WHO ARE YOU (Chapter 05)

From: +823452xxxxxx

Kalau kau tak mengikuti semua kata-kataku, akan kupastikan berita kematian Key memenuhi semua media massa di Korea Selatan tiga hari lagi. Tapi jika kau mendengarkanku, itu akan lebih baik…

Lagipula aku ingin kau ada disana,, melihat orang yang kau idolai itu merintih kesakitan…

Dengar, jika kau berani melaporkanku ke polisi, aku tak segan-segan merobek isi perut teman dekatmu itu. Siapa namanya? Seong Yeora? Hmm, nama yang sangat bagus…

Jadi pertimbangankan semuanya dengan baik, Nona Cho…

It's Too Late (1)

Kubuka kelopak mataku dengan sangat perlahan. Kepalaku masih pusing karena semalaman tak bisa tidur memikirkan pilihan yang harus kuambil. Ditambah lagi si Tuan Kim itu mengirimku sms yang membuatku ingin memuntahkan semua isi perutku.

Ugh…

Aku segera bangun dan mendudukkan tubuhku. Saat kuusap wajahku menggunakan kedua tanganku, kulihat ada sesosok orang sedang duduk di kursi tepat di depan komputerku. Kupicingkan dan kukedipkan mataku beberapa kali untuk memastikan bahwa aku tak salah lihat.

“Eh? Yeora?” tanyaku sambil mengibas poniku ke belakang. Aku tak pernah kaget setiap kali melihat Yeora tiba-tiba ada di kamarku. Ia memang suka iseng membangunkan orang yang sulit bangun sepertiku. Kuperhatikan wajah Yeora yang terlihat sangat kusam. Ia menatapku tanpa berkedip dan membuatnya terlihat menyeramkan di mataku.

“Kebiasaan jelekmu yang selalu lupa mengunci pintu saat tidur harus segera kau ubah, Ikha-ya,”

Aku hanya tersenyum menanggapi kata-katanya.

“Kau tersenyum?” tanyanya datar. “Tolong jelaskan padaku apa maksud dari semua ini,”

Sedetik kemudian, ia melemparkan handphone-ku ke arahku. “Ada apa dengan handphone-ku?” kuraih benda berwarna sapphire-blue itu kemudian kutekan sebuah tombol sehingga lampu layarnya menyala, menunjukan deretan kalimat diatasnya.

“Aku berniat untuk membangunkanmu dengan memasang alarm di handphone-mu. Tak sengaja kubaca sms itu,” ucap Yeora, tanpa berekspresi sedikitpun.

Saat kuperhatikan layar handphone-ku, kulihat sms yang dikirim oleh si Tuan Kim itu terpampang dengan jelas. Kulempar handphone-ku sembarangan lalu beranjak ke kamar mandi. “Bukan apa-apa, Yeora. Hanya orang iseng,”

Kurasakan tangan Yeora menahanku. Ia menatapku dengan sangat-sangat-sangat tajam, membuatku seketika itu juga terduduk di samping ranjangku.

“Aku tahu kalau si Tuan Kim yang mengirim sms ini padamu. Iya ‘kan?” tanya Yeora. Suaranya terdengar sedikit bergetar. “JAWAB AKU, CHO IKHA!” ia mencengkram lenganku kasar.

Aku segera meletakkan telunjuk di bibirku, menyuruhnya untuk memelankan suaranya. “Ssssttt, dengar, jangan bicara terlalu keras dikamarku, Yeo. Mungkin kamarku disadap olehnya,” ucapku pelan. Kubaringkan tubuhku lagi di ranjangku.

“Dia mengancammu, Kha-ya. Segeralah lapor polisi,” desaknya, ia mencengkram lenganku lagi.

“Tsk, dia berjanji akan merobek isi perutmu, Yeo. Aku tidak akan membiarkan ia melakukan hal itu pada temanku,”

“Aku bisa menyuruh appa menyewa bodyguard untuk menjagaku,”

“Aku tahu kalau keluargamu sangat berkecukupan. Tapi akan kulindungi dirimu dengan caraku sendiri,”

Kutatap mata Yeora, mencoba memastikannya bahwa aku bisa menjalani semuanya. “Dengar, dia tahu semua kegiatanmu, dia hafal semua kegiatan Key. Dia bisa melakukan apapun yang dia mau dengan sangat terencana. Dia pintar, Yeo. Dan kau ingin aku untuk melaporkannya ke polisi tanpa data yang cukup tentangnya? Polisi tak akan bisa menemukannya, dan mungkin yang kudapat adalah kau dan Key dalam bahaya. Aku tak sanggup untuk kehilanganmu… dan juga kehilangan Key…” terangku panjang-lebar.

