WHO ARE YOU (Chapter 06)

Kali ini aku tidak akan menyusahkanmu, Nona Cho. Tugas ini lebih mudah dari yang sebelumnya…

Aku hanya ingin kau melempar sebutir telur ini tepat mengenai Key. Ingat, jangan sampai meleset!

Hmmm, aku ingin sedikit bersenang-senang. Aku butuh hiburan. Kepalaku sedikit pusing memikirkan rencana-rencanaku selanjutnya…

—KJH

It's Too Late (1)

Key membersihkan telur yang menghiasi wajah dan rambut bagian depannya di ruangan khusus SHINee. Kini yang terngiang-ngiang di benaknya adalah kenapa Ikha melakukan hal itu padanya? Ini sudah kedua kalinya yeoja itu melakukan hal diluar dugaannya.

“Tak kusangka yeoja itu melemparkan telur padamu,” Sunny SNSD masuk kedalam ruangan tersebut sambil membawa handuk kecil untuk diserahkan kepada Key. Key lebih memilih untuk diam. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri. Yup, sekarang ruangan SHINee dipenuhi oleh banyak artis lain seperti SNSD, F(x), KARA, dan 2AM. Pasca pelemparan telur itu, Key menjadi sorotan semua artis yang datang untuk mengisi acara di event tersebut.

“Kurasa dia akan mendapatkan jutaan anti-fans,” sahut Onew yang tengah duduk disamping Key.

“Dia itu Cho Ikha yang kau ceritakan itu ya, hyung?” tanya Minho pada Onew dan disambut dengan sebuah anggukan kecil darinya.

“Gwenchana?” tiba-tiba Choi Jin datang dari balik pintu. Key hanya berdeham mengiyakan pertanyaan manager-nya.

“Aku akan pergi menemui Ikha. Kalian tetap disini sampai keadaan kembali tenang,” Choi Jin kemudian beranjak pergi dari ruangan tersebut.

“Siapa itu ‘Ikha’?” tanya Krystal F(x). Lagi-lagi Key tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya. Mengetahui sikap Key yang diam seribu bahasa, member SHINee yang lain memberikan sinyal pada semua orang yang datang untuk diam dan tak menanyakan sesuatu pada Key.

Setelah yakin wajahnya telah bersih dari telur, Key beranjak dari tempat duduknya dan pergi dari ruangan tersebut.

“Yaa, kau mau kemana?” Jonghyun mengikuti Key dari belakang.

“Menemui Ikha,” jawab Key datar.

“Aku ikut,” Jonghyun menyetarakan langkahnya agar bisa menyusul dongsaengnya itu.

@@@

Ikha’ Side

Aku duduk termenung di sebuah bangku yang ada didalam ruangan sequrity sekarang. Setelah ‘penyerangan’ Shawol di stadium padaku, beberapa sequrity mengamankanku agar aku tidak terluka lebih jauh karena amukan massa tersebut.

Melihat kondisiku sekarang, sequrity menyuruhku menelfon orang terdekatku untuk menjemputku. Dan kuputuskan untuk menelfon Yeora dua puluh menit yang lalu. Jarak antara Seoul dan Busan cukup jauh, jadi akan kutunggu chingu-ku ini sambil menikmati ‘sakit’-ku.

Kutatap sesuatu dihadapanku dengan pandangan yang sangat kosong. Kejadian tadi masih membekas di benakku. Sungguh, tak ada sekalipun niatku untuk melakukan itu. Aku lebih memilih terjun ke jurang daripada harus melakukannya. Tapi disini yang menjadi taruhannya adalah nyawa Yeora dan Key. Jadi aku tak bisa macam-macam.

“YA!!” kudengar seseorang berteriak seiring pintu ruangan ini terbuka. Dengan sangat perlahan, kualihkan pandanganku ke arah suara tersebut. Aku hanya mendengus pelan saat mengetahui sosok Choi Jin Ahjusshi yang muncul. Sudah kuduga, dia pasti akan segera bertindak.

“CHO IKHA!!” kudengar langkah kakinya mendekatiku. Kusandarkan kepalaku pada dinding di belakangku sambil memejamkan mata. Aku bisa merasakan kehadiran ahjusshi di hadapanku, tapi aku tak mendengar ia mengomentariku macam-macam. Cukup lama ia terdiam di tempatnya. Mungkin ia sedang mengamati kondisi tubuhku yang cukup parah ini. Kusunggingkan senyumku padanya tanpa membuka kedua mataku.

Kudengar dari telinga kecilku, ia mendengus pelan. Aku masih tak ingin membuka mataku, rasanya terlalu lelah….

“Tsk, tadinya aku ingin memakimu karena perbuatanmu barusan. Tapi setelah melihat keadaanmu sekarang, lebih baik kita selesaikan urusan kita nanti,” ucapnya, dengan nada yang tak lagi meninggi.

Kubuka mataku perlahan lalu kutatap dirinya dari sela kelopak mataku yang tak terbuka sempurna. “Maki saja aku, Ahjusshi. Aku akan menerimanya dengan senang hati,” kataku sambil menyunggingkan senyumku padanya. Lagi-lagi ia mendengus dan memutar bola matanya.

“Aku tak tahu apa yang ada didalam otakmu itu, Ikha-sshi. Tapi jika k—“

“YA!!” suara seseorang dari arah pintu berhasil menghentikan kalimat Choi Jin Ahjusshi. Kami langsung mengarahkan pandangan ke arah pintu bersamaan.

“Stay away from her!” kulihat Yeora mendorong tubuh Choi Jin Ahjusshi menjauhiku. Setelah itu ia langsung menghampiriku. Dari ekspresi wajahnya, aku bisa tahu kalau ia terheran-heran dengan kondisiku sekarang.

