WHO ARE YOU (Chapter 09)

“Kenapa kau diam saja?” Kembali Jung Hwa bertanya pada Key yang sedari tadi tengah sibuk mengirim sinyal.

“See? Inilah yang membuatku membencimu, Kim Ki Bum. Kau membuatku harus menerima semua kenyataan pahit ini,”

It's Too Late (1)

Key terus saja memandang namja berjaket cokelat itu tanpa berkedip sekalipun. Ia masih bingung dan tak percaya, benarkah itu Kim Jung Hwa? Orang yang selama ini selalu mencoba untuk membunuhnya—lebih tepatnya membuatnya menderita?

“A-ada apa dengan wajahmu?” tanya Key sedikit berbisik. Ia kembali memundurkan tubuhnya menjauhi Jung Hwa. “K-kenapa… kenapa wajahmu mirip sekali denganku?”

Jung Hwa menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Digelengkan kepalanya sesekali sambil mendengus pelan. “Kau belum mengerti juga rupanya,” ucap Jung Hwa disertai tawa menghinanya.

Key menelan ludah untuk mengusir rasa haus yang tiba-tiba melandanya. Tenggorokannya serasa kering seketika. “Apa kau salah satu fans-ku sampai-sampai kau rela melakukan plastic surgery agar wajahmu mirip denganku?” tanya Key percaya diri. Padahal dalam hati ia dilanda  shock yang tak terkira.

Jung Hwa mendengus untuk kedua kalinya. Yeah, setiap kali ia mendengar Key, setiap kali itu pula ia mendenguskan nafasnya, meremehkan Key. “Kau fikir aku akan menghabiskan waktu, uang dan tenagaku hanya untuk melakukan plastic surgery demi mendapatkan wajah ini? jawabannya ‘tidak’—“ jelasnya dengan nada yang pelan namun tegas.

“AKU MEMBENCI WAJAH INI, KIM KI BUM!!! TUHAN MEMANG TIDAK ADIL!! KAU TAK TAHU BETAPA AKU BEGITU MENDERITA SELAMA INI KARENA WAJAH INI!!” teriak Jung Hwa histeris dan membuat Key sedikit terperanjat. Key hanya tertegun di tempat. Masih sulit baginya untuk mempercayai semua ini.

“Apakah namja yang ada di foto bersama Ikha itu adalah kau?” Key mengalihkan pembicaraan (baca part 3).

Jung Hwa menggerakkan kepalanya dengan maksud meregangkan otot-otot di lehernya yang terasa kaku. “Ne, kau benar. Namja yang berfoto bersama Nona Cho adalah aku, dan namja yang menyewa mobil untuk membunuhmu pun adalah aku. Untuk kali itu—selama hidupku—aku benar-benar bersyukur karena telah dikarunia wajah sepertimu,” terangnya dengan nada yang mulai menurun.

“Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa memiliki wajah sepertimu,” Jung Hwa memperhatikan kuku jarinya sekilas lalu melanjutkan kembali kalimatnya. “Akan kuceritakan, asal kau menjadi pendengar setiaku kali ini,”

Key menggerakkan kepalanya membentuk sebuah anggukan kecil. Earphone-nya pun kini hening seketika, seolah orang-orang yang bersembunyi di sekitar lapangan tersebut ingin mendengarkan cerita namja yang ternyata berwajah serupa dengannya.

“Tahu kah kau kalau eomma kita sebenarnya memiliki sepasang anak kembar?” tanya Jung Hwa mengawali pembicaraan. “Dua puluh tahun yang lalu, Nyonya Kim melahirkan dua orang bayi laki-laki kembar di Daegu Hospital. Namun, karena Sang Appa ingin memiliki seorang anak perempuan, akhirnya beliau memutuskan untuk membawa salah satu anaknya ke luar negeri untuk diurusi dan dirawat dengan baik. Yeah, aku juga bingung dengan peraturan Pemerintah Korea yang mengharuskan warganya untuk memiliki dua orang anak saja dan tidak boleh lebih. Peraturan yang sangat konyol kurasa.

“And finally, aku terpilih untuk dibawa ke luar negeri dan dirawat oleh seorang warga negara Korea yang tinggal di Paris. Dan sayangnya, seseorang menculikku saat aku masih berumur tiga tahun dan menjualku. Aku tumbuh di atas keadaan yang kacau balau. Aku seperti gelandangan, hidup di jalanan, mencopet, bahkan mencuri demi bisa melanjutkan hidupku yang merana itu.

“Bagaimana rasanya jika kau menjadi orang yang terbuang? Tidak diinginkan oleh orang – tuamu dan diacuhkan oleh orang – orang? Itulah yang kurasakan selama kurang lebih tujuh belas tahun. Aku terlantar tanpa ada seorangpun yang mempedulikanku. Berjalan kian kemari tanpa tahu arah tujuanku.

“Awalnya aku sudah menyerah karena sampai saat itu aku tidak tahu jati diriku yang sebenarnya. Tapi saat kulihat seseorang di layar televisi, aku yakin jika dia adalah kunci dari semua jawaban yang aku cari. Lalu aku semakin yakin lagi ketika aku mengetahui sebuah fakta yang sangat mengejutkanku kalau orang itu benar-benar orang yang telah membuatku menderita selama ini,”

Jung Hwa menghentikan perkataannya sejenak untuk memandangi langit yang diterangi sinar rembulan. Sedangkan Key? Ia lebih memilih untuk diam, mencermati setiap kata yang Jung Hwa ucapkan dengan baik. Setelah  cukup puas menghirup oksigen, namja itu kembali melanjutkan ceritanya…

“Saat tahu bahwa kau memang saudara kembarku, aku semakin mengorek-ngorek informasi tentangmu dari berbagai sumber. Aku datang jauh-jauh dari Paris ke Korea untuk memperhatikan setiap gerak-gerikmu—karena pada saat itu kau baru saja debut menjadi salah satu member boyband—yang sangat booming di Korea. Hallyu Wave ternyata sudah sampai ke Paris sejak dulu. Tanpa sepengetahuanmu, kudapat sehelai rambutmu dan langsung kubawa ke rumah sakit untuk cek DNA. Hasilnya? 99,67% DNA kita memiliki kemiripan.

