WHO ARE YOU (Chapter 03)

Aku berusaha untuk bangun dari posisiku, tapi kepalaku terasa sangat berat. Kupegangi kepalaku dan kupijit perlahan untuk merilekskan otot-otot di keningku. Namun sekelebat kejadian tadi malam membuatku dengan mudahnya membuka kelopak mataku. Key, yang bersimbah darah, mengerang meminta pertolongan padaku… Ya, tuhan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Tunggu, dimana ini? Aku tidak mengenali tempat ini. Dan kenapa sekarang aku berada di atas ranjang empuk berukuran king size?

It's Too Late (1)

Saat aku benar-benar pulih dari kesadaranku, ku perhatikan sekeliling ruangan ini dengan seksama. Tata ruangannya seperti kamar hotel. Apa jangan-jangan aku memang ada di hotel sekarang? Dan ketika kuputar tubuhku 180°, kudapati sosok yang kukenal disampingku yang sedang terbaring lemah dan tak bergerak sedikitpun.

“K-key?” kugoyang-goyangkan tubuhnya pelan agar ia terbangun. Tapi ia tak bergeming sedikitpun. Aku masih bisa melihat darah di beberapa bagian wajahnya yang mulai mengering. Segera kuarahkan telunjukku ke hidung Key—memastikan bahwa masih ada udara hangat yang keluar dari hidungnya yang mancung itu—karena fikiran kotor terus terngiang-ngiang dibenakku kalau-kalau Key sudah tak bernyawa lagi.

Kugoyang-goyangkan lagi tubuhnya dengan maksud agar ia segera terbangun. Tak lama kemudian kudengar erangan pelan dari mulutnya. Fiuhhh… Terima kasih, Tuhan. Dia masih hidup…

Ia memegangi keningnya sambil meringis pelan. Sepertinya ia mengetahui keberadaanku—karena tadi ia sempat melirik kearahku. “Dimana aku?” rintihnya pelan sambil memegangi kepalanya yang mungkin masih terasa sakit baginya.

“Mollayo… tapi syukurlah kau masih hidup,” jawabku seadanya. Kubantu dirinya untuk berdiri tapi ia hanya mampu untuk duduk saja. “Gwenchanayo?” tanyaku sambil mengusap pelan lukanya. Kini aku tak lagi se-grogi kemarin, mungkin karena keadaannya sedang runyam, jadi yang kurasakan saat ini hanyalah kecemasan yang tiada tara.

Key mencari sesuatu di kantung celana jeans-nya namun sepertinya ia tak menemukan benda yang ia cari. “SHIT!!!” hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.

Sungguh, aku bingung harus berbuat apa. Ini pertama kalinya kulihat ia begitu kesal. Etteokhae?

“Key,” kataku membuka pembicaraan. Kuperhatikan ia masih mengusap-usap luka di sekitar bibirnya. “Sebenarnya ada permasalahan apa antara kau dengan namja itu?”

Key tak menatapku. Ia masih mengusap-usap lukanya sambil memperhatikan sekeliling ruangan ini. “Kenapa kau ada disini?” ucapnya tanpa mempedulikan pertanyaanku.

“Tadi malam… saat aku berusaha mencari pertolongan, namja itu berhasil menangkapku. Setelah itu aku tidak ingat apapun. Tiba-tiba saja aku ada disini bersamamu,” jelasku dengan nada sedikit tertahan.

“Kau tidak apa-apa kan?”

“Eh?”

aku tidak salah dengar ‘kan? Dia menanyakan keadaanku?

“Aku bilang ‘kau tidak apa-apa ‘kan?’” tanyanya untuk kedua kalinya.

“Oh, ne… aku baik-baik saja. Sepertinya kau harus segera mengobati lukamu. Cepat hubungi manager-mu untuk menjemputmu disini,”

“Percuma,” sergahnya cepat. “Sepertinya orang itu sudah mengambil handphone dan dompetku. Lagipula kalau manager hyung menjemputku disini, beritanya akan cepat tersebar dimana-mana,”

Ergh… aku lupa kalau kami ini adalah korban ‘penculikan’. Otomatis semua benda-benda penting—seperti dompet dan handphone—sudah disita oleh sang penculik. Aku juga lupa kalau namja yang sekarang berada satu kamar denganku adalah seorang artis. Semua gerak-geriknya pasti selalu diintai oleh papparazzi.

