WHO ARE YOU (Chapter 07)

Selama pelajaran Mr. Lee berlangsung, Key sama sekali tak memperhatikan apa yang dibicarakan oleh seonsaengnim-nya itu. Fikirannya masih berkecamuk karena sikap Ikha yang keras kepala. Biasanya ia selalu memilih untuk duduk di deretan depan, tapi kali ini, Key memilih bangku yang ada di samping jendela. Yang ia butuhkan saat ini adalah keheningan yang dapat membuatnya berfikir jernih.

Saat namja berambut blonde ini mengarahkan pandangannya ke luar jendela, ia menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya. Namun dari taman Kyeonggie University yang begitu luasnya, perhatiannya hanya tertuju pada dua sosok manusia yang tengah duduk di bangku taman. Ia tak tahu wacana apa yang sedang dibicarakan oleh keduanya, tapi yang ia tangkap adalah kesedihan yang terpancar dari yeoja yang tengah dipeluk oleh orang yang ada disampingnya. Yeoja itu tengah menangis didalam pelukan orang tersebut sambil meremas sweeter-nya dengan kencang.

“Ikha-sshi,” bisik Key pada dirinya sendiri.

It's Too Late (1)

Key meletakkan tas Auction-nya sembarangan setelah melepas sepatunya. Harusnya malam ini ia siaran di Youngstreet Radio bersama Taemin. Namun karena  harus kuliah, posisinya sebagai DJ malam ini digantikan oleh Onew.

“Sudah pulang?” Suara Jonghyun dari ruang tengah mengalihkan perhatian Key. Sebelum ia memutuskan untuk menghampiri Jonghyun, diambilnya botol air putih yang ada di kulkas lalu diteguknya cepat karena kerongkongannya serasa terbakar.

“Hyung,” Key mengambil posisi duduk dilantai sementara Jonghyun di atas sofa. “Aku masih penasaran dengan kejadian kemarin yang melibatkan Ikha-sshi. Kurasa ada sesuatu yang ia sembunyikan,” lanjutnya sambil memperhatikan layar televisi di depannya.

“Aku tahu kalau kau ini selalu bisa memecahkan semua masalah, Key. Tapi untuk yang satu ini semuanya sudah jelas, bukan? Dia melakukannya atas kemauannya sendiri,” ungkap Jonghyun kemudian memasukan snack-nya ke dalam mulut.

“Ayolah, hyung. Kau jangan ikut-ikutan manager hyung dan Onew Hyung yang menyalahkannya atas semua kejadian ini,” Ia memutar tubuhnya menghadap Jonghyun. Berusaha berbicara seserius mungkin tanpa nada bercanda sedikitpun. “Kau masih ingat dengan namja aneh yang mengirimiku surat?”

Jonghyun membenarkan posisi duduknya sebelum menjawab pertanyaan Key. “Ne. Tapi bukannya dia sudah tidak mengganggumu lagi?”

“Dia memang tidak menggangguku lagi. Tapi tepat setelah itu beberapa hal menimpaku, hyung. Kau ingat ketika seseorang menyalakan alarm kebakaran sehingga shooting CF kita tertunda tempo hari?” celoteh Key tanpa Jeda. Jonghyun memutar bola matanya mencoba mengingat-ingat.

“Ahh, ne. Aku ingat,” jawabnya sambil mengangguk sekali.

“Saat semua kru sedang mengecek kembali peralatan shooting, tali yang harusnya kupakai tiba-tiba putus dan membuat tiang penyangga jatuh tepat di tempatku berdiri. Lalu kau ingat ketika Ikha mendorong kita saat kita hendak mengambil minuman yang disediakan pelayan?”

Jonghyun hanya mengangguk dan berdeham pelan mengiyakan pertanyaan Key namun sama sekali tidak mengurangi sedikitpun perhatiannya dari wajah dongsaengnya itu.

“Kalau Ikha tak mendorong kita, apa jadinya nanti jika kita meminum air yang sudah dipenuhi asam sulfat tersebut?” Key menggigit ibu jarinya sambil memeluk boneka dolphin yang menjadi pengganti bantal sofa di dorm mereka.

“Jadi, kesimpulannya?” tanya jonghyun mengerutkan kedua alisnya.

“Ikha sepertinya berusaha untuk menyelamatkanku, hyung. Oh, aku lupa. Sebelum semuanya terjadi, dia sempat mengirimkan sebuah pesan singkat padaku,” Key merogoh kantung sweeternya lalu mengambil handphone barunya yang berwarna pink. Ditunjukkannya pesan yang Ikha kirimkan padanya.

————-From: Cho Ikha Apapun yang kulakukan, semua itu semata-mata hanya untuk membuatmu baik-baik saja, Key….—————————-

Jonghyun kembali mengerutkan alisnya sehingga membentuk sebuah gelombang. Dibacanya pesan tersebut beberapa kali, mencoba untuk mencerna konotasi apa yang ada dibalik pesan tersebut.

“Kau benar, sepertinya ada sesuatu yang ia sembunyikan,” ucap Jonghyun datar. Ia menyerahkan handphone tersebut pada Key dan kembali memakan cemilannya. “Kau sudah menghubungi yeoja itu?” imbuhnya lagi.

Key menggeleng pelan. “Hhhh~ dia tak pernah mengangkat telefonku. Dan lagi, setiap kali bertemu dengannya, dia selalu berusaha untuk menghindariku,”

“Aku yakin, dia mengalami masa-masa sulit sekarang ini. Terakhir kali kau melihatnya, apa dia baik-baik saja?” tanya Jonghyun sambil mengotak-atik channel TV.

“Entahlah. Kedua tangannya masih terbungkus perban, dan….” Key menghentikan kalimatnya setelah ia ingat kejadian empat hari yang lalu saat Ikha melemparinya telur, semua Shawol langsung menyerangnya tanpa ampun. Ditambah lagi kejadian di kampus saat Ikha dilempari telur oleh para Shawol.

Key menghela nafas pendek lalu menghembuskannya kencang. “….sepertinya dia hanya berpura-pura terlihat baik-baik saja, hyung,” ucapnya lemah sambil menatap jendela dorm-nya yang belum tertutup rapat.