“Sengaja kusembunyikan wajahku hingga aku benar-benar mempunyai bukti bahwa kau memang saudaraku, saudara kembarku. Dan saat aku mengetahui fakta yang sebenarnya, kenyataan itu seolah menusuk setiap rongga di tubuhku. Sakit rasanya….

“Aku membenci Tuan Kim yang telah membuangku. Aku juga membenci Nyonya Kim yang dengan suka hati menyetujui permintaan suaminya. Sungguh, dia tidak memiliki hati layaknya seorang ibu. Terlebih lagi aku sangat membencimu karena kau yang terpilih menjadi ‘anak tunggal’ keluarga Kim. Kenapa harus aku yang terbuang? Bukankah Nyonya Kim sampai saat ini tidak berhasil memiliki seorang anak perempuan? Harusnya aku ada diantara kalian saat itu—hingga sekarang!!

“Selama tujuh belas tahun aku terkapar di jalanan—mengais-ngais makanan dari orang-orang, sedangkan kau? Kau menikmati segalanya… segalanya yang seharusnya kunikmati juga. Seharusnya akulah yang menjadi seorang Kim Ki Bum. BUKAN KAU!!!”

Key menundukkan kepalanya, kedua tangannya meremas rambutnya pelan sambil terus menggeleng tak karuan. “Kau bohong…” lirihnya. “Orang-tuaku hanya memilikiku—”

“Tapi kenyataan berkata lain…” potong Jung Hwa kilat. “Kau harus tahu betapa kedua orang-tuamu yang selama ini menyayangimu adalah sepasang monster yang tak punya hati nurani,” lanjutnya lagi.

“Jangan menghina kedua orang-tuaku, Kim Jung Hwa!!” hardik Key sambil mendongakkan kepalanya.

Jung Hwa memutar bola matanya lalu tertawa pelan. “Orangtuamu? Bukankah mereka orangtua kita berdua? Dan setelah kuceritakan semua ini pun, kau masih saja menyebut mereka ‘orangtuamu’?” ledeknya puas.

“Kalau memang semua itu benar seperti yang kau ceritakan, lalu kenapa kau sangat membenciku sampai-sampai kau ingin membunuhku? Seharusnya kau sadar siapa yang telah membuatmu menderita selama ini,” elak Key mencoba menyadarkan Jung Hwa.

“Asal kau tahu, Kim Ki Bum. Kuhabiskan hidupku selama ini untuk mencari orang-orang yang telah membuatku menderita. Dan pencarianku ternyata tidak sia-sia. Pertama, aku telah membunuh orang yang telah menjualku ketika aku kecil. Kedua, aku telah membunuh orang yang dengan cerobohnya menjagaku sehingga aku bisa diculik orang yang telah kubunuh itu. Dan ketiga—dan mungkin pembunuhan yang terakhir—aku ingin membunuhmu untuk melengkapi kebahagiaanku ini,” terangnya panjang-lebar.

Kini Key menyunggingkan senyum kecutnya dengan maksud merendahkan Jung Hwa. “Neo micheosseo? Apa untungnya jika kau berhasil membunuhku, eh?”

“Apa kau masih belum mengerti, Kim Junior?” tanya namja itu sambil memiringkan kepalanya. “Kau seharusnya sadar bahwa kita memiliki wajah yang sama—kecuali model rambut kita saja yang agak berbeda. Dengan membunuhmu, aku bisa meneruskan kehidupan glamour-mu ini sebagai seorang ‘Key’. Mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtua yang selama ini tak pernah kudapatkan, memiliki ketenaran yang tiada tara, uang, para yeoja, semuanya! Dan kau akan dilupakan dan terlupakan,”

Jung Hwa menyisir rambut blonde-nya halus dengan jemarinya lalu berkata, “Aku tak kalah tampan darimu. Ditambah lagi, aku lebih pintar dan lebih jenius darimu. Jadi tak akan ada seorang pun yang akan mencurigaiku. Wow, what a brilliant idea!”

Key lagi-lagi memutar bola matanya dan tersenyum. “Memang benar apa yang dikatakan Ikha-sshi padaku,” gumamnya namun masih bisa didengar oleh Jung Hwa. Namja itu terlihat mengangkat alisnya keheranan.

“Kau ini terlalu pintar dan jenius sehingga membuat otakmu malah overload dan tak berfungsi sebagaimana mestinya,” ejek Key. Ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya dengan santai.

“What did you say?” tanya Jung Hwa memicingkan telinganya.

“Kalau kau memang membenciku, kenapa kau tidak memasang bom di dorm-ku, atau memutuskan rem mobilku sehingga aku bisa mati mengenaskan seperti yang kau inginkan selama ini?” jawab Key antusias.

Jung Hwa menggerakkan telunjuknya. “A-a-a-a, sudah kukatakan berkali-kali padamu, Kim Junior. Aku ingin melihatmu menderita terlebih dahulu. Bisa saja aku membunuhmu sejak dulu, tapi aku ingin sedikit bermain-main dengan saudara kembarku. Apa kau tak pernah merasakan kehadiranku selama ini, Kim Junior? Bukankah ikatan batin sepasang saudara kembar itu sangatlah kuat?”

“Kau gila…” bisik Key memasang wajah menjijikannya pada namja yang menjadi saudara kembarnya itu.

Udara kosong di sekitar lapangan Myeongdong kini terisi oleh suara tawa Jung Hwa. “Come on, Kim. Kau seharusnya senang karena sebelum ajalmu tiba, kau bisa melihat saudara kembarmu yang telah terpisah cukup lama ini. Lagipula sekarang tidak ada lagi orang yang akan menghalangiku untuk menuntaskan semuanya. Termasuk Nona Cho,”

Key mengeluarkan evil-smirk-nya. “Kurasa kau memang mengidap penyakit kelainan jiwa,”

“YA! Kau memang benar-benar ingin cepat mati rupanya!” geram Jung Hwa lalu merogoh kantung jaketnya. Ia mengeluarkan sebuah benda berwarna hitam dan menjulurkan tepat ke arah wajah Key.