“Omona~ Ikha-ya. Ada apa denganmu? Kenapa…. kenapa kau…” Yeo Ra tak melanjutkan kata-katanya. Ia sekarang sibuk menelusuri setiap luka di kedua lenganku. Ya, gara-gara para Shawol yang tak henti-hentinya menjambak rambutku dan menarik lengan dan bajuku dengan kasar, walhasil kulitku yang tadi melepuh kini mengelupas sehingga lapisan sel dibawah kulitku terlihat. Malah ada beberapa bagian yang mengeluarkan darah.

Yeo Ra menatapi lukaku sambil menutup mulutnya. Kulihat ia menyipitkan matanya seolah ingin muntah melihat lukaku. Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi aku tak punya cukup tenaga untuk bicara.

“Lihat! Demi anak didikmu itu, temanku rela melakukan hal ini!” Yeora membalikkan tubuhnya dan berdiri menghadap ahjusshi, seolah menantangnya.

“Apa yang kau bicarakan? Justru yeoja ini yang telah menghancurkan kehidupan Key!” ucap Choi Jin Ahjusshi tak mau kalah.

“Just shut your mouth up, ahjusshi! Kau tak tahu apa-apa, jadi jangan asal bicara! Sekarang enyah dari hadapanku sekarang juga!!” Yeora mendorong tubuh namja tua itu sampai ke ambang pintu, kemudian ia menutupnya rapat.

Kupejamkan mataku lagi dan kuatur nafasku sebisa mungkin. Sekarang, rasa pusing dan mual menyerangku tiba-tiba. Aku tak bisa melakukan apapun. Dan luka di kedua tanganku membuatku harus menggigit bibir bawahku untuk menahan sakitnya.

“Ikha-ya,” suara lembut Yeora membuatku terjaga. Segera kuangkat kepalaku lalu menatapnya. Entah kenapa, saat kutatap mata Yeora, kurasakan perih yang tak tertahan di dadaku. Mataku memerah, aku bisa merasakannya. Dan tak lama kemudian, air mataku pun jatuh.

Yeora langsung memelukku erat. Ia mengusap punggungku dengan perlahan—mencoba menenangkan tangisku yang semakin menjadi-jadi. “Ikha-ya, aku mohon jangan menangis…”

Aku tak bisa menahan lagi sakit didadaku ini. Dan bukannya tenang, isakku malah semakin menjadi saat Yeora mencoba menenangkanku. “Uljima, Ikha-ya,” bisiknya di telingaku. Aku bisa merasakan suara Yeora yang sedikit tercekat. Dia pasti ikut menangis di balik rambutku yang berantakan ini….

@@@

KEY’ Side

Kurasa ada sesuatu yang janggal dan aneh disini. Karena tepat setelah Ikha mengirimkan pesan singkatnya padaku beberapa hari yang lalu, ia terlibat dalam beberapa kejadian yang menimpaku. Jonghyun hyung terus saja berbicara selama perjalanan menuju ruang sequrity, tapi tak kugubris sedikitpun perkataannya. Otakku masih sibuk mencari-cari jawaban yang pasti terkait misteri dibalik peristiwa ini.

“Chamkanman,” Jonghyun hyung menghentikan langkahku dengan menaruh lengannya di dadaku. Segera kudongakan kepalaku dan kuarahkan pandanganku ke arah yang Jonghyun hyung tuju. Hyung-ku sedikit mendorongku agak menjauh, mungkin ia tak ingin manager hyung mengetahui keberadaan kami.

Dari balik kaca tersebut, aku bisa melihat manager hyung sedang bicara dengan Yeora—aku mengenalnya karena ia salah satu teman sekelasku sekaligus teman baik Ikha. Setelah Yeora mendorong manager hyung keluar dari ruangan tersebut, perhatianku langsung tertuju pada Ikha yang sedang terduduk lemah di bangku.

Tunggu, apa itu? Tangannya penuh dengan darah? Dan wajahnya… wajahnya sangat pucat. Ada apa ini? Apa yang membuatnya jadi begitu?

Saat pertanyaan-pertanyaan itu masih berkeliaran di otakku, kulihat Yeora memeluk Ikha. Ia menangis…. kulihat ia menangis dipelukan temannya itu….

“Key, bukankah hoodie yang dipakai Ikha itu hoodie yang sama dengan yeoja yang menerobos masuk ke ruangan kita?” tanya hyung-ku dengan suara yang sangat pelan. Kuperhatikan hoodie yang dipakai Ikha, dan yah, memang sama persis dengan yeoja yang mendorongku tiba-tiba saat aku hendak mengambil minumanku.

“Kkaja,” Jonghyun hyung menarik tubuhku, mengajakku masuk menuju ruangan tersebut.

“Hyung, kau lihat yeoja yang memeluk Ikha?” kataku di sela-sela langkah kami. Ia hanya berdeham tanda mengiyakan.

“Dia itu salah satu fansmu. Yang memberikan kalung dari Bali itu tempo hari. Jadi sementara aku bicara dengan Ikha, tolong tahan dia sebentar saja. Aku yakin, dia tidak akan berkutik didepanmu,” jelasku to-the-point.

“Tenang saja, itu bisa diatur,” jawabnya singkat. Ia kemudian membuka pintu ruangan tersebut secara perlahan. Saat kami mulai melangkah masuk, Yeora seketika itu juga melepas pelukannya dan menatap ke arah kami. Matanya sembab dan berair…

“What the hell you doin’ here?” Yeora berdiri dan menatap tajam ke arahku setelah ia mengusap airmatanya. Aku bisa melihat Ikha dibalik punggungnya yang sedang berusaha menyenderkan tubuhnya ke dinding di belakangnya.

