WHO ARE YOU (Chapter 08)

Jonghyun terlihat asik berkutat dengan I-phone-nya. ia sedang ber-chat ria dengan seseorang sambil senyum-senyum seperti orang tidak waras. Namun aktifitasnya segera terhenti saat terdengar bunyi decitan dari ban mobil didepannya.

“CHO!!” teriaknya kencang saat melihat Ikha berlari menerobos beberapa mobil yang berlalu-lalang di jalanan. Ia berniat menyusulnya tapi sepertinya mobil-mobil yang lewat tak memberinya kesempatan.

It's Too Late (1)

Sementara itu, Key masih saja mengarahkan seluruh syarafnya pada MP4 barunya. Dengan santainya ia berjalan melalui zebra-cross sembari mendengar musik dari earphone-nya. Baru saja ia melangkahkan kakinya, ia merasakan seseorang mendorong tubuhnya cukup kencang hingga ia tersungkur ke belakang dan….

BRAK~

Sesuatu seperti sebuah bunyi dari benda padat yang jatuh berdebam terdengar menghiasi suasana malam tersebut. Key membangunkan tubuhnya sambil mengusap siku lengannya yang agak lecet terkena aspal trotoar. Namun sesuatu mengalihkan perhatiannya.

Jonghyun berlari ke arah seseorang yang terkapar tak jauh dari tempatnya terjatuh. Dilihatnya mobil yang melaju kencang tersebut kabur entah kemana. Suasana di jalanan lumayan sepi, jadi tak banyak orang yang mengerumuninya. Hanya beberapa orang saja yang menolongnya berdiri dan selebihnya memfokuskan diri pada orang yang tertabrak mobil tersebut.

Key segera menghampiri Jonghyun yang terlihat duduk disamping orang tersebut. Hyung-nya itu berteriak pada beberapa orang yang mengelilinginya untuk memanggil ambulance. Karena penasaran, Key pun memperhatikan orang yang menjadi korban tabrak lari tersebut. Alisnya mengkerut, dan sedetik kemudian ia langsung membulatkan matanya.

“CHO!!!” ucap Key sedikit berteriak. Namja itu menutup mulutnya saat melihat wajah Ikha yang sudah dipenuhi darah dari beberapa bagian kepalanya yang bocor karena benturan yang cukup keras.

***

Yeora berjalan terburu-buru ketika ia sudah sampai di Seoul International Hospital. Bahkan ia sampai menabrak beberapa orang yang menghalangi jalannya. Terlihat Nyonya Seong juga ikut anaknya menemui Ikha. Tepat setelah tabrakan tersebut, Key menelfon Yeora melalui handphone Ikha dan untungnya yeoja itu memegang handphone-nya.

Ia  mendapati Key, Onew, Jonghyun dan manager-nya sedang duduk termenung di posisi masing-masing tepat di depan ruang UGD. Tanpa banyak basa-basi, segera ia menghampiri Key dan menarik kerah bajunya kasar.

“Pasti kau yang membuat dia seperti ini, kan?” tanyanya tiba-tiba, membuat Key tertegun sesaat hingga ia memutuskan untuk diam. Nyonya Seong dan manager SHINee berusaha menjauhkan Yeora dari Key namun Yeora malah menjerit minta dilepaskan. Meskipun Nyonya Seong dan Manager SHINee berusaha untuk menenangkannya, usaha mereka tetap saja sia-sia.

“Sekarang kau puas melihat temanku ini sedang meregang nyawa? Huh?” Rasanya Yeora ingin sekali berteriak didepan wajah Key, namun ia sadar bahwa saat ini ia berada di rumah sakit. Jadi sebisa mungkin ia mencoba untuk meredam suaranya.

Key masih saja terdiam. Ia bingung harus mengatakan apa karena semua kejadian tersebut terasa tak nyata baginya. Yeora memutar bola matanya dan mendengus kesal melihat sikap Key yang hanya berdiam diri saja. Sementara Nyonya Seong lebih memilih untuk bicara dengan manager SHINee terkait peristiwa tabrak lari tersebut.

Tak lama kemudian, pintu ruang UGD terbuka disertai suara roda yang berputar. Semua mata langsung tertuju pada suara tersebut yang tak lain adalah suara dari sebuah tempat tidur rumah sakit. Diatasnya terbaring Ikha yang sudah dipenuhi beberapa selang infus dan alat bantu pernafasan. Beberapa dokter dan suster mengiringinya dari belakang.

“Cho,” bisik Yeora sambil ikut berjalan mengikuti putaran roda tersebut. Semua orang yang sedang menunggu Ikha -pun ikut teralihkan perhatiannya pada Ikha. Namun Yeora segera menghentikan langkahnya menghadap mereka semua, terkecuali Nyonya Seong yang sedang mengobrol dengan dokter yang menangani Ikha.

Yeo Ra menatap Manager SHINee, Key, Jonghyun dan Onew satu per satu dengan wajahnya yang sangat dingin. Tatapannya itu membuat mereka menghentikan langkah seketika.

“Pergi dari hadapanku,” ucap Yeo Ra lirih sambil menunjuk arah lorong yang tersambung ke resepsionist RS.

