WHO ARE YOU (Chapter 02)

Aku masih saja berbaring di bangku taman kampus sambil terus menjambaki rambutku dari tadi—semenjak Key bersekolah di universitasku, aku tak lagi tidur di lorong kampus. Reputasiku bisa hancur nanti.

Ergh~ Aku sudah mendapatkan tanda tangan Key dengan mengorbankan seluruh urat maluku, tapi memang dasar aku pabo, kertas itu malah terselip diantara tugasku dan sekarang hilang entah kemana. Aaaaa~~ sebal! Sebal! Sebal!

It's Too Late (1)

“Hei, sedang apa kau disini? Kau seperti orang gila yang menjambaki rambutmu sendiri,”

Suara seseorang mengagetkanku—benar-benar mengagetkanku—sampai aku harus terduduk dari posisiku semula. Aku hanya memandangnya sekilas. “Bukan urusanmu,” jawabku singkat. Kukira orang itu akan pergi meninggalkanku, eh, dia malah duduk disampingku tanpa izin. “Ya! Kau ini siapa sih? Pergi sana,” usirku sesegera mungkin. Mood-ku tiba-tiba berubah karena namja disampingku ini.

“Igeo,” ia menyodorkan sebuah goodie-bag berwarna pink padaku. Seolah mengerti raut wajahku yang penuh tanda tanya, ia kembali melanjutkan kata-katanya. “Kemarin kau meminjamkan cardiganmu. Masa kau tidak ingat? Dasar pelupa,” ucapnya penuh nada ledekan.

“Ah, Kim Jung Hwa. Iya, kan?” kuambil goodie bag tersebut lalu kukeluarkan isinya. Ya, ini cardigan abu-abu-ku. Tapi, kenapa yang ini terlihat lebih bagus?

“Kau apa kan cardiganku? Kenapa jadi bagus begini?” tanyaku sambil membolak-balik cardiganku beberapa kali.

“Aku menggantinya. Habis cardiganmu sangat bau,” jawabnya disertai kekehan kecil. Aku hanya meninju pelan lengan kirinya.

“Kenapa kau pakai masker? Habis operasi plastik?”

Lagi-lagi ia terkekeh mendengar kata-kataku. “Anni, aku tidak suka menjadi pusat perhatian orang,”

“Hah, kau kira kau itu tampan?” ledekku padanya. Kulihat ia menyipitkan matanya padaku. Haha, aku suka membuat orang menderita. “Hei, Jung. Seharusnya kau tidak perlu mengganti cardiganku,” kataku mengganti topik pembicaraan.

“Harusnya kau bersyukur, Cho Agasshi. Aku tidak pernah sebaik ini pada orang lain,”

“Eh?”

“Kau itu orang pertama di kampus ini yang berhasil membuatku bicara,” terangnya lagi.

“Orang pertama? Wow, berarti aku ini orang yang beruntung, ya? Memang sudah berapa lama kau sekolah disini?”

“Ngggg~ satu tahun?”

“Eh? Satu tahun? Tapi aku baru melihatmu kemarin. Kau mahasiswa pindahan?” tanyaku lagi lalu kukenakan cardigan abu-abu baruku. Mmm~ sama persis dengan milikku yang dulu.

“Aku mahasiswa jurusan Seni Musik. Dan lagi, aku memang tidak suka menampakkan diri,” terangnya sambil mengetik sesuatu di cellphone-nya.

“Kenapa kau bisa tahu kalau aku disini?” kutatap bagian wajahnya yang tak tertutupi masker. Sungguh, matanya mirip sekali dengan Key. Apa dia memang benar-benar Key?

“Entahlah, ketidaksengajaan mungkin?” jawabnya santai. Sepertinya ia menyadari kalau sedari tadi mataku tak pernah berpaling dari matanya. Karena ketika matanya bertemu dengan mataku, ia segera memalingkan wajahnya.

“Ada apa dengan wajahku? Ada yang aneh?”