Segera kulirik Jonghyun hyung agar ia melakukan tugasnya. Seolah mengetahui maksudku, ia menarik lengan Yeora sedikit menjauhi Ikha. Kudengar ia mengoceh dan mendesis karena diperlakukan seperti itu oleh hyungku, namun tak lama kemudian, hyung sepertinya berhasil membuatnya diam.

Kulangkahkan kakiku perlahan mendekati Ikha dan memilih untuk duduk disampingnya. Ia memejamkan matanya dan tubuhnya terlihat sangat lemah. Aku bisa mendengar deru nafasnya yang terasa berat. Ditambah lagi luka-luka di kedua tangannya—mulai dari lengan atas sampai ujung jarinya—yang membuatku sedikit bergidik melihatnya… Ya, tuhan….

“Ikha-sshi,” sapaku sedikit berbisik. Ia membuka matanya sedikit dan melirik ke arahku.

“Per…gi….” ucapnya lemah.

“Anni. Aku tidak akan pergi sebelum kau menjelaskan semuanya,” sergahku cepat.

Tepat setelah kuselesaikan kalimatku, kulihat butiran air mata mulai jatuh dari sudut matanya. Bibirnya sedikit bergetar, dan tangan kanannya yang terbalut perban kini memegangi dada sebelah kirinya.

“Aku mohon, Ikha-sshi. Aku tahu ada sesuatu yang tak kau katakan padaku. Bukankah kau bilang kalau kau tidak suka berbohong? Jadi jangan membohongiku, Ikha-sshi. Ini ulah si Tuan Kim, ‘kan? Apa yang ia lakukan padamu?” cecarku tiada henti.

Bukannya menjawab pertanyaanku, bola matanya kini malah berputar-putar dan mengamati sekelilingku seolah sedang mencari atau memastikan sesuatu. Ia tak mengatakan apapun dan memilih untuk diam. Aku tahu jika ia sedang menahan tangisnya karena sekarang ia mulai meremas hoodie-nya sekuat tenaga. Jari-jariku yang bebas ini kuarahkan ke wajahnya agak ragu dengan maksud untuk mengusap airmatanya. Baru saja kuusap pipinya pelan, ia segera menjauhkan wajahnya dariku.

“Jangan… sentuh… aku….” ucapnya terbata-bata tanpa sekalipun mencoba untuk menatap mataku.

“Tapi kenapa? Kenapa, Ikha-sshi? Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi!” kataku sedikit menaikkan nada suaraku. Kupegang kedua pundaknya dan ia langsung meringis sejadinya.

“YAA!” kuputar tubuhku saat suara sergahan Yeora melengking di ruangan ini. Yeoja itu segera menghampiriku setelah mendorong tubuh Jonghyun hyung yang menghalanginya. Ia menjauhkan tanganku dari Ikha lalu mendorong tubuhku kasar. “JANGAN MENYENTUHNYA, KIM KI BUM!!”

Yeora terlihat menjentikkan jarinya dan tak lama kemudian, dua orang bertubuh cukup besar datang dari luar. “Bawa Ikha kedalam mobil. Hati-hati dengan lukanya, jangan sampai tersentuh apapun,” perintahnya pada kedua orang tersebut. Yeora mengikuti langkah kedua orang yang membawa tubuh Ikha dari belakang tanpa sedikitpun memperhatikan keberadaanku.

“Tunggu,” kataku sambil menahan pergelangan tangannya. “Yeora-sshi. Apa yang sebenarnya terjadi?”

Kurasakan yeoja ini menepis tanganku kasar lalu mendelik ke arahku. “Jika kau ingin Ikha selamat, pergilah jauh-jauh dari dunia ini,” ia sedikit menurunkan nada suaranya, tapi tak sedikitpun mengurangi ekspresi kemarahan dari wajahnya.

Kukerutkan alisku seketika itu juga. “Apa maksudmu?”

Yeora mendekat satu langkah ke arahku lalu telunjuknya menusuk-nusuk dadaku. “KAU YANG MEMBUATNYA JADI BEGINI. DEMI KAU, IA RELA MELAKUKAN HAL INI. KALAU BUKAN KARENA KI—“ yeoja ini menghentikan kalimatnya dengan cepat. Ia terlihat mengamati sekelilingku—hal yang sama yang dilakukan Ikha tadi—kemudian menatap dingin ke arahku.

“ERGH!! PERSETAN DENGANMU, KIM KI BUM!!!” teriaknya tepat di depanku sambil meremas rambutnya sendiri. Sedetik kemudian ia pergi meninggalkanku yang masih dipenuhi pertanyaan besar yang belum terjawab.

@@@

“Sudahlah, Key. Semua akan baik-baik saja,” Jonghyun hyung menepuk pundakku pelan. Sedangkan aku? Aku terus memijit keningku dari tadi, berusaha menghilangkan penat di kepalaku.

“Kita kembali ke Seoul,” suara manager hyung membuyarkan lamunanku. Tanpa banyak tingkah, akupun langsung berdiri dan beranjak pergi dari ruang bernomor ‘5’ ini. Tak lupa kubawa tas dan jaket pink-ku sebelum keluar.

“Mana Minho dan Onew hyung?” tanya Jonghyun hyung setelah tahu bahwa kedua makhluk itu tak ada di ruangan ini.

“Nanti mereka menyusul,” ucap manager hyung.

Setelah menghabiskan waktu lima menit menuju tempat parkir, akhirnya aku-Jonghyun hyung-Taemin-manager hyung sampai juga didalam mobil. Manager hyung sempat menanyakan keadaanku lagi, dan aku hanya tersenyum simpul menjawab pertanyaannya.

“Choi Jin Hyung, mian, kami terlambat,” kudengar suara Onew Hyung membukakan pintu dan bergegas masuk ke dalam mobil.