“Disitu tertera dia menyuruhmu untuk melakukan sesuatu. Dia menyuruhmu untuk apa? Dan kau akan melakukannya?” tanyanya tanpa jeda sedikitpun. “Dia menyuruhmu melakukan hal itu untuk menghilangkan jejaknya? Iya, ‘kan? Jadi ketika sesuatu terjadi, kau yang akan disalahkan, kau yang akan menjadi tersangka. Iya ‘kan?”

Kupegang pipi Yeora dan tersenyum padanya. “Percayalah, Yeo. Semua akan baik-baik saja…. Dan—“ kutelan ludahku lekat-lekat sebelum melanjutkan kalimatku. Kucoba untuk tersenyum lagi meskipun aku tahu bahwa senyumku akan terlihat aneh karena dipaksakan. “—jangan berkeliaran sendirian tanpa seseorang yang menemanimu, okay?”

***

Jaket hoodie, masker dan kacamata sudah kukenakan dengan sangat rapih. Kuikuti semua perintah Jung Hwa agar aku bisa menyelinap masuk ke dalam ruangan tempat semua member SHINee dan staff lainnya berkumpul untuk shooting CF terbaru mereka.

Aku tak tahu bagaimana bisa Jung Hwa hafal kerangka ruangan ini. Karena hanya dengan sepuluh menit saja, aku bisa sampai di dalam ruangan tersebut tanpa seorangpun yang mengetahui dan mencurigaiku. Kuarahkan pandanganku pada kaca besar disampingku yang berfungsi sebagai jendela. Kulihat dari kejauhan seseorang sedang mengamati gerak-gerikku dari bangunan sebelah ruangan ini menggunakan teropongnya.

Jung Hwa menyuruhku untuk memotong tali penyangga yang tersambung ke sebuah tiang besar yang letaknya tepat berada disamping lokasi tempat pengambilan gambar. Aku belum tahu tujuannya menyuruhku untuk memotong tali tersebut. Yang jelas…. ada hubungannya dengan Key.

Sebelum kulakukan tugasku, kuketik sebuah pesan singkat pada seseorang. Setelah yakin pesanku itu telah terkirim, aku segera memotong tali penyangga tersebut dengan cepat.

“TAKE #3!!” teriak seseorang disampingku, membuat semua orang langsung bergerak mendekati lokasi pengambilan gambar.

Dari sela-sela orang yang sedang berlalu-lalang, sensorku menangkap bayangan namja idolaku yang sedang bersiap untuk pengambilan gambar. Ia mengenakan pakaian serba putih serta sayap palsu yang menghiasi punggungnya,,, membuatnya terlihat semakin tampan di mataku. Kemudian, kulihat seseorang memasangkan sebuah tali di pinggangnya.

Tunggu!! Tali itu…

“Agasshi, kalau boleh tahu, sutradara akan melakukan pengambilan gambar tentang apa?” tanyaku pada seseorang yang tak sengaja lewat didepanku.

“Key akan ditarik keatas untuk melakukan adegan terbang,” ucapnya singkat kemudian segera pergi meninggalkanku.

Bukankah tali itu adalah tali yang sempat kupotong barusan? Itu berarti…. jika Key ditarik ke atas… tali itu akan terputus, dan… tali tersebut tersambung dengan tiang tinggi itu… kalau dia jatuh, maka sedetik kemudian tiang itu pun akan terjatuh di tempatnya berdiri sekarang….

Jadi ini rencana yang dibuat Jung Hwa? Membuat semuanya seolah-olah hanya kecelakaan alami di lokasi shooting yang akan menimpa Key? Tidak!! Aku harus melakukan sesuatu…

Kuperhatikan Jung Hwa yang sepertinya sedang asik mengamati Key menggunakan teropongnya. Kesempatan ini kupakai untuk segera pergi dari ruangan tersebut. Kucari sebuah kotak berwarna merah yang menempel di dinding dan untungnya kutemukan tak jauh dari pintu keluar yang kupakai barusan.