“Oh, eh? Anniya~ hanya saja….”

“Hanya saja??” lanjutnya.

“Nggg~ hanya saja, matamu mirip sekali dengan mata Key,”

Kudengar ia sedikit mendengus dan memutar bola matanya pelan setelah mendengar penjelasanku. “Waeyo?” tanyaku lagi.

“Aku tidak suka jika dibandingkan atau disamakan dengan orang lain,” jelasnya singkat. Aku hanya mengangguk pelan tanda memahami perkataannya.

“Baiklah, aku harus masuk kelas. Sampai bertemu lain waktu, Jiyoon-sshi,” ia beranjak dari tempat duduknya kemudian pergi meninggalkanku tanpa menunggu kata-kata perpisahan dariku. Hhh~ namja aneh!!

 ***

Author’s Side

Onew baru saja pulang dari lokasi shooting CF terbarunya. Dilihatnya meja makan disampingnya yang kosong—tak ada satu piring makanan sedikitpun—melompong. Biasanya setiap kali dia pulang shooting, pasti selalu ada makanan yang telah disiapkan oleh Key.

“Hah, tumben sekali?” batinnya sambil melepas syal yang melingkar di lehernya.

“Oh, hyung? Kau sudah pulang?” tiba-tiba Key muncul dari balik pintu kamar, tas Auction pink-nya sudah bertengger di punggungnya. Ia tak begitu memperhatikan hyung-nya karena dari tadi ia sibuk menggulung lengan kemejanya.

“Kau mau kemana? Rapih sekali?” tanya Onew memperhatikan gerak-gerik dongsaeng-nya itu.

“Kuliah,” jawabnya singkat.

“Tidak ada jadwal?” tanya Onew lagi.

“Anni…” Key sibuk mondar-mandir sana-sini mencari sepatu Adidas-nya. Sesekali ia lirik jam tangannya untuk memastikan bahwa ia tidak terlambat.

“Yang lain kemana?”

“Jonghyun hyung sedang pergi dengan Se Kyung noona. Minho ada shooting di MBC, dan kalau tidak salah, Taemin masih di SM building,” balas Key cepat. Sekarang ia sedang duduk di sofa ruang tengah sambil mengenakan sepatunya.

Onew menghampiri Key kemudian duduk disampingnya. “Senang dengan suasana kampusmu, huh?”

Key hanya berdeham mengiyakan pertanyaan hyung-nya.

“Lalu, bagaimana teman-teman barumu? Apakah ada fans-mu yang sekelas denganmu?” Onew meneguk yogurt yang sedari tadi ia pegang. Mendengar kata ‘fans’, Key jadi ingat seseorang di kelasnya. Ia hanya tersenyum tipis tanpa menghentikan kegiatannya—mengenakan sepatu.

“Aku pernah cerita padamu tentang teman sekelasku yang bernama Ikha itu ‘kan, hyung?”

“Ne… memang ada apa dengannya? Berbuat ulah padamu?” cecar Onew. Ia menemukan remote TV disampingnya kemudian ditekannya tombol merah pada remote tersebut.

“Anni… justru dia sangat menjaga privasiku. Yaaa, bisa dibilang dia itu sangat polos? Mmm, polos atau bodoh ya?” terang Key disertai tawanya.

“Bodoh?”

“Hahaha, anni… dia itu terlihat sangat pemalu. Eh, bukan, bukan, lebih tepatnya polos. Tapi aku suka. Jadi aku tidak cepat bosan dengan keadaan kelas. Kalau aku sekelas dengannya, dia itu selalu menjadi penyegar otakku,” terang Key lagi.

“Kalau begitu, kenalkan aku padanya,” Onew merangkul pundak Key dan memberikan seringaian kecil. Key melepaskan rangkulan hyung-nya itu kemudian bergegas pergi dari tempatnya. Sebelum pergi, ia sempat ber-mehrong ria pada Onew.