“Apa yang membuatmu tertahan selama ini?” tanya Choi Jin Hyung yang sekarang duduk di tempat pengemudi.

“Itu… tadi pelayan yang membawakan minuman ke ruangan kita, telapak tangannya melepuh saat mengepel lantai yang penuh dengan minuman kita tumpah gara-gara ada yeoja yang tiba-tiba mendorong tubuh kita,” cecar Minho.

Eh? Tunggu? Melepuh?

Kalau tidak salah, tadi tangan Ikha penuh dengan luka yang memenuhi kulitnya. Aku dan Jonghyun hyung tahu kalau yeoja yang mendorong kami adalah Ikha. Apa benar…….?

Segera kuarahkan pandanganku pada Jonghyun hyung yang duduk tepat disampingku. Ia balas menatapku dan kamipun bertukar-pandang.

“Apa mungkin Ikha yang menaruh sesuatu ke minuman kita?” bisik Jonghyun hyung tepat di telingaku.

Kuletakkan jemari di daguku sambil berfikir keras. “Anniya… tidak mungkin…” ucapku lirih.

@@@

IKHA’ Side

“Ayolah, Yeo. Aku bosan di kamar terus,” rengekku tiada henti pada Yeora.

“Anni. Dokter bilang, kau tidak boleh terkena sinar matahari langsung sampai lukamu sembuh. Dan lagi, Nami—adikmu—menyuruhku untuk menjagamu sampai kau pulih. Jadi kau harus mendengarkan semua kata-kataku, Cho Ikha. Arasseo?” omelnya tanpa jeda.

Yeah, kuakui, Yeora memang setia menemaniku selama empat hari ini. Merawatku, menjagaku, tanpa meninggalkanku sedetik saja. Dan kalaupun ia meninggalkanku, bodyguard-nya pasti berdiri didepan pintu kamar asramaku.

Pasca ‘pelemparan telur’ empat hari yang lalu, namaku kini menjadi sasaran amukan Shawol di seluruh dunia. Semua fansite SHINee memasang wajahku besar-besar dan tertulis kata ‘WANTED’ ditengahnya. Dan benar saja, asramaku selalu kedatangan banyak ‘tamu’ yang mengunjungiku, meskipun mereka hanya sekedar menempel poster dengan tulisan cacian dan makian yang ditujukan untukku. Bahkan ada beberapa wartawan yang datang ingin mengambil fotoku. Hah!

Belum lagi, Nami menelfonku empat kali dalam sehari—melalui handphone Yeora, karena handphone-ku sengaja ku-nonactive-kan—hanya untuk menanyai kabarku. Ia tahu mengenai kabar ini karena dia juga Shawol. Untung appa dan eomma tidak tahu. Kalau mereka tahu anak pertamanya ini mengalami masalah di Korea, aku pasti segera diberangkatkan ke Indonesia.

“Buka mulutmu,” Yeora mengayunkan sesendok penuh nasi padaku.

“Yaaa, aku bisa makan  sendiri. Lukaku sudah sembuh,” kataku berusaha merebut sendok itu darinya.

“Anni.. lihat, kedua tanganmu itu dibungkus perban. Mana mungkin aku membiarkanmu makan sendiri. Cepat buka mulutmu,” paksanya tiada henti.

Kuperhatikan kedua tanganku yang terbalut perban. Hhhh, memang benar, aku terlihat seperti mummy hidup sekarang. “Aku sudah bisa menggerakkan tanganku, Yeora Agasshi. Jadi aku tidak perlu disuapi olehmu,” kataku tak mau kalah.

Kulihat ia sedikit menghela nafas dan memiringkan bibirnya. Saat ia hendak menyuapiku, handphone-nya berdering, menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Ia terlihat mengerutkan alisnya sebentar, meletakkan sendok ke atas mangkuk kemudian mendesah pelan.

“Wae? Wae? Wae?” tanyaku penasaran.

“Aku keluar sebentar. Setelah aku kembali, mangkukmu sudah harus kosong. Arannia?” ucapnya dan langsung keluar dari kamarku dengan sedikit tergesa-gesa.

Sementara menunggu Yeora, kuputuskan untuk mengaktifkan kembali handphone SK-ku. Tapi… setiap kali kupegang benda ini, memoriku langsung memutar kembali kejadian empat hari yang lalu. Aku ingat ketika Jung Hwa menyuruhku melemparkan telur ke arah Key; ketika tanganku terluka parah; ketika Shawol berhati ‘mulia’ itu menyerangku; ketika aku menangis di pundak Yeora; ketika Key duduk disampingku—meminta kejelasan. Semuanya masih terasa sangat jelas di mataku.

“Damn!!” suara Yeora dari balik pintu membuyarkan lamunanku. Kuputar kepalaku untuk melihat chingu-ku yang membuka pintu dengan agak kasar. Ia memegang lengan atasnya sambil meringis.

“Cepat sekali kau datang?” kuperhatikan dirinya yang tak mengindahkan pertanyaanku. Saat ia menjauhkan telapak tangan dari lengannya, ada sebuah goretan yang cukup panjang dan membuat darah segar keluar dari goretan tersebut. Yeora hanya mengerutkan alisnya menahan perih.

“Ada apa?” tanyaku lagi. Kuambil kotak P3K yang biasa Yeora pakai untuk mengganti perban di kedua lenganku di samping tempat tidur lalu mengobati lukanya menggunakan jari-jariku yang tak terbungkus perban.

“Tadi aku ke depan asrama, Pak Lee mengirimku pesan kalau eomma menitipkan sesuatu untukku. Tapi saat aku menyebrang jalan, beberapa Shawol menyerbu ke arahku dan menginterogasiku. Dan entah kenapa, tiba-tiba kurasakan tanganku perih. Dan jadilah seperti ini,” terangnya panjang-lebar.