“Ikha-sshi,” ucap Key sambil mengarahkan pandangannya ke belakang punggungku. Segera kubalikkan tubuhku untuk mengetahui apa yang telah mengalihkan perhatian Key.

Belum sempat kuambil benda yang tertempel di cermin samping tempat tidur, Key segera mencopotnya kasar kemudian kembali duduk di posisinya semula. Kami sama-sama melihat selembar foto yang membuat mata kami membelalak.

“OMO!!” kataku sedikit berteriak. Kurebut foto itu kemudian kupandangi lagi lebih seksama. Kukerjapkan mataku berkali-kali, tapi tetap saja orang yang ada didalam foto tersebut tak berubah.

Ya, tuhan… ITU FOTOKU DAN KEY!!

Dan yang lebih membuatku bingung—antara sedih, kecewa, senang dan bahagia—di foto tersebut, Key sedang memelukku yang sedang tertidur. Untungnya kami berdua masih mengenakan pakaian kami masing-masing. Tapi tetap saja hal itu tidak mengurangi keterkejutanku.

“Tunggu,” Key mengambil foto tersebut dan membalikkannya. Ada sebuah tulisan dibalik foto tersebut.

 “Permainan baru saja dimulai, Key…

Dan juga, terima kasih, Ikha-sshi.

Kau mau menjadi korbanku…”

Sontak aku pun membulatkan mataku. Dan aku yakin, Key pasti mengira bahwa aku ada sangkut-pautnya dengan semua ini.

“Bagaimana bisa orang ini mengenalmu, Ikha-sshi?” Key menatapku penuh tanya. Aku segera mengingat-ingat kejadian tadi malam, sebelum aku tak sadarkan diri, sebelum aku berada di tempat ini….

“Aku tahu siapa namja ini…” kupejamkan mataku mencoba mengingat kembali kejadian tadi malam, memastikan bahwa aku tidak salah orang.

“Aku tahu siapa dia, Key…”

***

“Ya! Kau kemana saja, Ikha-ya? Kukira kau menghilang di telan naga,” cecar Yeo Ra setibanya aku di asrama kampusku.

Oh, aku lupa memberitahumu sesuatu. Aku tinggal di asrama kampus sekarang. Karena apa? Karena eomma dan adikku pindah ke Indonesia. Appa dipindahtugaskan kesana. Akhirnya kuputuskan untuk tetap di Korea. Alasan sebenarnya sih agar aku dapat dengan mudah menemui idolaku. Kalau aku di Indonesia, bagaimana bisa aku bertemu dengan Key? Artis Kpop ‘kan jarang bertandang ke Indonesia.

“Gomawo, Yeo Ra,” ucapku padanya setelah ia dengan ikhlas hati mau membawakan tasku yang tertinggal tadi malam di kelas Mr. Lee. Saat ku cek lagi, tak ada satu benda pun yang hilang. Syukurlah…

“It’s ok, babe,” balasnya. “Tapi saat Minji—salah satu mahasiswi di kelas Mr. lee—mengantarkan tas ini padaku, dia bilang kalau tas Key juga tertinggal. Malah dia menyangka kalau Key pergi denganmu. Apa benar?” cecarnya tiada henti.

“Anni…” jawabku sekenanya. Aku tak mungkin menceritakan kejadian tadi malam pada Yeo Ra. Sebelum aku pulang kemari, aku sempat bertemu manager SHINee di hotel. Dia bilang padaku untuk merahasiakan semua ini sampai semuanya beres. Jadi lebih baik aku tutup mulut saja.

Baru saja aku berniat untuk membersihkan tubuhku, suara ringtone cellphone-ku berdering dari dalam tasku. Segera kuraih lalu kutekan tombol berwarna hijau.

“Yeoboseyo?”

Cho Ikha?

“Ne. Nuguya?”