“Ya! Eodiga? Aku belum selesai bicara!!” sahut Onew.

***

Cho Ikha’ Side

Jam 08.05 KST

Gara-gara aku ketiduran tadi siang, walhasil aku harus mengikuti kelas pada jam malam. Ergh~ ini gara-gara appa-ku yang selalu concern dengan nilaiku. Jadi kalau bukan karena appa-ku, aku tidak akan peduli dengan kuliahku. Tapi ada untungnya juga masuk kelas jam malam seperti ini, jadi aku tak perlu sekelas dengan Key. Kalau aku sekelas lagi dengannya, bisa-bisa nilaiku hancur!!

“Akh,” kutopangkan daguku sambil memajukan bibirku kesal.

“Waeyo?” Yeo Ra mengguncang-guncang tubuhku pelan. Kutempelkan pipiku pada meja disampingku.

“AKU TIDAK SUKA MATA KULIAH BAHASA INGGRIS!!!” teriakanku berhasil membuat semua orang tertuju padaku. Wow, seperti iklan Ponds saja. Jadi berasa cantik, hihihi~

Tak lama kemudian Mr. Lee datang membawa beberapa kertas yang biasa ia bawa. Yah, apa lagi? Dia selalu membuat discussion session setiap kali kelasnya berlangsung. Jujur saja, aku lebih suka berbicara Bahasa Indonesia daripada Bahasa Inggris.

“Oke, everybody, we had an unexpected visitor here. So, i want you to welcome the new student’ arrival. Please,” Mr. Lee mempersilahkan si visitor itu untuk masuk. Dan,

TADA…

KEY??

AGAIN???

HYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…

Kurasa hatiku sedang mengitari sekeliling perutku sekarang. Aku merasakan mual yang tak terkira setiap kali melihat namja yang telah melelehkan hatiku itu.

“Hello, everyone. My name is Kim Ki Bum. Nice to meet you all,” ia membungkukkan tubuhnya 45° kemudian berjalan ke arah bangku kosong di hadapannya.

“Well, well, well, sepertinya akan ada mahasiswi yang rajin masuk kelas Bahasa Inggris nih?” bisik Yeo Ra tepat di telingaku. Tanpa melihat wajahnya, kudorong tubuhnya menjauhiku. Lagi-lagi aku tak bisa mengalihkan perhatianku pada namja yang menenteng tas Auction pink-nya. Sial!!!

Mr. Lee memberi sebuah tanda untuk menyuruh semua penghuni kelas agar tenang, karena seiring kedatangan Key ke kelas kami, suara gaduh tak henti-hentinya menghiasi seisi kelas. “Oke, i want to make a games for you all. Make a group which are include of two peoples. I’ll give you three minutes to find your partner and write your name on a piece of paper and give it to me. Start from now,”

Hah? Mworago? Tadi dia bilang apa? Haduh, sepertinya si Mister lupa kalau ada murid bodoh di kelasnya. Mana kutahu arti yang dia maksud. Yang aku tahu tadi dia menyebutkan ‘games’, ‘two’, ‘name’ dan ‘start’ saja. Selebihnya aku tak tahu.

Segera kubalikkan tubuhku untuk bertanya pada Yeo Ra tapi si kucluk itu malah hilang entah kemana. Saat kuperhatikan, semua orang di kelas ini sedang hilir-mudik menanyakan sesuatu pada yang lain. Beberapa yeoja di kelasku sempat mendekati Key dan menanyakan sesuatu. Tapi apa? Aku saja tidak tahu Mr. Lee sedang menugaskan apa. Hhhh~ ya, sudah lah. Lebih baik aku diam saja menunggu kedatangan Yeo Ra, si penyelamat nilai Bahasa Inggrisku.

“Excuse me,” suara seseorang dari balik rambutku berhasil membuatku menoleh seketika itu juga.

“Eh, oh, K-key?” tanyaku terbata-bata. Halah, halah, halah, kenapa aku masih saja kaku seperti ini sih? Memalukan!!!