Kuobati luka goretan sepanjang enam centimeter tersebut dengan mengolesi alkohol diatasnya. Yeora sempat menjambak rambutku karena aku sedikit menekan lukanya. Aku hanya terkekeh pelan melihat tingkahnya.

Tak lama setelah itu, kudengar suara handphone-ku berdering. Kuhentikan kegiatanku sebentar dan mengalihkan perhatianku pada benda tersebut. Eh? Nomor tak dikenal?

“Yeoboseyo?” tanyaku pada orang diseberang sana.

“Annyeong, Nona Cho. Sudah pulih dari sakitmu?”

Eh? Tunggu.. suara ini…

Kuberanjak dari tempatku dan sedikit menjauh dari Yeora. Kulihat ia mengobati lukanya sendiri sementara aku mengangkat telefon.

“Kukira kau sudah bosan bermain-main denganku. Ternyata kau masih merindukanku sampai-sampai kau menelfonku tepat setelah handphone-ku aktif kembali,” ucapku tiada henti dengan nada serendah mungkin. Aku tidak ingin membuat Yeora berteriak gara-gara si phsyco ini menelfonku.

Kudengar ia tertawa pelan di seberang telefon, membuatku ingin muntah mendengarnya.

“Aku sangat suka denganmu karena kau sudah berani menentangku, Nona Cho. Oh, aku lupa memberi-tahumu. Bilang pada Nona Seong untuk lebih berhati-hati. Tadi aku tak sengaja menemuinya di depan asramamu dan oopss, pisau belatiku tak sengaja menyentuh lengannya,”

“KAU—“ kuhentikan kalimatku sebentar untuk mengontrol emosiku. Kuhembuskan nafasku sekali dengan tujuan agar emosiku kembali stabil. Kupelankan kembali suaraku lalu berjalan menuju jendela kamar—memperhatikan sekeliling asramaku—dan menyingkap gorden tipis yang menutupinya. “Aku sudah menuruti semua kata-katamu, freak! Jadi jangan sentuh Yeora atau Key dengan tangan kotormu itu!”

“Anni. Aku hanya mengingatkanmu kalau aku ini sangat serius dengan perkataanku, Nona Cho. Jika kau tak mendengarkanku, mungkin bukan lengan Nona Seong saja yang kulukai, tapi bisa saja kukoyak isi perutnya. Mmm, atau aku bisa membuat Key mengerang kesakitan karena kupotong sebelah kakinya, hahaha,”

Kuremas gorden tipis berwarna putih yang menutupi jendela dengan sangat kencang. Kurasakan uratku pun ikut menegang mendengar kalimat Jung Hwa. “Sebenarnya apa maumu, huh?”

“Ayolah, kau tahu apa mauku. Oh, ya, jangan terlalu lama berdiri di dekat jendela Nona Cho. Bisa-bisa ada seseorang yang menembakmu dari luar,”

“Kau,, kau membuatku muak, Kim Jung Hwa. Aku t—tut tut tut,“ kujauhkan handphone dari telingaku lalu memperhatikan layarnya. Sial!! Ia memutuskan sambungan telefonnya!

Aku segera mengamati keadaan di luar jendela, mencari-cari sesosok namja yang memakai masker di wajahnya. Tapi usahaku sia-sia. Terlalu banyak orang berlalu-lalang di luar sana. Setelah yakin tak menemukan namja phsyco itu, segera kubalikkan tubuhku mendekati Yeora yang masih asyik menggeluti lukanya.

“Ya! Lain kali kalau kau mau keluar, ajak salah satu bodyguard-mu untuk mendampingimu! Lihat jadinya sekarang,” omelku tiba-tiba, membuat yeoja berambut cokelat tua itu menatapku keheranan.

“Ya, tuhan, Ikha-ya. Aku hanya ke depan asramamu. Lagipula lukaku ini juga akibat ketidaksengajaan,” protesnya tak mau kalah.

“Shireo!! Turuti kata-kataku, Seong Yeora,” cecarku lagi. Kutatap wajahnya tajam tanpa ekspresi sedikitpun. Dan kuharap, wajahku ini bisa membuat ia tersadar bahwa aku tidak sedang main-main.

“Eh? Ne, ne, ne… lain kali akan kuajak bodyguard-ku untuk menemaniku. Puas?” ucapnya penuh kepasrahan. Aku menyeringai kecil padanya kemudian memukul goretan di tangannya cukup kencang.

“YA!! CHO IKHA, KAU MENYAKITIKU!!!”

@@@

Yeora dan aku berjalan beriringan sambil merekatkan jaket yang melekat pada tubuh kami. Malam ini udaranya cukup dingin. Mungkin karena sebentar lagi akan musim salju, jadi suhunya mulai berubah.

“Yaaa, kau yakin akan masuk kelas hari ini?”

Aku kembali mengangguk mengiyakan pertanyaan Yeora. Ini sudah kesekian kalinya ia menanyakan pertanyaan itu padaku. Bahkan ia sempat mengunciku di kamar mandi asramaku. Alasannya sepele: takut aku akan di serang oleh seisi kampus gara-gara ‘egg-tragedy’ tempo hari.

“Aku sudah bolos kuliah beberapa hari ini. Lagipula, bukankah tidak banyak mahasiswa disini yang mengikuti kelas malam? Jadi santai saja, Nona Seong,” kataku meyakinkannya. Kudengar ia mendesah pelan dan bergumam kecil. Haha, ia memang selalu kalah setiap kali berdebat denganku.