@@@

Ikha mengacak rambutnya agak kasar menggunakan handuknya. Dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam baginya untuk membersihkan tubuhnya yang penuh dengan telur-telur itu. Sebelumnya Yeora memaksa untuk menginap lagi di kamar asramanya, namun karena temannya itu sudah menemaninya selama empat hari ini, Ikha menyuruhnya untuk pulang. Khawatir orang-tua Yeora akan menganggap dirinya telah menculik anaknya selama ini.

Ia menghempaskan tubuh di atas ranjang empuknya dan menatap langit-langit kamar. Mengingat kembali kejadian dua jam yang lalu saat Key mencoba untuk bicara dengannya.

“ARGH!!!” Dibuangnya bantal dan guling yang ada disampingnya ke segala arah dengan maksud untuk menghilangkan kekesalannya. Hatinya masih berkecamuk sekarang. Sungguh, ia sangat menyesali perbuatannya tadi. Seharusnya ia tak perlu mengatakan kata-kata itu dan memilih untuk pergi, tapi kenapa mulutnya seolah bergerak sendiri tanpa perintah dari otaknya?

“Tenang saja, Cho Ikha. Hal itu tidak akan berpengaruh bagi Key. Dia tak menyukaimu, jadi tak masalah ‘kan saat kau mengatakan bahwa kau membencinya?” katanya menghibur diri sendiri.

Ikha mengusap wajahnya menggunakan kedua tangan dengan pelan dan mendudukkan tubuhnya disamping ranjangnya. Fikirannya segera terhenti saat handphone yang ada di atas mejanya berdering dan membuat permukaan meja tersebut ikut bergetar. Ia meraih benda tersebut dan memencet tombol hijau dengan cepat saat layar handphone-nya menunjukkan tulisan ‘Si mulut besar – calling’.

“Ne, Yeora-ya. Waeyo?” sahutnya langsung pada intinya.

“Hai, Nona Cho,”

Ikha seketika juga membulatkan kedua bola matanya. Ia mengenali dengan jelas suara namja yang terdengar dari sela-sela speaker handphone-nya itu.

“Kau?” Ia menghentikan suaranya sejenak untuk membetulkan posisi duduknya. “Kenapa handphone Yeora ada di tanganmu?”

Namja di seberang telefonnya itu terdengar sedang tertawa lirih. Ikha mengeratkan jemarinya dan mengibaskan poninya yang menutupi pandangan matanya.

“Hmm, aku sedikit bersenang-senang dengannya sekarang,” ucapnya enteng.

“Kau… jangan berani sentuh Yeora, Kim Jung Hwa. Atau…”

“Atau apa?” selanya memotong perkataannya. Bukannya menyambung kalimatnya yang sempat terputus, Ikha malah diam dan menggigit bibir bawahnya. Ia malah ragu untuk melanjutkan kalimatnya mengingat sahabatnya itu sekarang menjadi tahanan Jung Hwa. Bisa saja namja itu melakukan hal-hal diluar dugaannya.

“Kalau kau ingin dia selamat, datanglah ke tempat yang telah kutetapkan,” sambungnya kemudian, membuat Ikha berjalan kian kemari untuk menghilangkan kegundahannya karena ucapan namja yang dianggapnya phsyco itu.

@@@

Ikha melangkahkan kakinya dengan perlahan saat ia telah sampai di depan sebuah gudang tua yang ia yakini sebagai tempat yang Jung Hwa maksud. Namja itu sempat memberitahukannya untuk tidak membawa polisi ataupun orang yang membuntutinya. Karena jika ia melakukannya, maka Yeora mungkin akan kehilangan sebagian organ tubuhnya.

Sebenarnya sepanjang perjalanan tadi ia menggerutu sendirian karena handphone-nya tertinggal di asrama. Setidaknya jika ia membawa alat komunikasinya itu, ia bisa menghubungi nomor darurat untuk menyelamatkannya jika sesuatu hal terjadi. Tapi apa daya, tak mungkin ia kembali lagi ke asrama mengingat Jung Hwa menyuruhnya untuk sampai di tempat yang ia maksud hanya dalam waktu dua puluh menit.

Ia memperhatikan pintu gudang yang sangat besar dan sudah terlihat agak rapuh itu dengan seksama sebelum memutuskan untuk membukanya. Terdengar suara decitan yang cukup keras seiring terbukanya pintu tersebut yang membuatnya semakin memicingkan kelima indera-nya. Ruangan tersebut terlihat sangat menyeramkan, pencahayaannya pun sangat minim. Ikha menggosok tengkuknya pelan saat angin dingin berhembus melewatinya.

Ia mencari-cari sesosok manusia ataupun sejenisnya di sekeliling ruangan yang kosong dan hampa itu, namun yang ditemukannya hanya sekumpulan benda tak berguna yang bertengger di samping dinding-dindingnya.

Ikha memberanikan untuk berjalan maju. Sesekali ia menelan air liur-nya yang tiba-tiba terasa sulit untuk dilakukan. Bibirnya pun tak henti-hentinya berkomat-kamit membaca mantera untuk mengusir setan. Saat ia hampir sampai ke tengah ruangan, langkahnya segera terhenti seiring bunyi pintu yang ada dibelakang punggungnya berdebam keras. Otomatis ia pun membalikkan tubuhnya sambil memegangi dadanya yang mulai bergemuruh.

Tepat setelah ia memutar tubuhnya, yeoja itu melihat sosok namja yang menutup pintu tersebut dan menguncinya rapat. Namja berkemeja putih panjang itu membalikkan tubuhnya sambil meletakkan kunci tersebut pada saku celananya. Ikha langsung menyipitkan matanya untuk memastikan bahwa namja itu adalah orang yang selama ini membuatnya menderita.

Namja itu memiringkan kepalanya perlahan memandangi Ikha yang terlihat sedikit bergetar. Salah satu tangannya menyusup pada saku celananya. “Annyeong, Nona Cho,” ucapnya sambil melangkah mendekati yeoja berambut panjang itu.