“Tapi, Yeora-sshi—“

“AKU BILANG PERGI!!!” Yeora meninggikan nada bicaranya untuk memotong perkataan Key.

***

Key memperhatikan Surat Kabar Korean Times yang baru saja terbit pagi ini sambil meneguk susu cokelat hangatnya. Perlahan ia langkahkan kakinya menuju ruang tengah tanpa memperhatikan sekelilingnya.

“Ada berita menarik hari ini?”  tanya Onew yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar mereka. Key hanya menyodorkan surat kabar tersebut tanpa menjawab pertanyaan Onew. Dilipatnya kedua kaki Key lalu ia menopang dagu dengan siku tangan yang bertumpu di lututnya.

Onew meraih surat kabar itu kemudian menghempaskan tubuhnya disamping Key. Matanya masih terasa perih karena semalam ia baru bisa tidur jam tiga pagi setelah Yeora mengusirnya dari rumah sakit.

“Igeumwoya?” Onew menunjuk sebuah headline bertuliskan ‘Penyelamat Key SHINee (?)’ yang terpampang dengan sangat jelas. Sebuah foto yang dipotret dengan kamera megapixel rendah dan agak kabur tersebut, menunjukkan seorang yeoja yang terkapar di jalan dibalut darah yang berceceran dimana-mana, ditambah dengan foto Key yang terpisah di sudut foto tersebut.

Key hanya diam. Tidak biasanya ia mengatupkan mulutnya. Biasanya setiap pagi, dialah yang paling cerewet dan bawel membangunkan member SHINee yang lain. Namun sejak kejadian aneh yang menimpanya akhir-akhir ini, ia terlihat lebih pendiam dari biasanya.

Onew kembali membaca headline tersebut sekali lagi hingga terdengar suara pintu dorm mereka terbuka perlahan. Dilihatnya sang manager dan Jonghyun muncul berpeluh keringat yang baru kembali dari jogging paginya.

“Kalian sudah baca berita pagi ini? Sooman Sunbaenim menyuruhku untuk menahan jadwal kalian hari ini mengingat para wartawan yang mencoba mengorek kejadian tadi malam. Terutama kau,” Choi Jin melirik ke arah Key. Yang dipandang hanya membalas tatapan datarnya dan kembali meneguk susu cokelatnya.

Jonghyun menyodorkan sebotol air putih pada Choi Jin sebelum ia ikut bergabung dengan Onew dan Key. Setelah itu, dia pergi ke kamar untuk membangunkan Taemin dan Minho yang masih meringkuk diatas kasur.

“Aku menemukan kertas ini di depan. Manager hyung sepertinya tak menyadarinya,” ucap Jonghyun kemudian menyerahkan sebuah amplop putih pada Key. “Sepertinya ini ditujukan untukmu,” imbuhnya lagi. Key mengerutkan dahinya sesaat setelah ia melirik mata Jonghyun dengan penuh rasa penasaran.

Ia membuka penutup amplop tersebut agak kasar, diambilnya secarik kertas yang ada didalamnya lalu dibacanya beberapa kalimat yang tertera diatasnya.

—————-

“Yeoja itu sungguh sangat bodoh. Merelakan nyawanya sendiri hanya untuk melindungi namja sepertimu. Sungguh sebuah ironi yang sangat menyedihkan”

—————-

Dengan geram, Key meremas kertas tersebut sambil menatap kosong ke depan. Ia segera bangkit dari tempatnya dan berjalan menuju kamar untuk menemui managernya.

“Choi Jin hyung,” sahut Key yang berhasil membuat Choi Jin—yang seharusnya membangunkan Minho dan Taemin malah tengah tidur di tempat tidur Onew—mengerang pelan.

“Hari ini semua jadwalku di-cancel, bukan? Aku harus menemui seseorang,”

***

“Hyung, sebenarnya kita akan menemui siapa, sih?” tanya Taemin untuk kesekian kalinya pada para hyungnya.

“Kau ini terlalu banyak tanya, Taeminnie~” decak Key gemas. Mereka berenam—Choi Jin dan kelima member SHINee—dengan wajah ditutupi masker dan hoodie berjalan agak tergopoh-gopoh menuju sebuah ruangan yang terdapat di Seoul International Hospital.

Ya, awalnya Key meminta izin untuk menemui Yeora di rumah sakit pada Choi Jin. Namun karena Choi Jin dan member yang lain mengetahui tentang surat tak bertuan yang Jonghyun temukan tadi pagi, akhirnya mereka berlima memutuskan untuk menemui Yeora sekaligus menginterogasinya. Karena Key yakin, chingu dari Ikha itu pasti mengetahui sesuatu.

Saat mereka sampai didepan ruang yang dituju, langkah mereka terhenti saat mendapati empat orang namja berjas hitam berjaga didepan pintu. Mereka menahan langkah mereka agar tidak masuk kedalam ruangan.

“Ini ruangan Cho Agasshi, bukan?” tanya Choi Jin pada salah satu orang berjas tersebut. “Kami ingin bertemu Nona Seong,” tambahnya lagi. Kemudian ia menyuruh semua member SHINee melepas masker yang menutupi wajah mereka.