Kutengok ke kiri dan ke kanan, memastikan bahwa tidak ada orang yang melihatku. Alarm kebakaran tersebut dilapisi kaca bening dan terkunci rapat. Aku tak mungkin mencari kuncinya mengingat sebentar lagi sutradara akan mengambil gambar Key.

SHIT!! CHO IKHA, BERFIKIR!!!

Akhirnya kuputuskan untuk memukul kaca tersebut menggunakan tangan kosongku ini dan…

“Awww,,” rintihku pelan. Kaca ini ternyata kuat juga. Tidak ada retak sedikitpun dan yang kurasakan hanyalah ngilu yang menjalar di sekitar tulangku. Sial!!!

Kuketuk-ketuk kaca tersebut dari berbagai sudut, mencari angle yang pas saat kupukul lagi untuk kedua kalinya. Setelah yakin dengan bagian yang terdengar agak rapuh ini, kupukul kaca itu sekuat tenaga, membuat kaca tersebut pecah dan kepingannya berserakan di lantai.

“Mungkin kau memang pintar, Kim Jung Hwa. Tapi sayang, aku lebih pintar darimu,” bisikku pada diriku sendiri sambil tersenyum kecut. Segera kutekan tombol alarm dan suara sirine langsung menggema di seluruh ruangan. Kulihat beberapa orang keluar dari dalam lokasi pengambilan gambar, akupun segera pergi dari tempat itu sebelum mereka mengetahui perbuatanku…

***

“AAAWWW!!” teriakku sekencang-kencangnya saat Yeora mengobati lukaku. Kulihat beberapa kepingan kaca berderet di atas tissue yang tadi digunakannya untuk mencabut pecahan itu dari kulit lenganku.

“Kurasa kau ini kelewat bodoh, Kha-ya. Kau bisa saja memukul kaca alarm itu menggunakan sepatumu. Bukannya menggunakan tanganmu. Lihat sekarang?” Yeora terus saja mengomeliku saat kuceritakan tindakan kepahlawananku saat di lokasi shooting. Aku hanya berdecak pelan. Mau bagaimana lagi? Saat itu aku panik, jadi hanya itu satu-satunya cara yang terlintas dikepalaku.

Saat aku masih meringis kesakitan karena Yeora mengobatiku tanpa kelembutan sedikitpun, tiba-tiba handphone-ku bergetar. Kuraih benda itu dengan sedikit malas.

—————From: +826497xxxx Kau tak melaksanakan tugasku dengan baik, Nona Cho. Kau tahu konsekuensi apa yang akan kau terima————————

Kukerutkan alisku seketika itu juga. Siapa ini? Kim Jung Hwa? Dengan nomor yang berbeda?

—————To: +826497xxxx Kau itu seperti artis saja yang selalu gonta-ganti nomor. Dengar, aku sudah melakukan apa yang kau suruh. Kehebohan tadi diluar skenariomu, jadi jangan salahkan aku. Apalagi yang kurang?——————-

Hanya itu pesan balasanku. Semua panca indera Yeora masih saja tertuju pada lukaku, jadi dia tak begitu memperhatikan suara handphone-ku. Setelah beberapa menit, ada sebuah pesan yang masuk ke handphone-ku lagi.

————-From: +826497xxxx Cih, kau berani mengataiku, Nona Cho? Kau tak tahu sedang berurusan dengan siapa? Aku ingin kau melakukan sesuatu lagi untukku karena kau tak becus melakukan tugasmu——————-

 

Hah, orang ini.. benar-benar membuatku kesal!! Kulempar handphone-ku ke atas ranjang lalu kupijit keningku untuk menghilangkan penat yang menyelubungiku. Sedetik kemudian, kudengar suara handphone-ku berdering lama. Sengaja tak kuangkat karena aku yakin namja pshyco itu yang menelfonku.

“Kenapa kau tak angkat telfonmu? Mungkin telfon itu dari kedua orang-tuamu?” tanya Yeora tanpa mengalihkan pandangannya dari lukaku.

“Anni. Biarkan saja,” jawabku malas.

“Ikha-ya, kau harus segera mengakhiri permainan ini. Kau membahayakan dirimu,” ucap Yeora setelah memperban lukaku. Aku kembali berdecak dan mengeluarkan senyumku. Kujitak kepalanya dan berhasil membuatnya meringis.