Seiring dengan langkah Jung Hwa yang semakin mendekat, Ikha pun memundurkan langkahnya mengikuti irama langkah Jung Hwa, berusaha untuk tetap menjaga jarak dengannya. “M-mana temanku?” tanyanya agak gugup.

Matanya memperhatikan sekelilingnya dengan seksama. Ruangan ini sangat luas dan sialnya, tak ada akses untuk keluar dari tempat ini selain pintu yang telah dikunci oleh Jung Hwa. Beberapa jendela ruangan itu pun terkunci dan ketinggiannya mencapai dua meter. Jadi ia harus menaiki tangga terlebih dahulu agar bisa kabur dari situ.

“Hmm, Nona Seong? Oh, mungkin sekarang dia ada di rumahnya sedang tidur nyenyak,” jelasnya sambil terus melangkah perlahan ke arah Ikha.

“Maksudmu?” tanya yeoja itu lirih. Ia berusaha untuk menghilangkan nada ketakutannya agar namja itu tak berniat macam-macam padanya. Ikha kembali memundurkan langkahnya, matanya terus mencari-cari sesuatu yang bisa ia pakai untuk alat pertahanannya.

“Kurasa Nona Seong memang tipe yeoja yang ceroboh. Aku sempat bertemu dengannya saat ia berjalan menuju sebuah minimarket tanpa kedua pengawalnya. Dan lihat, aku bisa dengan mudah mengambil handphone-nya,” Jung Hwa merogoh kantung celananya yang lain lalu mengambil I-phone milik Yeora dan memperhatikan benda itu dari berbagai sudut.

“Jadi… sebenarnya Yeora tidak ada disini?” tanya Ikha memastikan.

“Binggo!!” sahut Jung Hwa mantap.

Ikha kembali membuat jarak dengan Jung Hwa dengan menggerakan kakinya ke belakang. Namun tubuhnya membentur sesuatu yang terbungkus kain putih di balik punggungnya yang berhasil membuatnya terhenti. Jung Hwa mendengus pelan di balik maskernya saat tahu bahwa Ikha tak bisa bergerak lagi. Namja itu menghentikan langkahnya tepat di depan Ikha dengan radius ± satu meter. Merasa dirinya dalam bahaya, tangan Ikha meraba sesuatu di balik tubuhnya yang ia yakini sebagai sebongkah kayu. Digenggamnya kayu itu erat sambil terus menatap lurus ke arah Jung Hwa.

“Aku terlalu menganggap remeh dirimu, Nona Cho. Ternyata kau jauh lebih pintar dari yang kuduga,” ucap Jung Hwa. Ikha masih mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Yang ada di otaknya saat ini adalah bagaimana caranya ia bisa kabur dari tempat ini.

“Kenapa kau tak bicara?” Ia lanjut bertanya. “Sedang memikirkan cara untuk kabur dari tempat ini?” imbuhnya, membuat keringat dingin mengucur dari pelipis Ikha.

“Apa yang kau mau dariku?” ungkapnya angkat bicara.

Jung Hwa kembali mendengus dan menggeleng kepalanya sekali. Ia masih bergeming di tempatnya semula. “Aku hanya ingin kau mengikuti perintahku, Nona Cho. Tapi kau mengingkarinya. Kau kira aku tak tahu dengan semua yang telah kau lakukan selama ini? Kau menggagalkan misiku dan kau sempat mengecohku!” tegasnya. Suaranya sedikit menggema ke seluruh ruangan yang hampa dan kosong tersebut. Ikha sedikit terhenyak, ia menggeserkan tubuhnya ke samping menjauhi namja labil itu.

“Kau—“ Ikha menelan ludahnya lekat-lekat, “—kenapa kau melibatkanku? Ini urusanmu dan Key, bukan? Jadi kenapa kau tak selesaikan urusanmu sendiri tanpa membuatku menderita seperti ini?” cecar Ikha dengan nada yang agak tinggi.

“Kenapa aku melibatkanmu? Justru kau terlibat dengan semua ini karena kau muncul saat aku sedang menyelesaikan urusanku dengan namja yang kau kagumi itu. Ditambah lagi dengan fakta yang mengatakan bahwa kau adalah salah satu fans-nya Key. Hal itu membuatku semakin ingin memburumu,” Jung Hwa menggulung lengan kemejanya tanpa sekalipun mengalihkan perhatiannya dari mata Ikha.

“Asal kau tahu, Nona Cho. Aku membenci Kim Ki Bum. Dan aku membenci semua hal yang menyangkut dirinya… Termasuk semua fans-nya… Termasuk kau,” Jung Hwa kembali memperkecil jarak antara mereka berdua, membuat Ikha merekatkan kembali jemarinya yang sedari tadi memegang sebongkah kayu di belakangnya.

“Jangan berani mendekatiku, Kim Jung Hwa,” sergah Ikha. Namja itu terlihat menyipitkan matanya, seolah sedang tersenyum di balik kain yang menutupi wajahnya. Ia sama sekali tak gentar dengan perkataan Ikha.

“Kau tak akan bisa lari dariku, Nona Cho,”

Saat Jung Hwa meletakkan lengannya di atas pundak Ikha, yeoja itu dengan cepat mengayunkan bongkahan kayu yang sedari dipegangnya tepat mengenai pundak Jung Hwa, membuat namja itu langsung tersungkur di tempatnya dan mengerang cukup keras. Kesempatan itu pun dipakai Ikha untuk segera kabur dari situ. Ia berlari ke arah pintu, menarik gagangnya kencang dengan harapan pintu tersebut dapat terbuka.

Saat Ikha masih bergelut dengan pintu gudang tersebut, Jung Hwa—dengan sisa tenaganya—berjalan ke arah Ikha dan meraih sebatang kayu yang tadi dipakai yeoja itu untuk memukulnya. Ia berjalan sedikit sempoyongan sambil terus memegangi pundaknya bekas pukulan Ikha. Ikha tak menyadari keberadaan Jung Hwa yang kini sudah berada di belakangnya.

“Kau telah melakukan kesalahan besar, Nona Cho,” bisik Jung Hwa yang membuat Ikha seketika itu juga memutar tubuhnya sehingga berhadapan dengannya. Jung Hwa segera melayangkan pukulannya ke arah Ikha dan berhasil membuat yeoja itu jatuh pingsan tak sadarkan diri.