“I think you don’t have your own partner for this class. May i sit here and be your partner for today?” ucapnya panjang-lebar.

Eotteokhae? Eotteokhae? Aku tahu dia itu menguasai bahasa inggris, tapi bisakah kau pelan-pelan saja mengucapkannya, Key? Mollasseoyo… andwae~ bagaimana ini? Masa aku harus menanyakan artinya? Nanti kartu AS-ku terbongkar dong? Aku tidak mau terlihat bodoh didepannya. Etteokhae?

“Nggg… Yes,” akhirnya hanya kata itu yang kulontarkan. Mau bagaimana lagi? Aku hanya hafal 4 kata di kelas bahasa inggris ini: Yes, No, Thank you, dan Sorry. Aku tak peduli dengan apa yang dikatakan Key barusan. Kepalaku selalu pusing setiap kali mendengar orang berbicara bahasa inggris.

“Thank you,” ucapnya kemudian tersenyum padaku dan mendudukkan tubuhnya pada kursi disampingku.

“Eh? What… What are… you… What are you doing?” agak sulit bagiku untuk menyatukan kata tersebut menjadi sebuah kalimat yang utuh. Padahal aku sering mendengar orang Bule mengatakannya di televisi.

Key tersenyum simpul sambil mengeluarkan buku catatannya. “Are you asking me? I’m here because i’ll be your partner today,” ucapnya enteng.

Dong… dong… dong… kepalaku tak bisa berfikir. Tiba-tiba seluruh kabel di otakku mengusut. Daripada aku terus-terusan mem-bego, lebih baik kutanyakan saja apa maksudnya.

“Psssstt, Key, aku bingung. Mereka itu sedang apa sih? Terus kenapa kau duduk disini?” bisikku sepelan mungkin.

DEMI APAPUN, AKU MENANYAKAN HAL ITU DENGAN MEMPERTARUHKAN KEMBALI SEMUA URAT MALUKU!!! MATI SUDAH SELURUH MARTABAT, HARKAT DAN DERAJATKU!!!

Hah, tepat sekali. Sesuai dugaanku, Key tertawa keras sambil memegangi perutnya setelah mendengar kata-kataku.

“Ya! Aku ‘kan minta penjelasan, bukannya ditertawai seperti itu,” kumonyongkan bibirku sambil mengetuk-ngetukan pulpen sapphire-blue-ku ke meja.

“Anniya, Ikha-sshi. Aku kira kau mengerti. Lagipula kau tadi menjawab ‘yes’ padaku,” ucapnya disela-sela tawanya. Huh, menyebalkan!!

“Kuberitahu ya, aku ini tidak suka bahasa inggris. Makanya sampai sekarang aku mendapat predikat ‘yeoja murni’ di kelas ini,” terangku sambil terus mengetuk-ngetuk pulpen tersebut semakin keras saking sebalnya.

“Loh? Bukannya predikat itu sangat bagus?” sepertinya Key telah kembali ke alam nyatanya. Sekarang ia tak tertawa lagi. Tapi masih senyam-senyum tak jelas sih…

“Yeh, bagus dari segi mananya? Maksudnya ‘yeoja murni’ itu adalah ‘yeoja yang benar-benar murni tidak tahu sama sekali tentang bahasa inggris’,” jelasku padanya.

Lagi-lagi Key tertawa lebar setelah mendengar penjelasanku. Ugh~ kalau bukan karena dia itu idolaku, sudah kucolok matanya sekarang juga.

“Oke, class. Pay attention, please” Mr. Lee menyuruh penghuni kelas untuk diam—nah, kalau yang satu ini aku mengerti artinya. Haha…

“The games is so simple. You and your partner will act like an idol and her/his fans. And then, the one who’ll be a fans should say everything about the idol until the idol want to go to dinner with you. Understand?”