“Aku manager SHINee, Cho Jin,”

“Sebentar, ahjusshi,”

Eh? Manager SHINee? Bagaimana ia tahu nomor cellphone-ku? Egh, Lebih baik aku segera menjauh dari Yeo Ra. Takut-takut dia mendengar pembiacaraanku dengan si ahjusshi. Akhirnya kuputuskan untuk keluar dari kamarku dan memilih untuk bersandar di tiang sebelah kamarku.

“Oh, ne. Ada apa ahjusshi?”

“Bisa kita bertemu saat makan siang nanti di Cafe La Cha Ta?”

“Tentu,”

“Baik. Ruangannya agak sedikit private, jadi nanti sebutkan kata sandi sebelum masuk ruangan di cafe tersebut. Arasseo?”

“Ne, ahjusshi,”

Tak lama kemudian, Cho Jin Ahjusshi menutup teleponnya. Pasti dia ingin membicarakan kejadian tadi malam. Ergh, setiap kali mengingat kejadian itu, kepalaku tiba-tiba terserang pusing yang tak terkira.

Kim Jung Hwa…

Ya, aku harus segera ke kampus untuk mencari tahu siapa dirinya. Dialah satu-satunya kunci dari semua permasalahan ini…

***

“Permisi, apa kau kenal mahasiswa seni musik yang bernama Kim Jung Hwa?” tanyaku untuk ke sekian kalinya.

“Anni. Setahuku, tidak ada mahasiswa yang bernama Kim Jung Hwa disini,” dan itu merupakan jawaban yang sama setiap kali aku melontarkan pertanyaan tersebut pada semua orang.

“Baiklah. Mian mengganggumu,” kataku sambil berlalu. Aku sudah lelah mencari namja misterius itu.

“Tunggu, agasshi. Kalau kau ingin tahu lebih pasti, kenapa kau tidak mencoba bertanya pada bagian administrasi? Biasanya semua data mahasiswa ada disana,” terang seorang namja yang barusan kutanyai.

“Oh, ne… gamsahamnida,”

Kulihat namja itu pergi meninggalkanku sendirian. Tanpa banyak basa-basi, segera kulangkahkan kakiku menuju bagian administrasi. Untung jaraknya tak begitu jauh dari tempatku berdiri.

“Permisi,” sapaku pada seorang namja tua didepanku. Ia membetulkan kacamatanya sebelum memperhatikan kemunculanku.

“Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya mencari mahasiswa yang bernama Kim Jung Hwa, jurusan seni musik. Apakah mahasiswa tersebut sudah pindah jurusan? Karena saat saya mencoba mencarinya di kelas musik, orang-orang tak mengenalinya,” kataku panjang-lebar. Namja tua itu terlihat mengetik sesuatu pada keyboard-nya.

“Siapa namanya?” tanyanya ulang.

“Kim Jung Hwa,” kataku memastikan. Ia mengklik beberapa kali mouse portable-nya tersebut untuk mencari orang yang kumaksud.

“Agasshi. Tidak ada mahasiswa yang kau maksud di daftar kemahasiswaan. Mungkin anda salah menyebutkan nama?” ungkap namja tua itu.

“Tidak mungkin. Saya yakin sekali namanya Kim Jung Hwa. Coba tolong cek sekali lagi, Sunbaenim,” kataku sedikit memaksa. Namun namja tua itu tetap bersikeras kalau nama itu memang tidak ada di daftar. Karena tak mau berdebat, akhirnya kuputuskan untuk pergi dari tempat tersebut.

Ergh, sial!! Kim Jung Hwa…

Sebenarnya kau ini siapa?

***

Cafe La Cha Ta… tempat yang cukup mewah untuk ukuran orang biasa sepertiku. Saat aku akan masuk kedalam ruangan privasi bernomor 5 tersebut, ada beberapa sequrity yang menjaga pintu dan menyorongkan beberapa pertanyaan padaku—yang mereka anggap sebagai kata sandi. Setelah lolos menjawab pertanyaan mereka, aku dipersilahkan masuk kedalam ruangan yang besarnya sekitar dua kali lipat dari kamar asramaku.

Kudapati seseorang sedang duduk santai yang kukenali sebagai manager-nya SHINee. Namun ternyata ada orang lain disana. Dan percaya atau tidak, Key—dengan wajah yang masih berhias lebam—duduk tenang disamping Minjae ahjusshi.