Yeora melingkarkan lengannya pada lenganku sambil melangkah ringan menuju ruangan lantai tiga di kampus kami. Jangan salah sangka, dia memang memiliki kebiasaan aneh yang tak bisa dia ubah setiap kali berjalan denganku. Haha, aku masih normal, dan dia juga normal…

PLUK!!

Tiba-tiba sesuatu mendarat di pelipis sebelah kiriku. Baik Yeora dan aku sama-sama menghentikan langkah kami tepat ketika benda cair menghiasi pelipisku. Kuusap cairan tersebut lalu kuperhatikan dengan jelas benda apa yang telah menghiasi bagian wajahku ini.

“Telur?” tanyaku, lebih pada diriku sendiri. Sejenak aku tetap bergeming ditempatku berdiri. Yeora juga ikut mengusap pelipisku dengan tangannya. Dari baunya, memang benar kalau benda itu adalah sebutir telur.

Kudongakkan kepalaku kedepan dan mencari seseorang yang sengaja atau tidak melemparkan telur itu ke arahku. Tak lama kemudian, beberapa sosok yeoja muncul dari kegelapan malam yang menyelimutiku. Yeora sempat berteriak di sampingku saat seseorang menariknya menjauhiku. Saat kucoba untuk mendekati Yeora, kurasakan dua orang yeoja menahan lenganku kencang, membuatku tak bisa beranjak dari tempatku sekarang.

Kuamati sekali lagi yeoja-yeoja itu, mereka semakin memperkecil jarak antara kami dengan langkah yang sangat pasti. Kudengar Yeora memaki yeoja-yeoja itu untuk jangan mendekatiku, tapi sepertinya mereka tak peduli.

Seseorang—yang kuyakini adalah ketua genk-nya—mengangkat sebelah tangannya keatas, membuat beberapa yeoja lain di belakangnya menghentikan langkah mereka seketika. Ia terlihat menyunggingkan senyum kecutnya padaku seolah ingin menakutiku. Tapi bagiku, senyum itu tak lebih dari sekedar seringaian biasa.

“Kau? Cho Ikha?” tanyanya dengan nada mencemooh. Sengaja tak kukatakan sepatah katapun karena aku begitu malas menanggapinya. Aku tahu, mereka pasti para Locket—nama fans untuk Key SHINee—yang memang dendam karena perbuatanku dulu. Yeoja itu mengamatiku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dan saat mata kami bertemu, ia mendengus kesal kemudian memutar bola matanya.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan dari Key, huh? Setelah kasus fotomu yang membuat Key memiliki banyak antifans, kini kau beralih melempari telur di konser kemarin. Apa kau merasa Key tak menghiraukanmu sehingga kau mencoba mencari perhatiannya? Huh, childish!!” cecarnya tiada henti.

Kusunggingkan senyumku padanya sambil mengusap pelipisku yang masih dihiasi telur bekas lemparannya. “Lalu apa urusanmu? Kau akan melemparku ke laut?” kataku sedikit menantangnya. Ia memalingkan wajahnya sekilas dan kembali menatapku tajam.

“Tsk, kau hanya membuang waktu saja, Agasshi. Apa yang kau inginkan setelah kau menganiayaku atas apa yang telah kuperbuat pada Key? Berharap ia akan mendatangimu? Memelukmu dengan erat sambil mengucapkan terima kasih? Hah, menjijikan,” ucapku dengan nada yang setenang mungkin. Kumasukkan kedua tanganku ke saku sweeter-ku dengan santai setelah dua orang yeoja disampingku memutuskan untuk melepaskanku. Kuperhatikan dari sudut mataku, beberapa yeoja yang mengelilingiku menatap sinis sambil mengucapkan sesuatu yang tak bisa kumengerti.

“Kau menyesal karena telah mengatakan hal itu, Cho Ikha,”

Yeoja itu menjentikkan jarinya seketika itu juga tepat setelah ia menyelesaikan kalimatnya. Membuat semua yeoja yang mengelilingiku—yang baru kusadari sedang menggenggam sesuatu di tangan mereka—merapatkan barisannya. Sedetik kemudian, kurasakan sesuatu menghantam kepalaku beberapa kali dari segala arah. Aku tetap tak bergerak dari tempatku, hanya saja kutundukkan wajahku untuk menghindari benda tersebut mengenai kedua mataku.

“Bagaimana rasanya, Nona Cho? Menyakitkan, bukan? Kau memang pantas mendapatkannya,” ujar yeoja itu. Kudongakan kepalaku sehingga aku bisa melihat yeoja sok tahu itu. Kusunggingkan senyum kecutku dengan maksud menghinanya tanpa satu katapun keluar dari mulutku. Kemudian kuamati bagian putih telur yang mulai menetes sedikit demi sedikit dari ujung-ujung rambutku. Kudengar Yeora berteriak tak karuan di belakangku. Telingaku tak begitu jelas mendengar teriakannya karena tertutupi sekumpulan yeoja yang mengelilingiku.

“Kau tak ingin mengatakan apapun, Nona Cho?” ia memiringkan kepalanya mencoba menangkap perhatianku sambil melipat kedua tangannya di dada. Aku hanya mendengus pelan disertai seringaian kecilku.

“Kau tak tahu apa-apa, Agasshi. Lakukan saja apa yang kau mau lalu cepat enyah dari hadapanku,” jelasku tanpa sekalipun mencoba menatapnya.

“Hah, kau yang memintanya, Nona Cho,”

Sedetik kemudian, kurasakan telur-telur itu mendarat di beberapa bagian tubuhku. Anniya, bukan sebagian, tapi semua bagian tubuhku terkena lemparan telur tersebut. Benda tumpul itu sempat mendarat di tanganku yang masih belum sembuh dengan agak keras, membuatku memegang tanganku dan melindunginya dari serangan telur tersebut.