Terlihat seorang diantara mereka sedang berbicara lewat earphone yang menempel di telinga, setelah itu…

“Silahkan masuk,” ucapnya sambil membukakan pintu.

Tanpa banyak basa-basi, mereka berenam langsung melangkah masuk menuju ruangan VVIP rumah sakit tersebut. Yeora—dengan wajah masam dengan kedua tangan yang terlipat di dada—berdiri tepat didepan pintu, menatap ke arah mereka tanpa berkedip sedikitpun. Ruangan tersebut tampak gelap karena gorden tertutup rapat. Hanya lampu duduk yang ada di kedua sisi tempat tidur Ikha lah yang menjadi alat penerangan.

“What the hell you doin’ here?” tanya Yeora tengah berbisik.

“Kami ingin menjenguk Cho Agasshi,” jawab Choi Jin singkat. Ia berjalan lebih dekat ke arah tempat Ikha terbaring lemah, bermaksud untuk meletakkan serangkai bunga yang ia bawa. Namun tangan Yeora menghentikannya.

“Tujuanmu kesini tidak tulus, Tuan Choi. Kalau kau kesini hanya untuk mengorek informasi dariku untuk menolong anak didikmu, lupakan saja. Lagipula kau hanya ingin meredam berita yang tengah beredar di publik tentang Key, kan? Harusnya kau bersyukur karena berkat Ikha, Key bisa terpampang di seluruh headline majalah dan juga koran di seluruh dunia. Lebih baik kalian pulang dan jangan pernah sekalipun mencoba menemui kami. Dan, ah—“ Yeora menghentikan kalimatnya untuk menatap Key dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. “—beruntung sekali kau baik-baik saja, Tuan Kim. Kulihat tak ada sedikitpun luka di tubuhmu,” ucap Yeora disertai seringaian menghinanya.

Merasa tak terima diperlakukan seperti itu, Key menghampiri Yeora yang masih bergeming di tempatnya. “Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, Yeora-sshi. Aku bertanggung-jawab sepenuhnya atas keadaan Ikha sekarang,”

Yeora hanya mendelik ke arah Key lalu mendengus pelan. “Tak usah berpura-pura peduli, Tuan Kim. Pergi, atau bodyguard-ku yang akan menyeret kalian semua dari sini,”

“Yeora-sshi, kumohon,” pinta Jonghyun sambil menggenggam tangan Yeora. Yeoja itu otomatis langsung melemah saat Jonghyun—biasnya—menyentuhnya. Ia menatap kedua bola mata Jonghyun yang sedang memancarkan wajah iba serta puppy-eyes-nya, meminta belas kasihan Yeora.

Yeora mendesah untuk kedua kalinya. Bahunya yang tadi menegang kini mulai turun perlahan. “Baiklah. Hanya sepuluh menit,” ujarnya pasrah. Sekilas ia menyeringai ke arah Key. Siapa lagi kalau bukan ulah dirinya? Hanya namja itulah yang tahu kalau Jonghyun dapat melelehkan gunung es di hatinya.

Saat Yeora berjalan didepan, menuntun mereka ke sebuah ruangan terpisah dari tempat Ikha terbaring sekarang, Key dan Jonghyun menepuk kedua telapak tangan mereka tanda bahwa rencana mereka berhasil. Saat mereka akan duduk di sofa yang telah tersedia, Choi Jin mendapat telefon dari seseorang lalu menyuruh kelima member SHINee untuk bicara dengan Yeora.

“Aku tidak punya banyak waktu mengurusi kalian. Jadi cepat bicara ke intinya saja,” ketus Yeora sambil melirik jam tangannya.

“Kenapa ada empat orang berjas hitam didepan pintu?” Taemin membuka pembicaraan.

“Untuk mengamankan Ikha,” jawab Yeora singkat.

“Bukankah kau bisa menyewa kamar yang biasa saja? Kamar ini terlalu mewah untuk ukuran pasien seperti dia,” Kini Onew yang balik bertanya.

Yeora memutar bola matanya ke arah Onew lalu memiringkan kepalanya sedikit untuk menangkap perhatian sang leader. “Tahu apa kau tentang Ikha dan aku, eh?”

“Apa aku salah bicara?” tanya Onew balik. Yeora kembali mendengus pelan dan mengalihkan perhatiannya pada Taemin yang sedang berjalan ke arah jendela.

“Ya! Jangan buka gordennya!!” teriak Yeora kencang yang membuat mereka berlima terheran-heran.

“Mianhae, Noona. Tapi bukankah lebih baik gordennya terbuka? Cahaya matahari sangat bagus untuk orang yang sedang sakit,” bela Taemin.

Yeora menggeram pelan. Haruskah ia mengatakan semuanya pada mereka? Semua yang terjadi pada Ikha dan dirinya selama ini akibat ulah Jung Hwa?

“ERGH! Kalau kau membuka gordennya, seseorang bisa mengamati Ikha dari luar! Dan kau tahu kenapa aku memilih ruangan VVIP ini dan juga bodyguard yang berjaga didepan? Itu karena Jung Hwa mengirim pesan singkat ke handphone Ikha. Dia bilang kalau dia tak akan membiarkannya hidup karena dia sudah mengetahui wajahnya! Satu-satunya cara adalah dia harus membunuh Ikha! Kau puas??!” Yeora bicara dengan tempo yang sangat cepat namun menahan nada suaranya, ia tak ingin menimbulkan suara gaduh di ruangan tersebut.

