senyuman.

“Tahu darimana kalau aku sedang sakit?” tanya Taerin setelah menerima bunga lily dari Nicole.

“Dari Rahma Eonnie, temanmu yang berasal dari Indonesia itu. katanya Eonnie sudah dua hari tidak masuk kelas. Padahal aku ingin minta bantuanmu untuk membuat contoh penelitian semiotik,” oceh Nicole tiada henti. Taerin lagi-lagi hanya tersenyum menanggapinya. Ia masih terlalu lemah untuk banyak bicara. Disela-sela senyumnya itu, Taerin menemukan sosok yang ia rindukan tengah berdiri di ambang pintu. Namja itu—masih—menatap Taerin tanpa ekspresi.

“O, aku lupa memberitahumu, Eonnie-ya. Oppa ikut denganku untuk menjengukmu. Mmm, kalau begitu aku keluar dulu. Bicaralah,” ucap Nicole, menepuk pundak Taerin pelan, kemudian bergegas pergi ke lantai bawah untuk memberikan sedikit privasi pada pasangan kekasih itu.

Perlahan, Hyun Joong berjalan ke arah Taerin kemudian duduk disamping tempat tidur. Taerin bergeming, tak bergerak sedikitpun. Ia bingung harus berbuat apa.

“Kenapa tidak bilang kalau kau sakit?” tanya Hyun Joong pada akhirnya.

“Kalau aku memberitahumu, apa kau akan datang? Biar kutebak, sepertinya ‘t-i-d-a-k’,” jawab Taerin mantap.

“Kenapa kau bersikap seperti ini? Kau bukan Han Taerin seperti yang kukenal dulu,” ucap namja bertubuh atletis itu sambil tetap berusaha menatap Taerin yang sedari tadi memfokuskan diri pada sesuatu di luar jendela kamarnya.

“Kau fikir siapa yang membuatku jadi seperti ini, eh? Apa kau sadar dengan semua tindakanmu belakangan ini? Apa kau juga sadar kalau kau selalu mengacuhkanku? Berapa kali lagi harus kukatakan padamu mengenai hal ini? Bahkan—“ Taerin menghentikan kalimatnya sejenak untuk menelan ludahnya yang terasa sulit. “—bahkan kau sama sekali tidak menyebutku dengan panggilan ‘chagiya’. Kau lebih sering memanggilku dengan sebutan ‘kau’ atau namaku. Hah, sungguh menyedihkan,” oceh Taerin tak karuan.

“Apa kau begitu kesal padaku sampai-sampai emosimu tidak terkontrol seperti ini?” tanya Hyun Joong lebih lanjut.

“Ne! Kau puas? Aku kesal karena sikapmu yang berkepala dua itu! Kau sama sekali tidak mau bicara, tidak mau membicarakan atau menjelaskan apa yang membuatmu jadi seperti ini! Saat kau datangpun, kau malah menanyakan kenapa aku tidak memberitahumu bahwa aku sakit. Kau bahkan tidak bertanya hal apa yang membuatku bisa jatuh sakit. Sebenarnya apa maumu, Tuan Kim?” bentak Taerin, meskipun suaranya agak ditahan agar tidak menimbulkan gaduh.

Hyun Joong memalingkan wajahnya saat Taerin menatapnya tajam. Taerin mendengus pelan, ia memutar bola matanya ke arah lain. “See? Bahkan kau sama sekali tidak menatapku,” sela Taerin lalu melipat kedua tangannya di dada.

“Kalau kau terus-terusan keras kepala seperti ini, sepertinya aku harus mencari jalan lain untuk memperbaiki hubungan kita,” terang Hyun Joong, berusaha untuk bicara setenang mungkin. Taerin hanya mendesah, ia tak tahu lagi harus berkata apa.

Hyun Joong menghembuskan nafasnya sekali sebelum akhirnya mengatakan hal yang ingin dia beritahukan pada Taerin. “Han Taerin,” sahut Hyun Joong lembut. Taerin bergeming di tempat tidurnya. Masih diposisinya semula—duduk diatas tempat tidur sambil melipat kedua tangannya. “Lebih baik, kita break untuk sementara waktu,”

Taerin membulatkan matanya. Break? Apa dia tidak salah dengar? Hyun Joong baru saja mengatakan kata laknat itu? Kata yang selalu membayanginya akhir-akhir ini akhirnya muncul juga ke permukaan. Well, sebelumnya Taerin memang sudah mempersiapkan akan hal ini, tapi saat Hyun Joong mengucapkan satu kata kutukan itu, hatinya belum siap, benar-benar belum siap sepenuhnya.