“Annyeong hasseyo,” sapaku, membuat kedua pasang mata tersebut mengarahkan pandangannya padaku.

“Annyeong, Cho Agasshi,” balas Jin Ahjusshi kemudian mempersilahkanku duduk di sebuah kursi yang tepat berada di hadapannya.

“Aku akan bicara langsung pada point-nya saja karena saya masih banyak urusan,” terangnya sedikit tergesa-gesa. Aku hanya mengangguk pelan. Sesekali kupandangi si brondong idamanku yang telihat memejamkan matanya dan mendesah pelan.

“Sebelumnya apa kau sudah melakukan apa yang kusuruh?”

Lagi-lagi aku mengangguk mengiyakan pertanyaannya. Kemarin saat bertemu dengannya, kukatakan bahwa aku mengenal namja yang ‘menculik’ kami tadi malam. Dan ahjusshi menyuruhku untuk mencari tahu terlebih dahulu.

“Ne. Aku sudah mencari tahu keberadaannya. Tapi anehnya saat kutanyakan pada bagian administrasi kampus, nama Kim Jung Hwa tak ada didalam list mahasiswa Kyeonggi University,” terangku panjang-lebar.

“Siapa kau bilang? Kim Jung Hwa?” ulang Jin Ahjusshi.

“Ne. Apakah ahjusshi mengenalnya?”

“Anni,” jawabnya cepat. “Key, apa kau mengenalnya?” Jin ahjusshi berbalik menanyai Key, dan namja itu hanya menggeleng lemah.

“Bagaimana bisa kau mengenalnya?” tanyanya lagi.

“Mmm, aku tidak sengaja bertemu dengannya gara-gara aku menabrak tubuhnya dan membuat capuccino-nya tumpah ke kausnya. Aku sempat mengobrol dengannya sekali. Ia bilang kalau dia adalah mahasiswa jurusan seni musik dan ia sudah satu tahun menjalani kegiatan belajar dikampusku,”

“Lalu bagaimana bentuk wajah si tuan Kim itu?” lanjut si ahjusshi.

“Molla… dia selalu memakai masker. Yang kuingat itu…. matanya. Matanya mirip sekali dengan Key,” kulihat Key mendongakan kepalanya menatapku. Namun kualihkan pandanganku kembali pada Jin Ahjusshi dan kulanjutkan kembali kata-kataku. “Dan saat kubilang matanya mirip dengannya, ia terkesan sangat tidak menyukainya,”

Jin ahjusshi sepertinya sedang berfikir, kedua alisnya saling bertautan, membuatnya terlihat semakin tua. “Key bilang padaku kalau kemarin—saat ia dipukuli—namja itu mengatakan sesuatu padanya sebelum ia jadi babak belur seperti ini,”

“Eh? Mengatakan sesuatu?” kupicingkan telingaku agar aku tidak salah dengar.

“Ne. Dia bilang : ‘seharusnya kau mati’. Yaaaa, kurang lebih seperti itu. Mungkin jika kau tak datang, semuanya akan terlambat,” Jin ahjusshi meremas jari-jarinya berusaha mencari jawaban.

“Kenapa ahjusshi tidak lapor polisi atau menyewa detektif untuk mencari tahu?” saranku padanya.

“Kami bisa saja lapor polisi atau semacamnya tapi ada sesuatu hal yang membuatku mempertimbangkan hal tersebut,” Key kini yang angkat bicara. Ia mengubah posisi duduknya kemudian mengambil sesuatu didalam tas-nya.

Ia menyodorkan sebuah amplop putih padaku. Tanpa pikir panjang, segera kuraih dan kubuka isinya dan secarik kertas yang berisi deretan huruf yang tertata rapih itu kini terpampang didepan mataku.

“Onew hyung menemukan surat ini terselip dibawah pintu dorm,” terang Key sedikit bergumam. Kulihat Jin Ahjusshi memberi tanda pada Key untuk melanjutkan perbincangannya denganku. Cellphone-nya berdering, jadi namja separuh baya itu memutuskan untuk menjauh dan berbicara dengan si penelpon.