“Heh, kau ini bodoh atau sedikit terbelakang sih? Mana mungkin aku tak memenuhi permintaan si Mr. Pshyco itu. Lagipula—“ kupotong sebentar kalimatku itu dengan memperbaiki posisi dudukku. “—ada untungnya juga aku melakukan semua rencananya,” terangku sambil mengusap lukaku yang kini sudah terbalut rapih.

“Maksudmu?” Yeora menyipitkan matanya keheranan.

“Kalau aku yang melakukan semua rencananya, maka aku juga bisa menghentikan semuanya. Kurasa si Tuan Kim ini tak memperhitungkan hal yang satu ini. Dia lupa kalau aku ini memiliki sejuta cara licik dan sejuta alasan dalam berbagai hal. Kau mengerti maksudku ‘kan?”

Kulihat Yeora mengangguk pelan sambil mengusap dagunya. “Ya, ya, ya… kau memang pintar berdalih, Cho Ikha. Terbukti kalau kau selalu bisa masuk kelas Hwang Seonsaengnim dengan berbagai alasanmu,”

Aku hanya terkekeh pelan pada chingu-ku ini dan ia juga ikut terkekeh bersamaku. Kami sempat menyatukan telapak tangan kami dan melempar bantal satu sama lain.

Hhhh, padahal hari ini aku sudah janji pada Key akan masuk kelas Mr. Lee. Tapi sepertinya aku tak akan menepati janjiku. Itu lebih baik. Daripada aku harus berada disekelilingnya, membuat Jung Hwa semakin mudah untuk mencelakai Key. Sebisa mungkin aku harus menjauh dari idolaku itu…

Meskipun aku harus memendam keinginanku untuk bertemu dengannya, akan kulakukan agar ia tetap baik-baik saja…

***

Author’s Side

Semua member SHINee sedang berkumpul di sebuah ruangan yang letaknya tepat di sebelah ruang pengambilan gambar. Mereka terlihat sedang menikmati waktu ‘break’ mereka. Jonghyun dan Minho berbaring di sofa, Taemin sibuk dengan PSP-nya, sedangkan Onew dan Key sedang di rias ulang oleh penata rias mereka.

“Hhhh, gara-gara ulah orang iseng yang menyalakan alarm kebakaran, shooting CF kita jadi tertunda,” desah Minho sambil menggeliat pelan.

“Baguslah… aku jadi bisa tidur sebentar,” sergah Jonghyun. Ia mengambil majalah yang ada diatas meja kemudian diletakkan menutupi seluruh wajahnya.

Tak lama kemudian, Choi Jin datang tiba-tiba dengan sedikit menggebrak pintu ruangan tersebut, membuat kelima member SHINee terlonjak kaget.

“Yaaaa, hyung, kau mengagetkan ku saja!!” ucap Onew sedikit berteriak. Choi Jin langsung duduk lalu meletakkan laptopnya di meja samping sofa.

“Lihat,” ia menyuruh semua orang untuk melihat layar laptopnya.

“Apa ini?” tanya Key menghampiri Choi Jin.

“CCTV menangkap seseorang yang menyalakan alarm kebakaran,” jelas Choi Jin. Semua member SHINee seketika itu memperhatikan layar tersebut, ingin tahu siapa yang telah menghancurkan jadwal mereka.

“Tunggu,” sergah Key saat melihat orang didalam video tersebut melepas kacamata dan maskernya. “Ikha?” tanyanya pada diri sendiri.

“Mwoya? Ikha? Cho Ikha?” Onew ikut memperhatikan lebih seksama.

“Ternyata Cho Agasshi. Ada apa dengannya? Kenapa dia melakukan hal itu?” cecar Choi Jin tanpa jeda. Diraihnya handphone SK dari kantung celananya kemudian ditekannya tombol beberapa kali.

“Menelfon siapa, hyung?” tanya Taemin di sela-sela himpitan Jonghyun dan Minho, membuatnya semakin terlihat mungil.

“Cho Agasshi,” jawabnya datar.

“Biar aku saja,” sela Key cepat. Minjae menghentikan aktivitasnya kemudian ia beralih untuk menelfon produser acara CF tersebut.