Taerin berusaha untuk tersenyum meskipun getir dan dipaksakan. “Kau bercanda ‘kan?” tanyanya sambil melirik sekilas pada Hyun Joong. Namja itu menggelengkan kepalanya lemah.

“Aku serius,” jawab Hyun Joong singkat. Taerin mendengus kesal, diputarnya bola matanya lalu mengibaskan poninya ke belakang.

“Apa karena yeoja yang bernama Lee Hyori itu?” ungkap Taerin, masih berusaha untuk mengontrol emosinya yang semakin memuncak.

“Tidak. Dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah kita,” elak Hyun Joong, meyakinkan Taerin.

Taerin menyunggingkan senyumnya sambil terus menggeleng pelan. Bukannya ia menertawakan penyangkalan Hyun Joong. Justru ia sedang menertawakan dirinya sendiri. Sungguh malang nasibnya itu, harusnya Hyun Joong datang untuk menghiburnya, tapi kenapa namja itu datang dan membawa kabar buruk yang—tanpa namja itu sadari atau tidak—dapat membuat kondisi fisik dan jiwanya kian menurun.

Taerin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya lalu mengeratkan selimut untuk menutupi tubuhnya. Sengaja ia miringkan tubuhnya memunggungi Hyun Joong, ia tidak ingin namja itu melihatnya sedang berusaha menahan airmatanya.

“Han Taerin,” sahut Hyun Joong lembut dibalik punggungnya. Tapi Taerin diam saja. Saat ini ia tidak ingin mendengar apapun yang diucapkan Hyun Joong.

“Aku mohon jangan seperti ini,” sahutnya lagi.

“Pergi…” ucap Taerin lirih, nadanya sedikit tersendat karena ia masih berusaha menahan sakit yang menyerang dadanya.

“Dengarkan aku dulu—“

“AKU BILANG PERGI, KIM HYUN JOONG!!”

TO BE CONTINUED…

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

18 thoughts on “[FF] PLEASE, LOOK AT ME!! – 1st LOOK”

  1. haha iya gw ktiduran td, trs pas bgn ada notif.. ksian ni NB gw kacangin mulu, tiap OL ktiduran aja bawaannya..
    love it, tp beneran brkaca2 bacanya.. n lgsg gw blg k namja d sblh gw, “oppa, jgn lakukan hal sprti ini ya, aku tdk mau kisah ini mnjadi nyata,”
    *backsong HYS-I’m Broken + Rainy Heart*

      1. kya’.ny tu kuda beneran..
        tapi kya’.ny gantengan kuda beneran dari pada Siwon.. *celingak-celinguk
        Ada Siwonnest ndak.?
        saya sudah menistakan Abang satu itu.. *ketawaGulung-gulung

  2. benerkan nih wp eon minta dimakan,,, gak bisa komen lewat mobile, harus PC aja,kekekeke

    mau perbaiki,, “aku capek” menurutku lebih cocok “aku lelah” supaya terbaca baku tapi enak gitu eon, hehehe *kritik mulu

    eonniiiii,,,demi onew yang gembul, ini kok nyesek banget, feel sad nya dapet, sampe mataku berair, untung gak jadi mutiara *lu kate putri duyung,plaakkkk

    bingung deh sama pikiran Hyunjoong… Oh my old man tampanku, mau lu tuh apa sih????? kasian Taerin terluka, ngebathin gara-gara elu..
    *jambak Hyunjoong
    *marah gaje

    1. hahaha siapa yang minta coba? Noh dek, marahin yang punya wordpress aja :p
      iya neneeek, hahahaha onn tau itu salah tapi dibiarin aja. Jadi makasih yaaa udah ingetin akoooo *kasih kecup*
      iyuuuuh *tampol hikma pake kolor kyu* hahaha iya aja deh dek yang penting kamu seneng. Udah ah baca aja lanjut gih~

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s