 “Keluarkan Key dari SHINee, atau aku akan menyebarkan foto ini”

Hanya kalimat pendek itu yang tertera diatas kertas putih tersebut. Tak lupa, dua buah foto terselip didalam amplopnya. Kuambil foto tersebut kemudian kuamati dengan seksama.

Aku tak begitu kaget melihat foto pertama—karena foto itu sama persis dengan foto yang kami temukan di kamar hotel. Namun alisku semakin mengerut saat melihat foto kedua.

“Igeumwoya?” kuacungkan foto tersebut dan menunjukkannya pada Key.

“Itulah yang ingin kutanyakan padamu,” Key mencondongkan tubuhnya padaku. Sekali lagi, kupandangi foto kedua, foto yang memperlihatkan Key yang sedang menggendong tubuhku ke arah pintu hotel. Kulempar foto tersebut keatas meja lalu kupijit keningku perlahan.

“Sial!!” gumamku pelan. “Aku benar-benar tak ingat apapun,” jelasku pada Key sambil terus memijit keningku—berusaha mengingat kembali kejadian tadi malam.

“Aku juga bingung, Ikha-sshi. Setahuku, aku tak pernah menyentuhmu, apalagi menggendongmu. Yang kuingat, ia memukul leherku sehingga aku tak sadarkan diri, dan saat aku terjaga, kau ada disampingku—di kamar hotel—kemarin,”

“Kecuali kalau dia menghipnotismu atau mencuci otakmu,” selaku. Membuat namja ini menyunggingkan senyumnya sesaat. “Apa kau punya musuh atau orang yang tak suka padamu?” sambungku.

Ia menggeleng lemah. “Anni. Aku tak pernah merasa punya musuh. Mungkin ada anti-fansku diluar sana, tapi sejauh ini mereka tak pernah melakukan hal-hal ekstrem padaku,” terangnya sambil mengusap lebam di pipinya. “Dan kalaupun ia hanya seorang pencopet—karena Blackberry dan dompetku raib—ia tak mungkin mengatakan bahwa ia ingin agar aku mati hanya karena masalah uang,”

“Tunggu,” kuraih foto yang tadi kulempar keatas meja. Kemudian kuarahkan mataku pada Key dan foto tersebut beberapa kali. “Ada yang aneh,” ucapku. Kucondongkan tubuhku lalu kuletakkan foto tersebut di atas meja agar Key juga melihatnya.

Kutunjuk foto Key yang sedang menggendongku. “Lihat, wajahmu bersih sekali. Tanpa noda sedikitpun,”

Key memperhatikan foto itu dengan seksama. “Cahayanya kurang begitu bagus, Ikha-sshi. Jika pencahayaan yang redup seperti ini, lebam atau luka di wajahpun tak akan terlihat jelas,” jelasnya kemudian menyenderkan kepalanya lagi. “Lagipula permalasahan sebenarnya adalah ‘bagaimana bisa aku melakukan hal tersebut tanpa kusadari’?” Key menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.

Oh, benar juga… Hhhh, aku tak begitu mengerti dengan pencahayaan saat memotret.

Kusenderkan kepalaku ke senderan kursi kemudian kupejamkan mataku dan berfikir keras. Banyak sekali hal-hal yang sulit dipecahkan. Dan ternyata namja yang bernama Kim Jung Hwa ini lebih pintar dari kami. Ia bermain dengan sangat-sangat rapih.

“Kenapa kemarin malam—saat kelas Mr. Lee berlangsung—kau pergi?” tanyaku tiba-tiba.

“Karena seseorang mengirimku sms. Dia mengaku sebagai Taemin. Dia bilang kalau dia menggunakan nomor lain untuk mengirim sms padaku karena dia tak punya pulsa. Orang yang mengaku Taemin itu bilang kalau dia tak sengaja lewat kampusku dan ia memutuskan untuk pulang bersamaku,”

“Lalu kenapa dengan mudahnya kau mempercayainya?” cecarku lagi.