Hah, seperti inikah kehidupanku sekarang? Sangat tragis dan penuh ironi. Semuanya terasa begitu membingungkan. Seolah baru saja merasakan kehidupan normalku beberapa hari yang lalu, dan kini semuanya menjadi suram dan penuh teka-teki.

“Ada apa ini?”

Kudengar dari telinga kecilku ini seseorang bersuara dengan sedikit samar-samar. Semua yeoja yang mengelilingiku menatap ke arah suara tersebut. Ekspresi wajah mereka menandakan suatu keterkejutan. Perlahan, mereka membuka barisan mereka seolah memberikan celah bagi orang tersebut untuk melihatku. Seiring dengan langkahnya yang kian mendekatiku, mataku semakin jeli saat sosok itu berdiri tepat di hadapanku.

“Ikha-sshi?” tanyanya memastikan. Ia mendekatiku dan berdiri disampingku tanpa sedikitpun rasa jijik karena tubuhku dipenuhi bau amis bekas lemparan telur tadi. Kutundukkan lagi kepalaku agar ia tak mendapati kedua mataku yang mulai memanas. Tidak, jangan menangis, Cho Ikha. Jangan menangis…

“Ya! Apa yang kalian lakukan padanya?” bentaknya cukup keras. Kurasakan tangan namja ini menyentuh tanganku yang masih dibalut sepenuhnya oleh perban. Aku masih tak berani mengangkat kepalaku, rasanya terlalu berat untuk dilakukan.

“Kami hanya memberi pelajaran padanya, Key. Yeoja ini tak pantas untuk di bela,” balas yeoja itu membela diri.

Kudengar, Key sedikit menghela nafas sebelum mengeluarkan kata-katanya. “Aku tahu kalian melakukan ini karena aku. Tapi kalian jangan berlebihan menanggapinya. Aku baik-baik saja, jadi kumohon, hentikan… Dia juga manusia, sama seperti kalian. Perlakukanlah dia dengan baik,” terangnya sebijak mungkin. Aku tahu, ia mengatakan hal tersebut karena tak ingin membuat yeoja-yeoja ini berbalik menjadi antifans-nya. Kutatap yeoja si ketua genk itu dari balik poni rambut yang menghalangi mataku. Urat-urat di lehernya sedikit meregang sekarang. ia menatapku tajam sambil mengerutkan bibirnya.

“Hari ini kau beruntung karena Key mengampunimu, Cho Ikha. Tapi ingat, sekali lagi kulihat kau melakukan kesalahan, kami tidak segan-segan membuatmu menderita. Camkan itu baik-baik,”

Sebelum ia dan pasukannya pergi meninggalkan tempat kejadian, pandangannya sempat diarahkan pada Key selama beberapa detik. Kurasa ia ingin memakinya karena namja ini malah membelaku. Tapi yeoja itu menghempaskan tubuhnya dan segera beranjak dari tempatnya sebelum amarahnya menjadi-jadi.

“Gwenchana?” ia merengkuh lengan atasku dengan sangat hati-hati, mengajakku untuk segera pergi dari sini. Tapi kutahan tubuhku sebisa mungkin untuk tak menuruti kemauannya—meskipun sebenarnya ingin sekali kuberada didekatnya—karena aku takut Jung Hwa mengamatiku. Namja itu seperti hantu, ada dimana-mana, ada disekelilingku.

“Aku bisa mengurusnya, jadi kau pergi saja dari sini,” suara Yeora dari balik punggungku berhasil membuat Key melepaskan tangannya dari lenganku. Yeora segera melingkarkan lengannya di pinggangku tanpa takut telur-telur yang ada di tubuhku menempel di bajunya kemudian menyeretku menjauhi Key.

Baru saja kami berniat untuk melangkahkan kaki kami, tubuh Key tiba-tiba menghalangi jalan kami sehingga mau tak mau kami pun berhenti agar tidak menabraknya.

“Minggirlah, Key. Kau menghalangi jalan kami,” ucap Yeora disampingku. Aku tak tahu bagaimana ekspresinya sekarang, karena aku masih belum mau mengangkat kepalaku untuk melihat Key, namja yang kuidolai itu. Aku masih mencoba untuk menahan airmataku yang sedari tadi meronta untuk keluar dari pelupuk mataku.

“Aku ingin kau bicara, Ikha-sshi,” Dengan kemampuan indera pendengaran dan perasaku, aku tahu ia berdiri sangat dekat denganku. Karena saat kulihat kebawah, kakinya hanya berjarak ± 20 cm dari kakiku. Tanpa melihatnya pun aku juga sudah tahu kalau dia sedang menatap ke arahku. Tapi aku tak ingin melihatnya, tidak untuk sekarang.

“Katakan sesuatu, Noona. Setidaknya padaku,” sambungnya lagi setelah ia tak berhasil membuatku bicara.

Kualihkan pandanganku pada Yeora selama beberapa detik lalu kembali menundukkan wajahku. “Pergilah,” kataku singkat. Aku ingin segera pergi dari sini, aku sudah tak kuat menahan sakit yang ada di dadaku.

“Meskipun aku belum mengenalmu lebih jauh, tapi aku tahu kalau kau bukan tipe orang yang suka menyembunyikan sesuatu. Aku Kim Ki Bum. Apa kau lupa?” serangnya lagi. Ia masih tak memberiku celah sedikitpun untuk pergi.

Ya, dia memang Key. aku tahu dia adalah Key. Namja yang kukagumi selama kurang lebih tiga tahun ini. Namun saat ini aku tak ingin ia berada di dekatku. Dan kenapa dia terus mendesakku untuk bicara? Sedangkan dia tahu, sekuat apapun ia memaksaku, aku tak akan bicara.