Key membulatkan kedua matanya saat mendapati sebuah pistol hitam di tangan Jung Hwa yang mengarah padanya.

“Say ‘hella’ to the Hell, my brotha~” senandung Jung Hwa disertai senyumnya. Baru saja namja itu akan menarik pelatuknya, tiba-tiba…

“ARGH!!” Jung Hwa—yang sedari tadi terlihat santai—tiba-tiba mengerang kesakitan. Ia memegangi tangan kanannya yang tengah memegang pistol dan meringis kesakitan. Ia kembali mengerang saat sesuatu mengenai kaki kirinya yang membuatnya jatuh tersungkur ke tanah.

“Ya! Apa yang kalian lakukan?” tanya Key berbicara pada orang diseberang earphone-nya sambil mengeratkan earphone di telinganya.

“Dia akan membunuhmu, jadi kami tembak saja orang itu,” terdengar suara Tuan Jeon lewat earphone-nya samar-samar.

“Hentikan, Tuan Jeon. Dia saudaraku. Jangan tembak lagi, kumohon,” tukas Key agak keras. Ia masih menekan earphone-nya kencang agar suara Tuan Jeon dapat terdengar jelas sambil bergerak mendekati Jung Hwa yang tengah terkapar menahan sakit di kedua organ tubuhnya.

“Tidak. Dia berbahaya, Key. Jangan mendekat!” suruh Tuan Jeon. Seolah tak mendengar perintah kepala polisi tersebut, Key tetap berjalan menghampiri Jung Hwa yang sedari tadi masih mengerang tak karuan. Ia duduk dengan bertumpu pada kedua lututnya sambil mengamati keadaan ‘saudara kembarnya’.

“Jung Hwa, gwenchanayo?” tanya Key agak gelisah. Meskipun sejak awal ia memang ingin melihat si ‘peneror’ dirinya terkapar seperti ini, namun ia tak pernah menyangka bahwa yang melakukan semua ini adalah saudaranya sendiri, saudara yang telah menghilang selama puluhan tahun.

Dilihatnya Jung Hwa yang tengah tersenyum dan berusaha membuka kedua kelopak matanya untuk melihat Key. “Bahkan disaat malaikat kematian akan menjemputmu pun kau masih saja bersikap sok baik padaku,” lirih Jung Hwa tertahan.

Key mengerutkan alisnya perlahan karena ia sama sekali tak mengerti dengan perkataan Jung Hwa. Namun sedetik kemudian ia mulai mengerti apa yang namja itu maksud barusan saat namja berambut blonde itu meraih pistol yang ada di tangan kanannya dan mengeratkan benda tersebut oleh tangan kirinya yang bebas.

Dengan perlahan, Key mencoba berdiri dari tempatnya kemudian berjalan dengan sangat perlahan ke belakang dengan maksud menghindari pistol Jung Hwa yang mengarah tepat pada wajahnya. Tanpa mereka berdua sadari, beberapa team-safer dan polisi yang tak terkena ledakan bom kecil yang dipasang Jung Hwa berjalan dengan sangat hati-hati ke tengah lapangan.

“KIM JUNG HWA! TURUNKAN SENJATAMU! KAU SUDAH TERKEPUNG!” Suara Tuan Jeon terdengar dari balik speaker mini yang ia gunakan sebagai alat komunikasi. Minho dan Taemin ikut berjalan ke arah Key dengan beberapa polisi dan safer-team yang mengelilingi mereka.

Jung Hwa melirik sebisanya ke sekelilingnya. Nafasnya masih tak beraturan karena dua tembakan yang mengenainya. Kesempatan itu Key pakai dengan berjalan mundur untuk membuat jarak sejauh mungkin dengan Jung Hwa.

“Aku tidak ingin mati sia-sia, Kim Ki Bum. Kalau aku mati, kau juga harus mati,” Dengan mantap Jung Hwa mengangkat tangannya lalu mulai menarik pelatuk pistolnya.

“ANDWAE!!!” teriak Minho tak karuan. Ia tahu bahwa Key telah memakai beberapa benda pengaman di tubuhnya, namun ia berusaha menerobos pasukan team-safer agar dapat meraih Key dan melindunginya. Namun…

“ARRGGHH!!!” Key memegang bagian tubuhnya yang tak tertutupi alat pengaman serta jaket antipeluru yang mulai mengeluarkan banyak darah. Tubuhnya sedikit terpental ke belakang sebelum ia benar-benar jatuh berdebam ke tanah.

Safer-team dan polisi melancarkan tembakan bertubi-tubi pada Jung Hwa yang tengah terkapar di tanah. Membuat namja itu perlahan kehilangan kesadarannya. Beberapa polisi mengelilingi tubuh Jung Hwa yang tengah tak sadarkan diri sambil mengarahkan senapan mereka padanya.

Minho, Taemin, Choi Jin dan Tuan Jeon berlari menghampiri Key yang tengah memegangi pundaknya. Sedari tadi ia tak berhenti mengeluarkan suara rintihan dari mulutnya.

“HYUNG!!!” Taemin segera bersimpuh didekat Key. Sengaja ia angkat tubuh hyung-nya itu lalu menyenderkan kepala Key diatas pahanya.

“Arrgghh…” rintih Key untuk kesekian kalinya. Minho menyingkirkan tangan Key yang terus memegang pundaknya dengan perlahan. Betapa terkejutnya Minho saat mengetahui darah segar mengucur deras di sekitar pundak Key. Ya, tembakan Jung Hwa tepat mengenai pundak dekat leher Key yang tak tertutupi jaket antipeluru.

“Omo~ Key…” Minho meringis melihat keadaan Key yang mengerikan. “Manager Hyung, Tuan Jeon, tolong telefon ambulance segera!!” perintah Minho tanpa berfikir lagi. Choi Jin meraih handphone-nya lalu menekan tombol darurat.

“Bertahanlah, Key,” bisik Minho sambil menggenggam tangan Key. Key hanya terus merintih kesakitan sambil mengeratkan kedua matanya.