“Karena aku tahu Taemin sedang ada shooting tak jauh dari kampus kita. Jadi kufikir itu memang dia. Dan saat kuputuskan untuk menemuinya, tiba-tiba kutemui namja yang menyerangku,”

Kutegakkan tubuhku lalu kutatap mata Key yang sedang mengarahkan matanya padaku dengan serius. Aku hanya mendengus pelan dan mengeluarkan senyum kecutku.

“Hah, sepertinya si Kim Jung Hwa ini sudah merencanakan ‘penyerangan’ ini. Buktinya? Ia bermain dengan sangat baik dan tertata rapih. Dan kalaupun orang ini orang waras, dia pasti akan memilih untuk meminta uang cash untuk membayar foto ini. Bukannya menyuruhmu untuk keluar dari SHINee,”

Key mengacak rambutnya pelan. Ia mengalihkan pandangannya ke jendela. “Selama tiga tahun aku berkarier di dunia musik, baru kali ini aku mengalami masalah yang bisa dibilang cukup rumit,” desahnya pelan.

“Lalu apa yang akan kau lakukan? Maksudku, bagaimana keputusan Jin ahjusshi dan pihak SM dalam menanggapi surat ini?” tanyaku cepat.

“Entahlah. Manager hyung tidak mungkin dengan mudahnya melepasku dari SHINee. Namun jika foto ini tersebar, mungkin akan berpengaruh besar pada karierku juga,”

Tak lama setelah Key menyelesaikan kalimatnya, Minjae ahjusshi kembali setelah perbincangan pribadinya dengan si penelpon. Ia terlihat cemas dan terburu-buru. “Kita harus segera kembali ke SM,” ucap ahjusshi kemudian mengambil tasnya.

“Bagaimana dengan pembicaraan ini?” sergah Key, masih belum beranjak dari tempat duduknya.

“Ini lebih penting, Key. Soo Man Sunbaenim menelfonku,” sejurus kemudian Jin ahjusshi menatap Key lurus. Seperti mengetahui maksud dari pancaran mata manager-nya, Key segera berdiri dan berjalan mendekati namja itu.

“Mian, Ikha-sshi. Lain kali kita akan membicarakan ini. Semoga saja ini hanya ulah iseng dari orang aneh. Kau bisa pulang dan melanjutkan aktivitasmu. Annyeong,” ucap Jin ahjusshi sambil berlalu.

Key menghentikan langkahnya sebentar dan mendekatiku lalu dipegangnya pundak kiriku dengan lembut. “Aku akan menghubungimu jika ada perkembangan lebih lanjut. Nomormu sudah ku-save,” ucapnya lirih. Kemudian ia sedikit berlari menyusul langkah  Jin ahjusshi yang sangat lebar dan cepat itu. Tak lupa, masker dan hoodie menutupi wajah Key, berusaha agar orang-orang tak mengetahui keberadaanya…

Dibalik semua kecemasanku karena si Tuan Kim ini, kuusap lembut pundak yang barusan disentuh oleh Key. Setelah itu, kuhirup telapak tanganku pelan.

“Hmm, omona~ sentuhannya menyejukan jiwaku,” ucapku lirih.

***

Sudah 1 minggu ini aku tak melihat Key di kampus. Aku pun tak menjumpainya di beberapa kelas yang sama denganku. Dan saat kuperhatikan, ia juga tak muncul di beberapa acara televisi yang kuyakini bahwa ia akan muncul. Bagaimana aku bisa tahu semua itu? Jelas saja aku tahu, AKU INI PENGGEMAR BERATNYA!!!

Yang kutakutkan saat ini adalah bukan tugas Hyeo Seonsaengnim yang tidak kukerjakan. Tapi yang kutakutkan adalah keadaan namja idolaku itu. Karena sepertinya Tuan Kim itu—sebutan untuk Kim Jung Hwa—tidak main-main dengan pernyataannya kemarin.

“Ya! Kau kenapa? Sakit?” suara Yeo Ra berhasil mengembalikan kesadaranku. Aku hanya menggeleng lemah dan kembali menopang keningku.

“Eomonim belum mengirimmu uang?” tanyanya lagi, dan aku hanya bisa menggeleng menanggapinya.

“Lalu apa? Kau terlihat sangat tak biasa akhir-akhir ini,” ucap Yeo Ra. Sesekali ia menempelkan telunjuknya pada pipiku, tapi aku tak bergeming sedikitpun.