@@@

Yeora merogoh kantung sweeter-nya gusar. Ia mencari handphone-nya yang ia sangat yakini telah ia masukan kedalam tempat itu. “Kemana handphone-ku?” tanyanya pada dirinya sendiri tanpa sedetikpun menghentikan langkahnya.

Setelah sampai didepan sebuah pintu gerbang, ia menghentikan aktifitasnya lalu berjalan memasuki sebuah gedung yang cukup besar itu. Tangan kirinya kini penuh dengan sekantung makanan yang baru saja ia beli dari minimarket yang letaknya tak jauh dari asrama Ikha. Dan saat ia sampai didepan pintu kamar, diputarnya gagang pintu tersebut lalu ia bergegas masuk untuk mengejutkan Ikha.

“Ikha-ya, lihat apa yang kubawa….” ucap Yeora sedikit berteriak. Tapi yeoja itu segera terpaku di tempatnya karena ia tak mendapati sahabatnya itu di kamarnya. Ia melihat handphone Ikha yang tergeletak di atas ranjang, namun saat ia mengecek sekeliling ruangan dan kamar mandi pribadinya, ia tak menemukan sosok yang ia cari.

“Ayolah, Kha-ya. Aku tidak tertarik bermain petak umpet sekarang,” ucap Yeora lagi, berharap sahabatnya itu akan muncul dan tak berniat mengajaknya bercanda. Karena tak kunjung muncul, Yeora segera mengecek handphone Ikha cepat. Dilihatnya sebuah panggilan masuk yang tak bertuan pada list received calls.

“Oh, tidak. Apa jangan-jangan….” Yeora segera mencari nomor telefon rumahnya lalu menekan tombol hijau dari handphone Ikha. Setelah yakin telefonnya sudah diangkat, ia segera menggerakkan bibirnya cepat.

“Appa?” tanyanya memastikan bahwa orang yang ada diseberang telefonnya adalah appa-nya sendiri. “Appa, Ikha menghilang…”

@@@

Ikha sedikit mengerang dari ketidaksadarannya. Dengan sangat perlahan, ia membuka kelopak matanya karena cahaya matahari membuatnya silau dan memaksanya untuk terjaga. Ia sedikit menggeliat pelan karenanya, namun saat ia mencoba memegang pundaknya yang terasa ngilu, ia baru sadar kalau saat ini kedua tangannya terikat di belakang punggungnya.

Rasa kantuk dan nyeri di pundaknya seketika itu juga menghilang saat ia memperhatikan ruangan di sekelilingnya. Ini bukanlah gedung tua seperti yang ia datangi tadi malam. Tapi ruangan ini seperti didalam sebuah kamar, bahkan tubuhnya yang sekarang terikat tepat berada diatas sebuah ranjang empuk.

“Kau sudah bangun?” tanya Jung Hwa membelakangi Ikha. Ia terlihat sedang memilih baju dari lemarinya.

“Dimana aku sekarang?” Ikha berusaha duduk dari posisinya sekarang. Tapi karena kedua kaki dan tangannya terikat, ia jadi agak kesulitan untuk bergerak. Untungnya namja physco itu tak membekap mulutnya. Setidaknya dia masih bisa berteriak meskipun hasilnya tak ada seorangpun yang mendengar teriakannya.

“Oh, aku lupa memberitahumu. Selamat datang di apartemenku,” terangnya tanpa sedikitpun menoleh pada Ikha.

Ikha hanya mendengus pelan. Rambut yang menempel di pipinya sedikit mengganggu penglihatannya. “Kau sinting! Kau sedang menculikku, huh? Dan kau membawaku ke apartemenmu? Sebenarnya kau niat menculikku atau hanya sekedar ingin bermain-main denganku?”

Jung Hwa tertawa pelan sambil terus memilih-milih pakaiannya yang berderet rapih di dalam lemarinya. “Hmmm, keduanya,” jawabnya santai. Setelah yakin bahwa pakaian yang dipilihnya cocok, ia memutar tubuhnya menghadap Ikha dan tersenyum simpul.

Saat melihat Jung Hwa, Ikha seketika itu juga membelalakkan kedua matanya. Namja itu tak mengenakan masker yang biasa ia pakai dan hal itu membuat Ikha dapat melihat wajah asli namja itu dengan jelas. Ini pertama kalinya ia melihat wajahnya, dan namja itu benar-benar membuatnya terkejut setengah mati melihatnya.

“Wae? Ada yang salah dengan wajahku?” tanyanya santai. Ia berjalan menghampiri Ikha dan berdiri disamping tempat tidur. Ikha menggelengkan kepalanya perlahan, ia sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang hingga mengenai senderan tempat tidur.

“Tidak mungkin…” ucapnya lirih. Ia masih memandangi wajah Jung Hwa tanpa berkedip. Jung Hwa—yang merasa dipandangi terus-menerus itu—hanya tersenyum simpul sambil mengenakan kemeja pink-nya.

“Jangan kaget begitu, Nona Cho. Bukankah aku lebih tampan dari namja yang kau idolai itu?” ucapnya penuh percaya diri.

Ikha masih saja menggelengkan kepalanya pelan. Masih tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya sekarang. “Jadi… inikah alasannya kenapa kau membenci Key? Wajahmu…” tanyanya, meminta kejelasan.

Namja itu hanya mendelik, menghentikan kegiatannya sebentar lalu kembali berkutat dengan kancing kemejanya. “Tidak. Lebih dari itu…. kau tidak akan mengerti sekalipun aku menceritakannya padamu. Ini masalah pribadi, Nona Cho,” terangnya. Ia mengancingkan kemejanya perlahan lalu memposisikan tubuhnya duduk disamping tempat tidur, membuat Ikha menggeser kakinya cepat agar tidak bersentuhan dengannya. “Ah, aku akan pergi bersenang-senang sebentar. Kau mau ikut?” imbuhnya.