“Ergh, hyung. Sepertinya ada yang membasahi celanaku. Bisa tolong kau arahkan layar handphone-mu? Cahaya disini terlalu buruk,” ucap Taemin disela kegiatannya menahan tubuh Key. Minho mengarahkan layar handphone-nya untuk mengetahui benda apa yang telah membasahi celana Taemin.

“Omo! Taemin-ah!!” Minho menunjuk celana Taemin yang basah menggunakan handphone-nya. Seketika Taemin langsung meringis melihat pemandangan tersebut.

“Hyung…..” bisik Taemin pada Key, berusaha untuk tetap membuat hyung-nya terjaga sampai ambulance tiba. Ternyata celana Taemin telah dibanjiri oleh darah yang mengalir dari pundak Key.

Key mengeluarkan hembusan nafas beratnya sesekali, wajahnya kini terlihat pucat karena terlalu banyak kehilangan darah. Dan tak lama setelah itu, nafas Key terdengar sangat halus, bahkan tak terdengar sedikitpun oleh telinga lebar milik Minho.

“Key….” sahut Minho was-was. Ia berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa Key masih baik-baik saja.

“Key…” tetap tak ada jawaban dari namja tersebut.

“Andwae… Key hyung….” Kini Taemin yang bersuara. Ia sedikit menggoyangkan tubuh Key yang terbaring lesu di pahanya.

“HYUNG!!!!”

@@@

“Engh..”

Key mengeluarkan suaranya pelan. Gerakannya yang tiba-tiba membuatnya langsung meringis memegangi pundaknya yang kini terbalut oleh sesuatu yang dirasanya sangat halus.

“Syukurlah kau sudah sadar,” ucap seseorang disamping tempat Key terbaring dengan sangat antusias. Key mencoba membuka matanya untuk melihat si pemilik suara yang sangat familiar di telinganya.

Dilihatnya sang manager, Minho dan Taemin yang tengah menatapnya cemas. Ia pun berusaha untuk merubah posisinya. Dengan dibantu oleh Minho, ia berhasil duduk diatas tempat tidurnya sambil terus menahan sakit di pundaknya. Matanya memandangi sekelilingnya, dan ia dapat mengambil kesimpulan kalau sekarang dirinya tengah berada di rumah sakit.

“Hyung, aku sangat senang kau masih hidup,” Taemin menggenggam jemari Key yang langsung disambut sebuah senyuman darinya.

“Bagaimana dengan Onew hyung dan Jonghyun hyung?” tanya Key lalu menyenderkan kepalanya pada senderan tempat tidur.

“Mereka baik-baik saja. Bom kecil itu hanya membuat Onew hyung terpental saja. Tapi kaki Jonghyun hyung terkena ledakan bom, untungnya hanya luka pada kulitnya. Kalau sampai kaki hyung yang patah, apa jadinya nanti?” oceh Taemin tiada henti.

“Lalu? Kim Jung Hwa?” Pertanyaan Key membuat mereka semua langsung terdiam.

“Dia ditangkap dan sekarang diamankan oleh polisi,” terang Choi Jin.

Key melirik tajam ke arah Choi Jin, “Mereka tidak membunuhnya ‘kan?”

Choi Jin balas menatap Key, “Anniya. Mereka hanya menembak peluru yang berisi obat pelumpuh tubuh,” jelasnya lagi. “Kau tahu bahwa dia adalah orang yang ingin membunuhmu selama ini, tapi kenapa kau melarang kami untuk membunuhnya?” imbuh Choi Jin gemas.

Key hanya tersenyum kecut, “Bagaimanapun juga, dia adalah saudaraku, hyung. Saudara kembarku,” gumam Key sambil menutup matanya.

“Sebenarnya, aku ingin menanyaimu tentang twins-mu itu, sekilas tadi kulihat dia sangat mirip denganmu. Tapi kalau aku cerita sekarang, sifat cerewetmu itu pasti akan keluar dan aku sekarang sedang malas mendengar ocehanmu,” sela Minho untuk mencairkan suasana.

“Ah, ruanganmu bersebelahan dengan Ikha-sshi. Kau ingin menjenguknya? Dia baru saja selesai operasi,” tambah Minho cepat.

“Jinjja?” Key membuka matanya, tertarik dengan perkataan Minho. Minho mengangguk mantap.

“Ya! Kau jangan keluar dulu, Key. Kau harus banyak istirahat. Lihat! Tanganmu saja kini tersambung dua selang infus. Lagipula diluar banyak sekali reporter dan paparazzi yang ingin menemuimu. Fiuh, ternyata beritanya cepat sekali menyebar,” dengus Choi Jin menggelengkan kepalanya.

“KIM KI BUM!!” suara teriakan dua orang manusia dibalik pintu berhasil membuat mereka berempat menoleh seketika. Sosok itu adalah kedua orangtua Key. mereka tergesa-gesa masuk kedalam ruang VVIP tersebut dengan wajah yang melukiskan kecemasan yang sangat.

“Oh, Tuan dan Nyonya Kim. Annyeong Haseyo,” sapa Choi Jin lalu membungkukkan tubuhnya diikuti Minho dan juga Taemin.

“Kami langsung terbang dari Amerika setelah mendapatkan telefon darimu, Jin-sshi,” ucap Nyonya Kim terengah-engah.

Nyonya dan Tuan Kim memandang cemas kearahnya tanpa berkedip sedikitpun. Namun berbeda dengan kedua orangtua-nya, Key memilih menatap datar pada kedua manusia itu. Ia mengalihkan pandangannya pada Choi Jin, dan seolah mengerti arti dari tatapan tersebut, Choi Jin mengajak Minho dan Taemin untuk keluar dari ruangan tersebut, memberikan sedikit privasi untuk keluarga kecil itu.

“Kau baik-baik saja, Nak?” tanya Tuan Kim seraya meraih tangan Key. Sebelum namja tua itu menggenggam tangannya, dengan kasar Key menepis tangan appa-nya itu lalu memalingkan wajahnya ke arah lain asal tidak memandang kedua orang-tua-nya.