“Aaah, aku tahu. Pasti karena Key tidak masuk kuliah beberapa hari ini. Iya, ‘kan?” godanya padaku. Ergh, sungguh! Aku sedang tak ingin mendengar ocehan chingu-ku ini sekarang. Kepalaku cukup penat karena masalah kemarin yang menimpaku. Dan saat aku mencoba untuk menenangkan diri, Yeo Ra malah menyebut nama Key yang berhasil membuat cenut-cenut di kepalaku kembali datang.

Aku tetap memejamkan mataku sambil menopang kepalaku tanpa mempedulikan Yeo Ra. aku ingin mengistirahatkan otakku yang ruwet ini. Dan, yah, sepertinya dia mulai jengah menghadapiku, telingaku kini tak lagi mendengar suara yeoja yang sedang duduk disampingku itu. Yang kudengar hanya suara samar-samar dari Hyeo Seonsaengnim.

“OMO!!!” teriakan Yeo Ra seketika menyentak jantungku, membuatku langsung terjaga dari tempatku. Mata semua orang langsung tertuju pada yeoja di sampingku, termasuk Hyeo Seonsaengnim.

“Ada apa Seong Yeo Ra?” tanya Seonsaengnim sembari membetulkan letak kacamatanya.

“A-a-anni, seonsaengnim. Tiba-tiba ada kecoa yang lewat di dekat kakiku,” jelasnya sedikit ketakutan.

Seisi kelas langsung riuh karena mendengar keterangan Yeo Ra. Hyeo seonsaengnim hanya menggeleng pelan lalu kembali melanjutkan materi kuliahnya. Dan akupun kembali pada aktivitasku sebelumnya—memejamkan mata dan berusaha untuk tidur sejenak.

“Ya!!” Yeo Ra menarik lengan bajuku pelan, membuatku kembali membuka kelopak mataku.

“Wae?” tanyaku sedikit berbisik, tak ingin Hyeo seonsaengnim menegurku gara-gara mengobrol saat kuliah berlangsung.

“Kau harus lihat ini,” ia menunjukkan sesuatu dari layar I-Phone-nya padaku. Tapi aku tak begitu tertarik.

“Jangan katakan padaku kalau kau tadi berteriak gara-gara membaca berita tentang Jonghyun,” kataku memelas.

“Anni. Pokoknya kau harus lihat ini. Ppalli,” ia kembali menarik lengan kausku dan memaksaku untuk melihat ke layar I-Phone-nya. Akhirnya aku mengalah juga, dengan malas, kuraih handphone-nya itu dan memperhatikan sebuah website yang biasa ia kunjungi untuk mengetahui berita terbaru SHINee.

“OMO!!!!” kini giliranku yang berteriak kencang gara-gara melihat layar handphone tersebut.

“Ada apa lagi Cho Ikha? Kenapa kalian berdua itu selalu membuat keributan di kelasku?” suara Hyeo Seonsaengnim yang terdengar serak-serak basah itu menggema di seluruh ruangan.

“A-a-a-nni, seonsaengnim. Kecoa yang tadi lewat ke kaki Yeo Ra…. sekarang dia lewat ke dekat kakiku,” terangku sekenanya. Kelas kembali riuh karena pernyataanku. Dan kesempatan itu segera kupakai untuk mencermati lagi halaman depan website tersebut.

“Itu kau, ‘kan?” tanya Yeo Ra memastikan.

Kuarahkan telapak tanganku tepat didepan wajah Yeo Ra, menyuruhnya untuk diam…

Sekali lagi kuperhatikan lebih seksama berita tersebut. Kukibaskan poniku ke belakang lalu kugenggam I-Phone Yeo Ra erat-erat.

“Damn,”

…bersambung…

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

14 thoughts on “WHO ARE YOU (Chapter 03)”

  1. Tuh kan tuh, ini semakin meyakinkan kalo Kim Jung Hwa itu sodara kembarnya Key *halah*
    Makin semangat nih bacanya. Sayang sih, mata udh merem melek.
    Lanjutin besok lah onn 😀

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s