Semua member SHINee tertegun, terutama Key. Seketika itu juga namja itu membulatkan matanya. “M-mworago? Ikha-sshi… mengetahui wajah namja itu?” tanya Key meyakinkan pendengarannya.

Yeora beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati gorden, memunggungi mereka semua. “Sebelum Ikha mengalami kecelakaan ini, ia sempat menghilang. Handphone-nya tertinggal di kamarnya sehingga aku tak bisa menghubunginya. Selain itu, dia sempat menelfonku kalau dia disekap oleh Jung Hwa dan dia berhasil lolos. Aku dan Appa tak bisa lapor polisi karena dia belum dinyatakan hilang sebelum lebih dari 24 jam,”

“Aku ingat. Kemarin malam, saat Ikha datang ke Sukira, dia bilang kalau ada seseorang yang ingin membunuh Key. Keadaannya sangat kacau malam itu, dan…”

“Ikha mendatangimu ke Sukira?” Yeora memutar tubuhnya menghadap mereka dan memotong perkataan Jonghyun. Namja itu mengangguk sekali.

 “Nggg… kalau boleh tahu, bagaimana keadaan Ikha Noona sekarang ?” tanya Minho agak ragu.

“Dokter bilang, pembuluh darah di kepalanya pecah. Selain itu, tulang punggungnya bergeser dari tempatnya, retak tulang di beberapa bagian tubuhnya dan—“ Yeora menelan air liurnya sesaat. Pandangannya ia tuju pada Ikha yang tengah terbaring di ruangan sebelah. Ia memejamkan matanya dan menghela nafas panjang. “—sangat tipis baginya untuk selamat. Sekalipun ia selamat dari operasi selanjutnya, kemungkinan ia akan cacat seumur hidup dan sulit untuk mengembalikan kembali fungsi otaknya,” terang Yeora. Terselip getaran dari nadanya saat bicara. Ia menutup wajahnya karena saat ini ia benar-benar tak bisa menahan tangisnya.

Terdengar suara derap kaki Key yang berjalan menghampiri Yeora dengan perlahan. Bagaimanapun juga, ia yang telah membuat Ikha merelakan dirinya untuk menyelamatkannya dari ancaman Jung Hwa.

“Tidak, Key. Jangan mendekat! Aku membencimu… aku membencimu karena hanya demi kau, Ikha melakukan tindakan bodoh ini!” isak Yeora, masih menyembunyikan wajahnya yang sudah penuh dengan air mata.

Key meletakkan kedua tangannya pada bahu Yeora. Diremasnya pelan bahunya agar Yeora menatapnya. “Dengar, Yeora-sshi. Aku… aku sungguh menyesal atas kejadian yang menimpa Ikha-sshi. Aku tahu, selama ini dia tidak mungkin berbuat hal gila seperti yang diberitakan di beberapa fansite SHINee selama ini karena aku tahu kalau dia itu adalah fans-ku. Karena itu, kau harus membantuku mendapatkan namja gila ini. Kau ingin membalaskan dendam Ikha, bukan?” tanya Key dengan nada serendah mungkin. Yeora mengangguk lemah disela tangisnya.

“Pertama yang harus kau lakukan adalah… ceritakan semua yang kau ketahui selama ini padaku,”

***

Yeora menangis sejadinya setelah menceritakan semua yang terjadi pada Ikha di pelukan Jonghyun. Ya, saat ini Jonghyun tengah memeluk Yeora erat karena sedari tadi yeoja itu tak berhenti menangis.

Key menggenggam erat handphone Ikha sambil menatap kosong apa yang ada dihadapannya. Sekarang ia tahu mengapa Ikha selama ini melakukan hal-hal diluar dugaannya setelah membaca pesan-pesan yang Jung Hwa kirim.

“Sepertinya kita dalam kesulitan,” Choi Jin datang tiba-tiba dari arah pintu. Semua orang langsung tertuju padanya, terkecuali Yeora yang masih menangis.

“Intel SM sudah mengecek plat mobil yang dikenakan orang yang telah melakukan tabrak lari tadi malam dan ternyata orang yang tersebut adalah kau,” lanjutnya kemudian menatap ke arah Key.

“Maksud hyung?”

“Mobil itu mobil sewaan dan yang menyewanya adalah kau,” terang Choi Jin untuk kedua kalinya.

“Anni, tidak mungkin hyung. Jelas-jelas Key bersama kami di Sukira. Mana mungkin dia mengendarai mobil sedangkan dia sendiri yang menjadi sasaran tabrak lari tersebut,” elak Onew tak percaya.

“Tapi petugas jasa car-order itu bilang kalau Key sendiri lah yang datang kesana dan menyerahkan KTP-nya,” sungut Choi Jin lagi.