Saat Key mengambil handphone di dalam tasnya dan menekan tombol ‘unlock’, dilihatnya sebuah pesan muncul dari layar.

————-From: Cho Ikha Apapun yang kulakukan, semua itu semata-mata hanya untuk membuatmu baik-baik saja, Key….—————————-

“Eh?” Key mengerutkan alisnya. Ia mencoba mencerna apa maksud dari kalimat yang dikirimkan Ikha padanya. Namun, saat ia baru saja mengaitkan sms tersebut dengan apa yang dilakukan yeoja itu barusan, seseorang menghentikan aktivitas otaknya seketika.

“Choi Jin-sshi,” ujar si sutradara CF yang datang tiba-tiba. Choi Jin hanya menoleh sedikit karena ia harus menyesuaikan jadwal kegiatan semua member SHINee yang sedikit berantakan gara-gara Ikha.

“Sepertinya shooting kita di tunda terlebih dahulu,” sambung si sutradara.

“Waeyo?” hanya kata itu yang keluar dari mulut Choi Jin.

“Saat Sanghyuk—pengatur set pengambilan gambar—sedang mengecek semua peralatan, tiba-tiba tali penyangga tiang terputus dan menimpanya. Kami tidak bisa melakukan shooting tanpanya. Jadi…”

Choi Jin memotong pembicaraan si sutradara lalu menyeretnya menjauh dari ruangan tersebut. Semua member SHINee kembali ke aktivitasnya masing-masing sambil menunggu perintah selanjutnya dari manager mereka. Dan Key kembali mengasah otaknya, mencari jawaban atas semua kejadian yang dirasanya janggal.

“Wae? Something’s wrong?” tanya Onew sambil menepuk pundak Key. Namja itu hanya menatap hyung-nya datar.

“Hyung, apa kau memperhatikan kalau beberapa hari ini si Tuan Kim tak menggangguku?”

“U-huh, so? Bukankah itu bagus?” Onew mengambil sepotong kue yang ada dihadapannya kemudian memasukannya ke dalam mulut hanya dalam satu suapan.

“Ini,” Key menyerahkan handphone-nya, menunjukkan pesan yang diterimanya dari Ikha. Onew memperhatikan, dan sedetik kemudian alisnya langsung bertautan.

“Pasti pesan ini ada hubungannya dengan yang dilakukannya tadi,” timpal Key. Onew menyerahkan kembali handphone tersebut pada Key.

“Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Mungkin itu hanya kebetulan saja,” ucap Onew sambil menggedikkan bahunya. Key hanya termenung di tempatnya, berusaha untuk mencari jawaban sendiri, karena ia tahu hyung-nya itu tak dapat membantunya.

***

Ikha’s Side

Lagi-lagi aku harus mengikuti keinginan si Mr. Pshyco itu. Dan lagi-lagi ia mengancamku dengan sesuatu yang membuatku mau tak mau harus mengikuti perintahnya.

Saat ini aku berada di Busan. Ada sebuah event tahunan yang menampilkan beberapa artis ibukota disini, termasuk SHINee. Event ini diadakan malam hari, jadi aku berkorban untuk tidak masuk kelas Park Seonsaengnim hanya karena harus menuruti keinginan Jung Hwa.

Kau ingin tahu apa yang harus kulakukan untuk memenuhi hasrat si Tuan Kim itu? Memasukkan air asam dengan pH yang sangat tinggi yang ada di tanganku ini ke dalam minuman Key.

Ugh, si bangsat ini sepertinya memang berniat untuk menghancurkan hidup brondong idamanku. Kalau Key meminum air asam ini, otomatis pita suaranya akan rusak dan ia tak akan bisa menyanyi lagi.

Baiklah, aku akan mengikuti apa maunya. Dengan bermodalkan hoodie yang menutupi kepalaku—tanpa masker dan kacamata—segera kuberanjak ke ruangan khusus yang menyiapkan makanan untuk para artis tak jauh dari tempatku berdiri. Kuakui, kemampuan Jung Hwa dalam menyelidiki sesuatu memang sangat bagus. Aku bisa masuk dengan mudah—seperti yang kulakukan saat aku masuk kedalam ruang shooting CF kemarin—tanpa orang-orang yang mencurigaiku.

