SHADOW

as the shadow lit the colors around, as it revealed the form of a picture.

We watched the sun went down together. Suddenly became paralysed by its warmth. He said nothing, me neither. Sank in deep thoughts and tough, drowned into a heaped of past and lasts.

…and I started to count, very softly through my breath, as the light slowly went down, showing the shape of the island which was hiding beneath.

1, 2, 3 ….

img_20170212_172837
Corona Del Mar, California

 

“Tak ada satu hal pun tanpa bayang-bayang, kecuali terang itu sendiri.”
— Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations.

Some say dark is the most beautiful thing, some also fear to be left by the light. Frightened, insecurity, sorrow—they live in the darkness, with the shadow shrouds their back, haunts them like the Angel of Death.

It is sad, for some people. But there is always a good thing.

Continue reading “SHADOW”

DAY 1: “Hauʻoli Loa”

Menanti sambutan hangat dari sang mentari.

The girl beside me kept reading the Goblet of Fire—or maybe The Deathly Hallows, tried to be patient while she was separated with her boyfriend which was sitting at another row. Of course, I was pleased, since mine sat right next to me, tried to keep him busy by taking each turns to read Time Magazine or The Economist. Sometimes he got frustrated and whispered to himself, about how worried he was of the future of The United States after the election was over.

Me, oh, please do not ask. I was stuck in the middle from those intelligent people and decided to kill the time, watched some silly movies, including Big Hero and The Secret Life of Pets. Seven more minutes, until the sign of ‘fasten the seat belt’ turned on, I saw the green land from the small window next to that girl.

Here we arrived, at the place where we’ve dreamed about, where we’ve always anticipated it every single day.

img_20161127_180931
Ko’a Kea Hotel and Resort, Poi’pu Beach, Kauia, Hawaii

I took almost 50 photos every day. 5% I’ve shared it to the social media, 50% I sent them to my parents, and for the rest, I kept it in my memory.

It was nice, for sure, to meet those beauties of nature and all the greens that I love. Just like how I pictured Indonesia in my mind, this place reminded me of home, similar but much more organized. Nothing to tell much since I could not describe it as my eyes shut—to travel back at that time. It is just all about the beauty; green mountains, blue ocean, violet of the sunset and the sky, even the sculpture of the shadows from the buildings nearby.

Day one, we let us to release our excitement by covering our feet with the sand. It was almost dark, but still pretty, just like one of Bob Ross’s painting, everything was just like an art.

That was what we’ve expected, and what we deserved to.

This post is also published as part of participation of Daily Post Photo’s Challenge “Anticipation” : An image of something you hope to have one day, or something that was worth the wait.

V FOR VOWED (I)

Bisikan itu seolah tertuju padanya, mengantar kelabu yang menakutkan.

Ia tidak sedang memakai pakaian berkabung, tak pula mengenakan kain putih dengan wangi melati menyengat―yang membalut serta tubuh ibunya sebelum tanah merah mengubur senyum terakhirnya tahun lalu.

Silau, hanya itu yang ia temukan di sekelilingnya. Meski sepasang mata turquoise―yang baginya merupakan unsur penting pemikat wanita―terpejam kuat, ia mampu merasakan silau itu dari kehangatan yang merayap ke tiap pori-pori. Lembut, sang penerang menyentuhnya dengan segala godaan hingga membuatnya terbaring lemah.

2016-11-23-13-07-06

Selagi ia masih mencari kebenaran di dalam benaknya, sekujur tubuhnya kemudian mendadak mengejang, tepatnya ketika ia mendengar sebuah bisikan dari kejauhan. Tak memiliki kendali akan tubuhnya sendiri, ia hanya mampu menggerakkan kepala tak karuan. Bisikan itu seolah tertuju padanya, mengantar kelabu yang menakutkan.

Ia semakin gelisah. Rasanya ia ingin mati saja.

…jika kau mati, siapa yang akan membelai keabadianku?

Dan getaran itu membuatnya membeku seketika. Ia belum bisa mendeteksi apakah suara itu milik seorang pria atau wanita. Yang ia tahu, bisikan itu kini berada tepat di dekat telinganya, mencekat napas dan kesadarannya, seolah suara itu menguasainya, segala yang dimilikinya.

…wake up, my man.

Jari-jari yang dimiliki oleh si pemilik suara itu menjangkau dadanya, menuntun ujung telunjuknya untuk membentuk sebuah garis lurus, menciptakan sentuhan lembut yang nyaris menggoda gairahnya untuk merintih indah.

…wake up, V.

Continue reading “V FOR VOWED (I)”

DALAM SEBUAH PELUKAN

Pria itu mungkin terlihat biasa. Namun ketika kau menemukan luka di balik punggungnya, kau tahu bahwa sepasang garis kasar itu bukanlah luka biasa.

Tentu saja, ia tergugah. Ini bukan kali pertama Lucy menyadarinya.

Sepasang telunjuknya kemudian mengarah pada lubang telinga, masing-masing mengeratkan desing kuat yang timbul dari alunan aneh yang kembali mengusik di dalam isi kepalanya. Sambil mengatur napasnya yang berantakan, Lucy menggumamkan serangkaian makian. Biasanya hal itu mampu menenangkannya―hingga beberapa detik berikutnya seluruh otot di tubuhnya berangsur lemah, mereda.

Ia kemudian beranjak dari ranjang, menyibakkan selimut tebal, mengizinkan udara dingin musim gugur menembus kulit hingga ke bagian terdalam rusuknya. Berdiri di hadapan cermin setinggi tubuhnya, Lucy mulai mengamati wajahnya, menyibak rambut hitam panjangnya yang kusut diiringi detak jantungnya yang melambat. Disentuhnya dengan lembut lapisan terluar dari pipinya yang memerah selama beberapa kali. Mungkin aku masih bermimpi, begitulah yang ada di dalam pikirannya.

Sepasang mata birunya terlalu menawan untuk dinikmati. Bulu matanya lentik, semakin menambah keindahan dari wajah bersihnya yang bersinar. Dan saat pria itu membentuk senyum dari bilah bibir tipisnya yang merona, sungguh, ia tak sanggup untuk menolak gejolak dalam jiwanya seperti lava di dasar Mauna Loa.

“Mungkin saja,”

Jawaban singkat yang tercipta dari suara yang berat itu mennyentak kesadaran Lucy. Oh, tidak. Jangan sampai terulang lagi, ia berbisik dalam hati.

Dengan sisa tenaganya, Lucy membanting tubuh untuk berbalik. Ia tak lagi terkejut saat menemukan pria berkulit pucat itu masih tak berdaya di sisi lain tempat tidurnya, terbalut oleh kain berwarna salju yang sama indahnya dengan eksistensi si pria di sana.

“Aku masih di sini, kau tahu?” pria itu melontar seberkas senyum. Kelopak matanya mendayu-dayu, seolah mengajak Lucy untuk menuruti perintah kecilnya yang tersembunyi.

Continue reading “DALAM SEBUAH PELUKAN”

THE SWEET ONES

In this week photo’s challenge, show us tiny. Capture something at a smaller scale.

I, normally, am not a huge fan of sweets. But those little ones always remind me of my little sister. She said that the sweet one would boost her mood, to be much happier and full of excitement.

I bought it only for decoration on our fall-alike dining table—even though a “big bear” always steals it at the end. But it is nice to have it there, with those colors mix up with the flowers and candles.

img_20161116_143309

In response of Daily Post’s Photo Challenge: Tiny