“Waeyo?” Nyonya Kim berusaha untuk merengkuh pipi Key dan lagi-lagi namja itu menepisnya kasar.

“Selama ini ternyata aku dibohongi oleh kedua orang-tua-ku sendiri,” gumam Key. Matanya menatap tajam Tuan dan Nyonya Kim satu-per-satu.

“Kami bisa menceritakan hal yang sebenarnya padamu, Nak. Asal kau mau mendengarkan kami,” bela Nyonya Kim sedikit memohon.

“Terlambat,” lagi-lagi Key bergumam. “Eomma dan Appa tak tahu bagaimana keadaanku beberapa minggu ini karena ulah ‘anakmu-yang-satu-lagi’. Aku hampir saja mati berkat semua percobaannya untuk membunuhku,”

Key menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan kembali bicara. “Urusi saja pekerjaan kalian di Amerika dengan baik. Manager hyung serta member SHINee yang lain bisa mengurusku,” imbuhnya lalu mengembalikan posisi tubuhnya semula—berbaring di tempat tidur.

“Kami sangat mencemaskanmu, Key. Apakah salah jika Appa datang menemui anak kandungnya sendiri?” elak Tuan Kim memaksa.

Key meletakkan kedua tangan di telinganya lalu mengeratkannya dengan maksud agar tak bisa mendengar kata-kata kedua orang-tua-nya—meskipun ia masih dapat mendengar dengan jelas. “Lebih baik kalian temui ‘saudara kembarku’ terlebih dulu. Setelah itu kita bisa membicarakan masalah ini saat aku telah pulih dan diperbolehkan untuk pulang,”

“Tapi, Nak—“

Kalimat Nyonya Kim seketika itu juga langsung terhenti saat Key mengeratkan kedua matanya dan bertindak seolah-olah tak mempedulikan mereka. Tuan dan Nyonya Kim akhirnya memutuskan untuk pergi dari ruangan tersebut, meninggalkan Key yang perasaannya sedang berkecamuk tak karuan.

@@@

Key meraih selang infus yang terhubung antara punggung tangannya dengan sebuah plastik* yang berisi darah segar yang tergantung di samping tempat tidurnya. Setelah menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, ia berniat untuk pergi ke ruangan sebelah untuk menjenguk Ikha.

“Mau kemana, Nak? Kau jangan terlalu banyak bergerak,” Nyonya Kim tiba-tiba muncul dari ruangan lain yang ada didalam kamar tersebut. Ia menghampiri Key membantunya untuk berjalan.

“Aku bisa melakukannya sendiri,” elak Key dengan suara yang sangat datar. Perlahan Nyonya Kim mengendurkan genggaman tangannya dan menatap anaknya nanar.

“Eomma tahu, Eomma memang bersalah atas semua kejadian ini. Tapi, Key, bisakah kau tidak mengacuhkan Eomma? Eomma sangat mengkhawatirkan keadaanmu,” ucap Nyonya Kim lirih. Suaranya agak sedikit bergetar.

Key memakai sendal khas rumah sakit yang ada disamping tempat tidur lalu berdiri untuk mensejajarkan tubuhnya dengan sang eomma. “Aku sayang Eomma. Hanya saja….” Key menghentikan kalimatnya sesaat untuk menyunggingkan senyum terpaksanya. “…hanya saja saat ini aku belum bisa menerima kenyataan ini. Jadi, kumohon, beri aku waktu untuk menenangkan fikiranku, Eomma,”

Nyonya Kim terlihat mengangguk perlahan, airmata mulai menggenang di kedua pelupuk matanya. Sebelum benar-benar pergi, Key mengecup kening eomma-nya dengan hangat.

“Jangan pergi terlalu jauh, Key. Paparazzi dan wartawan masih mengelilingi rumah sakit ini,” suruh Nyonya Kim dan dijawab dengan sebuah anggukan kecil dari Key.

@@@

“Ya! Bastard!” teriak Onew dari balik punggung Key. Namja yang merasa namanya disebut itu langsung menoleh ke belakang. Dilihatnya Onew yang tangan kanannya terbalut perban berjalan cepat ke arahnya.

“Eodiga isseoyo? Bukankah ruanganmu disana?” tanya Onew sambil mengarahkan telunjuknya pada pintu kamar sebelah.

“Aku ingin menjenguk Ikha,” jawab Key sekenanya.

“Eh? Memang dia sudah selesai operasi?” Onew mengerutkan keningnya kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.

“Ne. Tadi siang Minho memberitahuku kalau dia sudah selesai operasi. Aku ingin menjenguknya. Aku merasa bersalah padanya. Kau tahu? Karena Jung Hwa—“

“Ya, ya, ya… aku sudah tahu. Baiklah, aku ikut. Aku juga harus meminta maaf padanya karena selama ini aku selalu bersikap tidak begitu baik padanya. Kau tahu? Aku selalu mengira bahwa dia memiliki niat buruk padamu. Masalah Jung Hwa yang—“

“Ya, ya, ya… aku sudah tahu, hyung,” Kini giliran Key yang memotong kalimat Onew. Mereka berdua terkekeh pelan disela langkah mereka.

“Kau tidak ada jadwal hari ini?” tanya Key mengalihkan pembicaraan. Onew hanya menggeleng pelan sambil mengelus tangannya yang terbalut perban.

“Hanya Minho dan Taemin. Aku dan Jonghyun—dan kau juga tentunya—tidak akan mengikuti beberapa jadwal sampai benar-benar pulih. Lihat, aku tak bisa tampil di acara televisi karena perban ini membuatku terlihat konyol,”

Key hanya terkekeh pelan mendengar ocehan Onew. Sampai mereka tak sadar kalau mereka sudah sampai di kamar Ikha. Saat Key membuka pintu tersebut, ia mendapati sesuatu yang membuatnya terhenti di tempatnya.

“Ruangan ini kosong….” bisiknya pada diri sendiri. “Kemana dia??”