“Tunggu. Aku ingat sesuatu,” kata Yeora sambil mengangkat kepalanya yang tadi ia benamkan di dada Jonghyun. Ia menghapus airmatanya sesaat sebelum berbicara. “Ikha pernah bilang kalau namja itu memiliki mata yang sama dengan Key,”

Key mengangguk pelan. “Ne. Dia juga mengatakan hal yang sama padaku. Mungkin dia memanfaatkan matanya. Ditambah lagi, KTP-ku dulu sempat hilang saat aku dijebak olehnya di kamar hotel. Mungkin dia menggunakan KTP lamaku,”

“Dia benar-benar pintar,” bisik Minho akhirnya. Karena sedari tadi dia diam saja mengingat dia belum paham sepenuhnya mengenai kasus Key-Ikha-JungHwa.

Saat Key tengah sibuk dengan segala fikirannya, ia merasakan sesuatu bergetar di tangannya. Ternyata handphone Ikha yang sedari ia pegang menyala. Tertera ‘Private Number – Calling’ pada layarnya.

“Nuguya?” tanyanya sambil mengarahkan layar tersebut pada Yeora. Yeoja itu mengerutkan keningnya sejenak kemudian meraih benda tersebut dari tangan Key.

“Molla. Tidak mungkin orang tua Ikha menelfon dengan menggunakan private number. Lagipula mereka baru saja memberitahuku kalau mereka sedang mengurus visa mereka. Apa jangan-jangan….” Yeora tak melanjutkan kalimatnya karena Key buru-buru merebut handphone tersebut lalu menekan tombol hijau segera.

Hening sejenak. Tidak ada suara apapun di seberang sana.

“Yeoboseyo?” tanya Key, berharap seseorang disana bersuara. Namun si penelfon masih tak mengeluarkan suaranya.

“Apa kau adalah orang yang kufikirkan saat ini?” tanya Key kedua kalinya. Dan lagi-lagi hening dan suara angin yang menjawabnya. Key memutuskan untuk mematikan sambungan telefon hingga ia mendengar suara seseorang ditelinganya.

“Sepertinya, ya. Wow, Annyeong, Kim Ki Bum. Tak kusangka kau yang memegang handphone gadis bodoh itu,”

Key menelan ludahnya lekat-lekat. Suara namja ini…. suara namja ini membuat hatinya berdesir seketika. Ia merasakan sensasi aneh yang ia belum rasakan sebelumnya. Melihat gelagat Key yang aneh, semua orang langsung tertuju padanya. Onew sempat memberi kode untuk menyerahkan handphone tersebut padanya, namun Key menggeleng pelan dan memilih untuk menjauhi mereka.

“Harusnya kau senang karena kau berhasil bicara denganku, Tuan Kim. Bukankah ini kedua kalinya kita saling berbincang—setelah pertemuan kita saat kau memukuliku di kampus?” tukas Key memberanikan diri. Ia sempat melirik ke arah semua member SHINee yang sekarang menatapnya cemas.

“Biar kutebak. Kau sedang bersama teman-temanmu menjenguk Nona Cho? Benar? Sudahlah, untuk apa kau menjenguknya? Mungkin sebentar lagi dia akan pergi meninggalkanmu. Yah, setidaknya aku bisa tenang karena tidak ada lagi orang yang berusaha mencegahku untuk melukaimu,”

Key mengeratkan seluruh jarinya hingga urat-urat di tangannya timbul. “Kau… Sebenarnya apa maumu, huh? Jika kau memang membenciku, kenapa kau harus melibatkan Ikha kedalam permasalahan kita?”

“Oh, mian. Apa aku tidak salah dengar? Aku melibatkan yeoja itu? Justru yeoja itu yang mencampuri urusanku. Jadi itulah balasannya bagi orang yang selalu merusak semua rencanaku. Mati memang jalan yang terbaik,” jawabnya enteng.

“Kau gila!!”

Terdengar suara tawa yang cukup keras dibalik speaker handphone Ikha. Key memukul udara kosong didepannya karena saking tak bisa menahan amarahnya.

“AKU SUDAH MUAK DENGANMU KIM JUNG HWA. JADI SEBUTKAN SAJA APA MAUMU!!!” teriak Key tak karuan. Emosinya meledak-ledak hingga membuat wajahnya memerah menahan emosi. Semua member SHINee menganga lebar, baru kali ini ia melihat namja yang biasanya cerewet dan full expression itu mengeluarkan amarahnya yang cukup menakutkan semua orang.

“Aku suka sekali dengan caramu itu, Kim Ki Bum. Kita memiliki sifat yang sama: tidak suka berbasa-basi. Yah, karena kau memintanya, aku akan mengabulkan permintaanmu. Lagipula aku juga ingin segera menyelesaikan semuanya. Hmm, bagaimana kalau kita bertemu di lapangan bola yang terletak di daerah Myeongdong? Jam dua dini hari dan jangan sampai terlambat. Arasseo?”

Klik.

Jung Hwa memutuskan sambungan telefonnya tanpa memberi kesempatan sedikitpun pada Key untuk bicara.

“Yeoboseyo? Yeoboseyo?” sapa Key berkali-kali. Namun percuma saja. Jung Hwa sudah memutuskan telefonnya.

“DAMN!!” teriak Key lagi. Jonghyun dan Minho segera menghampiri Key lalu diusapnya punggung namja tersebut dengan maksud untuk menenangkannya.

“Siapa yang bicara? Jung Hwa?” tanya Jonghyun pelan. Key mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya tanpa mengindahkan pertanyaan hyung-nya.