Jung Hwa menyuruhku untuk memasukkan air asam ini ke deretan minuman yang ada papan kecil bertuliskan ‘5’ ditengahnya. Kutaruh air tersebut sebanyak sepuluh tetes disetiap gelasnya. Sepuluh tetes air asam ini cukup kuat untuk membuat kulit melepuh. Jung Hwa bilang, CCTV yang ada di ruangan khusus ini sudah disadap. Wow, sungguh orang yang sangat berbakat. Bahkan ia tahu bagaimana cara menyadap kamera video. Ckckck,

Setelah meyakinkan Jung Hwa bahwa aku sudah melakukan tugasku, aku segera keluar dari ruangan tersebut. Akan kutunggu sampai seseorang membawakan nampan berisi minuman ‘keras’ itu kemudian kuganti dengan minuman yang baru. Hah, namja pshyco itu bilang kalau ia hanya menyadap ruangan khusus itu kan? Tapi ia tidak menyadap CCTV ruangan yang lain, jadi aku bisa menukarnya tanpa sepengetahuannya. YES, I’M SMART!!!

Tak lama kemudian, kulihat seseorang membawa nampan bertuliskan angka ‘5’ dan berbelok ke arah lain. Segera kubuntuti orang tersebut tapi tetap menjaga jarak dengannya. Saat sedang asik membuntuti orang itu, tiba-tiba handphone-ku bergetar.

—————-From: +82891xxxxx Kau melakukan tugas dengan baik, Nona Cho. Tapi aku sudah menyiapkan sesuatu lagi yang harus kau lakukan sekarang. Ambil sebuah kotak yang telah kusiapkan di bangku penonton nomor 143——————-

Kuhentikan langkahku seketika itu juga. Eh? Nomor handphone yang berbeda lagi? Dasar sok artis!! Dia selalu saja mengganti nomornya. Takut dilacak olehku, huh?

Baru saja aku bergelut dalam hati, kusadari bahwa orang yang sedang kubuntuti telah menghilang dari pandanganku. SIAL!!

Aku segera berlari mencari si pelayan yang membawakan nampan itu, Setelah hampir tiga menit berjalan tak tentu arah, tetap saja aku tak menemukannya. Sial!!! Dimana dia? Gawat, aku harus mencarinya sebelum terlambat!!

Kuperhatikan beberapa ruangan yang berderet dihadapanku yang kuyakini sebagai ruangan khusus artis yang ada di backstage. Terdapat angka yang tertera di setiap pintu tersebut, dan akupun segera mengasumsikan kalau angka ‘5’ yang tertera pada nampan yang dibawa oleh pelayan itu ditujukan untuk ruangan bernomor 5.

Tanpa fikir panjang, aku segera berlari ke arah pintu tersebut. Aku sempat merapatkan hoodie-ku saat beberapa artis yang kukenal—sebut saja: Heechul SUJU, Gikwang BEAST, IU, Eunjung T-ARA, Sooyoung SNSD—melewatiku. Kubuka pintu tersebut perlahan kemudian mengintip dari celah yang ada.

Dugaanku tepat! Kulihat namja yang membawa nampan itu sedang berdiri di tengah ruangan. Onew, Minho dan Key berjalan menghampiri namja itu dan berniat untuk meraih minuman tersebut. Sial! Aku sudah menaruh air asam ke lima gelas tersebut!! Kuterobos masuk kedalam ruangan, tak peduli orang di ruangan ini mengetahui keberadaanku atau tidak. Yang penting sekarang, aku harus menghentikan mereka!!

Kudorong tubuh Onew, Minho dan Key sekuat tenaga agar menjauhi nampan itu sebelum mereka menyentuhnya. Walhasil, mereka pun terjatuh dan menimpa beberapa benda didekatnya. Saat aku membalikkan tubuhku untuk mengambil nampan tersebut, aku malah menabrak namja yang membawa nampan itu dan semua minuman itu tumpah mengenai beberapa bagian tubuhku.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” ucap Jonghyun sedikit berteriak ke arahku. Kudengar derap langkahnya mendekatiku, namun sebelum ia melihat wajahku, segera kuangkat tubuhku dan berlari menjauhi mereka.

“YA!!!” suara teriakan Jonghyun merupakan suara terakhir yang kudengar. Kurasakan tubuhku menabrak Minjae Ahjusshi saat di ambang pintu. Tapi saat ini aku tak mempedulikan apapun. Yang kubutuhkan adalah toilet wanita, karena kurasakan kulitku mulai memanas terkena tumpahan air asam itu.