Onew ikut memperhatikan ruangan tersebut seksama. “Mungkin kamarnya dipindahkan?” katanya sedikit ragu. “Lebih baik kita ke ruangan Jonghyun. Kamarnya tidak jauh dari sini. Kkaja,”

Onew menarik tubuh Key menyuruhnya untuk mengikutinya. Tepat tiga menit mereka menghabiskan wktu berjalan di lorong rumah sakit yang cukup sepi itu, akhirnya mereka sampai juga di ruangan Jonghyun.

“Ya! Ya! Ya! Apa yang kalian berdua lakukan disini, hah?” Onew kembali berteriak melihat Yeora yang tengah menyuapi Jonghyun makan malamnya. Mendengar teriakan Onew membuat Yeora segera menghentikan tangannya yang sedang memegang sendok yang berisi nasi. Tanpa merasa risih sedikitpun, Jonghyun meraih tangan Yeora lalu menuntunnya untuk menyuapi nasi tersebut ke mulutnya. Otomatis wajah Yeora pun memerah seperti tomat melihat kelakuan Jonghyun.

“Yaaa, igeumwoya? Yeora-sshi, kenapa kau ada di kamar Jonghyun hyung? Bukankah harusnya kau bersama Ikha sekarang? Dan kau, hyung. Kemana kedua orang-tua-mu? Kenapa hanya kalian berdua saja yang ada dikamar ini? Bukankah tidak baik jika seorang yeoja berada di kamar dengan seorang namja? Apalagi namja itu ternyata kau, hyung! Kau benar-benar mencari kesempatan setelah putus dari Se Kyung Noona. Omo, bagaimana bisa kalian be—emmmphh,”

Onew segera menutup mulut Key yang sedari tadi tidak menghentikan ocehannya yang panjang itu. Yeah, sepertinya penyakit rewelnya kembali kumat. Lihat saja, Jonghyun dan Yeora bahkan sampai menutup kedua telinga mereka bersamaan.

“Dasar halmoni!” ejek Jonghyun sambil mendelik—pura-pura—kesal.

Yeora melepaskan tangan yang menempel di telinganya. “Kukira sifat cerewetmu itu hanya karakter yang dibuat-buat oleh manager dan juga member SHINee. Ternyata tidak, aku baru tahu kalau Key memiliki seratus mulut manusia sekaligus,”

Key melepaskan tangan Onew lalu memberenggut kesal. “Ya!” Key berniat untuk memukul kaki Jonghyun yang kini terbungkus gips, namun Onew menepuk pundaknya pelan. Key pun langsung mengerang dan berteriak memaki Onew karena luka bekas jahitannya masih terasa sangat menyakitkan.

Jonghyun tertawa pelan sambil menutup mulut menggunakan punggung tangannya. “Eomma sedang pergi makan malam dengan eonni-ku. Kasihan, seharian mereka menemaniku tanpa beranjak sedikitpun dari kamarku. Untung Yeora datang, jadi dia yang menggantikan Eomma menjagaku,” terang Jonghyun membela diri.

Kini pandangan Key teralihkan pada Yeora. “Dan kau? Kenapa kau bisa kesini?” tanya Key sinis.

“Wae? Tidak suka? Kau itu hoobae-ku di kampus. Jadi sopanlah sedikit padaku,” bela Yeora lalu bermehrong ria.

Key hanya mendengus pelan sambil berjalan pelan ke arah sofa yang tak ditempati itu. “Ah, Yeora-sshi. Tadi kulihat kamar Ikha kosong. Apakah dia dipindah ke kamar lain?” tanya Key sambil membolak-balik majalah fashion yang tergeletak diatas meja.

“Eh? Memangnya kau belum tahu?” Jonghyun balik bertanya. Key hanya menatap Jonghyun sekilas lalu kembali berkutat dengan majalah tersebut. “Ikha baru saja keluar dari rumah sakit,” lanjut Jonghyun lalu memasukkan sesendok penuh nasi yang dijulurkan oleh Yeora.

Key menghentikan pergerakan tangannya yang sedari tadi sibuk membolak-balik majalah seketika. “Mwoya?”

Seolah mengetahui kekagetan Key, Yeora memutar tubuhnya menghadap namja tersebut dan mulai menerangkan, “Orang-tua Ikha tiba di Korea tadi pagi. Setelah operasi di kepalanya selesai, Abeonim memutuskan untuk membawa Ikha ke Amerika untuk pengobatan lebih lanjut,”

“Mworago?” tanya Key lagi. Ia mengorek-ngorek telinganya cepat. “Aku tidak salah dengar ‘kan?” sambungnya. Yeora mengangguk pelan disertai desahan nafasnya yang berat.

“Abeonim mengetahui semua berita tentang Ikha di televisi. Kau tahu ‘kan? ‘Superhero for SHINee Key’? Semua orang di dunia membicarakan kecelakaan yang menimpa Ikha saat dia mencoba menolongmu. Aku sudah menerangkan kejadian yang sebenarnya pada Abeonim, tapi Abeonim bersikukuh untuk membawa Ikha pergi dari Korea. Dia bilang disini tidak aman baginya,” ucap Yeora panjang-lebar.

“Tapi—“ Key menghela nafas terlebih dahulu sebelum melanjutkan kalimatnya. “—aku belum sempat bicara dengannya. Aku belum sempat mengucapkan terima kasihku padanya, dan aku—“

“Urungkan saja semua niat baikmu itu, Key. Bukankah aku sudah mengatakannya padamu kemarin? Kemungkinannya hanya dua. Pertama, Ikha akan sembuh tapi dengan sedikit amnesia atau cacat seumur hidup di tubuhnya. Kedua—dan point inilah yang paling kubenci—sahabatku itu tidak akan selamat,” ucap Yeora sendu. Ia mengucapkan beberapa kalimat terakhir dengan nada yang semakin rendah. “Operasi di kepalanya berhasil, namun ada beberapa sel saraf otaknya yang mungkin tidak akan berfungsi dengan baik. Dan lagi, beberapa retak di tu—“

“Jangan lanjutkan!” potong Key cepat sambil mengangkat tangannya. “Aku sudah tahu. Kau sudah memberitahuku kemarin,” lanjutnya tanpa menatap Yeora sedikitpun.