“Apa yang ia katakan?” Jonghyun kembali bertanya untuk kedua kalinya. Key memasukkan handphone tersebut kedalam kantung celananya sebelum ia memutuskan untuk melemparnya.

“Dia ingin menemuiku. Dari nada bicaranya, sepertinya ia memang benar-benar menginginkanku,” jelas Key sambil terus mengalihkan kontak mata dengan semua penghuni ruangan yang sedari tadi berusaha mendapat perhatiannya.

Key berjalan menuju ruangan dimana Ikha berada. Perintah dari Manager serta perkataan yang terlontar dari Onew—yang menyuruhnya untuk segera kembali ke SM building untuk membahas masalah tersebut lebih lanjut—tak didengarnya. Ia berdiri di sisi kanan ranjang sambil mengamati Ikha yang kini dipenuhi selang infus. Selain itu, tubuhnya dipenuhi balutan perban, terutama di bagian kepala dan kedua tangannya. Yeoja itu kini terlihat seperti mummy….

Disentuhnya pipi Ikha menggunakan jari-jarinya secara perlahan dengan agak ragu. Lalu jari-jarinya mulai turun mengelus lengan kanannya dan berhenti pada jemari Ikha. Digenggamnya jemari yeoja itu sambil mengamati wajahnya yang terlihat sangat pucat.

“Mianhae,” ucap Key lirih. Perasaannya sungguh berkecamuk melihat keadaan Ikha yang mengenaskan itu. Ia membungkukkan tubuhnya mendekati wajah Ikha, tangan satunya yang bebas mengelus puncak kepala yeoja itu pelan tanpa sedikitpun mengalihkan matanya dari wajah Ikha.

“Akan kuberi pelajaran pada orang yang telah membuatmu menderita selama ini, Ikha-sshi. Itu janjiku,” bisik Key tepat didepan wajah Ikha. Meskipun yeoja itu tak sadarkan diri, namun ia berharap bahwa Ikha dapat mendengarnya saat ini.

“Tapi saat aku telah menepati janjiku, kau harus berjanji padaku bahwa kau akan sembuh. Aku akan memberimu tanda-tangan dan Album terbaru SHINee yang akan kami garap sebentar lagi, secara gratis,” ucapnya disertai senyum tipisnya.

Seseorang menepuk pundak Key dari belakang, otomatis namja itupun memutar tubuhnya untuk mengetahui siapa orang yang telah menyentuhnya.

“Dia akan baik-baik saja,” Jonghyun meremas pundak Key lalu menyunggingkan senyumnya yang hampa.

***

“Kau sudah mengenakan jaket anti-peluru?” tanya seorang namja berpakaian polisi lengkap pada Key. Namja yang ditanya hanya menjawab seadanya karena sedari tadi beberapa orang yang mengelilinginya sibuk mengenakan benda-benda yang menurut mereka dapat melindunginya dari senjata tajam atau peluru nyasar.

“Seharusnya aku tak perlu mengenakan semua benda-benda ini, Tuan Jeon. Justru benda ini hanya menyulitkanku untuk bergerak bebas,” sergah Key pada polisi yang barusan menanyainya.

“Ya!” Jonghyun memukul kepala Key agak keras yang berhasil membuat namja itu mengusap kepalanya sambil meringis. “Kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa, Key. Dia itu orang yang selama ini ingin membunuhmu. Lagipula aku belum mau kau mati cepat. Kau masih hutang dua ribu won padaku,” lanjut Jonghyun kemudian merapihkan pakaian Key untuk menutupi semua peralatan perlindungannya.

“Jadi kau tidak ikhlas kalau aku mati hanya karena hutangku yang dua ribu won itu? Astaga, Hyung. Kau juga hutang dua puluh ribu dollar padaku ketika kita berada di Paris saat melakukan SMTOWN. Tapi kau selalu pura-pura tak ingat setiap kali aku menagihnya,” bela Key tak mau kalah. Jonghyun menghentikan kegiatannya sejenak untuk berfikir, kemudian ia menggedikkan bahunya sekali dan mencibir.

“Hmm, Arasseo. Kalau begini ceritanya, lebih baik kau cepat mati saja, deh,” timpalnya santai.

“Ya!” Key menendang kaki Jonghyun agak pelan.

Kini, semua member SHINee plus manager mereka tengah berkumpul didalam ruang meeting Sment beserta beberapa polisi dan safer-team Korea. Pasca penelfonan Jung Hwa tadi siang, Choi Jin dan Sooman berupaya sebaik mungkin untuk melindungi Key saat pertemuannya dengan sang ‘peneror’ tiga jam lagi.

“Apa tidak berbahaya jika polisi dan safer-team ikut dengan Key hyung? Bukankah itu terlalu mencolok?” ucap Taemin yang sedari tadi duduk sambil mengamati Key yang tak henti-hentinya dipasangi benda-benda yang menurut Taemin sangat aneh.

“Semuanya sudah direncanakan dengan baik, Taeminnie. Percayalah pada mereka,” jawab Onew menjelaskan.

“Aku sangat mencemaskan Key Hyung. Bagaimana jika namja itu merencanakan sesuatu diluar dugaan kita?” Taemin kembali merajuk.