Ikha mengeratkan kedua lengannya dengan maksud untuk melonggarkan ikatan di kedua lengannya, tapi usahanya sia-sia. “Cih, Kau gila…” hardiknya.

Jung Hwa lagi-lagi hanya tersenyum menanggapi perkataan Ikha. Kata-katanya barusan dianggapnya sebagai sebuah pujian baginya. “Kudengar Key ada jadwal siaran di Kiss Radio malam ini. Hmm, sepertinya aku akan menyelesaikan semuanya hari ini juga. Aku sudah capek bermain-main terus,” ucapnya tiba-tiba.

“A-a-apa maksudmu?” Ikha mengatakannya sedikit berbisik. Ia masih shock dengan semua yang terjadi padanya.

“Aku memegang KTP Key sekarang. Dulu aku sempat mengambilnya saat kau mengganggu rencanaku. Dan kupakai KTP ini untuk menyewa sebuah mobil. Untungnya aku memiliki mata yang sama dengannya, jadi hal itu sangat mudah bagiku,”

“Apa sebenarnya yang sedang kau rencanakan?” tanya Ikha lagi, membuat namja itu kembali tersenyum. Sebetulnya senyumnya sangat manis, tapi mengingat Jung Hwa adalah orang yang selama ini membuatnya menderita, kenyataan itu segera ditelan lekat-lekat oleh Ikha.

“Simple saja. Aku hafal kebiasaannya yang selalu makan ice cream setiap kali siaran di radio tersebut. Dan saat ia sedang membeli ice cream di seberang gedung, aku akan menabraknya dengan mobil yang kusewa barusan. Lalu, ‘braaakkk’… dia akan tergeletak di jalan dengan wajah dipenuhi darah. Oh, tuhan, aku sudah tidak sabar,” terangnya sambil mengepalkan kedua tangannya dan tanpa sedikitpun mengurangi senyum dari wajahnya.

“Kenapa kau melakukan hal itu, Kim Jung Hwa?”

“KARENA AKU BEGITU MEMBENCINYA!! AKU TAK PERNAH MENGINGINKAN WAJAHKU TERLAHIR SEPERTI INI, NONA CHO!! LAGIPULA DIA TELAH MENGHANCURKAN HIDUPKU!! DIA YANG MEMBUATKU MENDERITA SELAMA INI!!” teriak namja itu, membuat Ikha terhenyak dan sedikit ketakutan.

“Tapi kenapa…?” tanya Ikha lagi. Ia masih sulit mempercayai apa yang ada dihadapannya sekarang. Semuanya terasa seperti sebuah drama, penuh misteri dan kejutan yang tak terduga. Jung Hwa mengabaikan pertanyaan Ikha, ia lebih memilih menyibukkan diri dengan mengancingkan lengan kemejanya.

“Hhhh~ sudahlah. Hari semakin sore. Aku harus segera pergi,” gumamnya pelan. Tapi anehnya, bukannya beranjak dari situ, Jung Hwa malah mendekatkan tubuhnya pada Ikha.

“A-a-apa yang kau lakukan?” tanya Ikha dengan nada yang bergetar. Kentara sekali bahwa ia sangat ketakutan saat ini.

Jung Hwa meraih kedua pipi Ikha kasar kemudian mendaratkan bibirnya pada bibir Ikha. Yeoja itu mengalihkan kepalanya kesana kemari berusaha untuk menghindarinya, namun Jung Hwa mengeratkan kedua tangannya sehingga Ikha tak bisa bergerak sama sekali. Ditambah lagi kedua tangannya terikat, jadi dia sama sekali tak bisa berkutik.

“Emmpphhh~” Ikha mengeratkan mulutnya karena namja itu sedari tadi berusaha memasukkan lidahnya kedalam mulutnya. Namun dengan melihat perlawanan Ikha justru membuat Jung Hwa semakin semangat menciumi yeoja itu. Ia menarik tubuh Ikha hingga terbaring di tempat tidur tersebut, memaksanya kembali menciumi bibirnya dengan ganas.

“Ini sebagai hukuman karena kau tak bersikap baik padaku,” ucap Jung Hwa setelah puas mencium bibir Ikha. Ikha tak bergerak sedikitpun, kini air matanya mulai turun dari pelupuk matanya. Ia sedikit terisak karena diperlakukan seenaknya oleh Jung Hwa.

“Wae? Harusnya kau senang karena aku menciummu, Nona Cho,” Jung Hwa menyingkirkan beberapa helai rambut Ikha yang menempel di pipinya. Ikha kembali memalingkan wajahnya, saat ini ia tak ingin namja itu menyentuh bagian tubuhnya sedikitpun. “Anggap saja kalau yang menciummu tadi adalah Key,” tambahnya lagi.

“Kau…” Ikha menatap namja itu tajam. “Kau… sangat… menjijikan,” ucapnya di tengah-tengah isakannya.

“Hahaha, kau jangan na-if, Nona Cho. Aku tak jauh berbeda dengan Key. Justru aku lebih tampan darinya,” ujarnya sambil berlalu meninggalkan tempatnya semula. “Awalnya aku fikir kau adalah yeoja baik hati. Bahkan aku sempat tertarik padamu. Tapi saat tahu kau menyukai Key, persepsiku terhadapmu berubah seketika,” Jung Hwa merapihkan kemejanya yang sedikit kusut lalu mengambil beberapa benda yang ada diatas meja.

“Baiklah, aku pergi. Dan, ah, aku lupa. Setelah urusanku dengan Key selesai, aku akan segera kembali dan menyelesaikan urusan kita. Mmm, bibirmu ternyata manis juga, Nona Cho,” Namja itu segera berlalu dari ruangan tersebut, meninggalkan Ikha yang perasaannya masih berkecamuk.

“KIM JUNG HWA!! DASAR BRENGSEK KAU!!!” erangnya sambil terus menggeliat agar ikatannya lepas. Ia kembali menangis di atas ranjang berukuran king size tersebut, meratapi nasibnya yang penuh dengan kesialan.

@@@

“Engh…”

Ikha membuka matanya yang terasa sangat berat. Gara-gara tadi siang terus-menerus menangis, akhirnya ia kelelahan dan tertidur di tempatnya semula. Ikha  berusaha mengumpulkan tenaganya dengan susah payah. Setelah berhasil duduk, ia mengamati jam dinding yang tergantung indah di depannya.