Yeora menghampiri Key kemudian memposisikan dirinya duduk disamping namja tersebut. Yeoja itu menyunggingkan senyumnya pada Key, meskipun senyum itu terlihat agak dipaksakan. “Kau tahu? Aku sangat ‘sallut’ pada chingu-ku itu. Karena demi seorang ‘Key’, dia mau merelakan apapun—bahkan nyawanya sendiri—untuk melindungimu. Kalau aku berada diposisinya sekarang, aku tidak akan melakukan hal bodoh itu demi menolong seorang Jonghyun,” ujar Yeora sambil melirik Jonghyun yang terbaring kaku di tempat tidur.

“Ya! Kau pengkhianat, Yeora-ya! Aku ragu kalau kau itu adalah fans-ku,” hardik Jonghyun yang dibalas dengan seringaian kecil dari Yeora.

“Mungkin kau tidak akan bertemu lagi dengannya. Begitu pula denganku. Aku tidak akan bisa bertemu dengannya. Bahkan aku ragu ia akan mengingatku. Tapi satu hal yang harus kau tahu, Key—“ Yeora mengusap pundak Key dengan halus, membuat namja itu mengalihkan pandangan yang semula ia arahkan ke jendela menjadi ke mata Yeora. “—Ikha sangat mencintaimu,” ucap Yeora sedikit berbisik.

Key tertegun sesaat. Yeah, dia akui kalau Ikha memang salah satu fans-nya. Seorang fans pasti akan melakukan berbagai cara agar idolanya tetap bahagia. Tapi untuk yang satu ini ceritanya lain…

Jelas sekali oleh kedua matanya bahwa Ikha telah melakukan apapun demi dirinya. Tapi yang membuat Key tertegun adalah, fakta yang menyebutkan bahwa dirinya tak mampu membalas apa yang telah Ikha lakukan padanya. Bahkan kesempatan untuk berterima kasih atau bertemu dengannya pasca tabrak-lari itupun tak ada.

“Yeora-sshi,” sahut Key kemudian menundukkan kepalanya.

“Ne?”

“Aku sangat bersalah padanya. Eotteokhae?” ucap Key lirih sambil menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.

Yeora mengelus punggung Key pelan. “Tenang saja, Ikha pasti akan memaafkanmu,” jawab Yeora lalu melemparkan senyumnya pada Key yang kini tengah memperhatikannya.

“Eotteokhae?” tanya Key lirih untuk kedua kalinya…..

@@@

13 bulan kemudian…

“ANDWAE!!” teriak Jonghyun histeris. Dilemparnya kertas yang barusan ia pegang ke sembarangan arah. “KENAPA HARUS INDONESIA, HAH?” teriaknya untuk kedua kali, membuat Choi Jin menatap keheranan.

“Ini sudah keputusan dari Sooman Sunbaenim, Jonghyun-ah. Lagipula peminat Kpop disana sangat banyak. Manfaatkan kesempatan ini dengan baik untuk promo album terbaru kalian,” bujuk Choi Jin meyakinkan anak didiknya itu.

“Sebenarnya Jonghyun memiliki kenangan tersendiri dengan negara tropis itu, Hyung. Kau tahu? ‘Penyerangan Shawol’ pada malam kepulangan kita setelah acara KIFF dua tahun yang lalu?” terang Onew pada Choi Jin sembari menggerakkan tangannya tak jelas.

“Ye, ye, Arasseo. Tapi ini sudah keputusan SM. Lebih baik kalian persiapkan semuanya dengan baik untuk konser nanti,” ucap Choi Jin kemudian berlalu dari tempatnya.

“Kurasa Indonesia tidak buruk juga. Leeteuk Hyung saja bilang padaku kalau yeoja-yeoja disana sangat cantik dan manis,” bela Minho lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa di ruang SHINee’s Stuff. Jonghyun hanya mendelik ke arah Minho dengan sinis. Ia menyambar jaket hitam tebalnya lalu beranjak pergi dari situ.

“Eodiga?” tanya Onew datar.

“Aku mau pergi. Kebetulan jadwalku kosong sampai dua jam ke depan. Annyeong,” sahutnya dan berjalan sambil melambaikan tangan ke arah mereka berempat. Taemin masih sibuk mengurusi tugas kuliahnya, jadi dia hanya mengangguk tak jelas saja sedari tadi.

“Tumben kau tidak secerewet kemarin. Apa kau salah makan?” Minho mendorong pundak Key menggunakan pundaknya. Yang didorong hanya tersenyum kecut sambil terus mengotak-atik handphone-nya.

“Minho, jangan ganggu dia. Atau nanti dia akan berkoar lagi,” ujar Onew dengan nada mengejek.

“Efek dari tragedi satu tahun yang lalu dan juga berita yang tersebar ke publik itu ternyata berhasil membuatnya jadi manusia alim sekarang,” ejek Minho menambahkan. Key lagi-lagi hanya melirik tajam dan kembali berkutat dengan handphone-nya.

“Yeah, aku bingung. sudah satu tahun lebih berlalu tapi berita itu masih saja menjadi Hot Topic di beberapa siaran televisi dan majalah. Kau memang hebat Key. You are our issue maker,” tukas Onew dengan pronounciation yang sangat buruk saat mengucapkan kalimat bahasa inggris tersebut.

Lagi-lagi Key hanya mendengus kesal. “Lebih baik aku pergi dari sini. Terlalu lama bersama kalian membuat otakku mampet,” ucapnya datar.

“YA! KIM KI BUM!!!”

@@@

Key berjalan di tengah kegelapan malam sendirian. Udara musim semi ternyata cukup membuatnya bergidik saat angin semilir menerpa bulu kuduknya. Dirapatkannya sweater floral-pink-nya lalu dimasukkannya kedua tangan kedalam saku sweaternya. Saat ini ia akan menemui seseorang yang sangat sulit untuk ia temui. Jadi ia berusaha sebaik mungkin untuk menghindar dari semua orang. Berita mengenai ‘twins’-nya itu sudah cukup membuat hari-harinya menderita karena kejaran paparazzi. Dan ia tak ingin paparazzi menangkap moment pentingnya kali ini.