Anni, aku harus membuatnya cepat pergi menjauhiku.

“Aku membencimu,” ucapku sedikit bergumam. Entahlah, hanya kata-kata itu yang terlintas di benakku saat ini. Dan sungguh, mulutku seolah bergerak dengan sendirinya saat kalimat itu mengisi otakku. Kurasakan lengan Yeora yang sedari tadi bertengger di pinggangku semakin mengerat. Aku tahu, ia pasti kaget karena aku mengucapkan kalimat terlarang tersebut.

Kudengar Key sedikit mendengus pelan. Ia meletakkan kedua tangan di pinggangnya. “Tidak, kau berbohong,” balasnya tak percaya.

Kusunggingkan senyum kecutku sambil terus menundukkan kepalaku. “Aku membencimu, Kim Ki Bum. Apakah suaraku kurang begitu jelas? Harus berapa kali kukatakan padamu kalau aku sangat membencimu?”

“Aku tidak percaya,” elaknya cepat. Kedua tangannya memegang pundakku dengan mantap. Membuatku sedikit terkesiap dengan perlakuannya.

 “Tatap mataku,” bisiknya tepat didepan wajahku. Kuabaikan permintaannya dengan mengalihkan perhatianku pada rumput yang ada disampingku.

“Tatap mataku dan katakan kalau kau memang membenciku,” Kurasakan tangannya kini tak lagi memegang pundakku, tapi tangan halusnya itu kini merengkuh kedua pipiku dengan lembut. Harusnya aku senang karena Key menyentuh kedua pipiku, tapi justru yang kurasakan adalah sakit yang luar biasa di dadaku.

Akhirnya kuputuskan untuk mengangkat kepalaku dan menatapnya setelah yakin dapat menahan air mataku untuk keluar. Sekarang hanya kedua mata Key yang memenuhi pandanganku. Sorot matanya sangat tajam, tapi mata itu juga memaksaku untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Tidak, aku tidak boleh luluh hanya karena dia menatapku seperti itu!

“Aku—“ Kupotong kalimatku dengan menelan air liurku lekat-lekat. Kemudian kuhirup oksigen sedalam-dalamnya untuk menghilangkan getaran pada suaraku. “Aku membencimu. Sebelum bertemu denganmu, hidupku berjalan sangat normal. Tapi setelah aku mengenalmu lebih jauh lagi, hidupku malah semakin berantakan. Jika aku tahu akan seperti ini, aku lebih memilih untuk menghapus semua memory temtangmu,” terangku tanpa jeda sedikitpun. Ergh~ mataku…. tidak, kumohon jangan menangis, Cho Ikha…

Tepat setelah kuakhiri kalimatku, Key melepaskan tangannya dari wajahku. Ia menjatuhkan kedua tangannya dengan gontai. Aku bisa melihat sorot kekecewaan dari matanya.

“Jangan memaksaku, Key,” Kutatap matanya dan berharap bahwa sorot mataku ini penuh dengan keyakinan. Yeora sepertinya mengetahui keinginanku untuk segera pergi dari tempatku berdiri, jadi dia mendorong tubuhku bersamaan dengan langkahnya yang terasa berat.

Kuhentikan langkahku sebentar lalu memutar tubuhku sehingga aku bisa melihat punggung Key yang masih saja mematung di tempatnya. “Aku harap kita tidak akan bertemu lagi,” imbuhku lagi sebelum kuputuskan untuk pergi.

@@@

Yeora mengajakku untuk duduk di bangku taman Kyeonggie University. Ia menuntunku untuk duduk disampingnya dan akupun menurut.

“Aku agak terkejut mendengarmu mengatakan hal itu padanya,” ucap Yeora setelah keheningan menyelimuti kami selama sepuluh menit.

“Gwenchana?” tanyanya lembut sambil membersihkan wajahku yang dipenuhi oleh cairan putih dan kuning dari telur.

“Yeora,” ucapku lirih sambil memegangi dada sebelah kiriku. Ia memperhatikanku tanpa sedikitpun menghentikan kegiatannya—membersihkan wajahku.

“Kenapa rasanya sakit sekali?” Kuremas sweeter-ku kasar dengan maksud untuk menghentikan sakit yang menyerang dadaku. “Dadaku terasa sesak, Yeo… sakit….” kataku, tak lebih dari sekedar berbisik. Aku sudah tak sanggup untuk menahannya lagi. Bibirku mulai bergetar hebat karena dari tadi aku terus menahan tangisku.

“Demi tuhan, Yeora. Aku tak ingin mengatakan hal itu padanya… aku… aku…”

Tanpa banyak basa-basi, Yeora menarikku ke dalam pelukannya lalu mengelus rambutku pelan. “Aku tahu,” bisiknya di telingaku.

“Menangislah….” tambahnya lagi. Ia terus mengelus rambutku meskipun bau amis semakin menyeruak dari tubuhku.

Kubenamkan wajahku di pundak Yeora seketika itu juga kemudian kupeluk tubuh mungil chingu-ku ini kencang, berusaha untuk menghilangkan sesak di dadaku…

….bersambung….

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

12 thoughts on “WHO ARE YOU (Chapter 06)”

  1. Bntar2…. Nie cho ikha tw jiyoon????? Yg bner yg mnaaa??????
    But, T.O.P G.O Eunhyuk Suho Onew bgt, bikin pnasaran eon, mu lnjut dulu baca nya… Bye!
    ==STEP FORWARD== pleasee…! Hahahaha…!

  2. hujan telur~..
    Ikha-ya harus tanggung jawab..
    ni aer mata uda menuhin mata, siap netes..
    hayo, kalo saya nangis, brenti.ny kalo uda di kasie Kyu..
    mana Kyu.n.. *goncang-goncangIkha

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s