08.34pm

“Oh, tidak…” bisiknya pada diri sendiri. Ia segera bangkit dari ranjang tersebut meskipun ikatan di kedua kaki dan tangannya sedikit menyulitkannya. Saat melihat jam tersebut, ia teringat dengan perkataan Jung Hwa tadi siang terkait rencananya untuk membunuh Key malam ini. Ia harus melakukan sesuatu atau semuanya akan terlambat.

Ikha berjalan dengan cara meloncat sana-sini seperti pocong menuju dapur yang letaknya tak jauh dari tempatnya sekarang. Setelah sampai di dapur, ia mencari sebilah pisau lalu mengarahkan sedemikian rupa agar pisau tersebut dapat memotong ikatan di tangannya.

“Gotcha’!!” ucapnya puas setelah ikatan di tangannya terlepas. Ia memotong tali di kedua kakinya kemudian berlari ke arah pintu. Saat ia mencoba membukanya, pintu tersebut tak bergerak sedikitpun. Dan ia baru sadar kalau ia memerlukan sebuah pass-card untuk membukanya.

Segera ia berlari mengelilingi ruangan tersebut, mencari sebuah telefon yang dapat ia pakai untuk mencari pertolongan. Di tengah kekhawatirannya itu, Ikha segera tertuju pada sebuah benda yang teronggok indah di samping sofa. Matanya langsung berbinar seolah menemukan harta yang sangat berharga baginya. Ikha langsung mengangkat gagang telefon, memencet beberapa nomor dan menunggu…

“Sial!” geramnya tak sabaran. Ia mencoba memencet beberapa nomor lagi tapi hasilnya tetap sama, tidak tersambung kepada nomor yang ditujunya. Akhirnya, ia mencoba untuk memencet tombol 1. Dulu ia sempat mengunjungi apartemen temannya, biasanya ada beberapa angka automatic yang bisa tersambung ke operator. Wajah Ikha-pun kembali bersinar saat ia mendengar bunyi tut-tut-tut dari balik telefonnya. Dan ia menyunggingkan senyumnya lebih lebar lagi saat tahu bahwa ia terhubung dengan CS apartemen tersebut.

“Annyeong hasseyo. Aku terkunci di kamar temanku dan aku butuh pass-card agar bisa keluar. Ibuku mencariku, jadi aku sangat terburu-buru,” ucap Ikha sedikit berbohong.

“Berapa nomor apartemen anda?”

“Molla. Tolong anda cek dari sambungan telefon ini. Aku mabuk semalam, jadi aku tak tahu sekarang ada dimana,” katanya lagi berbohong. “Ah, dan lagi, aku butuh sebuah taksi secepatnya,” sambungnya.

Setelah menutup telefonnya, Ikha lalu berlari ke dapur mencari sesuatu untuk di makan. Ia memutuskan untuk mengisi perutnya terlebih dahulu sambil menunggu kedatangan si pelayanan apartemen. Jujur saja, dari malam dia belum sempat memakan apapun. Terakhir yang ia makan adalah bubur yang dibuatkan Yeora kemarin siang.

“Hhh~ Kim Jung Hwa. Kau kira aku ini bodoh? Atau kau saja yang kelewat bodoh?” tanyanya sambil menatap sebuah foto yang terpajang di buffet. Saat melihat foto Jung Hwa, Ikha mengepalkan lengannya hingga uratnya menegang. Ia menghirup nafas dengan sangat dalam dan menghembuskannya kasar.

“Aku tak percaya kalau ternyata kau ini….” Ikha menghentikan perkataannya sejenak lalu tersenyum kecut. Ia mengambil pigura kecil yang terpampang foto Jung Hwa dan melemparnya ke sembarang tempat. “Kau sangat mengerikan….”

@@@

“STOP!!” ucap Ikha sedikit berteriak pada sang sopir taxi yang sedang duduk manis disampingnya. Si sopir pun menghentikan mobilnya cepat, membuat kedua makhluk tersebut agak mencondongkan tubuh mereka ke depan karena rem dadakan.

“Kalau kau ingin aku membayar argo ini, tunggu disini sampai urusanku selesai,” jelasnya sambil membuka pintu mobil. Si sopir hanya mengangguk bisu. “Tenang saja, ahjusshi. Aku tidak akan kabur,” imbuh Ikha tersenyum pada si sopir lalu berlalu dari tempatnya berdiri.

Tak jauh dari situ, berdiri lah sebuah gedung yang ia cari, KBS Radio. Diluar gedung tersebut dipenuhi oleh beberapa orang yang diyakini Ikha adalah sekelompok Shawol yang sedang ber-stalking ria karena kamera digital dan SLR tak lepas dari genggaman mereka.

Ikha berhasil masuk kedalam gedung KBS tanpa siapapun yang menghalanginya. Dengan kecepatan melebihi seekor cheetah, ia berhasil menyusup diantara orang-orang yang sedang mondar-mandir di gedung tersebut. Sebenarnya ia tak tahu sama sekali dimana letak ruangan siaran Kiss Radio tersebut, namun dengan bermodalkan insting, ia tetap berjalan mengitari gedung dengan harapan dapat menemui seseorang yang ia kenal.

Ditengah kegalauannya, indera penglihatan Ikha menangkap seseorang yang ia kenal. Namja itu sedang berdiri di depan kasir sebuah cafe yang ada didalam gedung KBS mengenakan sweeter cokelat tebal dan sebuah topi yang menghiasi rambut blonde-nya. Untungnya di cafe tersebut hanya ada dia dan beberapa pelayan, jadi Ikha tak kesulitan untuk mendapatkan perhatian namja itu.

“Onew-sshi,” sahut Ikha. Nafasnya memburu karena dari tadi ia tak henti-hentinya berlari. Onew—yang merasa namanya dipanggil—memutar tubuhnya 180° sehingga kini ia dapat berhadapan dengan Ikha. Ia mengamati sosok yeoja itu yang sedari tadi berusaha menghirup udara.