***

Sial!!

Gara-gara terkena air asam, kini beberapa bagian kulitku mulai melepuh. Yang paling parah adalah di tangan kiriku—terutama punggung tanganku. Aku hanya meringis pelan menahan sakit yang mulai menjalar pada kulitku. Ini karena aku menggunakan hoodie tangan pendek, jadi air asam yang tumpah itu langsung mengenai kulit lenganku.

Saat sedang menikmati rasa sakitku, kurasakan handphone-ku kembali bergetar.

————– From: +82891xxxxx Kurasa waktu yang kau perlukan untuk sampai ke bangku penonton hanya enam menit————————–

Kuketik sms balasan pada si namja gila ini sebisa mungkin, karena kedua tanganku terkena air asam, jadi aku mengetik pesan lebih lama dari biasanya. Selain itu, tangan kananku masih diperban karena ‘menonjok’ kaca alarm kemarin.

————— To: +82891xxxxx aku ini seorang manusia yang butuh ke toilet—————-

Tepat setelah kukirim pesan tersebut, aku segera pergi ke kursi penonton. Ugh, terlalu banyak orang disini, dan aku agak kesulitan melangkah karena pencahayaan yang sangat minim di sekitarku.

Kucari bangku bernomor 143 dan kutemukan bungkusan yang dimaksud oleh Jung Hwa. Sementara kubuka bungkusan itu, kuputuskan untuk duduk terlebih dahulu. Kurasakan kulitku semakin melepuh saja, karena perihnya semakin membuat sel-sel dibawah kulitku berteriak kesakitan.

Kubuka bungkusan tersebut dengan sedikit meringis menahan sakit di kedua tanganku. Lalu kutemukan beberapa benda di dalamnya. Sebuah tiket, selembar kertas, dan benda lain yang belum kubuka karena dilapisi selembar tissue.

Sebelum kubaca deretan kata yang ada di atas kertas tersebut, handphone-ku kembali bergetar dari balik kantung celanaku. Kuambil benda itu pelan-pelan karena jari-jariku sedikit melepuh di beberapa bagian.

————- From: +82891xxxxx Aku memperhatikanmu dari kejauhan, Nona Cho. Jadi jangan coba-coba untuk lari——————–

Kuperhatikan sekelilingku, namun yang kudapati hanya lautan manusia yang menonton penampilan 2PM yang sedang menyanyikan lagu ‘Hands Up’ pada panggung besar di depanku. Huh,

————- To: +82891xxxxx Mian, tapi aku bukan seorang pengecut. Keluarlah dari persembunyianmu, Tuan Kim————————

Lama, ia tak membalas pesanku. Jadi kuputuskan untuk membaca tulisannya. Aku sedikit membulatkan mataku setelah selesai membacanya. Sial! Aku tidak bisa menghindar dari perintahnya sekarang…..

Kubuka benda yang terbungkus tissue itu kemudian kuambil benda tersebut dan kugenggam erat. Tak lupa, tiket yang ada didalamnya kuambil pula. Segera aku turun dari kursi penonton dan beranjak menuju pintu gerbang dimana orang-orang—dibalik gerbang tersebut—berdiri menonton event tersebut sambil mengayunkan lightstick mereka masing-masing.

Kuserahkan tiket tersebut pada penjaga gerbang. Dan saat si penjaga mengeceknya, handphone-ku bergetar lagi.

—————-From: +82891xxxxx Selamat bersenang-senang, Nona Cho. Aku akan menontonmu dari kejauhan. Ini pasti akan sangat menyenangkan————–

Aku hanya mendengus dan tersenyum kecut saat membaca smsnya. Dia memang gila. Bahkan kufikir otaknya sudah tidak berfungsi dengan baik. Kuketik pesan balasanku padanya.

—————- To: +82891xxxxx Sebenarnya apa maumu, Tuan Kim?———————

Kuperhatikan si penjaga gerbang mempersilahkanku masuk. Kulangkahkan kakiku menuju puluhan orang yang berdesak-desakkan sambil berteriak memanggil idola mereka. Aku menyusup diantara mereka hingga aku sampai di bagian depan panggung. Kurasakan beberapa orang tak sengaja menyentuh kulitku yang melepuh, membuatku harus merasakan perih yang tak terkira.