Setelah menghabiskan waktu dua puluh menit, akhirnya ia sampai juga di sebuah cafe bernama ‘Misari’. Cafe yang cukup bagus untuk mengadakan pertemuan, karena para pendatang cafe rata-rata adalah orang berusia tiga puluhan ke atas. Saat ia sudah sampai di meja yang telah ditentukan, ia berjalan dengan sangat perlahan saat melihat sesosok namja yang sangat ia hafal bentuknya.

Namja itu terlihat asik berdua dengan si yeoja. Si namja terus saja memperhatikan yeoja itu saat ia berbicara dan sesekali memainkan rambut si yeoja sambil mengerling nakal padanya. Key hanya mendengus pelan melihat pemandangan yang cukup menggelikan baginya.

“So? Inikah alasanmu setiap kali tidak bisa menemuiku? Hanya untuk berduaan dengan Jonghyun hyung?” tanya Key dibalik punggung yeoja itu. Otomatis Yeora—si yeoja—dan Jonghyun—si namja—memutar tubuh mereka secara mendadak dan memasang wajah kaget mengetahui kehadiran Key.

“Ya! Bukankah aku sudah bilang untuk menemuiku jam 11.30pm? Sekarang masih jam 10.56pm, Key-ah,” terang Yeora membela diri. Tanpa disuruh oleh Yeora, ia duduk tepat pada bangku yang terletak di depan Jonghyun.

“Jangan katakan padaku kalau selama ini kau selalu menemui sunbae-ku yang tak waras ini setiap kali kau bilang akan keluar untuk pergi?” cecar Key menginterogasi Jonghyun. Baru saja Jonghyun membuka mulutnya, Key segera memotong kata-katanya. “Dan sejak kapan kalian bisa jadi sedekat ini, eh?” sambungnya cepat.

“Sudah lama. Kau saja yang tidak tahu,” jawab Yeora enteng sambil menyesap minumannya.

“Manager Hyung dan Onew Hyung tidak mengetahui hal ini?” selidik Key lagi.

“Ne. Aku pintar menyembunyikan rahasia bukan?” ucap Jonghyun bangga. Key memutar bola matanya sambil ber-smirk ria. Kini perhatiannya ia arahkan pada Yeora. Ya, tujuan dirinya datang ke tempat ini memang untuk menemui yeoja itu. Satu-satunya yeoja yang mengetahui keberadaan Ikha saat ini.

“Aku tidak akan berlama-lama disini. Lagipula aku juga tidak mau mengganggu acara kalian. So—“ Key mmenopang dagunya sesaat. “—dimana Ikha-sshi berada?”

“Sudah kukatakan kalau aku tidak tahu apapun, Key. Lagipula sudah satu tahun lebih pasca tragedy tersebut dan kau tak pernah bosan menanyaiku keberadaan Ikha,” jelas Yeora singkat.

“You-are-lying-to-me,” ucap Key dengan penekanan di setiap suku katanya. Namun Yeora hanya menggedikkan bahunya sekali tanpa mengucapkan apapun.

“Baiklah, kalau kau tetap keras kepala. Haruskah kukatakan pada manager hyung tentang kedekatan kalian? Well, sepertinya itu tidak akan berdampak bagus pada perkembangan hubungan kalian,” Key memasang wajah sok seriusnya untuk menggertak Yeora.

Jonghyun terlihat menyunggingkan senyum kecutnya. “Kau memang pintar bernegosiasi, Key. Tak heran kalau kembaranmu juga memiliki bakat serupa,” ungkap Jonghyun. Key mengibaskan poni rambutnya sedikit ke belakang lalu memasang wajah sok cool-nya.

“Kurasa kau juga mengetahui sesuatu, Hyung. Tapi kau tidak memberitahukannya padaku. Benar ‘kan?” tanya Key memastikan. “Cepat katakan atau aku akan segera menelfon Manager!!!”

….bersambung….

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

29 thoughts on “WHO ARE YOU (Chapter 09)”

  1. chingu setiap ending selalu saja di protect
    aku DM km ditwit kgk dibls kan aku mash penasaran ma lanjutannya…

    *nangisdiojokangaragaramasihpenasaran

  2. Akhirnya kim jung hwa nya d tangkep polisi jg,
    alhamdulilah key ny slmet, ikha nya kmna tuh?, aku hrap ni happy ending.
    thor,mnta pw bwt part 10 ny gmna?
    Jebal,aku pnsaran bgt sma kelanjtannxa. .

      1. iya say.. pake huruf kecil semua ko.. tapi emang wp suka rada aneh pas masukin kode.. harus refresh beberapa kali baru bisa Saeng… coba” aja dulu ya…

  3. ternyata harus buka di komputer eonni,, di hp gagal aja.. oh iyah eonni,aku minta pw The fake boyfriend, aku dah ngetweet eonni, kirim DM lg ya eonni cantik!!! *puppy eyes*

  4. yak eonni sepertinya ada promosi terselubung di indonesia..kkkkkk
    tp tetep aje walopun mereka kemari jg kagak bs ketemu..ck ah jg galau ss4

    hoaaaaah akhirnya ketauan jg tuh si KJH..

  5. ngeborong coment lagi d part ini ..kekee
    wahhhh ceritany keren bgt…
    bikin terbawa emosi..
    .pokokny keren badai dech…
    semua jempol buat authorny..hahaha

  6. “Ergh, hyung. Sepertinya ada yang membasahi celanaku…
    Taemin ngompol.. *lolRotf..
    waa~..
    mumpung Ikha lagi ndak ada, saya culik aja si Kunci.. *evilSmirk>>ambilKarung

    1. hahahha itu sumpah typo banget rhuu. gue aja ngekek kalo baca tulisan lama gue. Kali ya ‘membasahi’, ckckck~ *geleng kepala
      Yaudah, mumpung lw lagi gada, gue culik bang kyuhyun. Wuzzzzz~

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s