“Ne?” Hanya itu kata yang terucap dari mulut Onew. Alisnya mengkerut. Ia terlihat bingung melihat yeoja tersebut mengingat penampilannya yang sedikit berantakan.

“Dimana Key?” tanya Ikha to-the-point.

“Key?” tanyanya balik.

“Ayolah, oppa. Beritahu aku dimana dia sekarang,” paksa Ikha sambil menarik lengan sweeter Onew agak kencang. Wajahnya diliputi dengan kecemasan.

“Yaaa, chamkanmanyo…” ucap Onew berusaha melepaskan jeratan Ikha. Ia mengamati wajah Ikha dan alisnya kembali mengerut. “Kau… Cho Ikha?” Ia mengarahkan telunjuknya ke depan wajah Ikha.

“Baguslah kalau kau mengenaliku. Jadi sekarang cepat beritahu aku dimana Key, oppa,” sungut Ikha lagi.

“Anni~ kenapa kau mencarinya? Kau mau melemparinya telur lagi?” Onew memasang wajah tak sukanya pada yeoja tersebut.

“Pffft! Aku tahu kau pasti benci karena sikapku dulu, Oppa. Tapi kumohon, beritahu aku dimana Key sekarang!!” ucap Ikha dengan penuh paksaan. Onew sedikit terhenyak karena suara Ikha yang meninggi satu oktaf dari nada awalnya. Ia memilih untuk diam ketimbang menanggapi perkataan Ikha. Merasa tak ditanggapi, Ikha pun akhirnya kehilangan kesabaran.

“Baik. Aku akan mencarinya sendiri,” Ikha memutar tubuhnya dan bersiap untuk pergi dari tempat tersebut. Orang yang diharapkan dapat membantunya ternyata lebih memilih untuk tutup mulut. Namun saat ia hendak beranjak dari situ, tangan kekar Onew menahan lengannya cepat, membuatnya seketika itu juga meringis dan memaksanya memutar tubuhnya lagi untuk menghadap namja tersebut.

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi untuk mencelakai Key lagi,” ucap Onew dingin. Ia menatap ke arah mata Ikha dengan sangat dalam. Selain itu, cengkraman tangan Onew yang erat membuat Ikha kembali meringis menahan sakit.

 “Aku mohon, Onew-sshi….” Ikha menatap Onew dengan penuh nanar. Matanya mulai memerah dan berair.

“Ada apa ini?” Jonghyun tiba-tiba datang dari balik pintu cafetaria dan mendapati dua manusia yang dikenalnya sedang bersitegang. “Cho Ikha?” tanyanya pada Ikha—memastikan.

“Dia mencari Key. Dan aku yakin niatnya itu tidak baik,” sela Onew sambil memasang wajah datarnya. Jonghyun menatap Ikha sesaat dan ia berasumsi bahwa yeoja itu sepertinya mengetahui sesuatu yang tak diketahuinya.

Jonghyun berdiri diantara mereka berdua lalu menatap mereka satu per satu. “Lebih baik Hyung lepaskan dulu tanganmu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik,”

“Aku hanya ingin tahu dimana Key,” ucap Ikha cepat. Jonghyun mengerutkan keningnya sejenak dan sedikit menyeringai.

“Dia sedang pergi keluar sebentar untuk membeli ice cream dan..”

“MWO?!” Ikha membulatkan matanya. “Andwae, Aku harus segera pergi,” sambungnya cepat.

“Tunggu, Ikha-sshi. Aku tak akan membiarkanmu pergi sebelum kau menerangkan sesuatu padaku. Sepertinya kau mengetahui sesuatu yang tak kami tahu,” sergah Jonghyun. Ia menggeser tubuhnya untuk menghalangi yeoja itu.

“Aku sudah terlambat,” balas Ikha, masih tak mempedulikan perkataan Jonghyun. Namja itu mendekatkan tubuhnya pada Ikha dan berhasil membuatnya mundur selangkah. Ikha berniat untuk berjalan dari sudut yang berbeda tapi lagi-lagi Jonghyun menggeser tubuhnya, membuat Ikha tak bisa bergerak. “Jangan menahanku, Jonghyun-sshi,” desah Ikha. Kentara sekali kalau kecemasan dan kekhawatiran menyelimuti nada suaranya.

“Aku tidak akan melepasmu,” sergahnya lagi. Onew lebih memilih diam melihat Jonghyun yang sibuk beraksi karena ia yakin dengan kemampuan Jonghyun dalam hal menggoda para yeoja.

Ikha mendorong tubuh Jonghyun sekuat tenaga sampai namja itu sedikit terhempas. “ADA YANG INGIN MEMBUNUH KEY SEKARANG!! KAU PUAS?? JADI SEKARANG LEPASKAN TANGANKU!!” teriaknya.

Jonghyun memutar bola matanya pelan lalu menyeringai ke arah yeoja didepannya. “Jangan bercanda, Ikha-sshi,”

“Apa kau anggap aku ini sedang becanda?” elak Ikha lagi. Matanya kini penuh dengan gedangan air. Ia terlihat cukup mengerikan saat menatap Jonghyun sebab ia membulatkan kedua matanya dan melirik tajam pula ke arah Onew.

Onew hanya tersenyum kecut menanggapi perkataan Ikha. “Memang siapa yang berani membunuh Key, huh? Kurasa kau hanya sedang mengada-ada saja,”

“Kim Jung Hwa,” jawab Ikha. Seketika itu juga Onew dan Jonghyun mengarahkan pandangan padanya seolah menerka-nerka dan bertanya-tanya.

“Tapi… bagaimana bisa…”

“Aku tahu semuanya!!” ucap Ikha memotong perkataan Jonghyun. “Jadi jangan halangi aku untuk bertemu Key sekarang. Aku mohon….” Ikha merengkuh baju Jonghyun lalu meremasnya kasar.

Jonghyun pun jadi mulai percaya dengan perkataan Ikha. Ia memegang kedua tangannya dan berkata, “Baiklah. Pertama-tama kita harus mencari Key dulu. Hyung, tolong hubungi Key. jangan pergi dari tempatnya membeli ice cream sebelum aku sampai disana,” suruhnya pada Onew. Onew hanya mengangguk pelan kemudian berlalu dari tempatnya.