“Yes, sir,” ucap semua orang di dalam kelas. Yah, lagi-lagi aku saja yang diam—tak mengatakan apapun—dari tadi.

“Kau mengerti apa yang diucapkan Mr. Lee barusan?” tanya Key ramah padaku. Aku hanya menggeleng pelan sambil mencoret-coret sesuatu di buku-ku.

“Kita harus beracting. Yang satu menjadi artis dan satunya lagi menjadi fans-nya. Dan, fans-nya itu harus merayu sang artis sampai artis tersebut mau pergi makan malam dengannya. Masing-masing akan bertukar posisi. Jadi kau bisa saja jadi artisnya atau fans-nya,” ungkapnya panjang-lebar.

“Oh.. lalu?”

“Nanti Mr. Lee akan menunjuk kelompok siapa yang akan maju ke depan. So?”

“Aku ingin jadi artis!!” respon kuangkat telunjukku keatas setinggi mungkin.

“Loh, aku ‘kan artis, jadi aku yang jadi artis dong?” Key sepertinya tak mau kalah denganku.

“Tadi kau bilang bisa bertukar posisi? Ya. Sudah, aku ingin jadi artis. Aku sudah bosan jadi fans terus,” jelasku sambil mengayunkan pulpenku ke kiri dan ke kanan.

“Aku bilang, kita tetap memegang dua posisi, artis dan fans. Jadi kau tidak bisa memilih,” ungkap Key dengan nada sedikit meninggi.

Aku hanya mengangguk pelan. Mulutku kubentuk menjadi huruf ‘O’ disertai alis kiriku yang terangkat. “Oke, oke. Tapi aku tidak bisa bahasa inggris? Eotthe?”

“Mmmm.. kau sebut saja apa yang ingin kau katakan. Nanti aku akan men-translate-nya ke dalam bahasa inggris?”

“Jeongmal?” kutatap namja di sebelahku ini sambil mengepalkan kedua tanganku.

“Ne..”

“Huaaaa~ gomawo..” saking senangnya, tanpa sadar kupegang lengan sebelah kanannya. Tapi segera kulepaskan tanganku secepat mungkin—takut-takut ia akan berubah pikiran.

“Baik. Aku akan menjadi artisnya terlebih dahulu,” ucapnya sambil menulis sesuatu pada buku catatannya.

“Kau ‘kan sudah jadi artis,” sergahku cepat. Key malah menggoyangkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.

“Oke, sekarang apa yang akan kau lakukan agar idolamu mau pergi makan malam denganmu?” tanyanya tiba-tiba.

“Hmm, yang aku tahu, idolaku itu suka sekali dengan yeoja yang berterus-terang dan memiliki selera style yang bagus. Jadi, untuk menarik perhatiannya, aku akan merubah penampilanku terlebih dahulu. Kalau masalah ‘keterus-terangan’, aku sih jagonya,” kataku sambil membusungkan dada.

“Eh? Jagonya?” tanya Key sambil mengerutkan alisnya.

“Yup, aku ‘kan tidak suka berbohong,”

Kulihat ia tertawa pelan tanpa menghentikan aktivitasnya—mentranslate kata-kataku. “Selain itu?” lanjutnya lagi.

Kuketuk-ketuk pulpen ke pelipis kananku. “Mmm… apa ya? Aku bingung. Habis kalau dekat-dekat dengan idolaku, aku selalu grogi,” jawabku seadanya. Kuperhatikan raut muka Key dan ia lagi-lagi tersenyum mendengar jawabanku. Hihihi, Eomma, dia sungguh tampan…

“Oke. Ini dia. Kau baca-baca dulu kata-katanya. Setelah itu hafalkan dengan baik. Kau tidak ingin terlihat memalukan di depan anak-anak ‘kan?” Key menyodorkan buku catatannya yang sudah berisi translate-an dari kata-kataku barusan. Kuraih bukunya lalu kubaca satu demi satu tulisan tangan Key yang bisa dibilang cukup rapih untuk ukuran tulisan namja.