“Jangan berpura-pura peduli padaku, Taeminnie. Bukankah kau senang kalau aku lenyap dari dunia ini? Setidaknya tidak ada lagi yang cerewet di dorm, tidak ada yang suka meneriakimu karena kau belum gosok gigi, dan bla bla bla,” oceh Key sambil menggerak-gerakkan kepalanya tak karuan.

Taemin tersenyum sambil mengoyangkan kedua tangannya. “Anniya, Hyung. Mana mungkin aku sekejam itu. Yaaa, memang sih, aku sedikit senang,” ucapnya sambil mengarahkan ujung telunjuknya.

“Hah? Sedikit?” tanya Key dengan nada mencemooh. Sedetik kemudian ia kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya kian-kemari melihat tingkah si maknae.

“Baiklah. Semua persiapan sudah selesai. Kami akan pergi ke lokasi lebih dulu untuk melihat keadaan. Lagipula jika kami pergi bersamamu, namja itu akan curiga. Kita akan bertemu disana pada jam yang telah ditetapkan,” jelas si polisi berwajah setengah baya itu kemudian pergi meninggalkan Key dan member lain di ruangan tersebut.

Setelah Key selesai ‘didandani’ oleh para polisi dan safer-team, Taemin menghampiri Key yang sedang berkutat dengan kancing white-vest nya. Ia memeluk erat hyung-nya secara tiba-tiba, membuat Key agak kaget menanggapinya.

“Waeyo?” tanya Key seadanya, kedua alisnya mengerut membentuk sebuah gelombang.

“Aku takut terjadi sesuatu padamu, hyung,” Taemin semakin mengeratkan pelukannya dan dibalas oleh Key. Namja itu memeluk Taemin lalu menepuk punggungnya pelan.

“Ayolah. Kenapa kau jadi cengeng begini, Taeminnie? Tidak akan terjadi sesuatu padaku. Lagipula, Onew hyung sudah memberiku beberapa tips untuk berkelit darinya. Dan aku sempat mempelajari beberapa gerakan karate dari Minho. Jadi tak perlu kau khawatirkan aku,”

“Shireo! Aku ingin SHINee tetap utuh,” ucap Taemin lagi. Nada suaranya sedikit bergetar dari nada semula. Melihat kecemasan Taemin, Onew Jonghyun dan Minho pun mendekati mereka berdua dan satu-per-satu memeluknya.

“Tidak akan terjadi sesuatu pada Key, Taeminnie. Dan SHINee akan tetap berlima. Setelah semua ini selesai, semua akan kembali normal,” terang Onew disela-sela pelukannya. Taemin merasakan kehangatan dan kesejukkan dari kata-kata Onew barusan, membuatnya menghembuskan nafas lega sambil terus memeluk mereka semua.

Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Walhasil, mereka berlima-pun melepas pelukan masing-masing lalu mengarahkan pandangannya ke arah suara tersebut.

“Jonghyun, Minho, Taemin, kalian bertiga bisa kembali ke dorm untuk beristirahat. Onew, kau ikut denganku menuju lapangan Myeongdong. Temani aku untuk mengawasi Key disana,” perintah Choi Jin.

“Eh? Kenapa hanya Onew hyung saja yang ikut?” elak Minho tiba-tiba.

“Terlalu berbahaya. Lagipula aku tidak ingin mengambil resiko,” jelasnya singkat.

“Andwae! Key adalah bagian dari kami, jadi kami berhak untuk ikut,” tukas Jonghyun ikut campur.

“Ajak kami, hyung—“ pinta Minho kemudian. Choi Jin hanya menggeleng menjawab pertanyaan Minho dan Jonghyun.

“Jaebal,” bisik Temin. Ia menatap mata managernya sendu sambil mengeluarkan aegyo-nya yang pasti tak dapat ditolak oleh manusia manapun.

***

Key mengendarai mobilnya sendirian ditengah kegelapan malam serta jalanan yang lengang itu tanpa sedikitpun mengurangi aktivitas otaknya. Ya, bagaimana ia tak gelisah, semua member SHINee akhirnya ikut bersama Choi Jin ke lapangan Myeongdong—tempat pertemuannya dengan namja pshyco itu—dan itu artinya, semua member dalam bahaya sekarang.

Ia mendengar suara Tuan Jeon—polisi—pada earphone mini yang terpasang di telinganya kalau pasukannya belum menemukan sosok yang mencurigakan di lapangan.

Setelah menghabiskan waktu kurang lebih dua puluh menit di perjalanan, akhirnya Key sampai di tempat tujuan. Dengan perlahan, ia berjalan menuju ke tengah lapangan yang sangat minim pencahayaan itu sambil terus memicingkan matanya. Digenggamnya handphone Ikha dengan erat tanpa sedikitpun mengurangi kegiatan seluruh panca inderanya.

Ia berhenti tepat di tengah lapangan berumput hijau yang tertata rapih itu lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru mata angin. Hingga akhirnya—entah karena indera perasanya yang sangat tajam—ia merasakan kehadiran seseorang dibalik punggungnya. Sontak ia pun memutar tubuhnya dan memicingkan matanya lebih tajam.