 “Apa ada jalan lain selain pintu depan? Sepertinya sekelompok Shawol disana mengenali wajahku. Dan saat aku melewatinya nanti, mereka pasti tak akan melepaskanku,” ucap Ikha membuyarkan lamunan Jonghyun.

“Tentu. Aku tahu, kkaja~” Jonghyun dengan langkah cepat dan cukup besar berlari menuju pintu samping gedung tersebut diikuti Ikha yang sedikit kesulitan mengikuti langkah Jonghyun. Setelah sampai di pintu tersebut, Ikha segera mencari-cari sebuah toko yang menjual ice-cream terdekat.

“Jonghyun-sshi. Boleh kupinjam handphone-mu?” pintanya.

“Untuk apa?”

“Aku ingin menelfon temanku. Apa kau punya handphone satu lagi? Tolong pastikan dimana Key sekarang,”

“Ne. Aku punya,” Jonghyun menyerahkan handphone SK-nya pada Ikha sementara ia mencoba menelfon Key menggunakan I-phone.

Dengan cepat, jari-jari Ikha menari-nari diatas keypad handphone Jonghyun, mencoba menghubungi seseorang yang yang ia kenal.

“Yeoboseyo?” tanya seseorang dari balik handphone.

“Bisa bicara dengan Yeora? Aku temannya, Ikha,”

“Aigoo~ Ikha-ya. Ini aku, Yeora. Kau kemana saja? Dan kau menelfon menggunakan handphone siapa?”

Saat Ikha akan menjawab pertanyaan Yeora, Jonghyun menepuk pundaknya pelan. Ia menutup handphone dengan tangannya dan menatap Jonghyun seolah bertanya ‘ada apa’.

“Key pergi ke toko ice cream ‘Sweet-Cream’ yang letaknya beberapa block dari sini,” jelasnya. Seketika itu juga Ikha berlari ke arah toko ice cream yang barusan Jonghyun jelaskan. Jonghyun ternyata ikut berlari di belakang Ikha. Di tengah kegiatannya—berlari—tersebut, Ikha memutuskan untuk melanjutkan obrolannya dengan Yeora.

“Mian, Yeo. Aku sedang terburu-buru. Aku akan menjelaskannya setibanya di rumah,”

“Yaaa, kau kemana barusan? Kukira kau menghilang lagi. Appa-ku baru saja akan melaporkanmu ke polisi,”

Ikha menghentikan langkahnya saat ia berhasil menemukan toko ice cream yang berada tepat di seberangnya. Jonghyun dan dirinya berdiri di depan zebra cross sambil menunggu lampu hijau dengan tanda orang yang berjalan menyala.

“Aku sempat disekap Jung Hwa. Tapi aku berhasil lolos. Sekarang aku harus menemui Key karena si physco itu merencanakan sesuatu,” Ikha melanjutkan perbincangannya dengan Yeora.

Jonghyun memutar kepalanya lalu menatap Ikha. “Kau disekap olehnya?” tanyanya tak percaya. Ikha hanya menaruh telunjuk ke bibirnya menyuruh Jonghyun untuk diam. Karena di-cuek-an oleh Ikha, Jonghyun akhirnya memilih untuk mengotak-atik I-phone-nya.

“Apa? Kau disekap? Lalu bagaimana keadaanmu sekarang,” suara Yeora melengking sehingga Ikha harus menjauhkan telinganya dari handphone yang sedari dipegangnya.

“Aku baik-baik saja. sudah kubilang aku ini lebih pintar darinya. Yeora, kau harus tahu seperti apa wajahnya Jung Hwa. Aku melihatnya dan ternyata dia sangat m…..”

Ikha menghentikan kalimatnya saat ia mendapati Key yang baru saja keluar dari toko ice-cream. Namja itu terlihat sedang asik dengan MP4-nya, ear-phone pink-nya pun bertengger lengket di kedua telinganya. Ditambah lagi saat ia melirik ke arah Jonghyun, namja itu masih berkutat dengan I-phone. Ya, tuhan, apakah mereka memang memiliki kebiasaan yang sama?

Tidak, Ikha harus melakukan sesuatu. Ia menerobos ke jalanan meskipun traffic-light belum menyuruh pejalan kaki untuk menyeberang. Ia sempat membuat beberapa kendaraan menabraknya dan mengerem tiba-tiba. Tak lama kemudian, Key berjalan untuk menyebrang setelah lampu untuk pejalan kaki menyala tanpa memperhatikan apapun yang ada disekelilingnya. Ikha memperhatikan sekelilingnya dan benar saja, dari arah yang berlawanan, ada sebuah mobil yang tak menyalakan lampunya dan melaju dengan kecepatan yang cukup cepat. Ia yakin bahwa orang dibalik kemudi tersebut adalah Kim Jung Hwa.

“Dasar bodoh!!” bisik Ikha lirih pada dirinya sendiri. Ia berlari ke arah Key cepat. Tapi ternyata kecepatan mobil tersebut melebihi perkiraannya.

“Tidak…” bisik Ikha sambil terus berlari ke arah Key. Ia mempercepat langkahnya dengan harapan dapat mengungguli kecepatan mobil tersebut. Tapi sepertinya perhitungannya meleset.

“ANDWAE!!!!”

…bersambung…

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesian Blogger | Nusantara Tanah Airku | Don't take 'spice' out of my life |

14 thoughts on “WHO ARE YOU (Chapter 07)”

    1. eh? itu aku salah ketik deh Saeng… Hahaha, sengaja gak di benerin biar aku nyadar sama kesalahan aku sendiri.. Iya tadinya main cast cewe nya namanya Jiyoon tapi diubah jadi Cho Ikha karna beberapa alasan. makanya kadang aku agak bingung juga /loh?

  1. Jiyoon again???? Eon mabuk ya pas bikin ff nie???hehehehe #disumpalpakebibirSuho…!
    Next part….!!!
    Oh ya, T.O.P G.O Eunhyuk Suho Onew bgt….!daebak…!

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s