Tak lama setelah 2PM tampil, sang MC menyebutkan nama SHINee melalui mic yang dipegangnya, membuat semua orang berteriak histeris di telingaku.

Hah, dulu, saat aku menonton konser SHINee, aku selalu dengan bangganya mengayunkan lightstick-ku. Tapi sekarang? Aku berdiri disini malah untuk menghancurkan hidupku. Aku sudah membayangkan apa yang akan terjadi setelah aku melakukan hal ini. Tapi ini lebih baik daripada aku harus melakukan hal lain yang lebih buruk….

Kulihat sosok namja-namja idolaku mulai muncul di depanku, membuat orang-orang semakin histeris. Lagu ‘Ring Ding Dong’ mulai berkumandang menghiasi stadium ini. Dan saat kulihat Key menyanyi, membuat dadaku semakin sesak dan sakit, lebih sakit dari kulitku yang melepuh ini. Aku tak mau melakukan ini, tapi aku juga tak bisa melakukan apapun.

Di tengah-tengah kegalauanku, kurasakan sesuatu bergetar dibalik kantung celanaku.

——————-From: +82891xxxxx Yang kumau? Kau tahu apa yang kumau… Lakukan sekarang, Nona Cho….——————–

Setelah membaca pesan itu, kusimpan handphone-ku di tempatnya semula lalu menggenggam benda yang dari tadi kugenggam dengan sangat erat. Sungguh, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan membunuh namja ini setelah apa yang ia perbuat padaku.

“Mian, Key….”

Kulempar benda tersebut tepat mengenai wajahnya.

Seketika itu juga semua member SHINee terdiam. Meskipun aku tak melihatnya, tapi aku merasakan semua mata mulai tertuju padaku. Sedetik kemudian, beberapa yeoja—yang kuyakini sebagai penggemar SHINee—disampingku menarik rambut dan tubuhku kasar. Aku hanya bisa terdiam menanggapi segala perlakuan mereka.

Disela-sela ‘serangan’ para yeoja itu, kuperhatikan Key yang sedang membersihkan wajahnya. Ia memandang ke arahku. Dan bisa kupastikan bahwa ia terlihat kebingungan dengan sikapku. Demi tuhan, kurasakan perih yang menjadi-jadi saat yeoja-yeoja itu menarik tanganku yang kulitnya melepuh, tapi itu tak sebanding dengan rasa sakit di hatiku…

Tanpa terasa segumpal air mulai menggenang di mataku, dan saat kukedipkan mataku, air mataku itu jatuh perlahan menghiasi wajahku…

Maafkan aku, Key….

Maafkan aku…..

…bersambung…

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

18 thoughts on “WHO ARE YOU (Chapter 05)”

  1. Yesss rasa penasaranku terobati,,
    aku menemukan part slanjtnya disini. .
    Anyeong author aku hikma,reader ff mu di SF3I,,*gak nanya
    dan trnyata udah ad smpe end ya, waah q jd g hrs nunggu lama,hehe
    itu kasian ikha ny, tp q salut ma dia, smart.

      1. nih *sorongin donghae*
        Eh eh eh, masa Donghae ma Eunhyuk cakep banget saeng di teaser Sexy, Free & Single ?? DEMI APAAAA NOSEBLEED ABIIISSSSS

      2. BANGETTTTTTTTTTTTT DEMI TUHAN.. waktu teaser Hyukkie muncul aku lagi ganti puasa eon, langsung nyebutt pas liat kemeja atasnya yg kebuka.. etdahh godaan banget, kalo Donghae malah kaya bunda maria gitu, posenya kurang sexi arghhh tapi mukanya itu minta dicium sampe berdarah ohh god..

      1. waa~..
        seperti.n saya harus hati.2 kalo bersilat lidah sama Ikha-ya.. ^_^.)
        minta kursus sama witty-Kyu dulu buat ngadepin Ikha-si-juru-ngeles.. *tarikAbangKyu

  2. Weh… selesai part 5

    yang aku dapat dari review ff eonni adalah perkembangan cara penulisan dan pengolahan kata eonni emang meningkat terus *HaduhBahasaGue
    Jadi reader gak mudah bosen deh

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s