Oh, baby. You’re so gorgeous, handsome, and awesome…. Tunggu, aku ‘kan tidak bilang kalau idolaku itu tampan,” kuhentikan membaca tulisan Key karena kurasa ada yang salah dengan kata-katanya.

“Loh? Kau mengerti tulisanku ya? Orang yang kau idolai itu aku kan? Sudah pasti aku itu tampan. Jadi aku tambahkan kata-kata itu,” belanya.

“Andwae…” kuserahkan kembali buku catatannya. Memang sih, Key itu tampan, tapi ‘kan aku tidak perlu menyebutkan kata-kata itu. Huh,

“Ya, sudah kalau tidak mau,” ia menarik buku-nya seolah mengamankannya dariku. Tunggu! Kalau bukunya diambil, aku harus bicara apa jika disuruh Mr. Lee maju ke depan kelas?

“Ugh.. oke, oke, aku mau. Sudah, mana bukunya?”

Kulihat Key menyodorkan bukunya padaku disertai kekehannya.

“Sekarang giliranku yang menjadi artisnya. Apa yang akan kau lakukan agar aku mau pergi makan malam denganmu?” kataku balik bertanya.

“Hmmm… gampang. Aku akan merayumu,” jawabnya singkat.

“Misalnya?” tanyaku sambil memiringkan kepalaku dengan maksud agar aku bisa menatap kedua matanya yang indah. Hyaaa, eomma… meotjyeo-meotjyeo-meotjyeo…

“Listen,” ucapnya singkat. Ia mengubah posisi duduknya menghadapku kemudian melanjutkan kata-katanya. Hhh~ kenapa tiba-tiba aku jadi grogi begini? Eotteokhae? Eotteokhae?

“Although you’re a little silly, dummy and innocent, but i want…”

“Chamkanman,” sergahku memotong kalimatnya. “Kau bilang apa barusan? Dummy? Ya! Aku tahu artinya!!! Andwae… itu bukan ‘merayu’ namanya, tapi ‘mengejek’!!” cecarku sambil memanyunkan bibirku. Key lagi-lagi menertawaiku dengan puasnya. Grrr~

“Aku pergi dulu sebentar. Sementara itu, kau berlatih saja dulu,” Key beranjak pergi keluar ruangan setelah membaca sesuatu dari Blackberry-nya. Meninggalkanku sendirian di kelas. Mmm, mungkin itu sms dari manager-nya? Yah, mana ku tahu…

Dasar Yeo Ra pabo, bukannya masuk kelas, dia malah pergi berkencan dengan Donghae oppa. Barusan dia mengirimkan pesan singkat padaku. Bertrayer! Untung Key menyelamatkanku, kalau tidak, aku akan menjadi kambing congé di kelasnya Mr. Lee.

***

Ugh~ kemana si kunci itu? Sebentar lagi giliran kami berdua yang harus maju ke depan kelas. Ia sudah menghabiskan waktu kurang lebih 26 menit diluar dan ia belum kembali juga. Apa kususul saja? Ah, tidak perlu lah. Tapi,,, Ya, sudah lah. Lebih baik kususul saja dia. Daripada aku tidak mendapat nilai dari discussion session kali ini.

***

Oke, dia itu benar-benar menyusahkanku!! Aku sudah mencarinya ke tempat loker mahasiswa, kantin, dan lapangan basket. Tapi tak kutemukan juga sosok idolaku itu. Urgh~ harusnya kutanyakan nomor cellphone-nya tadi. Jadi aku bisa dengan mudah menemukannya. Kalaupun dia memutuskan untuk pergi, tidak mungkin ia rela meninggalkan tas-nya di kelas. Hhh~ lebih baik aku segera ke kelas. Mungkin ia sudah kembali.