Seseorang—yang terbalut jaket cokelat serta jeans skinny putih—berjalan dengan sangat perlahan ke arahnya. Key yakin bahwa namja bermasker itu adalah Jung Hwa.

Jung Hwa menghentikan langkahnya membentuk jarak antara dirinya dan Key. “Kau memang datang seorang diri, Kim Ki Bum. Tapi kau tak bisa membodohiku,” ucapnya datar. Suaranya sangat pelan namun terdengar jelas di telinga Key. Dan entah atas dasar apa, ia merasa ada sesuatu hal yang membuatnya seperti terkoneksi dengan Jung Hwa.

“Aku sudah menuruti semua maumu. Jadi lebih baik cepat selesaikan urusan kita sekarang juga,” Key mengucapkan kalimat tersebut dengan mantap.

Jung Hwa menyipitkan kedua matanya, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku jeans-nya dengan santai. “Baiklah. Namun pertama-tama, aku tak ingin orang lain mengganggu urusan kita. Jadi…”

DARRR!!!

Terdengar dentuman keras dari kedua sisi lapangan tempat Key berdiri. Dengan cepat, Key melirik ke arah suara tersebut. Ternyata suara tersebut merupakan sebuah bom kecil yang meledak dan membuat beberapa safer-team dan polisi yang tengah berjaga terpental hebat ke udara.

Jantung Key semakin bergemuruh saat ia mendengar dari balik earphone-nya kalau Jonghyun dan Onew terkena ledakan bom saat ikut berjaga dengan safer-team di sayap kanan lapangan. Suara berisik di telinganya yang berasal dari Tuan Jeon yang sibuk memanggil-manggil anggota lainnya untuk membawa orang-orang yang terluka—termasuk Onew dan Jonghyun—membuat amarah Key semakin menjadi.

“HENTIKAN, KIM!” teriak Key sedikit memohon. Namja bermasker itu kembali menyipitkan matanya seolah sedang menyunggingkan senyum dibalik kain penutup wajahnya.

“Itu karena kau tak mendengarkan perintahku,” jawabnya santai.

Key mengepalkan kedua tangannya dan sedikit menggeram. “KAU GILA!!”

“Yeah, terserah saja kau akan mengataiku dengan sebutan apapun, aku sudah bosan mendengar semua orang mengatakan hal itu padaku,” ujar Jung Hwa. Ia melepas syal merah yang melekat di lehernya tanpa sedikitpun mengalihkan matanya dari Key.

“Satu hal yang harus kau tahu, Kim Ki Bum,” Suara Jung Hwa sengaja dinaikkan satu oktaf. Lalu ia menundukkan wajahnya, satu tangannya meraih masker tersebut untuk menarik masker yang ia kenakan.

Setelah yakin maskernya terlepas dari wajahnya, ia mendongakan wajahnya agar Key melihat wajahnya yang selama ini ia sembunyikan dari semua orang.

Meskipun penerangan di lapangan tersebut sangat minim, namun Key dapat melihat dengan jelas wajah Jung Hwa dari balik soft-lense nya. Key menelan ludahnya lekat-lekat kemudian menggerakkan kakinya ke belakang untuk mundur selangkah.

“Tidak mungkin….” ucapnya lirih. Ia melangkah mundur sekali lagi agar ia bisa melihat wajah Jung Hwa dari cahaya bulan karena ia masih tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya saat ini. Dilihatnya Jung Hwa yang tengah menyunggingkan senyum sinisnya pada Key, ia terlihat sangat menyeramkan baginya….

“Wae? Apa aku terlihat sangat mengerikan?” tanya Jung Hwa santai. Ia merapihkan bentuk rambutnya secara perlahan menggunakan jari-jarinya.

Key kembali menelan air liurnya yang terasa sulit itu untuk kedua kalinya.

“Key, apa aku tidak salah lihat?” tanya seseorang dari earphone-nya. sengaja Key tak melakukan pergerakan apapun, takut-takut namja itu mengetahui kalau ia sedang melakukan kontak dengan orang-orang yang masih mengamati mereka berdua di sekitar lapangan.

Key meletakkan salah satu tangannya di balik punggung dan memberi tanda pada safer-team dan polisi untuk menahan tembakan atau apapun yang akan mengenai namja yang ada dihadapannya.

“Kenapa kau diam saja?” Kembali Jung Hwa bertanya pada Key yang sedari tadi tengah sibuk mengirim sinyal.

“See? Inilah yang membuatku membencimu, Kim Ki Bum. Kau membuatku harus menerima semua kenyataan pahit ini,”

…bersambung…

Advertisements

Author: HUGLOOMS

Indonesia | Southeast Asia | Nusantara Tanah Airku

9 thoughts on “WHO ARE YOU (Chapter 08)”

  1. haihaihaiahaiiiii……

    Raiders gaje datang lagi hehehehe…akhirnya aku bisa baca lanjutannya
    *narinari ala shinchan

    dugaanku tak meleset
    key punya kembaran*mungkin
    kasian bgt tu Ikhanya jgn ampe deh dia cacat….
    ..

    dapat hadiah g nih???

    Key jangan takut ya ma jung hwa itukan wajahmu jg.

The Pieces of Words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s