Kebetulan kelasku ada di lantai tiga. Jadi aku harus melewati beberapa tangga sebelum bisa sampai di kelasku tercinta. Hhh~ omona~ ternyata kampus ini begitu menyeramkan kalau malam hari. Meskipun ada penerangan di setiap sudut tempat, tapi tetap saja tidak menghilangkan keheningan yang mengelilingiku.

Karena terlalu parno, ku percepat langkahku menuju kelas. Baru saja kulangkahkan kakiku menaiki anak tangga pertama, kudengar suara seperti benda terjatuh tak jauh dari tempatku berdiri. Karena penasaran, kuikuti arah suara tersebut tanpa mempedulikan rasa takutku.

Suara itu semakin terdengar jelas saat kulangkahkan kakiku menuju tempat parkir yang letaknya tak jauh dari tangga yang akan kunaiki. Benar, suara itu berasal dari situ. Apakah penjaga sekolah sedang memperbaiki sesuatu di tempat parkir?

Awalnya kuputuskan untuk kembali ke kelas, tapi rasa penasaranku berhasil mengalahkan keputusanku itu. Yang lebih parah lagi, kudengar suara erangan seseorang dari balik mobil yang terparkir di depanku. Pelan-pelan, kulangkahkan kakiku untuk memastikan asal suara tersebut.

Kulihat bayangan seseorang dibalik mobil. Ia mengenakan hoodie yang menutupi kepalanya. Dan saat kudekatkan lagi jarak antara kami, ada yang lebih mengejutkanku. Namja tersebut sedang memegangi kerah baju Key. Key…?? Aku tidak salah lihat kan? Dia Key? Key SHINee yang selalu kupuja itu?

Ya tuhan, apa yang sedang terjadi? Kuperhatikan, wajah Key sudah penuh dengan darah yang mengalir dari pelipis dan hidungnya. Apa yang harus kulakukan? Ya, tuhan. Aku bingung…

Ditengah kebingunganku itu, kulihat Key menatap ke arahku. Sepertinya ia berusaha untuk mengatakan sesuatu padaku, tapi apa?? Akhirnya karena terlalu panik, kuberanikan diri untuk segera pergi dari tempat itu—mencari pertolongan lebih tepatnya. Tapi sialnya, orang yang memakai hoodie itu mengetahui keberadaanku. Sial!!!

Segera kupasang kuda-kuda untuk berlari sekencang mungkin. Dan benar saja, orang itu mengejarku dari belakang. Kudengar derap langkah kakinya semakin kencang. Setelah lima menit aku berlari, kupastikan bahwa ia tak lagi mengejarku. Tak ada derap kaki lagi yang mengikutiku. Ya, tuhan.. semoga ia tak menyadari keberadaanku…

Saat kufikir keadaan sudah aman, aku mulai melangkahkan kakiku menuju kelasku yang terletak di lantai tiga. Tapi sial, ketika kubalikkan tubuhku, kulihat sosok orang yang tadi mengejarku tepat berada di hadapanku.

Aku berniat untuk teriak sekencang-kencangnya, namun sepertinya ia mengetahui jalan fikiranku. Segera dibekapnya mulut dan hidungku menggunakan sapu tangannya. Aku dapat mencium aroma chlomoform dari sapu tangan tersebut. Cengkraman orang ini terlalu kuat sehingga sulit bagiku untuk melarikan diri.

“Annyeong, Cho Agasshi,” bisik orang itu tepat didepan wajahku.

Sebelum kesadaranku mulai menghilang, kuperhatikan sosok orang tersebut.

Dia…

Ternyata dia…

…bersambung…

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

13 thoughts on “WHO ARE YOU (Chapter 02)”

  1. Onnii, Kim Jung Hwa sama Key itu sodara kembar ya? Iya bukan sih? *tebak tebak*
    Terus yang di prolog itu Kim Jung Hwa ya yang bilang? Iya kan? Bener ga?
    Makin seru nih FFnya. Udah ah, aku mau baca nextnya. Mau tau tebakanku bener apa ga. *wink*

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s